.
Truth? This is it!
.
.
Ketrin: Ciee yang udah tambah usia~
Henna: ? Tau ah.. Lanjut!
.
6 tahun berlalu seperti angin saja. Satu persatu, bocah-bocah yang dulunya diadopsi Mitsumasa akhirnya mulai kembali dengan fisik yang baru. Meskipun tidak semuanya, namun yang kembali tentu sudah punya kualitas tertentu dalam kombat. Mereka juga bisa menunjukkannya di pertandingan besar yang diadakan Kido nantinya.
Dari depan pintu masuk mansion, tampak seorang pemuda barusan saja keluar dari sana. Kebetulan ketika dia sedang berjalan santai, seorang gadis pirang berjalan ke arahnya. Pemuda bersurai coklat pendek itu mengernyit ke arah gadis itu, seakan gadis itu familiar di hadapannya.
Sampai ketika posisi mereka berdampingan, pemuda itu sangat mengenali raut wajah dan bau tubuhnya.
"H-HENNA!"
Gadis itu membalikkan badannya dan menampakkan wajahnya ke hadapan pemuda itu. "Iya? Apakah anda bisa saya bantu?"
"Ini aku, Henna! Seiya! Jangan bilang kau lupa!" seru Seiya semangat.
Dengan alis yang sedikit naik, gadis yang dipanggil Henna itu ingat juga akhirnya dan hanya menyahut singkat. Seiya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat temannya yang satu ini tak berubah-ubah sifatnya.
"Hei, kenapa kau menutup matamu seperti itu?" tanya Seiya.
Pause sejenak diantara mereka, sampai akhirnya Henna membalasnya.
"Aku dibutakan teman sekelompokku."
Dheeg
Seiya terpatung didepannya. "B-Bagaimana.. Kenapa bisa?"
"Entah. Tapi itu sudah lewat. Bahas hal yang lain saja." ujar Henna.
Seiya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mencoba-coba mencari topik bicara. BANYAK sekali yang ingin dia share pada Henna. Entah itu tentang pengalamannya di Yunani atau bertanya tentang Henna yang entah kemana selama ini ataupun tentang masa lalu mereka bersama. Tapi entah kenapa susah mengeluarkannya sekaligus.
"Kalau tak ada yang ingin kau bicarakan, saya permisi duluan." Henna berbalik dan melangkahkan kembali kakinya masuk ke mansion Kido.
"H-Hei, kapan kita bisa ngobrol bareng nih?" tanya Seiya penuh harap.
"Nanti.."
Satu jawaban singkat sebelum Henna menjauh dan masuk ke dalam mansion itu. Seiya bengong sebentar lalu akhirnya berjalan pergi. 'Anak itu masih sama dari dulu yah.' batinnya
Sementara itu didalam, Henna bertemu lagi dengan Tatsumi yang awalnya tak bisa mengenalinya sedikitpun.
"Apakah anda teman ojou-sama? Saya akan memberitahukan beliau. Biar saya ambil jacket anda." Sahut Tatsumi.
"Itu tidak diperlukan, Tatsumi-san. Aku hanya mau bertemu dengan Saori-san."
Tatsumi terdiam sebentar. "Bagaimana anda bisa mengenali saya? Apakah ojou-sama yang memberitahu anda?"
Henna berpikir sejenak lalu muncul satu ide ajaib. "Aku terkejut kau lupa padaku. Padahal aku pernah ingin membakar matamu yang menangis."
Jleebb!
Langsung saja memori indah (?) itu timbul. Tatsumi mundur satu-dua langkah seketika. "Tapi sebelum kami mengirim anak-anak lain, kau sudah hilang duluan! Kenapa kau kembali kesini?!"
"Tujuan latihan 6 tahun yang lalu untuk menempa pemuda-pemudi yang mampu menyandang gelar saint. Kurasa kau sudah mendengar itu dari tuanmu. Tapi kudengar dia sudah meninggal?"
Tatsumi memalingkan muka dan menjawab ya. "Kau mencoba gaya baru ya? Baru kali ini kulihat ada tren menutup mata rapat-rapat."
"Tren? Apakah buta itu termasuk ke fashion?" Tatsumi terdiam saat itu juga.
"Kau juga mengikuti galaxian wars?" tanya Tatsumi.
"Gak mau dan gak mau tahu. Lagipula prioritas paling pertamaku hanya melindungi Athena, yakni Kido Saori."
Tatsumi membeku di tempat mendengar perkataannya yang benar sekali.
"Dia reikarnasi Athena. Jujur saja, aku terkejut bukan main. Tapi mau tak mau, aku sudah diberi misi." Jelas Henna.
Tatsumi hanya mengangguk mengerti.
"Aku ingin melapor padanya. Bisa kau panggilkan dia?"
"Lebih baik jangan. Dia belum tahu kalau dia itu Athena." Cegah Tatsumi.
Henna menaikkan alisnya. "Belum tahu? Jadi kapan akan kau beritahu?"
"Entahlah. Aku juga bingung." Tatsumi mengusap kepala botaknya itu.
"Cepat atau lambat, dia akan sadar. Cosmo Athena takkan bersemayam tak terlihat selamanya didalam dirinya."
Baru saja Henna mau meninggalkan tempat itu, Saori muncul lagi dan kali ini dia bisa mengenali Henna dari surai rambut pirangnya. Begitu melihatnya, Saori pucat seketika karena teringat hal yang tak menyenangkan sama sekali. Dia sudah mulai berfikir kalau masa penyiksaannya akan kembali dimulai. Tapi Henna dengan santai menyapanya.
"Ah, Saori-san. Konnichiwa. Senang bertemu sekian lama lagi."
Saori terbengong-bengong. "K-Kau memanggilku dengan suffix –san? Kau beneran Henna?"
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Henna pura" heran. 'Mungkin dulu aku keterlaluan.' batinnya.
"T-Tidak apa. S-Senang bertemu juga. Ada keperluan apa kau kemari, Henna?" Saori berusaha tetap santai.
"Hanya mengecek keadaan, ini aku juga mau pergi. Omong-omong, semoga beruntung di pertarunganmu, Saori-san."
ITU DIA!
"Henna tunggu!" seru Saori. "Kamu main di galaxian wars ya!" pintanya.
"Seperti yang kubilang tadi." Henna menghela nafasnya. "Gak mau dan gak mau tau. Toh ada yang lain. Aku gak tertarik."
"Ayolah Henna! Anggap ini seperti permintaan teman lama. Lagipula aku tetaplah cucu dari yang mengatur pelatihanmu disini. Sekarang aku yang menduduki posisi Oji-sama. Jadi kau harus patuh padaku kan?" tanya Saori penuh harap Henna ikut dan berharap Henna tidak memukulnya habisan.
Henna mengernyitkan dahinya dan hanya menghela nafas untuk kedua kalinya. Begitu mulutnya hampir berkata tidak, tapi dia teringat isi misinya. Tak ada pilihan lain baginya. Dengan tiba-tiba, Henna langsung berlutut didepan Saori sambil meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Lebih tepat di jantungnya. Asli membuat Saori dan Tatsumi cengo.
"Akan kujalankan perintahmu, Saori-san." Ujar Henna. 'Sekali ini aja. Tapi untuk selanjutnya, aku tak jamin. 'batin Henna.
Saori dan Tatsumi masih cengo di tempat. 'sejak kapan Henna bergaya seperti Sebastian Michaelis?' batin keduanya yang entah darimana tau Sebas si sohib author ini. #dilemparkedasarlaut
.
.
Ketrin: OWARII~
Henna: Ignore that. Aslinya To Be Continued.
Ketrin: ahaha, gomenasai~
