Title: Who will be the Father?

Pair: someone - Joonmyun

Other pair: temukan di dalamnya hoho

Genre: comedy, YAOI, M-PREG

Rate: M

Part 12

Who will be the father?

.

.

.

.

.

Jongin yang baru pulang kuliah merasa bingung, kenapa cuma ada Chanyeol dan Sehun yang menjaga Joonmyun?

"hai, Myun. Bagaimana keadaanmu?" dia meletakkan plastik berisi makanan ringan untuk mereka semua di atas meja.

Joonmyun tersenyum menyambut kedatangan Jongin. "perutku masih terasa sakit, tapi aku baik-baik saja" terlihat Sehun tertidur di atas kursi yang berdekatan dengan brankar Joonmyun. Jongin menghela napas, Sehun pasti sangat lelah.

"kau masih belum bertemu bayimu?" Jongin mengusap pipi Joonmyun yang sedikit dingin karena efek pendingin ruangan.

"belum, kata Luhan hyung masih ada prosedur yang harus dilakukan sebelum aku bertemu dengan bayiku"

"bersabarlah sedikit lagi"

"iya hyung, terimakasih"

Jongin menghampiri Chanyeol yang sedang bermain game di sofa. "ke mana yang lain?" lalu duduk di sebelah pria itu.

Chanyeol menoleh, meletakkan ponselnya di atas meja. "hai sayang" cengirannya terlihat.

Jongin tidak peduli. "mana yang lain?"

"hai sayang~" berharap Jongin membalas.

Jongin menghela napas lagi. "hai juga. mana yang lain?"

"eum.. Zitao kuliah, Luhan hyung sedang ada jadwal bedah, Kris dan Baekhyun belum pulang" Chanyeol selesai menjelaskan.

Jongin mengangguk. "ini sudah tiga hari, tapi kenapa bayi─"

"hai. Joonmyun, kau tidak tidur siang?" Luhan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

"aku tidak mengantuk hyung" Joonmyun meletakkan buku yang sudah selesai dia baca.

"kau sudah selesai membedah, hyung?" Chanyeol bertanya.

"ya, aku sudah selesai. Aku ingin memberi tau tentang perkembangan bayimu Joonmyun" dengan hati-hati Luhan berkata.

Di saat itu Sehun terbangun, dia kurang jelas mendengar ucapan Luhan barusan. "apa yang kau katakan?"

"perkembangan bayi Joonmyun" ulang Luhan.

Chanyeol dan Jongin beranjak mendekati mereka agar bisa ikut mendengar.

Joonmyun sumringah. "bagaimana keadaannya, hyung? a-apa aku sudah bisa bertemu dengan bayiku?"

Luhan menatap lembut pada Joonmyun, namun dibalik tatapan lembutnya terdapat rasa miris. Bagaimanapun dia tetap harus jujur pada pemuda manis itu tentang bayinya yang lahir prematur dan sekarang masih berada di dalam inkubator.

"bayimu terlahir prematur, Joonmyun. Dia butuh perawatan intensif hingga keadaannya stabil seperti bayi-bayi yang lain. Tapi secara keseluruhan, dia tidak mengalami cacat apapun"

Semuanya terdiam. Mereka khawatir terhadap ekspresi Joonmyun yang seperti tanpa nyawa, Sehun pun menggenggam tangan Joonmyun dan meremasnya pelan untuk memberikan kekuatan.

"oh.. begitu?" bahu Joonmyun melemas, begitu pula dengan senyumannya. "setidaknya dia baik-baik saja kan? aku bersyukur"

Sehun merasakan genggaman tangan Joonmyun yang perlahan menguat, dia tau bahwa Joonmyun sedang mati-matian tegar.

"jika kau.. ingin melihat bayimu, sekarang adalah waktu yang tepat. Tapi kau tidak bisa masuk ke dalam, hanya bisa melihatnya dari jendela. tidak apa?"

Joonmyun mengangguk, berusaha menunjukkan senyumannya. "iya hyung, tidak apa-apa. aku ingin melihatnya, aku sudah sangat rindu"

Chanyeol dengan sigap mengambilkan kursi roda untuk Joonmyun yang terletak di pojok ruangan. Sehun pelan-pelan menggendong tubuh mungil Joonmyun lalu mendudukannya di atas kursi roda tersebut sementara Jongin yang akan mendorongnya dari belakang.

Mereka bersama-sama keluar dari kamar Joonmyun kemudian berjalan menuju ke ruang bayi.

"aku tidak sabar ingin melihat bayinya" Chanyeol diam-diam bersemangat, di sebelahnya Jongin hanya tersenyum saja.

Sehun masih menggenggam tangan Joonmyun dan mungkin karena Joonmyun merasa gugup, dia jadi memain-mainkan jari Sehun dalam genggamannya hingga berkeringat.

Luhan masuk ke dalam ruang bayi, dari dalam dia membuka tirai jendela agar Joonmyun bisa melihat bayinya yang berada di inkubator.

"itu bayinya?" kali ini Jongin yang berbisik di sebelah Chanyeol.

"ya.. itu bayinya" Chanyeol memandang miris bayi kecil yang malang itu. bahkan untuk bernapas saja, bayi itu memerlukan oksigen dari dalam tabung.

Joonmyun tak dapat menahan air matanya lagi, dia menangis sejadi-jadinya melihat bayi yang dia lahirkan kini terbaring lemah dengan pernapasan yang terlalu cepat membuat perut kecilnya naik dan turun tidak beraturan.

Sehun berlutut di sebelahnya, "kau sudah melakukan yang terbaik, kalian berdua sangat hebat. Bayimu baik-baik saja.. jangan pernah berhenti berdoa untuknya" ia mengecup tangan Joonmyun.

"aku merasa bersalah hyung, aku lah yang membuat keadaannya menjadi seperti itu" Joonmyun terisak.

"tidak, Joonmyun. Ini kehendak Tuhan" Sehun memeluk Joonmyun dengan erat sambil mengusap punggungnya.

Jongin sudah membuang pandangannya ke arah lain, disamping tidak tega melihat bayi Joonmyun dia berusaha menahan tangisnya juga. Chanyeol pun merasakan hal yang sama, dia mengusap rambut Joonmyun agar pemuda manis itu tenang.

Dari dalam, Dokter Luna melihat pemandangan sedih itu. "Joonmyun tidak bisa terlalu lama di Rumah sakit karena akan mempengaruhi pemulihannya. Dia harus pulang ke rumah atau ke tempat yang lebih terbuka dan segar"

Luhan pun menanggapi, "aku mengerti. Bagaimana dengan bayinya?"

"bayinya masih harus di sini untuk satu atau dua hari ke depan"

"aku akan membicarakannya dengan Joonmyun" Luhan keluar lagi dari ruangan bayi diikuti oleh Luna di belakangnya. "Joonmyun, kau sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit tapi bayimu harus berada di sini"

Sehun dan Joonmyun merenggangkan pelukan mereka, "aku ingin bersama bayiku, hyung" ucapnya lemah.

"kau akan tertekan jika berada di Rumah sakit terlalu lama, kau butuh udara segar" Luna menjelaskan. "bayimu baru bisa dibawa keluar satu atau dua hari lagi"

"aku mohon.. aku tidak mau berjauhan dengannya" kali ini Joonmyun lebih memelas.

Luna dan Luhan saling berpandangan sebentar. "baiklah, bayimu bisa dibawa pulang tapi tetap harus menggunakan peralatan untuk perawatan intensif di rumah"

Joonmyun menggenggam tangan Luna. "terimakasih Dokter, aku sangat berterimakasih banyak"

Luna tersenyum hangat, "aku akan mengunjungimu dan bayimu setiap hari untuk membantu pemulihan kalian"

"terimakasih banyak" Joonmyun ikut tersenyum dalam tangisnya.

.

.

.

.

.

Untungnya hari ini Baekhyun tidak memakai eyeliner karena dia kembali menangis terisak saat melihat bayi Joonmyun yang berada dalam inkubator.

"ya Tuhan, aku tidak sanggup melihatnya.. aku tidak sanggup" sambil menangis dia memotret bayi Joonmyun menggunakan ponselnya.

Kris yang melihat itu sebenarnya ingin tertawa, tapi dia tahan mati-matian karena ini masih dalam suasana sedih.

"hei, bayinya baik-baik saja kan? dia sangat kecil seperti itu" Kris berbisik pada Luhan.

"secara keseluruhan bayinya baik-baik saja tanpa cacat. Hanya tubuhnya terlalu kecil, nutrisi yang kurang, pernapasan yang belum stabil, dan kulitnya lumayan kering"

"bagaimana reaksi Joonmyun saat melihatnya?"

"kau pasti bisa menebak" Luhan menatapnya, "menangis, Kris"

Kris mengangguk, "ya sesuai dugaanku"

Baekhyun menghampiri mereka, "seharusnya aku tidak menangis.. tidak, seharusnya tidak begini" lalu dia terisak lagi. "hyung, tolong tutup lagi tirainya"

Luhan menatap bingung pada Baekhyun, "baiklah. Kalian duluan saja ke kamar Joonmyun, nanti aku menuyusul. Ah iya, besok luangkan lah waktu kalau kalian bisa karena besok Joonmyun akan pulang ke rumah" setelah itu Luhan masuk kembali ke ruang bayi.

"jangan menangis, nanti Joonmyun juga jadi ikut sedih" Kris mengusap air mata Baekhyun.

"aku berencana memberikan foto ini besok pada Orang tua Joonmyun" Baekhyun berucap mantap.

"apa? besok kau ingin menemui mereka?"

"ya, aku akan menemui mereka. Orang tua macam apa mereka tidak mau mendampingi Joonmyun ketika Joonmyun melalui masa sulit? Justru mereka mengusir Joonmyun dengan tega" perlahan Baekhyun menghentikan tangisannya.

"mau kutemani?" Kris menawarkan diri.

Mereka saling menatap dalam diam.

Baekhyun merona, "b-boleh. Tanyakan juga pada yang lain" bisa gawat jika besok mereka hanya berdua, Baekhyun gugup setengah mati.

Merekapun ke kamar Joonmyun. Karena Kris dan Baekhyun pulang terlalu sore, kini mereka hanya bisa melihat Joonmyun tertidur dengan tenang di atas brankar dengan ─seperti biasa─ ditemani oleh Sehun di sampingnya.

"bagaimana keadaannya?" Baekhyun menghampiri, mengusap rambut Joonmyun yang mulai panjang.

"dia sangat terpukul setelah melihat bayinya, tapi seperti itu lah Joonmyun.. masih bisa tersenyum walau menangis" Sehun menghela napas.

Baekhyun mencium pipi Joonmyun, "besok aku akan menemui Orang tuanya, kau ingin ikut?"

"kau mau menemui mereka? tanpa sepengetahuan Joonmyun?"

"tentu saja. kalau Joonmyun tau dia akan melarangku, bodoh" Baekhyun melotot.

"aku ikut!" sahut Jongin dari sofa sana, di sebelahnya Chanyeol melambaikan tangan mengisyaratkan bahwa di juga ingin ikut.

"Tao?" Kris bertanya pada Zitao yang sedang makan kimbab buatan Baekhyun.

"tidak, besok aku harus kuliah" dia menjawab dengan mulut penuh.

"baiklah. berarti aku, Kris hyung, Jongin hyung, Chanyeol hyung, dan kau Sehun hyung?" Baekhyun bertanya lagi.

Sehun menggeleng, "setelah pulang ke rumah siapa yang menjaga Joonmyun kalau kalian semua pergi menemui Orang tuanya?"

"oh iya benar" Baekhyun tertawa kikuk, merasa bodoh.

Kris duduk di sebelah Zitao, mengambil satu kimbab buatan Baekhyun untuk dicoba. Setelah memakan kimbab itu, tanpa sadar pipinya merona. "woah, Baek. Ini lebih enak dibanding yang kemarin-kemarin"

"benarkah? Kenapa jadi kalian yang makan? Sisakan juga untuk yang lain"

Jongin dan Chanyeol langsung tanggap, "jadi itu untuk bersama-sama?" tanya Chanyeol.

Baekhyun melongo, "tentu saja, aku membuatnya untuk kita semua"

Mereka berdua pindah ke dekat Zitao dan Kris lalu mulai menyantap kimbab itu cepat-cepat sebelum dihabiskan si monster kimbab buatan Baekhyun ─Zitao.

"kukira ini pesanan Zitao seperti biasa" kata Jongin.

"tidak, aku membuatnya untuk kita semua" Baekhyun merapihkan selimut Joonmyun, sementara Sehun ingin merebahkan diri sebentar di atas sofa. Selama menjaga Joonmyun dia tidak pernah merasakan nyamannya sofa di dalam kamar ini.

"kau memang jago masak, Baek. istri idaman"

Semua berhenti bergerak ketika Kris mengucapkan hal itu.

Chanyeol menyernyit, "istri idaman?"

Kris mematung, "maksudku seperti istri idaman, istri idaman itu kan biasanya yang jago memasak" ralat Kris berusaha santai.

Sementara Baekhyun sibuk merapihkan obat-obat Joonmyun di atas nakas yang sebenarnya dia sudah merona parah berkat kata-kata Kris tadi. Istri idaman? Istri idaman untuknya? Tidak mungkin, Baekhyun menepis jauh-jauh pemikiran itu.

"cih, istri idaman? Akan jadi apa anaknya jika punya Ibu seperti dia?" Zitao mengejek.

Lalu detik berikutnya betapa indah lemparan sepatu Baekhyun tepat mengenai kepala Zitao. Chanyeol tertawa paling kencang di antara yang lain, jadi setelah itu sepatu Baekhyun berpindah ke kepalanya berkat ulah Zitao.

Jongin tertawa geli, "tidak bisa kubayangkan kalau suatu saat kita tidak tinggal bersama lagi"

Lalu kembali hening karena ucapan Jongin.

"apa yang kau bicarakan? Kita akan tetap tinggal di rumah Baekhyun" kata Kris cuek.

"memangnya kalian tidak mau menikah dan punya rumah sendiri bersama istri kalian?" Jongin bertanya polos.

"nanti kan kau akan jadi istriku juga" Chanyeol memeluk pinggang Jongin, kemudian Jongin menampar pipinya.

"kita kan keluarga, keluarga tidak Saling meninggalkan" Baekhyun tersenyum pada yang lain.

Kris mengangguk setuju padanya.

.

.

.

.

.

Hari ini Joonmyun telah pulang ke rumah. Sebelumnya Baekhyun sudah membersihkan kamar Joonmyun, jadi Joonmyun dan bayinya dapat menempati kamar itu dengan nyaman.

Terdapat tabung oksigen dan lampu pemanas yang terpasang di dekat ranjang bayi Joonmyun. Untuk sementara ini si bayi tidak bisa tidur satu ranjang bersama Ibunya. Sungguh disayangkan bagi Joonmyun.

"tangannya sangat kecil.." Joonmyun menggenggam tangan bayinya menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.

"jika nutrisinya sudah terpenuhi, keadaannya akan normal seperti bayi-bayi yang lain" Luna menenangkan Joonmyun, dia menekan tombol lampu pemanas dan diarahkan pada si bayi di ranjangnya.

"apa susu formula yang bagus untuknya, Dokter? Aku akan membelinya nanti" dia bertanya.

Luna mengusap punggung Joonmyun, "aku sudah membelikannya, Joonmyun. Sekarang adalah waktunya kau untuk istirahat"

Baekhyun juga datang ke kamar membawa menu makan siang untuk Joonmyun. "kau harus makan makanan yang sehat, Joonmyun. Ayo duduk lah"

Sehun menuntun Joonmyun untuk duduk di atas ranjang dengan hati-hati lalu Baekhyun mulai menyuapi Joonmyun makan. Benar kan, dia sudah seperti Ibunya Joonmyun.

"ngomong-ngomong, kau sudah menentukan nama untuk bayimu, Joonmyun?" tanya Luna.

Joonmyun diam, dia saling berpandangan dengan Sehun.

"eum.. aku belum menemukan nama yang tepat untuknya"

"nanti aku dan yang lain akan merekomendasikan nama yang bagus, Myunnie. Hehe tenang saja" Baekhyun nyengir.

"terimakasih, Baekkie" Joonmyun tersenyum lalu kembali makan.

Sehun keluar dari kamar lalu dia menuju ke ruang tengah, di sana dia bertemu dengan yang lain. Sepertinya mereka menunggu Baekhyun untuk segera pergi ke rumah Orang tua Joonmyun.

"mana Baekhyun? dia sudah menyuapi Joonmyun makan?" tanya Luhan.

Sehun duduk di sofa. "belum selesai. Kau ikut ke rumah Orang tua Joonmyun?"

"tidak, aku di sini menemani Dokter Luna. Dia akan lelah jika bekerja sendirian"

"kira-kira bagaimana reaksi Orang tua Joonmyun ya?" sahut Jongin sambil menerawang apa yang dia pikirkan.

Chanyeol menanggapi, "kupikir mungkin mereka akan berubah pikiran"

"tidak, menurutku sebenarnya mereka sudah khawatir pada Joonmyun sejak mereka mengusirnya" Kris berargumen. "bagaimanapun juga Joonmyun anak yang baik, Orang tuanya pasti menyesal telah melakukan itu"

Benar juga apa yang dikatakan Kris.

Terlihat Baekhyun lewat di depan ruang tengah lalu dia menuju ke dapur, mungkin akan mencuci piring terlebih dahulu.

"baiklah, aku keluar duluan" Kris beranjak untuk menyiapkan mobilnya di luar.

"Hun, kau serius tidak mau ikut?" Jongin bertanya pada Sehun.

"tidak, aku mau menjaga Joonmyun di sini. Kalian pergi lah, semoga kalian berhasil membujuk Orang tuanya"

"ayo, Jongin-ah" Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Jongin, namun Jongin beranjak tanpa menerima uluran tangannya. Ya sudah, dia pasrah.

Setelah mereka pergi, tersisa Luhan dan Sehun di ruangan itu. mereka saling diam, mungkin mengistirahatkan pikiran mereka masing-masing setelah kejadian beberapa hari terakhir.

Terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat ke arah ruang tengah, Keduanya refleks menoleh ke depan pintu.

"mereka sudah keluar? ah sial, kenapa tidak menungguku?!" setelah bertanya yang belum sempat dijawab sama sekali oleh Luhan ataupun Sehun, Baekhyun kembali berlari pergi.

Suasana kembali hening.

"Sehun, aku rasa kau harus cepat me─"

"hyung, aku ingin menikahi Joonmyun secepatnya sebelum akta kelahiran bayinya dibuat" Sehun memotong kalimat Luhan.

"baru saja aku ingin memberitaumu begitu. kau harus segera menikahi Joonmyun jika kau ingin namamu tertera di akta sebagai Ayahnya"

"ya ya, aku bisa melakukannya" Sehun mengangguk-ngangguk sambil melamun, memikirkan segala konsekuensi. "aku akan menyelesaikan kuliahku dengan cepat, mencari kerja, lalu aku bisa menghidupi Joonmyun dengan uangku sendiri"

Luhan tertawa melihatnya, "memangnya sebelum kau lulus kuliah kau akan menghidupi Joonmyun dengan uang siapa?"

"uangku─" Sehun menoleh pada Luhan, "─yang diberikan dari Ibuku" lanjutnya lagi sedikit berbisik.

"ini lah mungkin yang membuat Kris cemburu setengah hidup padamu, dia juga berpikir Joonmyun tidak pantas bersamamu karena kau tidak semapan dirinya untuk menjadi suami Joonmyun" sedikit jahat, ya ucapan Luhan sedikit jahat.

Menohok hati Sehun yang terdalam, tapi Sehun hanya tersenyum. "aku akan melakukan apapun untuk Joonmyun, aku akan membahagiakannya. Itu janjiku, bukan hanya pada Joonmyun tapi juga padamu dan yang lain"

Luhan melihat sesuatu dalam diri Sehun, ia bisa melihat bagaimana nantinya Sehun menjadi sosok yang berarti bagi Joonmyun dan putranya. "aku tidak meragukanmu kok"

"dari caramu bicara sepertinya begitu" balas Sehun.

"tidak. bahkan aku salut dan bangga padamu, kau bisa melakukan apa yang tidak bisa kami lakukan. Aku menyesal mengingat bagaimana aku hanya terfokus untuk mendapatkan hati Joonmyun, melupakan kenyataan bahwa bayinya harus cepat-cepat memiliki Ayah. Bukan hanya aku, kami semua menyesal." Jelas Luhan panjang lebar.

Sehun juga menatap Luhan tepat di manik mata, "apa kau benar-benar sudah merelakannya?"

"aku bahagia jika dia jatuh ke tangan orang yang tepat" Luhan tersenyum tulus. Iya, Sehun bisa melihat ketulusannya.

"aku minta maaf, jangan kau pikir aku bahagia tanpa merasa bersalah sama sekali. aku juga tidak menduga bahwa Joonmyun menerimaku. Aku minta maaf pada kalian"

"ya, apapun itu aku mendukung kalian kok" Luhan menepuk-nepuk bahu Sehun. "asalkan Joonmyun bahagia"

"aku pastikan dia bahagia hyung"

Lalu mereka terdiam lagi.

"kapan kau menikahinya?"

"hari ini, besok, minggu depan, kapanpun bisa. Tapi aku tetap butuh bantuan kalian. Bagaimanapun, Joonmyun harus menikmati pesta pernikahannya"

"kami pasti membantumu. Yang penting sekarang adalah Orang tua Joonmyun, mereka tidak menemani Joonmyun selama Joonmyun hamil, jangan sampai mereka tidak menemani Joonmyun di hari pernikahannya"

Sehun diam, dia tersenyum sambil menatap Luhan. seperti sedang memikirkan sesuatu.

"kau kenapa?" Luhan gemas padanya, dia pun mencubit pipi Sehun.

"apa kau pikir bagus jika kunikahi dia besok?"

"kapanpun itu, aku yakin semua akan berjalan lancar. Tapi bagaimana dengan Orang tuamu? Mereka kan juga harus tau bahwa putra mereka yang penyuka sosis siap makan ini, akan segera menikah" dia tertawa ketika mengatakannya.

Sehun juga jadi ikut tertawa, "kau benar. aku harus memberitau Ibuku"

Who will be the father?

Kris menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana, dipenuhi tanaman hijau, serta membawa kesan segar pada yang melihat.

"ini rumah Joonmyun?" tanya Kris.

Baekhyun menyiapkan dirinya agar tetap terlihat rapih, "iya ini rumah Joonmyun" dia menatap hamparan tanaman hijau yang mengelilingi rumah itu. "Ibu Joonmyun adalah wanita yang tegas sedangkan Ayah Joonmyun menjunjung tinggi kesopanan dan pendidikan"

Chanyeol dan Jongin menatap heran pada Baekhyun. "kau takut pada mereka?" Jongin bertanya.

Baekhyun masih memperhatikan rumah Joonmyun, menebak-nebak apakah Orang tua Joonmyun ada atau sedang pergi keluar. "aku pernah diomeli habis-habisan oleh mereka karena mengajak Joonmyun ke Lotte World sampai malam"

Kris tertawa karena gemas pada Baekhyun, dia pun mengusak pelan rambut bocah itu. "ayolah, mereka tidak akan mengomelimu hari ini. kita beritau tentang Joonmyun, negosiasi dengan mereka, jika mereka luluh kita bawa mereka pada Joonmyun, jika tidak ya sudah kita pergi saja. simple" katanya.

Terhitung sudah berapa kali Baekhyun merona seperti anak gadis gara-gara ulah Kris. "iya hyung, ayo kita masuk sekarang"

Mereka turun dari mobil bersama-sama. Chanyeol menekan tombol bel yang ada di samping pagar, lalu terdiam menunggu sampai Orang tua Joonmyun keluar.

Jantung Baekhyun serasa jatuh ke perut ketika Ibu Joonmyun membuka pintu.

"Baekhyun?" wanita paruh baya itu bingung melihat Baekhyun datang bersama tiga pemuda yang tidak dikenalnya.

"s-selamat sore Bibi, apa kabar?" bagaimanapun Baekhyun harus tetap tersenyum, mereka semua membungkuk hormat.

Ibu Joonmyun membalas senyumnya, dia membukakan pintu pagar untuk mereka. "ayo masuk lah dulu" ia mempersilahkan pemuda-pemuda itu untuk duduk di kursi teras depan rumah.

Setelah mengambilkan minum, Ibu Joonmyun juga ikut duduk bersama mereka. "terimakasih, Bibi. Maaf kedatangan kami mengganggu Bibi"

"tidak sama sekali, Baekhyun. sudah lama kau tidak main ke sini semenjak berbeda kelas dengan Joonmyun. Kalau kedatanganmu ke sini karena mencarinya, Joonmyun sedang tidak di rumah"

Baekhyun sedikit kesal karena ucapan Ibu Joonmyun barusan. "maaf Bibi, kedatanganku ke sini justru ingin membawa kabar tentang Joonmyun"

Ibu Joonmyun terlihat tegang mendadak.

Chanyeol dan Jongin tidak melewatkan setiap ekspresi wanita itu. mulai dari bingung melihat kedatangan mereka, tersenyum mempersilahkan masuk, lalu sekarang seperti akan ditembak mati: Pucat seketika.

"k-kau tau mengenai Joonmyun?" suaranya terdengar serak dan bergetar.

"setelah Paman dan Bibi mengusirnya, Joonmyun datang ke rumahku dan sampai sekarang pun dia tinggal bersamaku"

Perlahan Ibu Joonmyun meneteskan air matanya, dia menyambar tangan Baekhyun untuk digenggam dengan sangat erat. "syukurlah dia bersamamu, aku selama ini sangat khawatir pada keadaannya. Aku sangat menyesal sudah mengusirnya, terimakasih banyak Baekhyun"

"tapi kenapa kau mengusirnya? Dalam keadaan seperti itu, seharusnya kau mendukung dan membantu Joonmyun. Beruntung Joonmyun tidak menjadi gila dan bunuh diri" sungut Chanyeol tidak peduli bahwa dia sedang berbicara dengan seseorang yang lebih tua.

"ya, beruntung dia memutuskan ke rumah Baekhyun. apa kau tidak berpikir tentangnya saat kau mengusirnya? Apa kau tidak mengingat bagaimana kau melahirkan Joonmyun dan merawatnya sampai besar?" Kris menatap tajam Ibu Joonmyun.

Kini wanita itu merasa seperti sedang ditelanjangi bulat-bulat lalu dipermalukan di depan semua orang. Pemuda-pemuda ini memojokkannya setengah mati.

"aku juga menyesal telah melakukannya, sangat menyesal. Joonmyun adalah putra kami satu-satunya, dia berprestasi dan menjadi anak yang penurut, dia adalah harapan besar kami. Namun semua harapan itu pudar saat tau bahwa dia hamil diluar nikah, bahkan dia tidak tau siapa yang menghamilinya. Suamiku sangat emosi, tanpa berpikir panjang kamipun mengusirnya dari rumah" tangisan itu menjadi semakin pecah.

"bukan berarti kau harus melakukan itu pada Joonmyun. Justru karena dia anak yang sangat baik, kau harus tetap menganggapnya seperti itu, juga seharusnya kau menerima kehadiran cucumu" Kris menanggapi.

Baekhyun mengambil ponselnya, membuka galeri foto, lalu memperlihatkan foto bayi Joonmyun yang berada di dalam inkubator pada Ibu Joonmyun.

"ini adalah bayi Joonmyun, cucu Bibi" ucapnya.

Saat Ibu Joonmyun melihat foto itu, air matanya menetes semakin deras. "Baekhyun, Bibi ingin bertemu dengan Joonmyun. Bibi mohon, Bibi ingin bertemu dengannya sekarang juga"

"kalau bisa Paman juga harus ikut, Joonmyun sangat merindukan kalian. Dia sangat mengharapkan kehadiran Orang tuanya saat melahirkan tempo hari"

"Paman sedang di luar kota, tapi Bibi akan menghubunginya nanti. Sekarang juga Bibi ingin bertemu dulu dengannya, Bibi ingin meminta maaf"

"tentu saja" Baekhyun langsung mengangguk.

Sementara mereka masih berbicara, Chanyeol menoleh pada Jongin yang sedari tadi hanya diam. "kau baik-baik saja?" ia menyadari bahwa Jongin ternyata sedang menangis.

Jongin menggenggam tangan Chanyeol, "aku bersyukur, ternyata Joonmyun masih mendapat cinta dari Ibunya"

Dan Chanyeol mengecup tangan Jongin untuk menenangkannya.

.

.

.

.

.

Seakan semua rasa sakit Joonmyun pudar dan menghilang saat dia memperhatikan bayinya. karena Joonmyun tidak memiliki asi, mau tidak mau putra kecilnya harus meminum susu formula menggunakan botol.

"ya ampun, dia sudah pandai menghisap" Joonmyun sumringah memperhatikan bayinya meminum susu sambil memejamkan mata, ia dengan senang hati memegangi botolnya sejak tadi.

Luna mengusap bahu Joonmyun, "dia adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padamu"

Joonmyun mengangguk, "dia malaikatku, Dokter. Berkat dia, aku berjuang dan bertahan melewati semua ini"

"kau tau, perkembangan bayimu meningkat dengan pesat. dalam waktu dekat dia tidak akan memerlukan tabung oksigen lagi"

"benarkah? Syukurlah kalau begitu.. aku tidak tega melihatnya seperti ini" Joonmyun meletakkan botol susu tadi yang sudah kosong, dia perhatikan bayinya yang sudah tertidur dengan nyenyak. "Dokter, terimakasih banyak sudah membantuku"

"sama-sama, aku sangat bangga padamu. Setelah semuanya beres, jaga lah kesehatanmu dan bayimu dengan baik"

Luhan masuk ke dalam kamar Joonmyun, dia cukup terharu melihat Joonmyun yang menggenggam tangan bayi mungilnya.

"bagaimana keadaannya?" tanya Luhan seraya menyapa.

"dia sudah minum susu, hyung. dia sangat pintar" kata Joonmyun penuh dengan kekaguman.

Luhan tersenyum, "pintar seperti Ibunya. Perutmu masih sakit?"

"sudah tidak terlalu sakit, obat yang Dokter Luna berikan juga sudah hampir habis"

"kalau begitu, aku pamit dulu. Aku janji makan malam di rumah bersama suamiku" ujar Luna sambil beranjak.

"ah, tapi aku tidak bisa mengantarmu pulang" Luhan berucap sesal. "maaf"

Luna terkekeh pelan, "tidak apa-apa kok. Aku bisa naik taksi"

"loh, memangnya Sehun hyung ke mana?" Joonmyun sadar bahwa dia tidak melihat Sehun sejak tadi.

"dia sedang keluar, ada urusan penting" mau tidak mau Luhan harus berbohong.

"Joonmyun?! Kau sudah pulang ternyata!" tiba-tiba Zitao datang dari luar. oh, dia baru pulang kuliah rupanya.

"Zitao, tolong kau antarkan Dokter Luna pulang ke rumahnya" perintah Luhan.

"apa?" wajah sumringahnya berubah menjadi bingung seketika.

"Luhan, aku bisa pulang naik taksi. Tidak apa-apa kok"

"Zitao.." Luhan diam-diam melotot padanya.

"ah iya baiklah, aku akan mengantarmu Dokter. Silahkan" Zitao mempersilahkan Luna untuk keluar lebih dulu dari kamar.

"terimakasih. Joonmyun, minum obatmu dengan teratur ya. aku pulang dulu, sampai jumpa" dia pun pergi diikuti oleh Zitao di belakangnya.

"Zitao, jangan ngebut!" teriak Luhan mengingatkan. "Joonmyun, aku akan mandi dulu setelah itu─"

"Luhan hyung" panggil Jongin yang masuk ke kamar. lagi-lagi suasana antara Joonmyun dan Luhan harus terinterupsi kedatangan orang lain.

"oh, kalian sudah pulang rupanya"

"ada seseorang yang ingin menemui Joonmyun" ucapnya lagi.

Luhan mengangguk mengerti. Dia mengusap rambut Joonmyun sebelum akhirnya keluar dari kamar pemuda manis itu. Joonmyun memandang bingung pada Jongin yang mengisyaratkan seseorang di luar untuk masuk ke dalam.

Matanya tak berkedip ketika melihat ternyata Ibunya lah yang datang menemuinya.

"I-Ibu?" dia shock tanpa bisa bergerak.

Ibu Joonmyun kembali menangis, dia mendekat ke arah putranya lalu memeluk Joonmyun dengan erat. Joonmyun yang sudah sadar dari rasa terkejutnya langsung membalas pelukan sang Ibu tidak kalah erat untuk melepas rindu terdalam.

"maafkan Ibu sayang, Ibu sangat minta maaf padamu.. Ibu sangat jahat sudah mengusirmu dari rumah, tolong maafkanlah Ibu"

Joonmyun pun menangis, dia mengusap punggung Ibunya. "aku tidak pernah marah pada Ibu, aku justru sangat rindu pada Ayah dan Ibu"

Merekapun merenggangkan pelukan, Ibu Joonmyun mengusap wajah putranya dengan penuh sayang. "Ayah dan Ibu sangat lah bodoh sudah mengusir anak kebanggaan kami satu-satunya" tatapan Ibunya tersirat rasa kagum. "kau sudah semakin cantik"

Joonmyun terkekeh malu, "aku juga minta maaf pada Ayah dan Ibu, tidak bisa menjadi apa yang kalian harapkan selama ini. aku sudah menghancurkan semuanya"

"tidak tidak, Ibu dan Ayah hanya sangat kaget waktu itu.. sekarang Ayah dan Ibu sangat menyesal telah mengatakannya. Kami menyayangimu, sayang" dia mengecup kening putranya lalu mengusap air mata di pipi Joonmyun.

"aku sangat rindu pada Ibu, terimakasih Ibu sudah memaafkan aku dan datang ke sini"

"Ibu juga sangat merindukanmu" wanita itu mengusap lengan Joonmyun ketika putranya menyandarkan kepala di bahunya dengan nyaman.

"bagaimana keadaan cucu Ibu?" Ibu Joonmyun memperhatikan bayi kecil yang tertidur nyenyak di ranjangnya. "dia sangat manis sepertimu"

"dia harus lahir prematur karena beberapa hal yang Dokter jelaskan. Tapi dia baik-baik saja, aku sangat bersyukur"

"mulai sekarang Ibu akan membantumu merawatnya, Ibu sangat senang sudah melihatnya lahir dan senang melihat kalian baik-baik saja" dia mengusap pipi Joonmyun.

"terimakasih Ibu, aku mencintaimu"

"Ibu juga mencintaimu, sayang"

.

.

.

.

.

Mereka semua berkumpul di ruang tengah, memberikan waktu untuk Joonmyun dan Ibunya saling melepas rindu.

"kalian melakukannya dengan sangat baik, Joonmyun pasti bahagia sekali" Luhan mengacungkan ibu jari ke hadapan mereka.

"sayang sekali Ayah Joonmyun sedang tidak di rumah, jadi hanya Ibu Joonmyun yang berhasil kami bawa" kata Chanyeol menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.

"apapun itu, bersyukur sekali Ibu Joonmyun sudah tidak membencinya" sahut Jongin.

Kris menatap mereka semua, "aku kan sudah bilang, sesaat setelah mereka mengusir Joonmyun pasti mereka sudah merasa menyesal dan khawatir padanya"

"lalu kenapa mereka tidak mencari Joonmyun sejak dulu? jika mereka memang menyesal sudah mengusir Joonmyun, setidaknya mereka pasti menghubungiku untuk menanyakan keberadaannya. Mereka kan tau aku sahabat Joonmyun" Baekhyun berpikir keras.

"sudahlah, yang penting sekarang semua sudah baik-baik saja" Kris mencubit pipinya.

"oh iya, Zitao belum pulang?" Chanyeol akhirnya menanyakan yang sejak tadi pagi tidak ada.

"tadi dia sudah pulang, tapi kusuruh lagi untuk mengantar Dokter Luna. Aku kan harus menjaga Joonmyun"

"memangnya Sehun ke mana? Dia tidak pernah absen menjaga Joonmyun" Jongin celingukan mencari sosok makhluk berkulit terang yang berbanding terbalik dengan warna kulitnya. Mencari keberadaan Sehun tidak sulit sebenarnya karena dia terlalu terang.

Luhan menatap mereka satu per satu sebelum memutuskan untuk menjawab.

"dia pergi menemui Ibunya untuk membicarakan pernikahan"

Hening.

Masih hening.

Masih tetap hening.

"APA?!"

Luhan bertepuk tangan, "wah kompak sekali" ia tertawa.

Baekhyun memegang kedua pipinya, "aku tidak percaya sahabatku akan menikah dengan manusia penggila sosis siap makan itu.."

Sementara Chanyeol menatap horor ke arah Luhan, "kau tidak bercanda kan, hyung?"

"tidak, Yeol. Kami berdiskusi soal pernikahannya dan Joonmyun tadi. Kalian harus membantu loh"

Jongin masih menganga tak percaya di samping Chanyeol yang kini malah bertepuk tangan juga seperti Luhan tadi. Meras kagum pada kenekatan Sehun.

Kris berdecak tidak peduli, "itu bagus, mereka memang harus segera menikah. Baek, ini sudah waktunya kau memasak makan malam" ia menepuk bahu Baekhyun.

"astaga, benar! aku harus masak!" dia berlari keluar dari ruang tengah.

"tunggu, aku akan membantumu" Kris menyusul Baekhyun karena dia yakin di antara Chanyeol, Jongin, dan Luhan pasti tidak ada yang mau membantu Baekhyun memasak.

Chanyeol berhenti melamun, dia duduk menghadap ke arah Jongin. "kalau begitu kita juga bisa menikah setelah Sehun dan Joonmyun nanti, Jongin-ah" katanya sumringah.

Lalu Jongin menyentil dahi Chanyeol dengan kuat sampai pria itu melompat dari sofa sambil berteriak.

"ya ampun, kalian romantis sekali" Luhan kembali bertepuk tangan.

.

.

.

.

.

Masih tebese kok tenang aja hahaha.

Gue udah mood ngelanjutin ini berkat salah seorang temen gue. hai temen, lo pasti lagi baca ff ini haha.

Makasih banyak banyak banyak banget untuk kalian yang udah menunggu comeback ff abstrak ini terlalu lama *bow*

I love you all~

p.s: maaf untuk typo, karena gue ga ngedit lagi. maaf banget.