'Akatsuki Chikara Arc'
Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!
Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…
R&R please…?
Chapter 12: Back of War! Madara vs Kage n' 3 Ame Orphans!
"Kalau begini terus, perang sudah akan berakhir," kata Yahiko terlihat kebingungan terus tergesa dan menghela napasnya.
"Jika kau tadi tidak mengambil pedangmu ke jurang, kita tidak akan terpisah," sahut Nagato menghela napas dengan berat.
FLASH BACK ON
Edo tensei Madara muncul tiba-tiba. Akhirnya diputuskan para kage dan Yahiko bersama dengan Konan juga Nagato yang akan melawannya.
"Ternyata jiwa shinobi kini lebih mantap dan pasti," kata Madara dengan nada datar. Kelima kage terdiam mengangkat kepala mereka memerhatikan Madara dengan seksama. Begitu pula Yahiko. Madara tiba-tiba melakukan jurus teleportasi. Berpindah, entah ke mana.
"Jika tekad kalian benar-benar seperti itu, kejar dan temuilah aku di seberang jembatan ini. Bertarung di sini bukanlah tempat yang hebat," kata Madara yang terlihat mulai samar. Kedelapan orang itu menjadi heran dan tercengang. Sementara Madara menghilang, kelima kage langsung memberi aba-aba untuk segera mengejar Madara. Mereka berlari dipimpin oleh Raikage.
Mereka menyeberangi jembatan yang besar dan terlihat rapuh. Konan terlihat terengah-engah, menjadi ketinggalan rombongannya. Akhirnya Yahiko membantu Konan yang berjalan terengah itu. Mereka berlari perlahan hingga dapat menyeberangi jembatan dengan lancar.
Di akhir jembatan itu, terdapat pohon besar yang dihiasi jurang yang sangat dalam pada sisi tepi pohon itu. Ternyata terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ular tersebut meloncat ke arah Nagato yang sedang berjalan dengan hati-hati itu. Ia terlihat tetap tenang, begitu pula Yahiko dan Konan. Sedangkan para kage itu malah terus berlari. Yahiko menghunus pedangnya dan berusaha meraih ular yang melilit Nagato. Ular tersebut berhasil disingkirkan, dilempar ke jurang dalam itu. Tak disangka, ternyata ular tersebut menggigit ujung pedang Yahiko. Pedang tersebut ikut terlempar ke dalam jurang. Yahiko terbelalak seketika. Akan melawan Madara, tetapi malah kehilangan senjata berharganya.
Yahiko malah ikut terjun ke dalam jurang dan berusaha mengambil pedangnya. Tindakan yang sangat bodoh. Mereka menjadi tertinggal oleh kelima kage. Yahiko kembali dengan pedangnya. Ia menjadi bingung karena ditinggal oleh kelima kage itu.
Akhirnya mereka berusaha berjalan lurus mencari lokasi yang dimaksud Madara tadi. Namun, bukannya mereka bertemu dengan area yang dimaksud Madara malah tersesat di Konoha. (?)
FLASH BACK OFF
Konan menoleh terlihat bingung pula, "Ini sudah larut malam, kita harus kembali ke markas,"
"Terlambat! Kita beristirahat di sini saja. Ini sudah terlalu larut," tambah Nagato.
Beralih pada markas anggota persekutuan shinobi.
"Akhirnya aku bisa makan," kata Deidara terlihat puas sambil mengelus perutnya yang terlihat agak buncit. Sasori terlihat tertawa kecil. Sedangkan Hidan hanya tenang. Terlihat sangat kelelahan, Kakuzu sudah mendengkur keras di sudut tenda. Tiba-tiba Itachi datang menghampiri tenda mereka itu.
"Kau sudah berhasil, Itachi!" puji Sasori. Raut wajah Itachi terlihat datar. Tanpa ekspresi sedikit pun, ia segera duduk menyila di tengah-tengah mereka. Sasuke juga ikut ternyata.
"Oh, jadi Sasuke juga sudah selesai berlibur." Kata Hidan dengan senyum miris.
"Hn," sahut Sasuke singkat sambil terduduk di samping kakaknya itu. Sedangkan Deidara hanya senyam-senyum tidak jelas. Sasori tersenyum manis.
"Ketua Yahiko belum kembali?" tanya Sasuke tiba-tiba dengan tatapan tidak peduli pada Deidara. Deidara hanya menggeleng dan melengos.
"Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak tiba-tiba tentang ketua Yahiko dan para kage itu," ujar Sasori dengan nada cemas.
"Ketua Yahiko orang kuat. Tidak usah khawatirkan dia," sahut Sasuke dengan senyum tipis. Sasori menjadi sedikit tenang dan lega dengan pernyataan Sasuke itu.
Pagi yang tenang dan damai datang lagi. Namun, perang sengit terus berlanjut panas.
"Guncangan kemarin itu sama sekali tidak kami mengerti," kata Lee sambil berjalan tenang bersama Kiba, Shino, Hinata, Neji, dan Shikamaru.
"Guncangan?" tanya Shikamaru masih sedikit tidak percaya.
Kiba ikut menyahut, "Benar, ketika kami menyelidiki daerah tersebut Hinata dan Neji berkata kalau terdapat chakra yang kuat serta tidak asing dari bawah tanah,"
"Namun, tiba-tiba terjadi guncangan tidak jelas dari bawah tanah," tambah Shino.
"Karena tidak tahu apa yang harus kami perbuat, kami malah lari terbirit-birit menuju markas divisi 1," tambah Neji lagi yang mengakhiri penjelasan mereka.
"Oh, jadi begitu. Lalu kita sekarang akan ke sana?" tanya Shikamaru lagi. Kiba dan yang lain mengangguk.
"Mungkin kalau denganmu, kita akan lebih berpikir dengan tenang," kata Hinata. Akhirnya, mereka tiba di lokasi yang mereka maksud.
"Di sini tempatnya," kata Lee menunjuk tanah. Shikamaru mengangguk kemudian ia berjongkok kemudian menyentuh tanah dengan tangan kanannya. Kiba dan yang lain menjadi bingung tidak mengerti. Shikamaru terlihat mengerutkan keningnya. Hening sesaat. Hening dengan kebisuan dari mulut mereka karena rasa merinding yang tiba-tiba melanda. Kemudian, guncangan terjadi lagi dari bawah tanah. Shikamaru bangkit berdiri dan terdiam. Wajahnya tetap terlihat tenang. Sedangkan Kiba mendadak menjadi ketakutan tambah merinding.
Tiba-tiba tanah di depan mereka terbelah. Retak. Lalu muncul sesosok orang yang mereka tebak adalah edo tensei. Sesosok gadis berambut merah keunguan berdiri dengan wajah dingin menatap mereka. Shikamaru dan yang lain menjadi terbelalak seketika.
"I...i-i...tuuu..." kata Neji membuka matanya lebar.
"Fusha-fu... shame?" kata Shikamaru tidak percaya. Mengapa harus Fushame? Kalau ada edo tensei Fushame, berarti...
Apakah Fushame sudah tiada?!
Tep! Tep! Tep!
Langkah kaki yang terlihat tenang dan pelan terdengar sangat jelas dikala pagi yang sunyi seperti ini. Berjalan menatap depan, tenang. Dingin. Seperti tidak tahu apa-apa. Dengan tatapan tajam menuju jalan di depannya. Tiba-tiba suara ribut obrolan seseorang terdengar. Entah mengapa gadis itu tetap diam seperti pura-pura tidak mendengar.
Padahal terdapat 4 orang shinobi melewatinya dengan sangat heboh. Dua diantara mereka terlihat terluka parah. Salah satu dari mereka menabrak gadis yang berjalan tenang dan pura-pura tuli itu.
"Hei! Jalan yang benar, kau tidak lihat teman kami ini sedang meringis kesakitan? Dasar gadis rambut api!" seru shinobi itu pada gadis yang telah ditabraknya. Padahal dialah yang salah. Gadis itu terus menatap ke depan dengan dingin tidak mempedulikan tatapan marah dari shinobi itu. Akhirnya gadis itu menoleh dengan dingin.
"Hn," gumamnya singkat. Terlihat ekspresi yang sangat marah dari shinobi muda itu. Ia ingin sekali sebenarnya bertarung dengan gadis itu di situ juga, namun niatnya terhenti ketika melihat pelindung kepala yang dipakai gadis itu. Tiba-tiba ekspresinya berubah seketika menjadi senyuman memelas.
"Kau adalah teman kami juga," kata shinobi itu. Gadis itu hanya menoleh tidak mengerti. "Sesama teman dalam perang harus saling membantu," tambahnya.
"Perang?" gadis itu mengerutkan keningnya dengan dalam.
Shinobi yang lain menghela napas, "Kau tidak tahu? Kita ini sedang perang, dan orang-orang yang memakai pelindung kepala sepertimu itu juga ikut bergabung perang dengan kami. Jadi kau adalah teman kami juga," jelasnya. "apa kau bisa ninjutsu medis? Jika bisa, tolong sembuhkan 2 temanku ini," lanjutnya.
Gadis itu masih terdiam tidak pasti. Ia masih bingung dengan yang dikatakan shinobi muda itu. Setelah beberapa detik ia baru mengangguk dan mulai mendekati dua shinobi yang terluka itu. Ia menyodorkan kedua tangannya pada kedua shinobi itu. Kemudian ia menyentuh kepala shinobi itu yang terlihat berdarah dan lecet.
Entah jutsu apa yang digunakan gadis itu, tidak ada suara ataupun sinar yang ditimbulkan. Namun luka dua shinobi itu membaik seketika dalam waktu singkat. Kemudian chakra mereka telah pulih kembali. Bukan hal biasa.
Gadis itu menjauh dan menjadi dingin kembali. Shinobi muda itu menjadi tercengang melihat kekuatan yang sangat luar biasa itu. Mereka hanya dapat mengatakan terimakasih sambil berlutut di depan gadis itu. Gadis itu hanya terdiam menghela napas.
"Katakan padaku dimana lokasi perang itu?" katanya dengan lirih dan dingin.
"Di daerah dekat Kumogakure," sahut salah satu shinobi itu.
"Hn, terimakasih," kata gadis itu sambil menjauh. Menjauh dan menjauh. Ia bersungut-sungut tidak jelas.
Beralih pada kelompok Shikamaru yang bingung dengan kemunculan edo tensei Fushame...
Shikamaru terus mematung begitu melihat sosok Fushame yang bangkit dari bawah tanah itu. "Tidak mungkin! Ini tidak mungkin," katanya tidak percaya. Matanya terus membulat tanpa berkedip.
"I-ini be-be-berarti… Fu-fushame…" kata Neji terbata dan tidak sanggup melanjutkan. Terlalu terasa sedikit sakit di hatinya begitu mengira Fushame telah mati.
"Fushame telah mati?" tambah Hinata yang juga tidak percaya. Sosok edo tensei dari teman Haruma-nya itu hanya terus mematung dan seperti bisu dan tidak dapat berbicara sedikitpun.
"Fushame – chan? Benarkah ini adalah dirimu?" Tanya Lee dengan tampang sangat ragu dan juga tidak percaya. Semuanya menatap sosok edo tensei itu dengan muram dan tidak percaya. Sedangkan, Fushame hanya terus mematung seperti orang yang bisu dan tuli. Sama sekali tidak dapat mendengar atau sedikitpun hanya menjawab 'Ya'. Ia juga tidak menyerang kelompok Shikamaru ini. Namun, Kiba tiba-tiba saja menjadi keras kepala.
"A-apa maksudnya ini? Fushame mati karena Akatsuki! Itu sudah pasti! Aku tidak terima! Sebagai gantinya, aku akan membantu untuk menenangkanmu, Fushame!" teriak Kiba sambil maju menyerang sosok edo tensei itu.
Akhirnya mereka bertarung. Ternyata Fushame tidak lumpuh. Ia tetap dapat menangkis segala serangan yang dikerahkan teman-temannya itu seperti dahulu. Hingga membuat teman-temannya itu terkapar dengan cepat.
"Fushame memang kuat sekali!" kata Lee yang sudah tidak kuat berdiri lagi dan tidak dapat bergerak bebas lagi karena ia telah menggunakan kekuatan Hachimon. Kiba juga sudah kehabisan tenaga bersama Akamaru. Shikamaru mulai kesal dan panas melihat semua temannya terkapar lemas. Akhirnya, dengan kekuatan terakhir mereka. Kekuatan rahasia. Yang mungkin akan merenggut nyawa mereka. Mereka kerahkan hanya demi Fushame.
DUAR!
Terjadi dentuman yang cukup besar. Kekuatan gabungan telah dikerahkan. Entah mengapa kekuatan itu tidak memberikan efek apa-apa. Malahan hanya membuat debu tanah dibawah mereka terbang. Pandangan mereka menjadi samar.
Sosok edo tensei Fushame telah digantikan oleh seorang gadis berambut merah. Sama sekali gadis yang tidak mirip dengan Fushame. Mereka semua bingung. Selain gadis yang asing itu. Tetapi juga tampang gadis yang menyebalkan itu.
"Kau siapa? Fushame kau kemanakan?" Tanya Shikamaru dengan tegas. Gadis berambut merah itu hanya mengedikkan mata dengan dingin.
"Bukan urusanmu," sahut gadis itu sangat dingin. Hampir mirip dengan Sasuke.
"Apa maksudmu! Dasar gadis api sinis!" kata Kiba kesal.
"Lebih baik sinis daripada orang hiper sepertimu," sahut gadis itu dengan datar. Kiba menjadi tambah marah-marah. Untung ditahan oleh teman-temannya itu.
"Kau ini siapa sebenarnya?" Tanya Neji dengan suara beratnya. "dan dimana Fushame?" lanjutnya.
Lagi-lagi gadis itu terus menatap dingin dan tidak ingin menjawab. Ia malah menyodorkan satu tangannya seperti yang biasa dilakukan oleh Pain. Gerombolan Konoha itu tercengang sepintas. Tiba-tiba terbentuk penahan (kekai) yang mengurung mereka.
"Apa-apaan ini?" Shikamaru kesal.
"Aku ingin menemui sensei-ku. Tidak ada waktu berdebat dengan kalian," kata gadis itu sambil berjalan meninggalkan kekkai yang telah dibuatnya. Terdengar rombongan konoha itu marah-marah. Tetapi gadis itu hanya terus berjalan tanpa peduli. Tiba-tiba hening. Suara Shikamaru memecah keheningan sebelum akhirnya gadis itu meloncat ke atas pohon.
"Kau Fushame, bukan?" tanyanya. Gadis itu berhenti membelakangi gerombolan itu. Hening sesaat. Namun, akhirnya gadis itu menjawab.
"Sudah kubilang, ini bukan urusanmu," katanya tegas. Semua rombongan konoha itu menjadi sangat penasaran. Akhirnya mereka terus melontarkan pertanyaan pada gadis berambut merah itu. Gadis itu belum meloncat, tetapi ia hanya berjalan pelan. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
"Shikamaru!" suara lembut khas milik gadis itu memanggil Shikamaru.
Shikamaru menoleh bingung. Ia bingung karena gadis itu ternyata tahu namanya. Soal pertanyaan yang tadi itu, tentang Shikamaru menanyakan kepada gadis itu adalah Fushame atau bukan, sebenarnya hanya ngasal saja. "Ternyata otakmu masih tajam seperti dahulu," lanjutnya kemudian ia meloncat meninggalkan gerombolan Konoha itu.
Shikamaru bingung. Sangat bingung. Ia belum bisa menerjemahkan apa yang dimaksud oleh gadis berambut merah itu. Gadis berambut merah itu meninggalkan mereka dengan kata-kata yang pekat.
Gadis berambut merah itu terus berlari lurus ke tujuan yang jelas. Namun langkahnya terhenti seketika. Begitu melihat markas besar yang ada di depan matanya. Banyak orang yang berkumpul di sana. Sepertinya banyak riuh-riuh yang besar.
"Apa? Para kage belum kembali?" terlihat sosok Sasori sedang bertanya pada seseorang dari tim intel.
"Kami sudah menyelidiki berbagai daerah, namun tidak dapat kami temukan. Kami takut terjadi sesuatu pada mereka. Perang di sini sudah hampir selesai. Perang ini tergantung dari para kage dan tiga anggota dari Dunia Yahiko itu," jelasorang intel itu. Sasori menghela napas cemas. Akhirnya, gadis berambut merah itu mencoba menghampiri Sasori.
"Sensei! Aku benci padamu!" kata gadis itu begitu berada di belakang Sasori. Sasori terkejut. Ia menoleh kepalanya perlahan dan…
"Oh… kau. Apa salahku?" tanya Sasori pada gadis berambut merah itu.
"Aku menggeledah semua markas kita. Sudah berkeliling, setelah menjalankan misi dari Nagato -sensei. Tetapi kalian malah mau jadi pahlawan perang," kata gadis berambut merah itu dengan datar dan dingin. Sangat dingin. Mengingat itu adalah karakternya.
Sasori mengangkat tangannya, kemudian dia menggeleng pelan seperti mencari cerita untuk membohongi gadis yang memanggilnya dengan sebutan 'sensei' itu. "Bukan itu maksud kami," sahutnya ragu.
Gadis itu menoleh ke sana kemari. Seperti memerhatikan keadaan sekitarnya. "Apa ini? Apa tujuan perang ini, sensei?" tanyanya mulai lunak.
Sasori semakin bingung. Ia hanya diam tidak bisa menjawab. Untung Deidara datang membantu Sasori yang sedang kehabisan kata, "tentu saja untuk menyelamatkan dunia ninja, Hmm…"
Gadis itu semakin mengernyitkan dahinya, "Tobi bertindak lagi?" tanyanya mulai dengan serius. Akhirnya kelompok dunia Yahiko berkumpul. Ada Itachi, Sasori, Sasuke, dan tiga orang bawel sudah membentuk lingkaran. Beberapa detik diam. Hening sejenak.
"Begitulah, murid kesayanganku. Tetapi, untunglah kali ini 5 negara shinobi membantu kami," sahut Sasori menundukkan kepalanya.
"Lalu, sekarang masalahnya adalah…" lanjut Hidan.
"Ada masalah yaitu…" kata Kakuzu yang sebenarnya hampir mengulang perkataan Hidan. Seperti biasanya.
"Ketua Yahiko beserta Konan dan Nagato belum kembali juga, hmm…" lanjut Deidara menyelesaikan laporan mereka.
Gadis itu tetap serius dan menundukkan kepalanya pula, "Kalau begitu. Kenapa kalian tidak meminta bantuanku? Aku juga anggota dari organisasi Yahiko, bukan?"
Semuanya menunduk diam. Tidak mengerti harus menjawab apa. Karena pada kenyataannya mereka tidak tahu harus berkata apa. "Maafkan kami, Fushame. Kami berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi," sahut Sasori dengan serius dan mantap.
"Hn, lupakan! Aku tidak akan marah," kata Fushame mulai dengan tenang. Akhirnya mereka terdiam lagi sambil memerhatikan keadaan yang ada di sekitar mereka. Tidak ada tanda-tanda musuh.
Sasori terus menghela napas lelah sekaligus bingung.
"Sensei." Suara Fushame menggema di gendang telinganya.
"Apa?" Tanya Sasori dengan sedikit menoleh pada Fushame yang berada di sebelahnya.
"Kapan Konan – sensei kembali?" Fushame melontarkan pertanyaan yang mengesalkan pada Sasori lagi-lagi.
"Sudah kubilang, mereka belum kembali Hmm…" sahut Deidara sedikit ngotot. Hidan dan Kakuzu malah berbicara sendiri bersama Itachi tidak menghiraukan perkataan Fushame dan Sasori. Sedangkan Sasuke malah mengasah-asah pedangnya.
"Aku sudah tahu itu. Masalahnya, bagaimana jika Konan dan Naya(Nagato Yahiko) – sensei menghilang tersesat entah kemana?" sahut Fushame lagi dengan sedikit berusaha tetap tenang.
"Itu tidak mungkin. Ketua Yahiko bukan orang yang ceroboh seperti Deidara dan Hidan," kata Sasuke tenang. Terlihat Deidara dan Hidan langsung marah-marah begitu mendengar perkataan Sasuke tadi.
"Dasar lo Sasuke! Sok ganteng!" kata Deidara kesal.
"Sasuke jelek, sok kecakepan!" tambah Hidan, "Gua lempar tomat, nih!" lanjutnya. Akhirnya dia bersiap untuk melempari Sasuke dengan tomat.
"Wah! Mau dong! Aku malah seneng!" kata Sasuke dengan sedikit heboh kegirangan. Melihat itu, Hidan dan Deidara gak jadi ngelemparin tomat.
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
RALAT!
Tiba-tiba Fushame terkejut karena ada yang bersuara di belakang.
"Oi! Bantu kami. Kami sudah cukup lelah," teriak orang yang berada di belakang mereka itu. Gerombolan mantan akatsuki dan Fushame menoleh heran dan ternyata, itu adalah…
"Akhirnya kau datang! Kami pikir kau tak akan pulang," kata Sasuke dengan tenang sambil terus terduduk di batu besar itu.
Terlihat Yahiko, Nagato dan Konan ternyata sudah datang. Mereka menggotong para kage yang sudah tidak sadarkan diri. Yahiko menggotong raikage dan hokage yang sudah terlihat lemas tak sadarkan diri lagi. Sedangkan Nagato menggotong tsuchikage dan kazekage. Sedangkan Konan menggotong Mizukage.
"Hnn," tambah Fushame yang berupa helaan napas dia terlihat sedikit kecewa sekaligus kesal karena sensei-senseinya telah meninggalkannya begitu saja. Tadinya, ketiga orang yang terlihat lelah menggotong para kage itu tidak sadar kalau Fushame juga hadir di sana.
"Fushame! Bagaimana kau bisa datang kemari?" Tanya Yahiko sedikit bingung. Begitupula dengan Nagato dan Konan.
"Itu rahasia," kata Fushame melengos. Yahiko terlihat agak kecewa pula. Fushame juga muridnya. Melihat muridnya yang melengos seperti itu, pasti ia akan sakit hati. Tetapi, Yahiko sudah tahu karakter Fushame yang begitulah.
"Baiklah, kalau begitu kita harus segera menolong para kage ini," kata Yahiko mengalihkan pembicaraan. Semuanya mengangguk. Begitupula Fushame, yang tiba-tiba saja gigit kuku karena bingung dan sedikit canggung. Sedangkan sensei-nya sudah mulai menggotong para kage menuju markas yang berjarak sekitar 5 km darinya itu. Tetapi Fushame malah mengejar senseinya itu dan bertanya.
"Konan – sensei, siapa yang akan menyembuhkan para kage ini?" Tanyanya berantusias. Sasori melihat juga mendengar itu dan tiba-tiba saja hal itu membuatnya tersenyum bangga.
"Tentu saja para tim medis. Dalam organisasi kita ini, tidak ada yang bisa menggunakan ninjutsu medis, bukan?" sahut Konan dengan sangat lembut dan berusaha tersenyum dalam kelelahannya dalam berjalan serta menggotong Mizukage ini.
"Sensei! Aku bisa! Aku ingin mencoba. Selama ini, aku telah mencoba berbagai jenis eksperimen," kata Fushame sedikit berharap pada senseinya itu. Konan sedikit termangu ragu. Namun, dengan tenang ia menjawab.
"Kau masih pemula. Belum waktunya bagimu untuk menyembuhkan para kage yang sedang sekarat ini," sahutnya dengan tersenyum kecil dan terus berjalan menuju markas tim medis.
Fushame terlihat sangat kecewa. Ia menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala dengan penuh rasa kecewa juga rasa sakit hati. Ketiga senseinya itu terus melanjutkan perjalanan menuju tenda markas tim medis. Jaraknya tinggal sekitar 3 km lagi. Namun, tiba-tiba suatu hambatan mengganggu mereka lagi.
"Mundur, Konan Nagato!" teriak Yahiko. Kemudian Yahiko memanggil 2 shinobi yang kebetulan berada di dekatnya itu, "Jaga kage-kage ini dulu. Aku akan membereskan ini," katanya sambil menyerahkan kelima kage itu pada shinobi itu.
Fushame menoleh terkejut. Tiba-tiba saja angin menjadi sangat kacau dan kencang.
"Lagi-lagi ada bijuu yang keluar!" kata Hidan kesal.
"Kali ini bukan hanya bijuu, tapi ternyara zetsu putih juga masih berani muncul," tambah Kakuzu dengan kesal pula. Apalagi Deidara, dia terlihat sangat kesal dan murka sekali. Sedangkan Itachi dan Sasuke tetap tenang. Stay calm and kece tepatnya.
Lagi-lagi musuh keluar di saat yang kritis. Mampukah mantan akatsuki itu melenyapkan keenam bijuu beserta zetsu putih yang buas itu lagi?! War Will not End!
CHAPTER 12 END!
Next Chapter
Gadis berambut merah itu segera menarik dan menaruh pedangnya. Begitu pula dengan Yahiko serta yang lain. Sebagian shinobi mulai memindahkan teman-temannya yang sudah hampir sekarat saat ini.
…
"Apa maksudmu? Tidak mungkin! Gaara tidak mungkin mati! Dia sudah pernah mati! Tidak, jangan begini lagi!" teriak Naruto sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau ini bodoh! Kalau sudah mati ya mati, itu sudah takdir. Kita tidak dapat mengulang waktu lagi,"…
…
"Gadis itu cukup menyebalkan,"….
...
