Melewati minimarket di persimpangan jalan, kuputuskan membeli sebotol minuman dan beberapa snack. Lumayan menemani waktu santai di siang hari, sambil menonton televisi lalu chatting dengan Natsu. Hampir–tidak, setiap hari kami mengobrol di facebook. Sesekali berpindah ke BBM atau balas-membalas PM di fanfiction. Semua itu dilakukan sebanyak tiga kali. Bayangkan saja, berapa banyak topik yang diungkit di media sosial berbeda.
Meski kuakui, obrolan kami absurd.
"Ambil saja kembaliannya."
"Tu-tunggu sebentar nona! Mau mencoba ramalan?" Akurasi jodoh? Apa lagi itu? Dunia semakin aneh. Sekarang di Crocus sedang marak tongkat narsis. Orang-orang bergaya dan CKREK! Semua tertangkap layar kamera. Tau rasa jika jatuh. Biar menangis sampai banjir!
"Gratis." Semangat empat limaku muncul mendengarnya. Mungkin menarik!
GRUDUNG… GRUDUNG… GRUDUNG….
KLEK….
"Selamat! Nona mendapat, 'jodohmu sangat baik tahun ini!'" Selembar kertas diberikan padaku yang tercengang. Ucapan tukang mesin kasirnya lumayan menghibur.
Berarti cepat atau lambat dapat pacar, 'kan? Walau aku kurang percaya ramalan, sih. Di area kios berjualan, lagi-lagi anak pincang itu terlihat di ambang pintu. Masih seperti tadi, terluka parah dan berbisik lirih minta tolong. Kali ini belas kasihku sedikit tergerak. Tinggal mengantarnya pulang kemudian lupakan yang terjadi, mudah! Berlari kecil kuhampiri dia, terbungkuk-bungkuk meringis kesakitan. Wajahnya jadi tidak kelihatan.
"Adik manis tersesat? Kakak antar pulang ya?" Tawarku yang diindahkan. Dia memaksakan diri berjalan, tidak jelas mau kemana. Namun kalau diperhatikan…. Almameter hijau tua dan lambang bunga mekar, SMP Crocus!
"O-oh iya. Hari ini kelulusan SMP! Kamu mau ke sekolah?" Pucuk birunya mengangguk takzim, meminta tolong dengan cara lebih baik. Tanpa pikir panjang atau mempedulikan siapa dia, pasti kuantar selamat sampai di tujuan!
"Biar kakak gendong. Masih ada setengah jam sebelum upacaranya dimulai!"
Jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira lima meter. Aku berlari secepat mungkin, mengingat kemampuanku sangat payah di bidang atletik. Syukurlah kami tiba tepat waktu, bahkan sengaja kuantar masuk ke gedung olahraga, mencari tempat duduk. Seseorang menepuk kursi bagian paling depan, mungkin isyarat agar dibawa ke sana. Orangtua murid berkumpul di barisan belakang. Tiba di pintu keluar wanita paruh bayah malah menyuruhku duduk di sampingnya.
"Ta-tapi saya bukan ibunya." Tentu saja aku harus pulang dan mengabari ibu. Beliau pasti cemas satu jam berlalu belum ditelepon atau SMS.
"Setidaknya berikan kenangan terbaik. Ayah anak itu tidak datang. Pasti dia sangat kesepian." Membantah yang lebih tua adalah perbuatan tercela. Kuputuskan ikut menonton, sekalian mengabari ibu dan mengirim pesan ke Natsu.
Lucy Heartfilia : Aku di gedung olahraga, sedang menyaksikan upacara kelulusan SMP. Mungkin agak lama. Janjian di taman kota jam sepuluh, oke?
Natsu Dragneel : Kelulusan SMP? Kamu punya adik, sepupu atau saudara? Baiklah. Aku tidak menyangka kita ketemuan lagi. Soalnya ibu pikir ingin menemui Lisanna di Crocus, sih :-p
Ya. Inilah rencana pertama kami setelah ujian berakhir. Natsu sendiri yang berkata, ingin ikut festival musim semi di Crocus. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, kuajak dia bertemu di taman kota pukul sepuluh, daripada sendirian? Lebih menyenangkan jika bersama teman, iya, hanya teman, bukan pacar apa lagi mantan.
Sambutan kepala sekolah berakhir, digantikan pidato dari murid terbaik tahun ini. Tradisi turun-temurun SMP dan SMA. Seingatku SD tidak mengadakannya. Lulus, ya, tinggal menunggu pengumuman dan libur sebulan penuh. Anak pincang itu terseok-seok menaiki tangga. Berdiri miring di atas podium yang mengundang perhatian seisi gedung. Mereka pikir aneh, bagaimana bisa korban kekerasan jadi pemegang nilai tertinggi? Mendapat kehormatan sebesar itu di antara ratusan murid?
"Sebelumnya saya panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Masa Esa, karena dapat berdiri di sini meski dalam keadaan tidak sehat. Lulus SMP berarti jalan menuju kedewasaan. Semoga kita bisa membenahi diri menjadi lebih baik."
Hening sejenak. Para peserta terdiam mendengarkan.
"Tidak banyak yang bisa saya katakan, selain berterima kasih kepada ibu di surga, ayah, Natsu-san dan seorang malaikat. Dia menggendongku sampai ke sekolah. Mencarikan tempat duduk dan ikut menonton di belakang." A-aneh. Kenapa dadaku terasa sesak?
"Sekali lagi terima kasih."
Prok… prok… prok….
Itu aku, berdiri pertama kali dan bertepuk tangan sebelum hadirin ikut memeriahkan. Giliran air mata menampakkan wujudnya, tumpah ruah membasahi wajah nan kusut ini. Dia mengingatkanku pada seseorang, seperti ibunya yang telah berpulang ke surga. Setiba di pintu keluar dengan langkah tertatih-tatih. Anak itu kepeluk seakan kami baru berjumpa di pelabuhan, melepas kangen. Aku benar-benar berterima kasih, seribu, dua ribu, tak terhingga!
"Kita pulang, ya? Atau mau mampir ke toko kue?" Kembali jadi pendiam, ia menggelengkan kepala cepat, tidak perlu. Meski kupaksa dengan alasan, "perayaan tiga tahun sekali".
Riang gembira tangannya yang dipenuhi lebam kugandeng erat. Kalau dipikir-pikir kami mirip kakak-adik. Kapan lagi bisa begini? Terlebih orang asing memberi sendiri rasa haru tersebut. Nama Natsu sempat disebut, mungkin mereka saudara jauh. Kemarin aku diberitau, dia punya adik sepupu bersekolah di Crocus juga sekaligus lulusan, ta-tapi mustahil. Masa iya dihajar sampai babak belur begini? Orangtuanya sayang anak, 'kan?
"Selamat datang. Silakan dipilih."
"Apa pun yang kamu sukai. Asal jangan mahal-mahal, hahaha…." Hazzle-nya fokus memadang etalase, berisikan berbagai kue dengan variasi harga. Dia pasti suka semuannya! Termurah sekalipun rasa tetap enak.
"I-ini…."
"Kembaliannya dua puluh ribu joul. Terima kasih sudah membeli."
Dapat ditebak, aku tau dia tidak mungkin membeli kue di atas dua ratus joul. Pilihannya bagus karena itu kesukaanku. Murah tapi berkualitas tinggi, strawberry cake! Kebetulan rumah kami tetangga beda tiga rumah, jadi sengaja kuantar pulang. Seorang pria paruh baya membuka pintu pelan. Mempersilahkanku masuk yang lagi-lagi tidak enak ditolak. Mampir sebentar bukan masalah. Kalau mau ibu bisa menjemput kemari.
"Benar juga. Aku lupa menanyakan namamu."
"Namanya Jellal Fernandes. Kamu sendiri siapa, hah?" Mendadak wajah tua itu kurang bersahabat. Aku rasa setelah mengirim pesan lebih baik pulang.
"Lu-Lucy Heartfilia. Salam kenal, om"
Lucy Heartfilia : Hey Natsu. Kau masih mencari.
DEG!
"A-ahahaha…. Bu-bukan siapa-siapa, kok. Saya pulang duluan."
"Om ingin bertanya beberapa hal. Apa kau wanita yang memukul anakku setahun lalu? Ketika dia masih kelas delapan SMP?"
"Maksud om? Kami baru bertemu tadi pagi. Saya mengantarnya ke sekolah mengikuti upacara kelulusan. Omong-omong selamat, Jellal mendapat nilai terbaik dan membawakan pidato yang bagus. Sayang Anda tidak hadir." Kau terlalu basa-basi, Lucy.
"Jelaskan harus? Aku susah payah mencarikan uang untuknya sekolah. Jika dia tidak mendapat nilai terbaik, akan kuusir dari rumah ini!" Bu-bukankah kejam? Jellal semakin menundukkan kepala. Takut dan gelisah bercampur aduk menjadi satu.
"Me-menurut saya om berlebihan. Yang penting Jellal mengerjakan ujian dengan jujur dan lulus sesuai kemampuannya." Bodoh. Kenapa aku melawan orang yang lebih tua?!
"Kamu mau mengajariku?! Dia harus masuk universitas ternama agar tidak seperti ibunya. Sayang anak ini bodoh. Padahal om sudah berjuang, tapi apa? Malah melawan!"
"Se… setiap anak punya cita-citanya sendiri…."
"Apa yang kau ucapkan?! ULANGI SEKALI LAGI!"
"Maaf saya ada urusan. Sampai jumpa!"
Sial, kakiku lemas hingga kesulitan lari! Ibu terdengar memanggil namaku berulang kali, karena hilang akal sehat naluriku bergerak lebih cepat dari perintah otak. Jellal ikut mengejar di belakang, meski dia sering terjatuh dan akhirnya tertinggal. Beristirahat sebentar di pinggir toko. Aku mengirim pesan pada Natsu yang tiba satu jam lebih cepat.
Lucy Heartfilia : Maaf koneksiku putus-putus. Ternyata pesannya belum selesai.
Itu bohong. Aku dimata-matai ayah Jellal barusan!
Natsu Dragneel : Tidak apa-apa. Mencari siapa katamu?
Lucy Heartfilia : Lupakan. Aku pulang dulu ke rumah. Lagi pula kenapa kau datang lebih cepat? Satu jam naik kereta pasti tiba, kok. Sekarang bukan hari Senin.
Natsu Dragneel : Hehehe…. Perasaanku berkata ingin bertemu denganmu. Semakin cepat juga baik. Aku tunggu di taman kota. Festivalnya sudah mau mulai, lho.
Lucy Heartfilia : Siap boss :-)
Bersiap menyebrangi zebra cross, seseorang memanggilku tak jauh dari sana. Rupanya Jellal, tapi bagaimana bisa?
"Kak Lucy. Awas!"
"Awas kenapa?"
TIN! TIN!
BRAKKKK!
"Arghhh… sakit! Aku harus menghubungi seseo… rang…."
"Wendy. Sepertinya sebentar lagi kakak akan menemuimu."
Meninggal pun tidak masalah. Aku senang bisa melihat Wendy. Dia menghampiri kakaknya yang pengecut dan egois ini. Satu tahun lalu, ketika truk besar juga menghantam dia.
Lucy Heartfilia : Jellal ada di kompleks blok E. Kau ingin menemuinya, bukan?
Bersambung….
Balasan review :
Fic of Delusion : Lucy butuh kekuatan untuk sabar, del. Itu di akhir-akhir Jellal kok. Ya kali tiba2 Gray sekarat sim salabim muncul di Crocus, hahaha. Thx ya udah review.
nuruko03 : Dia terlalu bodoh untuk jujur, bahkan dia gak tau menyukai Lucy lebih dari author /ikutanbaper. Akan terungkap di chapter selanjutnya ketika Natsu menjadi detektif, hahaha. Thx ya udah review.
Aimi Uchiha Dragneel : Maaf. Porsinya emang udah segini kok, gak ada penambahan dan lain-lain hehehe. Wah untuk ending author gak jamin nih, tunggu aja ya gimana akhir ceritanya. Berarti umurmu 18 dong, harusnya aku yang manggil kakak, umurku masih 15 ini. Thx ya udah review.
Kanzo kusuri : Thx ya udah datang meramaikan, gak bisa ngomong apa-apa selain terhura sangat. Natsu harus sabar karena dia sering dinistakan sama author-author, hahaha. Dan aku harap fanfic-mu yang lain juga lanjut, jangan bilang chapter depan nunggu 2 tahun juga. Oke deh kamu juga jangan pantang menyerah ya. Thx buat pujiannya hehe, kangen udah lama gak baca review-mu yang panjang2 itu. Thx juga udah review!
