"Soojung," panggil Kyungsoo dengan suara gemetar tertahan.
"Aku akan merelakannya padamu, asal kau—"
Krystal menyeringai dalam ketertundukkannya.
"—berjanji padaku untuk tidak melukainya lagi?"
Minseok tersedak.
Yixing limbung.
Jessica mencengkram lengan atas Krystal kuat-kuat.
"APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN PADA ULAR SINTING ITU, DO KYUNGSOO!"
Dan Baekhyun baru saja tiba di sana.
Bersama dengan Chanyeol dibelakangnya dengan raut wajah geram.
.
.
.
.
Twelvelight Present's
.
.
.
Chapter eleven: Enough
.
.
Kaisoo (GS)
.
.
Hope you all like it!
.
.
.
Plak!
Tamparan itu berbunyi sangat keras. Membuat beberapa orang menoleh dan menatap mereka terkejut.
"WANITA JALANG SIALAN! APA YANG KAU KATAKAN PADANYA?!"
Baekhyun menampar Krystal tepat di pipi kirinya. Membuat Krystal terjatuh dari posisinya berdiri. Sudut bibirnya robek, membuat aliran darah mengalir sedikit demi sedikit.
Kyungsoo terkejut bukan main. Ia langsung membantu Krystal bangun dari posisinya dan menatapnya sesal. "Kau tidak apa-apa?" Krystal tak menjawab. Kepalanya tertunduk dengan tangannya yang memegang ke pipi kirinya.
Kyungsoo menatap Baekhyun marah. "Baek! Apa kau sudah gila?!" bentaknya. Membuat Baekhyun menatapnya tak kalah tajam dari sayatan pisau.
"Apa kau baru saja mengataiku 'gila', Kyungsoo? Seharusnya, kau katakan sebutan itu pada wanita jalang itu!" Baekhyun menunjuk Krystal yang berada di pelukan Kyungsoo dengan wajah memerah marah. Amarahnya meluap-luap karena sepupunya malah membela orang yang paling ia benci di seumur hidupnya itu.
Kyungsoo mendelik, "Apa maksudmu? Kenapa aku harus?!"
Baekhyun berjalan mendekati Kyungsoo, lalu mendorong Krystal menjauhi sepupunya. Membuat Krystal hampir terjatuh lagi jika Jessica tidak sigap menangkapnya.
"Aku akan memberitahu kalian semua, bagaimana kebusukan wanita sialan ini!"
.
3-4 tahun lalu..
"Aw!" Chanyeol meringis sembari memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Ia sudah menduga, ia pasti kebanyakan minum bersama kliennya tadi malam. Pakaiannya pun berceceran dimana-mana, hanya celana kerjanya saja yang masih dipakainya.
Matanya ia buka sedikit demi sedikit, sembari menahan sakit yang mendera kepalanya. Ia berada di kamar, kamar yang sedikit asing di penglihatannya. Mungkin, Jonghyun membawanya kemari. Jadi ia berpikir untuk mengucapkan terima kasih padanya nanti—
"Oh, kau sudah bangun?"
Chanyeol menatap terkejut ke arah pintu. Di sana, Krystal dengan kemeja putih polos, menatapnya dengan penuh senyuman bahagia. Wanita cantik itu tampak tak peduli dengan Chanyeol yang menatapnya terkejut sekaligus tak suka. Karena, melihat bagaimana cara Krystal berpakaian (kemeja putih polos sebatas paha, tanpa menggunakan bawahan apapun) pasti akan membuat lelaki manapun akan mencumbuinya, namun tidak dengannya yang sudah mempunyai istri.
"Krystal? Dimana Jonghyun?" Krystal tertawa. Membuat matanya berbentuk sabit yang cantik. Sekilas mengingatkan dirinya dengan Baekhyun.
"Ya ampun, aku yang membawamu kemari, bukan Jonghyun. Apa kau lupa? Oh, jangan-jangan, kau lupa juga, apa yang kita 'lakukan' semalam?" Krystal berjalan mendekati Chanyeol dan duduk di pinggiran tempat tidur. Chanyeol sedikit menjauh darinya.
"Memangnya apa yang kita lakukan tadi malam? Seingatku kita tidak melakukan apa-apa—"
"Kita melakukan seks." Ucapnya santai. Chanyeol membelalakan matanya. "A-apa?"
"Seks. Berkali-kali. Sampai jam 3 subuh, seingatku." Krystal mengendikkan bahunya. Lalu bangkit dan kembali mendekati Chanyeol untuk duduk di atas pahanya. Matanya menatapnya sayu, menggoda. Sedangkan Chanyeol masih bergerumul dalam pikirannya, tidak menyadari apa yang Krystal lakukan padanya.
Krystal mencium lehernya sensual, "Aku bahkan masih kuat kau gagahi jika kau masih 'ingin'. Ayo, kita lakukan—"
BRAK!
"TIDAK MUNGKIN!" Chanyeol bangkit dari posisinya. Membuat Krystal terbanting di atas tempat tidur. Kemeja yang wanita itu pakai pun terangkat ke atas, memperlihatkan bagaimana payudaranya yang tak ditutupi apapun, dan bagian bawahnya yang hanya ditutupi celana dalam yang sangat tipis.
"Kau sedang melihat apa?" Chanyeol pun sadar akan pikirannya, dan segera memalingkan wajahnya. Ia tidak memikirkan apapun tentang Krystal dan tubuhnya, ia hanya berpikir, bagaimana bisa ia melupakan apa yang terjadi tadi malam?
Krystal tertawa, "Kalau kau 'suka', kenapa harus menahannya? Aku pun masih ingin bermain dengan'nya'." Krystal kembali berjalan mendekati Chanyeol, membuatnya berjalan mundur menjauhinya.
"Krystal, kau tahu aku mempunyai Baekhyun. Baekhyun istriku! Kenapa kau begini?!" Krystal menghentikkan langkahnya. Dahinya berkerut, lalu tertawa sarkas. "Lalu kenapa jika kau mempunyai istri? Aku tidak peduli. Kalau kau nanti menyukaiku pun, kau pasti akan meninggalkan istri tak bergunamu itu."
Chanyeol mengerut tak suka, "Jangan bicara seperti itu tentang istriku, Krys. Ia bahkan seribu kali lebih baik darimu." Chanyeol mengambil jas dan kemejanya yang berserakan di lantai. Lalu berjalan keluar dari kamar.
Tidak lupa juga untuk membantingnya.
Krystal melipat kedua tangannya, "Pergilah sekarang, Chanyeol. Tapi aku akan menarikmu lagi. Dengan cara apapun."
Ia tertawa dengan sangat puas.
.
.
Cklek.
"Oh, Chanyeol! Astaga! Aku khawatir sekali!" Baekhyun berlari dari posisi duduknya di sofa, dan berlari kecil ke arah Chanyeol yang sangat lemas. Chanyeol menerima pelukan Baekhyun, dengan membalas pelukannya.
Baekhyun melepaskan pelukannya, lalu mengulurkan tangannya untuk menarik rambut acak-acakan Chanyeol ke belakang. "Apa kau baik-baik saja? Tidak terjadi apapun, kan, Yeol-ah?"
Chanyeol hendak mengatakan apa yang terjadi hari ini, hanya saja, lidahnya tak kuasa berucap.
Dia menggeleng.
"Syukurlah. Ayo, biar aku siapkan air hangat untukmu mandi. Hari ini kau jangan kemana-mana. Kau kelihatan lelah sekali." Chanyeol mengangguk. Dan membiarkan Baekhyun menuntunnya ke arah kamar mereka.
.
Sebulan kemudian...
Baekhyun sedang merajut syal untuk Chanyeol. Mengingat bagaimana sibuknya pria itu di musim dingin ini, membuatnya khawatir akan kesehatan suaminya. Jadi ia berinisiatif membuatkan syal itu.
"Mama sedang membuatkan syal untuk Ayahmu, Sleeppy-ya." Baekhyun tertawa, lalu mengelus perutnya yang sedang mengandung bayi pertamanya dengan Chanyeol. Dan hari ini adalah sebulan ia hamil.
"Nyonya, ada pos." Baekhyun menoleh ke arah Bibi Im. Lalu mengangguk mengiyakan. "Ya, taruh saja di sini, Bi." Tunjuknya ke arah meja kecil di dekatnya.
"Tetapi, ini surat untuk Tuan Besar Chanyeol." Baekhyun menghentikkan rajutannya. Menatap aneh ke arah sepucuk surat dengan warna polos di tangan Bibi Im.
Baekhyun mengambil suratnya, "Untuk Chanyeol? Tetapi, selama ini ia tidak menulis surat untuk siapapun..." Baekhyun menggumam.
"Bibi, biar aku saja yang berikan ke Chanyeol nanti. Terima kasih, Bi." Bibi Im mengangguk, lalu undur diri. Membiarkan Baekhyun dengan segala rasa penasaran yang menumpuk di pikirannya.
Baekhyun melihat surat itu, lalu membaca bagian depannya:
From : Ladies KJ
For : Chanyeol Park
You'll happy if you read this, Park.
Baekhyun mengernyit.
"Apa aku buka saja? Tapi ini milik Chanyeol..."
"Milikku, adalah milikmu juga, Baekhyun-ah."
Dengan sepenggal kalimat yang Chanyeol ucapkan setelah pernikahan mereka,
Membuat Baekhyun memutuskan untuk membuka suratnya.
.
"Aku pulang." Chanyeol terlihat sangat segar walaupun baru saja pulang dari perusahaannya. Dasinya ia tarik untuk melepaskan ikatannya dari lehernya.
Chanyeol tersenyum saat menemukan Baekhyun sedang menunggunya di depan meja makan, "Oh, Baekhyun." Chanyeol mendekatinya. Namun Baekhyun bergeming di tempatnya. Sama sekali tidak menyambut Chanyeol seperti biasanya.
Chanyeol mengernyitkan dahinya, "Baekhyun-ah, ada apa? Kenapa kau tidak menyambutku seperti biasa?" Baekhyun tak menjawab. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Chanyeol dengan tatapan kosong.
Chanyeol hendak memegang pundak istrinya, namun, Baekhyun menahan tangannya. Membuat Chanyeol terkejut, dan menatap Baekhyun heran.
"Apa yang terjadi malam itu, Chanyeol?" tanya Baekhyun dengan suara yang sedikit bergetar. Chanyeol terhenyak.
Malam yang mana?
"Baekhyun-ah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Chanyeol mencoba mendekat lagi, namun Baekhyun menjauh darinya dengan memeluk kedua tangannya di depan dada.
Baekhyun terisak, "Malam itu, Yeol. Malam kau pulang saat pagi hari.. A-apa yang sebenarnya terjadi?"
DEG!
Chanyeol terdiam cukup lama. Sedangkan Baekhyun menahan tangisannya agar tidak pecah di sana.
"Dia hamil anakmu."
Sepenggal kalimat itu, membuat Chanyeol kehilangan keseimbangannya. Baekhyun akhirnya menangis tersedu-sedu. Mengeluarkan segala emosi yang sudah ia tahan semenjak ia membaca apa isi surat yang Bibi Im berikan padanya. Pikirannya dipenuhi dengan segala potretan imajinasinya tentang Chanyeol dan Krystal. Baekhyun awalnya tidak percaya, tetapi, test pack dan surat keterangan kehamilan membuatnya sadar bahwa itu bukanlah rekayasa semata.
Itu adalah kebenarannya.
"Nikahilah dia."
Chanyeol menatap Baekhyun penuh keterkejutan dengan mata yang mulai memburam karena air matanya. Air mata penyesalannya.
"Dan ceraikanlah aku setelah anak ini lahir, Chanyeol-ah. Aku yang akan merawatnya nanti," Baekhyun merogoh kantung celananya, lalu melempar surat tadi siang pada Chanyeol. setelahnya, ia berbalik menjauhi Chanyeol.
Chanyeol tetap menatapnya dengan tatapan penyesalan. Baekhyun pergi ke kamar yang bukan kamar mereka berdua. Melainkan kamar tamu yang berada di lantai bawah.
Chanyeol menatap ke arah dimana surat itu terjatuh. Tatapannya penuh emosi, namun ia bahkan tidak tahu bagaimana cara mengutarakan apa yang ia rasakan. Karena ini semua adalah alami kesalahannya.
Ia meraih surat itu, lalu mendapatkan satu test pack dengan dua garis merah, yang satu lagi adalah surat keterangan positif hamil atas nama Krystal Jung. Chanyeol meremas surat itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Jalang sialan!"
.
Tok! Tok!
Baekhyun yang sedang membaca majalah di ruang tamu pun menoleh ke arah pintu depan. Dirinya sedang tidak mood bertemu dengan siapapun, dan ia menebak kalau itu adalah sepupunya, Kyungsoo.
"Bibi, tolong bukakan pintunya. Dan katakan pada Kyungsoo, kalau aku sedang tidak mau kemana-mana." Bibi Im yang kebetulan sedang membersihkan meja makan pun mengangguk paham. Baekhyun kembali membaca majalahnya sementara Bibi Im berjalan ke arah
Tanpa melihat siapa yang bertamu, Bibi Im segera membungkuk sopan.
"Maaf, Nona Kyungsoo. Tetapi Nyonya sedang—"
"Siapa yang kau maksud dengan Kyungsoo? Aku Krystal. Krystal Jung."
Bibi Im mendongak dengan perasaan terkejut. Sedangkan wanita di hadapannya menyeringai senang melihatnya. "Dimana Nyonya-mu yang sombong itu?" ucapnya dengan nada penuh kekesalan. Matanya menyipit mengintip ke arah dalam. Dan mendapati Baekhyun sedang duduk santai di ruang tamu.
"Oh, ternyata dia sedang bersantai? Aku cukup kecewa," Krystal menggeleng tak percaya. Lalu menatap Bibi Im dengan tatapan menuntut, "Bawa koperku itu ke dalam. Dan simpan di kamar Tuan Besar Park Chanyeol. Aku tidak menerima penolakan ataupun sanggahan! Cepat laksanakan!" bentaknya. Membuat Bibi Im ketakutan dan mengangguk mengiyakan. Ia bahkan tak sadar kalau wanita di hadapannya itu membawa koper yang cukup besar.
Baekhyun terkejut saat melihat Bibi Im menarik koper yang cukup besar di tangannya. Baekhyun bangkit dan hendak bertanya, namun, Krystal lebih dulu menghadangnya.
"Itu koperku."
Baekhyun menatap Krystal dengan tatapan mematikan, "Siapa yang mengundangmu kemari? Dasar jalang." Krystal mendelik. Sedangkan Baekhyun berteriak ke arah Bibi Im. "Bibi Im! Jangan letakkan koper sialan itu di kamar manapun! Bawa kembali saja ke sini!"
"Hei!" Krystal menarik bahu Baekhyun cukup kencang. Membuat Baekhyun terkejut. "Apa hakmu mengambil alih koperku?!"
Baekhyun menyentak tangan wanita itu dari pundaknya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tuan rumah di sini. Dan kau, hanya tamu dan aku berhak untuk mengusirmu dari sini!" Krystal menutup kedua mulutnya, berpura-pura terkejut.
"Oh, maafkan aku, Nyonya," lalu setelahnya, ia tertawa sembari menyeringai. "Aku juga akan menjadi Nyonya rumah di sini. Apa kau lupa surat yang kukirim kemarin? Apa kau hanya menganggapnya sebagai mimpi burukmu tadi malam?" Krystal berjalan mendekati Baekhyun dan mendorong bahunya dengan tulunjuknya.
"Sayangnya, itu adalah kenyataan, Byun Baekhyun. Kau, dan bayi yang kau kandung itu, akan pergi dari sini. 8 bulan lagi."
Hatinya kembali mencelos ketika mengingat malam itu. Mendengar bagaimana Krystal mengatakannya tepat di hadapannya, membuatnya kembali terluka.
Tidak. Tidak sekalipun Baekhyun menganggap bahwa kemarin hanyalah kembang tidurnya. Baekhyun sudah cukup sadar untuk menyadari sebuah fakta bahwa Chanyeol memiliki anak dari wanita lain.
"Sudah ingat? Sekarang, sadarlah akan posisimu karena aku akan menjadi tuan rumah tetap di sini. Sedangkan kau, hanyalah 'menumpang' sembari menunggu bayi sialanmu itu lahir." Krystal menatap Baekhyun dengan penuh rasa puas karena melihat wajah tersakitinya.
Hentakan suara sepatu hak berbunyi menjauhi Baekhyun. Krystal membawa langkah kakinya menuju kamar di lantai atas, kamar Chanyeol. Tak lupa juga untuk mengambil alih kopernya dari tangan Bibi Im dengan kasar.
Baekhyun jatuh terduduk. Tatapannya mengosong dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan satu persatu dari kedua matanya.
Bibi Im yang tak kuasa pun memeluk Baekhyun selayaknya anaknya. Membuat Baekhyun akhirnya menangis kembali dalam jurang kesedihannya.
.
11:27PM
Chanyeol baru saja pulang dari pekerjaannya. Wajahnya nampak lesu dan rambutnya sangat berantakan. Dasinya terlepas dan jasnya pun ia lepas. Hanya menampakkan badanya yang memakai kemeja dan juga celana kerjanya.
Ia membuka pintunya, dengan cukup pelan. Ia cukup tahu, kalau Baekhyun tidak akan menunggu kepulangannya lagi. Bahkan, lampu pun sudah banyak yang dimatikan.
Ia mengintip kamar tamu yang sekarang Baekhyun tempati. Lalu mendapatkan Baekhyun yang sudah terlelap dengan dengkuran halusnya. Ia berjalan mendekati ranjang istrinya dengan gejolak rasa penyesalan yang kembali membuncah.
Ia bahkan tak berani lagi menyentuh istrinya lagi. Ia merasa kotor.
Chanyeol terisak, "Baekhyun -ah," air matanya menetes, "Sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Baekhyun." Chanyeol mengusap air matanya. Lalu beranjak meninggalkan kamar itu untuk kembali ke kamarnya.
.
Chanyeol memutuskan untuk membasuh dirinya dengan air hangat terlebih dahulu sebelum tidur. Ia harus menyegarkan pikirannya. Agar esok hari, ia tidak dilanda pusing seperti biasa.
Ia melakukan semua itu karena saran yang Baekhyun ucapkan padanya tahun lalu.
"Jika kau merasa stress, kau harus mandi dengan air hangat sebelum tidur, Chan." ucap Baekhyun saat mengompres Chanyeol yang sedang sakit kala itu. Ia bilang, ia sakit karena perubahan cuaca dan juga pekerjaannya yang semakin banyak. Baekhyun tidak marah, ia malah memberikannya petuah-petuah yang membuat suasana hatinya nyaman.
"Memangnya apa manfaatnya?"
"Untuk menenangkan dirimu. Air hangat itu membuat dirimu tenang dan relax dari masalah yang kau alami hari ini. Maka dari itu, jika aku sedang tidak ada di rumah, kau bisa mengingat kata-kataku hari ini jika kau mengalaminya."
Chanyeol menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya agar tidak menangis lagi. Sudah cukup hari ini ia tidak melakukan tugasnya dengan baik di perusahaannya.
"Tenanglah, Park Chanyeol. Kau bisa merubah segalanya, dan Baekhyun akan tetap di sampingmu." Chanyeol menyemangati dirinya sendiri di depan cermin. Lalu melangkah keluar dari kamar.
Chanyeol menarik selimutnya, lalu tidur dengan posisi di hadapkan ke kiri. Yang mana menghadapkannya dengan pintu kamarnya. Ia tidak mau menghadap ke sisi yang berlawanan. Karena di sana, sudah tidak ada lagi istrinya yang akan memeluknya lagi.
Ketika Chanyeol ingin memejamkan matanya, sepasang tangan memeluknya dari belakang. "Kenapa kau pulang larut sekali? Aku lelah menunggumu." Chanyeol terkejut, lalu membalikkan badannya sembari menarik selimut dengan kasar.
"Kau?! Sedang apa kau di rumahku?!" Chanyeol bangkit dari posisinya, lalu menyalakan lampu. Matanya kembali terbuka dengan rasa kantuk yang hilang karena Krystal memakai baju yang cukup tipis. Ia tahu, wanita ini kembali untuk menggodanya.
"Sialan! Keluar dari rumahku!" bentaknya dengan suara yang agak dipelankan. Mengingat kalau Baekhyun sedang terlelap di lantai bawah dan dia tak ingin mengganggu tidur wanita yang dicintainya itu.
"Kenapa? Aku kesini untukmu! Aku hamil anakmu, Chanyeol!"
Chanyeol memandang wanita itu tajam, "Itu bukan anakku. Aku tidak melakukan apapun padamu malam itu! Aku ingat sekali!" elaknya. Membuat Krystal tertawa.
"Pria mana yang bisa mengingat malam yang ia lalui setelah meminum 5 botol soju?" Krystal bangkit, lalu berjalan ke arah Chanyeol.
Krystal menjilat bibirnya, "Aku akan melupakan apa yang kau katakan dua menit yang lalu, jika kau mau 'bermain' lagi denganku." Krystal hendak menarik celana boxer yang Chanyeol pakai jika saja pria itu tidak segera menampar tangan wanita itu.
"Jalang sialan," ia mendesis, "Kau silahkan bermain sendiri di kamar ini. Tidur di sofa bahkan seribu kali lebih baik daripada tidur seranjang dengan wanita ular sepertimu."
Chanyeol meraih satu bantal dari tempat tidurnya, lalu meninggalkan Krystal dengan perasaan kesal di sana. Ia melangkah turun untuk menuju sofa tamu di dekat pintu depan. Ia meletakkan bantalnya lalu memosisikan kepalanya senyaman mungkin.
Ia merasa kedinginan. Namun tidak mungkin untuknya kembali mengambil selimut dimana di dalamnya ada Krystal. Jadi, ia menahan rasa dinginnya mati-matian di sana. Dan ia baru bisa tidur ketika jam menunjukkan pukul 12:29PM.
.
Chanyeol terbangun dari tidurnya pukul 4 pagi. Ia tidur cukup nyenyak. Ia seperti merasa Baekhyun menemaninya tidur, walaupun mereka tidak melakukan kontak fisik lagi.
Ia mendapati dirinya telah di selimuti dengan selimut milik Baekhyun yang berwarna merah maroon. Chanyeol tersentuh, lalu memandang kamar tidur Baekhyun dengan perasaan rindu yang membuncah. Namun ia tidak bisa apa-apa. Baekhyun pasti akan tetap menolaknya mentah-mentah jika mereka bertemu pandang.
Hari ini, Chanyeol berangkat ke kantornya pukul 4:47AM. Waktu yang terbilang sangat pagi untuk seseorang yang bahkan tidak harus berangkat sepagi itu, karena ia adalah pemilik perusahaan tersebut.
.
Seminggu Kemudian...
Drrt.. Drrt..
"Ya, Hun-ah? Bagaimana rekaman cctv—"
"SIALAN, HYUNG. DIA BENAR-BENAR MENIPUMU!"
Chanyeol menggebrak mejanya cukup kencang.
"Jalang itu!" Chanyeol merasa kesal, namun juga puas. Karena Baekhyun akan kembali ke pelukannya sebentar lagi.
Chanyeol menutup Macbook-nya, "Katakan apa yang kau lihat, Sehun."
Di seberang sana, Sehun mengangguk dengan laptopnya yang memeperlihatkan bagaimana sesosok Krystal membawa Chanyeol yang mabuk ke hotel kemarin.
"Memang benar, hyung. Dia yang membawamu malam itu bersama temannya yang sepertinya bekerja di club itu. Hanya saja, tidak terjadi apa-apa! Dia melepas bajumu, lalu menyelimutimu. Setelahnya, ia keluar dan tidak masuk lagi!" Sehun mengatakannya dengan menggebu-gebu. Sedangkan Chanyeol mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dan dengan aktingnya itu, ia memakai kemeja putihmu agar kau berpikir seolah-olah kalian melewati malam bersama. Itu bayanganku seperti di novel-novel!" Chanyeol memutar kedua matanya, "Yang benar, Sehun."
"Ini sudah benar, hyung. Astaga. Dia benar-benar ular. Dan kau, pemimpin perusahaan yang paling tersohor malah gampang sekali di tipu!" Sehun berdecak tak percaya. Sedangkan Chanyeol menahan niatannya untuk tidak melemparkan sepatunya ke kepala anak itu saat mereka bertemu nanti.
"Aku akan melupakan kalimatmu barusan jika kau mau melakukan tugas selanjutnya."
Sehun tersenyum senang di seberang sana. Ia semakin merasa semangat, "Oh, hyung! Suruh aku apa saja untuk masalah ini! Aku merasa seperti tokoh penyelamat di novel romansa!"
Chanyeol menyeringai sembari menatap surat yang sudah lecek di tangannya.
"Pergi ke Rumah Sakit Seoul dan temui Dokter Bae Joohyun."
.
"Umm—apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Oh?" ucap Dokter cantik itu ragu-ragu. Karena ia adalah Dokter Kehamilan, dan untuk apa seorang pria datang kemari.. sendirian pula?
Sehun tersenyum ramah, "Aku hanya ingin bertanya sedikit. Dan jawablah dengan jujur, oke? Atau aku akan beritahu kakek untuk memecatmu." Ancam Sehun dengan senyuman yang tidak hilang menghiasi bibir tipisnya. Joohyun memasang wajah biasa saja, namun dibalik itu semua, ia sudah menebak apa yang cucu bosnya itu lakukan di sini.
"Kau berteman baik dengan Jung Soojung, bukan?"
.
Chanyeol memijit pelipisnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi Sehun tidak memberikan kabar apapun padanya. Ia menatap pintu masuk ruangannya dengan perasaan berdebar sekaligus takut. Berharap bahwa Sehun masuk dari sana dan membawa kabar yang sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Dan beberapa menit kemudian, Sehun benar-benar muncul dari balik pintu kokoh itu.
"Hyung! Kau harus melihat ini!" ujar Sehun dengan nada yang cukup keras. Di tangan kanannya, terangkat tinggi-tinggi lembaran kertas berlabel Rumah Sakit Seoul.
Chanyeol bangkit dari kursi kebesarannya. Lalu berjalan melewati Sehun untuk mengunci pintu ruangannya agar tidak ada siapapun yang mengganggu pembicaraan mereka berdua. Setelahnya, tangannya terulur untuk mengambil lembaran itu dari tangan Sehun dan membacanya dengan kecepatan mata yang luar biasa cepat.
"Bacalah, hyung! Krystal—"
Chanyeol membatu, "Apa ini sungguh hasil aslinya? Tetapi—" matanya menatap pupil Sehun dengan sedikit rasa lega.
Sehun mengangguk mengiyakan, "Ya. Dia hamil dua bulan, hyung. Dan itu pasti, bukan anakmu." Chanyeol mengambil langkah untuk duduk di sofa panjang di ruangannya. Begitupun Sehun yang ikut mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Dokter wanita itu benar-benar berkata jujur, hyung. Hanya saja, ia ikut memanipulasi suratnya agar Krystal diketahui hamil selama sebulan! Padahal kenyataannya, wanita jalang itu sudah hamil dua bulan!"
Chanyeol menggeleng tak percaya, "Mengapa dia melakukan ini padaku?"
Sebenarnya, apa yang wanita itu inginkan?
.
Bau khas bir tercium sampai indera penciumannya sekarang. Baunya sangat menyengat, sekaligus mengingatkannya pada malam laknat itu.
Chanyeol dan Sehun memutuskan untuk langsung turun ke club malam itu. Ia ingin mencari kenalan Krystal yang bernama Sulli. Karena wanita itu juga turut andil di malam itu.
Bermodalkan foto yang Sehun dapatkan dari video kamera cctv, Chanyeol tidak tahu apakah ia dapat menemukan wanita itu malam ini. Foto yang Sehun dapatkan hanya memperlihatkan perawakan Sulli yang kurang jelas.
Namun Chanyeol yakin, ia akan mendapatkan wanita ini.
"Dimana, sih, wanita ini? Sulit sekali mencarinya—AH!" Chanyeol melangkah sedikit mundur karena terkejut. Lengannya basah karena seorang pelayan wanita tak sengaja menumpahkan segelas penuh bir itu padanya. Ia hampir marah, hanya saja—
"Apakah kau... Sulli?"
Tubuh wanita yang sedang membungkuk meminta maaf padanya itu menegang.
Chanyeol menganggapnya, benar.
Sehun meliriknya dengan pelototan keterkejutan. Chanyeol memberikannya aba-aba untuk membawa pelayan itu keluar dari club. Sehun mengiyakan, lalu membisikan kalimat yang membuat Sulli berjalan mematuhinya.
.
"Apa yang sebenarnya ingin kalian ketahui dariku?" tanya Sulli setelah mereka terdiam selama beberapa menit. Chanyeol menghela nafasnya, lalu memajukan langkahnya untuk sedikit lebih dekat ke Sulli yang sedang memincingkan matanya.
"Ceritakan apa yang kau ketahui pada malam dimana aku dibawa Krystal ke hotel itu. " tanya Chanyeol langsung pada topik pembicaraan. "Kalau kau tak mau, aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu." Ancam Chanyeol yang membuat Sulli mengerut ketakutan.
Sulli menatap Chanyeol penuh keraguan, lalu menghela nafasnya.
"Sebenarnya, aku memberikan pil tidur di birmu, dan aku juga yang melakukan reservasi di hotel itu. Tetapi, aku melakukan itu semua karena Krystal berkata kalau kau adalah pacarnya. Jadi aku pikir, itu tak masalah."
Chanyeol menggeram mendengarnya, "Dia bukan pacarku. Dia hanya sebatas kenalan karena ia mantan kekasih Jongin. Tetapi dia bealibi kalau aku yang sudah menghamilinya!" Sulli menatapnya terkejut, "Bukan kau?! Lsssalu dengan siapadia... hamil?" Sulli memelankan suaranya. Pikirannya mulai mengingat jauh dari hari ini. Dimana Krystal yang setelah putus dari Jongin mulai bermain di dunia penuh dosa itu sampai terakhir mereka bertemu lusa kemarin.
"Joohyuk... Ya! Nam Joohyuk! Si bajingan itu pasti yang menghamilinya!" Sulli menatap Chanyeol dan Sehun bergantian, "Aku yakin seribu persen kalau Joohyuk lah yang menghamili Krystal. Aku ingat sekali saat Krystal pergi ke rumahku jam 3 pagi dengan tubuh yang berbau sperma!"
"Ah, menjijikan sekali!" dengus Sehun tak percaya.
Sulli menatap Chanyeol, "Chanyeol, jika Krystal benar-benar hamil anak Joohyuk, kau jangan pernah membiarkan wanita itu masuk ke dalam rumahmu karena alibinya itu! Joohyuk adalah pembisnis licik. Ia pasti akan melakukan sesuatu lewat wanita itu jika dia berhasil masuk ke rumahmu, Park! Perusahaanmu bisa dalam bahaya begitupun istrimu!"
Chanyeol menepuk dahinya saat teringat sekelebat pria yang bernama Joohyuk itu, "Sialan! Aku benci sekali padanya!" Chanyeol mengalihkan perhatiannya ke arah Sehun, "Sehun! Ambil mobilku dan kita pulang sekarang!"
Sehun mengangguk dan setelahnya pergi ke area parkiran.
"Terima kasih atas semua bantuanmu."
"Senang bisa membantu."
.
30 Menit yang lalu di kediaman Chanyeol.
"Halo?"
"Baby, lebih cepat lagi. Kita harus ke Swedia lusa nanti untuk mengurus pernikahan kita." Ucap seorang pria dengan nada menggoda di seberang sana. Krystal tersenyum manis di depan cermin.
"Tunggulah sebentar lagi. Aku harus mencari kunci ruangan pribadi si Park bodoh itu, lalu membunuh istrinya." Krystal berjalan mengelilingi kamar dengan mata yang menatap setiap isi. Berharap jika ia dapat menemukan apa yang dia cari.
"Aku sangat merindukanmu. Aku juga tak sabar menyapa baby kita." Ucap pria itu lagi. Membuat perasaan Krystal melambung jauh tinggi ke awang-awang.
Krystal memelankan suaranya untuk memasang suara manja, "Aku juga merindukanmu, dan merindukan Nam junior." Joohyuk menggeram di sana. Sedangkan Krystal tertawa lucu.
"Astaga, Jung! Kau membuatnya 'bangun' dengan suaramu itu!" Krystal menggeleng tak percaya. Lalu tangannya beralih untuk menarik laci pada nakas. Dan apa yang ia cari pun ia temukan.
Kunci ruangan pribadi Chanyeol.
Krystal menjerit tertahan karena perasaan senang, "Aku akan tiba di mansionmu dalam 3 jam, baby! Kututup!"
"Ya!—"
Krystal menyeret kopernya menuju ruangan pribadi Chanyeol. Seluruh lampu sudah di matikan kecuali ruangan pribadi Chanyeol dan lampu depan. Krystal berjalan mengendap-endap. Lalu membuka pintu ruangan Chanyeol dengan suara yang suara di redamkan.
Setelah terbuka, ia segera menyeret kopernya ke dalam. Dan mencari berkas-berkas yang ia perlukan. Lalu menyimpannya dalam kopernya. Beberapa map dengan warna yang berbeda-beda itu ia sembunyikan dibalik pakaian-pakaiannya. Lalu setelah dipikir cukup, ia melangkah keluar.
Tetapi misinya tidak berhenti saja di sana. Ia juga harus melaksanakan satu tugas terakhirnya:
Membunuh Baekhyun.
Tangannya memutar knop pintu dengan perlahan. Lalu mendapati Baekhyun yang sedang terlelap dengan nyenyaknya. Ia menyeringai, lalu meraih bantal yang satunya lagi untuk membunuh wanita yang sedang hamil itu.
Langkahnya semakin mendekat dengan bantal yang berada di genggamannya. Setelahnya, ia membekap saluran pernafasan Baekhyun dengan tekanan yang cukup kuat. Hal itu cukup membuat Baekhyun memberontak karena terkejut dalam tidurnya.
"Mmm! Hmmmmm!" Baekhyun memukul-mukul ranjang tidurnya asal. Karena ia sangat kesusahan untuk bernafas saat ini.
"Diamlah! Dan titipkan salamku pada malaikat penjaga Neraka!" ia tertawa sangat kencang. Lalu kembali menekan bantal itu kuat-kuat.
BRAK!
"KRYSTAL JUNG!"
Chanyeol mendorong Krystal dengan cukup kuat ke arah tembok. Dan itu membuat badannya tersungkur cukup keras. Chanyeol tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah Baekhyun yang sedang pingsan dipelukannya.
"Baek? Baekhyun? Baekhyun-ah! Bangun! Park Baekhyun!" jantung Chanyeol berdetak cukup keras. Hatinya tidak tenang, ia takut terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya yang bahkan belum lahir. Ia menggendong Baekhyun ala bridal style ke mobilnya. Mengabaikan Krystal yang menjerit tertahan sembari memegang perutnya yang menyeri.
"Hyung! Coba lihat ini! wanita sialan itu berhasil mencuri berkas-berkas perusahaanmu—Astaga, Baekhyun noona! Apa yang terjadi, hyung?!" Sehun yang awalnya mengoceh pun tanpa sengaja mendapati Baekhyun yang tak sadarkan diri di pelukan Chanyeol. Ia menatap khawatir Baekhyun yang sekaligus sahabatnya sejak SHS-nya itu. Sedangkan Chanyeol mengabaikan ucapan Sehun untuk segera membawa Baekhyun ke rumah sakit.
"Apa—" langkah Sehun terhenti saat melihat Krystal yang terduduk dengan darah yang mengalir dari arah vitalnya. Ia pikir ia tak perlu membantu wanita itu karena wanita itulah yang membuat sahabatnya hampir kehilangan hidupnya akhir-akhir ini. Bahkan, jika wanita itu mati, ia akan bersorak senang. Karena para pendosa di dunia mulai berkurang.
Hanya saja, ia tidak mempunyai hak untuk membunuh kehidupan lainnya yang berada di dalam kandungan wanita itu. Bagaimana pun, bayi itu punya hak untuk hidup.
"Ah, sialan! Ini terakhir kalinya aku membantu wanita sialan seperti ini!"
.
.
.
Baekhyun mengakhiri ceritanya dengan tatapan yang masih ia lemparkan pada Krystal. Tak ada air mata sedikitpun yang jatuh dari matanya. Ia tak menangis sama sekali saat menceritakan pengalaman tak terlupakannya itu. Minseok dan Yixing saja sampai menangis, begitu juga dengan Kyungsoo. Jessica hanya menatap prihatin Baekhyun dan tatapan kecewa yang ia lemparkan pada adiknya.
Baekhyun menatap Kyungsoo dalam, "Aku bersyukur bahwa bayiku, Taehyung, selamat kala itu. Bahkan jika bayiku mati karena jalang ini, aku bersumpah akan membunuh dia dengan cara yang sama." Krystal tetap menunduk. Ia sama sekali tak mengangkat wajahnya sejak Baekhyun bercerita.
"Tetapi, ternyata dia yang kehilangan bayinya akibat perbuatannya itu."
Ya. Krystal kehilangan bayinya karena hentakan keras yang ia dapatkan dari dorongan Chanyeol. Ia keguguran. Dan Baekhyun sama sekali tidak meminta maaf karena hal itu. Sebab, Krystal memang pantas mendapatkannya.
"Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih padaku karena aku tidak melaporkannya pada polisi. Sepertinya darah jalangnya sudah menyatu dengan jiwanya." Baekhyun menatap Chanyeol, "Chanyeol sengaja melakukan itu agar Krystal sadar dan pergi saja keluar negeri dengan uang yang sudah Chanyeol berikan padanya. Tetapi dia malah kembali lagi ke sini. Tidak tahu malu." Ucapnya.
Baekhyun tersenyum miring, "Dan sekarang lihatlah dia, Soo. Dia mengemis cinta Jongin padamu. Apakah ia pikir ia berhasil?" Baekhyun berdecak. "Dasar sinting. Langkahi dulu mayatku." Ucap Baekhyun tajam pada Krystal.
Krystal mengangkat wajahnya yang sudah memerah karena kesal. "Byun Baekhyun!" bentaknya murka. Dan Baekhyun hanya melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu apa yang akan dilakukan wanita di hadapannya kini.
"Karenamu! Joohyuk meninggalkankuu! Byun Baekhyun! Aku bersumpah akan membunuhmu di sini!" Krystal meraung-raung. Tidak memperdulikan bagaimana orang-orang memandangnya takut. Jessica berhasil menahan tubuhnya, namun Krystal tetap saja memberontak.
"Joohyuk meninggalkanmu karena kau bodoh. Karena kau sudah gagal. Dan menurutnya kau tidak berguna dan pantas dibuang." Ucap Chanyeol sembari menatap Krystal benci. Krystal tertegun pada ucapannya.
Chanyeol tersenyum miring. Membuatnya mirip sekali dengan Baekhyun beberapa menit yang lalu. "Kudengar sekarang dia juga sudah menikah dengan jalang di London. Berita itu sangat terdengar tak sopan. Namun, emang seperti itulah kenyataannya." Chanyeol menjeda untuk menatap Krystal dari atas sampai bawah.
"Lebih baik, bukan, dari pada menikahi jalang yang hampir membunuh perusahaan terbesar ketiga di Korea Selatan? Namanya pasti nanti akan kotor dan dipandang buruk oleh semua orang."
Dan setelahnya, Krystal dibawa pergi oleh Jessica menaiki mobil fortunernya karena perilaku brutalnya semakin parah karena ingin mencekik Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, Yixing dan Minseok memilih tak terlalu peduli dan bergegas pulang karena hari sudah larut.
Baekhyun yakin seribu persen, Jongin sedang mengamuk di sana dan akan menyalahkan dirinya.
Pasti aku lagi yang kena.
Baekhyun mendengus dalam hati.
.
.
.
"AH,TUHAN! SEBENARNYA KEMANA MEREKA?"
Jongdae tertawa, "Dilamar saja belum, tetapi sudah ditolak, ya?" mata Jongin memincing, setelahnya meraung sedih.
"Yang benar saja?! Kyungsoo-ya~~ HUWEEE,"
"Berisik, Jongtan!" Jondae melemparkan bantal sofanya ke wajah Jongin. Dan membuat Jongin bungkam. Ia hampir menangis lagi, namun, suara dering pesan terdengar sampai ke telinganya.
From: Baekhyunie noona
Pulang saja hari ini, Jong. Kyungsoo mengalami hal yang buruk hari ini.
Dia pasti membutuhkanmu.
-10:25PM
.
To: Baekhyunie noona
Apa itu?
Dan noona, aku tidak bisa pulang. Aku akan terus di sini sampai Kyungsoo datang dan aku melamarnya.
-10:25PM
.
From: Baekhyunie noona
Dasar pecinta drama picisan. Sekarang aku tahu kenapa kau dan Sehun seperti sangat lengket seperti lem tikus. Kalian benar-benar bodoh.
-10:27PM
.
To: Baekhyunie noona
Kami satu, noona. Hahaha.
-10:28PM
.
From: Baekhyunie noona
Dasar sinting -_-
-10:31PM
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Yap, satu part lagi menuju akhir chapter kisah cinta Jongin dan Kyungsoo~~~
Jangan bosen bosen yha:")
