[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

A LITTLE WHITE LIE

작은 하얀 거짓말

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Titish AK

.

WARNING! Remake from a teenlit novel, so bahasa non baku dan gaul bertebaran!!

.

.

CHAPTER TWELVE

"BAEKHYUN SORI TADI MALEM NGGAK BALES SMS-MU!!!" Siapa sih itu? Gaya ngomongnya sih kayak Hyeoyeon. Tapi yang harusnya ngomong begitu kan Chanyeol. Tapi masa dia? Aku menoleh ke belakang. Huh, cuma Yixing yang baru teriak-teriak dan melambai-lambai di ujung lorong. Aku malah lupa kalau tadi malem juga SMS kamu, Xing!

Aku tidak mengacuhkan panggilan itu dan kembali berjalan menuju kelasku. Kudengar suara derap langkah orang berlari di belakangku dan suara itu berhenti begitu sampai di sampingku.

"Heh! Dipanggil, Non! Kok jalan terus sih?" kata Yixing sambil terengah-engah. Aku masih cuek dan berjalan terus, jadi sebel lagi Yixing nggak bales SMS-ku tadi malem. Ditambah masalah Chanyeol yang juga ikut-ikutan nggak bales. Mentang-mentang cakep terus pada seenaknya sendiri!

"Heh, anak buah! Berhenti dulu dong! Mau ngomong serius nih!" kata Yixing sambil menarik tanganku saat kami sampai di depan pintu kelas XI-2. Waktu aku iseng menoleh ke dalam kelas XI-2, kulihat Chanyeol sedang menghapus papan tulis, baru tugas piket, kali! Chanyeol menoleh sewaktu tanganku masih ada di genggaman tangan Yixing. Untuk sepersekian detik dia menatapku dan melanjutkan menghapus papan tulis lagi.

Bagus, ditambah kalimat "Mau ngomong serius nih!" tadi, pasti sekarang Chanyeol ngira aku ada apa-apa sama Yixing.

Aku segera menarik tanganku, "Ya udah, mau ngomong apa?"

"Aku nggak bales SMS-mu soalnya udah bobok, he he. Tapi aku udah nulis yang kamu minta tadi malem kok," kata Yixing sambil membuka tasnya. "Nih!" katanya lagi sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah dilipat.

Aduh, dari kata-kata Yixing barusan kok kesannya aku dan Yixing SMS-an tiap malem. Terus Yixing ngasih kertas, pula! Kok kayak dia ngasih surat cinta. Yixing emang goblok!

"Oh iya, Baek! Nomormu aku cantumin di selebaran buat Contact person, ya? Satunya lagi nomor Hyeoyeon, aku udah minta izin dia kok! Eh, audisi awal lombanya kan minggu depan, jadi kamu harus nyelesain tugasmu ke radio-radio hari ini lho! Nggak usah banyak-banyak. Tiga radio cukup kok, tapi radio gede, ya? Aku udah bawa kerjaannya Hyeoyeon dan mau masukin ke percetakan besok! Jadi logo-logo radio juga mesti beres besok. Ngerti, kan?" kata Yixing kemudian dengan panjang-lebar. "Oh ya, ntar malem jangan lupa lapor!" tambah Yixing lagi.

"Iya, iya. Udah deh, pergi sana! Bawel banget sih! Kayak nggak inget aja pertama kenal itu diem melulu!" kataku sambil mendorong punggung Yixing dan merengut.

"Heh, udah dibilangin, waktu itu kan lagi sakit gigi! Lagian sama bos nggak boleh gitu, Baekhyun chayang!" kata Yixing sambil meremas-remas pipiku.

Chayang? Ini anak udah bosen hidup kayaknya. Kenal baru beberapa hari, udah main chayang-chayangan! Dan please stop ngasih persepsi yang salah ke Chanyeol! Kalau Chanyeol lihat gimana? Aku menoleh lagi, untung Chanyeol udah nggak ada di situ. Tapi siapa tahu kan dia ngintip dari jendela? (GR banget ya?)

"Lagian kelas kita kan searah? Jalan bareng aja kenapa? Yuk!" kata Yixing sambil menarik tanganku lagi. Aku mencoba menarik tanganku lagi tapi nggak kuat karena cengkeraman cowok itu keras juga. Jadi, aku cuma bisa pasrah dan berjalan terseret-seret di belakang Yixing.

Yixing sialan! Gobloknya emang nggak ketulungan! Aku iseng menoleh lagi ke belakang. Di depan kelas XI-2 nggak ada siapa-siapa. Chanyeol juga nggak ada. Hiks, kok kayak déja vu gini?

.

.

.

"Dari dulu, hubungan cinta sesama rekan kerja itu nggak boleh, Baek! Mengganggu profesionalisme kerja! Love is destructive!" kata Kyungsoo tiba-tiba ketika aku sampai di kelas dan meletakkan tasku di sampingnya.

"Kamu ngomong apaan sih, Kyung? Ngapalin materi ulangan, ya? Aduh! Kok aku bisa nggak tau ada ulangan, ya? Emang ulangan apa, Kyung?" tanyaku mulai panik.

"Bukan, goblok! Maksudku kamu! Sejak kapan kamu jadian sama Yixing? Kok nggak bilang-bilang sih?" Kyungsoo mencondongkan tubuh ke arahku dan berbisik-bisik sambil mengedip-ngedip genit. Ewwgh dasaarr!

"Apa sih? Nggaklah!" bantahku.

"Terus, tadi?"

"Tadi apa?"

"Di depan kelas XI-2 aja mesra gitu! Aku liat lho..."

"Hufh, terserah deh!" jawabku malas. Kyungsoo yang tahu kalau aku deket sama Yixing gara-gara jadi temen satu kepanitiaan aja bisa ngira macem-macem. Apalagi Chanyeol yang nggak tahu apa-apa? Aku emang lagi sial!

"Oh ya, Kyung, ntar temenin aku keliling, ya?"

"Ngapain?"

"Keluar masuk radio-radio, gitu. Mau, kan?"

"Eh, iya! Mau-mau!"

.

.

.

Ini posisinya udah dimana sih? Kok gedung radio nya belum kelihatan juga? Bagaimana pun nggak enaknya nyasar, tetep lebih enak kalau nyasar ada temennya. Kyungsoo sih... Tadi waktu aku ajak, kayaknya udah semangat gitu. Lha kok tahu-tahu batalin janji! Eh, malah nyuruh-nyuruh nyampein salam buat penyiarnya pula!

Dan kenapa di saat-saat penting, ingatanku yang biasanya bagus ini nggak bisa diandalkan? Padahal dulu pernah maen ke sana sekali, nganterin Kyungsoo ngambil hadiah. Itu anak, udah tajir, pinter, faktor luck-nya juga lumayan gede. Bikin jealous aja! Udah lumayan sering lho dia menang kuis di radio-radio. Aku sih pasrah cuma jadi tukang nganterin ngambil hadiah. Tapi ada untungnya juga kok! Aku jadi tahu tempat mangkalnya radio-radio sekota, lumayan ngebantu kerjaanku nanti. Selain itu, Kyungsoo orangnya nggak pelit. Nggak cuma sekali hadiah yang dia dapet ikut dibagi-bagi ke aku, sopirnya yang setia ini. Asyik, kan?

Nah, finally. Itu dia penunjuk arahnya, belok ke kanan.

Dari Jalan yang cukup padat, aku membelokkan motor ke kanan, memasuki sebuah jalan kecil. Akhirnya kutemukan sebuah rumah berwarna biru yang menghadap utara. Ini dia Gedung radionya. Setelah memarkir motor di dekat mobil-mobil dan motor-motor yang lain, aku segera memasuki pintu depan.

"Permisi..." Keadaan ruangan ini nggak jauh beda waktu dulu aku ke sini bareng Kyungsoo. Sepi, tapi televisi dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton. Tiba-tiba seseorang muncul dari balik kegelapan. Hiyy, serem... Untung orang itu kemudian tersenyum ala manusia.

"Kak, kalo mau promo acara lewat radio itu gimana ya?" kataku pelan-pelan, takut salah ngomong.

"Oh, bisa sama aku kok!" Kakak tadi langsung duduk di kursi panjang di depan televisi dan mempersilakanku duduk di sebelahnya.

"Aku Hyorin," kata Kakak itu sambil menjabat tanganku.

"Baekhyun, Kak! Dari Sekang High School." Fiuh... kayaknya Kak Hyorin ini ramah kok!

"Bawa materi acaranya, kan?" Oh, pasti yang dia maksud kertas yang tadi Yixing kasih ke aku. Aku segera membuka tasku dan menyerahkan salah satu kertas yang tadi sempat aku fotokopi rangkap lima itu. Kak Hyorin membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

"Mmm... kelupaan belum ditulisin contact person nih, Dik!" Kak Hyorin menyerahkan kertas itu kepadaku dan mengangsurkan bolpoin dari sakunya.

"Oh, iya, Kak! Sori." Kok Yixing bisa lupa nulis ini sih? Minimal ngasih tahu kek! Aku kan nggak ngerti masalah kayak gini! Bikin malu! Awas aja itu anak!

Seingatku kalau baru iseng dengerin promo acara di radio, minimal kita nyebutin dua nomor yang bisa dihubungi. Yixing tadi udah bilang, buat contact person mau pake nomor handphone-ku sama nomor handphone Hyeoyeon. Ya udahlah, sama aja, kali!

Aku segera menuliskan nomor handphone di samping namaku dan nomor handphone Hyeoyeon di samping namanya. Siip! Aku segera menyerahkan kertas dan bolpoin itu ke Kak Hyorin.

"Bentuk kerja samanya kayak biasalah, Dik. Dibacainnya tiga kali sehari. Waktu Morning Zone, Chill Out, sama Prime Show. Terus kompensasinya, logo radio ada di selebarannya. Adik buat selebaran, kan?"

Aku mengangguk-angguk. "Kalau logo radio udah punya, kan? Pasti di file komputer sekolah juga ada tuh! Kita kan udah sering kerja sama."

Aku mengangguk-angguk lagi sok mantap. Aku nggak yakin di file komputer sekolah ada atau nggak, tapi logo radio mah di Internet juga banyak.

Ternyata gampang juga ya jadi Seksi Publikasi. Cuma ngomong-ngomong bentar begini, kerjaan udah beres. Dan mulai besok seluruh Kota udah bisa dengerin promo acaranya. Eh... Kalau bacain promo acara, contact person juga dibacain, ya? Bukannya tadi aku ngasih nomor handphone-ku? Nomor handphone-ku bakal tersebar ke seluruh pelosok Kota, ya? Berarti bukan nggak mungkin Chanyeol juga dengerin promo acara ini dong? Dan begitu nomor handphone-ku disebut-sebut, waa... tamaaat! Baekhyun goblok!!

"Kak, mmm... maaf, baru inget, tadi materi acaranya kayaknya ada yang perlu dikoreksi deh. Bisa pinjem lagi kertasnya?" pintaku kepada Kak Hyorin.

"Oh, nih!" kata Kak Hyorin sambil menyerahkan kertas itu.

"Mmm... pinjem bolpoin, Kak!" kataku sambil tersenyum malu.

"Oh, iya..." Kak Hyorin kembali menyerahkan bolpoinnya.

Aku segera mencoret nama dan nomor handphoneku. Otakku berpikir keras dan langsung menuliskan nama Yixing untuk menggantikan namaku. Dengan cepat aku mengambil handphone-ku di tas dan menyalin nomor Yixing dari handphone-ku ke kertas. Sori, Xing! Aku ngerepotin kamu lagi.

"Makasih, Kak! Ng... saya permisi dulu kalo gitu," kataku setelah semuanya kurasa beres.

Begitu sampai di luar, aku menghela napas lega. Hufh, baru satu radio. Minimal mesti datengin dua radio lagi. Perjalanan masih panjaaaaaaaaaaaaaang.

.

.

.

Tulululut... Tulululut... Tulululut... Tulululut...

Telepon paralel yang ada di sebelahku bergetar-getar. Ah, bodo! Biar orang yang di bawah aja deh yang angkat!

Telepon itu berhenti bergetar.

"BAEKHYUN!!! ADA TELEPON!!!" Kak Junmyeon berteriak-teriak dari lantai bawah.

Siapa sih yang telepon? Lagi seru-serunya nih! Gangguin aja!

"DARI SIAPA??" balasku sambil berteriak juga.

"NGGAK TAHU!!! COWOK!!!"

Cowok? Jarang banget ada cowok telepon ke rumah! Aneh! Siapa ya? Masa Chanyeol? Nggak mungkin banget!

"YA UDAH!!! AKU TERIMA DI ATAS!!"

"IHIYY, COWOK!!!" Kak Junmyeon masih heboh teriak-teriak sendiri. Rese banget, seperti biasa. Malu kalo cowok yang telepon ini, siapa pun dia, sampe denger teriakan norak Kak Junmyeon barusan.

Aku segera meletakkan novelku di sofa ruang santai atas dan meraih gagang telepon cordless itu.

"Halo," sapaku sambil masih bertanya-tanya dalam hati suara siapa yang bakal kudengar ini.

"Halo juga, anak buah!" Hufh, suaranya Yixing. Ngapain dia telepon?

"Ngapain telepon, Xing?" tanyaku to the point.

"Harusnya aku yang nanya, ngapain kok nggak telepon?" Lho? Ngapain aku mesti telepon dia?

"Ngapain telepon kamu?"

"Heh, gimana sih? Aku bilang kan malem mesti lapor ke Bos! Besok selebaran udah masuk ke percetakan, Non!"

O... 000..

"Eh, iya ya? Sori, Xing! Lupa! Duh, aku jadi nggak enak, kamu sampe telepon ke rumah segala. Kok bisa tahu nomor telepon rumahku? Dari Hyeoyeon, ya?"

"Iya," jawab Yixing singkat.

Dengan telepon cordless masih di telinga, aku bangkit dari sofa, berjalan ke arah void dan melongok ke bawah. Bener firasatku, Kak Junmyeon duduk di kursi dengan gagang telepon di tangannya.

"Kak Junmyeon, nggak usah nguping! Cuma Yixing kok!" kataku. Kak Junmyeon langsung menoleh ke atas. Begitu Kak Junmyeon menoleh, aku mengacungkan tinju ke arahnya dan menggeleng-geleng kecewa. Beginilah nggak enaknya telepon paralel. Aku langsung menjauhi void dan kembali duduk di sofa.

"Siapa sih, Baek? Dan apa maksudnya cuma Yixing?" Yixing langsung protes begitu mendengar kata-kataku barusan.

"Sori, Xing! Kakak ku yang rese nguping pembicaraan kita! Ng... gini aja deh, kerjaan udah beres kok, rinciannya ntar ku-SMS aja ya?"

"Terserah deh! Sebenernya aku bela-belain telepon karena ada hal penting lain yang mau aku omongin. Tapi... ya udah. Besok ajalah!" jawab Yixing. Hal penting? Kok kayaknya aku juga punya hal penting yang harus diomongin ke Yixing?

"Eh, Xing..."

"Ya?"

Aku memang ingat ada hal penting, tapi hal penting itu apa, aku bener-bener lupa.

"Ng... nggak jadi. Aku lupa mau ngomong apa. Ntar kalo aku inget, aku pasti SMS juga kok!" Aku masih memijat-mijat keningku, mencoba mengingat-ingat tapi tetep aja nggak bisa ingat.

"Oke! Aku tunggu SMS-nya ya, Baek! Good work, girl! Seneng bisa punya anak buah kayak kamu. Besok kalo ini udah kelar, kita makan-makan bareng ya?"

"Kamu yang traktir, kan?" tanyaku.

"Beres! Ya udah. Bye Baek! Malam!"

"Malam!"

Tuuut...

Aku meletakkan telepon itu ke tempatnya. Yixing mau ngomong hal penting apa ya? Tumben itu anak rada serius.

Aku sibuk melamun dan nggak menyadari tiba-tiba Kak Junmyeon sudah ada di sebelahku. Melihat Kak Junmyeon, rasa kesalku karena kelakuannya tadi mulai timbul.

"Kak Junmyeon udah keterlaluan! Nggak etis namanya, Kak, nguping pembicaraan kayak tadi!" kataku ketus.

"Itu cowok kacang yang dulu itu ya, Baek?"

Kak Junmyeon diomelin kok malah nanya aneh-aneh gini sih! Pengin mengalihkan pembicaraan atau apa? Lagian kok cowok kacang?

"Cowok kacang apaan?" tanyaku heran.

"Cowok yang bisa bikin kamu stres nyampe kamu ngitung-ngitung kacang nggak keruan kapan itu lho..."

Oh, dia...

"Oh, bukan kok!" jawabku pelan.

"Cowok lain?" tanya Kak Junmyeon lagi. Aku cuma mengangguk lemah.

.

.

.

Setelah lapor ke Yixing soal rincian kerjaanku siang tadi lewat SMS, aku berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar, melamun.

Cowok kacang... Jelek banget sih istilahnya? Kalau nggak inget resenya Kak Junmyeon, mungkin sekarang aku udah cerita ke Kak Junmyeon soal cowok kacang itu. Cowok itu bukan Yixing, Kak! Baru semalem aku nggak SMSan sama cowok itu, tapi aku udah kangeeeen banget. Sedihnya lagi, cowok itu kayaknya baru marah sama aku, Kak! Tapi bukan salah dia, dia jadi marah kayak gini. Ini semua jelas salahku, selama ini udah bohongin dia. Mungkin dia begini gara-gara udah mencium gelagat kebohonganku kali ya? Aku sendiri sampe sekarang nggak tahu kenapa aku mesti bohongin dia kayak gini. Firasatku sih, kali ini dia nggak akan mau kenal aku lagi.

Drrrt... drrrt... drrrt... A lot of fun... A lot of fun to be had... Drrrt... drrrt... drrrt... But over do it... And end up in the rehab... Drrrt... drrrt... drrrt...

-ChaNyeol PaBo!!-

Malam, Hyun! Lagi apa? Sorrry bgt kmrn g bls. Pulsa abis. Barusan beli nih. Gak bisa bwt kirim mms? Kok bisa? Yaudah, kirim fotomu ke Email ku aja gitu, . Aku tunggu ya, ok?!

Firasat seorang Baekhyun ternyata bisa keliru juga. Chanyeol nggak marah kok! Harusnya dia tahu aku bohong nggak mau kirim foto segala, kenapa dia masih baik? Sori, kali ini aku yang nggak bales SMS-mu, Chan! Aku nggak sanggup ngebohongin kamu lagi.

.

.

[ End of Chapter 12 - Tbc to Ch.13 ]

.

.

Anyeooong! Apdet lagi eykee, sorri telat mulu soalnya eyke syibukk Tshaee..

Cuss jangan lupa Ripiuw biar eyke fastup lagi ! Bhaay :) :)