.-Give Me Something Sweet-.

Justmine Lilzy Rewolf

Romance, Hurts/Comfort, Married Life.

Kim Jongin x Do Kyungsoo.

KAISOO GS

HunHan, ChanBaek, SuLay, ChenMin, TaoRis. Siwon, Kyuhyun, Kibum, Sungmin, Ryeowook.

.

.

.

.

.

.

GMSS is back Guys… Ada beberapa part pengulangan sebagai pengingat karena kalian pasti udah pada lupa sama ceritanya #termasukauthorjugasih :D semoga setelah ini bisa kembali mengingatnya…

Ini bukan Chapter 12

Jadi maksudnya ini rangkuman/flashback dari chapter 1 sampe 11 kemaren gituu, sekaligus curhatannya Kyungsoo cz pake sudut pandang Kyungsoo. Ok, Happy Reading!

.

.

Kyungsoo's POV

Dia adalah cinta pertamaku. Namja itu datang bagaikan mimpi dalam kehidupanku, dan perlahan mulai mengubah segalanya. Semua berjalan begitu cepat saat hari pernikahan atas dasar perjodohan digelar meski kami belum saling mengenal, dan aku benar-benartakluk kepadanya saat ciuman pertama kami.

"Kyungsoo-ya chukkae," –Luhan.

Dari awal aku tidak suka Luhan terlalu dekat dengan Jongin, tapi di sisi lain gadis cantik itu begitu baik padaku hingga membuatku bingung.

"Eonni, kau bisa memanggilku eonni. Aku setahun lebih tua darimu, kita berada di universitas yang sama." –Luhan.

"J-Jongin-ssi, kau mau kemana?" –Kyungsoo.

"Bukan urusanmu." –Jongin.

Malam itu, mungkin kami akan tidur sendiri-sendiri andai saja SuhoOppa tidak datang dan memaksa kami untuk tidur di ranjang yang sama. Meski karena sebuah paksaan, tapi ketahuilah, hatiku merasa harus banyak berterima kasih pada SuhoOppa nantinya.

"Kau dan Kyungsoo akan tinggal di apartemen kalian, Appa sudah memesankan tempatnya." –Siwon.

"Mianhae eomma."Ini memalukan, aku sama sekali tak tahu urusan dapur!

"Cih, tetap saja dia adalah yeoja eomma. Sudah seharusnya ia bisa memasak!" –Jongin.

"Eomma akan datang kemari setiap pagi dan kita bisa masak bersama." –Kibum.

"Kyungsoo-ya, kenapa kau duduk disitu?! Aishh, tidak baik duduk jauh-jauh dari suamimu." –Luhan.

Ingatkan aku juga untuk banyak berterima kasih pada Luhan, dia membuatku bisa merasakan tidur siang dalam pelukan hangat seorang Kim Jongin.

"Mengapa kau tak membangunkanku?" -Kyungsoo

"Kau pikir aku tak membangunkanmu?! Kau saja yang terlalu nyenyak hingga tak terusik sedikitpun." –Jongin.

Jangan bohong! Aku tahu bahumu terasa kebas karena menahan beban tubuhku, terima kasih atas sandarannya Kim Jongin.

"Seperti yang kita tau, tidak banyak orang yang mengetahui pernikahan kita, begitu juga dengan anak-anak di kampus. Jadi aku minta, kita akan tetap menganggapnya seperti itu. Jika kau bertemu denganku di kampus, bersikaplah seperti biasa." –Jongin.

Asal itu bisa membuatmu lebih baik aku tak apa Jongin. Aku tetap mencintaimu, aku mencintai sifat kekanakanmu, ekspresi dinginmu, semua yang ada padamu. Kau ingin merahasiakan pernikahan kami, aku tak apa, asal kau selalu bersamaku aku akan terima.

"Eomma~, aku sedang ingin memelukmu." –Jongin.

Aku juga ingin mendapatkan pelukan selamat pagi darimu Jongin, bukan pelukan yang kau lakukan dengan terpaksa namun pelukan yang tulus dari hatimu.

"Tapi aku baru saja membiarkan Kyungsoo pergi bersama seorang namja yang dia panggil Oppa." –Luhan.

"MWO?!" –Jongin, Sehun.

"Kau memintaku untuk tidak khawatir padamu? Aku tidak bisa Kyungsoo, karena aku mencintaimu." –Kris.

"Oppa jebal~ aku tidak bisa!" –Kyungsoo

Tak peduli seberapa besar perhatian yang diberikan oleh Kris Oppa padaku, dia takkan pernah menandingi posisi Jongin di hatiku. Andai Jongin tahu itu…

"Aku akan menunggumu Kyungsoo, sampai kapanpun." –Kris.

Hari itu, untuk pertama kalinya Jongin marah besar karena aku pulang terlebih dahulu tanpa mengabarinya sedangkan ia tengah menungguku di kampus hingga hari hampir petang. Aku bersalah, aku sangat menyesal.

"AKU MENUNGGUMU BERJAM-JAM DAN TERNYATA KAU SUDAH PULANG SENDIRI, MENGAPA KAU TAK MEMBERITAHUKU DAN PONSELMU JUGA TIDAK AKTIF EOH! Setidaknya kau bilang padaku bahwa kau pulang sendiri. Bagaimana kau pulang?! Apa dengan namja itu? Kau membuatku kecewa!" –Jongin.

Aku takut sekali Jongin, kau membuat memori lamaku kembali menunjukkan kilasan pahit di masa kecilku. Kumohon jangan membentakku lagi, kumohon jangan membanting pintu seperti itu, aku sangat takut.

"KYUNGSOO-YA!" –Jongin.

Dan juga, jangan memanggil namaku dengan nada kasar seperti itu, aku tidak suka. Kenapa kau menjadi seperti ini…

Dan sejak saat itu, kau semakin berubah. Tak ada lagi kalimat yang terucap dari bibirmu barang satu katapun, tak pernah kau jawab sapaan hangat yang selalu kuberikan untukmu. Kau acuhkan aku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku~

"Eonni, aku cemburu padamu, aku rasa Jongin menyukaimu." –Kyungsoo.

Aku tak tahu atas dasar apa hingga aku mengatakan hal segamblang itu pada Luhan Eonni. Tapi itulah satu-satunya hal yang bisa kusimpulkan tiap kali melihat Jongin yang tertawa begitu lepas saat bersama Luhan.

Hanya saat bersama Luhan, tidak denganku.

"Jongin pasti mencintaimu Kyung, mungkin nanti, dia hanya membutuhkan waktu." –Luhan.

Waktu itu hujan deras, dan kau masih saja marah padaku. Halte bus masih jauh, lalu Kris Oppa menawariku sebuah tumpangan. Mungkin itu akan menjadi pengalaman pertama bagi Kris Oppa untuk mengantarku pulang, andai saja kau tidak menyambar tubuhku secara tiba-tiba, menenggelamkanku dalam pelukan hangatmu dengan jaket yang kau gunakan untuk melindungiku dari hujan sementara tubuhmu sendiri kau biarkan basah kuyup.

Aku dapat mempelajari satu hal tentangmu dari kejadian tersebut. Ya, kau takkan pernah bisa tersentuh air hujan. Kau pun tahu itu, tapi kau lebih memilih untuk melindungiku.

"Kyungsoo-ya~ Kyungsoo-ya~" –Jongin.

Kau demam tinggi di malam hari, dan kau memanggil namaku.

Bukan, bukannya aku senang kau sakit, tapi sulit bagiku untut tidak merasa bahagia saat mendengarmu memanggilku meski dari alam bawah sadarmu, dan sulit juga bagiku untuk tidak berkata "Saranghae," sebagai balasannya.

Lalu pagi harinya aku terbangun dalam pelukanmu. Ya, kau memelukku, bahkan semalaman. Kau juga berterima kasih padaku karena merawatmu dengan baik. Hari itu, adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, karena sejak saat itulah kau mulai bersikap baik padaku.

"K-Kyungsoo-ya, apa kau sedang mendapat siklus bulananmu?" –Suho.

Oh Tidak, itu adalah salah satu hal memalukan yang harus terjadi di hari indah tersebut. Tapi aku tidak menyesal karena dari sanalah Jongin mulai peduli padaku.

"Aku tidak tau kau memakai yang mana, jadi aku beli beberapa," –Jongin.

Aku tidak menyangka, Jongin bahkan mau membelikanku sesuatu yang tidak seharusnya Ia beli. Dia juga memberiku dress baru, terus menanyai keadaanku, dan menatapku dengan raut khawatirnya yang membuatku salah tingkah.

Lalu hal yang tak pernah bisa kulupakan, adalah ketika Suho Oppa dan Yixing Eonni mengajak kami untuk bermain ice skating. Aku tak pernah bermain hal tersebut. Aku jatuh berkali-kali.

"Kyungsoo-ya gwenchanha? Kenapa kau ceroboh sekali! Lihat! Kakimu berdarah. Kenapa kau terus membuang-buang darahmu eoh?!" –Jongin.

Kau berlebihan Jongin, tapi aku suka caramu mengkhawatirkanku. Lalu kau mengajariku untuk bermain.

"Jangan lepaskan tanganmu dariku!" –Jongin.

"Jongin-ah aku takut, ini susah sekali." –Kyungsoo.

"Jongin-ah jangan dilepas dulu, aku belum bisa!" –Kyungsoo.

"Kau cepat belajar." –Jongin.

"Jongin! Aku tidak bisa menghentikannya!" –Kyungsoo.

"Kemarilah, aku akan menangkapmu," –Jongin.

Kau dekap tubuhku begitu erat menyalurkan kenyamanan yang membuat tubuhku meremang. Kau tahu Jongin, aku rasa itu adalah pertama kalinya aku bisa kembali tertawa begitu lepas sejak Eommaku pergi bertahun-tahun yang lalu. Kau memberiku sesuatu jauh lebih indah dari yang bisa kubayangkan.

"Kau senang?" –Jongin.

Aku bahagia Jongin, sangat bahagia melihat senyuman atau bahkan tawa manismu itu yang hanya kau tujukan padaku.

Senang rasanya ketika kau menanyakan keadaanku setiap saat.

Senang rasanya bisa mendebatkan hal-hal yang tak begitu penting bersamamu sebelum tidur.

Senang rasanya saat kau memelukku terlebih dahulu, dan menyuruhku untuk tertidur dalam rengkuhan hangatmu.

Aku mencintaimu Kim Jongin, sangat mencintaimu.

Sejak saat itu, kau begitu lihai memerankan peranmu Jongin. Kau membuat segalanya terasa begitu nyata. Kau peluk aku untuk mengiringi tidur lelapmu, kau cium pipiku di hadapan Kibum di setiap pagimu, kau beri aku ribuan perhatian yang melambungkanku ke angkasa.

Tapi aku berbeda denganmu. Aku tak bisa menganggap semua ini akan baik-baik saja. Tentang kalimatmu, bahwa apapun yang kita lakukan hanyalah sebuah sandiwara belaka, aku tak bisa menerimanya Jongin. Tidak bisakah kalau kita membuat semua ini menjadi nyata saja? Bukankah kita berdua sama-sama menikmatinya? Atau, itu hanya perasaanku saja.

"Jongin, bagaimana dengan pakaianku?" –Kyungsoo.

"Pakai saja. Itu sudah cukup untuk menenggelamkan tubuhmu," –Jongin.

Aku tahu, diam-diam kau mengagumi tubuhku. Kau bisa melihat semuanya tanpa terkecuali Jongin, jika saja kau mau.

"Appa~" –Kyungsoo.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keluargaku datang untuk berkunjung, namun seperti biasa, adik tiriku yang bernama Zitao selalu berhasil menghancurkan mood baikku.

"Oppa~~, aku hanya ingin untuk membantu Eonni tapi dia memarahiku," –Zitao.

"Berikan saja," –Jongin.

Aku sangat kesal pada Zitao, Appa, dan juga Jongin. Semuanya tak ada yang berpihak padaku, kenapa harus selalu ZItao, kenapa semua hanya memperhatikan Zitao. Mungkin memang dialah yang paling kecil di sana, tapi aku juga tak ingin diperlakukan seperti ini. Setidaknya bagi Jongin, besar harapanku agar dia lebih membelaku selaku istrinya ketimbang bocah cerewet yang statusnya hanya seorang adik tiriku.

Aku memutuskan untuk pergi dari sana, meninggalkan hal-hal yang semakin membuatku muak dan menyendiri di dapur rumah. Pikiranku berkecamuk untuk beberapa saat, hingga kau kembali datang dan bertanya padaku,

"Kau baik-baik saja?"

Tidak. Andai kau tidak datang mungkin aku sudah menangis seorang diri di sini. Tapi kau membuatku menahannya, aku tak ingin kau melihatku menangis di depanmu Jongin. Seberkas angin segar meredam kembali emosiku yang bercampur aduk kala kau tetap berada di sana, meski kau tak mengatakan apa-apa, namun keberadaanmu memberikan kelegaan tersendiri bagiku. Kau menungguku, dan itu membuatku merasa bahwa seseorang masih peduli padaku.

Dengan mudahnya kau kembali mencairkan suasana, membuatku kembali berdebat denganmu dan sejenak melupakan duka yang bergelayut dalam memoriku.

"Yixing... Sekarang sedang mengandung." –Suho.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar pengumuman itu, aku bahagia untuk Yixing Eonni dan juga Suho Oppa. Aku tahu kau juga sangat bahagia Jongin, kau tak berhenti tersenyum sambil menatap mereka.

Apa aku berdosa, jika sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam hati kecilku,

"Apa Jongin juga akan sebahagia itu jika yang tengah mengandung adalah aku?"

Lalu aku menangis pada malam hari ketika kau terlelap dalam mimpi indahmu, mengadukan segala keluh kesahku dengan memanggil namamu.

"Jongin-ah~"

Aku rindu Sungmin Eomma, aku rindu Appa. Aku merindukan sebuah keluarga, aku merindukan sebuah rumah dimana aku akan merasa nyaman tanpa terbebani. Dimana aku bisa bercerita tentang bagaimana aku menjalani hari, tertawa saat seseorang melemparkan lelucon atau bahkan menangis saat aku tak mampu menanggungnya sendiri.

Aku menginginkan seseorang yang akan mengerti diriku, mendengarkanku, melindungiku serta memelukku saat aku merasa terpuruk. Dan entah kenapa aku hanya menginginkan Jongin yang akan menjadi seseorang yang seperti itu untukku. Aku ingin dia menjadi lelakiku, seutuhnya milikku. Aku lelah, aku butuh seseorang untuk bersandar, dan entah kenapa selalu nama Jongin yang bisa keluar dari mulutku.

Belum juga sempat aku mengklaim Jongin sebagai milikku, seseorang tiba-tiba datang dan memeperkenalkan diri padaku,

"Namaku Byun Baekhyun, calon istri oppa,"ujarnya bangga sambil melirik Jongin.

"T-tidak Kyung, dia hanya teman masa kecil dan... mantanku," –Jongin.

"Oh iya, kau juga bisa bersiap-siap untuk mencari namja lain pengganti Oppa, apa kau sudah punya pacar?" –Baekhyun.

"Ada apa dengan tatapanmu itu? Tentu saja kau bisa bercerai dengan Oppa, kau menginginkannya kan?" –Baekhyun.

Aku mencintainya Byun Baekhyun, jangan pernah berharap kau bisa merebutnya dariku.

"Yah! Apa kau sadar siapa kau sekarang?! Kau itu istri Kim Jongin, ada banyak saingan bisnisku yang akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkanku." –Jongin.

"Lagi pula tidak ada yang tau kalau aku istrimu," –Kyungsoo.

"Apa kau masih menyimpan perasaan padanya?" –Kyungsoo.

"Kenapa? Kau cemburu?" –Jongin.

Demi Tuhan, aku sudah cemburu sejak pertama kali mendapati wanita itu memelukmu di depanku Jongin. Bagaimana mungkin aku tidak cemburu ketika statusmu masih sebagai suamiku.

"Dia teman masa kecilku dan ibunya berteman dengan Eomma, jadi dia sudah kenal dekat dengan keluargaku," –Jongin.

"Oppa, jemputanku sudah datang, aku pulang dulu," –Kyungsoo.

Untuk pertama kalinya Kris Oppa bertemu dengan Jongin, aku gugup bukan main. Kuharap semuanya akan baik-baik saja.

"Yah! Mobilmu kan masih baru, masa kau mau beli lagi, Ferrari itu mahal Jongin," –Kyungsoo.

"Tidak, aku tidak membelinya untuk diriku, tapi untukmu." –Jongin.

Mungkin Ferrari bukan mobil yang tepat untuk seorang wanita, tapi apalah dayaku ketika Jongin adalah satu-satunya yang berhak untuk menentukan pilihan di sana.

"Kan sudah kubilang aku tidak bisa menyetir." –Kyungsoo.

"Aku yang mengajarimu." –Jongin.

"Duduklah di sini." –Jongin.

"Kau gila? Mana bisa aku belajar dengan cara seperti itu?!" –Kyungsoo.

Idemu gila Jongin, namun aku hanya menurutinya. Aku tak tahu bagaimana bisa kau memintaku untuk duduk di pangkuanmu saat mengajariku mengendarai mobil. Kau membuatku merasakan kehangatan yang berbeda, hingga membuat nadi-nadiku bergetar akibat desiran darah yang mengalir deras. Kehangatan yang membuat perutku seakan dihinggapi ribuan kupu-kupu hingga terasa geli. Sebuah kehangatan yang membuatku terbuai, hingga aku sangat ingin untuk terjebak dalam kehangatan yang memabukkan itu untuk selamanya.

"Kyungsoo, siapa yang menjemputmu kemarin?" –Kris.

"Eoh, bukan siapa-siapa," –Kyungsoo.

"Maaf aku tidak bisa menjemputmu." –Jongin.

"Aku bisa pulang sendiri, tanpa Jongin." –Kyungsoo.

"Kau tadi tidak pergi kemana-mana sepulang dari kampus?" –Jongin.

"Tidak," –Kyungsoo.

Untuk pertama kalinya aku berbohong padamu, tapi hari itu juga kau mulai mengabaikanku. Apa kau mengetahui kebenarannya? Apa kau tahu kalau sebenarnya aku pergi dengan Kris Oppa, aku minta maaf Jongin, aku hanya tak ingin membuat segalanya menjadi rumit.

"Kau tidak menghabiskan makananmu?" –Kyungsoo.

"Sudah kenyang," –Jongin.

"Jongin-ah, apa aku berbuat salah padamu?" –Kyungsoo.

"Tidak, tidak apa-apa," –Jongin.

"Lalu kenapa kau..." –Kyungsoo.

"Aku hanya ingin tidur seperti ini," –Jongin.

"O-oppa, kenapa kau menangis?" –Kyungsoo.

"Eomma, Eomma meninggal," –Kris.

"Ibuku tinggal di Daegu, taksi mana yang mau mengantarmu hingga ke Daegu?" –Kris.

"Aku ikut denganmu!" –Kyungsoo.

Itu salahku, harusnya aku tak langsung memutuskan untuk ikut dengan Kris Oppa ke Daegu, harusnya aku meminta izin dulu denganmu, harusnya aku sadar bahwa aku masih memilikimu yang jauh lebih harus kuprioritaskan. Tapi melihat keadaan Kris Oppamembuatku teringat dengan pengalaman masa kecilku. Aku tak bisa membiarkannya menghadapi ini seorang diri.

"Aku, aku sedang menemani teman, tidak bisa pulang sekarang." –Kyungsoo.

"Lalu kau mau pulang kapan? Kau akan naik bus sendiri di malam hari?" –Jongin.

"Jongin..." –Kyungsoo.

"Bagaimana kau bisa tidur eoh?" –Jongin.

"Apa kau tidak pernah tahu apa yang namanya khawatir? Kau tidak pernah lelah untuk membuatku kesal," –Jongin.

"Aku membawakanmu bekal, nanti dimakan ya," –Kyungsoo

"Kau tidak berniat untuk memaksaku kan?!" –Jongin.

"Kau mau kemana Jongin?!" –Kyungsoo.

"Aku rasa kita masih memiliki sisi pribadi masing-masing, kau tidak berhak mencampuri urusanku dan aku tidak akan mencampuri urusanmu!" -Jongin.

Aku menunggumu hingga larut, aku tak mau menyentuh makan malamku karena setahuku kau juga belum makan. Aku ingin makan malam bersamamu, aku berniat untuk berbicara dan meminta maaf padamu, aku tidak ingin kau terus bersikap seperti ini padaku.

Lalu kau datang, saat hari hampir sampai di sepertiga malam. Aku tidak percaya kau orang yang seperti itu,

"J-Jongin, k-kau mabuk?!" –Kyungsoo.

"Eunghh..." –Jongin.

"Yah! Apa yang kau lakukan!" –Kyungsoo.

Kau menciumku, terlampau intens karena kau tak pernah memperlakukanku sejauh itu. Kupikir itulah saatnya dimana aku akan menyerah padamu, ketika aku akan sepenuhnya menjadi milikmu meski mungkin kau takkan pernah mengingatnya. Aku tak apa jika hal itu benar-benar terjadi, tapi sekali lagi kau hanya mempermainkanku.

Bahkan noda lipstick yang tercetak di kerah baju serta lehermu membuat hatiku hancur tak berbentuk. Kenapa kau setega itu padaku?

"Bagaimana bisa kau melakukan hal ini padaku eoh?!" –Kyungsoo.

"Kau jahat Jongin, kau jahat!" –Kyungsoo.

Harusnya aku sudah siap dengan semua ini karena dari awal aku tak pernah memiliki hatimu, tapi kenapa aku tak bisa, kenapa begitu sakit hingga rasanya tak bisa bernapas? Setidaknya jangan memberiku harapan jika akhirnya kau akan seperti ini padaku.

"Lalu aku bagaimana?" –Jongin.

"Urus saja dirimu sendiri!" –Kyungsoo.

"Ayo kita jalan-jalan," –Kyungsoo.

"Apa aku tidak salah dengar? Kau mengajakku jalan-jalan?" –Kris.

"Namsan Tower?!" –Kyungsoo.

"Benar. Aku ingin mengunjunginya." –Kris.

"Aku takut ketinggian," –Kyungsoo.

"Aku tidak ingin membebanimu Kyungsoo, kita turun saja." –Kris.

"Ingin menulis gembok permohonan?" –Kris.

"Kenapa? Kau menulis nama siapa eoh?" –Kris.

"Bukan siapa-siapa." –Kyungsoo.

Tolong cintai aku, sebagaimana aku mencintaimu, Kim Jongin.

Do Kyungsoo.

Katakan saja aku bodoh. Bagaimana bisa aku masih mengharapkan namja brengsek sepertinya ketika jelas-jelas aku memiliki seseorang yang mencintaiku dengan begitu tulus di sini. Hatiku hanya berpihak padamu Jongin, dan aku tak tahu bagaimana cara mengubahnya.

"Pergi dengan Oppamu itu lagi?" –Jongin.

"Memangnya kenapa? Kau ingin melarangku?" –Kyungsoo.

"Terserah aku mau pergi kapan saja sesukaku, kau juga biasanya begitu." –Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya kajima~ Kau ingin meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi~" –Jongin.

Mimpi apa aku semalam hingga kau memelukku lagi dan melarangku untuk pergi? Kau menyentuh hatiku, tapi takkan meruntuhkan pendirianku. Aku tak mau kau bodohi lagi Jongin. Kumohon jangan bersikap seperti ini padaku.

"Kenapa kau terus menghindariku eoh?" –Jongin.

"A-Aku tidak menghindarimu." –Kyungsoo.

"Aigoo, kau bahkan berdandan saat akan bertemu Oppamu itu, aku cemburu." –Jongin.

"Berhenti Jongin." –Kyungsoo.

Berhenti memperlakukanku seperti ini, kau membuatku semakin tidak bisa membencimu.

"Aigoo, kau ini sensitif sekali." –Kris.

"Aarrghh, jangan mencubit pipiku!" –Kyungsoo.

"Kau ini benar-benar perempuan ya, sukanya main boneka." –Kris.

"Yah! Siapa bilang aku perempuan jadi-jadian. Cepatlah!" –Kyungsoo.

"Apa seseorang yang sedari tadi kau bicarakan adalah Kim Jongin?" –Kris.

"I-Itu..." –Kyungsoo.

"Kyungsoo?!" –Jongin.

"Oppa apa yang kau lakukan? Mengapa mengajakku kesini?" –Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya, aku rasa aku sudah gila," –Kris.

"Oppa berhentilah berkata seperti itu!" –Kyungsoo.

"Haruskah aku menemui eomma?" –Kris.

"Kau! Kalau kau bukan pembohong lalu katakan padaku bahwa kau juga mencintaiku sekarang juga!" –Kris.

"Oppa!" –Kyungsoo.

"Kenapa? kau takut?!" –Kris.

"Sakit," –Kyungsoo.

"Wae?! Biarkan saja, kau harus tau itu Kyungsoo! Lupakan namja sialan itu datanglah padaku, akan kuberikan apapun padamu Kyungsoo, apapun yang kau inginkan!" –Kris.

Kupikir aku akan kehilangan Kris saat itu juga, atau yang lebih buruk lagi aku juga ikut terseret dengannya hingga jatuh dari bangunan tersebut. Namun entah dari mana datangnya Jongin menyelamatkanku, matanya memerah berapi-api dan tanpa bisa kucegah ia memukuli Kris berulang kali, seakan mengungkapkan segala kemarahannya.

"Hentikan Jongin, kau tidak lihat dia sudah seperti itu!" –Kyungsoo.

"Apa kau hanya mengkhawatirkanya, tanpa memberiku kesempatan untuk mengkhawatirkanmu?" –Jongin.

"Kau tidak tahu betapa aku ingin mengambilmu darinya saat kalian pergi bersama! Kau tidak tahu bagaimana aku ingin memukulnya saat melihatnya membawamu ke tempat seperti ini! Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku ingin membunuhnya karena telah membuatmu dalam bahaya!"

"Jongin…" –Kyungsoo.

"Baiklah, lakukan sesuka hatimu. Memangnya kapan kau pernah mendengarkanku?" –Jongin.

"Jongin, aku…"–Kyungsoo.

"Kalian pergi ke Megabox dan menonton film romantic, lalu ke Ocean Theme Park, mencoba semua permainan di Game Zone, makan bersama lalu berakhir di klub malam, bagian mana yang belum kusebutkan!?" –Jongin.

"Dengarkan aku Kim Jongin-ssi. Aku memang pergi dengan pria itu dan memang pulang sangat larut, tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Aku bukan wanita seperti itu! Aku masih tahu diri dengan statusku sebagai istrimu bahkan meski kau tidak menganggapku sekalipun." –Kyungsoo.

"Woah, Aku terharu mendengar kalimatmu." –Jongin.

"Apa kau sendiri tidak sadar dengan apa yang sudah kau lakukan eoh? Kau tahu Jongin! HANYA LELAKI BAJINGAN YANG MENGHABISKAN MALAMNYA UNTUK MABUK-MABUKAN DENGAN WANITA LAIN KETIKA DIA MASIH MEMPUNYAI SEORANG ISTRI YANG TENGAH MENUNGGU KEHADIRANNYA DIRUMAH!" –Kyungsoo.

"Kalau kau masih menginginkan wanita itu, ceraikan aku." –Kyungsoo.

"APA YANG KAU BICARAKAN, APA KAU SEDANG MABUK?! SADARKAN DIRIMU KYUNGSOO!" –Jongin.

Aku menyesal mengatakannya Jongin, aku tak pernah bermaksud seperti itu. Jangan membentakku, aku takut.

"Jongin-ah mianhae~" –Kyungsoo.

"La-lalu, dimana eommamu?" –Jongin.

"Eomma sudah disurga, dia pergi sejak aku masih berusia 5 tahun," –Kyungsoo.

"Uljima, jebal uljima," –Jongin.

"Aku mencintaimu Kim Kyungsoo. Bagilah semua dukamu padaku, aku akan mendengarnya. Menangislah padaku, aku akan memelukmu dengan erat. Bergantunglah padaku, aku akan selalu melindungimu," –Jongin.

"Nado, Saranghae Jongin-ah." –Kyungsoo.

"Kim Kyungsoo, aku menginginkanmu," –Jongin.

"Baiklah," –Kyungsoo.

Kau adalah kelemahanku Jongin, mungkin aku takkan pernah bisa marah lebih lama padamu. Sekali kau bertingkah seperti ini padaku, seberapapun kecewanya hatiku padamu, seberapa besar pertahanan yang kubangun untuk menangkismu, aku takkan pernah bisa. Apalagi setelah kata cinta itu terucap dengan jelas dari bibirmu, biarkan aku menjadi bodoh untuk sejenak, aku ingin merasa bahagia setidaknya untuk kali ini saja.

"Anni, aku menyukainya sayang, aku menyukai segala yang ada padamu." –Jongin.

"Terima kasih telah menjaganya untukku," –Jongin.

"Aku juga, terima kasih telah memberikannya padaku." –Kyungsoo.

"Tapi kau jangan dekat-dekat dengan Kris oppamu itu, aku tidak suka," –Jongin.

"Eum, kau juga, aku tidak suka kalau kau bersama Baekhyun." –Kyungsoo.

"Jaljayo nae sarang." –Jongin.

Kuharap ini bukanlah sebuah mimpi, kuharap aku masih bisa melihat senyuman manismu lagi esok pagi, kuharap semua ini akan bertahan untuk waktu yang sangat lama.

Aku mencintaimu Jongin, sangat mencintaimu.

Jalja~

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Kan bonus doang, jadi dikit aja…

.

.-Give Me Something Sweet-.

160409

.

Hai, long time no see… Apa kabar kalian, masih tetep jadi KaiSoo shipper?

Aku ga tau apa ada yang masih berminat untuk baca ff ini apa ngga, tapi yang pasti rasanya akan berbeda setelah mengetahui kabar berita dari sang pemeran utama di cerita ini "KAI"

Meski aku bukan shippernya kaist*l tapi aku respect sama mereka kok, Krys kan cantique, jadi ya udahlah lumayan si Jongin bisa punya pacar cakep kek gitu -_- Tapi jujur saja, tetap berat rasanya melepas diaaa T_T Emang kita ga bisa ngelarang sih, dan juga plis jangan bash Jongin apalagi berita akhir-akhir ini banyak yg mojokin dia banget, tetaplah menjadi fans yang baik dan selalu mendukung idolanya yaa…

Chap 12 update besok. TYPE YOU REVIEW GUYS, mari saling berbagi cerita…

Special Thanks for :

nina zipark : thanks for reading GitARMY : makasih kemaren udah doain aku biar cpet dilamar Jongin, hamdalah sekarang dia dating sama cewe lain, huweee.. xkaisoone : aww, adegaann~ :D Defti785 : Eonniiii, I'm back! Iya-iyaa, nc dikurangin, hehe.. chocohazelnut07 : iya udah bersatu~ alyaaaa : yakali, cepet bgt chap depat langsung hamil, butuh proses bukk :D Kim zangin : iyaa, aku selalu berusaha buat jawab review kok, tenang ajaa, makasih. annisadamayanti54 :makasihh, sudah selalu setia membaca.. nara : gomawoo.. Rahmah736 : minta sweet plus hot scene? Haha, berat tuh. sekyungbin13 : nasib KrisBaek liat nanti sajaaa.. 00kris : Ya ampuun, ncnya dibilang bagus. Aku terhura :D Sofia Magdalena : pada seneng banget dah kalo baca nc :D gomawo kakakk.. kaisoomin : iya dilanjut. 12154kaisoo : udah dilanjut chingu Nadhefuji : haha, iya naik rate kkkk~ jihanowl7 : masa iya aku kelas 3 sd? SMA lahh, sd mah ga boleh bikin beginian :D Kim YeHyun : iya, mungkin ga cape baca 10k, tapi nulisnya capek wkwk.. Nihayah : aminn, makasih doanyaa.. humaira9394 : haha, seru lohh kalo baca terus ketemu tbc, greget jadinya :D aku kelas 3 sma, udah mau lulus sih sekarang :D Guest : masih kaga puas?! Lalu bagaimana cara memuaskanmu #plakk :v dokyungsoo12931494 : fluffy2, nc dibanyakin, terserah apa maumu saja lahh :D hnana :hehe, iya gapapa kok. Terima kasihnya dikembaliin lagi yaa #berasamainbadminton SNAmaliia : makasih udah baca krisna park ziwu : hai chingu sesama kelas 3, nih aku udah update setelah un Yoosumarcel : haha, makasih yaa.. HappyHeichou : jgn dibikin konflik lagi? Hmm, terserah author dongs :D Mita622 : up ngaret jadinyaa.. vanillagee : welcome new reader sarnikelodeon : hehe, ff ini emang rame rasanya nina zifan : okay, hi nina! Ini sudah dilanjut habis un Yohannaemerald : makasih udah sukaa olifafuadah : baozii, reviewmu limited bgt, abis ini review lagi ya :D kaisoo : udah dilanjuutt yhnr12 : THANK YOUUU Patricia Cornelia : udah diupdate chinguu, maaf lama.. pepero yosi9 : ga digantung kok, kemaren Cuma hiatus kim rin :udah nih elezam : makasih udah nunggu.. FuuuuuDO : Iya, nunggu free baru bisa update Jihan Park : ini diupdate chinguu.. Nilam Anindy : ehemm, eciee-ciee akun baru nih ye, selamat datang di dunia gelap(?) ffn :D abis direview nindy langsung update nih. Salam cinta juga dari bang dyo…

I MISS HIM SO BAD!

THANKS FOR READING…