Title : MISSING YOU

Author : Sulis Kim

M,cast: Kim Jaejoong

Jung Yunho

Hankyung

Kim Heechul

Rate : M

Genre : School, Family, Romance.

WARNING

GS for uke,jika tidak suka jangan di baca. Author cinta damai. NO bash. Ini cerita milik saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau lainya. Mungkin kebetunan. Karna cerita yang saya buat memang pasaran.

Menerima masukan yang membangun.

Happy Reading...!

Hankyung memperhatikan Jaejoong yang menyibukan diri di dapur besar rumahnya untuk menyiapkan makan malam. Sepanjang perjalanan siang tadi Jaejoong menghindari menatap wajahnya. Ia tidak bodoh untuk menebak telah terjadi sesuatu dengan adiknya, ketika ia meninggalkan Jaejoong bersama Yunho di taman atap sekolah.

Ia tidak mengatakan apa apa atau pun bertanya ketika melihat Jaejoong berlari menghampirinya di parkiran dalam keadaan berantakan. Dan dalam perjalanan pulang ketika mereka melewati supermarket Jaejoong mengusulkan untuk memasak makan malam untuknya, dan Hankyung tidak akan menolak keburuntungan itu, mungkin Jaejoong akan melupakan apa yang terjadi diantara dirinya dan Yunho pagi ini dengan menyibukan diri di bapur, setidaknya itulah harapan Hankyung.

Dan disinilah ia, duduk di meja makan dengan separuh meja besar di penuhi berbagai hidangan masakan yang tidak satupun Hankyung tahu apa namanya, dan adiknya masih sibuk berjalan kesana kemari di depan kompor.

Para pelayan berdiri di belakang Hankyung dan sebagian di sisi dapur lain yang memang cukup luas, Jaejoong melarang siapapun membantunya bahkan ia mengusir Chef keluar dari dapur. Dengan sedikit tidak nyaman mereka mengikuti perintah Jaejoong untuk berdiri di tempat setelah Hankyung mengatakan. "Hari ini biarkan Jaejoong menyiapkan makan malam untuk untuk kita semua."

Meskipun sedikit tidak nyaman para pelayan tidak mencoba membantu setelah dua dari mereka menawarkan diri untuk membantunya mencuci dan memotong sayur.

Hankyung bangkit dari kursinya berjalan menghampiri Jaejoong di depan konter, mengintip dari balik bahu gadis itu, "Nona, berapa masakan lagi yang akan kau masak. Lihatlah meja itu sudah penuh dengan berbagai masakan yang aku tak yakin mampu untuk menghabiskan semua itu, " Ia menelengkan kepalanya agar Jaejoong bisa melihat meja di belakang yang hampir penuh. " Itu lebih dari cukup untuk kita semua."

Kedua bahu Jaejoong terkulai lemas, pikiranya tidak pada tempatnya saat ini, ia tidak sadar sudah memasak terlalu banyak, "Maafkan aku, aku terlalu semangat memasak sehingga memasak begitu banyak hidangan untuk makan malam kita, sudah sangat lama aku tidak melakukanya." Jaejoong menunjuk masakan yang masih di atas wajan kepada salah satu pelayan untuk melanjutkannya.

Hankyung tahu adiknya berbohong, tapi ia tidak mengatakan apa apa lagi dan menarik adiknya untuk duduk di kursi samping.

"Maukah kalian menemani kami makan," tatapan Jaejoong penuh harap menatap satu persatu pelayan yang terkejut akan permintaanya, " rumah ini sangat besar, sangat sepi aku tidak terbiasa dengan perubahan dalam kehidupanku." mata Jaejoong sudah berkaca kaca ketika mengatakanya.

Sesuatu telah terjadi dengan Jaejoong, Hankyung yakin akan hal itu. Ia memutar tubuh dan meraih bahu adiknya, memutar tubuhnya agar mereka saling berhadapan. Jaejoong menghindari tatapan Hankyung sehingga namja itu menarik dagu adiknya agar ia bisa melihat wajah adiknya yang sudah basah oleh air mata. "Aku meninggalkanmu bersama Yunho siang ini, apa dia menyakitimu."

Mata Jaejoong melebar, apa Hankyung melihat mereka beciuman? Tidak. Seandainya Hankyung melihat Yunho menciumnya, dapat di pastikan kakaknya akan menghajar Yunho di detik dimana pria itu menciumnya.

Jaejoong takut, ia takut akan perasaanya sendiri terhadap Yunho. Ia tidak buta, semua siswi menginginkan namja itu, Jaejoong takut hatinya terluka seandainya ia benar benar jatuh hati pada Yunho.

Sudut mata indah Jaejoong tergenang oleh air mata, perlahan genangan itu meluap menuruni kedua sisi wajah gadis itu.

"Ya, Tuhan Jaejoongie, apa yang Yunho lakukan padamu." Ia menarik adiknya kedalam dekapan. " Seharusnya aku tidak meninggalkanmu denganya, seharunya aku menghajar anak itu untuk berhenti mengganggumu." hal itu malah semakin membuat tangis Jaejoong semakin histeris.

Oh, ia tahu kakaknya akan menghajar Yunho demi dirinya. Akan tetapi ia tidak yakin ia mampu melihat pemuda itu terluka. Tidak Ia tidak jatuh hati pada pemuda itu. Jaejoong menepis pikiran tentang Jung Yunho.

Seorang pelayan di bagian luar masuk keruangan, dan sebelum pria paruh baya itu menyampaikan pesan dan menjelaskan alasanya masuk tanpa permisi. Heechul menerobos masuk di belakang satpam bertubuh tegap itu sambil mengomel.

"Kau harus memecat mereka karena tidak mengijinkanku masuk kedalam tanpa seijinmu , hal ini tidak bisa dibiarkan Han...Kyung " Langkah Heechul terhenti menatap ruangan yang di penuhi para pelayan yang berjajar di sisi meja , tidak biasanya seperti ini. Apa Hankyung mengumpulkan mereka untuk suatu urusan? Itukah sebab para pengawal di luar tidak mengijinkanya masuk tanpa memberi tahu Tuan rumah? Hal yang belum perhan di alami Heechul sebelumnya. Ia tidak membutuhkan ijin khusus dan itu sudah menjadi rahasia umum tetapi ...

Alis Heechul terangkat ketika menatap hidangan yang memenuhi meja itu sepertinya Hankyung sedang kedatangan tamu, dan matanya membelalak lebar setelah menyadari ada orang lain di ruangan itu.

Seseorang dengan tubuh ramping dengan rambut diikat di atas kepala membentuk sebuah gelung, seorang gadis. Dan gadis itu berada dalam pelukan Hankyung. Emosinya Heechul seketika meluap. Jadi inikah alasanya? mengapa ia harus mendapatkan ijin khusus untuk masuk kerumah ini.

Memang ia terlalu bermuluk menganggap Hankyung memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya, hanya karena namja itu memperlakukanya begitu baik, bukan berarti Hankyung mencintainya seperti ia mencintai namja itu. Dan saat ini di depan matanya Hankyung memeluk gadis lain dengan begitu mesra dan... Dasar bajingan.

Ia berteriak "Kau tak boleh melakukan ini padaku." Heechul berkata penuh emosi.

Hankyung melepaskan Jaejoong, gadis itu berdiri seketika setelah Hankyung melepaskanya. "Sunbae,,," Jaejoong membelalakan matanya tak mengira Heechul akan datang kesini.

Seharusnya ia sudah menduga sebelumya jika salah satu murid dari kelas Esklusif akan datang kapan saja dan melihatnya di sini. Ia sudah mengira seseorang akan curiga atau melihatnya bersama Hankyung, akan tetapi ia tidak mengira itu adalah Heechul dari sekian banyak teman teman Kakaknya, Yeoja yang Jaejoong pikir di sayangi Hankyung.

"Kim Jaejoong, kau..." Heechul tidak meneruskan kata katanya dan menatap Hankyung dan Jaejoong bergantian. "Kalian ..."

"Sunbae dengarkan aku ..."

Heechul memutar tubuh berbalik dan sudah akan berlari ketika mendengar Hankyung mengatakan sesuatu yang ia yakini salah, sepertinya telinganya perlu diperiksa oleh dokter khusus.

Jaejoong berlari mengitari meja dan berdiri disisi Heechul. "Hankyung adalah Kakaku, itu memang benar."

Heechul tidak percaya? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin mereka bersaudara. Hankyung yang di kenalnya adalah anak tunggal, dan Jaejoong?

Ia tidak mengenal yeoja itu, Jaejoong, kecuali Jaejoong adalah anak yatim piatu dan anak beasiswa yang beruntung untuk masuk kesekolah Shinki.

"Bagaimana mungkin?" pertanyaan itu ia tunjukan terlebih pada diri sendiri. Seakan semuanya menjadi jelas, bagaimana pertemuan pertama mereka dan bagaimana posesifnya Hankyung terhadap Jaejoong setelah ia melihat Jaejoong di lapangan. Tidak heran mengapa Heechul merasa wajah Jaejoong tidak asing, karena Jaejoong begitu mirip dengan,,, Ya Tuhan, ibu Hankyung, kenapa ia baru ingat sekarang. Jaejoong begitu mirip wanita itu ketika masih muda, persis seperti foto yang terpasang di ruang kerja Hankyung.

Heechul menekan kening dengan telapak tanganya. "Oh, bagaimana aku tidak menyadari ini sebelumnya. Bagaimana ...bisa?"

"Ceritanya panjang. Dan aku rasa Hankyung oppa akan menjelaskanya padamu, Sunbae. Tentunya setelah kita makan malam ,,, maukah kau menemani kami, aku masak begitu banyak untuk semua orang bahkan aku tidak yakin mereka dapat membantu menghabiskanya." Jaejoong melirik ke arah para pelayan.

Ia menarik Heechul untuk duduk di samping Hankyung. "Duduklah..." ia berbalik menatap para pelayan dengan tatapan tegas. "Kalian juga duduk."

Kepala pelayan angkat bicara. "Tapi Nona..."

"Tidak ada yang boleh membantah."

Mereka saling menatap satu sama lain, merasa kurang pantas dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya pada mereka.

Melihat mereka masih berdiri kaku Hankyung berkata "Duduklah Bibi, aku tidak keberatan dan aku rasa Heechul juga begitu."

Heechul terkejut namanya di sebut sehingga sontak ia menjawab, "Tentu saja "Meskipun ia tidak yakin apa ia mengerti tentang apa yang mereka bicarakan karena ia masih terlalu shok akan berita ini. Ya Tuhan, Jaejoong dan Hankyung.

"Kalau kau tidak duduk, bibi, Jaejoong akan marah kau tahu aku tidak mungkin membiarkan adikku sampai menangis karena hal ini, dan aku benar benar sangat lapar." Hankyung meraih mangkuk yang di ambilkan oleh salah satu pelayan.

Jaejoong menarik kursi untuk wanita paruh baya itu. "Ku mohon..."

Wanita paruh baya itu tersenyum dan sedikit ragu untuk menyentuhkan tanganya di pipi Jaejoong. Jaejoong meraih tangan keriput itu dan menekanya lembut di pipinya. Wanita itu tersenyum. "Kau tidak kesepian sayang, kami semua selalu ada untukmu. Trimakasih,,, dan kalian cepatlah duduk." perintahnya kepada sisa pelayan yang masih ragu.

.

.

.

Yunho menuang soju memenuhi gelas kaca untuk yang kesekian kali, dalam sekali teguk dan meringis merasakan cairan aneh yang tidak biasa ia minum menuruni tenggorokannya .

Ia duduk di sebuah bar pinggir jalan dengan keadaan setengah mabuk. Kepalanya di penuhi dengan Jaejoong setiap ia menutup mata ia melihat wajah gadis itu dengan bibir merah merona akibat ciuman mereka pagi tadi. Brengsek... Ia kembali menegung soju langsung dari botol.

Yunho tidak buta untuk melihat luka di mata gadis itu, mungkin ia sedikit keterlaluan ketika mengatakan 'wanita jalang' dan mengatakan sesuatu yang membuat Jaejoong marah. Tetapi Yunho marah ketika Jaejoong seakan mengejek dirinya kalau Yunho cemburu.

Cemburu?

Apakah ia cemburu?

Tentu saja, bodoh!. Ia menyadarinya, ia sudah terpikat dengan kepolosan gadis itu ketika melihatnya dengan seragam kebesaran yang tidak menyembunyikan kecantikan Jaejoong dan juga gadis itu tidak merasa tertarik pada dirinya sementara gadis gadis lain bertekuk lutut di kaki Yunho, berharap ia menawarkan diri untuk menjadi kekasih mereka.

Sekarang, gadis itu terlihat putus asa dengan kehidupanya yang sulit karena hinaan Yunho. Mungkin selama ini tidak ada yang menghina Jaejoong seperti Yunho menghina gadis itu. Ya, benar Jaejoong membutuhkan uang, gadis itu membutuhkan perlindungan, itu sebabnya Jaejoong mencari seseorang yang bisa melindungi dan memenuhi kebutuhanya. Dan Yunho tidak berhak mencampuri urusan gadis itu.

Brengsek...!

Ia peduli, ia harus ikut campur segala sesuatu yang berhubungan dengan Jaejoong. Karena ia peduli.

Memikirkan itu membuat Yunho bangkit. Kursi berdendam keras karena ia tidak berniat mendorong kursi itu ketika ia berdiri secara tiba tiba. Tubuhnya terhuyung dan hampir limbung ketika seseorang menangkap tubuhnya.

"Yunho Sunbae,,,kau Yunho, bukan?."

Suara seorang yeoja. Yunho mencoba berdiri di atas kakinya untuk melihat wajah yeoja itu, ia mendorong tubuhnya menjauh dan ia melihat bayangan yeoja berambut panjang di kucir kuda beridiri dihadapanya.

"Jaejoong." ia terhuyung dan gadis itu menangkap tubuh Yunho sebelum ia mencium lantai.

"Aku bukan Jaejoong, Sunbae kau mabuk? Hanya karena soju?"

"Tidak, aku minum banyak sore ini dan dalam perjalanan pulang aku mampir kesini, Jaejoong aku minta maaf karena ciuman pagi tadi aku tidak menyesalinya, tidak tentu saja tidak... aku menikmatinya" Yunho terus berkata tanpa memperhatikan ekspresi gadis itu berubah kaku.

Tentu saja Sunghee sudah mengetahui hubungan Yunho dan Jaejoong yang seperti api dan air. Dan separuh dari murit laki laki bertaruh mereka akan menjadi sepasang kekasih seperti dalam drama yang selalu para yeoja perbincangkan setiap pagi di kelas. Akan tetapi Sunghee tidak mengira kalau hubungan mereka sampai sejauh ini.

Ciuman? Jadi Yunho sudah mencium Kim Jaejoong dan mendengar apa yang di katakan Yunho, Jaejoong tidak menyukai Yunho, malah terdengar gadis itu membencinya.

Sunghee membawa Yunho keluar dari bup milik keluarganya. Ia sering membantu seusai pulang sekolah disana dan angin keberuntungan sedang berhembus kearahnya malam ini ketika Yunho membuka pintu bup menuju salah satu kursi di ujung ruangan.

Inilah kesempatanya agar Yunho menyadari keberadaanya, akan tetapi pria itu tidak sesikitpun melirik kearah Sunghee ketika memesan soju atau ketika Sunghee membawakan soju ke meja pria itu. Dengan sabar Yeoja itu menunggu dan ketika Yunho bangkit ia bergegas mendekat dan dengan sengaja melemparkan tubuhnya ke arah Yunho yang secara kebetulan terhuyung. Mungkin setelah ini Yunho akan memandangnya di sekolah kemudian hari.

Tetapi harapan itu kandas ketika mendengar kata ciuman dan maaf yang di tunjukkan untuk Jaejoong dan namja itu terlihat begitu terluka.

Sunghee menuntun keluar dari pub dan pria itu benar benar sudah tak sadar dan terus berkata tanpa berpikir. "Aku tidak akan menghinamu lagi, aku tahu kau membutuhkan uang itu sebabnya kau berkencan dengan pria tua itu. Bajingan itu, aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuhmu, kau adalah milikku..."

Mata Sunghee melebar mendengar apa yang baru saja Yunho ocehkan. Jaejoong berkencan dengan pria tua? Dan Yunho mengetahuinya namun masih mengharapkan yeoja itu untuk dirinya. Apakah ada orang lain yang tahu? Ini berita yang mengejutkan sampai ia melepaskan lenganya membuat Yunho terhuyung dan terjerembab ke tanah.

Namja itu mengaduh cukup keras. "Kenapa kau menjatuhkan aku Jaejonng?"

"Yunho," Ia mencoba menarik namja itu untuk bangkit namun sia sia, Yunho jauh lebih besar darinya. Ia mengedarkan pandangan mencari bantuan, dan ia melihat tidak jauh di ujung jalan dari pub milik keluarganya tertulis dengan huruf besar dengan lampu penerang berkilauan.

HOTEL.

.

.

.

" Sore ini kita akan menemui paman, sepertinya ada masalah di China kemungkinan aku akan pergi ke sana beberapa hari," Hankyung menepikan mobil.

"Aku akan merindukanmu," Jaejoong membuka sabuk pengaman. Ia sedikit tidak nyaman di tempat duduknya, sedikit ragu untuk berkata, "Tidak bisakah aku ikut denganmu ...tentu saja kalau kau tidak keberatan."

"Tentu tidak, Jongie. Aku sangat senang jika kau bersedia ikut denganku."

Jaejoong tersenyum cerah, ia ingin berteriak namun ia di tahanya sekuat tenaga. Akan ada orang yang melihat ke arah mereka jika ia berteriak dan tentu saja itu akan mengundang semua mata menatapnya.

"Aku tidak sabar untuk itu." ia keluar dengan buru buru melambaikan tangan. Jaejoong menunggu mobil Hankyung masuk menghilang di tikungan depan baru ia berlari ke arah yang sama.

Matahari pagi begitu terik ketika Jaejoong melewati pintu gerbang Shinki, suasana hatinya begitu cerah untuk memperhatikan sekeliling.

Ia akan kembali ke rumahnya, rumah orang tuanya di Beijing. Meskipun ia tidak mengingat seperti apa rumah itu mengingat ketika ia di culik ia masih berumur empat tahun.

Ia sudah tidak sabar. Jaejoong berlari begitu kencang dan tersenyum begitu cerahnya secerah matahati pagi ini.

Langkah kakinya mendadak melambat ketika semua murid melempar lirikkan sinis kearahnya.

Apa ada sesuatu di wajahnya? Atau pakaianya aneh? Ia menyentuhkan tangan di pipi mencari cari sesuatu.

Andaipun ada Hankyung akan memberitahunya pagi ini. Jadi ...kenapa mereka melihatnya seperti itu.

"Jaejoongie,"

Jaejoong mendongak melihat Junsu berlari dari tangga lantai dua. Sepertinya Junsu juga baru sampai.

"Pagi, Junchan."

Junsu hampir terjatuh sebelum sampai di hadapan Jaejoong, akan tetapi yeoja itu tidak sedikit pun mengurangi kecepatan larinya.

"Pulanglah, sebelum mereka melakukan sesuatu terhadapmu!"

Jaejoong mengerjap, ada apa dengan sahabatnya itu. "Junchan, ada apa? Dan kenapa aku harus pulang. Ya, Kim Junsu jangan tarik aku..."

Tanpa mendengarkan sampai selesai perkataan Jaejoong, Junsu menarik Jaejoong ke arah papan pengumuman. "Lihat jae, aku tidak percaya semua ini, aku yakin itu. Jadi pulanhlah aku akan menjelaskan kepada kepala sekolan kalau semua ini bohong, agar kau tidak kehilangan beasiswamu."

Jaejoong sudah tidak mendengar apapun yang di ucapkan Junsu, bola matanya beralih kesana kemari dari tulisan tinta hitam di atas putih dengan huruf yang tidak terlalu kecil.

Cibiran yang terang terangan di sekelilingnya semakin keras.

"Dasar wanita jalang, dia tidak pantas mendapatkan beasiswa di sekolah ini."

"Kau tidak perlu sekolah Jaejoong, cukup menjadi simpanan Paman Paman kaya dan hidupmu akan terjamin."

Junsu menerjang mereka, "Jaejoong bukan simpanan siapapun." Teriak Junsu. Mendorong mereka menjauh dari sekeliling mereka.

Jaejoong masih berdiri di sana dengan tatapan kosong menatap tulisan itu.

"Kau tidak usah membelanya Junsu, dia adalah gadis miskin yang tidak pantas kau ajak berteman." kata salah satu gadis.

Gadis lain berkata. " Tidak usah membelanya, bukankah disana tertulis dengan jelas jika Kim Jaejoong berkencan dengan pria lebih tua sedekade dari umurnya, pasti paman paman yang sudah beristri dan memerlukan hiburan..."

Junsu menyahut perkataan gadis itu. "Dan bagaimana kau begitu paham dengan kehidupan paman paman yang kesepian membutuhkan simpanan, apakah kau termasuk salah satunya." gadis itu terdiam, mengerutkan bibir tidak suka. Dan yang lain tertawa.

Junsu bukanlah gadis pendiam lucu yang selama ini mereka kenal, ia begitu menakutkan ketika berteriak dengan wajah merah padam membela Jaejoong.

"Jongie, kau mau kemana." teriak Junsu ketika melihat Jaejoong berjalan meninggalkan kerumunan, ia berlari menaiki tangga setelah gadis itu menyambar beberapa lembar kertas yang menempel di papan mading.

Hanya satu orang yang mengatakan hal sama kemaren, namja yang sama yang telah menciumnya.

Jung Yunho, sialan!

.

.

.

Yunho masih merasa kepalanya berdenyut menyakitkan akibat terlalu banyak minum kemaren malam. Ia berjalan gontai keluar dari kelas, ia butuh obat untuk mengurangi denyut yang menyebalkan di kepalanya dan ruang kesehatan adalah tujuan utama. Ia berangkat lebih bagi dari yang lain dan tetidur sebentar di kelas.

Pagi ini ia terbangun di sebuah kamar Hotel yang tidak jauh dari pub, tempat ia minum soju semalam. Ia masih memakai pakaian yang sama seperti hari sebelumnya hanya jaket yang tegeletak di atas sofa kamar itu.

Tidak ada siapapun di sana selain dirinya ia bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di tempat itu. Akhirnya ia bertanya kepada pelayan hotel dan pria itu mengatakan tidak tahu menahu bagaimana ia bisa sampai disana, karena kebetulan ia baru menggantikan shif malam satu jam lalu.

Yunho tidak berniat bertanya lebih ketika pelayan itu menawarkan untuk bertanya kepada penjaga malam sebelumnya, ia sudah telat untuk pulang kerumah, Kakaknya kebetulan berada di rumah dan Yunho tidak berniat mendengarkan ceramah panjang Kakaknya yang super protective itu.

Beruntung ketika ia kembali Ilwo masih tertidur dan dengan buru buru Yunho meninggalkan rumah sebelum kakaknya bangun untuk sarapan. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi tadi malam, sore ini pulang sekolah ia akan mencari tahu.

Pintu lift terbuka Yunho tidak melihat seseorang muncul dari arah samping tangga. Lenganya di tarik dan tubuhnya berputar kemudian rahanya terasa sakit akibat sebuah pukulan. Yunho terhuyung , beberapa murid kelas ekslusif yang masih berada di dalam lift terkejut melihat pria itu tejatuh ke lantai dengan sebagian tubuh Yunho berada di dalam lift.

Yunho masih belum sadarkan diri dari keterkejutanya, ketika dasinya di tarik cukup keras, sontak ia berdiri dengan sedikit limbung ia berusaha berdiri di atas kakinya.

Ketika ia mendapatkan kembali kendali diri ia menarik pangkal dasi kearah tubuhnya dan tubuh gadis itu terhuyung terbentur dada bidangnya. Gadis itu mendongak. Yunho mengenali wajah itu, gadis yang mengahantuinya sepanjang malam.

"Apa yang kau lakukan gadis nakal, mengapa kau memukulku?" geram Yunho.

Jaejoong terengah enggah masih bersandar di tubuh Yunho dengan wajah merah paham karena marah. Yunho dapat merasakan payudara Jaejoong menekan dadanya dan kelembutan payudara Jaejoong membuat ia tegang.

Seluruh murid Ekslusif melongok keluar dari kelas mencoba mencari tahu keributan apa yang terjadi.

Dengan enggan Yunho mendorong tubuh Jaejoong menjauh sebelum Jaejoong dapat merasakan gairahnya. Ia kembali menggeram melemparkan tatapanya yang tajam seakan mencoba mencabik cabik Jaejoong.

Tidak. Yunho akan mencium gadis itu. Sial ia tidak bisa berpikir jernih jika Jaejoong masih terenggah dengan wajah marah bibir terbuka dan terlihat seakan Jaejoong baru saja di tiduri. Yunho menggelengkan kepalanya, berusaha membuang pikiran kotor yang tiba tiba memenuhi pikiran.

"Bajingan kau ,Jung."

"Aku kira kau sudah bersedia memanggilku Yunho." Sahut Yunho santai.

Kepalanya masih berdenyut menyakitkan sehingga ia tidak melihat pukulan berikutnya yang Jaejoong arahkan keperutnya. Brengsek, gadis itu memukulnya seperti petinju.

Kali ini Yunho dengan cepat pulih, bagaimanapun dia seorang Namja dan tidak mungkin ia menyerah dengan pukulan Jaejoong yang enggan untuk ia akui memang menyakitkan. "Apa apaan ini? Jaejoong."

"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu apa yang kau lakukan dengan ini." Jaejoong melempar kertas kearah wajah Yunho.

Yunho tidak berusaha mengambil kertas itu ketika melayang di depan mata dan berakhir di lantai karena ia bisa melihatnya ketika kertas itu tergeletak di lantai. Amarah yang baru saja menguasainya tiba tiba lenyap tak tersisa. " Bukan aku,"

"Kalau bukan kau siapa lagi yang mengatakan aku Wanita murahan yang berkencan dengan pria tua bangka dan ...dan ..." Jaejoong tidak melanjutkan ketika nafasnya terasa sesak.

Sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk tidak jatuh, ia tidak boleh menangis di hadapan pria itu. Ia tidak akan membiarkan Yunho merasa menang. "Kau menang, aku akan keluar dari sekolahan ini. Tidak!" Jaejoong menggeleng. "Seperti yang kau inginkan. Dengan atau tanpa persetujuanku aku akan di keluarkan dari sekolah ini."

Yunho menghindar dari pukulan Jaejoong berikutnya. "Jaejoong, kau harus mendengarkan penjelasanku."

Jaejoong kembali berlari menuruni tangga.

Hankyung memungut kertas itu dan membaca kemudian meremasnya. Ia meraih bahu Yunho membuat pria itu menatapnya heran. "Jangan sekarang ..."

Hankyung mendaratkan sebuah pukulan di hidung Yunho dan seketika pria itu mengaduh merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Darah.

"Ini hanya peringatan untukmu, sampai aku melihat kau mendekatinya lagi aku tidak akan segan segan untuk memukulmu lagi." Hankyung mendorong tubuh Yunho, kemudiam pria itu berlari menyusul Jaejoong.

Yunho menangkap tatapan menuduh Heechul." Aku bersumpah aku tidak melakukanya."

" Kalau begitu kenapa Jaejoong menuduhmu? Tidak ada yang akan mempercayaimu, sampai kau membuktikan bukan kaulah yang menyebarkan gosip konyol itu, semua orang tahu kau menginginkan Jaejoong di keluarkan dari sekolahan ini."

Yunho menggeram frustasi,"Bukan aku..."

"Itu bukan gosip, Yunho Sunbae tidak berbohong."

Semua mata menatap terkejut ke arah suara dari kerumunan, seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Yunho terkejut, ia merasa pernah mendengar suara itu.

~TBC~

Thanks banget RCL dan yang sudah ngasih tau typo juga kesalahan kesalahan lainya. sulis coba perbaiki sebaik mungkin.

Kamsahamnida.