Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Marriage Simulation © Haruno Aoi

Rated: T – M

Setting: AU

Warning: mungkin sangat OOC, mungkin masih ada TYPO atau MISSTYPO

Kurs yang saya gunakan: ¥ 1 = Rp. 100

Langsung saja…

Silahkan membaca…

.

.

.

Yo, Minna-san, saya kembali dengan fic aneh dan tak beralur ini. Karena masih ada yang minta dilanjutin, maka saya lanjutkan *plak* terima kasih atas motivasinya. Sudah lama ide fic ini berputar-putar di benak saya *halah* tapi baru sekarang bisa menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Maaf karena tidak balas review. Saya sangat berterima kasih kepada kalian semua… \(ToT)/

Kalau ada yang tanya tentang oyaji, oyaji = ayah ^^

Kalau ingin tahu tentang –pyon, baca chapter ini, ya… ^^v

.

.

.

Sebelumnya di Marriage Simulation…

Neji mendengus panjang sebelum berucap sambil menyeringai, "Sepertinya kau tidak banyak berubah, Sasu-pyon…"

Sontak kedua mata Sasuke terbelalak mendengar panggilan yang ditujukan Neji kepadanya. Panggilan yang beberapa tahun lalu sering Sasuke dengar kala menjadi remaja sekolah menengah atas. "Berhenti memanggilku seperti itu, Sadako!" geramnya sembari bangkit dan mengarahkan telunjuknya ke wajah Neji, seolah mengancam.

"Memangnya kenapa kalau aku tidak mau, Sasu-pyon?" goda Neji dengan menampakkan wajah tanpa dosa.

Sasuke tampak menahan rasa kesal, sedangkan Neji terlihat sekuat tenaga menahan tawa karena berhasil menggoda adik iparnya.

"Sasu-pyon?" gumam Hinata sambil mengedipkan matanya berulang kali. Ia jadi penasaran mengapa suaminya mendapatkan panggilan itu dari Neji.

"Jangan ikut-ikutan, Hinata…" Sasuke mendesis sambil menekan rahangnya dengan kuat.

.

.

.

*[ Marriage Simulation ]*

.

.

.

"Oh, jadi seperti itu…" gumam Hinata sembari menahan tawa kecil seusai Neji menceritakan kehidupan SMA Sasuke bersamanya. Ia melirik Sasuke yang kedua tangannya diikat di belakang oleh sang kakak ipar, sementara mulutnya dibekap menggunakan serbet dari dapur. Ck, ternyata Neji kejam.

Sebenarnya Hinata sedikit seram melihat kedua mata Sasuke yang melotot hingga seolah hampir keluar dari rongganya, padahal pemuda itu hanya berniat minta tolong pada Hinata agar berpihak kepadanya yang notabene adalah suaminya.

Bagaimanapun, Neji menistakan Sasuke agar Hinata mengetahui misteri di balik akhiran imut yang menyertai nama Sasuke saat duduk di bangku SMA dulu. Untuk sementara biarkan Sasuke menendang Neji menggunakan kedua kakinya yang bebas, dan abaikan Neji yang tidak mau kalah. Izinkan Hinata untuk menyelami masa lalu Sasu-pyon bersama Sadako sembari menumpukan dagu pada kedua tangannya.

Flashback: On

Saatnya razia, kegiatan rutin di sekolah Sasuke dan Neji demi menjaga kepatuhan para murid terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Sayangnya tidak ada di antara siswa dan siswi yang mengetahui jadwal inspeksi. Beberapa siswi digelandang ke ruang tata tertib karena rok mereka yang terlalu pendek, ketahuan memakai anting-anting di balik rambut yang menutupi telinga mereka, mengenakan kaus kaki kendur, lupa menutupi warna palsu rambut mereka dengan cat hitam yang tidak permanen, dan ada juga yang tertangkap basah membawa ponsel ke sekolah.

Terakhir giliran tas Sasuke yang diperiksa, setelah sebelumnya pemeriksa mengangguk puas karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam tas ketua OSIS, Hyuuga Neji. Sasuke hanya melipat kedua tangannya di dada, merasa yakin ia juga akan lolos seperti sang leader. Hingga akhirnya ia sedikit memajukan tubuhnya dengan mata terbelalak tatkala pria botak dengan luka di wajah mengangkat sesuatu yang diambil dari dalam tas hitamnya yang berlambang SMA. Ia merasa semakin terpojok melihat seringai kecil Neji serta berpuluh pasang mata penghuni kelas yang mengarah kepadanya.

"Ternyata wakil ketua OSIS kita menggemari majalah berlambang kelinci," sindir Ibiki-sensei sembari menatap tajam Sasuke, mengisyaratkan kepada pemuda bermarga Uchiha itu agar menyusul teman-temannya yang sudah dikeluarkan dari kelas untuk mendapatkan hukuman.

"Aish," desis Sasuke sambil menatap tajam Neji yang belum menghilangkan seringainya, kemudian beralih ke seluruh penjuru kelas hingga membuat teman-temannya menundukkan pandangan, "Sai sialan!" umpatnya pelan seraya bangkit dari tempat duduknya.

Ibiki-sensei yang berjalan menuju pintu mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sasuke yang mengikutinya di belakang. "Baru saja kau mengumpatku?" desisnya tajam.

Sasuke meneguk ludah dengan susah payah. "Ti..tidak." Sampai sekarang pun ia belum bisa menang dari aura mencekam yang dikeluarkan oleh Ibiki-sensei. Ia menghela napas pelan setelah Ibiki-sensei melanjutkan langkah lebarnya, dan ia kembali mengekor di belakangnya.

Di dalam hati, berbagai umpatan ditujukan Sasuke untuk putra angkat ayah biologisnya. Semalam ayahnya memang mendatangi rumahnya bersama pemuda pucat yang mirip dengannya. Ia sangat tidak keberatan bila ayahnya melepas rindu dengan menemuinya, asalkan pemuda yang selalu membuatnya iri hati itu tidak turut serta. Pasti saudara angkatnya yang jahil dan diam-diam mesum tersebut yang memasukkan majalah pria dewasa ke dalam tas sekolahnya.

Jika boleh, Sasuke akan lebih memilih tinggal bersama ibu dan ayahnya dalam sebuah ikatan keluarga, daripada diajak ibu dan kakeknya melarikan diri ke luar negeri selama bertahun-tahun agar tidak mempermalukan keluarga besar Uchiha. Karena itu, ia merasa cemburu terhadap pemuda yang diadopsi oleh ayahnya. Apalagi, kakak laki-lakinya yang belum menerima kehadirannya malah lebih menyayangi pemuda berkulit pucat itu. Ia tidak meminta untuk dilahirkan, tidak seharusnya ia dibenci dan dituduh sebagai penyebab kematian ibu kakak sedarahnya.

Memang tidak ada gunanya menyalahkan dan mengorek penyesalan, aib, serta dosa kedua orang tuanya. Hubungan terlarang antara saudara sepupu, Mikoto yang masih lajang dan Fugaku yang sudah beristri, telah menghadirkan dirinya ke dunia yang keras untuknya. Sasuke tidak punya pilihan, selain menerima dan menjalani hidupnya.

Tidak lama Sasuke berada di ruang tata tertib, ia keluar dengan wajah lesu. Mengapa harus Prince Hygiene seperti dirinya yang diberi hukuman membersihkan kandang kelinci milik klub sains selama satu bulan? Sebenarnya tidak hanya membersihkan kotoran, ia juga harus memberi makan para kelinci berbagai jenis tersebut. Dan sialnya, hukumannya dimulai hari ini. Saat istirahat, ia harus memberikan makan siang untuk kelinci, sementara sepulang sekolah ia harus membersihkan kandang kelinci yang kotor dan bau. Ih, membayangkannya saja sudah membuat Sasuke bergidik sekaligus kehilangan nafsu makan.

"Kuso!" Sasuke terus saja mengumpat dengan desisan pelan selama berjalan di koridor yang masih lengang karena belum memasuki jam istirahat. Baru saja ia akan menggeser pintu kelas, bel tanda istirahat berbunyi, membuatnya mengurungkan niatnya sembari menggeram kesal, "Chikushou!"

Dengan langkah gontai, ia menuju kandang kelinci yang berada di samping bangunan khusus milik klub sains yang didirikan di belakang gedung SMA. Dilihatnya ruangan serba putih itu hanya berisikan meja-meja panjang, lemari-lemari kaca berisi berbagai peralatan laboratorium dan cairan kimia, patung anatomi dan rangka manusia, meja keramik dengan wastafel, serta beberapa hewan percobaan yang masih dikandangkan. Dengan kata lain, belum ada tanda-tanda kehadiran manusia selain dirinya. Setelah mampir untuk mengambil makanan kelinci di ruangan yang biasanya dihuni oleh para calon ilmuan tersebut, Sasuke langsung mendatangi kandang kelinci yang menguarkan aroma tak sedap.

Sasuke langsung menutup hidungnya ketika berdiri di samping kandang kelinci yang berjeruji. Sebelah tangannya memegang kunci, setelah wadah makanan kelinci diletakkannya di tanah. Sasuke memang belum memiliki pengalaman dalam memelihara hewan, dan dalam hal ini otaknya langsung buntu disebabkan aroma kandang kelinci. Ia membuka pintu kelinci yang sempit dan memasukkan makanan kelinci ke tengahnya, padahal sebenarnya ia bisa menuangkannya ke tempat yang sudah disediakan di tepi kandang melalui celah jeruji.

Merasa ada celah, satu per satu kelinci membebaskan dirinya dari kekangan jeruji berbahan besi. Sasuke yang masih menahan napas langsung terbelalak dan belakang kepalanya terbentur bingkai pintu kandang ketika melangkah mundur. Tanpa memedulikan nyeri di kepalanya dan sepatunya yang tak sengaja menginjak kotoran kelinci, ia berlari ke sana ke mari mengejar kelinci yang tertangkap pandangannya. Ia mengembalikan kelinci yang sudah tertangkap ke kandang yang kemudian langsung dikuncinya.

Tak sengaja melihat ke arah gedung SMA, ia syok karena ratusan pasang mata di dalam keseluruhan kelas sedang tertuju padanya dari balik jendela kaca yang lebar. Rasanya ia ingin mengubur dirinya di lubang semut dekat pohon samping kandang karena melihat senyum geli yang disunggingkan para siswa serta pandangan berbinar dan wajah merona para siswi. Belum lama ia terpaku di sana, Neji yang juga mengamatinya entah sejak kapan, melakukan isyarat menunjuk sesuatu yang hampir memasuki lingkungan gedung SMA.

"Sasuke no ahou."

Sasuke masih bisa membaca gerakan bibir Neji sebelum ia berlari mengejar satu kelinci berwarna putih yang mulai melompat di koridor depan kelas. Tidak lupa teriakannya untuk memanggil si kelinci, seperti, "Oi, tunggu!" Dan, tidak ketinggalan suara cekikikan dan teriakan para siswi yang histeris atau bertujuan menyemangati salah satu idola sekolah tersebut.

Hari ini adalah awal dimana Sasuke mendapatkan suatu kehormatan dengan tambahan akhiran lucu yang identik dengan kelinci di belakang nama kerennya. Sasu-pyon, begitulah para siswi serta beberapa siswa dan guru memanggilnya sejak detik itu. Mulai saat itu juga, tidak ada yang mengaku takut ketika mendapatkan tatapan tajam nan seram yang dilayangkan oleh Sasuke. Menurut mereka, Sasuke malah terlihat semakin imut dan menggemaskan. Bahkan ada murid baru yang memanggilnya Sasu-pyon-senpai. Tapi, lama-lama pemuda berdarah Uchiha itu mulai terbiasa dengan panggilan yang ditujukan kepadanya.

Andai Sasuke membawa majalah berlambang kucing dan berakhir dengan kejar-kejaran dengan kucing, mungkin ia akan dipanggil Sasu-nyan.

Flashback: Off

Hinata kembali terkikik pelan setelah lamunannya buyar. Di seberang meja, belum ada yang berubah dengan keadaan mengenaskan Sasuke, kecuali Neji yang sudah tidak berada di ruangan yang sama dengannya. Disertai rasa bersalah, ia menghampiri Sasuke dan melepaskan ikatan tali di kedua pergelangan tangan suaminya tersebut. Selanjutnya ia membuka serbet yang membungkam mulut Sasuke, yang seketika membuatnya menemukan tampang suaminya yang terlihat hendak memuntahkan isi perutnya.

"Neji sialan," desis Sasuke sembari duduk dengan tegak dan mengelus pergelangan tangannya yang memerah.

"Gomennasai," ucap Hinata tulus sambil menundukkan kepalanya.

"Kau juga salah, memang harus minta maaf," balasnya sinis.

"Hontou ni gomennasai, Sasuke-kun." Hinata belum menegakkan kepalanya, ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal karena tidak segera membebaskan Sasuke.

"Neji memang selalu menjadi mimpi burukku," gumamnya seraya berjalan menuju dapur. Ia mengambil gelas dan menuangkan air mineral dari lemari es ke dalamnya. Saat ia minum sembari mendudukkan dirinya di kursi meja makan, Hinata menyusulnya dan menduduki kursi di seberangnya. "Apa?" tanyanya dingin ketika memergoki Hinata sedang memandangnya.

"Neji-nii ke mana?" Hinata yang menunduk bertanya dengan takut.

"Bukan urusanku." Sasuke sedikit membanting gelasnya di meja, menyebabkan keterkejutan untuk perempuan hamil yang duduk di hadapannya.

Berikutnya, Sasuke harus mendengar isakan lirih dan melihat tetesan air mata Hinata yang langsung meluncur mengikuti gaya gravitasi bumi karena posisi kepalanya yang masih menunduk. Sasuke menghela napas panjang, yang malah membuat indera pendengarannya menangkap suara sesenggukan Hinata.

Jujur saja, ia memang masih sedikit kesal pada Hyuuga bersaudara. Tetapi, ia mencoba mengalah karena tidak ingin janin yang dikandung Hinata akan lahir dan tumbuh menjadi anak-anak yang cengeng. Alasan utamanya, ia tidak mau melihat Hinata mengeluarkan air mata karenanya.

"Kau yang salah, kenapa malah membuatku merasa bersalah?"

"Aku sedih dan takut karena Sasuke-kun belum memaafkanku…" lirih Hinata disertai isakan tanpa menunjukkan wajahnya yang sudah basah.

"Memangnya kau tahu isi hatiku?" Sasuke beranjak dari kursi dan mengajak Hinata menuju teras kediaman Hyuuga.

Sambil menghapus air matanya, Hinata hanya bisa mengekor pada Sasuke karena tarikan di salah satu pergelangan tangannya.

"Akan kutunjukkan sesuatu yang membuatku tergiur."

Kening Hinata mengernyit. Pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya hanya terucap dalam hati. Ia lebih memilih kejutan yang akan diterimanya atas menumpuknya rasa penasaran. Akhirnya ia turut menghentikan langkahnya ketika Sasuke melepaskan pegangannya dan berjalan mendekati pohon yang tumbuh di bagian kanan halaman depan rumah.

Hinata menghampiri Sasuke dan menengadahkan kepalanya ketika telunjuk tangan kanan Sasuke mengarah ke salah satu bagian pohon. "Apa, sih?" bisiknya bingung.

"Kau tidak bisa melihat buah mangga di sebelah sana?" Sasuke bertanya datar.

Hinata membulatkan mulutnya tanpa suara setelah melihat objek yang dimaksud oleh Sasuke. "Apa sekarang sudah musimnya untuk berbuah?"

"Entahlah," kata Sasuke tak acuh, "Yang jelas, aku sedang ingin makan mangga."

"Kelihatannya masih muda," gumam Hinata.

"Aku tak peduli," ujar Sasuke sambil berkacak pinggang tanpa mengalihkan pandangannya dari segerombol buah mangga berkulit hijau. "Panjat, gih!"

Sontak Hinata terbelalak kaget. "Sasuke-kun serius menyuruhku memanjat dalam keadaan seperti ini?" tanyanya sambil menunjuk perutnya yang mulai membuncit.

Sasuke berdecak sebal. Ia tak menyembunyikan kekesalannya ketika membuka mulutnya dan berteriak penuh emosi, "NEJI!"

Karena belum ada jawaban dari orang yang bersangkutan, ia kembali berteriak hingga beberapa kali, membuat Hinata harus menutup kedua indera pendengarannya agar gendang telinganya tidak pecah. Untung saja jarak antara kediaman Hyuuga dengan rumah tetangganya agak berjauhan. Kalau tidak, pasti sekarang panci atau barang pecah belah akan melayang ke arah mereka akibat jeritan Sasuke yang sangat mengganggu.

"Kau gila, eh?" hardik Neji yang keluar dari rumah dengan wajah gusar.

"Panjat!" Sasuke memerintah tanpa basa-basi dengan salah satu tangan menunjuk mangga yang diinginkannya, sementara tangan yang lain masih bertengger di pinggangnya.

"Hah?" Neji tak mampu berkata-kata. Ia melayangkan pandangan penuh tanya kepada Hinata, dan ia mendapatkan sebuah kedikan bahu sebagai jawabannya.

Sejurus kemudian, Hinata memberikan pandangan memohon dan penuh harap kepada Neji ketika melihat mulut Sasuke yang mulai membuka lagi. Neji mendengus sembari berjalan mendekati pohon yang batangnya sedikit bergetah tersebut, yang sukses mengurungkan niat Sasuke untuk kembali berteriak layaknya orang gila.

Dengan enggan serta mengumpat lirih, Neji segera menuruti keinginan adik iparnya setelah mendapatkan pelototan tajam. Padahal ia baru saja mengganti pakaiannya dengan yang bersih seusai mandi karena hendak menemui ayahnya di rumah sakit. Gara-gara Sasuke dan permintaan konyolnya, ia harus merelakan kaus putihnya yang terkena getah pohon. Lama tidak memanjat pohon ternyata bisa membuatnya kikuk dan mudah terpeleset, dan lagi-lagi disebabkan oleh Sasuke.

"Istrimu yang mengandung, kenapa kau yang ngidam?" Neji menyeringai kecil, sedikit meledek Sasuke seraya menjatuhkan tiga buah mangga yang bergerombol. Ia kembali menapakkan kedua kakinya di tanah setelah Sasuke mendapatkan yang diinginkannya.

"Huh, siapa yang ngidam?" gumam Sasuke dongkol.

.

.

.

Hinata sudah menduga bahwa saat seperti ini pasti akan tiba sejak ia dan Sasuke memutuskan untuk menghapus perjanjian yang menyertai pernikahan sahnya. Ia juga sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan menimpanya bila seseorang yang seharusnya berada di posisi Sasuke menjadi murka karena penolakannya. Walaupun begitu, kenyataan tak semudah yang dibayangkannya. Ia merasa sangat gugup dan takut, melebihi keresahannya di hari pernikahannya dengan Sasuke, yang waktu itu belum disertai cinta.

"Kalau kau tidak bersedia menerimanya, kau boleh membuangnya," kata pria berambut hitam itu dengan malas dan terkesan cuek. Ia menyesap seduhan teh hijau yang beberapa saat lalu disuguhkan kepadanya.

Hinata yang duduk bersimpuh di seberang meja masih menunduk dan mendorong kembali kotak kecil berlapis beludru ungu muda hingga berada dekat dengan lawan bicaranya yang memakai anting di telinga.

"Ke..kenapa begitu? Aku tidak bisa—"

"Turquoise hanya cocok untukmu," potong pria yang diketahui sebagai Shikamaru tersebut. "Lagipula, aku memberikannya padamu sebagai hadiah ulang tahun," lanjutnya tak acuh.

"Ta..tapi—"

"Kau sudah terikat dengan pria lain," Shikamaru kembali menyela, "Apa boleh buat."

Hinata mengumpulkan keberanian untuk menegakkan kepalanya. Tidak lama kemudian ia kembali menunduk, tapi sekarang bukan tanpa alasan. Ia benar-benar ingin mendapatkan maaf dari Shikamaru, juga sebagai ungkapan rasa terima kasihnya yang mendalam.

Pada saat yang sama, Sasuke dan Neji duduk santai di lantai teras kediaman Hyuuga. Dua pria yang cenderung irit bicara itu memang lebih banyak diam, namun tak ada satu pun dari mereka yang berniat masuk ke rumah agar Hinata bisa leluasa menyelesaikan masalahnya dengan Shikamaru.

Diam-diam, sebenarnya Neji merasa was-was karena perhatian Sasuke sering terpusat ke pohon mangga. Jangan-jangan Sasuke akan menyuruhnya memanjat lagi seperti kemarin? Ia meneguk ludah dengan ekspresi cemas karena secara mendadak Sasuke menoleh ke arahnya.

"Neji," katanya santai, "Aku ingin—"

"Udaranya terasa semakin hangat." Tiba-tiba Neji berdiri, pura-pura tidak mendengar suara Sasuke. "Musim dingin memang sudah berlalu," imbuhnya ketika Sasuke hampir mengeluarkan suaranya lagi.

Di saat Sasuke mencibir karena merasa diabaikan, seseorang merenggut perhatian Neji. Ia menoleh ke arah pintu yang dibuka, begitu pun dengan Sasuke yang kemudian melakukan hal yang sama. Seorang pria berkuncir keluar dari kediaman Hyuuga dengan tampang tak acuh. Kedua tangannya kelihatan nyaman berada di saku celana hitamnya. Ia memang Shikamaru, dan di belakangnya Hinata mengantarkan kepulangannya. Sebelum berjalan lebih jauh, ia berhenti di dekat Neji sembari melirik Sasuke yang tetap duduk dengan tenang dan seolah tidak menghiraukannya.

"Jadi itu Uchiha Sasuke?" Pertanyaan Shikamaru lebih terdengar seperti sebuah pernyataan. "Kawaii," ujarnya disertai seringai kecil sebelum memasuki mobil sedan hitamnya yang diparkir di depan pagar rumah.

Sasuke yang mendengarnya langsung melotot tajam. Sayang sekali ia baru bisa bangkit dari posisi duduknya ketika Shikamaru sudah melajukan mobilnya. Penyebabnya adalah Neji dan Hinata yang dengan kompak menahannya agar tidak meluapkan emosi. Bahkan sampai sekarang pun Hinata masih membungkam mulut Sasuke dengan tangannya agar tidak terlontar sumpah serapah dari sana.

.

.

.

Sasuke dan Hinata tinggal di kediaman Hyuuga selama beberapa hari setelah kepulangan Neji. Keduanya juga masih menginap di sana saat Hiashi sudah diperbolehkan berobat jalan. Tapi menjelang hari pernikahan Sai dan Yakumo, mereka sudah menginap di kediaman Uchiha.

Memang tepat untuk melangsungkan pernikahan pada musim semi. Sebagai anggota dari klan besar—Uchiha dan Kurama—yang masih menjunjung tinggi budaya tradisional, upacara pernikahan Sai dan Yakumo diselenggarakan di kuil. Sai pasti akan terlihat gagah dengan kimono hitamnya yang biasanya dikenal dengan nama montsuki haori hakama. Sedangkan Yakumo, pasti ia akan tampak anggun ketika mengenakan shiromuku, kimono putih dengan tudung kepala yang memiliki warna senada.

Sekarang Sasuke beserta keluarganya sedang dalam perjalanan menuju villa milik keluarga Uchiha yang terletak di dekat kuil tempat berlangsungnya upacara pernikahan Sai dan Yakumo. Sebelum menuju kuil dengan jalan kaki, rencananya akan diadakan foto bersama antara kedua mempelai beserta kerabat dan para tamu undangan. Seperti Sasuke yang tampak sangat berkharisma dengan balutan hakama hitamnya, Hinata juga mengenakan kimono hitam.

Seharusnya di usianya saat ini, Hinata masih mengenakan furisodekimono berwarna cerah dengan lengan lebar dan panjang yang menjuntai ke bawah. Tetapi, Hinata tidak mungkin lupa kalau kini ia sudah menjadi seorang istri. Karena itu, ia tidak heran jika Sasuke memberikannya kurotomesodetomesode berwarna hitam; kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah.

Hinata meraba sebuah lambang yang ada di bagian depan kimononya. Bukan lambang keluarga—kamon—Hyuuga, tetapi Uchiha; kipas berwarna merah dan putih. Lima buah kamon Uchiha—satu di punggung, sepasang di dada bagian atas, dan sepasang di belakang lengan.

Apa Sasuke ingin menegaskan bahwa Hinata bukanlah gadis Hyuuga lagi? Itu bukanlah sesuatu yang salah karena Hinata memang sudah menjadi wanita Uchiha, istrinya.

Tadi Hinata tidak kesulitan untuk memakai kain berlapis-lapis tersebut, karena ia dibantu oleh Mikoto. Perutnya yang seharusnya sudah menunjukkan kehamilannya, saat ini terlihat rata akibat obi berwarna keemasan yang melingkarinya. Ia terlihat semakin cantik dengan sanggulan rambutnya yang sederhana dan make up minimalis yang sedikit menambah rona merah di tulang pipinya.

Dua mobil sedan hitam berhenti di halaman villa yang sudah dipenuhi mobil mewah lainnya. Mikoto keluar dari mobil yang sama dengan ayahnya. Sedangkan Sasuke dan Hinata menumpangi mobil yang lainnya. Sasuke keluar terlebih dahulu untuk membantu Hinata yang sedikit kesulitan karena kimono membatasi pergerakannya.

Hinata berjalan dengan menggandeng lengan Sasuke, mengikuti Mikoto yang sudah mendahului bersama kakek Sasuke. Sebenarnya ia merasa ragu untuk menghadiri pernikahan Sai dan Yakumo, begitu pun dengan Sasuke yang selama ini kurang akrab—lebih tepat bila dibilang belum diterima oleh anggota keluarga Uchiha yang lainnya. Tetapi, mengingat Yakumo adalah teman baiknya dan Sai yang sudah dianggapnya sebagai kakak laki-lakinya, Hinata jadi tidak sanggup untuk melewatkan hari bahagia keduanya.

Ketika menginjakkan kaki di aula, secara mendadak Hinata berat untuk melanjutkan langkahnya. Suasana yang semula sedikit riuh, tiba-tiba berubah hening. Semua pasang mata tertuju pada Hinata yang datang bersama Sasuke. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, ia merasakan perbedaan antara pandangan yang mereka tujukan kepada kakek Sasuke yang datang bersama Mikoto dengan tatapan menusuk yang diarahkan kepadanya—lebih tepatnya ke arah suaminya. Ia melihat Sasuke sejenak, suaminya itu masih tak berekspresi dan seperti memintanya untuk kembali melangkah secara konstan.

"Cih, lihatlah siapa yang datang."

"Ada yang mengira kalau mengenakan kimono berlambang uchiwa, berarti sudah bisa diterima oleh keluarga besar Uchiha."

Hinata ingin sekali meninggalkan ruangan luas dengan dominan kayu itu setelah mendengar sindiran para kerabat yang sepertinya ditujukan kepadanya, atau mungkin Sasuke juga. Entahlah, mereka seolah tidak menahan suara—yang memang tidak terdengar seperti bisikan—untuk membuat Hinata semakin merasa rendah diri. Kalau tidak demi Sai dan Yakumo, ia pasti akan tetap bersantai di rumah dan tidak mungkin akan mendengarkan omongan yang membuatnya sakit hati.

Hinata mencoba mengabaikan suara-suara di sekitarnya. Lagipula, Sasuke tampak santai ketika mengajaknya menghampiri kedua mempelai yang berada di salah satu sudut ruangan dan sudah bergaya di depan kamera. Di sana juga ada Naruto, Sakura, beserta teman-teman lainnya yang ingin mengabadikan momen bahagia ini.

Langkah Sasuke dan Hinata terhenti seketika tatkala ratusan selebaran berjatuhan di sekitar mereka. Keduanya sama-sama terbelalak seusai membaca baris pertama dari kumpulan kata yang tercetak pada kertas putih tersebut. Sejenak, mereka seolah tak berpijak pada bumi dan setelahnya jantung mereka berpacu cepat, diikuti napas yang terasa berat dan tangan yang gemetaran. Rasa takut dan cemas menyergap mereka karena hampir semua individu yang berada di ruangan itu telah memegang lembaran kertas yang sama.

Hening untuk beberapa saat hingga suara bisikan yang bersahutan memenuhi udara. Kini semua pandangan menusuk mengarah pada Sasuke dan Hinata yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

"Jadi, waktu itu kau bilang tidak siap menjadi ayah karena kau akan segera bercerai?"

Suara Naruto mengembalikan Hinata dan Sasuke pada alam nyatanya.

"Setelah semua harta kakekmu berpindah ke tanganmu, kau akan menceraikan istrimu yang sedang hamil? Berarti benar kalau kau menikah karena warisan? Karena kakekmu mensyaratkannya?"

Dengan mata memerah Sasuke hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa berani melihat ke arah Hinata yang masih bungkam.

.

.

.

*[ To Be Continued ]*

.

.

.

Yang belum mengerti tentang status Sasu-pyon dalam keluarga Uchiha, dan hubungan antara Fugaku dan Mikoto, apa sekarang sudah mengerti? Pasti sudah, ya… ^^

Maaf untuk segala kesalahan dan terima kasih banyak semuanya. Jangan bosan mampir, ya. Sampai jumpa… ^^

.

.

.

*[ Arigatou Gozaimashita ]*

.

.

.

R

E

V

I

E

W