The Mystery of Life
By : Mizu Kanata
Disclaimer : Mashashi Kisimoto
A/N : Arigatou semuanya, seneng banget berkat kalian fic. ini dapat selesai... dan nggak nyangka juga bakalan sepanjang ini , 2.208 word (9 halaman). Just hope you like this story!
Chapter 12
Tenten berjalan mondar-mandir dengan gelisah di rumahnya. Tangan gadis itu memegang ponsel, berharap ada suatu jawaban dari seseorang di luar sana.
"Ayolah, Neji…" bisiknya putus asa.
Tenten menghempaskan tubuhnya ke kursi dan lagi-lagi melihat ponselnya. Tidak, Neji tidak menelepon balik, padahal ia sudah menelepon berkali-kali dan tak ada jawaban.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, ia tahu ada sesuatu yang akan dilakukan keluarga Hyuuga malam ini, tapi… apakah tak ada waktu sedikitpun untuk menjawab telepon darinya? Perasaan dingin tiba-tiba menyergap Tenten, yang membuat air matanya kembali terjatuh. Apakah, ia sendirian sekarang? Tanpa seorangpun? Tak cukupkah dengan hanya mengetahui bahwa ibunya telah meninggal?
Tenten benar-benar benci merasa kesepian, ia membenci kesunyian ini… yang begitu menyesakkan, dan menyakitkan. Tanpa siapapun, ia merasa begitu kecil, bahkan lebih kecil dari debu, yang begitu tak berarti dan akan tersisih begitu saja. Dan hal terburuk dari merasa kesepian adalah… kau tak kan berani menghadapi dunia ini –dengan segala takdir dan misteri yang tak bisa kau tebak.
Tapi, selain itu, ada perasaan lain di hati Tenten. Selain rasa kesepian itu, ia mengkhawatirkan sesuatu. Gadis itu berjalan ke arah jendela, ia mendesah karena tak menyadari hujan salju yang turun, mungkin ia terlalu terlarut dalam kesedihan ini. Dan, entahlah, tapi Tenten tiba-tiba mengkhawatirkan seseorang…
"Neji…" gumamnya sambil menyentuh embun di jendela.
Rasa dingin dari kaca langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, dan Tenten tahu akan terjadi hal sangat buruk, mungkin akan menimpanya lagi… tapi, apa hubungannya dengan Neji?
…
Keesokan harinya…
Sore itu, Tenten sedang menaiki bus, jalan begitu sepi seperti biasanya… untung saja bus masih beroperasi setelah badai salju beberapa hari yang lalu. Hanya ada beberapa orang penumpang di dalam bus ini, dan Tenten memilih duduk di bangku kosong sambil melihat jalanan bersalju dari jendela. Meskipun arah wajahnya menunjukkan ia menatap keluar, tapi pikirannya sedang melayang jauh, jauh ke hal buruk yang mungkin akan terjadi.
"Nona, anda akan turun disini kan?" tanya seorang kondektur bus, berhasil membuyarkan lamunannya.
"O-oh, ya, maaf…" Tenten berdiri dengan kikuk dan berjalan ke luar, gadis itu mengernyit saat menyadari seluruh penumpang telah turun.
Berjalan dan berjalan… perasaan tak enak tidak kunjung hilang dari pikirannya. Ayolah, ia hanya ingin segera bertemu Neji, dan menceritakan semuanya. Tenten meremas surat dari dalam saku jaketnya, dan mungkin ia akan kuat jika membaca surat ini dengan Neji.
Entah mengapa perjalanan jadi terasa lama sekali… dan akhirnya gadis itu berlari. Ia tak peduli jika orang-orang menganggapnya gila, seorang gadis berlarian di tengah jalanan bersalju! Tapi, Tenten hanya ingin menghilangkan perasaan tak enak ini, ia tahu dengan Neji semuanya akan terasa lebih baik…
"Neji! Dia ada di rumah kan? Aku ingin bertemu dengannya!" kata Tenten pada penjaga gerbang keluarga Hyuuga. Penjaga itu telah tahu siapa dirinya, dan Tenten yakin ia tak akan ditolak lagi sekarang.
"Maaf, nona, tapi Neji-sama sedang pergi."
"Ke mana?" tanyanya capat.
"Saya kurang tahu," jawab penjaga itu.
Perasaan Tenten tiba-tiba semakin tidak enak. Ia harus, harus bertemu Neji sekarang juga!
"Kau tak bohong padaku kan?" tanya Tenten curiga.
Penjaga itu hanya menggeleng.
Ini… ini semakin… membuat perasaanya kacau.
"Tapi aku ingin bertemu dengannya!"
"Neji-sama benar-benar sedang pergi sekarang, mungkin kau bisa kembali besok," kata penjaga itu dengan tenang.
Dengan perasaan masih mengganjal di hatinya, Tenten akhirnya menyerah, sangat tak mungkin jika ia tetap memaksa masuk.
…
Esoknya, Tenten datang pada jam 9 pagi, ia tak ingin alasan yang sama terulang jika ia datang sore hari.
"Sekarang, Neji ada kan?" tanya Tenten.
"Neji-sama masih belum pulang."
"Belum pulang? Sebanarnya Neji pergi kemana?"
"Saya kurang tahu," penjaga itu menjawab sama persis seperti yang kemarin ia katakan.
"Tak bisakah kau bertanya pada keluarga Hyuuga yang lain? Hinata misalnya?" tanya Tenten.
"Semua orang di rumah ini sedang tak ada, maaf…"
Kemana… semua orang pergi? Kenapa semua orang meninggalkannya?
Tapi… tidak, Tenten masih belum menyerah. Keesokan harinya ia kembali datang, perasaan tidak enaknya selama ini terbukti karena Neji masih belum pulang. Tidak biasanya keluarga Hyuuga bepergian lama seperti ini.
Dengan perasaan yang semakin hari terus mengganjal di hatinya, Tenten berjalan ke arah taman, ia tak tahu lagi siapa yang bisa jadi tempatnya bercerita. Surat itu… juga masih belum dibacanya. Tanpa Neji… ia, benar-benar kehilangan arah sekarang.
"Tenten-san!" seseorang yang memanggilnya membuat Tenten berbalik.
"Lho? Hinata? Bukankah kau sedang pergi?" tanya Tenten heran.
"Itu… a-ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Hinata gugup.
"Tenanglah…" kata Tenten tersenyum, "Bicara dengan santai Hinata."
"Ne-Ne-Ne-Neji nii-san, sebenarnya…"
Jantung Tenten mulai berdegup cepat, sesuatu yang buruk, ia yakin akan terjadi sekarang.
"A-aku tak percaya ini, Neji nii-san menyetujui pertunangan bisnis ayahku," Hinata menatapnya dengan takut, tapi terlihat jelas jika ia sudah memendam rahasia ini cukup lama.
"Ke-kenapa kau menyetujuinya?" tanya Hinata shock.
"Ayahmu sudah terlalu baik untuk merawatku disini."
"Tapi, bagaimana dengan Tenten-san?"
….
"Tu-tunangan?" tanya Tenten, bibirnya terasa kelu sekarang. "Tapi, Neji masih SMA."
"Pertunangan itu akan dilakukan setelah Neji nii-san lulus, tapi ayah sudah memulai jamuan makan malam 2 hari yang lalu, dan aku tak tahan melihat semua berlangsung begitu saja."
Tenten terdiam, ia tak tahu harus berkata apa lagi sekarang.
"Dengan alasan, ia ingin membalas kebaikan ayahku. Tapi, saat kutanya tentang hubungan kalian, Neji nii-san hanya terdiam."
Ya, inilah sesuatu yang buruk itu, sangat buruk. Perkataan Hinata yang bagaikan pisau itu menusuknya dan membuat perasaan Tenten pecah berkeping-keping.
"Tenten-san" Hinata memegang tangannya, mungkin khawatir karena Tenten yang tak berkutik setelah mendengar semuanya.
"A-aku tahu, meskipun kata itu tak pernah terucap, kalian saling mencintai. Aku bisa melihat itu, cinta yang tulus diantara kalian berdua."
A-apakah selama ini ia mencintai Neji? Pipinya yang panas dan jantungnya yang selama ini berdegup kencang saat di dekat Neji, apakah Tenten mencintai pemuda itu?
"Aku tahu itu, aku mengerti…" kata Hinata lagi.
Ya, benar, ia… mencintai Neji. Air mata Tenten tentu sudah akan tumpah jika tak ada Hinata disini, tapi ia harus tetap kuat sekarang.
"Sebenarnya, aku tak boleh mengatakan hal tadi padamu, tapi aku tak tahan lagi."
"Apa Tenten-san sudah tahu tentang pertunanga nii-san?" tanya Hinata, menatap serius pada Neji.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari adik sepupunya. "Tidak, aku… terlalu pengecut untuk mengatakan itu padanya."
…
"Aku takut, semuanya akan jadi berantakan. Aku, memang pengecut…" kata Neji, nada frustasi terdengar jelas di kepalanya.
"Neji nii-san…"
"Aku akan terus berusaha untuk menjauhinya perlahan, sampai ia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sendirinya. Tolong, jangan katakana ini pada Tenten ya?"
"Y-ya."
"Masih ada kesempatan," kata Hinata. "Utarakan perasaanmu sekarang, Neji nii-san ada di rumah, ia selalu ada di sana, memperhatikanmu dengan sedih setiap kau datang."
"Jadi, tentang kalian yang pergi, semua itu hanya bohong?" tanya Tenten. Mendengar semuanya membuat hati Tenten teriris.
"Ya, tapi, masih ada kesempatan," kata Hinata dengan senyumnya. "Aku akan mengantarmu menemui Neji nii-san."
"Tidak Hinata, itu…." Tenten hampir tercekat saat mengatakannya, ini sangat menyakitkan… "Itu, itu keputusan Neji, aku… aku tak berhak ikut campur."
Hinata terlihat terkejut, "T-tapi…"
"Aku baru menyadarinya… aku memang mencintai Neji, dan apapun yang terjadi, perasaan ini tak kan hilang begitu saja. Aku akan terus mencintainya dan melihatnya dari jauh," kata Tenten, ia berjuang keras untuk mengatakan hal itu dengan cepat, ia tak bisa menahan air matanya lagi.
"T-Tenten –"
"Maaf, aku harus pergi," kata Tenten sambil berlari, berlari secepat yang ia bisa. Perasaannya sudah sangat hancur sekarang. Jadi tindakan aneh Neji selama ini…
Saat di atap sekolah…
"Ten, sebenarnya aku…"
"Ada apa Neji? Disini cukup dingin."
"Ah, tidak, ayo kembali."
Saat di ruang Kepala Sekolah…
"Kau bicara apa sih? Asal kau tahu aku beruntung 'menemukanmu' saat itu," kata Neji.
Saat Neji mengantarnya pulang…
"Seharusnya aku yang bertanya, apa kau keberatan jika kuantar pulang?" tanya Neji. Mata lavendernya menatap iris cokelat Tenten.
Saat Neji menghiburnya di taman…
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Tenten.
"Tidak," jawab Neji, dan memeluk gadis itu dari belakang.
Jantung Tenten berdetak cepat saat Neji memeluknya. "Neji…"
"Aku masih merindukan semuanya. Aku senang masih bisa berdiri di sampingmu," bisik Neji.
Saat ia mengalami 'Perjalanan Waktu' di Green Café.
"Ten! Tenten!"
Sosok buram yang dilihatnya lama-lama semakin menjadi jelas. Iris lavender menatapnya khawatir.
Saat badai salju turun, dan mereka terjebak di Café.
"Kau merasakannya? Rasa dinginnya berkurang," kata Neji, mengeratkan genggamannya pada tangan Tenten.
Dan saat terakhir ia bertemu pemuda itu…
Iris mata Neji terlihat menyimpan kesedihan mendalam, "Maaf…"
"Aku tidak apa-apa kok, kalau begitu, aku pulang dulu."
Baru saja Tenten berjalan beberapa langkah, suara Neji menghentikannya. "Tenten!"
"Ya?"
"Kau tahu aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Aku…"
"Aku juga sangat beruntung bertemu denganmu Neji," kata Tenten. "Kau tak apa-apa kan? Ada yang aneh denganmu…"
Ingatan-ingatan tentang Neji semakin membuat hatinya semakin perih, dan tanpa sadar, derap langkah kakinya membawa Tenten pada pertokoan tua. Tempat yang kembali mengingatkannya akan Neji… disinilah mereka pertama kali bertemu.
Tenten menghampiri salah satu toko yang tutup –toko yang sudah dikenalnya, dan duduk di terasnya. Ya, disinilah mereka bertemu saat itu…
"Omong-omong, siapa namamu?" tanya Tenten.
"Aku Neji Hyuuga. Dan kau anak yang sering bermain di drama itu kan?" tanya Neji.
"Ya, bagaimana kau tahu?"
"Sepupuku sangat menyukai karaktermu. Paman yang menyuruhku untuk menemaninya menonton. Oh ya, siapa namamu?" tanya Neji.
"Tenten. Hanya Tenten," kata gadis itu.
Tapi sekarang, ia tak akan bisa melihat Neji lagi... Neji yang selalu menemaninya, Neji yang selalu baik padanya, Neji yang selalu membantunya, sekarang telah menghilang...
"Neji..." isaknya.
Tenten memeluk tubuhnya sendiri sementara ia menangis, hingga sesuatu yang dingin jatuh di kepalanya, salju... ia menatap butiran putih yang berjatuhan itu di depan matanya. Salju... seperti dirinya, berwarna putih dan dingin, yang begitu menggambarkan kesepian.
Hujan salju bertambah besar, dan Tenten tetap diam di tempatnya. Jika ia harus mati disini, itu tak apa, Tenten tak akan menolaknya sedikitpun, lagipula ia hanya sendirian di dunia ini sekarang, tanpa ibunya, dan tanpa Neji... yang selalu jadi penopangnya.
...
5 jam kemudian...
Semakin lama, salju menutupi sebagian tubuh Tenten, rasa dingin itu tak sebanding dengan sakit yang dirasakannya saat ini. Tangannya telah mati rasa dan bibirnya telah membiru karena udara dingin. Lelah menghadapi semuanya, mata gadis itu menutup dengan perlahan.
"Tenten!" teriak seseorang, berlari menghampirinya dan memeluk tubuh kecil gadis itu.
Tapi... ia sudah tak punya kekuatan untuk melihat siapa orang itu.
"Ini aku, Neji," dan mendengar nama itu, entah mengapa memberinya kekuatan untuk membuka mata.
"Neji..." kata Tenten dengan suara serak.
Mendengar suara lemah Tenten, Neji semakin mengeratkan pelukannya dan berkata di telinga gadis itu, "Maafkan aku..."
"Kau akan tetap meninggalkanku kan?" tanya Tenten dengan senyum mirisnya.
"Tidak, tak akan pernah lagi. Aku meminta maaf karena telah membuatmu seperti ini, Hinata memberitahuku jika ia telah mengatakan semuanya padamu, dan dia bilang kau menangis."
...
"Setelah itu, aku mengatakan yang sebenarnya pada paman. Aku... sangat beruntung karena pertunangan itu akhirnya dibatalkan."
"Batal?" tanya Tenten.
"Ya, aku melakukannya untukmu, hanya untukmu," dan perkataan lembut Neji itu sukses membuat hati Tenten yang sebelumnya beku mencair kembali.
"Neji..." bisiknya dengan air mata mengalir di pundak Neji.
"Aku mencintaimu Tenten!"
Dan akhirnya kata itu meluncur dari mulut seorang Neji Hyuuga, pada Tenten, pada Tenten seorang.
"Aku juga, aku juga mencintaimu... Neji," kata Tenten.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Neji dengan nada khawatir.
"Tidak, aku sudah sembuh. Dan tunggu dulu, aku ingin kau membacakan surat ini untukku, surat dari ibuku..." Tenten merogoh surat tua itu dari dalam jaketnya dan memberikannya pada Neji.
Neji menerima surat itu dan membukanya, "Kau tak kan pernah sendirian, karena aku akan selalu ada di sampingmu."
"Neji, ayolah, aku ingin mendengar isi surat itu," kata Tenten menatap Neji kesal.
"Ini memang isi suratnya Ten. Ya, ibumu selalu ada disampingmu selama ini, ia hanya ingin kau mengetahui itu. Dan dia juga ingin kau tahu jika aku akan selalu ada di sampingmu."
Perkataan Neji segera membuat pipi Tenten yang pucat bersemu merah.
"Ibu..." bisiknya dan menatap langit, "Terimakasih."
Akhirnya gadis itu menyadari sesuatu, misteri tidak selalu ada untuk dipecahkan, ada juga misteri yang akan tetap menjadi misteri selamanya. Meskipun Tenten tak tahu siapa ibunya, ia sangat bahagia hanya dengan menyadari jika selama ini ibunya selalu menemaninya. Dan, yang terpenting untuk sekarang, ia mendapatkan Neji kembali.
Tenten tersenyum menatap Neji yang ada di sebelahnya, "Jadi, aku kekasih seorang Hyuuga Neji sekarang?" tanyanya.
Pertanyaan Tenten dengan sukses membuat Neji salah tingkah, "Ya..." dan Tenten dapat melihat rona merah di pipi pemuda itu.
"Hahaha..." dan iapun tertawa.
"Bercanda di tengah hujan salju, kalian sudah gila?" tanya seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagi mereka.
"Tsunade-sama?"
"Jangan menatap heran begitu padaku, aku baru membeli beberapa botol sake," katanya sambil memperlihatkan kantong belanjaannya.
Tiba-tiba mereka berdua tertawa... ini deja vu!
"Apa yang kalian tertawakan? Ayo pulang, hari hampir malam," kata Tsunade.
"Ya, ayo pulang," Tenten mencoba berdiri, namun kembali terjatuh. Lutunya yang dingin masih lemah...
"Biarkan aku menggendongmu," kata Neji dan berjongkok membelakangi gadis itu untuk menyerahkan punggungnya.
Tenten sadar pipinya sangat merah sekarang, apalagi ia merasakan suatu kepakan di perutnya. Gadis itu akhirnya meraih leher Neji dan pemuda itupun berdiri. Tsunade yang melihat perubahan di kedua remaja tersebut hanya tersenyum dan berjalan lebih dulu.
Dengan orang-orang yang sama dan di tempat yang sama, ini deja vu. Hanya ada sedikit perbedaan, yaitu percikan perasaan di kedua insan ini.
Tenten menyandarkan kepalanya pada leher Neji sementara pemuda itu mengantarnya pulang.
"Takdirku memang selalu diselubungi misteri, tapi aku tahu kau akan selalu ada untukku untuk membagi beban ini. Aku mencintaimu..." bisik Tenten, memejamkan mata dan memeluk leher Neji.
Neji yang mendengarnya hanya tersenyum dan menjawab, "Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu... karena aku juga mencintaimu."
Apakah endingnya lebih bagus sekarang? hehe... tapi sepertinya terlalu fluff deh.
Special thanks for :
Kisasa Kaguya (atas dukungannya dan kesabarannya dalam menunggu fic ini, hehe...)
Dea dan Kakanda (actually, they are my friends in school) yang sudah mengkritik dengan teliti dan mau mengikuti fic ini! Terimakasih juga dukungannya!
Fumiyo Nakayama.71 (atas dukungannya dan kesabarannya menunggu fic ini)
Oh, ya! Dea, Kakanda, ayo berjuang untuk TO hari Senin nanti!
Do'ain ya semuanya... hehe...
Sekali lagi, arigatou semuanya!
Bye! And see you in other story!
-Mizu Kanata-
