Back in Time

KAISOO, EXO member, OC

T - M, GS

Author by rerudo95

N.B : cerita ini terinspirasi dari drakor " Time Sleep dr. Jin ", tapi hanya pada part awal. Alur cerita murni pemikiran sendiri. Rated berubah M seiring berjalannya waktu, dan gak jamin juga kalo bakal bagus. Karena aku masih baru, kalau ada typo, ceritanya kurang bagus atau susah dimengerti mohon dimaklumi. Oh ya, jika cerita ini memiliki unsur kesamaan dengan cerita lain juga mohon dimaklumi, saya tahu cerita seperti ini cukup pasaran :D. Sekian cuapcuapnya, don't forget to review. Thanks a lot.

Yang gak suka GS harap segera tutup cerita ini.

.

.

.

Chapter 8

It s done.

That day

Sabtu, 21 Mei 2017

Kira-kira waktu masih subuh, dua orang duduk didalam sebuah ruangan gelap. Keduanya hanya diam, membiarkan keheningan malam yang menguasai. Sang pria menatap lurus langit mendung yang masoh saja menggantung rendah di langit kota Seoul. Ditangannya sebuah gelas anggur yang masih terisi ia mainkan. Tanda jika ia tengah gelisah.

" Kau yakin akan sampai pagi ini bukan? ", tanya sang wanita memecah keheningan yang menguasai mereka beberapa jam terakhir. Sang pria menoleh, ekspresinya masih dingin dan datar. Tak menunjukkan hatinya yang tengah bergejolak dengan rasa gelisah.

" Sudah pasti. Pagi ini kiriman akan sampai. Tapi aku tak bisa menjamin hasil akhirnya. ", ucapnya misterius. Sang wanita berdiri dari kursinya. Berjalan menuju jendela kaca. Berdiri disana sambil memeluk dirinya sendiri.

Mereka memang bersembunyi, namun mereka punya banyak mata yang mengawasi dua orang terkasih mereka. Jongin dan Kyungsoo. Dan apa yang mereka dapati akhir-akhir ini bukanlah hal yang bagus.

" Kau masih menginginkan Kyungsoo bukan? ", tanya wanita itu lagi.

" Tentu saja. Aku sangat menginginkannya. Tapi ingat Luhan, apa yang kita dapat beberapa hari terakhir sudah melenceng jauh dari skenario yang kita bangun. "

Sang wanita, Luhan mendengus. Ia tahu, tapi ia tak peduli. Ia akan merampas Jongin bagaimanapun caranya. Masa bodoh apakah Sehun akan mengambil Kyungsoo atau tidak. Tapi ia akan pastikan jika mereka tidak akan jadi pengganggu.

" Jika mau menyakiti Kyungsoo, bahkan hanya sehelai rambutnya. Maka bersiaplah kehilangan nyawamu Luhan. ", ucap Sehun seolah bisa membaca pikiran Luhan.

" Ku pikir kita berada di pihak yang sama. ", cemooh Luhan.

" Tidak. Fokus utamaku hanya Kyungsoo. Aku akan bekerjama dengan siapapun yang sekiranya menguntungkanku. Sekali lagi, jika kau menyakiti Kyungsoo. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. ", ancam Sehun. Pria itu memilih keluar dari ruangan itu sebelum ia benar-benar membunuh Luhan. Ia bisa membaca semua rencana busuk Luhan untuk menyingkirkan Kyungsoo. Karena wanita itu tahu ia sudah merelakan Kyungsoo.

" Mengapa kau menyerah dengan sangat mudah? ", pertanyaan Luhan mengejeknya. Namun seulas senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun kini menghiasi bibirnya. Ia kembali berbalik kearah Luhan. Masih dengan senyum yang sama.

" Karena aku ingin Kyungsoo bahagia. "

...

Kyungsoo sedikit kerepotan saat membuka pintu apartemennya. Ia baru saja dari binatu. Tangannya penuh dengan pakaian dan satu bukngkus tteokpokki untuk ia makan sendiri. Saat tengah mencoba membuka pintu ia terdiam saat melihat sebuah amplop coklat di bawah kakinya. Kyungsoo meletakkan barang-barangnya dilantai dan memungut amplop itu.

' Untuk Do Kyungsoo'

Isi amplopnya cukup tebal untuk ukuran surat. Kyungsoo mengendikkan bahunya kemudian masuk. Meletakkan amplop itu di meja ruang tamu. Ia akan membukanya nanti setelah membereskan apartemennya.

Satu jam kemudian pekerjaannya selesai. Ia mendesah lega saat duduk di sofa nyamannya. Mata bulatnya melirik amplop itu lagi. Penasaran Kyungsoo mengambil amplop itu dan membukanya. Kaget saat isinya berhamburan keluar. Rupanya beberapa lembar foto.

Foto itu terlihat gelap. Ia bisa melihat sepasang pria dan wanita tengah berhimpitan di dinding basement entah dimana.

" Apa aku mendapat foto-foto mesum. ", meskipun enggan Kyungsoo masih melanjutkan melihat foto yang lain. Hingga satu foto terakhir membuatnya terdiam. Foto itu sangat jelas karena dua orang itu berdiri di bawah sinar lampu yang terang. Namun fakta yang ia lihat menghancurkan hatinya secara perlahan. Ia sangat kenal dua orang itu. Jongin dan Luhan. Dan yang lebih menyakitikan adalah mereka tengah berciuman.

Tangannya gemetar namun mencoba mengambil foto-foto yang lain. Entah mengapa ia malah tertawa. Bukan tawa bahagia memang. Sungguh ia tak tahu harus bagaimana. Disatu sisi ia tak terkejut namun ia tetap merasakan sakit.

Ia bertanya dalam hati, kapan foto ini diambil? Mengapa Jongin tak mengatakan apapun padanya? Lalu mengapa Jongin mempertahankan dirinya?

Kyungsoo merasa marah. Satu pemikiran menyerobot akal sehatnya. Inilah yang Jongin inginkan, menahannya untuk melihat semua ini. Penghianatan Jongin sebagai balasan karena sikapnya dulu. Ia tahu ia salah, ia pantas dihukum.

Tapi apakah ini tidak keterlaluan? Ia perlu penjelasan Jongin sekarang juga.

Kyungsoo bergegas mengambil kunci mobil. Namun ponselnya tiba-tiba berdering. ID Sehun berkedip-kedip di layar ponselnya. Ia jadi ingat, ia perlu membereskan ini juga.

" Yeoboseyo. "

" Maaf Kyungsoo, aku baru saja tiba dari Jepang. Bagaimana jika kita bertemu hari ini? "

" Baiklah. Nanti, mungkin setelah makan siang. Aku akan menghubungimu lagi. "

Tanpa menunggu jawaban Sehun. Kyungsoo segera mematikan sambungannya dan memasukkan benda itu kedalam tas. Tak lupa juga kumpulan foto yang perlu ia tunjukkan pada Jongin. Ia harap, semua tak seburuk yang ia kira.

...

Jongin mondar-mandir di ruangannya. Ia begitu terkejut saat melihat kalender beberapa saat yang lalu. Hari ini, tanggal 21 Mei. Ia bertanya-tanya apa yang akan menantinya hari ini. Apakah kecelakaan itu akan terulang?

Ia ingin menghubungi Kyungsoo namun ia lupa handphonenya sedang diperbaiki. Lagipula ia tak yakin apakah kejadian itu akan terulang lagi.

Jongin terkejut saat pintu ruangannya terbuka. Kyungsoo ada disana dengan ekspresi yang sama. Pakaian yang sama. Mata Jongin terpaku pada amplop yang Kyungsoo bawa. Dan ia tahu kejadian itu akan terulang.

Ia tersadar. Sebaik apapun ia melakukannya, alur tetap akan membawanya kembali pada kejadian yang sama. Hal ini tak bisa di hindari, tapi harus di selesaikan. Bayangan Kyungsoo yang berbaring tak berdaya membuat Jongin kesulitan untuk berpikir. Bagaimana cara menahan Kyungsoo tetap disini hingga tiga puluh menit kedepan. Setidaknya Kyungsoo akan selamat dari kecelakaan itu.

Ia mengambil langkah pertama untuk mendekati Kyungsoo yang masih berdiri didekat pintu. Ia melewatinya untuk mengunci pintu. Bukan karena ia tak ingin ada yang memergoki mereka sedang bertengkar, namun lebih untuk menjaga Kyungsoo setidaknya sampai kejadian kecelakaan itu akan terjadi.

" Apa kau ingin menjelaskan sesuatu? ", tanya Kyungsoo dengan suara paraunya. Jongin menghela nafasnya. Mengambil benda maksiat dari tangan Kyungsoo dan melemparnya ke meja kerjanya.

" Itu memang aku. ", Jongin menatap Kyungsoo sendu saat satu tetes air mata itu mengalir dari mata bulat Kyungsoo.

" Tapi bukan maksudku untuk melakukannya Soo. Waktu itu aku memang bertemu dengannya. Tidak sengaja. ", Jongin mencoba mendekati Kyungsoo namun wanita itu mundur.

" Soo, please. "

" Kau masih mencintainya Jongin. ", lirih Kyungsoo. Jongin menggeleng, menyangkal apa yang Kyungsoo katakan.

" Aku melihatnya. Lukisan yang kau buat tempo hari. ", Jongin kelu. Seharusnya ia sudah mengira hal itu. Namun saat itu otaknya terlalu beku.

" Mengapa kau tidak mengatakannya langsung? Mengapa kau mempertahankan aku? Apa kau ingin balas dendam? ", Jongin melangkah cepat kearah Kyungsoo, tak peduli jika wanita itu menghindarinya. Ia memenjarakan Kyungsoo diantara dinding dan dirinya.

" Kyungsoo tatap mataku. ", tegas Jongin.

" Aku. Tak pernah. Ingin. Balas dendam. Padamu. ", ucapnya penuh penekanan. Sekalipun Kyungsoo telah melakukan kesalahan dimasa lalu. Jongin sudah memaafkannya. Ia melepaskan masalah itu dan memilih Kyungsoo. Bukan untuk menyakiti wanita itu. Tapi untuk menjaga dan mencintainya seperti yang sudah Kyungsoo lakukan untuknya.

" Aku di jebak Soo. ", jelasnya. " Tentang lukisan itu, saat itu aku hanya sedang bingung. "

Kyungsoo memejamkan matanya. Ia ingin memercayai Jongin tapi hatinya sangat sakit.

" Ku mohon Soo. ", lirih Jongin tersiksa. Ia menarik tangan Kyungsoo dan meletakkannya tepat diatas jantungnya. Jika kata tak sanggup meyakinkan Kyungsoo, ia harap bahasa tubuhnya yang akan bekerja dan membuat Kyungsoo mengerti.

" Aku mencoba percaya Jongin. Tapi rasanya sakit. ", Jongin mengecup telapak tangan Kyungsoo yang masih ia genggam. Sungguh, menyakiti Kyungsoo adalah hal yang tak diingininya.

" Maafkan aku. ", bisiknya.

" Aku ingin berhenti Jongin. Rasanya terlalu sakit. "

" Tidak Soo, tidak. Aku tidak mau berhenti. ", Jongin panik ketika Kyungsoo memilih jalan ini. Ia tahu ia telah menyakiti Kyungsoo dengan begitu dalam. Namun ia juga egois karena tak ingin wanita itu pergi.

" Kyungsoo, mungkin kali ini aku terdengar kejam dan egois. Tapi untuk kali ini saja, tolong percaya padaku. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya padamu. "

Jongin hampir menangis karena Kyungsoo sama sekali tidak bereaksi. Bagaimanakah ia harus memohon agar Kyungsoo tetap bersamanya.

" Beri waktu bagiku untuk berpikir. ", putus Kyungsoo. Tak tahu apakah ini hal baik atau hal buruk. Memberi waktu berarti ia berada dalam dua keputusan yang kabur. Bisa saja Kyungsoo memilih lepas atau sebaliknya. Namun ia tak boleh lebih egois dari ini. Ia sudah berjanji memberi wanita itu ruang, maka ia harus menepatinya.

Setidaknya, fokus Jongin saat ini adalah menyelamatkan Kyungsoo dari kecelakaan yang akan menanti wanitanya.

" Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau yakin dengan keputusanmu. ", putus Jongin. Ia mengecup kening Kyungsoo lama. Mencoba menyalurkan keyakinan hatinya meskipun ia ragu akan bekerja pada Kyungsoo.

" Aku akan mengantarmu pulang. "

" Tidak perlu. Aku bawa mobil. ", ia tahu Kyungsoo ingin menghindar darinya tapi tidak untuk kali ini.

" Kyungsoo. Sekali ini saja, biarkan aku mengantarmu. "

...

Kyungsoo merasa lelah. Hati dan pikirannya. Tapi entah mengapa ia begitu keras kepala menginginkan Jongin. Bisa saja tadi ia langsung memilih tetap bertahan dengan Jongin.

Bayangan dan kata-kata Baekhyun juga ayahnya terus memenuhi otaknya. Berulang-ulang bagai film tanpa akhir. Saat ia menatap mata Jongin, ia tahu pria itu jujur. Hatinya menjerit untuk merengkuh Jongin dalam pelukannya. Namun akal sehatnya masih berfungsi. Ia tak ingim dibodohi lagi.

Beberapa waktu lalu Jongin juga sama, terlihat jujur dan tulus. Namun akhirnya ia goyah lagi setelah bertemu Luhan. Apa saat ini, jika Luhan ada diantara mereka, Jongin bisa tetap bertahan pada keputusannya untuk tidak lepas? Kyungsoo ragu.

Ia menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar butuh waktu untuk merenungkan semuanya.

Sekali lagi Kyungsoo melirik kebelakang. Jongin berjalan lambat, matanya terus mengawasi Kyungsoo. Ingin rasanya ia menarik tangan itu untuk berjalan disampingnya namun ia tak sanggup. Perasaannya terlalu campur aduk bahkan ia sampai tak menyadari wajah Jongin yang begitu pucat.

" Jongin, apa kau yakin mengantarku? Aku bisa pulang sendiri. ", Jongin hanya mengangguk. Kyungsoo menghela nafas dan kembali berjalan. Kini langkahnya lebih cepat namun Jongin kembali menghentikannya.

" Tunggu disini. Aku akan ambil mobilku. "

Setelah mendengar itu, Kyungsoo baru menyadari jika ia sudah berada di pintu depan rumah sakit. Tak lama Jongin datang dengan mobilnya. Ia segera masuk, mengambil tempat disisi Jongin yang terdiam membisu.

Tak tahu apa yang sedang pria itu pikirkan. Jongin hanya terdiam meskipun portal sudah dibuka. Bahkan ketukan petugas penjaga tidak dihiraukannya.

" Jongin. "

" Tunggu sebentar. ", Kyungsoo mengikuti arah pandang Jongin.

Hingga suara gaduh itu terdengar. Klakson, ban yang berdecit, teriakan ngeri. Dan Kyungsoo melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sebuah truk berukuran sedang berguling di hadapannya. Nafasnya tercekat, matanya menatap ngeri bagaimana truk itu berhenti didepan mobilnya.

Mereka masih terlalu shock, atau mungkin hanya dirinya sendiri. Jongin malah menghela nafas lega dan itu membuat Kyungsoo mengerut bingung. Kyungsoo memilih mengabaikan Jongin. Ia segera melepas sabuk pengamannya dan berlari keluar.

Para medis yang lain segera menyusul. Kyungsoo dan beberapa petugas pria mencoba menarik supir truk. Tubuhnya yang berlumuran darah membuat Kyungsoo merasa ngeri. Namun setidaknya erangan pria tua itu menjadi tanda bahwa ia masih hidup.

Kyungsoo mencari Jongin yang terdiam seperti patung beberapa meter darinya. Wajahnya lebih pucat dari yang tadi.

" Siapkan operasi darurat. ", pesannya pada paramedis yang membawa pria itu masuk. Kyungsoo mendatangi Jongin yang terpaku menatap pakaiannya yang berlumuran darah.

Tangan Jongin gemetaran. Kyungsoo bisa melihatnya dengan jelas. Meski ia tak tahu alasan mengapa Jongin terlihat begitu takut, Kyungsoo harus memaksa Jongin untuk segera sadar.

" Dokter Kim. ", panggilan pertama.

" Dokter Kim. ", panggilan kedua pun masih diabaikan.

" Jongin ssi. ", ia berteriak lagi dan akhirnya Jongin menoleh padanya.

" Kita harus memulai operasinya. ", Jongin mengangguk tapi tangannya masih gemetar. Kyungsoo yang berada di seberangnya mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan itu. Ia tak tahu mengapa Jongin sampai seperti ini tapi ia perlu menenangkannya. Tak ada dokter yang lebih hebat daripada Jongin untuk kasus seperti ini.

" Semua akan baik-baik saja. ", meski tak tahu mengapa ia mengucapkan itu, Kyungsoo merasa lega karena kini Jongin terlihat lebih tenang.

...

Jongin mengikuti Kyungsoo kearah kerumunan. Hatinya mencelos melihat tubuh supir truk itu. Keadaannya sama persis dengan Kyungsoo. Pendarahan selaput otak akut. Ia ingin kesana, menggantikan Kyungsoo untuk membopong pria itu. Namun sayang ia tak sanggup.

Kakinya seolah lumpuh untuk digerakkan. Jantungnya berdegup keras dan menyakitkan. Jongin berusaha menarik nafas dalam-dalam. Namun yang ditemukannya hanyalah duri tajam di kerongkongannya.

Samar-samar ia mendengar Kyungsoo memanggil namanya. Ia berusaha keluar dari kabut putih tebal dikepalanya. Ia berhasil, namun menatap Kyungsoo yang berlumuran darah membuatnya merasa mual.

" Kita harus memulai operasinya. ", tatapan profesional Kyungsoo menyadarkan Jongin.

" Semua akan baik-baik saja. ", ucap Kyungsoo. Jongin tersenyum lemah, dan ia menemukan kekuatannya kembali.

...

Sesungguhnya Jongin tak bisa melukiskan dengan benar apa yang sedang ia rasakan. Ia lega karena bukan Kyungsoo yang berbaring di meja operasinya sekarang. Namun ia juga merasa bersalah setiap kali melihat pria itu.

Sebagai penebus rasa bersalahnya ia harus menyelamatkannya juga.

Operasi berlangsung dalam ketegangan. Jongin sedang berusaha menghentikan pendarahan di otak pria itu. Namun tiba-tiba mata Jongin berkabut. Ia menggelengkan kepalanya untuk menormalkan pandangannya lagi.

Semuanya baik-baik saja namun Jongin merasa nafasnya memberat. Keringat dingin keluar dari setiap pori-porinya. Pisau bedahnya jatuh ketika kepalanya terasa dihantam dengan sangat keras. Ia mengerang dan jatuh. Ruangan itu terasa berputar-putar.

Jongin merasakan kehadiran Kyungsoo didekatnya. Memanggil namanya berkali-kali. Namun semakin keras Kyungsoo berteriak Jongin hanya akan semakin tenggelam dalam kegelapan.

" Dokter Kim. Kim Jongin. "

' Do Kyungsoo '

Dan kegelapan membawa Jongin pergi.

...

Disebuah lorong yang semula sepi menjadi riuh dengan kaki-kaki yang berlari cepat kearah satu ruangan. Didalam sana, beberapa orang berpakaian putih menyerbu, memeriksa peralatan medis juga seseorang yang terbaring diam disana.

Bunyi 'pip' panjang menggema diruangan dingin. Menghancurkan dinding pertahanan dua orang wanita muda yang berpelukan. Merapalkan doa bagi yang terkasih untuk bisa diselamatkan. Namun harapan itu seolah menjadi kosong saat perawat yang lain datang membawa alat kejut jantung.

Salas seorang wanita tadi memilih keluar. Tak tahan melihat apa yang akan dialami sang terkasih. Sedangkan yang lain menghampiri satu orang lain yang seolah tak dianggap keberadaannya.

" Jongin. ", wanita itu menggenggam tangan Jongin yang dingin. Memanggil dengan suara lirih dan tersiksa.

" Ku mohon bangunlah. Ku mohon. ", ia tak sanggup menyelesaikan permohonannya. Tangisnya semakin pecah saat melihat tubuh sahabatnya dipicu dengan alat-alat yang asing baginya. Dan kali ini ia hanya bisa kembali berdoa. Agar sahabatnya kembali padanya.

.

.

.

.

TBC

Hello...

Gak mau banyak cuap di chap ini... ini pendek bin absurd bin ngeselin... #salamdamaibung

Semoga kalian suka chap ini... TT_TT

Cus review ya...

Makasih buat yang dukung dan nunggu ff ini... aku sayang kalian. ..

Ada yang masih bingung ya, pasti karna appa nya Kyung bilang mereka tunangan lebih dari satu tahun..

Dua sama tiga juga lebih dari satu kan...hehehe mian aku ceroboh... tapi paksain aja kali ye...udah smpe chap segini...wkwkw

Always thanks to

itachi2409, unniechan1, pororo023, henna chan, irenasoo,pumpum, , diah, Soocy-Nim, kadi couple, rianita, kimkaaaaai, dinadokyungsoo1, mimi, kyungie love, avs1105, matcha, lovesoo, Insooie baby, DKSlovePCY, sarad15, rainaLee, bakkichot, nisakaisa, umma kyungsoo, kaisoomin, kimdegita88, chanli27, do 12januari, dwimeisy, drabble wookie, jongin bear, NN, ici, nct127, yixingcom, huang minseok, asmaul, khairunnisacho, xoxo0293, alxshav, audia605, mrswuhunhan, t.a, son of aphrodite, rahma736, kaisoo, zzz, ziyah kim, yixingcom, lee min ah, kim gongju,mamik, babytaaa, overdyosoo, , riaazzhh, overdokai, dodyoleu, parktaen,