Biarkan Aku Mencintaimu
Chapter 12
^^Selamat Membaca^^
"perkenalkan, namaku Sai."
"kau teman Naruto?" tanya Kiba.
"dia bukan temanku!" ujar Naruto dengan nada ketus.
"jangan terlalu diambil hati Sai, Naruto memang seperti itu, biarkan saja!" ujar Sasuke.
"yah, aku akan membiasakannya." Ujar Sai meledek Naruto.
Mereka berempat kini tengah berada d sebuah bar, dengan jarak yang lumayan dekat dengan bar Shizune yang dimana sekarang Hinata berada di sana untuk bertemu Shion. Padahal Naruto sudah melarang Hinata untuk menemuinya, tapi Hinata tetap saja menemui Shion.
"katakan padaku, apa yang ingin kau bicarakan?"
"kau tidak sabaran sekali, dengar yah, aku hanya ingin memperingakan mu Hinata, mulai sekarang, menjauhlah dari Naruto, jangan terus bersamanya, dia tidak pantas untuk mu!"
"siapa kau beraninya menyuruhku untuk menjauhinya, dan kenapa dia tidak pantas untukku, aku mencintainya dan dia adalah seseorang yang pantas untuk aku cintai, kau hanya masa lalunya!"
"dengar baik-baik!" Shion semakin geram, "aku mencintainya lebih dulu dari pada dirimu, memang aku membuat kesalahan di masa lalu, tapi sekarang aku akan menebusnya, dan setelah aku melihat dirimu dengan Naruto. aku seakan-akan ingin mencekik mu, beraninya kau merebut dia dariku!"
"meskipun kau mencintainya lebih dulu, tapi sayangnya dia tidak mencintaimu sama sekali Shion, kau merusak hidupnya, mana ada cinta, yang ada hanya kebencian, jadi aku mohon padamu Shion, biarkan dia hidup bahagia, biarkan dia mencintai orang yang ia pilih, dan itu aku!" Shion mengepalkan tangannya, dia sangat marah, dan ingin sekali memukul Hinata. Kalau dia Hinata mengeluarkan sepatah kata lagi, dia pasti dalam bahaya.
Di bar lain Naruto merasakan perasaan tidak enak, dia mengkhawatirkan Hinata. Dia mencoba menelfon Hinata, tapi ponselnya tak bisa di hubungi. Akhirnya ia meminta Sasuke untuk menelfon Sakura, "ada apa Naruto?" tanya Sakura, "apa Hinata bersamamu?"
"tidak, dia tidak bersama ku sekarang, iya sih dia tadi aku menelfonnya, dia bilang ingin pergi ke suatu tempat, mungkin menemui seseorang. Tapi..."
Sakura tengah memasuki bar dimana Hinata berada, wah kebetulan sekali, ternyata Sakura akan menemui seseorang disini, dan sekarang dia melihat Hinata dengan seorang wanita, "Sakura, kenapa kau diam?" Naruto memanggil Sakura, tapi ia hanya berfokus pada penglihatannya. Kemudian ia mendengar suara Naruto, "oh tidak, Naruto, aku melihat Hinata disini, di bar Shizune, dia sedang bersama seorang wanita, berambut panjang dan..."
"tidak, itu Shion, tunggu disana Sakura, jangan biarkan Shion menentuh Hinata, aku akan kesana!"
"ada apa Narutp?" tanya Sasuke.
"Hinata ada di bar Shizune, dia sedang bersama Shion sekarang, aku harus segera kesana!"
Naruto pun pergi dan meninggalkan mereka bertiga, "ini gawat, kenapa wanita itu bisa ada disini, bukankah dia sudah pergi?" ujar Kiba. "entahlah, dia wanita yang berbahaya, ayo kita ikut!" ujar Sasuke.
"apakah aku boleh ikut juga?" tanya Sai.
"tentu saja kawan!" sahu Kiba
Naruto sedang dalam perjalanan, untung sja bar itu tidak terlalu jauh, jadi dia bisa lebih cepat. Tapi Hinata masih berbicara, itu membuat Shion geram, Sakura sudah berada disana sekarang, "jadi aku mohon pada mu, jauhi Naruto, dia mencintai orang lain, dan tidak akan pernah berubah!"
"cukup! Ak tidak akan peduli, aku akan merebutnya kembali darimu!"
"jangan harap kau bisa merebutnya dariku!"
Shion berdiri dan tiba-tiba hendak menampar Hinata, "hey kau!" terika Sakura. Bersamaan dengan itu Naruto datang dan menahan tangan Shion, "jangan pernah kau menyentuhnya dengan tangan koor mu ini!" Shion tersentak karena Naruto benar-benar benci padanya, "kenapa kau membenci ku Naruto, aku mencintaimu dari dulu, dan itu tidak akan pernah berubah!"
"kau harus merubahnya Shion, karena dari awal aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Dan saat kepercayaan ku mulai tumbuh kau menghancurkanya, menghancurkan kepercayaan yang telah aku bangun pada mu, aku tidak bisa memaafkan semua kesalahan mu jika kau berani menyentuh Hinata, aku tidak mau melihat mu lagi, pergi!"
Shion melepaskan cengkraman tangan Naruto, dia pergi dan ketika melintasi pintu Sai melihatnya. Mereka bertiga sampai di bar itu setelah Shion meninggalkannya. Mereka bergabung dengan Naruto dan yang lain, "kau tidak apa-apa Hinata?" tanya Kiba. Hinata mengangguk lemah. Tapi Naruto, dia tidak melihat Hinata sama sekali, dia pasti marah, batin Hinata. Hinata bodoh, dia sudah melarang mu, tapi kau tetap menemuinya.
"dia wanita yang aku temui saat di pesawat, apa mereka teman kalian, kelihatannya dia baik!"
"ya ampun, Sai, dia itu perempun berkepala harimau, jangan kau lihat dari mata yang biasa, cobalah lihat dengan mata batinmu, kepalanya berbentuk harimau." Ujar Kiba.
Sasuke, Sakura, Sai dan Kiba terbahak-bahak, tapi tidak dengan Naruto dan Hinata, "sudahlah Hinata, jangan kau pikirkan dia, dia memang sedikit..."
"gila." Ujar Sakura.
"aku tidak mengatakan gila!"
"yah, tapi aku yang mengatakan. Hinata, kenapa kau bisa berada disini, jelaskan padaku!" ujar Sakura
"aku hanya... aku.."
Naruto tiba-tiba berdiri, "ayo pulang!" ujar Naruto. sakura mengangguk. mereka pun pergi meninggalkan teman-temannya, "sepertinya Naruto marah sekali." Ujar Sai, "apa dia marah pada Hinata?"
"sepertinya begitu. Aku belum pernah melihat wajahnya yang seperti itu, menyeramkan!" ujar Kiba.
"Naruto tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi saat bertemu dengan Hinata... apakah kalian berdua ingat saat liburan minggu lalu!" ujar Sasuke pada Kiba dan Sakura.
"yah, jelas aku ingat, dia seperti orang gila karena mencari-cari Hinata."
Sakura tertawa, "padahal Hinata sedang bersamaku, kami sedang di spa saat itu, Hinata tidak memberitahu Naruto keberadaan kami, dia akan mengganggu jika tau dimana kami berada."
"apa dia overprotektiv?" tany Sai. Mereka bertiga mengangguk.
Keesokan harinya Hinata tengah membuat sarapan, ia sama sekali belum menjelaskan perihal kenapa dia bertemu dengan Shion semalam, dia taku Naruto marah. Dan memang seperti itulah yang terjadi saat ini, jika dia bicara tanpa permintaan Naruto, dia akan semakin kesal nanti.
Tapi kalau begini terus kapan Naruto akan bicara padanya, "aku membuat sarapan, ayo kita makan!" ajak Hinata. Naruto mengambil dasinya dari lemari dan memakainya. Hinata hendak membantu tapi Naruto, "diam disitu, aku tidak lapar!" Hinata pun berhenti berjalan ke arah Naruto. Tanpa aba-aba apapun Naruto keluar dari apartement, Hinata melihatnya dari balkon. Sama sekali tidak memandangnya, dan Hinata takut akan dengan pemikirannya selama ini.
"bagaimana kalau dia meninggalkan aku, apa yang harus aku lakukan!"
Beberapa jam kemudian Hinata sampai di kantor, Naruto tidak ada di tempatnya, "boss sedang rapat nona." Ujar Yugito. Apakah rapatnya akan berjalan dengan lancar, apa dia baik-baik saja? Hinata sangat khawatir, jika keadaannya seperti itu, mana mungkin rapatnya berjalan lancar.
Beberapa menit kemudian Iruka muncul, "ada apa dengannya, kenapa dia bukan seperti dirinya, apa ada sesuatu?" Hinata menjelaskan semuanya pada Iruka, dia juga tahu mengenai Shion, jadi apa salahnya jika ia bercerita pada paman Naruto, "dia hanya khawatir padamu, kenapa kau tidak menuruti kata-katanya?"
"seakan-akan kata-katanya adalah perintah bagiku? Tidak! Aku hanya ingin menjelaskan pada Shion kalau Naruto tidak mencintainya, dan dia tidak mengharapkan hal itu. Sebaliknya, dia malah menyuruhku menjauh dari Naruto, aku..."
"jangan pernah sekali-kali kau mendengarkan kata-katanya Hinata, Naruto sudah bahagia bersama mu, dia tidak akan pernah meninggalkanmu, paman yakin itu!"
Keyakinannya saat ini sedang diuji. Bagaimana mungkin Hinata bisa yakin pada Naruto, sampai sekarang sajan dia tidak mau berbicara dengan Hinata. Setelah Iruka pergi beberapa menit kemudian Naruto datang dan mendapati Hinata tengah tertidur di meja kerjanya. Naruto mendekatinya, menatanya dan menghembuskan napas panjang. Hinata terbangun dan melihat Naruto tengah memandanginya, "Naruto!" Hinata berdiri dan Naruto menjauh.
Hinata menghampirinya, "maafkan aku, aku mohon maafkan aku, aku salah, aku... aku tidak melanggar janjiku, maafkan aku. Aku janji tidak akn bertemu dengannya lagi, berikan aku kesempatan kedua Naruto, aku janji, aku mohon maafkan aku!"
"kau janji?" Hinata mengangguk, "baiklah!" lalu Naruto meninggalkan kantor itu. Hanya itu, hanya baiklah, apa itu? Dia menggodaku? "Keterlaluan, aku berbicara panjang lebar dan dia hanya berkata baiklah? Ishhhh.. kalau tahu seperti itu jawabannya, aku tidak mau minta maaf!" Hinata sedikit kesal sekarang, dia pergi dari kantor, tapi sebelum itu ia meninggalkan pesan pada Yugito, "tolong sampaikan padanya!" Yugito mengangguk mantap.
Naruto bertemu Yugito di mejanya, "nona Hinata meninggalkan pesan ini boss!" ia memberikan pesan itu, "aku akan pergi menemui Sakura, jangan cari aku!" Naruto tersenyum sinis. Ia ingin membuat Hinata lelah dengan dirinya dan mencoba membuat Hinata sedikit menurut padanya, tapi kenapa dia selalu tidak bisa, dia yang kalah dalam hal ini. Menyebalkan, kenapa dia begitu jatuh cinta dengan wanita yang susah diatur!
~~~###~~~
"dia membuat ku kesal Sakura, aku memohon padanya berbicara panjang lebar, tapi dia hanya berkata baiklah, coba kau... bayangkan!"
"aku tidak bisa membayangkannya. Apakah kau bisa Ino!" Sakura berteriak pada Ino yang sedang melayani pembeli.
"aku tidak bisa, begitu rancu."
Sakura terkekeh, "tidak lucu!" ujar Hinata.
"dia hanya kahwatir padamu, aku mendukungnya!" ujar Sakura, "aku juga." Sahut Ino yang mulai mendekati mereka berdua sambil membawa minuman. Hinata senang sekarang, karena saat ini kekesalannya sedikit hilang, "cobalah kau rayu dia Hinata, mungkin dia butuh kelembutan!" ujar Sakura seperti berbisik, "apa maksud mu Sakura?" tanya Hinata.
"Ino, jelaskan padanya!"
"haaahh... yang di maksud dengan Sakura adalah, jika kau ingin Naruto tidak hanya berkata baiklah, kau coba saja merayunya, mungkin dengan sedikit jiwa ke feminiman mu!" Hinata menaikan salah satu alisnya, "kau belum mengerti juga. Ya ampun, cobalah membuatnya rileks dan nyaman disamping mu, kau kan tidur serumah dengannya, apa kalian tidak pernah tidur bersama?"
"hanya tidur kan maksud mu? Yah, aku pernah sekali, duakali tidur dengannya, itu juga tanpa sadar aku sudah berada di sampingnya. Kami hanya tidur beriringan, itu kan maksud mu?"
"apa?" teriak mereka berdua, itu membuat Hinata menutup kupingnya.
"ya ampun Hinata, kukira kalian... tidak seperti yang aku pikirkan!" ujar Sakura.
"aku juga!" sahtu Ino.
"apa yang kalian pikirkan, jangan-jangan kalian berpikirian buruk tentang ku, aku tidak pernah melakukan hal itu, tidak pernah!" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.
"kenapa tidak pernah, kukira dengan kalian bersama, kalian bisa... yaaaah, seperti yang aku harapkan dengan Sasuke.. mhhh.. kau tidak, seperti itu?"
"tidak!"
"jangan kaget Sakura, Hinata memang seperti itu, dia gadis yang baik!" Ino mengelus-elus kepala Hinata, 'aku bukan anak kecil Ino, aku sudah dewasa."
"nah itu dia!" ujar Ino dan Sakura, "justru karena kau sudah dewasa, Hinata, hidup ini memang aneh, tapi cobalah untuk merasa bebas, bebas melakukan apapun dengan apapun yang kau inginkan, tapi ingat! Jangan melewati batas!"
"apa yang dikatakan Ino benar Hinata, cobalah mengerti, Naruto seorang laki-laki normal, menurut pandangan ku!" Sakura dan Ino terkikik geli. Hinata menghembuskan napas panjang.
Hari sudah menjelang malam, Hinata tiba di apartement sebelum Naruto, dia tidak ragu kalau Naruto pasti pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Apa dia sudah makan malam, spertinya begitu, Hinata mulai membersihkan diri dan membuat makan malam untuk dirinya sendiri, lalu dia mencoba mengganti pakaian, "ya ampun, baju tidur ku belum dicuci semua, aku tidur dengan pakaian ini, haaahh, pasti tidak nyaman!"
Hinata membuka lemari dimana pakaiannya dan Naruto terpisah satu sama lain, ia menemukan sebuah kantong belanjaan, "ini..." isinya adalah gaun tidur. Gaun yang Naruto belikan tanpa sepengetahuan Hinata, "kapan aku membeli ini, rasanya tidak pernah. Apa jangan-jangan...ini pasti dia membelikannya, mana mungkin aku memakainya, seksi sekali..."
"cobalah kau rayu dia Hinata, mungkin dia butuh kelembutan!" Hinata ingat kata-kata yang keluar dari mulut Sakura, "merayunya dia bilang, tidak mungkin!"
Hinata melupakan kata-kata itu, dia terpaksa memakaingaun itu, "ya tuhan, lihat dirimu Hinata!" ia berbicara sendiri di depan cermin, "kau makhluk tuhan paling... aneh. Kau kah itu Hinata, aku tidak percaya ini, apa yang Naruto suka dariku, apa ini, apa karena tubuhku?" Hinata tiba-tiba meragukan cinta Naruto. akhir-akhir ini dia sering kesal, sejak kehadiean wanita itu, apa Naruto membohonginya? Apa sebenarnya ia Naruto ingin kembali pada wanita itu?
Ooo ya tuhan... Hinata butuh merefresh otaknya, dia butuh liburan. Tapi kenap tiba-tiba dia ingin liburan. Aahh, dia teringat saat dia dan yang lain berlibur bersama, tapi dia juga ingin mengajak adiknya Hanabi, akhir-akhir ini Hanabi seperti seorang selebriti, "kenapa dia selalu sibuk, adik kecilku yang manis, tapi sekarang dia sudah remaja, aku tidak menyangka dia tumbuh sangat cantik."
Ini sudah jam 11 malam, tapi Naruto belum juga pulang. "apa dia lembur, untuk seorang direktur, apa perlu dia lembur?" gumam Hinata. Hinata bosan di tempat tidur, dia berjalan melewati jendela, dan berdiri sambil menyangga dengan kedua tangannya di tiang balkon. Balkon itu berukuran kecil, dia ingin melihat balkon yang luas seperti di rumah-rumah para bangsawan inggris. Hinata tersenyum ketika dia mengingat sebuah drama di teater anak sekolah, saat dirinya remaja ia dan teman-temannya pergi ke luar negeri untuk acara akhir tahun, saat itu dia melihat teater.
Hinata tak tahu kalau Naruto baru saja memasuki apartement, ia masih mengingat momen-momen itu. Disisi lain Naruto telah menutup pintu dan dia tidak melihat Hinata dimana pun, jantungnya berpacu, "dimana Hinata?" Naruto panik, tapi sebuah tirai jendela bergerak karena tertiup angin. Naruto mendekatinya, dan melihat Hinata dengan balutan gaun yang yang indah dan terkesan seksi. Naruto tidak menyangka kalau Hinata akan memakai gaun itu, Naruto menyeringai, ia mendekati Hinata tanpa suara.
Hinata sedikit terkejut karena seseorang memeluknya dari belakang, tapi keterkejutannya sirna kala ia tahu bahwa itu adalah Naruto. mereka masih terdiam, Naruto mengelilingi tubuh Hinata dengan lengannya, dan mempererat pelukannya, Hinata memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar-debar, apa dia jatuh cinta lagi pada Naruto lagi sekarang.
Naruto mencium bahu Hinata yang hanya sedikit tertutup, Hinata merasakan kehangatan, mereka masih diam dan tak ada yang memulai pembicaraan. Naruto masih ingin terdiam, dan dia hanya ingin menyentuh Hinata sekarang, hanya itu yang ada dalam pikirannya saat ini. Naruto kembali beraksi, kini dia menyibakan rambut Hinata agar dia bisa mencium leher jenjang Hinata, aroma Hinata bagaikan surga dunia, Hinata lah dunianya sekarang.
Hinata sedikit merinding, ia menggenggam erat tangan Naruto yang menyentuh perutnya, Naruto sadar bahwa Hinata meresponnya, tapi ia tidak ingin terlalu jauh melangkah. Naruto berbisik di telinga Hinata, "kenapa kau tidak menuruti permintaan ku, mengapa kau mengingkari janji, mengapa?" Hinata tersentak dengan kata-kata yang tiba-tiba itu, ia berbalik menghadap Naruto.
"maafkan aku, aku mohon pada mu, maafkan aku!" Hinata menyentuh pipi Naruto dengan kedua tangannya, "aku berjanji tidak akan pernah menemuinya lagi, aku berjanji!"
Hinata sudah berjanji berkali-kali, dan kali ini Naruto memegang erat janjinya, "kenapa kau belum tidur?"
Kenapa tiba-tiba Naruto mengganti pertanyaan. Tapi ya sudahlah Hinata senang kalau Naruto cepat melupakan masalah ini, "aku menunggu mu, aku kira kau tidak akan pulang!" Naruto masih membungkus Hinata dalam pelukannya, ia semakin membuat Hinata medekat ke arahnya, "kau berani sekali memakai gaun tidur ini, apa kau mencoba menggodaku, atau merayuku?" kedua kata itu hampir mempnyai makna yang sama.
"tidak ada baju tidur, jadi aku memakainya, ini terpaksa, bukan karena aku..."
"benarkah?" Naruto hendak menyentuh bibir Hinata dengan bibirnya, tapi Hinata mendorong Naruto menjauh, dia terbebas dan kini masuk kembali ke kamar. Naruto mengikutinya, ia menangkap tangan Hinata dan menariknya kembali ke dalam pelukan, "kau tidak bisa lari sekarang, kau yang memancingku dan kau harus menangkap buruan mu itu, atau kalau tidak buruan mu itu yang akan menangkapmu!"
Ooh tidak, ini tidak seharusnya terjadi, Hinata tidak seharusnya merayu Naruto. tapi sungguh, dia hanya terpaksa memakai gaun ini, dan sekarang Hinata tahu apa efek yang ditimbulkannya. Hinata menelusuri dada Naruto dengan jari-jarinya yang begitu lembut, sebenarnya mencoba untuk mencari celah agar dia bisa kabur, tapi mungkin dia tidak menyadari seberapa besar pengaruhnya terhadap Naruto.
"kau menggoda dan merayuku, sekarang kau menyentuhku. Itu kesempatan emas untukku, aku tidak akan menyia-nyiakannya!"
"ini bukan seperti apa yang kau maksud, aku... aku." Hinata terdiam kala Naruto menyentuh rahanganya dengan satu tangannya, dan tangannya yang lain memeluk tubuhnya erat, Hinata tak bisa menghindar. Jika ini membuat Naruto mampu melupakan semua itu, dia tidak akan lari lagi, kini Hinata menerimanya dengan bahagia, bahagia karena Naruto juga membuatnya takluk dalam pesonanya, mencintai, menyayangi, dan ingin memiliki, itulah kata-kata yang selalu Hinata ingat saat Naruto mengatakannya.
Hinata mengalungkan lengannya di leher Naruto dan itu membuat Naruto tersenyum saat dirinya masih mencium Hinata. Tak ada satu pun di dunia ini yang bisa memisahkan aku dengan Naruto, walau harus bertaruh naywa, aku akan tetap memilikinya, dan dia akan selamanya menjadi satu-satunya orang yang akan selalu bersemayam di dalam hatiku, aku mencintai mu Uzumaki Naruto.
Naruto melepaskan ciumannya, "aku mencintai mu Hinata." Ujar Naruto.
~~~###~~~
Sejak beberapa bulan yang lalu kini Hinata tidak mendengar nama Shion lagi, nama itu sudah hilang saat dia meninggalkan bar itu. Apa yang terjadi pada Sahion? Heran... kenapa Hinata mengkhawatirkannya sekarang? Entahlah, hanya pikirannya saja yang tahu kena ia terlihat khawatir, "ada apa?" Naruto datang dengan membawa minuman, "aku sedang memikirkan seseorang." Ujar Hinata.
"siapa?" ujar Naruto dengan nada kesalnya.
"kalau aku memberitahu mu kau pasti marah!"
"siapa Hinata?"
"Shion."
"kenapa kau memikirkannya, dia tidak berguna!"
"ya tuhan, jangan bicara seperti itu, dia seorang perempuan Naruto, bagaimana kalau dia mendengarnya, aku yang mendengarnya pun merasa sakit sekarang. Kau keterlaluan!"
"aku hanya ingin kau tidak memikirkannya lagi Hinata, sudahlah, jangan bicarakan dia lagi, kita disini menunggu adikmu, apa yang akan terjadi jika dia melihat kita bertengkar, dia pasti terganggu!"
Benar. Apa yang dikatakan Naruto ada benarnya juga, "kakak!" Hinata dan Naruto menoleh ke sumber suara itu. Hanabi terlihat manis dan cantik, dia sudah tumbuh lebih besar sekarang. Hinata menghembuskan napas bahagia saat dia memluk Hanabi, "kau sangat cantik, kakak sangat takjub melihat mu, bagaimana sekolah mu?"
"jangan menanyakan sekolah, dia sekarang sedang berlibur, lupakan tentan sekolah!"
Hanabi terkikik geli, "kak Naruto benar, aku sangat setuju!" Hanabi melepaskan pelukannya dari Hinata dan berjalan ke arah Naruto dan memeluknya, "kau sudah lebih besar sekarang, aku tidak mau menggendong mu lagi!" Hanabi cemberut, "baiklah baiklah, sebagai gantinya..."
Naruto mengangkat tubuh Hanabi ke atas dan memutarnya, Hanabi berteriak kegirangan, pemandangan yang indah, batin Hinata. Bagaimana jika dia melakukan seperti itu pada anaknya? Tunggu! Anak siap Hinata? Tentu saja anak Naruto dan...
"kakak, kenapa kau melamun, ayo kita berlibur kak, aku ingin berlibur!"
"kau mau berlibur kemana Hanabi, katakan saja, kakak yakin teman-teman SMP mu itu sedikit sombong!"
"kak Naruto memang benar, mereka selalu saja membuat yang lain jadi pada iri,berlibur ke sana lah, kesini lah, keluar negeri lah, pokonya semuanya."
"kau ingin berlibur ke luar negeri, kemana yang kau mau, kita bisa pergi kesana!"
Hanabai tersenyum senang, "tidak boleh, jangan kau manjakan Hanabi Naruto, aku tidak memperbolehkannya berlibur terlalu jauh, jangan harap kau bisa ke luar negeri, kau masih kecili dan aku takut kalau..."
"aku tahu, aku tahu... kakak takut aku tidak bisa melupakannya kan, dan dan saat nanti bercerita dengan teman-teman nanti, aku berkepala besar, aku tahu, jadi... kak Naruto, aku ingin berlibur ke pantai atau ke gunung saja kalau begitu."
"baiklah, kemana kau mau, kakak siap mengantar mu nona kecil!'
"asyik." Ujar Hanabi senang.
Liburan musim dingin memang sangat menyenagkan. Saat Hinata meninggalkan Hanabi kecil di asrama ia sangat khawatir, tapi ketika dia sudah lebih besar dia percaya bahwa Hanabi baik-baik saja, itu semua berkat Naruto. berapa tahun kah sejak kejadian itu, saat dia pertama kali bertemu Naruto, "biarkan aku mencintaimu!" kata-kata itu selalu menggema di pikirannya saat itu, saat dimana Naruto belum sepenuhnya mengenal Hinata, tapi dia sudah mengatakan cinta, sangat aneh menurut Hinata.
Naruto kini semakin rajin kerja, dia tidak pernah membolos karena Hinata juga ada disana. Pamannya bilang Naruto sangat kacau sebelum ia datang dalam kehidupan Naruto, sering mabuk, malas bekerja dan sebagainya. Tapi satu yang tak pernah ia lakukan, sejak insiden lima tahun yang lalu saat Sahion masih dalam kehidupannya. Naruto tidak pernah membawa seorang wanita atau pun berhubungan secara khusus dengan wanita setelah insiden itu. Hinata bersyukur karena dia satu-satunya wanita yang mampu membuat Naruto berubah, dia bahagia sekarang.
Hinata mendapatkan pesan dari seseorang, "jangan terlalu senang dengan kehidupan mu saat ini wanita penggoda, aku akan datang lagi dan merusak hidup mu, menghancurkannya, membuatnya menjadi abu yang fana. Camkan itu!"
Sebuah pesan, dan ini adalah pesan yang meneror Hinata, siapa orang ini? Apakah Hinata harus memberitahu Naruo atau... tidak, dia terlihat bahagia, "aku akan menyimpan pesan ini!" batin Hinata. Tidak ada yang tahu pesan itu dari siap, bahkan Hinata pun bertanya-tanya, dia bingung dan takut... orang yang ia cintai, apakah akan terluka karenanya, atau kah aku yang akan terluka? Dan jika itu pilihan, maka Hinata memilih dirinya sendiri untuk ia lukai.
^^Bersambung...^^
