Can't Wait To Love You

Pair : LeoN VIXX

Cast : All Member of VIXX

Leo pikir perpisahan adalah sebuah hal terbaik dalam hubungan mereka. Leo pikir dengan perpisahan maka mereka tidak akan saling menyakiti, dengan perpisahan mungkin akan bisa sama sama mencegah rasa sakit hati satu sama lain. Tapi nyatanya Leo salah, rasa nyaman selama kurang lebih 4 bulan pernikahan mereka memberi rasa yang berbeda bagi dirinya. Tidak dipungkiri rasa nyaman itu ia rasakan setiap harinya selama mereka tinggal bersama. Selama 4 bulan juga Leo merasa hidupnya teratur dan penuh tanggung jawab.

Tapi sekarang, 4 bulan itu sangat sulit dihapus walau sudah sebulan lamanya. Yah sudah sebulan sejak ia mengajukan ajakan cerai pada istrinya, dan sudah sebulan juga ia ditinggal oleh istrinya. Bukan ditinggal dengan status perceraian, istrinya lebih memilih untuk mem'break'an pernikahan mereka. Terdengar lucu memang, tapi sedikit kelegaan muncul dihati Leo, karena ajakan cerai darinya tidak langsung disetujui istrinya.

Flashback

Paginya Leo terbangun dengan tanpa istrinya disebelahnya. Ranjang itu kosong,istri manisnya bahkan tidak membangunkannya, padahal jam dinakas sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Suatu hal yang tidak biasa. Leo juga tidak mendengar suara suara bising dari luar, atau bahkan aroma masakan dari dapur, semua hal yang biasa ia alami setiap hari tidak ada sama sekali pagi ini.

Leo berpikir, mungkin Hakyeon marah padanya karena permbicaraan mereka malam tadi. Leo teringat percakapan mereka malam tadi, dimana Leo mengajak Hakyeon bercerai, hal yang sebenarnya tiba tiba ada dipikirannya, hal yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Hakyeon memang tidak merespon, istri manisnya itu memilih bungkam dan pergi ke kamar mereka.

Dan masih dalam keadaan heran, Leo bangkit dari tidurnya dan matanya mengernyit melihat secarik kertas diatas meja nakas. Leo meraih kertas tersebut lalu kemudian membaca isi pesan tersebut.

'Selamat Pagi Suamiku, ah masih bisakah aku memanggilmu seperti itu?

Sudah lama sekali aku ingin mengucapkan itu, ahahhaha…. Dan bodohnya aku hanya mampu mengucapkan itu melalui kertas ini.

Leo ya, mengenai perkataanmu malam tadi, mianhae… aku mengabaikan perkataanmu. Maafkan aku Leo ya…

Leo ya… apakah kau ingin kita bercerai? apakah kau menginginkannya? sungguh?

Maafkan aku, aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Apakah kau bosan? Ahh … apakah kau memang tidak bisa bertahan lebih lama lagi padaku? Sebentar lagi saja… tidak bisakah?

Maafkan aku, karena belum menjawab ajakanmu, aku memilih untuk pergi saja. Aku bukan kabur, aku hanya sedang berpikir saja, berpikir untuk menjawab pernyataanmu, aku janji aku akan segera menjawabnya.

Maafkan aku, karena selama 4 bulan ini tidak menjadi istri yang baik, membuatmu kecewa dengan semua tingkah ku hingga membuatmu bosan. Maafkan aku…

Hiduplah dengan baik, jangan lupa selalu sarapan sebelum berangkat kerja. Kurangilah mengkonsumsi kopi karena itu tidak bagus untuk lambungmu...

Aku pergi...'

Leo tertegun…

Genggaman pada secarik kertas itu menguat. Leo tidak pernah membayangkan jika istrinya lebih memilih pergi daripada mengatakan 'ya' pada nya. Leo pikir Hakyeon akan dengan mudah mengatakan 'ya' tapi nyatanya istri manisnya hanya bungkam dan akhirnya meninggalkan dirinya.

'tidak menjadi istri yang baik'?

Pernyataan macam apa itu. hei Leo akui selama 4 bulan ini Hakyeon menjadi istri yang sangat baik, memenuhi segala kerperluan dirinya, Hakyeon adalah istri yang sangat sabar. Dirinyalah yang bodoh tidak menyadari itu semua.

Flashback end

*****CWTLY*****

"bagaimana? Apa masih belum berani menjemput istrimu hyung?" Ravi menydorkan beberapa dokumen dalam map untuk segera ditanda tangani namja dihadapannya ini. Namja tampan yang sekarang terlihat kacau dan tampak diwajahnya gurat gurat kelelahan. Kantung mata yang sudah tidak pernah terlihat lagi, kini muncul dibawah mata tersebut.

"tidak…." Jawab namja yang sedang membubuhkan tanda tangan pada file yang diberikan sekretarisnya.

"aahh… jadi kau begitu ingin bercerai dengannya?"

"bukan begitu…hanya…ah.. entahlah…"

TRAAkk

Leo meletakkan kasar pulpen yang ia gunakan untuk memberi tanda tangan. Sedikit kesal dengan namja dihadapannya ini.

"tsk… kau tahu? Kau tidak sekacau ini saat Hwanie pergi meninggalkanmu tanpa kepaastian. Dan kau tidak segila ini saat Hwanie pergi untuk selamanya… dan sekarang, baru sebulan Hakyeon hyung pergi kau sudah kacau sekali…"

"aku tidak sedang kacau seperti yang kau katakan Ravi ya…"

"itu menurutmu, tidak menurut orang yang melihatmu…"

Leo kembali memperhatikan seluruh tubuhnya. Melirik ke cermin yang ada dimeja kerjanya, memastikan wajahnya masih terlihat tampan. Namun Leo tertegun dan kemudian menyetujui ucapan Ravi. yaa dia sendiri bisa melihat wajahnya yang terlihat berbeda dan ada cekungan pada bawah matanya.

"huft…"

"kalau aku jadi kau, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang begitu berarti untukku…"

"ini berbeda Ravi yaa… aku… aku…aku tidak gay … aku masih normal…"Leo mengucapkan itu dengan lirih. Meski didalam hatinya berdegup kencang seperti debuman bom yang meledak.

Benarkah ? benarkah yang diucapkan Leo? Sadarkah dirinya dengan ucapannya?

"heum…" Ravi menampilkan smirk tipis diwajahnya "semoga kau memegang ucapanmu hyung. dan harus kau tahu, ada kalanya rasa cinta itu membuat nyaman, dan ada pula rasa nyaman yang membuat cinta itu muncul. tidak ada yang salah, Dan cinta tidak pernah salah."

Ravi mengambil kembali berkas yang sudah ditandatangani Leo, lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan kerja bosnya.

Tak lama Ravi menghilang, Leo masih menyelami ucapan namja yang sudah begitu mengerti tentang dirinya. Leo menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya, mencoba mengusir kegundahan didalam hatinya.

Belum lagi tenang pikirannya, pintu ruangan sudah diketuk kembali. Leo pikir itu adalah Ravi kembali, tapi kenapa Ravi belum masuk juga. Biasanya setelah mengetuk tanpa disuruh masukpun namja itu akan segera masuk saja. Tapi ini tidak, hingga membuat Leo langsung mengetahui jika itu sudah pasti bukan Ravi.

"masuklah" ucap Leo

"annyeong Mr. Jung.. ini ada kiriman makan siang seperti biasa"

Leo tertegun menatap paperbag yang ada ditangan pegawainya. Memejamkan mata kembali begitu tersadar jika ini sudah jam makan siang.

"taruhlah disana" Leo menunjuk meja di ruangan kerjanya, lalu kemudian yeoja itu meletakkan sesuai intruksi bosnya.

Usai mengerjakan tugasnya yeoja itu kembali keluar ruangan. Dan Leo masih menatap paper bag yang ada dimeja. Leo tidak perlu menebak apa isi tas tersebut, dan tidak perlu menerka nerka siapa pengirimnya.

Sudah sebulan ini Leo selalu mendapati paketan berisi makan siang, pada awalnya Leo merasa bingung siapa yang repot repot mengiriminya makan siang. Tapi setelah mencoba nya Leo langsung bisa menebak siapa yang mengirimnya. Rasa itu masihlah sama, dan masih terasa pas dilidah Leo, masakan yang hampir setiap hari ia makan, rasa yang sudah begitu lekat pada lidahnya.

Pada awalnya Leo senang karena istrinya masihlah memikirkan dirinya, masih memikirkan tanggung jawabnya. Meskipun tidak tinggal bersama tapi namja manis itu masih memikirkan tentang dirinya, padahal Leo sudah mengajukan perceraian padanya,.

Harusnya Leo bisa melihat lebih dalam betapa pedulinya namja manis itu padanya. Dan sekarang ia merasa ia adalah namja yang begitu jahat. Bukan hanya dirinya, tapi semua orang sudah pasti mengatakan dirinya brengsek.

Tapi satu keanehan yang dialami Leo, kedua orang tuanya harusnya memarahinya karena telah membuat menantu kesayangannya pergi, tapi sampai sekarang kedua orang tuanya terlihat biasa saja. Haruskah Leo senang?

Leo berjalan menghampiri paperbag diatas meja, mendudukkan dirinya disofa lalu kemudian mulai membuka isi paket tersebut. Satu persatu Leo buka tempat makan itu. mengambil sumpit yang ikut disertakan, lalu kemudian mulai mencoba memakan makan siang dari istrinya.

Memasukkan satu persatu makanan kedalam mulutnya dan mulai mengunyah, mengambil kembali makanan yang berbeda dan begitu seterusnya.

"aneh" Gumam Leo dengan mulut yang masih mengunyah.

Aneh?

Leo tidak merasakan rasa yang sama seperti yang selama ini. Hambar, yaa itulah rasa makanan yang ada dimulutnya sekarang. Apa karena perasaan dia yang juga hambar, atau karena perasaan dia juga yang sedang kacau, atau karena hal lain?

*****CWTLY*****

Leo masih duduk diam didalam mobil sambil memandang lurus ke depan. Jika sudah sebulan ini kebiasaan baru istrinya adalah mengirimkan bekal makan siang untuknya, maka sudah 2 minggu ini pula Leo menguntit istrinya di kampus. Jangan menertawakan tindakan bodoh mereka, tapi ya memang itulah adanya. Keduanya sama sama saling memberi perhatian meski diam diam.

Leo memang tidak bisa lepas untuk tidak mengetahui keadaan istrinya. Walaubagaimanapun mereka masih berstatus suami istri, jadi itu artinya Leo masih ada tanggung jawab kepada Hakyeon. Dia tidak mau mendatangi ruma keluarga Cha, katakanlah dia pengecut, dia hanya ingin tahu saja keadaan Hakyeon. Sudah itu saja.

Sudah pukul 14.45 dan Leo sama sekali belum melihat batang hidung istri manisnya. Biasanya, dari jadwal yang ia dapat istrinya mengikuti mata kuliah siang hari ini dan selesai pukul 14.00. dan biasanya Hakyeon akan langsung keluar gerbang meninggalkan gedung untuk duduk dicafe biasa ia dan kedua sahabatnya berkumpul.

Tapi sudah 45 menit, dan baik Hakyeon maupun kedua orang yang selalu berada disamping Hakyeon sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.

Piip Piip Piip

Leo merogoh ponselnya dan membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

'Jika kau mencari dia, maka kau tidak akan menemukannya. Pulanglah'

DEG

Leo memeriksa nomor sipengirim, nomor baru dan Leo asing dengan nomor itu. Bagaimana bisa orang itu tau dia sedang mengintai Hakyeon? Padahal ia sengaja mengganti mobilnya agar tidak dikenali. Tapi nyatanya masih ada juga yang mengenalinya.

Kemana Hakyeon?

Pertanyaan itu masih terngiang dikepalanya. Tanpa pusing panjang Leo keluar dari dalam mobil dan menyebrang jalan untuk mencoba memastikan bahwa memang istrinya tidak ada dicafe tersebut.

Dan benar saja, Café terlihat sangat ramai, tapi saat matanya mengelilingi sekitar café ia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Dan iapun harus mengiyakan orang yang mengirimnya pesan tadi.

Leo memilih duduk dibangku dekat jendela, tempat dimana Hakyeon dan kedua sahabatnya duduk bercengkrama. Memesan segelas kopi kepada pelayan, sambil tetap menatap sekeliling, memastikan kembali jika memang tidak ada sosok yang ia cari.

"sudah ku bilang Hakyeon tidak ada" seseorang duduk tepat dihadapan Leo

Minhyuk. Namja yang mnjadi alasan Leo untuk mengajak istrinya bercerai.

Leo membenarkan duduknya, dan memasang wajah serius mencoba menerangkan siapa dirinya.

"tidak penting" ucap Leo

"jika memang tidak penting untuk apa selama beberapa minggu ini kau seperti penguntit. Harusnya jika kau mengajak Hakyeon bercerai yasudah kau tinggal mengirimkannya surat cerai. Lalu kemudian kau tinggal menunggu Hakyeon menandatangani surat itu"

Jemari Leo mengepal dibawah meja,giginya juga bergemeletuk menahan geram pada Minhyuk. Sungguh igin sekali Leo menghajar wajah namja sok bijak didepannya.

"wae?" Minhyuk tau bahwa perkataannya menghujam jantung Leo, lihatlah wajah namja arogan didepannya sedang menahan amarah, dan itu adalah kesenangan sendiri buat Minhyuk.

"aku benarkan? Kau mengajaknya bercerai… tapi baru sebulan ditinggal Hakyeon kau sudah menjadi penguntitnya… bagaimana jika kau ditinggal selamanya oleh Hakyeon…"

"APA MAKSUDMU?"

Leo tidak sengaja menghentakkan kedua tangannya di atas meja, dan suaranya sedikit meninggi. Sungguh dirinya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri jika menyangkut hal seperti itu. apa apaan ucapan Minhyuk itu?

"tenanglah…" Minhyuk memasang wajah setenang mungkin, meski sebenarnya ia ingin menghajar wajah namja yang sudah membuat Hakyeon menangis hebat sebulan yang lalu.

Yaa Hakyeon menelponnya dan memintanya untuk menjemputnya. Namja manis yang begitu ia sayangi memegang satu koper berisi barang barangnya di dini hari di depan gedung apartemen ditengah dinginnya malam. Dan ketika Hakyeon sudah masuk kedalam mobilnya namja manis itu menangis hebat tanpa menceritakan apapun.

Minhyuk mengantarkan Hakyeon kerumah Ken, karena tidak mungkin di pagi pagi buta Minhyuk mengantar Hakyeon pulang kerumah orang tuanya, bisa saja kedua orang tua Hakyeon berpikiran yang tidak tidak kepada dirinya.

Lalu keesokan harinya Ken menceritakan padanya apa yang sebenarnya terjadi pada namja manis kesayangannya.

"kenapa kau begitu takut? Saat kau kehilangan Hwani kau tidak setakut ini?"

"itu bukan urusanmu…"

"yaa memang bukan urusanku. Tapi jika menyangkut tentang namja manisku, aku tidak akan tinggal diam"

Wajah keduanya sama sama mengeras. Sama sama mengibarkan bendera peperangan, bahkan pelayan yang mengantar kopi pesanan Leo saja sedikit takut meletakkan pesanan pelanggannya.

"namja manismu? Hah… yang benar saja?" Leo berucap meremehkan

"yaa sebentar lagi mungkin akan menjadi namjaku" Minhyuk memberikan smirk yang semakin membuat Leo frustasi. Dan Minhyuk sangat menikmati setiap perubahan pada wajah namja arogan didepannya.

"berdoalah semoga keinginanmu tercapai"

Leo mengeluarkan selembar uang dan meletakkannya diatas meja, lalu kemudian pergi begitu saja. Bahkan dia belum meminum setetespun kopi pesanannya.

*****CWTLY******

Hari ini adalah weekend, dan Leo memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri seandainya kedua orang tuanya akan menghajarnya, memarahinya mungkin atau malah akan mengusirnya karena telah membuat menantu kesayangannya pergi.

Ah yaa… sudah dua hari kemarin Leo tidak mendapati kiriman makan siang dari istrinya, sedikit heran karena sejak itu pula dirinya tak lagi menemukan Hakyeon dikampusnya. Apakah ada hubungannya?

Leo melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, tidak perlu menunggu maid membukakan pintu karena dirinya sudah masuk kedalam rumah untuk mencari ummanya.

"umma…" panggil Leo ketika menemukan Mrs. Jung sedang bercengkrama didapur.

Jaejoong sedang memasukkan makanan kedalam rantang, menyusun dengan rapi makanan kedalam rantang. Sepertinya sang umma ingin pergi piknik.

Jaejoong yang mendengar suara anaknya, sebenarnya ingi menghampiri anaknya dan memeluk anaknya. Lalu setelah itu mungkin akan menghajar anaknya, namun sebisa mungkin ia menahan diri.

"kau pulang?" dan hanya itu balasan dari Jaejoong.

"nee… umma" jawab Leo yang masih berdiri mematung, sedikit heran melihat tingkah ummanya.

"kau sudah makan? Kau terlihat semakin kurus. Duduklah dan makan" Jaejoong berucap tanpa memandang sang anak. Suaranya sedikit bergetar namun bisa coba ia samarkan dengan terus menyibukkan dirinya dengan beberapa makanan.

Leo mendekat, lalu menggeser kursi dan mendudukkan dirinya. Yaa ummanya memang benar. Ia memang terlihat kurus. Maklum saja makannya sudah tidak teratur lagi.

"ahjumma siapkan makan untuknya" Jaejoong menyuruh salah satu maid untuk menyiapkan makanan untuk Leo.

Terjadi keheningan beberapa saat, yang sebenarnya Leo bisa saja memecah keheningan itu. tapi lagi lagi ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.

"umma… maafkan aku"

Dan akhirnya suara itu keluar.

Jaejoong menghentikan kegiatannya. Posisinya saat ini sedang membelakangi Leo, karena dirinya sedang mencuci tangannya di wastafel.

"untuk apa?" Jaejoong meremas kedua tanganny, dia mencoba bersabar hingga Leo sendiri yang akan bercerita

"aku tahu umma kecewa padaku…"

"kecewa untuk yang hal yang mana? Terlalu banyak yang membuat umma kecewa padamu, ayo katakan maaf untuk yang mana?"

Jaejoong berbalik dengan kedua mata yang memerah.

Leo bangkit dari duduknya dan segera membawa Jaejoong kedalam pelukannya.

"maaf untuk semua hal yang telah kulakukan dan membuatmu kecewa" ucap Leo

"kau membuat umma kecewa wonie… apa yang sudah kau lakukan? Hiks…." Akhirnya tangisan itu pecah juga

"…"

"…"

Kini keduanya duduk di teras belakang rumah masih dengan keheningan. Jaejong tidak lagi menangis seperti sebelumnya, dan Leo memaklumi kenapa bisa ummanya menangis seperti itu. Leo merasa bersalah sekali karena mengecewakan sang umma.

"kau tahu, ketika kau berumur 9 tahun, kau jatuh ketika bermain sepak bola. Lalu kemudian kau demam beberapa hari. Disaat yang sama pula Hakyeon datang dan menangisimu ketika kau tertidur. Dia bahkan merawatmu ketika kau tidak sadar. Dan setelah kau sembuh, justru gantian Hakyeon yang sakit. Dia masuk rumah sakit karena penyakitnya dan sempat dirawat seminggu…"

DEG

"ketika kau berumur 12 tahun, kau mengikuti perlombaan sepak bola dimana saat itu pula terakhir kalinya kau bermain sepak bola. Kejadian dimana kau terjatuh dan membuat tulang dikakimu sedikit bergeser dan membuatmu tidak bisa bermain sepak bola lagi… kau tahu saat mengetahui itu Hakyeon menangis hebat. Padahal dia suah menyediakan hadiah untukmu, bola keinginanmu…tapi akhirnya bola itu hanya tersimpan dikamarnya karena ketika ingin memberikannya ia melihatmu yang menangis dan marah marah dirumah sakit karena kondisimu…"

"kenapa aku tidak mengingatnya?"

"tentu saja kau tidak mengingatnya…"

"maksudku… dia sama sekali tidak ada dalam ingatanku umma. aku bahkan merasa baru sekali bertemu dengannya"

"karena dia memang tidak berani muncul dihadapanmu... dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya saat berada didekatmu. Itulah alasan yang ia beri…"

"Hakyeon mengetahui semua tentang mu, tapi ia tidak berani muncul dihadapanmu. Dia terlalu minder akan kondisinya… dan soal permintaan pernikahan itu, sebenarnya adalah keinginan umma sendiri. Umma ingin sekali menjadikan Hakyeon menantu keluarga Jung…"

"umma…"

"tapi… tak apa, meski hanya beberapa bulan saja umma cukup bahagia. Sekarang terserahmu, jika kau memang menginginkan perceraian itu hakmu. Umma tidak memaksa, kali ini kau bebas melakukan apapun keinginanmu."

Jaejoong bangkit meninggalkan Leo yang kembali termenung. Bukankah harusnya Leo senang? Ummanya memberinya kebebasan, bahkan ummanya tak melarang dirinya bercerai… ada apa dengan ummanya? Batin Leo.

*****CWTLY*****

Leo bukanlah namja yang akan melarikan diri dari masalahnya. Leo bukan tipe namja yang akan berpaling pada club malam jika dia sedang tidak dalam keadaan baik. Mengunjungi club malam adalah pilihan terakhir bagi Leo jika memang ia benar benar merasa masalahnya terlalu berat. Leo lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjan pekerjaannya.

Seperti sekarang, Leo menyibukkan diri denngan berbagai macam file dihadapannya untuk ia periksa. Meski hari minggu, tidak membuat Leo berpaling sedikitpun dari pekerjaannya. Jika ada istrinya, mungkin Leo tidak akan seperti sekarang, mungkin ia akan menemani Hakyeon berbelanja atau mereka akan berkunjung ke rumah keluarga mereka. ah.. lagi lagi hakyeon. Batin Leo.

Mengalihkan pandangannya dari semua file yang ada ditangannya. Mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di meja, lalu mencari kontak istrinya.

Sudah lama sekali dirinya tidak mendengar suara lembut itu. sudah lama sekali Leo tidak mendengar suara ajakan makan atau sekedar pembicaraan sebelum mereka tidur. Leo merindukan itu semua, Leo akui 4 bulan bersama sangat berbeda dengan bertahun tahun menjalin kasih. Dan sebulan berpisah sangat berbeda dengan berbulan bulan tanpa kabar, dan seminggu tak dapat kabar sangat berbeda dengan ditinggal untuk selamanya.

Kenapa perasaan yang sekarang lebih menyakitkan?

"huft…."

Menarik nafas panjang lalu meletakkan kembali ponselnya. Perasaannya tidak enak, entahlah perasaan apa itu.

Leo bangkit, sepertinya ia harus menenangkan diri. Dan mungkin club malam bisa membantunya. Leo mengambil jaketnya dan kunci mobil lalu kemudian keluar dari apartemennya. Meski hujan, dan malam sudah larut tapi Leo tetap harus menenangkan pikirannya.

Langkah kakinya menuju area parkir apartemen, baru saja Leo ingin masuk ke mobilnya, namun tanpa sengaja ia melihat siluet tubuh istrinya di luar gedung. Berdiri dengan tubuh yang basah kuyup.

Tubuh Leo menegang, kemudian ia berlari mendekati sosok itu, namun baru saja sekelip mata bayangan itu hilang.

"hakyeon-ah …."panggil Leo

Matanya mencari ke sekeliling, namun nihil. Ia tidak menemukan siapapun. Lalu apa yang dilihatnya tadi?

Leo membatalkan dirinya untuk keluar, dan kembali masuk kedalam apartemen. Ia takut jika nanti Hakyeon kembali ke apartemen mereka tapi dirinya tidak ada dan Hakyeon akan pergi lagi. Untuk itu biar saja Leo menunggu kedatangan Hakyeon.

Leo mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, lalu kemudian mencari kontak istrinya di ponselnya. Tanpa ragu lagi dia menekan tombol call. Menunggu beberapa saat hingga panggilan itu dijawab.

"angkatlah…" bisik Leo

'yoboseyo…'

Leo mendengar panggilan itu dijawab, and itu membuat Leo terdiam. Ini bukan suara istrinya, ia begitu mengenali suara Hakyeon.

'yoboseyo… Leo hyung'

Panggil suara itu lagi, Leo yakin suara itu adalah suara Ken, sahabat istrinya.

"dimana Hakyeon?" tanya Leo

'apa kau sudah menerima surat dari pengadilan?'

Tapi bukannya mendapat jawaban, Leo justru mendapat pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup.

"apa maksudmu Kenie?"

'aku tanya, apa kau sudah menerima surat dari pengadilan yang diantar oleh pengacara Hakyeon hyung?'

"b..be..belum" Jawab Leo terbata

'mungkin besok kau akan menerimanya, disana sudah ada tanda tangan Hakyeon hyung…. seperti yang kau inginkan, dan Hakyeon hyung berpesan agar kau hidup lebih baik…'

Leo menyadari suara lirih di ujung ucapan itu

"dimana Hakyeon? kenapa kalian membiarkannya keluar dalam keadaan hujan hujan seperti ini?" tuding Leo dengan suara penuh penekanan

'apa maksudmu?'

"aku melihatnya disini, tapi ketika aku mengejarnya dia menghilang… demi Tuhan dia dalam keadaan basah kuyup"

'…'

"kenie katakan padaku bahwa Hakyeon sudah ada bersama kalian dalam keadaan baik baik saja?"

'…'

"Lee Jaehwan" panggil Leo dengan suara dingin.

'Nee… Hakyeon hyung ada bersama kami. Dia…hiks… dia baik baik saja..hiks…'

Tuut Tuut Tuut

Suara panggilan terputus. Ketenangan sesaat dan kini rasa ketakutan muncul dalam benak Leo. Kenapa Ken menangis?

*****CWTLY*****

"bagaimana ini ahjumaa…hiks"

Usai mematikan telpon. Ken menangis histeris dalam pelukan Key, umma dari sahabatnya.

"tenanglah Key, semua akan baik baik saja"

"kenapa mereka bodoh sekali, kenapa mereka saling menyakiti begini…hiks"

"Leo hanya belum menyadari perasaannya, ahjumma yakin setelah ini semua akan berubah…"

Mereka berkumpul didalam raungan, lebh tepatnya kamar Hakyeon. Dimana Hakyeon tengah berbaring dengan alat bantu pernafasan disekujur tubuhnya.

Sudah beberapa hari kondisi Hakyeon drop kembali, dan ditambah lagi Hakyeon yang tidak bangun sejak seminggu yang lalu, dan dokter memvonis keadaan Hakyen 'koma'.

*****CWTLY******

Pagi pagi sekali, tidur Leo terganggu karena bunyi bel diapartemennya. Tapi Leo bersyukur, karena berkat suara bel itulah dirinya bangun. Dirinya tertidur disofa karena berfikiran bahwa Hakyeon akan pulang malam tadi, tapi nyatanya nihil.

Leo bangkit dan berjalan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang bertamu pagi pagi begini. Berharap kembali jika itu Hakyeon.

Cklek

"annyeonghaseyo…saya Yoon Doojoon, pengacara dari keluarga Cha. Saya mengantarkan surat gugatan cerai dari tuan Cha Hakyeon"

DEG

DEG

Benar, ternyata ucapan Ken semalam bukanlah mimpi. Ucapan itu benar dan sekarang terbukti. Leo menerima amplop coklat tersebut dan mengeluarkan isinya. Membaca dengan begitu teliti, hingga membuat jantungnya semakin tak karuan.

Dibagian bawah, sudah tertera tanda tangan istrinya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.

"terimakasih. Aku akan mengirimkannya kembali nanti." Ucap Leo kepada namja tinggi dihadapannya

"anda memang harus mengirimkan kembali kepada saya, anda tinggal menanda tangani dan selesai. Kalian resmi bercerai. saya permisi dulu Tuan Jung"

Namja yang mengaku pengacara keluarga Cha itu menghilang dari hadapan Leo yang masih tertegun memandangi surat perceraian ditangannya.

Jika sudah begini siapa yang jahat? Dirinyakah? Atau Hakyeon yang berhasil membuat pertahanan Leo runtuh begitu saja. Pertahanan diri yang selalu mengelak jika perasaan yang muncul dalam dirinya bukanlah cinta, pertahanan diri yang selalu mengatakan dirinya normal.

Ting Ting Ting

Baru saja selangkah Leo menjauh dari pintu, kembali bel itu berbunyi, menganggap jika itu pengacara Kim lagi, Leo membuka dengan sedikit kasar.

"aku sudah mengatakan akan mengirimkannyasegera…"

"hei… mengirimkan apa?"

Tapi ternyata tamu itu bukanlah pengacara Yoon lagi, melainkan namja menyebalkan yang semakin merusak mood paginya.

"tsk… ada apa kau kemari, jika kau mencari Hakyeon, ia tidak ada disini! Bukankah kau sendiri tahu jika Hkayeon tidak disini" Leo berbicara ketus pada Minhyuk

"yaa.. aku tahu, justru aku ingin memberi tahumu kabar penting, aku hanya tidak ingin kau kembali terlambat dalam urusan percintaanmu.."

"jangan berbelit, cepat katakan apa maksudmu?"

"baiklah…" Minhyuk menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya "… kau tahu kenapa seminggu ini Hakyeon absen dalam mengirimu bekal makan siang untukmu? Kau tau kenapa seminggu ini Hakyeon absen dalam perkulihannnya?"

"ada apa sebenarnya?"

"karena Hakyeon koma… dan hari ini keluarganya akan membawa Hakyeon pergi dari seoul untuk melakukan operasi… dan dokter bilang kemungkinan berhasil hanya 5 persen…"

DEG DEG DEG DEG

"aku hanya tidak ingin kau terlambat mengakui perasaanmu…"

BRAKK

Tanpa pikir panjang Leo masuk kedalam apartemennya untuk megambil kunci mobil, lalu kemudian berlari meninggalkan apartemennya seperti orang gila. Ya katakanlah Leo gila, karena pikirannya saat ini benar benar kacau.

Leo mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Tidak memperdulikan umpatan kasar dari para pengendara lainnya, yang ia pikirkan saat ini adalah sampai ke mansion Cha untuk mematikan keadaan Hakyeon. Atau jika perlu Leo akan kembali membawa Hakyeon dan menemani istrinya itu dalam operasi yang akan dijalaninya.

Sesampainya Leo di mansion keluarga Cha, ia alngsung keluar dari mobilnya dan ingin lekas lekas menerobos masuk. Tapi ia masih memiliki etika dengan tidak bertindak tidak sopan. Mengetuk pintu dan menunggu salah satu orang dari dalam rumah membukakan pintu untuknya.

Cklek

"tolong beritahu aku dimana Hakyeon"

Maid sedikit terkejut ketika membukakan pintu melihat siapa yang datang.

"tu…tuan…"

"katakan… ku mohon…." Pinta Leo dengan menanggalkan semua keegoisannya.

"huft…. Semua sudah pergi, mereka sekeluarga pergi membawa Tuan Hakyeon untuk menjalani pengobatan. Mereka baru saja setengah jam yang lalu pergi ke bandara, kemungkinan tidak akan kembali meskipun operasi yang akan dijalani …Hakyeon… ga..gagal" Maid itu tampak sedih mengingat kembali ucapan Tuan besarnya sebelum mereka pergi.

"jangan berbohong…"

Leo menerobos masuk kedalam rumah, berteriak memanggil nama istrinya.

"HAKYEONAAAHH….KELUARLAH… AKU MENJEMPUTMU…HAKYEONAAHHH"

Leo mencari ke sluruh penjuru ruangan yang ada. Kekamar milik Hakyeon, namun nihil. Hanya ada bau obat obatan yang tertinggal diruangan itu dan beberapa bungkus obat obatan yang Leo sangat mengenal obat siapa itu.

Leo jatuh terduduk di ranjang Hakyeon, menangkup kedua tanagnnya pada wajahnya. Dia terlambat, yaa… dia terlambat.

"kau terlambat hyung…" seseorang berdiri diambang pintu

Ravi, yang sedari tadi mengikuti Leo saat keluar dari gedung apartemennya. Sedikit menjaga jaga jika bosnya ada apa apa.

"nee… aku terlambat"

*****TBC*****

annyeong LeoN Shipper ^^

sepertinya LeoN shipper kian sedikit nih.

disini saya selaku Selir Leo (nama group kumpulan LeoN)

mau mengajak para LeoN shipper untuk bergabung di group Katalk ataupun Line.

baik author ataupun reader, dari fandom lain tapi kalo suka LEoN juga bisa gabung ^^

silahkan di add saja katalk ataupun Line :

endhaiueo

atau add saja pin saya :

5b860b2b

nanti akan kami gabungkan di group tersebut.

di group tersebut kita akan membahas seputar LeoN pastinya, tentang VIXX, ngebully VIXX sesuka hati juga bisa,

curhat juga bisa, request ff juga bisa.

gomawo

*bow*