Chapter 12 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Mystery/Adventure

Power of White © Yoshino Tada


Warning: Canon, Pairing NaruSaku, Typo, dan alur kecepatan.

Rate: T sampai M.


Power of White ..

Chapter 12

Pahlawan

Sekarang Konohagakure sudah menjadi lautan kecil. Derasnya ombak terus bergelombang di permukaan air, semua itu diakibatkan oleh pertarungan dua manusia yang mempunyai kekuatan di atas rata-rata, keduanya telah berdiri berhadapan sambil menangkis tinju mereka dengan tangan mereka masing-masing. Tidak mau kalah, karena pertarungan ini mempertaruhkan segala emosi dan harga diri yang tinggi. Dan tentu saja menentukan masa depan dunia. Pemuda berambut putih dan pria berambut jingga itu saling menatap tajam.

"Perdamaian kah? semua tindakanmu itu tidak akan pernah mencapai kata 'damai', karena semua yang kau impikan itu terlalu mustahil untuk diwujudkan."

"Mustahil ?Hmm. jangan membuatku tertawa, dengan mata Rinnengan ini tidak ada yang tidak mungkin untukku."

"Jika benar seperti itu, aku tidak yakin bahwa kau bisa mengalahkanku, kekuatan saja tidak cukup Yahiko, yang kau perlukan hanyalah-" perkataan White terputus. Ketika Yahiko mengeluarkan batang hitam dari lengan kirinya. Batang itu berputar-putar di sekeliling tangannya sampai ia berniat untuk menusukkan batang itu ke tubuh White, White bergerak cepat. Ia mundur ke belakang beberapa jangkah, tapi Yahiko melempar batang hitam itu menggunakan kekuatan yang cukup besar sehingga batang hitam itu melesat kencang dibarengi oleh permukaan air yang membelah menjadi dua.

"Kekuatan yang hebat. Mata Rinnengan kah?"

White berinisiatif lain. Ia mengeluarkan kunai dari kantung ninja milik Naruto, dua kunai telah ia pegang dan ia aliri dua kunai tersebut dengan chakra yang berada dalam tubuhnya, satu kunai dilempar.

Ssshh!

Trrrrgg!

"Sudah kuduga batang hitam itu sangat kuat." Batang hitam memenangkan hantaman itu, namun White melemparkan satu kunai lagi dan kali ini batang hitam itu berhenti meluncur dan tenggelam ke dalam permukaan air.

White kembali focus ke depan, dimana Yahiko berdiri di posisi itu, tapi ketika ia melihat di tempat itu, Yahiko sudah tidak berada di sana. "Kemana dia?"

White mulai terdesak, bola matanya berputar-putar mencari sosok Yahiko yang menghilang seketika. Mata merah sharingan itu, tak henti-hentinya memfokuskan pandangan ke segala sudut yang dinilai sulit untuk dijangkau, depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri. White terus melihat sekelilingnya tapi ia masih tidak menemukan siapapun. Dan ia pun akhirnya menyadari sesuatu, "Di bawah!"

Bayangan hitam mulai terlihat dari angkasa, di bawah permukaan air itu berenang-renang sesosok hewan kuchiyose yang telah dipanggil oleh Pain, bulatan hitam berbentuk seekor ikan mulai naik ke atas permukaan, mendekat dan semakin mendekat.

Seekor Paus bermata Rinnengan raksasa menganga lebar berusaha mengincar White yang berdiri di permukaan air, menyadari itu. White meloncat ke atas menghindari ancaman paus buas tersebut. Pemuda berambut putih memiliki garis tipis di wajahnya itu, melompat setinggi-tingginya, namun Paus bertaring terus berusaha menggapainya, semakin tinggi dan semakin dekat. "Sial!" grutu White.

White tertelan oleh paus bertaring itu dan masuk ke dalam lambung raksasanya.

Byuurrrrrrr

Paus itu kembali berenang di dasar laut kecil, dan di dalam lambungnya, hanya kegelapan yang bisa dilihat oleh mata White, di mana-mana hanya ada kegelapan. Secercah cahaya pun tidak ada di sana. Sampai sebuah pukulan melesat kearah wajahnya.

Dash!

Dash!

Dash!

Bertubi-tubi pukulan itu terus mengenai wajah White atau wajah Naruto. "Pandangan yang sempit membuatku susah untuk bergerak," pikirnya dalam kegelapan yang sunyi. Air-air mengalir secara terus menerus, berputar masuk dari mulut dan keluar begitu saja. White tidak tau harus berbuat apa, karena sekarang ini kondisinya kurang baik, bahkan di dalam lambung paus itu, tidak ada oksigen sedikit pun.

"Dasar manusia, dia bisa menggunakan Rinnengan dengan baik" White menyeringai. Ia masih menahan nafas, kurang lebih 3 menit dia berada di dalam perut paus. dan disaat ia tersenyum dalam kegelapan itu, tiba-tiba saja darah mengucur dari perutnya, sebuah batang hitam menusuk tepat ke target sasaran.

"Siapapun kau? Aku akan segera mengakhiri ini."

"Oughh?" darah keluar dari mulut White. Darah itu bercampur dengan air yang menggenang di dalam lambung paus, warna merah semu perlahan-lahan mengalahkan warna biru air dan sepertinya White tidak bisa bertahan dari serangan itu.

Tempat Kurama.

"Oi White? Sudah kubilangkan, kalahkan Pain, kau mendengarku tidak?" seru Naruto dari tempat misterius dengan kesunyian yang tak terbatas. Tetesan-tetesan air terus terdengar di tempat itu.

White tidak membalas.

"Sepertinya kau lemah. Apa mungkin cuma perkataanmu saja yang kau besar-besarkan?" tambah Naruto sambil memandang ke atas.

White masih terdiam.

"Jawab aku, White!" teriak Naruto dari alam bawah sadarnya. Kurama hanya bisa memandang ke atas dan tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh White, dirinya merasa tak percaya bahwa White selemah ini. bukan, -tidak, tidak mungkin dia lemah. Dia itu.. 'menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya,' pungkas Kurama dari dalam penjara segel Yondaime.

Di dalam rasa sakit itu, White tersenyum menyeringai, menganggap semua ini hanyalah sebuah ilusi. Dan setelah berpikir sekian lama, akhirnya dia membangkitkan kekuatannya sendiri. gelombang air di lambung paus tiba-tiba saja membentuk sebuah pusaran angin tornado, sebuah bulatan kecil di telapak tangannya lah yang menyebabkan itu, kedua matanya berubah menjadi Mangekyou Sharingan. Mata sharingan berpola shuriken dan empat titik di masing-masing sudut berbentuk bulatan kecil membuat kekuatannya bertambah secara pesat. Aura di sekitarnya mulai berubah, air yang sebelumnya dingin menjadi hangat seketika. Pain yang berklamufase dengan air di lambung paus buas tersebut terhenyak melihat perubahan kekuatan itu.

"Kau berisik sekali ya? Naruto."

"Tidak mungkin." ujar Pain.

White melentangkan tangan kanannya dan meregangkan jari-jemarinya. "Akan kuledakkan,"

Duarrr!

Bersamaan dengan itu, pemuda berambut putih itu menghancurkan isi perut paus buas tersebut, ledakan itu menggelegar ke seluruh penjuru Konohagakure dan menghasilkan tsunami kecil di permukaan air.

Asap putih muncul pertanda paus itu telah lenyap. White pun kembali ke permukaan air dan berdiri di atasnya. Pain mulai menampakkan diri, namun tidak meloncat layaknya White, ia muncul dari permukaan air sambil tergopoh-gopoh merasakan sakit yang diakibatkan oleh ledakan dahsyat barusan.

Pria berambut jingga itu mendengah nafas berulang kali, "Hah? Hah? Hah? Ledakan itu, bagaimana dia bisa melakukannya?" dari tempat persembunyiannya, Nagato berusaha berpikir keras, sepertinya tidak mudah untuk mengalahkan White. Bahkan Kuchiyose terbaiknya pun dapat dikalahkan oleh White.

"Efektivitas dalam pertarungan ini mulai bergerak ke arah sebaliknya, White mulai menguasai jalannya pertarungan." Matanya tidak bisa menutupi semua itu, ia percaya bahwa apa yang sudah ia lakukan sekarang adalah hal yang benar maka dari itu. "Di dunia ini memang tidak ada perdamaian White? Naruto? tapi- hanya ada satu cara… yaitu… mengumpulkan seluruh bijuu dan menyatukannya!" ujar Nagato. Pain pun juga berucap demikian. Laki-laki berjubah Akatsuki itu berlari menuju ke tempat White berdiri.

"Kali ini? akan kutunjukkan kekuatanku yang sebenarnya." ucap White menyeringai. Seakan-akan dia telah yakin bahwa kemenangan sudah berada dalam genggamannya. Pain melesat kencang seperti berselancar di air menggunakan kakinya, tangannya pun ia rentangkan ke depan dan dari balik pergelangan tangannya muncul beberapa mini rocket launcher, roket kecil itu langsung meluncur mengincar target sasaran. Masing-masing rocket itu melesat dengan kecepatan 50 m/s.

Rocket itu mengenai sasaran, dan ledakannya lumayan besar sampai membuat air terangkat ke atas.

Duaarr!

"Sudah kubilangkan? Sekarang aku sudah bersungguh-sungguh. Serangan seperti itu tidak akan berarti bagi tubuhku." Ucap White yang masih diselimuti oleh asap hasil ledakan rocket tadi.

Pain masih berselancar di atas permukaan air. Ia pun menembak White dengan chakra-chakra cerah yang keluar dari siku-sikunya. chakra-chakra cerah itu meluncur tepat ke arahnya. Namun White hanya berjalan santai melawan serangan itu, tiba-tiba saja sebuah gumpalan tulang berwarna perak muncul menyelimuti tubuh White. Alhasil serangan Pain tidak mempan, tubuh White tidak tergores sedikit pun.

"Itu seperti pelindung Susano'o milik Uchiha Itachi." Ujar Nagato terkejut.

"Aku akan mengakhiri ini dengan cepat. Yahiko?" White memusatkan segala serangannya dengan mata sharingan Shisui. Ia memfokuskan sasaran yang akan ia serang. "Amaterasu!"

Kepala Pain terkena api amaterasu, api hitam itu terlihat membakar wajah Yahiko dengan ganasnya. Pria bermata Rinnengan itu terjatuh ke permukaan air dan menggeliat-geliat di sana. Seperti seorang yang sudah dijemput oleh kematiannya sendiri.

White berjalan lamban menghampiri Pain yang masih kesakitan atas api hitam yang bersarang ke tubuhnya. "Bagaimana rasanya? -Api amaterasu tidak akan pernah padam, api hitam itu akan terus menyala walaupun di dalam air sekali pun, legenda mengatakan siapapun yang terkena api hitam ini, mau tidak mau dia harus menerima kenyataannya, kenyataan bahwa dirinya akan segera mati."

"Aku tidak akan mati semudah ini, Shinra Tense!"

Pain masih ngotot, ia berusaha menyingkirkan api hitam itu dengan dorongan dewa, tapi sepertinya usahanya menemui jalan buntu, api hitam itu terus menjalar dan membakar tubuhnya secara mengerikan. Perlahan-lahan kulitnya mulai mengelupas, rambut jingganya berubah warna, dan setelah beberapa waktu tubuhnya lenyap tak bersisa. Sisa-sisa dari tubuh bersejarah itu tenggelam ke dalam dasar air, menghilang bersamaan dengan keheningan yang terasa sangat sepi di dalam lautan kecil tersebut.


-xxxx-


"Baiklah…. Aku akan segera menemuimu, pengguna Rinnengan yang asli." White telah merasakan kehadiran Nagato dari tempatnya berdiri, tentu saja dengan memanfaatkan batang hitam yang sebelumnya menancap di bagian perutnya, luka bekas tusukan itu telah hilang dengan sendirinya. White dibantu oleh Kurama untuk menyembuhkan tubuh Naruto yang rusak, dengan menyusun sel-sel yang mati menggunakan chakra Kurama, tentu saja karena Naruto adalah aset yang tak tergantikan bagi mereka berdua.

Di tepi desa Konohagakure, orang-orang yang masih selamat telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Katsuyu menginformasikan kepada semua orang yang berada di Konohagakure bahwa Naruto berhasil mengalahkan musuh dan sekarang ini pemuda berambut putih itu telah menuju ke tempat persembunyian Nagato.

"Naruto? kau berhasil mengalahkan Akatsuki sendirian?" ucap Sakura takjub atas keberhasilan yang diraih oleh Naruto, dan semua orang berpikiran sama, kini mereka menilai Naruto adalah shinobi yang istimewa.

"Apa yang dia lakukan?" ujar pengguna Byakugan yang mengamati Naruto bergerak meninggalkan Konohagakure.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura.

"Sepertinya Naruto ingin melakukan sesuatu, dia pergi ke luar Konohagakure."

"Apa!?" Sakura terkaget. Dirinya mulai merasakan kekhawatiran yang besar terhadap Naruto, namun dengan keadaannya yang sekarang, ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Naruto?"

Di tempat Kurama.

Gemercik air masih belum berhenti, suara-suara itu kian lama kian keras terdengar di gendang telinga Naruto. derap langkah menggema di tempat hening tersebut, bunyi itu semakin dekat dan semakin dekat dari kegelapan yang Naruto lihat, seseorang muncul dari dalam sana.

"White? Kau sudah berhasil mengalahkannya?" tanya Naruto antusias. White mengangguk kepada Naruto, "Misi telah selesai, kematian Jiraiya-sensei telah terbalaskan." Ujar White sinis.

"Apa yang kau bilang? Ini belum berakhir-" Naruto pun berjalan mendekati White dan melewatinya begitu saja. "Aku akan membunuh Nagato dan pendampingnya serta mencongkel mata Rinnengannya, akan kuakhiri semuanya dengan tanganku ini, tangan yang telah dipenuhi oleh dosa yang tak bisa dimaafkan, tangan yang tidak pantas untuk digenggam oleh siapapun, karena itulah aku akan meneruskannya, menjadi gelap seutuhnya demi melindungi teman-temanku, seluruh warga desa Konoha, serta Sakura dan Sasuke, -karena setelah ini kesadaranku akan hilang secara perlahan-lahan,"

White hanya terdiam sambil mendengarkan suara isi hati Naruto.

"Terima kasih, White."

Naruto pun keluar dari persembunyiannya, dan mengambil alih tubuhnya sendiri.

"Seharusnya kau tidak usah berterima kasih, karena kelak kau akan membayar semuanya. Naruto?"

Sekarang Naruto telah menuju ke tempat Nagato, dia telah memijak dahan pohon demi dahan pohon agar sampai ke sana dengan cepat. Hembusan angin meniup rambut putihnya, kesejukan udara itu dapat ia rasakan kembali setelah berada di tempat Kurama cukup lama, hanya ada keheningan dan gemercik air yang tak terbatas, semuanya begitu membosankan. Setelah lama dalam perjalanan, akhirnya Naruto menemukan markas rahasia Nagato, ia pun masuk ke dalam batang pohon guna bertemu dengannya. Pengguna mata Rinnengan yang sebenarnya.

Naruto memasuki markas sempit itu, di mana sudah berdiri Konan yang berusaha menghadang Naruto supaya tidak mendekati Nagato. "Kau siapa?" tanya Konan cemas.

"Uzumaki Naruto, aku akan menyelesaikan kalian disini." Tutur Naruto dengan wajah yang dingin, ia menatap Nagato dengan mata mangekyou sharingan yang masih aktif. "Sharingan kah?" ujar Nagato singkat. Tatapan mereka tidak berubah, mereka terus saling mengawasi satu sama lain, berusaha mengendalikan suasana yang menyelimuti tempat itu.

"Apa yang kau inginkan, Naruto?" tanya Nagato penasaran, Konan terdiam berusaha ikut larut dalam pembicaraan sedangkan sebelum menjawab pertanyaan itu, Naruto terdiam sebentar, dia seperti memikirkan sesuatu.

"Aku menginginkan matamu." Sentak Nagato terkejut atas ucapan yang keluar dari mulut Naruto. "Apa yang kaubilang!" seru Konan bersiaga, ia tidak terima jika itu terjadi kepada Nagato, ia sudah dalam kuda-kuda bertarung.

"Itulah keinginanku, sepertinya kau tidak pantas untuk mewarisi mata itu. bahkan kau tidak bisa mengalahkan White, jika kau menginginkan kedamaian kau harus kuat, kau harus bisa mengalahkanku, tapi kenapa kau kalah? Bukankah itu sesuatu yang memalukan. Menyadari itu semua, aku jadi lebih mengerti, ternyata kau lah yang membunuh sensei –maka dari itulah aku akan menyelesaikanmu di sini, membunuhmu adalah pilihan yang harus aku ambil, dan mencongkel mata Rinnenganmu adalah sesuatu yang harus aku lakukan, tentu saja demi mewujudkan perdamaian yang sensei dambakan selama ini."

"Apa katamu? Aku tidak pantas menggunakan mata ini? dan apa yang kau maksud perdamaian itu? perdamaian hanya bisa kita temukan setelah kita mati, dan itulah satu-satunya cara."

Naruto mendangak ke wajah Nagato, ia tidak mengerti apa yang Nagato maksud. Namun ia berusaha menyembunyikan rasa penasarannya dan berkata yang sejujurnya terhadap Nagato.

"Kau terlalu bekerja keras Nagato hanya demi mewujudkan perdamaian yang menurutku itu mustahil. Pandanganmu akan dunia terlalu sempit, kau harus berpikir seperti yang telah diajarkan oleh sensei kepadamu, berpikir luas dan melihat dunia, bertanya 'kenapa kau selalu sedih? Dan bagaimana caraku untuk mengembalikanmu seperti semula?' hanya akulah yang bisa membuat dunia tidak bersedih lagi, karena itulah berikan mata Rinnenganmu kepadaku, dengan begitu aku akan mewujudkan perdamaian yang kau impikan.."

Nagato terhenyak, ia menatap iris merah Naruto. "Semua yang dibicarakan oleh Jiraiya itu adalah bualan semata, itu hanya diperuntukkan untuk menghibur diriku, menghibur desaku yang selalu menangis. Bagaimana bisa kau sebut itu sebagai perdamaian?"

"Sudah kukatakan sebelumnya, kau bisa mempercayaiku. Aku akan membuat dunia yang damai tanpa adanya perang serta mempersatukan seluruh Negara yang ada, termasuk Amagakure."

"Jangan berbicara omong kosong lagi! kau tidak tahu apa yang Nagato rasakan, anak keci!" teriak Konan yang sudah tak bisa menahan emosinya. Naruto tersenyum sinis. Ia mengepal erat tangan kanannya berpikir untuk segera mengakhiri perbincangan ini.

"Aku menahannya. Aku menahannya. Sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku ini, aku ingin segera membunuhmu, orang yang telah membunuh sensei dengan sadis tanpa ada sedikit rasa belas kasihan terhadapnya, kau ini sampah! Murid yang tak tau diri! aku sudah mencoba berbicara kepadamu dengan baik-baik tapi kau masih belum mengerti, kau tahu? sebenarnya aku menangis sekarang, mengingat kenangan-kenangan indahku bersama Jiraiya-sensei, tapi air mata ini sudah tak bisa keluar lagi… dan bagaimana kau bisa membunuhnya dengan cara keji seperti itu, melihatmu saja sudah membuatku muak, aku akan segera mengakhirinya."

Tiba-tiba saja mata sharingan Naruto berputar dengan sendirinya, ia berusaha memberikan shock terapy kepada mereka berdua supaya jatuh ke dalam genjutsunya. Konan pun terjatuh di tanah, sedangkan Nagato telah dalam kendali Naruto sepenuhnya.

"Sebelum itu, aku ingin kau melakukan sesuatu terhadap orang-orang yang tewas di Konoha. Dengan kekuatanmu itu, aku yakin kau bisa mengembalikan mereka seperti semula.."

Tempat Kurama.

Kurama dan White terkejut dengan kejadian ini, mereka tidak percaya bahwa Sharingan bisa memanipulasi Rinnengan. Konon dalam legenda, Sharingan tidak bisa mengendalikan Rinnengan, karena Rinnengan tingkatannya lebih tinggi daripada Sharingan, namun dengan kejeniusan Naruto, semua fakta itu telah ia balik 90 derajat.

"Aku akan menggunakanmu, Nagato." Bersamaan dengan itu Nagato membuat handseal di tangannya, dan sebuah patung keluar dari tanah Konoha, mulut patung itu menganga dan memberikan energy kehidupan bagi siapapun yang sudah dibunuh oleh aliansi Pain. Perlahan-lahan semua kembali ke sedia kala, Kakashi telah berhasil hidup kembali, Kurenai dan Shizune juga sama. para tim medis yang selamat mulai mengevakuasi warga yang hidup karena keajaiban ini, ke tempat yang aman. Semua orang larut dalam bahagia, duka, sedih, senang bercampur menjadi satu.

"Semua orang hidup kembali?"

"Apa hal ini bisa terjadi?"

"Naruto, kau kan yang melakukan semua ini?"

Naruto berhasil memanipulasi Nagato, dan setelah menggunakan jutsu itu Nagato sudah tak bernafas kembali, jantungnya berhenti berdetak dan matanya terpejam dengan sendirinya.

"Jadi kematian adalah resikonya, jutsu yang hebat memiliki resiko yang sangat tinggi. Itu sangat pantas," Naruto pun berbalik meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba saja Konan bangkit melawan genjutsu Naruto.

"Tunggu, kau tidak akan lari kemana-mana, karena aku akan membunuhmu di sini,"

'Membunuh dan membunuh, rasa benci itu terus berputar-putar menghasilkan rasa dendam yang berkepanjangan, dia ingin membunuhku supaya hasratnya terpenuhi. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah memenuhi hasrat bertarungnya, tapi sebelum itu aku harus mencongkel kedua mata Rinnengan itu.' batin Naruto dalam hatinya, ia masih dalam ketenangan luar biasa. Pandangannya terhadap Konan masih terlihat dingin, tidak berubah sedikit pun.

"Hmm, jadi akhirnya aku harus melawanmu. -Aku harap kau tidak memberiku kesan 'merepotkan'." Lalu Naruto bergerak ke tempat Nagato yang sudah tertunduk karena sudah mati, ia melesat kencang secepat cahaya, bagaikan tubuh Naruto seperti tembus pandang.

"Tidak akan kubiarkan!" batang pohon itu menjadi kertas, dan sebuah shuriken mengarah ke Naruto dan ledakan luar biasa pun terjadi.

Duar! Duar! Duar!

Pohon buatan dari kertas itu pun lenyap, dan hanya tersisa sebuah alas hutan yang cukup luas untuk bertarung. Konan melihat-melihat sekelilingnya, berusaha untuk menemukan keberadaan Naruto, sampai matanya terfokus kepada seseorang yang telah berdiri beberapa meter di depannya dengan memasukkan dua mata Rinnengan di sebuah kapsul berair yang digunakan sebagai tempat penyimpanan organ-organ tertentu.

Pemuda itu pun menaruh kapsul kecil itu di kantung ninjanya dan melanjutkan pandangannya ke wajah Konan yang terlihat marah terhadapnya. Ia menatap Konan seolah-olah dirinya tidak mempunyai rasa bersalah sedikit pun, tatapan dingin jauh dari ekspresi dirinya yang dulu.

"Aku yakin kau bukan yang terakhir. Masih ada satu lagi yang masih berkeliaran mengenakan jubah Akatsuki, setelah membunuhmu, aku akan segera menemukannya." Ujar Naruto dingin. Lalu Konan pun merubah dirinya menjadi kertas-kertas yang berjumlah banyak, kertas-kertas itu terbang membentuk sebuah burung, shuriken, dan kunai. Seluruh senjata berbahan kertas itu telah melayang-layang di atas Naruto, Naruto pun melihat kejadian itu dengan wajah dingin.

Semua senjata itu pun menghujani Naruto, diwaktu yang bersamaan ledakan terus-menerus terjadi, kepingan-kepingan tanah mulai berhamburan, debu pasir berterbangan ke mana-mana membuat pandangan menjadi terbatas.

"Dan terakhir sebuah kertas yang cukup besar terjun dari atas langit, kertas itu berbentuk burung dengan kepakan-kepakan sayapnya, ia mulai menargetkan sesuatu yang ada dalam kepulan debu itu.

Duarrrr!

Kali ini ledakan yang dihasilkan lebih dahsyat dari sebelumnya, sampai tanah tersebut membentuk kawah berdiameter 7 meter. Dan membuat Konan berpikir semuanya telah berakhir. Namun tiba-tiba ia mendengarkan suara di belakangnya.

"Sebenarnya apa yang kau incar?" ujar Naruto yang sudah berdiri di belakang Konan. Konan hanya bisa terdiam, keringat mulai mengucur dari kulit wajahnya.

"Maafkan aku, hanya inilah yang bisa aku lakukan sekarang, beristirahatlah dengan tenang. aku akan membalaskan semua yang terjadi kepadamu, dan jika sewaktu saat kau bisa membuka mata kembali, aku yakin kedamaian sudah terwujud, selamat tinggal."

Dan akhirnya satu-satunya wanita berjubah Akatsuki terbunuh dengan jantung yang diambil secara paksa oleh Naruto, jantung itu telah digenggam oleh tangan kanan Naruto, layaknya jantung pada umumnya. Jantung itu berdetak, semakin lemah, dan semakin lemah sampai akhirnya jatung itu berhenti berdetak. Konan pun terjatuh ke tanah, dengan menyisakan darah yang keluar dimulutnya, ia memejamkan mata dan tak akan pernah terbuka lagi.

"Pada dasarnya semua manusia akan mati, hanya waktu yang menentukan. Dengan ini masa-masa kejayaan Akatsuki, akan segera berakhir." Naruto pun meninggalkan tempat itu, berjalan layaknya seorang pembunuh yang mengerikan.

Darah segar masih mengalir di tangannya, darah bekas dari tubuh Konan itu seperti tidak bisa dihilangkan, bak tangan yang dipenuhi oleh dosa yang sulit untuk dimaafkan. "Memang, karena aku sudah membulatkan tekad untuk itu."

Gelap, gelap sekali. chakra cerah beberapa tahun yang lalu telah lenyap digantikan oleh chakra gelap, bahkan lebih gelap daripada Sasuke.

"Setidaknya aku bisa melindungi mereka, karena semua itu sudah cukup untukku." Pemuda berambut putih, bermata sharingan itu pun kembali pulang ke desa, namun sebelum itu. dia menyempatkan diri untuk singgah ke tempat makam Jiraiya, walaupun makam tersebut tidak ada jasadnya.

"Sensei? Apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Apa aku melakukan kesalahan yang tidak perlu? Tolong sekali saja, jawab aku sensei.." Naruto meratapi batu nisan yang tertulis nama Jiraiya. Melihat nama itu, ia mengenang satu kenangan yang sering ia ingat.

"Sebelum semua ini terjadi, aku pasti akan tertawa jika mengingatnya. Tapi- berbeda dengan sekarang… waktu itu Jiraiya-sensei menggunakan Rasengan sebagai alat pengganti dayung yang rusak, bukankah itu sesuatu yang sangat bodoh? Jutsu terhebat yang pernah ia buat, berubah fungsi menjadi alat dayung perahu…" sambil mengingat kenangan itu, Naruto perlahan-lahan berjalan pulang ke Konoha, ia melewati beberapa pohon dengan mata yang sayu-sayu. Walaupun begitu ia masih bisa berjalan dengan tegak.

. . .

Dan tiba-tiba saja teriakan-teriakan terdengar oleh telinga Naruto, ia pun dikejutkan oleh ribuan orang yang berkumpul disatu tempat. Semuanya bersoray-sorey menyambut kedatangannya, kedatangan seorang pahlawan yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh warga desa. Naruto telah mengubah sudut pandang seluruh orang yang tinggal di Konoha terhadapnya, sekarang Naruto sudah menjadi seseorang yang special bagi desanya.

Bocah-bocah mulai mengerumuni Naruto.

"Apa musuhnya kuat?"

"Coba katakan, kepadaku?"

"Musuhnya terlalu lemah. Tapi apa yang terjadi di sini?"

Dan seekor siput kecil muncul dari lengan Naruto dan mengatakan semuanya. pemuda berambut putih itu pun melirik tajam Katsuyu, seolah-olah ia mentransfer pikirannya terhadap siput kecil itu.

'Jangan bicarakan apa-apa lagi, kau mengerti?'

Siput kecil itu mengangguk dan kembali ke lengannya, sampai seseorang gadis berjalan mendekati Naruto. "Naruto?" ucap gadis itu. ia pun menitikkan air mata kebahagiaan, melihat orang yang dicintainya kembali dengan selamat. Pelukan hangat langsung diberikan oleh gadis berambut merah muda itu ke Naruto, "Kau bodoh, jangan terlalu memaksakan dirimu, kau tahu? aku ini sangat mengkhawatirkanmu, Naruto-bodoh!"

Naruto masih melamunkan dekapan hangat itu, tatapannya dingin melihat orang-orang yang berkerumun di depannya, berbondong-bondong orang merayakan kedatangannya. Ia merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, namun ia berpikir positif dan mengambil pelajaran dari semua itu.

"Terima kasih, sudah menyelamatkan kami, menyelamatkan Konohagakure," ujar Sakura yang masih mendekap Naruto penuh kehangatan.

'Bukan seperti itu…

...rasanya laki-laki sepertiku, tidak pantas untuk disambut seperti ini, tidak pantas untuk dijadikan seorang pahlawan, bahkan tidak pantas untuk dipeluk oleh seseorang sepertimu, Sakura.."

To be continue

Chapter 12 END

N/A: POW update seminggu sekali, kadang dua minggu sekali, yah mohon dimaklumin karena saya akan menghadapi UN... baiklah saya minta review bolehkan? sempatkan beberapa detik saja untuk mengisi kolom review... terima kasih atas komentarnya, see you next week!