"Kajja!" Ajak Baekhyun setelah melepaskan pelukkannya. Luhan pun mengangguk lalu mereka berdua keluar dari kamar Luhan. Berjalan ke ruang bawah tanah dengan mengendap - endap.

"Pangeran dan Yang Mulia Ratu, apa yang kalian lakukan?"

.

.

.

.

.

.

.

~~ End Our Life ~~


Auhtor : Oh Zhiyulu ( oh_zhiyu_lu)

Title : My Private Guard

Chap : Chap 11 : End Our Life

Genre : Angst, Romance, Yaoi, Shounen- ai, Boy X Boy, Genderswitch, OOC

Ratting : M

Cast : Oh Sehun

Xi Luhan

Other member EXO

Pair : Hunhan, Kaisoo & Baekyeol

Disclaimer : Fanfic ini asli dari pemikiran saya yang absurd. Tokoh yang ada hanya milik Tuhan dan saya hanya meminjam karakter, fisik dan nama. Bila ada kesamaaan,,, mungkin kita jodoh? #ngaur-_-

Oh Zhiyu Lu

Presant

.

.

.

.

.

.

.


~~ End Our Life ~~


Disarankan baca fic ini sambil dengar lagu Super Junior Strom.

"Jong In?" Luhan sedikit bernafas lega ketika ia tahu bahwa pengawal yang menegurnya adalah Jong In. Setidaknya ia bisa mengancam pengawal muda ini untuk tutup mulut.

"Apa yang Yang Mulia Ratu dan Pangeran lakukan tengah malam seperti ini. Apa pangeran ingin bertemu dengan Sehun?" Tanya Jong In hati - hati. Ia tahu dengan sangat jelas apa yang terjadi di antara sahabat dan majikannya itu. Tak ingin membuat majikannya kembali menjerit histeris seperti tadi siang.

"Ku mohon Jong In." Luhan menjatuhkan tubuhnya dengan lututnya sebagai tumpuannya tepat di hadapan Jong In. Memohon kepada pengawalpun akan ia lakukan asalkan ia bisa bertemu dengan Sehun.

"Astaga Lu! Kau tak harus melakukan itu!" Sentak Baekhyun ketika mendapati anak semata wayangnya tengah bersujud di hadapan pengawal yang status derajatnya sangat jauh di atas dirinya.

"Ku mohon Jong In. Jangan berutahu siapapun. Aku ingin bertemu dengannya. Sebentar saja. Tak akan lama. Aku takut jika setelah ini aku tak bisa bertemu dengan dirinya." Dan setetes air mata jatuh dari sudut mata rusanya.

Jong In tersadar dari keterkejutannya ketika sang Pangeran yang selalu di agung - agungkan kini bersujud di hadapannya hanya karena sebuah perasaan tabu bernamakan cinta.

"Anda tak perlu melakukan itu pangeran." Ucap Jong In sambil membantu Luhan untuk berdiri. "Saya tidak akan memberitahukan pada siapapun. Bahkan saya akan membantu anda untuk bertemu Sehun."

Luhan langsung mendongkakkan kepalanya menatap Kai. "Jinjja?" Tanyanya memastikan bahwa yang didengarnya tadi bukanlah sebuah ilusi.

"Tentu. Hamba ingin membalas kebaikan pangeran karena telah mendukung hubungan hamba dengan Kyungsoo. Pengeran selalu melindungi hubungan kami jika ada yang ingin melaporkan hubungan kami kepada raja. Sekali lagi terima kasih banyak pangeran." Jong In membungkukkan tubuhnya sebagai rasa terima kasihnya kepada Luhan.

"Terima kasih Jong In." Luhan menyeka air matanya melihat Jong In. Ia terharu ternyata masih ada orang yang ingin membantu sikapnya yang -dianggap orang lain- menjijikan. "Kebaikkanmu akan selalu aku ingat."

Kau dan kyungsoo?" Luhan dan Jong In tersentak kaget ketika baru menyadari masih ada Baekhyun di sana.

"Begini eomma,,, eummm dia dan ee..."

"Maaf Yang Mulia Ratu,,, saya dan Pangeran eumm kami hanyaa.."

"Sudahlah. Karena kau telah berbaik hati ingin membantu Luhan, aku tak akan mempermasalahkan tentang hubungamu itu. Lagi pula yang membuat peraturan itu suamiku. Bukan aku. Aku tak setega itu menghancurkan hubungamu." Luhan dan Jong In bernafas lega mendengar penuturan Baekhyun. Besyukur karena ratu ini memiliki hati yang sangat mulia.

"Sudahlah! Lebih baik sekarang kita pergi ruang bawah tanah. Sebelum mata hari terbit."

Mereka pun meneruskan perjalanan mereka ke ruangan bawah tanah dengan mengendap - endapa. Butuh perjuangan ekstra untuk masuk ke ruang bawah tanah. Karena penjagaan di ruangan itu semakin di perketat dengan adanya Sehun di dalam sana.

"Eomma... ottokhe?" Tanya Luhan yang putua asa melihat para pengawal itu yang yak kunjung lelah menjaga pintu ruang bawah tanah itu.

"Eomma akan mengalihkan mereka, kau dan Jong In masuk kedalam. Jangan sampai ketahuan." Walau ragu, Luhan tetap menganggukkan kepalanya menyetujui usul Baekhyun.

"Tolong jaga anakku yah?"

"Siap yang mulia." Jong In membungkukkan tubuhnya menyetujui permintaan Baekhyun

Baekhyun sedikit merapikan penampilannya lalu berjalan dengan anggunnya menuju dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu ruang bawah tanah.

"Selamat malam yang mulia ratu." ucap mereka lalu membungkuk hormat pada Baekhyun.

"Iya selamat malam. Bagaiman keadaan tahanan yang akan di hukum nanti pagi. Apa semuanya aman?"

"Semua aman yang mulia ratu. Proses pemenggalannya akan di langsungkan di lapangan istana."

"Kanapa tidak di ruang bawah tanah saja seperti biasanya?" Baekhyun memberikan kode pada Luhan dan Jong In melalu tangannya. Lalu secara pelan - pelan mereka berdua masuk ke ruangan itu tanpa diketahui pengawal lain. Menelusuri lorong - lorong gelap nan pengap. Hanya ada obor yang menempel pada dinding sebagai alat penerangan.

Luhan terus mengikuti kemanapun kaki Jong In melangkah. Belok kanan, belok kiri, turun, naik belok lagi. Sungguh appanya memang sangat berniat ingin memisahkan dirinya dengan Sehun. Semakin dalam mereka memasukki ruangan itu, maka pencahayaannya pun semakin redup. Begitu juga dengan debaran jantung Luhan yang semakin kencang. Hatinya sudah sangat tak sabar bertemu dengan Sehun. Hingga akhirnya ia berada di ujung lorong itu

Jong In berhenti. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Luhan. "Di sini pangeran. Hamba kesana dulu agar tak mengganggu." Bisik Jong In lalu ia membungkuk hormat dan berlalu pergi. Memberikan privasi kepada sang majikannya. Disana, ia menemukan sosok yang teramat dirindukannya tengah duduk meringkuk di sudut ruangan yang sepi, gelap nan pengap.

Dengan gerakkan slow motion Luhan berjalan mendekat ke ruangan itu yang dibatasi besi - besi panjang. Ia duduk bersimpuh sambil memegang besi yang teramat dingin itu. Hatinya menjerit membayangkan betapa tersiksanya Sehun berada di ruangan ini.

"Sehun..." lirih Luhan.

Sehun merasa ia sedang berhalusinasi hingga ia dapat mendengar suara Luhan. Ia merindukan sosok itu teramat sangat. Hingga suaranya berpendar di fikirannya.

"Sehunn... aku disini." Sontak Sehun langsung mendongkakan kepalanya. Dihadapannya kini ada Luhan yang sedang duduk bersimpuh. Ia merangkak mendekati Luhan. Hati Luhan seperti teriris - iris melihat kondisi Sehun yang penuh dengan luka lebam dan beberapa bercak darah di sekujur tubuhnya.

"Maaf..." gumam Luhan sambil mengelus pipi Sehun yang telah menjadi dingin. Ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Luhan yang begitu hangat pada pipinya. Ia meraih tangan itu, menggenggamnya dengan erat lalu meletakkannya di atas dadanya.

"Aku merindukanmu Lu... Sangat." Cairan bening itu kembali menetes dari kedua sudut kelopak mata mereka. Hati mereka saling bergemuruh mencoba menyalurkan cinta mereka yang hanya mampu mereka ungkapkan dengan tangisan. Tangisan memilukan.

Begitu banyak kata - kata cinta dan rindu yang ingin mereka ungkapkan jika bertemu, namun semua mengupa begitu saja.

"Berjanjilah kau akan hidup bahagia."

"TIDAK!" Sentak Luhan "Bukan aku, tapi kita. Kita akan hidup bahagia. Berjanjilah Sehun! Aku mohon jangan tinggalkan aku."

"Aku tak bisa Lu. Kau harus meneruskan hidupmu. Hidupku tak akan lama lagi. Aku akan di hukum mati. Kau yakinkan dengan adanya reinkarnasi?" Luhan mengangguk menyetujui ucapan Sehun.

"Di kehidupan yang akan datang, kita pasti akan terlahir lagi dengan kehidupan yang lebih baik. Aku atau kau yang akan menjadi wanita. Kita akan bersatu kembali. Kita akan bahagia. Aku janji."

"Aku tak sanggup harus menunggu selama itu."

"Kau pasti bisa Lu. Aku mohon ingatlah aku. Aku berjanji akan selalu mengingatmu. Jiwaku akan selalu bersamamu. Sampai kapanpun Lu."

"Sehun... aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Perjuangkan cinta kita. Aku mohon padamu." Air mata Luhan semakin deras mengalir. Ia tak sanggup nenghadapi perpisahan ini. Semua ini begitu berat baginya. Tak bisakan mereka membiarkan ia hidup bahagia? Tak bisakah?

"Aku juga mencintamu Lu. Sangat. Tapi untuk saat ini kita tak bisa berbuat apa - apa. Mengalah bukan berarti kalah. Tuhan pasti telah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk kita. Kau percayakan padaku?"

"Tapi berjanjilah suatu saat nanti kita akan bertemu."

"Aku berjanji padamu. Demi nyawaku dan jiwaku kita akan bertemu lagi. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Matahari sudah mulai naik. Jangan sampai ada pengawal yang melihatmu disini." Luhan mengangguk. Sehun mengecup kening Luhan sangat lama. Air matanya kembali menetes jika membayangkan ia harus meninggalkan pria mungil ini sendiri.

"Saranghae Xi Luhan. Jeongmal sarangaheyo..."

"Nado sarangahe Oh Sehun. Kita harus bertemu lagi nanti."

Setelah Sehun mengangguk ia pun pergi dari tempat itu. Meninggalkan cintanya. Meninggalkan separuh jiwanya yang akan terbang ke alam sana. Terbang hingga tak mampu ia gapai kembali.


~~ End Our Life ~~


Semua rakyat kerajaan Phoenix memadati lapangan istana Kerajaan Phoenix. Menyaksikan sebuah kisah nyata cinta suci yang harus berakhir dengan tragis.

Di tengah - tengah lapangan sebuah alat pemenggal berdiri dengan kokohnya. Siap menebas leher siapapun yang menentang kehendak sang raja.

Chanyeol memasukki lapangan itu dengan di kawal beberapa pengawalnya, serta sang ratu yang selalu mendampingi sang raja. Namun ekapresi kecewa itu tergambar begitu kentara di wajahnya. Berbanding terbalik dengan sang suami.

"Di sini kita semua hadir untuk menyaksikan pemusnahan mansia yang merusak keturunan sang dewa. Aku harap pada kalian semua wahay rakyatku, jangan ada satupun di anatar kalian yang menjadi seperti manusia tak berguna ini." Semua manusia yang nenadati lapangan itu bergemuruh menyetujui ucapan sang raja. Siapapun perusak di dunia ini harus di musnahkan.

Dari pintu timur, dua orang pengawal keluar sambil menggeret seorang pemuda berkulit putih. Pakaiannya dan rambutnya berantakkan. Wajahnya penuh dengan lebam. Walaupun begitu pesona kerampanannya tetap terpancar.

Sepanjang jalan, pria itu terus di hujami umpatan, makian dan hinaan yang begitu kejam menyayat hati. Tak ada satupun yang mengasiani takdirnya yang begitu buruk.

Langkahnya terhenti di depan sebuah alat pemenggal. Dengan kasarnya kedua pengawal itu memposisikan leher jenjang Sehun di tempat yang telah di sediakan. Tangannya pun di ikat dengan sebuah tali agar ia tak kabur.

Namun tanpa di ikatpun Sehun tak akan kabur. Ia tak gentar ataupun takut. Ia siap bahkan ia rela jika hidupnya berakhir seperti ini. Ia rela melakukan ini demi sebuah kebahagiaan yang akan di dapatkannya di masa yang akan datang. Ia yakin, cintanya bersama Luhan akan kembali bersatu. Cintanya yang kuat tak akan ada yang mampu memisahkan mereka. Tak ada satupun yang mampu.

Saat mendongkakkan kepalanya, ia melihat Luhan dengan jubah hitamnya. Berdiri terpaku diantara ribuan manusia yang menghimpitnya. Luhan menatap dirinya dengan diiringa air mata yang begitu deras mengalir.

"Uljimayo..." walaupun tak terdengar, Luhan mampu menangkap arti dari gerakkan bibir Sehun yang kian memucat.

"Dan dengan ini, aku harap tuhan menghapuskan segala dosanya." Ucap seorang pendeta. Di sisi lain seorang pengawal menarik tali pisau itu tinggi - tinggi. Silau matahari membuat pisau taham itu berkilauan.

"Sarangahae..."

Zrassshhhh...

Prookk prookkk...

Nafasnya, jantungnya dan dunianya. Ia merasakan itu semua terhenti ketika menyaksikan tubuh yang selalu ia peluk itu terlepas dari kepalanya. Darah merembes mengalir dari pisau tajam itu.

Dunia terasa runtuh. Nafasnya telah pergi seutuhnya. Tak ada lagi yang memberikan begitu banyak cinta dalam harinya yang sepi. Angannya, memudar dari tubuh itu.

Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati tubuh tak bernyawa itu. Pelan namun pasti. Fokus matanya terkunci dengan satu tujuan. Tak memperdulikan ribuan mata yang kini menatapnya heran.

Pagi itu, awan berlomba - lomba menutupi sinar sang mentari. Angin bertiup kencang, membuat topi jubah Luhan terbuka. Menampilkan wajah kusutnya yang digenangi air mata. Dunianya terasa gelap. Hanya ia dan tubuh yang tergeletak itu. Sepi, hampa tanpa siapapun. Suara suara dari orang - orang di sekitanya tak ada yang mampu menembus dunia kelamnya.

"Sehun..." Luhan jatuh terduduk di atas genangan darah Sehun. Tubuhnya lemah bagai tak bernyawa.

"Sehunn...hikss..." tangannya bergetar membelai rambut Sehun. Mata itu terpejam dengan sebuah senyuman yang terukir indah di bibir pucatnya.

"LUHAN!" Tak sedikit pun bentakkan sang ayah ia tanggapi. Dunianya benar - benar tak berarti lagi. Ia kira ia akan sanggup menjalani ini semua hingga malaikat maut menjemputnya dan mempersatukan mereka kembali.

Tidak, Luhan tidak sekuat itu. Sekedar untuk bernafas saja ia tak sanggup, bagaimana ia bisa menunggu malaikat itu datang menjemputnya. Tidak! Sampai kapanpun ia tak sanggup hidup dengan hanya separuh jiwanya..

"MENYINGKIR DARINYA LUHAN!" Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suaranya. Bentakkan Chanyeol menggelegar memenuhi lapangan itu, membuat siapapun bergetar mendengarnya. Namun itu tak berlaku bagi Luhan. Ia masih terpenjara dalam kesedihannya. Seperti ada tembok besar yang memisahkan dunianya dan dunia mereka yang tak mempunyai hati.

"Kurung dia dalam kamarnya!" Dan para pengawal itu berlari ke arah Luhan yang masih diam terpaku. Ia langsung menghentakkan tangannya ketika para pengawal itu menariknya pergi. Ia berlari menuju kandang kuda dan memacu kuda milik Sehun kedalam hutan. Membawanya ke ujung tebing di mana Tao dan ibunya membawanya dulu.

Ia menatap gemuruh ombak yang beradu dengan dinding tebing. Membayangkan betapa miris hidupnya harus berakhir di tempat yang sempat ia hindari.

"LUHAN! Eomma mohon! Kembalilah sayang. Jangan bertindak gegabah." Disana semua pangawal, sang raja dan ratu menantinya. Menantinya agar pangeran itu mau kembali ke istana.

"Tidak eomma... aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku tak sanggup. Ini terlalu berat."

"Semua ini bisa kita bicarakan baik baik Luhan!" Tambah Chanyeol.

"TIDAK! APPA TELAH MEMBUNUHNYA. KALIAN KEJAM! KALIAN SELALU SIBUK DENGAN URUSAN KALIAN HINGGA TAK MEMPERHATIKANKU. AKU MEMBUTUHKAN KASIH SAYANG DAN SEHUN DATANG PADAKU. MEMBERIKAN APA YANG AKU BUTUHKAN. Tapi kalian..." suaranya melamah. Air mata itu kembali menetes.

"KALIAN DENGAN TIDAK BERPERASAAN MEMBUNUHNYA! KALIAN KEJAM!" Chanyeol menunduk menyadari kesalahannya.

"Luhan... appa tau selama ini appa tak memperhatikanmu. Tanpa sadar kau telah sebesar ini. Tak pernah appa memperhatikan perkembanganmu. Appa menyesal. Berikan appa kesempatan Lu..."

"Menyesal eoh?" Luhan tersenyum miris di balik derai air matanya yang semakin banyak.

"TERLAMBAT! Sehun telah mati dan penyesalan appa sudah tak ada gunanya lagi!"

"Eomma mohon Lu, kembalilah. Nanti kau jatuh."

Luhan menyeka air matanya. Menutup matanya seraya menghirup udara di sekitarnya dengan hikmat. Setelah merasa tenang, ia kembali membuka matanya, menatap mereka semua yang kini tengah memandangnya dengan tatapan memohon.

"Maafkan hamba yang mulia raja dan ratu. Hamba telah menentang kehendak anda. Jikalau hamba tak bisa hidup bersamanya di dunia ini. Mungkin di dunia lain, keberadaan kami dapat di terima." Ucapnya tenang lalu membungkuk hormat untuk yang terakhir kalinya. Chanyeol dan Baekhyun tahu, jika nada bicara Luhan sudah seperti itu, tandanya ia sudah benar - benar kecewa.

"Tidak... Luhan jangan!"

"Maaf..." Luhan berjalan mundur hingga kakinya tak dapat menyentuh tanah. Tubuhnya oleng dan terjun dengan bebasnya menuju deburan ombak laut.

"LUHAAAAAAAANNN!" Baekhyun berlari ke ujung tebing. Melihat putra tunggalnya yang terjun bebas menuju laut. Ia melihat sebuah senyuman yang sangat tulus terukir di wajah Luhan. Wajahnya begitu tenang bagaikan tanpa beban.

"Kita akan bertemu Sehun. Aku mencintaimu."

Brrruuusshhh...

"Luhan..." lirih Baekhyun ketika melihat genangan air laut itu berubah menjadi berwarna semerah darah. Chanyeol jatuh bersimpuh merapai kebodohannya.

END


Akhirnya end juga. Yeheeettt! \°_°/

Jangan protes please... Zhiyu kan ga salah. Di genrenya kan angst. Jadi yah bakalan sad ending.

Bbuuing bbuning ^_^

Maaf bagi penggemar Chanyeol, Zhiyu bikin si Dobi jadi raja yang jahat. Sebenarnya awalnya si Dobi ga jahat. Tapi yahh akhirnya jadi kayak gini. Hehehee...

Seperti yang udah Zhiyu umumin sebelumnya. Zhiyu mau HIATUS hingga ujian semestes akhir selesai. Tapi nanti Zhiyu bakalan post satu fanfic one shot tanggal 7 Mei.

Bagi yang minta squel (pasti ga ada) Zhiyu bakal post saat Zhiyu comeback nanti. Tapi Zhiyu mau liat dulu, seberapa banyak yang minta squelnya. Kalau dikit yah ga jadi. Soalnya Zhiyu rasa review MPG makin dikit, karena Zhiyu nyadar ini fic makin aneh.

Big thanks to :

| Gezz | hunhanminute | xiaolu odult | xiaoluluu | huniehan | RZHH 261220 | CuteManlydeer | JJBaMbarTreejeeJasKaproS | younlaycious88 | Kim YeHyun | Kim Eun Seob | Ami Yuzu | Vita Williona Venus | DiraLeeXiOh | Oh XiXian | Odult Maniac | luluna99 | HunHanCherry1220 | xoxowolf | lisnana1 | | Riyoung17 | kim heeki | overdoseyeah | hwangpark106 | | fykaisoo | HyunRa | KaiSooLovers |

Sekali lagi Zhiyu minta maaf jika endingnya fanfic ini ga sesuai dengan harapan kalin. Juga masih banyak typo dan ketidak cocokan bahasanya dan banyak pengulangan kta yang membuat rasa tidak nyaman ketika bca fic ini. Zhiyu masih pemula yang butuh arahan. Silahkan tuliskan kritiknya tentang fic ini di kolom review.

Terima kasih buat para reders yang masih mau meluangkan waktunya untuk membaca dan mereview fic Zhiyu yang ga seberapa ini.

KAMSAHAMNIDA!

Review Again, please...