Ganyangka sampe segini. Padahl nulisnya hanya sekedar mengisi kekosongan waktu, makanya ini cerita autowritter. Setelah kuduga, pasti banyak plot hole disini huhuuuu.

Yang baik kasih tau plot hole nya yaaa, mungkin ada yg kelewat pas saya nyisir fic ini. Haha

Balasan review
Guest
Kamu penyemangatku hiksu :'). Makasih nih nambahin kotak reviewnya:')

Oke dah lanjot...


Lavi terhenyak. Kata kata Allen dengan wajah tersenyum tulus bak malaikat terus mengitari telinganya.

"Terima kasih untuk semuanya. Mohon pergi dari sini."

Apa apaan itu. Seenaknya dia datang, mengisi hari hari Lavi, dan sekarang dia bilang begitu? Lavi menggigit bibir bawahnya mencoba menenangkan diri.

Semakin besar perasaannya menguasai dirinya, semakin rendah daya pikir logisnya. Semakin dia menekan perasaannya, semakin jalan pikirannya.

"Pasti ada sesuatu sampai ia berbuat sejauh itu."

Lavi menunduk, "kenapa?" Ia akhirnya memposisikan dirinya duduk sila. "Kenapa aku harus pergi? Apa ada sesuatu yang berbahaya?"

Allen hanya diam. Diam dan diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. "Allen?" Lavi memiringkan kepalanya, berharap mampu melihat ekspresi bocah di depannya yang menunduk, tertutup poni putihnya.

"Kau tahu babi?" kata Allen pelan.

Woe, apa apaan? Ini bukan waktunya bercanda! Lavi mencoba menjawab sebiasa mungkin, "ya."

"Babi adalah hewan yang penuh akan penyakit. Menginfeksi banyak orang yang bahkan menyebabkan kematian. Seperti itulah aku."

"Hei!"

"Aku penuh dengan kutukan jika bersama orang lain. Bedanya dengan babi adalah aku juga menderita. Selain itu sama semua."

"Hei, hei. Kuatkan dirimu. Jangan bilang begitu! Kau manusia! Kau...malaikat... ku!"

Lavi memalingkan wajahnya yang sudah sewarna mawar, tangannya bergerak gerak resah. Maniknya perpindah kesana kemari gelisah. Jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya.

Rasa apa ini? Sungguh tidak enak. Lavi ingin segera mengembalikan kondisi tubuhnya semula. Namun apalah daya tubuhnya tidak mau.

"Pfft..."

Lavi menoleh, mendapati Allen menutup mulutnya menahan tawa. "Lavi sama... maaf... aku... tidak kuat! Ahahahahahaha."

Wajah Lavi semakin merah. Apa? Apanya sih yang lucu?

"Kuyakin tanganmu dingin. Kemari." Allen mengangkat tangan Lavi, ia tempelkan telapak tangan Lavi ke wajahnya sendiri.

Hwoah. Lavi terkaget. Panas sekali padahal ia tidak demam. Allen tersenyum manis di depan Lavi. Lavi sendiri hanya memperhatikannya.

Ctak.

Insting Allen bekerja. Sakit ditubuhnya ia abaikan. Ia menarik tangan Lavi ke dapur.

"Shishou datang. Lavi sama, kau tidak boleh ke sini lagi. Bahaya. Sekarang cepat keluar lewat pintu belakang setelah Shishou masuk. Cepat!"

"Tapi itu artinya kamu juga bahaya!"

"Aku sudah terbiasa. Bahaya adalah temanku. Sudahlah cepat!"

Tanpa bisa membantah lagi, Lavi keluar bersamaan dengan Marian memasuki rumah tak layak tersebut. Allen langsung terduduk, bersiap memainkan perannya - ya, peran. Allen sudah tau kuncinya agar siksaannya meringan - jadilah orang yang paling sengsara.

Marian sangat menyukai jika anak yang di depannya itu menderita parah. Apa maksudnya pun sulit diketahui, namun apapun alasannya tetaplah itu perbuatan keji.

Allen mulai memerankan ia sesak. Menahan semua luka ditubuhnya, yang bahkan mungkin sudah lebih mendingan dari pada kemarin.

"Hooo. Sudah bisa jalan? Cepat ya. Mungkin aku kurang melukaimu."

Marian menyiapkan alat cambuk. Allen menatapanya ngeri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan disiksa lebih parah dari hari sebelumnya. Dalam hatinya ia memohon pertolongan Tuhan.

.

.

.

"GYAAAAA!"

Lavi yang sudah di tengah sesemakan - jalan pintas ke jalan utama - terhenti. Suara teriakan Allen mampu membuat bangsawan muda nan cerdik itu bergetar ngeri. Apa yang dilakukan orang bejat itu pada Allen?

Ia akan kembali ke sana jika tidak ditutup kain hitam seluruh tubuhnya. Lavi mencoba meronta, namun sia sia.

.

.

.

Lagi lagi Allen terbaring dengan bola mata kosong. Shishounya sudah selesai 'menghukum' Allen sebagai gantinya Allen tidak bekerja. Lantai dingin dapur mampu meringankan sedikit luka punggungnya yang baru maupun yang lama - yang terbuka kembali.

Ia... ingin mati saja...

Namun janji itu...

Ia tidak mau mengingkarinya...

Walker... teruslah berjalan.

Allen menangis dalam diam. Bahkan wajahnya tak berubah walau air mata menetes. Selayaknya boneka gagal yang lusuh.

.

.

.

"La - vi - sa - ma!" eja Kanda - pelaku yang membawa paksa Lavi - penuh penekanan.

"Kanda, aku bisa jelaskan..."

"Saya sudah curiga saat tuan bilang ada tugas yang harus dikerjakan, menyuruh saya menjemput dua jam lagi. Menurut tuan kenapa saya curiga?"

"Disuruh nunggu dua jam?" tanya Lavi mengalihkan pandangannya gugup.

"Saya diberi kehormtan untuk mengatur segala aktifitas anda, Tuan! Tugas, menu makan, pakaian, plajaran. Tuan pikir bisa membodohi saya?"

'Kanda marah. Kanda marah. Kanda marah!' bahkan seorang Lavi tidak berani melawan Kanda saat ia mengomel.

"Mulai saat ini penjagaan tuan akan diperketat. Itu hukumannya."

Lavi lemas. "Kandaaaaa..."

.

.

.

Sudah tiga hari ini Allen 'beristirahat' di rumah. Bukannya semakin membaik, malah luka lukanya menambah. Ia sudah pasrah saja jikalau mau menjemputnya. Bukan salahnya kan jika dia mati? Dia tetap memegang janjinya kan?

"Allen sama."

Allen agak aneh dengan penghormatan yang tinggi untuk oranh sehina dirinya. Ia menolehkan kepalanya, mendapati wanita cantik - yang sayangnya tidak tersenyum - memakai baju ketat serba hitam. Rambut hijau tuanya terikat kuncir dua, melayang halus kelihatannya.

"Siapa?"

"Suruhan Lavi sama. Saya disuruh untuk menjagamu selama Lavi sama dalam masa hukuman."

"Hukuman?" Allen terperanjat.

"Hanya dikurung dalam rumah saja. Ia tidak diperlakukan buruk."

Allen menghela nafas lega. Ia seperti sedang merenung melihat kedatangan perempuan itu. Sedetik kemudian ia membuka mulutnya.

"Kau tahu tentang pengusaha mainan terkenal Tyki Mikk?"

"Ya."

"Aku lupa dia ganti nama jadi siapa. Tapi, bisakah kau membuat Lavi sama mengundangnya makan malam atau apalah terserah. Dan saat bertemunya, sebut saja namaku, mengenal diriku, diizinkan mengetahui masa lalu. Kau bisa?"

"Saat ini saya hanya menjalankan perintah dari tuan saya."

Allen menghela napas. "Tidak bisa ya." Kunoichi tadi berdiri dari sikap berlututnya, "memenuhi keinginan Allen sama juga termasuk perintahnya."

Allen tersenyum cerah. "Terima kasih!"

.

.

.

"Alfearo sama. Ada undangan jamuan makan malam."

"Hm? Dari siapa?"

"Dari perusahaan Bookman. co, Earl Lavi."

"Hooo, perusahaan kertas tersohor itu ya? Ada apa nih. Sepertinya bakal menarik. Marco, siapkan kereta kuda untuk sore nanti."

.

.

.
To Be Continued.

.
I'am tau ini makin ga jelas. Maap. Maap! Cuman ini deh yg bisa dikerjakan untuk saat ini.
Bawahannya Alfearo itu orang2 yang pernah jadi Akuma. Dan Alfearo itu panjangannya Alfearo Suphon. Aku tau itu nama aneh. Itu permainan kata dari Noah of Pleasure. Ehe. Eh agak lupa nih Tyki beneran Noah of Pleasure kan?#digaplok

Yaudah sekiannn. Review jan lupa:)