I LIVE IN HELL!

Disc: Masashi Kishimoto.

Rat: T.

Warn: OOC, BL, dan Miss Typo.

Don't Like! Don't Read!

Terima kasih untuk review-nya di chapter sebelumnya. Dan terima kasih juga untuk yang fave.

m(_._)m

Selamat membaca…


BEFORE ENDING


Naruto memandang orang di sampingnya dengan perasaan sedikit takut. 'Kau terlalu paranoid Namikaze, tidak mungkin Teme di sampingmu ini melakukan hal yang tidak-tidak,' pikir Naruto sambil menghela napas dan pandangannya memandang pemandangan pegunungan yang ada di sampingnya.

Dia tidak akan melakukan apa-apa pada diriku..

Ya, itu pasti..

Tapi, kenapa aku kesal dia diam saja…

Bersama seseorang yang merupakan 'musuh' selama tiga puluh menit di dalam mobil tanpa berbicara satu kata patah pun sangatlah menderita bagi Naruto. Selain karena sifatnya yang tidak bisa diam, seseorang yang di sampingnya selalu memasang muka datar tanpa ekspresi sedikit pun cukup membuat Naruto muak dengan keadaannya sekarang ini.

Hanya memandang ke depan?

Memandang Ke depan dan fokus pada jalan…

Sasuke?

Sasuke-Teme?

"Teme!" seru Naruto sambil sehingga membuat Sasuke mengerem mobil secara mendadak karena terkejut akibat mendengar seruan Naruto. Sasuke menghela napas dan kembali menjalankan mobilnya, "kau tidak bisa tidak berteriak, Dobe?" tanya Sasuke dengan nada mengejek sekaligus sebal. "… Atau kau cukup bodoh untuk mengetahui jika aku sedang menyetir?"

Naruto mengembungkan pipinya dan memandang Sasuke, "kau sendiri yang salah! Kenapa kau terus menyetir tanpa menghiraukan penumpang di sampingmu yang hampir mati karena bosan? Kau tahu? Aku sudah tidak melihat mobil satupun di depan, belakang, atau samping kita!" kata Naruto dengan penuh putus asa. "Bahkan akupun sudah lelah untuk berteriak agar kau menurunkanku dari mobil," lanjut Naruto dengan nada lemah.

Sasuke baru menyadari jika mereka sudah hampir mendekati tujuan perjalanan. Pemandangan indah dan tanpa polusi sudah ada di sekeliling mereka berdua. Bahkan tampak sangat jarang mobil sekalipun yang berpapasan dengan mereka. Sasuke mulai berpikir jika dia sudah tua nanti dia ingin sekali tinggal disini bersama Naruto. Seperti orang tua saja. Berpikir ingin tenang disaat masa tua sudah tiba.

Sasuke mendengus sambil memutar kedua bola matanya. "Sebentar lagi kita sampai, kau bersabar saja dulu…," kata Sasuke sambil memandang Naruto secara sekilas. 'Aku akan memperlihatkanmu sesuatu…,' pikir Sasuke sambil menurunkan kecepatan mobilnya tanpa disadari mobil.

Mendengar perkataan Sasuke, Naruto hanya melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Aku berharap kau membawaku kemari bukan hanya untuk menghabiskan waktuku saja..," kata Naruto. "… Karena aku benci menghabiskan waktuku, terutama dengan orang sepertimu!" seru Naruto yang membuat Sasuke kembali memutar kedua bola matanya.

'Ini tempatnya…,' pikir Sasuke.

Sasuke menghentikan laju mobilnya dan memandang Naruto dengan pandangan sekaligus senyum a la Uchiha. "Kau puas jika aku katakan kalau kita sudah sampai?" kata Sasuke. Mendengar perkataan Sasuke, Naruto segera melihat keadaan sekelilingnya.

Hijau?

Hijau?

Hijau?

Apa ini?

"Ini adalah hutan?" seru Naruto sambil menunjuk ke arah pepohonan di luar mobil. Mendengar seruan Naruto, Sasuke menutup telinganya dan segera membuka pintu mobilnya ketika Naruto tidak lagi berteriak. "Ayo keluar!" ajak Sasuke pada Naruto.

Naruto pun membuka pintu mobil dan memandang sekeliling saat sudah berada di luar mobil. Suara burung, serangga, dan gesekkan daun-daunan terdengar di telinganya sehingga membuat suasana hatinya menjadi sedikit tenang. "Sudah lama aku ingin menikmati hal ini..," gumam Naruto pada dirinya.

"Kalau begitu ayo kita nikmati semua ini..," kata Sasuke. Mendengar suara Sasuke yang sedikit aneh membuat Naruto memandang Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya. "Menikmati?" tanya Naruto dengan jantung yang sudah mulai berdegup.

Sasuke melangkahkan kakinya secara perlahan dengan senyum a la Uchiha yang masih terpasang di bibirnya, "Buka bajumu!" perintah Sasuke sambil membuka kancing-kancing kemejanya. Melihat Sasuke bersikap seperti ini, Naruto melangkah mundur sambil menggelengkan kepala, "Mau apa, kau?" tanya Naruto dengan perasaan yang sudah tidak karuan.

Sasuke mengangguk pelan, "kita bersenang-senang," kata Sasuke dengan nada menggoda.

Bersenang-senang?

Dengan dirimu?

Jangan mimpi!

Naruto membalikkan badannya dan berlari menjauhi Sasuke. Entah apa yang dia lewati atau kemana dia berlari, Naruto terus berlari dan berlari. "Kau jangan mimpi Uchiha! Aku tidak akan mau bersama dengan orang sepertimu!" seru Naruto sambil berlari.

Sasuke pun berlari mengejar Naruto. Kejar-kejaran ini sangatlah bukan seorang Uchiha, tetapi untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh dirinya apapun akan dilakukan oleh Sasuke. Termasuk mengejar Naruto seperti ini. "Terus berlari sep-"

"Aaaaaaaa…," teriakan Naruto membuat Sasuke segera menembus pepohonan dengan secapat kilat. "Naruto!" seru Sasuke sambil mencari sang pemilik rambut pirang tersebut. Beberapa saat kemudian, akhirnya Sasuke tiba di depan sebuah danau yang air jernihnya berkilau karena terkena cahaya matahari.

"Ini semua karena dirimu!" seru Naruto sambil memandang Sasuke dengan pandangan kesal. Sasuke memandang Naruto dari rambut hingga ujung sepatu. Basah. Seluruh yang ada di badan Naruto telah terkena air danau. Rupanya seorang Dobe yang di depan Sasuke ini berlari sangat kencang akibat sangat ketakutan sehingga tidak mengamati jalan di depannya. Akhirnya, dia menjatuhkan dirinya pada danau yang berada di balik pepohonan tersebut.

Baka Dobe..

Kau memang tidak pernah berhenti berbuat hal lucu..

"Sudah aku bilang, buka bajumu, Dobe!" seru Sasuke sambil memandang Naruto dengan senyum a la Uchiha-nya. Naruto mendelik dan mendengus kesal setelah mendengar perkataan Sasuke, "Bagaimana aku tahu jika kau memerintahku untuk membuka baju hanya karena takut aku kebasahan. Kau memerintahku untuk membuka baju seperti hendak memper-" Naruto menggelengkan kepala dan memalingkan mukanya.

"Memper-?" tanya Sasuke pada Naruto dengan nada bercanda. Mendengar nada Sasuke yang seperti mempermainkannya, Naruto mengembungkan pipinya, "lupakan!" seru Naruto. Setelah itu, Naruto pun membuka bajunya dan memeras bajunya hingga air-air yang membasahi bajunya terjatuh mengenai tanah yang terdapat rerumputan di atasnya.

Sasuke menaruh sepatunya yang baru saja dibukanya di atas tanah dan melipat celana panjangnya hingga bisa menyelupkan kakinya ke dalam air di pinggiran danau tanpa membasahi celananya. "Dobe!" seru Sasuke dan membuat Naruto kembali memandangnya.

"Apa?" teriak Naruto dan wajahnya tiba-tiba menjadi basah. Sasuke ternyata telah menciprati air danau pada tubuh Naruto. "Terima ini!" seru Sasuke. Mendapatkan cipratan air dari orang yang membuatnya sebal, membuat Naruto menjadi tambah emosi dan segera memasuki danau untuk membuat Sasuke basah seperti dirinya.

"Sial kau!" seru Naruto sambil meloncat memasuki danau dan membuat baju Sasuke terkena cipratan air akibat hentakkan kaki Naruto. Melihat Naruto akan menyerang dirinya, Sasuke segera berancang-ancang untuk menerima serangan Naruto, "coba, jika kau bisa!" kata Sasuke sambil menendang air yang ada di bawahnya.

Naruto menutup mukanya dengan punggung tangannya. "Aku pasti bisa!" seru Naruto sambil menendang air danau tersebut, dan pada akhirnya…

Perang air pun dimulai…


Tanpa disadari Naruto dan Sasuke terdapat seseorang telah mengamati mereka berdua. Seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka semenjak mereka pergi dari kediaman Uchiha. Saat sedang mengamati Sasuke dan Naruto dari celah pepohonan, suara ponsel orang tersebut pun berbunyi.

"Hallo?" kata Gaara dengan nada datar sambil berjongkok di antara dua buah pohon. Suara yang dikeluarkan untuk menyambut orang yang telah meneleponnya sedemikian rupa diredam oleh Gaara agar tidak terdengar oleh Naruto maupun Sasuke.

"Kau ada dimana?" tanya Itachi pada Gaara. Mendengar pertanyaan Itachi, Gaara memutar kedua bola matanya sambil menyingkirkan daun-daunan yang mengenai wajahnya. "Aku sedang mengikuti dua orang yang sangat merepotkan, kau bisa menelepon nanti tidak?" tanya Gaara. Sudah tahu aku sedang dalam kondisi mengintai seperti ini kau masih mengganggu.

Terdengar suara anggukkan dari seberang sana, membuat Gaara mendengus dengan kesal, "sedang belajar jadi mata-mata…," komentar Itachi yang dimaksud untuk mencairkan suasana yang tampak sangat dingin ini.

Mata-mata?

Ini semua akibat dirimu!

"Aku tidak butuh komentarmu, lagipula kau sendiri yang meminta aku untuk seperti ini," kata Gaara. 'Aku sudah terlalu keluar karakter, lebih baik aku bersikap dingin kembali,' pikir Gaara.

Itachi memainkan pena yang ada di tangannya. Menunggu semua masalah ini selesai adalah hal yang sangat membosankan. Bukan hanya karena dia harus mengamati dan bekerja sama dengan orang dingin seperti Gaara, tetapi perasaan tegang karena takut adiknya terancam nyawanya semakin merasuki pikirannya. 'Ayolah Itachi, ini semua akan menjadi baik dengan berjalannya waktu,' pikir Itachi yang berusaha menenangkan pikirannya. "Kau amati mereka terus. Aku harap kau tidak berbuat yang tidak-tidak," kata Itachi dan sukses membuat Gaara mengedipkan matanya. 'Berbuat tidak-tidak? Apa maksudnya?' pikir Gaara.


Naruto dan Sasuke membaringkan tubuhnya di pinggiran danau, di atas rerumputan hijau. Akibat perang air tadi, pakaian mereka berdua menjadi basah dan angin yang berhembus membuat mereka menjadi kedinginan. "Ini akibat ulahmu, ponsel ku pun menjadi rusak akibat tercelup air…," kata Naruto sambil merubah posisinya menjadi duduk dan memegang kedua lututnya.

Sasuke pun merubah posisinya menjadi duduk. Dipandangnya makhluk berambut pirang di sisinya yang sedang mengembungkan pipinya. 'Lucu sekali,' pikir Sasuke. "Ulahku? kau sendiri suka 'kan dengan apa yang aku lakukan?" tanya Uchiha sambil mengambil kemeja yang di lemparnya pada rerumputan sebelum dia terjun ke danau.

Pipi Naruto yang mengembung kini bertambah kembung. Membuat Sasuke ingin menyubit pipi merah tersebut. "Aku tidak suka padamu," kata Naruto sambil melempar batu ke danau, sehingga membentuk pantulan-pantulan kecil di atas danau. "Aku suka padamu. Pakai ini!" perintah Sasuke sambil melemparkan kemeja miliknya ke arah wajah Naruto.

Naruto mengambil kemeja yang dilempar Sasuke. Dipandangnya kemeja tersebut. Bau has Uchiha Sasuke pun hinggap di hidungnya. Setelah mencium bau tersebut, Naruto memandang Sasuke, "aku tidak mau memakai punyamu," kata Naruto sambil melempar baju tersebut dan hinggap di tangan Sasuke.

"Kau harus memakainya, dan ini adalah keputusan terakhir! Dan ganti saja ponselmu dengan ponselku. Masukkan kartu mu pada ponselku..," kata Sasuke sambil melemparkan kembali baju tersebut dan ponsel miliknya ke arah Naruto. Setelah itu, Sasuke beranjak pergi meninggalkan Naruto dan berjalan memasuki pepohonan. 'Kenapa dia tetap menyebalkan?' pikir Naruto sambil membuka kemejanya.

Sakura.

Kebebasanku dalam hidup.

Akibat dirinya, aku kehilangan semuanya. Sekarang aku mulai berpikir mungkin saja jika tidak ada dirinya aku akan hidup senang.

Hari sudah semakin Siang, Naruto sudah menunggu Sasuke cukup lama tetapi Sasuke tidak kunjung tiba. "Kemana dia? Aku sudah lapar," pikir Naruto sambil memegang perutnya yang mulai keroncongan. 'Sabar, kau pasti akan mendapatkan makanan,' pikir Naruto yang sudah mulai menghayal makanan kesukaannya, yaitu ramen. "Aku ingin pu-"

"Hapus ludah yang mengenai dagumu," tiba-tiba Sasuke muncul di belakang Naruto dan membuat Naruto sedikit terkejut. Naruto memandang wajah Sasuke lalu memandang tangan Sasuke secara bergantian. "Apa itu?" tanya Naruto sambil menunjuk keranjang yang dibawa oleh Sasuke.

"Keranjang. Untuk sebuah keranjang saja kau tidak mengetahuinya, dasar Dobe!" seru Sasuke dan membuat Naruto memandang Sasuke dengan pandangan tajam. "Aku tahu itu keranjang, tetapi apa isi keranjang tersebut?" tanya Naruto.

Sasuke duduk di samping Naruto. Dibukanya keranjang yang telah dibawanya. Senyum a la Uchiha terus menghiasi bibirnya. "Makanan," jawab Sasuke dengan singkat sambil memperlihatkan roti sandwich yang dibungkus oleh kertas. "Aku tadi mencari makanan, ternyata di daerah seperti ini, mencari makanan sangatlah sulit. Makan ini," kata Sasuke sambil mengulurkan sandwich tersebut.

Naruto mengambil sandwich yang diberikan oleh Sasuke, karena hari sudah menjelang siang perut Naruto sudah keroncongan dan berteriak meminta makan. "Waah enak sekali," kata Naruto yang sedang memakan sandwich tersebut dengan lahapnya.

Sudah setengah melahap makanan di tangannya, Naruto baru tersadar jika dari tadi Sasuke hanya memandang danau dan menikmati angin yang berhembus meniup rambutnya yang berwarna gelap. "Kau tidak makan?" tanya Naruto pada Sasuke. Mendengar suara Naruto, Sasuke memandang Naruto dan tersenyum sinis, "aku tidak mau gendut seperti dirimu!" jawab Sasuke dengan ketus.

"Ge-gendut?" tanya Naruto dengan nada terkejut. Naruto melihat perutnya dan menepuk-nepuk perutnya perlahan. "Aku tidak gendut," kata Naruto sambil memandang wajah Sasuke dengan polosnya. Melihat kebodohan Naruto, Sasuke berusaha untuk tidak tertawa, dan itu ternyata sangatlah sulit, "Dobe bego!" kata Sasuke sambil menepuk-nepuk kepala Naruto dan senyum kecil tersirat di bibirnya.

Mereka saling pandang.

Perlahan-lahan Sasuke mendekati wajahnya, dan Naruto hanya terdiam dengan jantung yang berdebar kencang. 'Ke-kenapa aku tidak bisa melawan? Aku seperti terhipnotis olehnya,' pikir Naruto dan tanpa disadari sandwich yang dipegangnya terjatuh ke tanah.

"Aku tidak makan sandwich karena sandwich tersebut hanya terdapat satu, dan itu untukmu..," kata Sasuke dengan suara berbisik sambil terus mendekati wajah Naruto. Mendengar apa yang Sasuke katakan seharusnya Naruto berteriak, tapi dia hanya bisa menelan ludah menerima elusan Sasuke di belakang kepalanya.

Kenapa?

Kenapa aku tidak bisa memberontak seperti biasanya?

Perlahan-lahan Naruto memejamkan matanya. Bersiap-siap jika sesuatu yang lembut akan menyentuh bibirnya. Nafas Sasuke pun mulai menyentuh wajahnya, membuat Naruto sedikit tergelitik.

Trrrrttt… Trrrtttt…

Ponsel yang berada di samping Naruto berbunyi sekaligus bergetar. Membuat Naruto kembali pada kesadaraannya dan melihat nomer yang telah meneleponnya. 'Kakashi?' kata Naruto dalam hati dan segera mengangkat telepon tersebut.

"Kakashi?" sapa Naruto yang diam-diam memandang Sasuke yang tampaknya sedang memandang dirinya juga.

"Naruto. Apa Sakura menghubungimu?" tanya Kakashi dan membuat Naruto mengerutkan keningnya, "tidak! Memang ada apa Kakashi?" tanya Naruto dengan sedikit berdebar-debar dan memandang Sasuke yang memandangnya datar dengan curiga.

"Ah, entahlah kata orang tuanya sudah beberapa hari ini Sakura tidak pulang ke rumah semenjak pamit untuk bertemu dengan seseorang, dan mereka memintaku untuk menghubungi dirimu..," kata Kakashi. Naruto menghela napas dan menggigit bibir bawahnya, "aku tidak melihatnya..," jawab Naruto dengan lemah.

"Kalau begitu sudahlah, terima kasih Naruto," kata Kakashi yang segera menutup teleponnya. Naruto menghela napas dan memandang Sasuke yang ikut memandang dirinya dengan penuh tanya. "Kau sembunyikan dimana Sakura?" tanya Naruto secara tiba-tiba dengan nada bergetar akibat marah. Sasuke mengerutkan keningnya kembali dan mengangkat bahunya, "aku tidak tahu dimana Sakura, Naruto!" seru Sasuke.

"Kau jangan berbohong!" teriak Naruto. Sasuke memegang pundak Naruto dan segera ditepis oleh Naruto, "jangan sentuh aku!" teriak Naruto dan membuat Sasuke sedikit takut untuk menenangkan Naruto kembali.

Sasuke menghela napas.

'Ini apa baik?'

Sasuke memejamkan matanya dan membuka matanya kembali.

'Apa aku rela memberikan dirimu untuknya…,' pikir Sasuke.

"Jika kau tidak percaya, pakailah mobilku dan carilah dia..," kata Sasuke sambil mengulurkan kunci mobil miliknya dan segera diambil secara kasar oleh Naruto. "Lebih baik seperti ini..," kata Naruto yang segera berlari meninggalkan Sasuke.

Sasuke memandang punggung Naruto yang makin menjauh dan memasuki pepohonan. Setiap langkah yang dipijak Naruto, membuat dirinya merasakan kehilangan yang sangat. 'Aku seperti akan melihat dirimu untuk terakhir kalinya..,' kata Sasuke dan setelah itu pandangannya berubah ke arah pepohonan yang bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang akan muncul dari balik pepohonan tersebut.

"Kau biarkan dia pergi? Seperti bukan dirimu saja…"


Sudah sangat lama Naruto mencari Sakura di kota Konoha setelah melewati waktu perjalanan kembali ke kota tersebut. Seluruh anak-anak yang selalu bermain bersama Sakura sudah Naruto hubungi satu-persatu, contohnya saja Ino, tetapi tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan Sakura.

Dimana Sakura?

Naruto terus menjalankan mobil milik Sasuke. Terkadang, sesekali Naruto menghentikan mobilnya dan menanyakan pada orang di jalanan tentang Sakura, tetapi tetap saja usahanya sia-sia. Hal ini terus berlanjut hingga dia mencapai sebuah persimpangan. Jalan yang cukup sepi karena hari sudah semakin larut. Bahkan lampu lalu lintas pun berkelap-kelip berwarna kuning karena diperkirakan tidak akan terlalu banyak mobil yang melewati jalan ini, sehingga jika lampu lalu lintas tersebut dimatikan tidak akan terlalu bermasalah.

"Dimana dia?" gumam Naruto pada dirinya sendiri sambil melewati jalan persimpangan tersebut ketika beberapa mobil menghadangnya dari jalan berlawanan dan membuat Naruto berhenti di tengah persimpangan.

Naruto cukup terkejut karena dia harus mengerem mobil secara mendadak dan rasa akan munculnya bahaya mulai hinggap dipikirannya. 'Mau apa mereka?' pikir Naruto sambil memindahkan gigi mobil ke netral. Ingin mencari masalah dengan Naruto Namikaze, ahn?

Suara jendela diketuk pun terdengar dari samping Naruto yang sedang melamun memandang mobil-mobil yang menghadangnya. Seseorang dengan berkaca mata dan rambut dikuncir memberi aba-aba melewati tangannya agar Naruto keluar dari mobil kepunyaan Sasuke.

Naruto pun keluar dari mobil. Memandang orang-orang yang telah mengelilinginya begitu dia keluar dari mobil.

"Mau apa kalian?" tanya Naruto dengan nada berhati-hati dan siap-siap bertarung jika orang-orang tersebut menyerangnya. Orang yang tadi mengetuk kaca mobilnya tersenyum tipis sambil membetulkan kaca matanya yang berkilat karena terkena cahaya lampu jalan.

"Mencari kekasihmu kah?" Kabuto seperti mendapatkan hadiah besar ketika memandang Naruto yang membelalakkan mata akibat terkejut. 'Sial, rupanya Sakura sedang dalam bahaya,' pikir Naruto yang berusaha menenangkan pikirannya.


"Naruto?" Sasuke hendak keluar dari mobil ketika melihat orang yang dicintainya sedang dalam bahaya. Ternyata Sasuke terus mengikuti Naruto memakai mobil kepunyaan Gaara semenjak Naruto pergi meninggalkannya di danau tersebut.

Siapa mereka?

Mau apa mereka?

Sasuke akan keluar ketika seseorang memegang pundaknya dan mencegahnya keluar dari mobil. "Tetap dalam persembunyian dan jangan kau berani-berani menggagalkan rencana," kata Gaara dengan wajah dataranya. Sasuke memandang Gaara dengan penuh kehawatiran dan ketakutan akan kehilangan sesuatu yang paling berharga. Emosi seperti ini baru Gaara lihat di wajah seseorang Uchiha yang terkenal dingin.

"Aku tidak peduli dengan rencana kalian, sekarang bagaimana dengan Naruto? Dia sedang dalam bahaya," kata Sasuke dengan suara bergetar. Mendengar suara Sasuke, hati Gaara sedikit iba, tetapi demi kebaikan semua termasuk Sasuke, Gaara tidak boleh luluh dengan perasaannya. "Kau diam saja, inipun demi kebaikan Naruto."

Akhirnya, Sasuke maupun Gaara hanya bisa melihat Naruto yang mengikuti Kabuto dengan memakai mobil Sasuke. "Kemana mereka akan pergi?" gumam Sasuke. "Kau harus menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Sabaku?" Sasuke memandang Gaara dengan tajam dan seakan-akan berbicara 'aku tidak akan segan-segan membunuh semua orang jika terjadi sesuatu dengan Naruto.'

Gaara mulai menjalankan mobil miliknya untuk mengikuti Naruto secara diam-diam, "aku akan menceritakan semuanya dalam perjalanan ini..," kata Gaara yang terus menambah kecepatan mobilnya hingga bisa mengikuti kecepatan kendaraan Naruto dan orang-orang yang mengikuti Naruto.


Naruto mengikuti mengikuti terus mobil di depannya sampai berada di sebuah gerbang yang berwarna hitam dan seperti terdapat rumah tua di balik gerbang tersebut. Diam-diam Naruto sedikit merinding dengan pemandangan di depannya dan rumput yang kering, rumah yang sepertinya tidak terawat, bunyi binatang malam yang terdengar di sepenjuru lingkungan rumah tersebut. Tepatnya...

Seperti rumah hantu.

Itu tepatnya yang ada di pikiran Naruto, jika bukan karena Sakura yang katanya berada di dalam rumah tersebut Naruto pasti tidak akan berani untuk memasuki tempat ini. Mau bagaimanapun Naruto Namikaze ternyata takut terhadap hantu, sehingga terkadang saat malam hari-ketika akan tidur, Naruto selalu tidak bisa tidur karena dibayang-bayangi pikiran-pikiran tentang monster maupun hantu sampai akhirnya dia merasa lelah dan tertidur dengan sendirinya.

Lamunan Naruto terhenti.

Terdengar kembali suara dari arah pintu mobilnya. Naruto melihat Kabuto mengetuk pintu mobilnya dan Naruto pun segera keluar dari mobil. "Dimana kita?" itu kata pertama yang dikeluarkan Naruto ketika keluar dari mobil kepunyaan Sasuke.

Kabuto tersenyum kecil dan memerintahkan Naruto untuk mengikutinya. "Ikut aku dan kau akan terkejut..," kata Kabuto sambil berjalan dan membuka pintu masuk rumah tersebut.

Naruto terus mengikuti Kabuto. "Oh, iya namaku Kabuto…," kata Kabuto dengan tiba-tiba dan Naruto mengangguk perlahan sambil memandang sekeliling. "Ini rumahmu?" tanya Naruto dan membuat Kabuto menghentikan langkahnya.

Naruto berhenti berjalan dan memandang punggung Kabuto. "Ada apa?" tanya Naruto. Mendengar suara Naruto yang sepertinya tidak ada rasa takut, Kabuto tersenyum tipis. "Sakura ada di balik pintu ini, masuklah!" perintah Kabuto dan Naruto mengangguk pelan sambil membuka pintu di depannya.

Naruto memasuki pintu yang telah dibuka dan pintu tersebut terkunci saat Naruto masuk. "Kabuto! Buka pintunya!" Naruto segera menggedor pintu tersebut dari dalam sambil teriak kencang. "Kabuto!"

"Naruto?" seseorang telah menyapanya dan Naruto menghentikan teriakannya sambil membalikkan badannya secara perlahan.

Sesosok Sakura berdiri di depannya dengan wajah kusut dan mata yang sembab. Naruto membelalakkan matanya dan segera berjalan ke arah Sakura lalu memeluk Sakura dengan erat. "Sakura, kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini?" tanya Naruto pada Sakura.

Sakura meneteskan air matanya dan menggenggam baju Naruto, "i-ini salahku, kau cepatlah pergi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu…," kata Sakura dengan suara bergetar.

Naruto melepaskan pelukannya dan memegang pundak Sakura dengan penuh hawatir, "Apa maksudmu?" tanya Naruto dan saat Sakura akan menjawab tiba-tiba seseorang telah membanting badan Naruto hingga Naruto terhempas ke lantai dengan keras.

"Ini maksudnya…," seseorang yang berbicara dengan berdesis, mata seperti ular, wajah pucat, dan tubuh yang kurus memandang Naruto yang sedang membersihkan darah yang mengalir di pinggir bibirnya. "Siapa kau?" tanya Naruto dengan nada tidak takut sedikit pun.

"Orochimaru..," jawab Orochimaru sambil menyentuh pundak Sakura. "Apa kau merasa dihianati, Namikaze?" senyum jahat pun menghiasi wajah Orochimaru.

Naruto memandang Sakura dan Orochimaru secara bergantian, "Sakura, kau…," rasa sakit hati pun menjalar di tubuh Naruto, sehingga luka akibat pukulan Orochimaru pun tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hati yang diperoleh Naruto.

"Naruto dia berbohong! Dia berbohong!" Sakura berteriak sambil menepis tangan Orochimaru. "Kau jangan berbohong, kau telah menculik aku…," Sakura segera berlari ke arah Naruto dan membantu Naruto untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura pada Naruto yang segera berdiri dan menepis tangan Sakura dengan pelan.

"Aku tidak apa-apa, percaya itu..," Naruto tersenyum kecil dan segera mengelus-elus rambut Sakura.

Sasuke?

Setelah mengalami kejadian ini, Naruto berharap ada Sasuke di depannya sehingga dia bisa mengatakan apa yang dirasakannya sekarang. 'Sasuke… maafkan aku telah menuduhmu..,' Naruto memejamkan mata dan mengingat apa yang dia lakukan terhadap Sasuke. "Dia memang tahu bagaimana cara membuatku bingung..," gumam Naruto sambil tersenyum kecil seolah-olah melupakan keadaan sekelilingnya.

Maafkan aku Sasuke…

Semua akan aku selesaikan dan aku akan menebus semua kesalahanku…

"Naruto?" lirih Sakura sambil merangkul tangan Naruto dan Naruto memandang mata hijau Sakura yang sudah sembab dan jika dikedipkan air mata pun akan mengalir. "Maafkan aku."

Naruto menganggukkan kepalanya, "setelah semua ini selesai, buatlah Sasuke bahagia..," Naruto berkata pelan sehingga hanya Sakura dan dirinyalah yang bisa mendengarnya.

Hanya itu yang aku bisa lakukan untuk mereka berdua….

Lebih baik aku pergi meninggalkan mereka berdua…

Sudah aku putuskan…

"Cepat katakan apa yang kau mau, Orochimaru?" Naruto memandang Orochimaru dengan tajam dan penuh emosi.

Orochimaru tersenyum. Mata ularnya memandang Naruto dengan penuh minat. "Aku ingin kematianmu… secara.. perlahan…," desisan Orochimaru saat mengatakan hal tersebut membuat Sakura merinding. Naruto tersenyum seperti tidak ada beban, "aku tidak ingin mati sia-sia… bertarunglah denganku sampai aku mati…," kata Naruto.

'Na-Naruto..,' pikir Sakura yang berusaha menahan ketakutannya. Ini semua salahku.

Tiba-tiba seseorang memegang kedua tangan Naruto dan Sakura. Naruto mencoba melepaskan pegangan tersebut, "lepaskan Sakura! Kau hanya menginginkan aku kan?" teriak Naruto sambil berusaha melepaskan genggaman orang yang telah mengunci gerakan tubuhnya.

Kabuto?

Dia lagi! Sial!

"Bagus Kabuto! Pegang dia, dan lakukan seperti apa yang kita rencanakan..," Orochimaru berbicara sambil berjalan menuju kursi yang terdapat di tengan ruangan tersebut. Orang-orang yang merupakan anak buah Orochimaru satu demi satu memasuki ruangan dan berdiri di depan Naruto lalu memukuli Naruto.

"Naruto?" teriak Sakura dengan tangisan. Mendengar Sakura yang dijaga oleh anak buah Orochimaru berteriak dari arah samping kanannya, membuat Naruto menggerakkan kepalanya dan memandang Sakura dengan senyuman.


Itachi bersama geng-nya memasuki rumah kediaman Orochimaru secara diam-diam meskipun berpapasan dengan anak buah Orochimaru dan harus berkelahi dengan mereka tanpa membuat suara yang gaduh. Sansori membuka ponselnya dan melihat peta rumah kediaman Orochimaru. "Naruto ada di bersama penjahat tersebut, ayo cepat!" kata Sansori dan Itachi mengangguk sambil terus berjalan secara mengendap-endap.

Deidara memandang celana Itachi dan melihat senjata yang tersimpan di celana Itachi, "Itachi kau membawa senjata api, un?" tanya Deidara yang sama sekali tidak dijawab oleh Itachi.


"Ah ini membosankan, habisi saja wanitanya terlebih dahulu," Orochimaru berjalan sambil mengeluarkan senjata api dari balik bajunya. "Aku ingin melihat mereka berdua mati..," kata Orochimaru sambil berjalan mendekati Sakura. "Mati segera mungkin." Senjata api yang dipegang Orochimaru dieluskan pada wajah Sakura.

Naruto memandang Orochimaru dengan wajah yang penuh luka akibat pukulan yang terjadi secara terus-menerus, "jangan kau berani melak-"

"Bang!" kata Orochimaru sambil menggerakkan pelatuk pistolnya sambil tertawa maniak. "Sedikit saja kau salah bicara, kepala wanita yang kau cintai ini akan pecah."

"Lepaskan dia…," kata Naruto dengan nada sangat marah dan tidak peduli dengan apa yang Orochimaru katakan. Orochimaru memberikan aba-aba pada Kabuto untuk melepaskan Naruto. Saat tangan Naruto dilepas oleh Kabuto, Orochimaru memandang seluruh anak buahnya, "ada yang berani melawan dia?" tanya Orochimaru pada anak buahnya sambil menunjuk Naruto.

Sakura pun membelalakkan mata, sedangkan Naruto hanya memejamkan matanya dan pikiran Sasuke kembali terbesit...

'Seandainya kau ada disini Sasuke...,' pikir Naruto yang di dalam hatinya mengharapkan Sasuke berada di sampingnya saat keadaan dia seperti ini. Entah kenapa aku sangat mengharapkan orang brengsek tersebut di sampingku pada saat seperti ini.

Apa ini adil bagi dirinya?

Aku merasakan jika ada dirimu, perasaanku akan lebih ringan, karena banyak sekali yang ingin aku katakan padamu.

Bersambung...


Ah.. terima kasih sudah membaca maaf jika ada kesalahan… m(_._)m ah pasti pada bingung, ini NaruSaku atau SasuNaru sih… hahaha.. seperti yang sudah disepakati.. Ini SasuNaru.. jadi tenang saja.. bagi pecinta SasuNaru.. adegan di atas hanya tuntutan cerita hehehe..

Di atas dipotong bukan disengaja, tetapi memang sedang dipikirkan cerita selanjutnya mau bagaimana... jangan salah sangka ya reader hehehe...

regard,

Pete.