Menyadari dirinya sedang dibuntuti, Yoongi tidak segera mempercepat langkahnya. Ia bersikap tenang dan sewajarnya. Serta berpura acuh meski ekor matanya sesekali melirik ke arah belakang. Barulah setelah berbelok ke sebuah gang kecil yang diapit dua ruko tingkat lima, Yoongi bergerak lincah dan juga cepat.

Sosok berhoodie hitam yang mengikuti irama langkah Yoongi sejak lima belas menit lalu pun tersentak kaget, mendapati keberadaan targetnya lenyap begitu saja setelah memasuki jalan selebar satu meter.

Hanya sesaat saja merasa terkejut, pemuda berbibir tebal merah merona kemudian langsung tersenyum kecut dan memutar tubuhnya. Dengan ekspresi puas memandang Yoongi yang hampir saja berhasil menghempasnya ke dinding gang.

"Fyi, aku dapat merasakan kehadiranmu,"ucap si pemuda manis yang menahan gerakan Yoongi dengan senjata api dalam genggaman -yang Yoongi tahu benar bahwa pistol ber-peredam itu bukanlah sebuah mainan-,

kemudian ia tersenyum manis, "well, Min Yoongisshi, Indonesia itu panas yah. Bisa kita mengobrol sambil makan es krim?"

.

.

Cute Stranger, Another Version : Exosiour

Min Yoongi x Park Jimin

Warning! Typo (s)!

Happy reading ~

.

.

"Pendamping?"

"Yup. Kau adalah takdirku, aku adalah takdirmu. Kita ditakdirkan untuk selalu bersama."

Yoongi mendengus tersenyum remeh. Melempar tangkai es krimnya ke tong sampah terdekat dan berdiri bangkit dari bangku taman kawasan jam gadang yang semakin ramai, "kau terlalu banyak menonton film, Bocah,"desahnya mengejek, mengacak surai kehitaman Jimin sebelum berlalu pergi.

Yoongi menerobos jalanan padat Pasar Ateh Bukittinggi, dengan Jimin yang kembali mengekorinya seperti setengah jam lalu.

"Hei, trust me okay!"ucap Jimin berusaha menyamakan langkah dengan Yoongi, "aku jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk mencarimu. Plis, setidaknya dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai."

"Di awal saja omonganmu sudah tidak masuk akal,"balas Yoongi malas, "mana mungkin aku ingin mendengarnya sampai selesai. Kau pikir aku bisa tertipu oleh bocah SMP sepertimu heoh."

"Hei, aku tidak menipumu. Dan aku sudah 17 tahun."

Yoongi berhenti sebentar, hanya untuk mematai Jimin dari ujung rambut hitam tebal berponi itu sampai ujung converse hitam yang masih terlihat baru. Ia lalu membuang napas kasar, mengejek visual Jimin yang benar-benar tidak sesuai dengan umurnya.

Dinilai seperti itu Jimin hanya bisa memutar bola matanya pasrah. Tidak Yoongi saja, memang tidak sedikit orang yang mengira Jimin memiliki umur tiga atau empat tahun lebih muda dari yang sebenarnya.

"Ya terserah,"desah Yoongi melanjutkan langkah.

Bibir Jimin memberengut, cepat-cepat ia meraih lengan kiri Yoongi dan menghentikan langkah mereka berdua lagi, "kau lihat tadi kan, pistolku itu sungguhan lho."

"Yup, setidaknya ini jauh lebih masuk akal dibanding kisah dongengmu barusan." Yoongi mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pistol milik Jimin.

"Eh? Sejak kapan-"

"Nah. Selamat tinggal."

"Ya!"

Jimin tak menyerah. Lagi-lagi menggaet lengan Yoongi dan mendekapnya erat.

"Ck,"decak Yoongi malas.

"Aku masih belum terlalu bisa mengontrol kekuatanku,"ucap Jimin menatap lekat kedua mata Yoongi, "tapi aku harus menunjukkannya agar kau percaya kan."

"Apa? Kau mau terbang? Kau mau mengangkatku? Kau mau menghentikan waktu heoh."

"Ani,"seringai Jimin, "aku akan menulusuri masa lalumu."

"Hha?"

"Indonesia?"

"Hei, kau tidak apa-apa, Bocah?

Mati.

Aku akan mati.

"BOCAH SIALAN!

"Andwae! Eomma! Jangan tinggalkan aku!"

"Yoon...gi-a... k-kau... harus tetap hidup-"

PRANK

"YOON-CHANi!"

Kelopak mata Yoongi langsung terbuka sempurna, bersamaan dengan napasnya yang ditarik dalam-dalam lalu menjadi sesak tak beraturan. Paru-parunya bekerja ekstra memasok udara, sedang beberapa indera-nya mencoba memahami situasi yang ada.

"Sudah percaya?"

Sebuah suara terdengar setelah Yoongi duduk dari baringan.

"Min Yoongi. 24 tahun. Anak tunggal. Ayahmu menghilang ketika kau masih bayi, Ibumu dibunuh ketika kau berumur 10 tahun. Dua tahun hidup dalam pelarian, setelahnya dipungut oleh mafia Hongkong dan dijual. Tiga tahun sebagai pesuruh klub malam di Hongkong dan akhirnya menjadi imigran gelap di Indonesia."

Sosok itu menjelaskan dengan santai. Terkesan enteng dan memperlihatkan bahwa mendapatkan informasi seperti itu semudah bernapas di lingkungan bebas, dan tak peduli betapa menyakitkannya penjelasannya barusan bagi Yoongi.

Ia duduk di tepian ranjang. Menggoyang-goyangkan tungkai gendutnya tersenyum puas memandangi jendela hotel bintang empat. Sedang pria di dekatnya masih sibuk mengatur napas dan mengembalikan kesadaran.

"Yoon Junghan."

Kerongkongan Yoongi tercekat bukan main. Terbelalak memandangi pemuda manis yang tersenyum lebar dibuat-buat.

"Dia sudah mengkhianatimu Yoongi-a,"sambung si manis itu bergerak menaiki ranjang, merangkak ke arah Yoongi sembari terus berucap dengan rayuan manja, "kenapa kau masih saja memikirkannya hm? Kenapa kau begitu peduli pada pengkhianat seperti dia hm? Sampai kapan kau ingin memungkiri bahwa dia hanya memanfaatkanmu saja selama ini hm?"

Seiring dengan kata-kata menyesakkan itu diperdengarkan, kepala Yoongi perlahan-lahan tertekuk dalam, tiba-tiba saja ia menjadi rapuh dan tak berdaya. Padahal selama ini ia bahkan tak pernah mengeluh bagaimana tidak adilnya dunia terhadap dirinya. Namun saat ini, lebih tepatnya sejak beberapa jam lalu, sejak kesadarannya ditarik ke masa lalu menyakitkan, seorang Min Yoongi menjadi sentimentil dan begitu perasa.

"Hei, kau tak perlu merasa bersalah, Yoongi-a."

"A-aku, aku yang membunuh-"

"Ssst."

Jemari mungil itu menengadahkan wajah pucat Yoongi. Mengelus-ngelus penuh sayang, dan bergerak turun menelusuri dada bidang si pria kurus yang kian terdiam.

"Yoongi-a ~ mulai detik ini kau hanya perlu memikirkanku seorang, okay." Setelah bisikan bernada sensual tersebut, wajah mereka mendekat begitu saja. Dan bibir mereka akan saling menyentuh jika teriakan lantang tidak menginterupsi begitu lantang.

"YA! JEON JUNGKOOK!"

PLAK

"Awww!"

Yoongi terkesiap. Sosok yang ia pikir Jimin yang duduk dipangkuannya tiba-tiba berubah wujud menjadi pemuda asing yang tengah meringis sakit sehabis kepalanya dilempar sepatu oleh seseorang.

Seseorang itu Jimin, membuat Yoongi mengerjap cepat dan hanya bisa tergugu memperhatikan gelagat dua remaja di hadapannya.

Yang satu bergerak turun menjauhi ranjang, mencebik dan mendaratkan pantat pada sofa empuk di sudut lain ruangan. Lalu berpaling entah ke arah mana sembari memasang tampang tak bersalah. Ia memakai kaos putih yang ditumpuk dengan jaket berwarna abu-abu, celana jins robek dan timberlands boots berwarna coklat muda. Rambutnya dark brown, agak berantakan namun tebal. Terlihat gigi kelincinya ketika meringis sebal karena sudah diganggu keisengannya.

Yang satu lagi tak berhenti menggerutu kesal, rentetan kata penuh amarah meluncur dari bibir tebalnya. Benar-benar tak habis pikir sempat-sempatnya sang sahabat bisa berbuat jahil dalam keadaan penting seperti ini. Hoodie hitamnya kebesaran tapi jins hitamnya terlihat cukup ketat. Ia memasang kembali converse hitamnya yang tadi dilempar lalu duduk tepat di samping Yoongi. Merubah raut marahnya menjadi lembut dan berkata khawatir, "gwaenchana yo? Maaf, ya Jungkook itu suka iseng. Dan- em, sepertinya aku sedikit berlebihan tadi."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"lirih Yoongi masih belum mengerti. Dan entah mengapa tubuhnya tergerak sendiri untuk memeluk Jimin. Ia merasa letih, secara fisik maupun mental dan sosok Jimin terlihat begitu menggiurkan untuk dijadikan sandaran. Meskipun setitik nalar dalam logikanya menyadari benar bahwa tindakannya ini sangatlah di luar akal sehat.

Jimin itu orang asing. Baru ia temui beberapa jam lalu. Dan bahkan Yoongi merasa yakin bahwa ia tak perlu berurusan dengan remaja itu. Tapi kini, disaat sesuatu sedang menggerogoti sisi rapuh Yoongi, di matanya Jimin bagaikan penenang yang terbaik.

"Aku akan menjelaskan lagi semuanya,"terang Jimin membalas pelukan Yoongi serta mengusap-usap kepalanya. Dan entah mengapa pula, merasa dirinya memang seharusnya bersikap seperti itu, "tapi kau makan dulu, okay?"

Anggukan patuh langsung Yoongi berikan.

"Ne."

#### ####

"Satu dari sepuluh ribu orang adalah pemilik kekuatan, exosiour. Kekuatan mereka beragam, benar-benar beragam. Ada yang memiliki satu kekuatan tak berarti, seperti bisa berbicara dengan apel, ada pula yang memiliki banyak kekuatan yang sangat bermanfaat untuk sehari-hari. Dan kekuatan tersebut baru akan muncul ketika mereka tahu, menyadari dan mengerti benar bahwa mereka termasuk exosiour. Jika sampai mati mereka tidak pernah tahu, well berarti sepanjang hidupnya mereka hanyalah manusia biasa. Tapi kasus yang seperti itu sangatlah jarang, mengingat exosiour itu turun temurun.

Turun temurun berdarah murni, anak yang dilahirkan melalui hubungan exosiour dan manusia biasa tidak akan menjadi exosiour. Karena itu, exosiour semakin lama semakin berkurang. Dan cerita tentang mereka semakin lama semakin menghilang.

Seiring dengan berlalunya waktu, banyak exosiour yang tidak mempedulikan lagi apakah mereka memang musti berkembang ataupun tidak. Karena yeah, cinta tak bisa dipaksakan, kita tentu tak ingin dituntut dengan siapa kita harus menikah. Exosiour yang hidup di zaman modern mana mau membatasi ruang lingkup percintaan mereka. Ditambah dengan tidak semua kekuatan yang exosiour miliki itu benar-benar bermanfaat, menciptakan paradigma di mana 'jauh lebih gampang jika kita hidup menjadi orang biasa'. Tak sedikit yang kabur dari keluarga mereka dan memilih menjalani hidup seperti orang biasa lalu menikah dengan orang biasa pula.

Tapi meskipun begitu, masih banyak keluarga yang tetap berpegang teguh untuk mewariskan darah exosiour mereka. Yang memiliki kepercayaan terhadap ramalan 'invasi exosiour planet lain' terhadap Bumi. Apalagi sejak dua puluh tahun belakang, telah muncul beberapa pihak di berbagai penjuru dunia yang seolah-olah mencoba menghabiskan keturunan exosiour Bumi. Ramalan oleh Malano, leluhur para exosiour pembaca masa depan, kian dekat untuk menjadi kenyataan.

Kita harus bertahan, meski kekuatan kita terkadang merepotkan kita sendiri dan malah dinilai tidak menguntungkan untuk kehidupan sehari-hari tapi tetap saja harus-"

"Okay,"sanggah Yoongi, "intinya kau sedang mencari pasangan sesama exosiour. Berarti aku ini termasuk exosiour ya?"

"Kau memang exosiour, tapi aku tidak sekedar mencari pasangan-"

"Kenapa harus aku? Bagian 'kita ditakdirkan' berarti hanya karanganmu saja."

Jimin menghela napas. Yoongi yang sudah selesai dengan makan malamnya menunggu sebuah jawaban jujur.

"Tidak sepenuhnya bohong kok,"celetuk Jungkook yang sedari tadi hanya sibuk bermain game, "singkat cerita orang tua kalian berteman, dan berjanji untuk menjodohkan anak mereka,"sambungnya tetap fokus pada layar smartphone-nya itu dan bergerak sedikit untuk memperbaiki posisi tiduran-nya agar lebih nyaman di atas sofa.

"Begitulah,"imbuh Jimin, "tapi aku merasa kalau kita memang lebih dari sekedar 'dijodohkan'."

Kemudian Jungkook melanjutkan, "yup. Karena memang ada kok yang namanya sepasang exosiour yang 'ditakdirkan'. Di mana mereka memang memilki ikatan yang sempurna, yang memang ditakdirkan untuk bersama. Jarang sih, aku sendiri tidak pernah bertemu langsung hanya mendengar ceritanya saja. Tapi aku yakin, Jimin- maksudku kalian itu termasuk. Karena katanya, dua orang yang ditakdirkan itu-"

"Tunggu,"sela Yoongi bernada serius, "apa sesama exosiour bisa saling mengetahui?"

Jungkook di sudut lain hanya bisa mendecak kesal karena omongannya dipotong begitu saja, padahal ia mulai mau ikut dalam pembicaraan. Jungkook itu tipikal remaja bandel yang tidak pernah menunjukkan kepedulian terhadap sekitar, jadi ia merasa perlu dihargai jika sekalinya memperlihatkan sebuah minat.

"Ne,"angguk Jimin, "mereka yang sudah tahu jika mereka itu exosiour bahkan dapat membedakan exosiour mana yang belum-"

Ucapan Jimin terhenti ketika pergelangan tangannya tiba-tiba diraih oleh Yoongi, "apa Yoon Junghan seorang exosiour?"

Dengan mulut Jimin yang membungkam, membuat Yoongi memperkuat genggamannya, "kutanya apa Yoon Junghan seorang exosiour?"desisnya tajam. Tak peduli jemarinya mulai menciptakan jejak di pergelangan Jimin.

"Dia bukan-"

"HELL! Pantas kematiannya-"

"Demi Tuhan, jangan berprasangka buruk. Mustahil kami membunuh seorang manusia biasa hanya untuk-"

"Jangan-jangan keluargamu itu penganut ramalan Mal- terserah- garis keras sampai-sampai-"

"Kami tak akan berbuat serendah itu demi- Astaga Jeon Jungkook!"

Seekor macan berukuran dua kali pria dewasa menerjang Yoongi hingga tersungkur, menubruk lantai kamar begitu keras. Ia mengaum dengan lantang lalu menggeram marah menampilkan deretan taring tajamnya yang siap mengoyak manusia di bawah kungkungannya. Satu kakinya menekan leher Yoongi kuat-kuat.

"DEMI TUHAN LEPASKAN DIA JEON JUNGKOOK!"

Jungkook tak mendengarkan Jimin, pun tak menggubrisnya sekalipun Jimin telah berusaha menarik tubuhnya agar tidak membuat Yoongi semakin kesakitan.

"Jungkook, jebal! Dia bukannya menyakitiku! Tanganku tidak apa-apa, Jungkook! Lepaskan dia sekarang!"panik Jimin. Karena Jungkook malah semakin mendesak Yoongi, dan dia tidak mau- tidak bisa menggunakan kekuatannya kepada Jungkook. Mereka bersahabat sejak kecil, juga Jungkook sepertinya memiliki kemampuan psikis yang terbilang unik.

"UUGh..."

Yoongi mulai kehabisan napas. Wajahnya makin basah oleh tetesan liur binatang buas. Pikirannya menafsirkan ia akan mati, dan suara pekikan Jimin membuat kepalanya seakan mendidih.

Lalu sejurus kemudian sesuatu merambati aliran darahnya, meledakkan detak jantungnya, menyesakkan deru napasnya, membuatnya menjadi gila-

-merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

"Jung-"Jimin membelalak kaget. Tatkala keadaan tiba-tiba berubah hanya dalam sepersekian detik. Di mana ringisan Yoongi tak lagi terdengar, terganti dengan bunyi hempasan macan yang dibanting begitu kuat ke langit-langit kamar.

Lalu Jungkook ambruk begitu saja, wujudnya perlahan-lahan berubah seperti semula. Di sisi lain, Yoongi dengan mata merahnya sudah berdiri tegap berekspresi marah.

Jimin tergopoh-gopoh menghampiri Jungkook, membantunya untuk duduk kemudian bergerak ke arah Yoongi. "Min Yoongisshi?"tanyanya takut-takut. Iris merah sepekat darah itu berhasil membuatnya ciut. Pun aura disekeliling Yoongi terasa gelap dan menusuk. Ia yakini Yoongi tengah kehilangan kontrol diri sekarang, hal yang terkadang terjadi ketika exosiour pertama kali mengeluarkan kekuatan mereka.

"Yoongi...?"

Jimin melangkah pelan, mendekat seraya tetap bersikap waspada. Dan Yoongi sadar dengan jarak mereka yang kini kian dipangkas, membuatnya terfokus hanya pada Jimin seorang -satu setengah meter.

Jimin mengangkat sebelah tangannya hendak menggapai Yoongi bermaksud menenangkan -satu meter. Namun dalam penglihatan dan pemahaman Yoongi dirinya tengah dalam bahaya -setengah meter.

BRAK

Pria kurus itu akan menyerang yang lebih muda, namun sudah didahului oleh hal yang benar-benar tidak terduga. Dan semuanya terjadi begitu cepat dalam pandangan Jimin, bahkan ia masih terdiam di tempatnya disaat tubuh Yoongi telah didesak ke dinding kamar.

"Told ya! Menawar barang itu hanya buang-buang waktu saja!"

"Buang-buang waktu? Excuse me?"

"Karena kau kita nyaris terlambat!"

"Helloooo~ apa kau tak tahu pepatah 'time is money' heoh! Demi uang waktu perlu dikorbankan kan!"

"Heol! Hanya demi lima ribu rupiah-"

"Ya! Kau tidak tahu heoh! Rata-rata pedagang minang itu bermulut manis lho, dan aku tidak ingin memberikan untung lebih kepada orang-orang yang seperti itu."

"Waw! Aku baru tahu seorang pewaris satu-satunya keluarga Jung ternyata sangat miskin sekali."

"Shup your fucking mouth, Freak Alien!"

"Kau yang diam, Kuda Sialan!"

"Kalian berdua yang seharusnya diam." Terdengar ucapan tenang namun bersifat mutlak tidak bisa dibantah menengahi adu mulut dua namja barusan.

Keduanya langsung bungkam. Meski wajah mereka masih mangkal dan saling melempar tatapan tajam, mau tak mau mereka harus patuh kepada yang paling tua, keduanya-pun memilih lebih fokus dengan tugas mereka masing-masing tanpa mengucapkan apapun lagi.

Yang diejek 'Kuda Sialan' telah menciptakan labirin tembus pandang berbentuk oval yang meliputi keseluruhan tubuh Jungkook sejak pertama memasuki ruangan, kini ia sedang memusatkan seluruh atensinya pada cahaya penyembuh itu - semua lebam di tubuh Jungkook perlahan memudar dan menghilang. Dan yang dikatai 'Freak Alien' juga telah menggunakan kekuatannya sedari awal mereka datang, menggerak-gerakkan tangannya ke berbagai arah dan dengan begitu seluruh kekacauan di setiap sudut kamar hotel perlahan-lahan rapi dan tertata seperti semula.

Sedang yang menengahi perdebatan mereka, seorang pria cantik bersurai keemasan berdiri tepat membelakangi Yoongi yang kini terjerat sulur tanaman hasil perbuatannya.

"Kenalkan, saya Kim Seokjin,"senyumnya membungkuk hormat serta meminta jabat tangan.

Jimin tak membalasnya, "kalian siapa?"dan bertanya seraya memandangi bergantian tiga sosok asing yang barusan menghambur masuk lewat jendela. Ia tidak begitu bersikap offensive, melihat cara kerja ketiganya yang jelas-jelas tidak bermaksud jahat.

"Yang di sana Jung Hoseok, dia sedang mengobati luka teman anda. Penyembuh sekaligus pembaca masa depan. Yang seperti monyet itu Kim Taehyung-"

"YA! Siapa yang monyet hha!"

"Seperti yang anda lihat, Pengendali ruang dan waktu benda mati,"sambung Seokjin tak mengubris umpatan kesal adiknya, "dan saya, em, sebut saja florist. Kami dikirim oleh Tuan Park. Beliau benar-benar mencemaskan anda, Tuan Muda."

#### ####

"Sudah kubilang aku bukan anak-anak lagi! Aku bisa menangani semuanya sendiri!"

"My Sweety, tidak mungkin Papa membiarkanmu-"

"Aku bisa! Aku mampu! Harus Papa biarkan mulai sekarang! Karena Papa selalu memanjakanku makanya aku tak pernah bisa mengontrol kekuatanku sendiri kan!"

"Sweety-"

"Aku tak suka orang-orangmu selalu ikut campur dengan urusanku!"

"Sayang-"

"Dan siapa mereka!? Orang baru?! Lagi?!"

"Mereka bukan orang baru, Sayang. Mereka sudah bertahun-tahun bekerja dengan Papa, hanya saja selama ini mereka ditugaskan di Jepang dan baru kali ini Papa-"

"Suruh mereka pulang!"

" Honey-"

"SE-KA-RANG! Right now!"

Pip.

"Kalian sudah boleh pergi." Jimin melipat tangan di depan dada, memandang angkuh ketiga pria di hadapannya. Sikapnya memanglah selalu pongah setiap berhadapan dengan bawahan ayahnya.

Seokjin tersenyum, berbeda dengan Taehyug dan Hoseok yang menatap jengah -berusaha tidak mengumpat kepada remaja sok-sok an yang merupakan anak bungsu Bos mereka.

"Well, baguslah!"desah Taehyung, "mengurusi anak manja-"

"Taehyung, duduk,"titah Seokjin lembut namun Taehyung tahu benar dibalik senyuman itu terdapat kemauan iblis yang tak bisa diganggu gugat, "dan tolong jaga sikapmu di depan Tuan Muda. Meskipun yang paling kecil, dia tetap anak majikan kita dan mulai kemarin Tuan Besar memberikan amanah untuk menjaganya kan. Sampai kapan kau bersikap bar-bar dan mencoreng nama baik keluarga Kim hm."

"Ugh." Dengan malas Taehyung kembali duduk dan tersenyum sok-sok minta maaf kepada Jimin, dibalas arogan oleh si Tuan Muda membuat Taehyung tersulut emosi namun untungnya Hoseok yang duduk di sebelahnya cepat-cepat berbisik tegas,

"Satu yang berulah, semuanya bisa kena imbasnya, Bodoh!"

"Begini, Tuan Muda,"sambung Seokjin, "anda lihat sendiri bukan, bayangkan jika kami terlambat sedetik saja atau yang paling parah kami tidak datang sama sekali, maka tidak menutup kemungkinan jika nyawa anda-"

"Aku sudah bisa memasuki pikirannya."

"Ne. Di saat kondisinya baik-baik saja, bukan. Tapi disaat dia kehilangan kontrol seperti tadi? Maaf Tuan Muda, tapi saya tahu bahwa anda cukup gemetar ketakutan tadi, ditambah anda belum terlalu menguasai kekuatan anda sendiri,"Seokjin menoleh sebentar ke arah Yoongi yang belum juga berhenti mencabik-cabik sulur mawar berduri-nya, berusaha membebaskan diri dengan geraman rendah penuh emosi serta mata yang semakin merah dan menatap nyalang, "sekali lagi maaf Tuan Muda, tapi anda harus mengakui bahwa anda memang membutuhkan kami."

"Lepaskan sulurmu."

Sekali lagi Seokjin merespon dengan senyuman hangat, "Tuan Muda, daya hancurnya tak main-main. Saya pribadi mulai merasa kewalahan."

"Kubilang lepas."

Kali ini senyuman Seokjin sedikit luntur, ia mulai merasa letih dan dihadapkan pada Tuan Muda yang keras kepala tentunya butuh kesabaran ekstra, "prioritas nomor satu kami adalah keselamatan Tuan Muda-"

Detik berikutnya hal yang telah terjadi pada Yoongi dialami oleh Seokjin.

#### ####

"Apa kita akan mati, Hyung?"Taehyung kecil berbisik lirih dengan raut sendu. Kemudian tubuhnya dipeluk erat oleh sang kakak.

"Kau bicara apa, Taetae,"kekeh Seokjin, tersenyum manis dibalik pancaran matanya yang menahan tangis, "apa yang kau pikirkan hm?"

"Aku melihat pria besar itu melakukan sesuatu kepada Appa dan Eomma. Lalu kau tiba-tiba menarikku lari dan kurasa seseorang mengikuti kita."

"Ssst. Mereka hanya sedang iseng. Mereka hanya sedang ingin menjahili kita, jadi kita harus bersembunyi supaya kita bisa membalas perbuatan mereka. Dengan mengagetkan mereka, mungkin."

"Bogum bilang, orang tuanya dibunuh oleh pria besar."

"Astaga, sudah berapa kali Hyung bilang, orang tuanya itu mengalami kecelakaan kan. Dan kau jangan pernah mau lagi mendengar hal-hal mengerikan seperti itu, okay."

"Un..."

"Apa kau tidak mengantuk?"

"Yeah, lumayan."

Seokjin lalu menyandarkan kepala Taehyung pada dadanya, "tidurlah..."gumamnya lembut seraya mengusap-usap pucuk kepala sang adik penuh sayang.

Dan tepat setelah Taehyung pulas memasuki mimpi, kubah dedaunan yang sejak tadi mengurung mereka perlahan terbuka dan Seokjin bergerak keluar dari sana.

Rangkaian daun maple lalu merapat kembali, menyembunyikan keseluruhan sosok Taehyung. Di luarnya, Seokjin mengangguk mantap. Setelahnya berlari menjauh berniat untuk berkorban demi saudara satu-satunya.

Air mata mengalir seiring kesadaran Seokjin terkumpul sepenuhnya, terbangun dari ingatan paling menyiksanya.

Jendela mobil yang pertama kali dia lihat, lalu setelah menoleh mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi Seokjin dapati wajah khawatir Hoseok dan dirinya yang duduk di belakang bangku supir mobil rental mereka sejak sampai di bandara Padang.

"Hyung, gwaenchana yo...?"lirih Hoseok setengah terisak, "ada yang sakit?"

"Un. Gwaenchana, Hobie-a,"senyum Seokjin mengusap pucuk kepala Hoseok, "aku baik-baik saja, tak ada yang sakit. Hanya bermimpi buruk."

"Jeongmal yo?"

"Ne. Jangan menangis hm."

"Syukurlah... syukurlah..."Hoseok menghambur memeluk Seokjin.

"Apa yang terjadi? Ke mana kita sekarang?"tanya Seokjin membalas pelukan adik iparnya. Ia melihat ke arah spion depan di mana di sana lirikan Taehyung sesekali tertuju kepadanya.

"Anak manja itu menggunakan kekuatannya. Kau langsung ambruk dan terlihat seperti bermimpi buruk, benar-benar buruk, seolah-olah kau benar-benar secara nyata mengalami semua itu. Kami memutuskan untuk cepat-cepat pergi membawamu, dan yeah untuk apa lagi kita di sini. Sekarang kita sedang menuju bandara."

Seokjin menghela napas dan mencoba menghubungi seseorang.

"Halo, Tuan Besar."

"Aigooo, sweetheart. Sudah kubilang berhenti memanggilku begitu kan."

"Ou, tapi aku sedang bersama yang lain-"

"Apa salahnya? Toh mereka sudah tahu kan."

"Tapi, Tuan-"

"Jinnie~"

"Well, Namjoon-a."

"Nah, begitu lebih baik. Jadi bagaimana dengan Jimin?"

"Em, kami tidak berhasil... Maaf..."

"Well, tidak apa-apa. Kalau dia memang maunya begitu, apa boleh buat. Kalian kembali saja ke Korea, aku benar-benar merindukanmu."

"Tapi Jimin-"

"Dia akan baik-baik, aku sudah menyuruh Seunghoon dan Seungyoon bergegas menyusul Jimin. Kau tahu kekuatan mereka kan. Mereka bisa mengawasi Jimin dari jauh dengan menyembunyikan hawa keberadaan mereka."

Seokjin menghela napas panjang, "nampaknya dia tidak menyukaiku."

"Well, nanti setelah kita menikah dan kau tinggal bersama kami dia akan perlahan-lahan luluh dan mulai menyukaimu."

"I hope so..."

"Well, aku sedang sibuk, Sweetheart. Sampai nanti, okay."

"Un. Sampai nanti."

"I love you."

"Love you too."

#### ####

Min Yoongi sudah kembali bersikap tenang. Sejak tadi Jimin sibuk menanangkannya lewat kekuatan pikiran. Kini ia tengah berada dalam pelukan Jimin, di atas ranjang hotel, berdua saja di kamar itu karena Jungkook beristirahat di kamar lain.

"Sudah lumayan?"tanya Jimin terdengar lelah.

"Yeah,"jawab Yoongi mengubah posisi mereka, sekarang dialah yang memeluk tubuh Jimin.

"Jadi bagaimana keputusanmu?"

Yoongi menatap lamat kedua mata Jimin yang juga memandangnya begitu dalam. Darahnya mendesir. Ia tahu Jimin tidak sedang memakai kekuatannya, namun tak ia pungkiri pikiran dan emosinya terseret dan dipenuhi oleh sosok Jimin.

Padahal Jimin hanyalah orang asing yang baru ia temui hari ini.

Yeah, stranger. But a cute stranger.

"Aku ingin ikut denganmu ke Korea. Tapi-"

"Papa bisa mengurus semuanya, kau tak perlu cemas dengan masalah visa dan lainnya."

"Well..."

Jimin tersenyum manis, mengecup singkat bibir Yoongi, "kuharap kau cepat-cepat menyukaiku. Karena aku sudah sejak lama jatuh cinta padamu."

"Eh?"

"Papa sering menceritakan sahabatnya, termasuk kedua orang tuamu dan anak semata wayang mereka. Setiap hari aku melihat fotomu, dan hanya melalui foto tersebut-"

Jimin sempatkan untuk tertawa kecil, "foto masa kecilmu jika kau ingin tahu, tapi entah mengapa menggelitik perasaanku."

Sepertinya Jimin tak perlu menunggu lama, karena detik berikutnya Yoongi sudah meraup bibirnya begitu lembut dan penuh kasih sayang.

-CUE-

apaaan dah!

serah!

wkkwkwkwkwk!

gamsahamnida ~

.

.

.

Ganto, 29 Juni 2017