see? klo g males updatenya lumayan cepet kan? ┌(・。・)┘ └(・。・)┐ ┌(・。・)┘

kisi2nya payah ya? haha, tapi bener kok emang gitu... well, ini dia jawabannya!

chapter 12 ヾ(◜▿‾ 三 ‾▿◝)ノ

cerita chapter 11 kan pas hari sabtu

lucy ketemu gray hari minggu... nanti ditengah chapter 12 ada cuplikan pertemuan mereka

jadi ini sekarang ceritanya udah hari senin, hari dimulainya fiore cup (turnamen sepak bola antar SMA di fiore), go fairy tail!

chapter 12 - stay with me?

Teriakan riuh semua siswa yang ada di magnolia hari ini berkumpul jadi satu di Gedung olahraga magnolia yang bisa menampung ribuan orang ini. atribut-atribut fiore cup menghiasi GOR besar itu. kebanyakan siswa-siswa itu membawa spanduk sekolahnya sendiri. lucy yang melihat keadaan dari arah pintu keluar menuju lapangan tersenyum senang. lucy menoleh ke arah teman-temannya yag masih siap-siap. Mereka memakai baju team cheerleaders biru yang mempunyai lambang official turnamen persahabatan sepak bola. mereka nggak membawa nama fairy tail hari ini, jadi tentu saja penampilan yang akan mereka lakukan juga bukan tentang fairy tail. Tapi tentang turnamen antar sekolah ini.

team cheerleaders sedang berada di bagian ruang tunggu pengisi acara dan pemain. Lucy agak khawatir karena mungkin saja natsu tiba-tiba muncul karena untuk pertandingan pembuka akan dilakukan oleh fairy tail high school melawan oracion seis. Beruntung natsu belum ada disana karena gildart sedang memberikan pemanasan pada teamnya di ruang latihan. Lucy mengedarkan pandangannya sekali lagi ke arah lapangan dan meneteskan keringatnya iritasi saat melihat banyak siswa laki-laki dari sekolahnya atau di luar sekolahnya mulai membeberkan poster besar-besaran team cheerleadernya yang hari ini akan tampil itu. lebih buruknya lagi mereka memakai ikat kepala yang ditulisi siapa yang mereka sukai.

Levy menyikutnya pelan. "fanboymu, fanboy erza da fanboy mira sepertinya paling banyak lucy..." katanya dengan senyum nakal.

Lucy hanya meneteskan keringatnya.

"girls!" tiba-tiba erza memanggil mereka. lucy menghampiri erza dan disambut senyum erza. "setelah ini kita akan tampil, bersiaplah" kata erza yang diikuti anggukan senang team cheerleaders. Mereka meneriakkan yel-yel team cheerleaders mereka dan mulai berbaris untuk memasuki lapangan.

"dan inilah! Yang kita tunggu-tunggu!" kata mc jason. "team cheerleader FAIRY TAAILLLL! COOOOOOOL!" katanya heboh yang disambut sorakan keras dari arah tribun yang kebanyakan dari laki-laki itu. saat team cheerleader mereka berlari memasuki lapangan teriakan fanboy mulai terdengar yang membuat lucy sedikit meneteskan keringatnya.

"ERZA-SAMAAAAAAA! MARRY ME!" teriak mereka secara bersamaan yang disambut senyuman erza.

"MIRA-SAAAAAAAN! I LOVE YOU" teriak fan boy mira juga. Mira tersenyum ke arah mereka dan menebar cium jauh sebagai fanservice.

"LUCY-CHAAAAAAAN! KAWAAAAIIIII" lucy menetekan keringatnya tapi memutuskan tersenyum dan melambai ke arah mereka yang diikuti oleh teriakan yang lebih keras lagi.

Fanboy cana, juvia, lisanna dan levy juga banyak sekali. Kebanyakan fanboy levy adalah mereka yang menyukai buku, mereka sering bilang bahwa levy adalah penghapus status freak pada mereka yang menjadi kutu buku. Sedangkan fanboy juvia menyukainya karena juvia adalah gadis yag pendiam dan nggak banyak bicara, da terlihat manis juga. Fanboy lisanna menyukai lisanna karena lisanna manis, seperti kakaknya mira. Dan fas cana jangan tanya kenapa mereka menyukai cana, tentu saja karena dia cana, gadis cantik yang kesekolah dengan baju seksinya dan sikap nggak pedulinya.

Mereka berhenti ditengah lapangan dan saat musik pengiring mulai terdengar, mereka mulai melakukan gerakan-gerakan cheer yang mereka latih selama sebulan ini. gerakan mereka teratur dan rapi, senyum nggak pernah lepas dari wajah mereka. beberapa kali mereka mengangkat dan melontarkan levy atau lucy, karena kata mereka levy dan lucy paling ringan. Lucy sendiri bingung, natsu sering bilang kalau dia itu berat. Tapi team cheersnya bilang kalau dia ringan. Mereka melakukan gerakan mereka dengan lancar. Gerakan terakhir adalah gerakan membuat piramid yang khas dilakukan oleh team cheers manapun. Mereka membuat 1 piramid besar dan 2 piramid kecil. Lucy yang menjadi puncak piramid besar mulai menaiki pundak teman-teman cheersnya yang sudah sangat terbiasa dan nggak kehilangan keseimbangannya sedikitpun. Erza dan mira dibawahnya menjaga posturnya seimbang. Lisanna dan laki melakukan backflip menyebrang sebelum akhirnya mereka semua berteriak bersamaan dan mengangkat pom-pomnya.

"FIORE CUP! START!" teriak mereka bersamaan yang diikuti letupan yang menandai dibukanya fiore cup. Semua yang ada di GOR berteriak senang. lucy melompat turun dengan sedikit atraksi dan mereka membuat formasi lurus sebelum memberikan salam dan berlari menuju ruang tunggu mereka diikuti teriakan fanboy yang semakin menggila dan komentar "cool" dan tidak penting dari jason.

Saat sampai di ruang tunggu erza tersenyum puas pada teamnya, dia meraih handuk dan melemparkannya pada anggotanya.

"good job, girls" katanya senang. mereka meneriakkan yel-yelnya kembali dengan senang dan mulai beristirahat.

Lucy meminum air dinginnya dan tertawa atas apa yang dikatakan cana. Mereka semua sedang duduk di ruang tunggu berhadapan dan bercerita, mengistirahatkan otot mereka. tawa lucy berhenti saat tiba-tiba mendengar teriakan senang juvia.

"GRAY-SAMA!" kata juvia yang langsung berdiri menuju gray yang berada diluar ruang tunggu team cheers. Lucy menahan nafasnya, karena dia tahu artinya natsu juga ada disekitar sana. Lucy menyembunyikan posturnya disamping laki dan mira yang tetap ada disitu, karena memang pacar mereka nggak ada diklub sepak bola. mira mengamati lucy dengan senyum lembutnya.

"kau nggak mau menyemangati natsu?" tanya mira pelan, lisanna yang ada disampingnya sudah berlari keluar untuk mencari natsu. lucy hanya tersenyum awkward. "tentu saja aku akan menyemangatinya mira, tapi kakiku agak lelah jadi aku nggak berlari kesana" kata lucy berbohong. Mira hanya mengangguk dan melihatnya khawatir. Tiba-tiba gray dan juvia memasuki ruang cheers dan menghampirinya. Gray menepuk bahu lucy pelan dan tersenyum lembut ke arahnya.

"lakukan yang menurutmu benar, lucy..." katanya pelan.

Juvia juga tersenyum ke arahnya. "komentarku masih sama seperti kemarin, lucy-san..." kata juvia.

Lucy mengangguk dan tersenyum lemah ke arah meraka.

"good luck gray" kata lucy pada gray yang tersenyum dan menepuk pundaknya sekali lagi dan berjalan keluar ruang tunggu. Dia melihat ke arah lisanna dan natsu yang baru terlihat dikoridor depan ruang tunggu mereka melalui kaca cendela. Natsu secara spontan mengetahui keberadaan lucy walaupun lucy tertutupi oleh mira dan laki dan senyumnya mengembang. Dia berlari masuk meninggalkan lisanna di depan ruangan.

"LUCY!" teriaknya senang.

Lucy tersenyum dan menatap sosok natsu yang berlari mendekatinya. Lucy bisa melihat sosok lisanna yang mengikuti natsu dibelakangnya.

"natsu" kata lucy pelan. natsu hanya berdiri menatapnya seperti menunggu sesuatu. Lisanna yang sudah dibelakangnya menggaet lengan natsu.

"team mu sudah disuruh siap-siap oleh gildart sensei natsu" kata lisanna mengingatkan. Lisanna tersenyum ke arah lucy.

Lucy melihat ke arah natsu. "apa yang kau tunggu. Natsu? gildart sensei mungkin marah kalau kau nggak cepat kesana" kata lucy dengan senyumnya. Lisanna langsung menarik natsu keluar.

"tapi, lucy..." kata natsu menoleh ke arah lucy.

Seperti nggak dengar, lucy menoleh ke arah laki. "ah, aku harus mengganti pakaianku. Ruangan ini jadi dingin. Kau mau ikut laki-san?"

Laki tersenyum dan mengangguk.

Natsu terlihat nggak percaya, dia tahu lucy mendengarnya saat dia memanggilnya, tapi kenapa dia pura-pura nggak tahu. Natsu membiarkan dirinya ditarik lisanna keluar ruangan. Mereka berpapasan dengan juvia yang hanya berdiri di ambang pintu dengan pandangan datar.

Natsu melepaskan lengannya dari lisanna dan mengatakan dia bisa pergi sendiri, tapi lisanna ingin tetap ikut mengantar natsu. akhirnya natsu membujuk lisannna lisanna agar cepat ganti baju dan segera ke tribun untuk melihatnya bertanding.

Juvia yang sudah berada diambang pintu sejak natsu menyapa lucy tadi menggenggam tangannya khawatir, saat melihat tingkah mereka semua dia seperti mendapat sedikit petunjuk tentang apa yang terjadi pada natsu dan lucy. juvia menghembuskan nafas pelan dan segera menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya. Dia akan menyelesaikan masalah ini dengan bantuan gray nanti.

Natsu mengusap mukanya frustasi. Lucy... dia kenapa? Dia bahkan nggak memberikan semangat padaku? Kata natsu dalam hati. Harapannya dia bisa berbicara pada lucy saat melihatnya tadi kandas. Natsu berjalan ke arah teamnya dan mendengarkan instruksi gildart sensei yang terdengar seperti musik latar diantara pikirannya yang mulai kalut.


lucy mengamati layar TV yang ada diruang ganti dengan pandangan khawatir, Layar itu memperlihatkan pertandingan yang ada dilapangan sekarang ini. teman-temannya sudah mendahuluinya menuju tribun penonton. Tapi lucy enggan kesana, dia nggak tahu bagaimana jadinya kalau natsu melihatnya. Rasa bersalahnya terhadap natsu semakin besar setiap kali mereka bertemu.

25 menit berlalu dan fairy tail sudah kebobolan 1 goal oleh oracion seis. Lucy menggerutu pelan. pandangan matanya sedih. Natsu benar-benar kelihatan tidak focus. Bahkan sepertinya natsu kelihatan nggak bersemangat untuk mengejar bola seperti yang dilakukannya dulu. Dia menerima bola dan langsung memberikannya pada yang lain. saat kamera disorot ke arah tribun dia bisa melihat teman-teman mereka dan orang-orang yang menurutnya adalah pencari bakat.

Lucy ingat apa yang dikatakan gray dan juvia kemarin, disadarinya, lucy meneteskan air matanya. Lucy menghapuskan air matanya sendiri, dan menahan air mata lain yang ingin jatuh mengalir di pipinya.

flashback

"lucy, ini tentang natsu" kata gray pelan.

Lucy hanya melihatnya tanpa mengatakan apapun.

"aku nggak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi akhir-akhir ini dia menjadi pendiam dan sama sekali nggak fokus dalam latihan. Aku hanya khawatir dia akan mengacaukan pertandingan kita besok." Kata gray tenang, juvia mengangguk disampingnya.

"lalu apa hubungannya denganku, gray?" tanya lucy dengan nada tak pasti.

"ini ada hubungannya denganmu, lucy... berkali-kali natsu mengatakan padaku kalau sepertinya kau menjauhinya, apa benar seperti itu?"

Mata lucy melebar, dia nggak mengira natsu sudah merasa dia menjauhinya, padahal lucy membuatnya senatural mungkin agar natsu merasa dia nggak menjauhinya. saat lucy mengingat apa yang terjadi apabila natsu menghubunginya lewat ponsel, lucy menjadi percaya kalau tindakannya terlalu mudah terbaca. Lucy melihat gray dengan tenang.

"percayalah gray, aku nggak bermaksud seperti itu. aku mempunyai alasan tersendiri" kata lucy.

"apa kau mau mengatakan alasannya?" tanya gray. Lucy menggeleng pelan.

"belum saatnya kau tahu." Kata lucy dengan pandangan sedih. Gray hanya melihat sosok yang seperti adiknya sendiri itu dengan semua terdiam. juvia menatap mereka berdua dengan khawatir.

"tapi lucy..." kata gray tiba-tiba yang langsung dicegah oleh juvia, juvia menggeleng tahu gray akan memaksa lucy untuk mengutarakan alasannya

"juvia percaya lucy-san mempunyai alasan yang baik pada masalah ini. tapi apapun masalah yang lucy-san hadapi sekarang ini, kumohon lucy-san pikirkan baik-baik. Lakukan hal yang nggak menimbulkan masalah baru lucy-san..." kata juvia pelan. lucy tersenyum dan mengangguk ke arahnya

Gray menghembuskan nafasnya pelan dan kembali menemukan senyumnya "baiklah, apapun alasanmu itu aku nggak akan menanyakannya lagi. Lakukan yang terbaik lucy, hanya memikirkan kalau kau menjauhinya saja membuat natsu sekacau ini. tapi menurutku sebaiknya kau berbicara padanya, minimal berilah dia semangat untuk pertandingan besok. Natsu memang bercita-cita ingin meneruskan bisnis keluarganya kelak, tapi sepak bola merupakan salah satu mimpinya, dan pada turnamen besok tentu akan terdapat banyak pencari bakat disana, jadi mungkin ini akan membantu natsu meraih salah saru mimpinya. kau pasti tahu semua itu. jadi kumohon, pikirkan yang terbaik. Kau pasti bisa" kata gray dengan senyum khasnya. Juvia mengagguk setuju disampingnya

Lucy mengangguk. "terimakasih, gray... juvia... aku akan memikirkan solusinya... tapi aku masih butuh sedikit waktu... aku nggak bisa bersikap egois pada masalah ini. aku hanya ingin membantu seseorang disini... jadi aku akan memikirkan cara yang lebih baik. Dan kumohon jangan bicarakan apapun yang kukatakan pada natsu" kata lucy

Gray dan juvia menghormati keputusannya.

"aku percayakan sahabatku padamu, lucy..." kata gray. Juvia tersenyum disampingnya

"dia sahabatku juga gray..."kata lucy yang disambut tawa renyah gray dan juvia.

"ya, sahabat terbaikmu" kata gray. Lucy tersenyum tulus.

Flashback end

Sahabat terbaikku... ulang lucy dalam hati. Senyum mengembang di bibirnya. Tiba-tiba suara ricuh di TV ruang tunggu membangunkannya dari lamunannya. Matanya melebar saat melihat kerumunan dilapangan dan dia mengenali siapa yang terjatuh dilapangan itu. natsu sedang terjatuh dan gray mengulurkan tangannya untuk membantunya. Natsu terlihat baik-baik saja. Lucy menghembuskan nafasnya pelan, merasa bersyukur natsu tidak apa-apa. Saat ada pemutaran ulang, teryata cobra melakukan kecurangan sehingga natsu terjatuh. Cobra mendapat ganjaran kartu kuning oleh karena itu.

Game dilanjutkan lagi, tapi natsu tetap saja nggak menunjukkan adanya perubahan. Dia tetap nggak fokus dan nggak ada semangat. Peluit game pertama berbunyi, menandakan akan ada break sekitar 30 menit. Kamera menyorot ke arah team fairy tail yang sedang memasuki ruang tunggu lagi. Lucy tahu mereka akan kesini setelah ini, dan setelah memikirkan kata-kata gray tadi lucy tahu apa yang bisa dilakukannya.

Lucy melihat ke arah TV lagi yang kebetulan menyorot natsu, mata lucy melebar saat melihat noda merah ditangan natsu, sepertinya saat jatuh tadi dia terluka. Lalu kamera diarahkan pada tribun ke arah team cheers yang duduk disana, terdengar suara teriakan fanboy yang senang melihat erza dan lainnya dala kaos sepak bola team sekolah fairy tail. dia melihat lisanna yang hendak berdiri, tapi tiba-tiba levy dan juvia yang ada disampingnya mengatakan sesuatu yang mengakibatkan lisanna duduk lagi dan tersenyum, mengurungkan niatnya untuk pergi.

Lucy mendengar teriakan gildart sensei dari kejauhan, sepertinya dia sedang memarahi natsu. Dia berjalan ke lauar ruangan dan benar-benar melihat natsu dikoridor berdiri membelakanginya. Gray ada didepannya dengan pandangan khawatir dan gildart memarahinya, anggota team lainnya sudah memasuki ruangan disamping ruang tunggu yang ditempati lucy. Lucy berlari ke arah mereka, natsu yang berdiri membelakanginya sama sekali nggak menyadarinya, senyum gray mengembang saat melihat lucy. gildart berhenti menceramahi natsu.

"WHooaaa... Lucy-chaaan..." kata gildart dengan senyum mesumnya, natsu yang mendengar nama lucy langsung mengedarkan pandangannya kebelakang dan mendapati lucy sedang berlari ke arah mereka dengan senyum terukir diwajahnya.

"ma... kau memarahi natsu terlalu sering... gildart sensei..." kata lucy dengan senyum manisnya yang membuat gildart tersenyum dari telinga ke telinga. Natsu masih terlihat nggak percaya. gray hanya tertawa melihat ekspresi orang-orang disampingnya itu.

"tapi dia idiot sekali hari ini, lucy chan" kata gildart dengan nada yang membuat gray ingin muntah.

Tiba-tiba lucy memeluk lengan natsu "jangan marahi dia, kalau kau mengijinkan aku bicara pada si idiot ini, aku jamin dia akan memenangkan team fairy tail dengan score 5: 1 setelah ini. bagaimana?" kata lucy.

"tentu saja boleh, lucy chan..." kata gildart lagi.

"baiklah, aku akan mengembalikannya beberapa menit sebelum game dimulai" kata lucy senang lalu menarik natsu yag masih keliahatan berada di dunia lain.

Gildart sensei dan gray melihat punggung mereka memasuki ruangan tunggu lain. tiba-tiba pipi gildart memerah.

"aku ingin bicara denganmu juga lucy-chan" kata gildart. Dia ingin melangkah mengikuti mereka tapi dihentikan oleh gray yang langsung menyeretnya memasuki ruangan.

"mereka hanya akan bicara gildart sensei, mereka nggak akan melakukan hal mesum seperti yang kau pikirkan" kata gray kesal. Dia berharap lucy bisa melakukan yang terbaik.


Lucy menutup ruang tunggu mereka dan mendudukkan natsu disalah satu kursinya. lucy menghembuskan nafas pelan dan mengambil persediaan obat lukanya dalam tas. Dia mendekati natsu dan duduk disampingnya. Dia memberikan natsu minuman dan menyuruhnya untuk minum, natsu langsung menurutinya tanpa mengatakan apapun.

"kau terluka" kata lucy sambil membersihkan luka kecil di tangan natsu. natsu hanya diam sambil mengamatinya. Lucy membuka plaster dan menempelkan pada luka natsu. dia tersenyum puas dan menatap natsu tepat pada matanya. Lucy memberikan senyuman termanisnya.

"kau nggak perlu menatapku seperti itu, aku nyata" kata lucy. lucy mengambil handuk bersih dan berdiri dihadapan natsu, dia mengusap wajah natsu dan badannya yang basah karena keringat.

Setelah natsu kering, Lucy mengalungkan handuk bekas natsu dibahu natsu. lucy melihat ekspresi bingung natsu, keyakinan awalnya untuk memotivasi natsu goyah. Dia bahkan nggak menemukan sepatah katapun untuk memulai menyenmangati natsu. akhirnya lucy berbalik dan melihat ke arah TV yang masih menampilkan suasana di tribun penonton dan tribun temannya.

"aku melihatmu dari sini" kata lucy pelan. Dia masih berdiri di depan natsu tapi pandangannya tertuju pada tv, membelakangi natsu. Lucy hendak mengatakan sesuatu lagi, saat secara tiba-tiba dia merasa sepasang lengan yang sangat dikenalnya melingkar disekitar perutnya. Natsu memeluknya dari belakangnya, pipi lucy memerah. dia bisa merasakan badan natsu pada punggunggnya dan nafas natsu di lehernya.

"natsu..." kata lucy lembut. Dia sudah bisa mengembalikan warna pipinya lagi. Lucy tahu natsu mungkin mengalami hal yang berat saat dia tak disampingnya.

"aku kira kau membenciku" kata natsu pelan. dia terdengar putus asa.

"mana bisa aku membencimu" jawab lucy tenang.

"aku kira kau menjauhiku" kata natsu lagi.

"aku sibuk" kata lucy antara jujur dan bohong.

"aku kira kau bosan bertemu denganku"

Lucy tertawa pelan. "kalau aku bosan menemuimu, aku akan pindah rumah dari dulu" kata lucy, dia bisa merasakan senyum natsu di sisinya.

"lalu kenapa kau nggak pernah menghubungiku?" tanya natsu

"aku sibuk" jawaban yang sama membuat natsu sedikit curiga. Natsu mengingat hari disaat dia menemukan natsu bersama dengan kedua seniornya.

"dengan sting senpai dan rogue senpai?" kata natsu terdengar marah. Dia mempererat pelukannya.

Lucy ingat saat dia melihat mobil natsu mengamatinya.

"aku membantu rogue senpai kembali dengan yukino senpai" jelas lucy yang membuat natsu terbelalak dan melonggarkan pelukannya.

"kukira kau menyukainya" kata natsu.

"kukira kau tahu rasa suka rogue senpai hanya untuk yukino senpai" jawab lucy yang membuat natsu tertawa.

"itu pasti sulit" jawab natsu yang mempererat pelukannya lagi.

"lebih sulit dari yang kau bayangkan" jawab lucy pahit.

Mereka berdua terdiam.

"kau sudah mengutarakannya semua? Apa yang mengganggumu sehingga kau terlihat idiot dilapangan tadi?" tanya lucy dengan senyum menghiasi bibirnya. Dia bisa merasakan natsu mengangguk. Lucy tersenyum dan melepaskan pelukan natsu. lucy berbalik menghadap natsu. lucy menatap natsu dengan senyum tulusnya.

"natsu... kau sahabat terbaikku...apapun yang terjadi... kumohon percayalah padaku, aku nggak akan membencimu, menjauhimu, atau bosan denganmu... kalau aku terlihat terlalu sibuk untukmu... percayalah padaku... aku hanya sibuk dan nggak punya waktu cukup untukmu...dan kita akan mempunyai waktu yang lebih lama untuk bermain setelah kesibukan itu... kau mengerti?" tanya lucy. natsu mengangguk senang.

"good" kata lucy sambil memeluk natsu. dia meletakkan kepalanya pada dada natsu. natsu mempererat pelukan mereka.

Lucy merenggangkan pelukan mereka dan menatap natsu lagi. "hei, kau harus memenangkan pertandingannya setelah ini. 5: 1! Nggak boleh kurang dari itu atau gildart sensei akan menghukumku"

"5:1!"teriak natsu bersemangat lalu memeluk lucy lebih erat. mereka tertawa bersama.

"kau harus menuju teammu sekarang" kata lucy sambil berusaha melepaskan pelukannya.

"sebentar. Kumohon sebentar lagi" kata natsu mempererat pelukannya lagi

"baiklah, idiot" kata lucy dengan tawa pelan.

"terimakasih" timpal natsu senang, mencium dahi natsu lembut.

"ingat, 5:1"

"lihat saja nanti, 5:1 untukmu lucy"


Sebentar lagi game akan dimulai, Gray melirik ke arah natsu yang ada disampingnya, sejak lucy mengembalikannya ke ruang tunggu latihan sekitar setelah 15 menit, natsu nggak pernah berhenti tersenyum seperti orang gila. Sepertinya mood natsu berbalik 180 derajat. Gray melihat ke arah juvia dan menyadari lucy yang tadi nggak disana, duduk diantara juvia dan erza. Tanpa disadarinya natsu sudah berada disampingnya menatap ke arah yang sama dengan senyum lebar menghiasi senyumnya. Gray meneteskan keringatnya melihat tingkah natsu, tapi dalam hatinya dia senang bagaimana mood natsu sudah kembali. juvia yang sepertinya mengerti apa yang terjadi melihat ke arah lucy dan tersenyum ke arahnya. lucy hanya tersenyum dan melambai kecil ke arah natsu. mengepalkan tangannya untuk memberikan semangat pada natsu. saat kamera menangkap wajah lucy diantara kerumunan cheers, fanboy lucy mulai berteriak "LUCY-CHAAAN KEMBALI!" kata meeka senang. lucy melambaikan tangannya pada kamera. Sebaliknya natsu terlihat kesal pada semua laki-laki yaada di GOR. Tapi saat lucy melihatnya dengan senyuman lagi, natsu kembali tersenyum seperti orang gila. Gray hanya tertawa melihat perubahan mood sahabatnya tersebut.

Peluit berbunyi menandakan permainan telah dimulai lagi. Tidak seperti pertandingan sebelumnya, natsu sangat bersemangat. Gildart hanya bisa melongo saat melihat natsu yang bisa dengan cepat mengambil bola dari lawan dan menggiringnya dengan cepat, saat yang dihadapinya terlalu banyak orang dia memberikan bolanya ke jellal, jellal ke gray, mereka semakin mendekati gawang, gray memebrikannya ke laxus, laxus ke natsu dan natsu langsung menembaknya ke gawang dan gol. GOR ramai oleh teriakan supporter fairy tail.

"WHOOOOAAAAA! COOOL! HANYA DALAM WAKTU 3 MENIT, NATSU YANG TADI KELIHATAN SANGAT TIDAK COOL SEKARANG MENCETAK GOL! SATU SAMA! COOL!" kata jason heboh.

Bola mulai digiring lagi oleh team lawan, natsu langsung berlari mengejar bolanya dan secepat kilat mendapatkan bolanya lagi, dan menggiringnya ke arah gawang. Natsu berhasil melewati pemain dan saat mulai mendekati gawang, dia mengumpankan bolanya ke gray yang langsung ditendang gray ke gawang dan gol. Lagi-lagi gildart sensei hanya bisa melongo.

"FAIRY TAIL! COOOL! DUA SATU! COOOL!" kata jason lagi.

Dan begitulah, setelah mendapatkan 4 gol di menit ke-85. Team oracion seis semakin waspada. Mereka nggak bisa membiarkan mereka lebih malu lagi. Akan tetapi, karena kewaspadaan mereka dan kelengahan team fairy tail karena sudah mendapatkan point banyak, team oracion seis bisa mengendalikan bolanya.

Menit 86

team oracion seis sudah mendekati gawang.

Menit 87

racer mengoper bolanya ke cobra. Max berhasil merebutnya tapi beberapa menit kemudian cobra berhasil mengambilnya.

Menit 88

Cobra berhasil menggiring bola kegawang, dibelakangnya gray mengejarnya dan jellal sudah siap membantu gajeel didepan gawang. Natsu yang berada jauh dibelakang gray mempercepat larinya.

Menit 89

Cobra menendang bolanya ke gawang, diluar dugaan gajeel dan jellal, bolanya menuju ke arah gawang yang berbeda. Semua orang menahan nafasnya, saat bola hampir mencapai gawang, tiba-tiba natsu muncul dihadapan bola dengan senyum lebar.

"SCORENYA AKAN 5:1, BODOH!" teriaknya sebelum menendang bola itu dengan kuat. Bola menyeberangi lapangan, menuju ke area lawan, menuju ke area ke area gawang, kiper mereka yang lengah karena beberapa detik yang lalu bola sangat jauh hanya bisa memandang bola yang mendekat dan mencoba menangkapnya, tapi bola jatuh lebih jauh dari perkiraannya dan bola memasuki gawang tepat sebelum peluit berakhirnya game berbunyi. GOR berubah menjadi riuh oleh teriakan senang supporter fairy tail, pemain fairy tail berlari menuju natsu dan menggendongnya menghempaskannya kelangit. Natsu melihat ke arah lucy dan tersenyum. lucy tersenyum senang, lagi-lagi tanpa disadarinya sebutir air mata mengalir dari mata kananya. Dia mengangkat jempolnya ke arah natsu.

"kau menepati janjimu" ucap lucy pelan.

Gildart berlari menuju pemain-pemainnya dan memeluk mereka menggunakan tenaga yang bisa meremukkan tulang-tulang pemainnya. Saat dia melihat lucy di tribun, dia tersenyum dan mengisyaratkan rasa terimakasihnya. Lucy hanya tertawa, tidak tahu bagaimana jahatnya pikiran gildart tentang menggunakan lucy sebagai senjata rahasia pada setiap pertandingan mereka.

MC jason sedang mengumumkan jadwal-jadwal pertandingan-pertandingan selanjutnya, saat lisanna berjalan menuju lucy dan menepuknya di bahu.

"lucy... terimakasih..." kata lisanna pelan dengan senyumnya yang serasa dipaksakan, lisanna sudah menduga apa yang terjadi saat lucy nggak ada di tribun dan natsu kembali ke lapangan dengan semangat seperti itu. Lucy tersenyum kembali, tapi pada pikirannya ada rasa bersalah. Seharusnya dia membiarkan lisanna yang menyemangati natsu. saat lisanna ber jalan menjauhinya, lucy mengejarnya dan berdiri di depannya.

"lisanna, maaf ini nggak mudah... tapi kumohon bersabarlah... aku sudah berusaha" kata lucy menyesal.

Lisanna hanya tersenyum ke arahnya. "aku juga sedang berusaha, lucy... jadi kumohon kau juga bersabarlah..." kata lisanna. Senyum lucy mengembang. Dia melihat ke arah natsu, dan melihat ke arah lisanna lagi.

Melihat senyum natsu, lucy yakin bahwa Natsu berhak mendapatkan gadis yang lebih baik darinya. Seperti lisanna.


Lucy tertawa pelan, sting senpai menghubunginya.

"yukino akan pulang beberapa hari lagi" kata sting diseberang.

"oh ya? Itu bagus! rogue bisa menjemputnya di bandara, agar yukino senpai tau kalau rogue senpai masih peduli dengannya" kata lucy senang.

"tapi lusa ada pertandingan baseball dan aku ingin mengajak rogue melihatnya"

"jangan lakukan itu senpai... sudah kubilang jangan bertindak gay"

"aku bukan gay, kurasa yukino tahu itu..."

"apa kau pikir dia akan menunggu rogue menyatakan perasaannya padamu untuk tahu bahwa kalian gay? Nggak senpai. kalau kau terus-terusan menempel pada rogue senpai, yukino senpai akan merasa kau lebih penting untuk rogue senpai. apa disekitarmu nggak ada wanita yang bisa menjadi lebih penting dari rogue senpai?" tanya lucy dengan senyum menghiasi wajahnya.

"kau bisa jadi wanita itu" kata sting singkat yang disambut tawa lucy.

"kurasa ide menyiksamu lebih bagus dari pada harus mengatakan cinta padamu senpai..." kata lucy.

"kau bisa mencobanya. Lalu aku akan menimbang apakah ide menyiksaku memang lebih baik dari menyatakan cinta padaku"

"bahkan aku nggak mau mencobanya" kata lucy.

"ayolaaah... sekali saja" kata sting.

"baiklah... tapi ini nggak serius"

"oke. Aku akan mendengarkannya"

"aku mencintaimu sting-kun" kata lucy dengan menahan tawanya. Di luar sisi sting sudah tertawa keras.

"jangan gunakan nada itu dan nama itu! itu benar-benar buruk, kau nggak cocok dengan karakter seperti itu"

"apa? Sting-kun mencintaiku lebih dari dirimu sendiri? itu manis..." tanya lucy untuk menggoda sting.

"hentikan!" teriak sting di seberang.

"terimakasih, sting-kun..." goda lucy lagi.

"kubilang hentikan! Kau membuatku merinding"

Lucy tertawa keras "sudah kubilang ide menyiksamu lebih baik daripada harus menyatakan cintaku padamu..."

"kau melakukannya dengan nggak serius..."

lucy hanya tertawa


natsu sedang berjalan menyeberangi balkon menuju ke kemar lucy, senyum nggak pernah lepas dari wajahnya sejak pertandingan tadi. Gray bahkan mulai menyangka natsu tersenyum pada batas melebihi kemampuan manusia lagi.

Natsu melompat dan berlari menuju pintu kamar kaca lucy yang ditutupi gorden-gorden putih. Pintunya agak terbuka, tapi saat natsu hendak meraih handle pintunya, dia menangkap suara lucy dari dalam.

"aku mencintaimu, sting-kun"

Natsu membeku. Sting senpai?! dia menyukai sting senpai? jadi itu kenapa dia mau membantu rogue-senpai?

Tanpa menyadarinya, natsu mundur.

"apa? Sting-kun mencintaiku lebih dari dirimu sendiri? itu manis..."

Terdengar suara lucy lagi dari dalam, dengan nada seperti itu kali ini natsu marah sekali. Dia berbalik dan berlari menuju kamarnya, membanting pintu balkonnya dengan keras dan melampiaskan kemarahannya pada kamarnya sendiri tapi sejenak kemudian dia berhasil menurunkan sedikit kemarahannya. Setelah kemarahannya menyurut besok, dia akan menanyakan lucy tentang ini. namun tidak sekarang, tidak saat dia sangat marah hingga mungkin kalau lucy benar-benar menyukai sting dia akan menemukan sting dan menghajarnya. Menghajarnya sampai lucy nggak bisa mengenali wajahnya.

to be cont...

well siapa yg tebakannya bener?

ada ide untuk chapter selanjutnya? ԅ(≖‿≖ԅ)

ja ne :)