Dislaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K Rowlings
Warning: AU, OOC, Light Bashing, Slash, Het, Creature!Fic, Twin!Draco, Typo, Gaje, etc
Pairing: DMHP, THDG, BZNL, AMHG, etc
Genre: Adventure, Romance, Drama, etc
Rating: T dulu
CHASING LIBERTY
By
Sky
Riddle Manor, Little Hanglington
Pemberitahuan mengenai ramalan 16 tahun yang lalu itu bukanlah acara favorit Tristan kalau ia boleh berpendapat, ia lebih memilih untuk pergi dari tempat itu saat ini juga, namun sayangnya itu tidak akan terjadi sebab di tempat ini hanya dia dan Draco saja yang tahu akan sebenarnya. Draco sendiri tidak bisa menggunakan sihir untuk sementara waktu seperti yang Perenelle katakan atau lukanya akan lama sembuhnya, sehingga mau tidak mau Tristan sendirilah yang harus mengungkapkan ini semua menggunakan sihirnya. Bicara mengenai Draco, bukankah baru saja ia menggunakan sihir untuk menolong Harry?
Tristan menoleh ke arahnya dan mendapati putra baptisnya itu memegang dada sebelah kirinya, sepertinya racun dari Sanguini benar-benar menyerang jantung Draco meskipun sekarang ini sudah tidak terlalu parah. Harry sendiri, masih memegang tongkat sihirnya dengan erat sambil beradu pandang dengan Tom, mencoba untuk mengalahkan satu sama lain dalam duel pandang itu. Sama sekali tidak masuk akal, begitulah jalan pikir Tristan saat ini.
"Harry, hentikan itu." bisik Draco pelan, "Memberikan glare pada ayahku tidak akan memperbaiki keadaan."
Harry menoleh ke arah Draco, ekspresinya yang tadinya garang kini berubah sedikit lembut ketika melihat mate-nya itu sedikit kesakitan. Harry tidak memberikan komentar terhadap perkataan Draco tersebut, ia sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. Dalam hati Harry merasa berterima kasih kepada Hedwig dan juga Hermione, kalau saja temannya itu tidak mengirimkan tongkat sihirnya kepada Harry lewat Hedwig tadi pagi, bisa dipastikan Harry pasti sudah terluka atau kemungkinan buruknya adalah tewas karena serangan dari Tom. Namun Harry juga merasa sedikit bersalah kepada Draco, bagaimana tidak? Gara-gara Harry kurang cepat membaca serangan dari Voldemort, Draco terpaksa turun tangan untuk melindunginya yang mengakibatkan pemuda berambut pirang platinum itu untuk menggunakan sihirnya, padahal jelas-jelas Perenelle sudah melarangnya. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi kalau ini adalah salah Harry, dan Harry merasa bersalah karena itu.
Sebuah belaian lembut di pundaknya membuat Harry menoleh ke arah Draco.
"Ini bukan salahmu, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku menggunakan sihir karena aku tidak ingin kau terluka." ujar Draco lirih kepada Harry, ia bisa membaca apa yang dipikirkan Harry dari melihat ekspresinya saja.
"Tapi tetap saja aku merasa kalau ini salahku, kalau saja aku tidak lambat..." perkataan Harry itu terpotong saat Draco meletakkan telunjuk jari kanannya di depan bibir Harry.
"It's okay, itu sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu. Meskipun kau bisa melindungi dirimu sendiri tapi bukan berarti kalau aku tidak bisa membantu." jawab Draco lagi, kali ini nadanya sedikit tegas sehingga Harry tidak bisa protes lagi.
"Jadi, apa bisa dari kalian berdua menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya kalau ramalan Trelawney itu palsu!" kata Tom secara tiba-tiba, membuat perhatian dari ketiga orang lainnya yang berada di sana langsung tertuju kepadanya.
Draco menoleh ke arah Tristan, sementara ayah baptisnya yang sedari tadi tidak beranjak dari tempat berdirinya tersebut hanya menghela nafas saja. Sebuah seringai kecil muncul di wajah Draco saat melihat ekspresi ayah baptisnya, ia tahu kalau Tristan tidak menyukai konflik drama yang membingungkan seperti ini, dan yang pasti sang Lord Vampire tersebut mau tidak mau harus ikut terseret dalam masalah ini juga karena Draco yang menyeretnya masuk.
Harry yang berdiri di samping Draco menatap mereka berdua secara bergantian, tanpa sadar pula ia mencengkeram lengan baju Draco untuk mencari sokongan dari mate-nya. Remaja laki-laki yang bermata emerald itu merasakan tubuhnya rileks saat ia merasakan tangan Draco memeluk pinggangnya dari belakang, namun Harry tahu kalau Draco tidak sadar melakukan itu dan saat ini juga tengah memfokuskan konsentrasinya antara ayahnya dengan ayah baptisnya.
"Baiklah, karena Perenelle melarang putra baptisku tersayang untuk melakukan sihir yang terlalu berat maka kini saatnya sang ayah baptis super yang akan melakukannya." ujar Tristan setengah bergurau.
Baik Tom dan Draco hanya bisa memutar bola mata mereka mendengar gurauan Tristan, namun mereka berdua tidak mengatakan apa-apa kecuali menganggukkan kepala. Mereka bertiga, termasuk Harry, memperhatikan Tristan mengeluarkan sebuah liontin kecil dari balik jubah yang dikenakannya. Liontin itu rupanya adalah sebuah botol kecil yang berisi semacam cairan pekat berwarna bening. Tristan men-summon sebuah bola kristal dari dalam rak kaca yang ada di sana. Ia menangkapnya, dengan perlahan Tristan menuangkan isi dari botol kecil itu ke atas bola kristal.
Untuk sementara tidak terjadi apa-apa, namun untuk beberapa saat kemudian tiba-tiba bola kaca yang bening tadi bersinar dan mengeluarkan sebuah percikan api yang berwarna keemasan. Tristan melepas bola yang ada di tangannya tersebut, bola kristal yang berpendar keemasan itu melayang di tengah ruangan. Harry menatapnya dengan takjub, ia memejamkan kedua matanya dan membenamkan wajahnya pada dada Draco saat bola tadi mengeluarkan sinar yang sangat menyilaukan.
Saat Harry membuka kedua matanya, ia menemukan dirinya tidak berada di tempat semula. Ia seperti berada di sebuah ruangan besar yang sangat familiar, seperti ruangan milik Dumbledore, tapi apa betul mereka berada di sana?
"Ini memang ruangan milik Dumbledore, Harry." kata Draco tiba-tiba yang seperti mampu membaca pikirannya.
Harry terlonjak kaget, ia menyadari kalau di tempat itu tidak hanya dirinya saja tetapi Draco, Voldemort, dan Tristan juga berada di sana bersama dirinya.
"Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Harry, ia menyentuh bagian meja yang ada di depannya dan merasakan benda itu sangat nyata. Kalau ini adalah Pensive yang biasanya mengandung larutan ingatan, maka benda yang ada di sampingnya tidak akan terasa begitu nyata, namun yang terjadi malah sebaliknya. Harry bisa menyentuhnya seperti benda itu benar-benar ada.
"Ini bukanlah sebuah Pensive." kata Draco yang menjawab pertanyaan tak diucapkan oleh Harry, Harry menoleh ke arah Draco. "Ini adalah sari dari ingatan itu sendiri, sehingga apapun yang terjadi di sini maka akan terasa begitu nyata seperti aslinya. Hanya saja mereka yang berasal dari ingatan itu tidak akan melihatmu."
"Wow, benda yang sangat berguna. Siapa yang menciptakannya?" tanya Harry penasaran, ia belum pernah mendengar hal yang seperti ini.
"Berterima kasihlah kepada Nicholas Flamel. Tanpa jasa Nick, kita tidak akan bisa melihat hal ini secara jelas."
Kedua mata emerald Harry membulat begitu lebar, sementara bibirnya sedikit menganga karena terkejut. "Nicholas Flamel sang alchemist yang terkenal itu? Orang sama yang menciptakan batu philosopy?"
Draco mengangguk, ia mencium bibir Harry secara kilas karena melihat keimutan dalam diri Harry yang masih merasa shock itu. "Satu-satunya Nicholas Flamel, Harry. Dia juga suami dari Perenelle kalau kau mau tahu."
"No way!" desah Harry.
Tom yang mengenal betul tempat ini memberikan glare kepada Tristan, "Mengapa kita berada di tempat ini, Hammond?" ujarnya dengan nada kaku.
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, Riddle. Jangan tidak sabaran seperti balita yang baru belajar berjalan." jawab Tristan yang merasa tidak peduli itu.
Alis kiri tom berkedut, tatapannya semakin mengeras ia arahkan pada laki-laki yang berdiri bersandar di samping sangkar burung phoenix yang ada di sana. Meskipun begitu Tom tidak memberikan jawaban dari perkataan ayah baptis Draco, ia akan melihat sejauh mana permainan ini akan berlanjut.
Mereka berempat dikagetkan saat pintu kantor kepala sekolah terbuka, dua orang laki-laki yang merupakan Albus Dumbledore sendiri dan seorang laki-laki berjubah auror yang tidak lain adalah Alastor Moody itu masuk ke dalam kantor.
Harry yang melihat mereka berdua merasakan horror memasuki hatinya, namun Draco membisikkan sesuatu yang seperti 'tenang saja' dan 'mereka tidak tahu keberadaan kita' kepada Harry itu mampu untuk menenangkannya.
"Apakah ini adalah cara yang bagus, Albus?" tanya Moody, ia berdiri di depan meja kepala sekolah sementara Dumbledore sendiri mengambil tempat duduk di hadapannya.
"Aku sudah memikirkan hal ini secara masak-masak, kau tidak perlu mencemaskan hal itu terlalu berat. Yang jelas kalau rencana ini berhasil, tidak hanya pengaruh Tom saja yang hilang dari Inggris, namun kekuatan Order akan bertambah kuat untuk meraih impianku." jawab Dumbledore sambil mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang.
"Kelihatannya kau sangat membenci mantan muridmu itu, Albus. Bukankah sewaktu anak itu masih berada di Hogwarts kau tidak pernah peduli padanya, terlebih lagi dari apa yang kudengar dari Minerva kau ini malah mengagung-agungkannya."
Dumbeldore menggelengkan kepalanya, "Aku hanya membutuhkan kekuatan dari Tom Riddle, hanya itu saja. Sayangnya anak itu terlalu cerdik untuk tidak masuk dalam pengaruhku, dia tidak pernah menaati peraturan yang kuberikan. Bahkan saat kutawarkan kekuatan besar padanya, Tom malah memilih pihak Grindelwald yang jelas-jelas adalah musuh bebuyutanku." jawab Dumbledore, di sini Harry melihat Voldemort melemparkan tatapan ingin membunuh kepada mantan kepala sekolahnya itu. "Anak itu memiliki banyak potensial dalam dirinya, keturunan dari Salazar Slytherin yang terakhir."
Moody memberikan senyuman kecil kepada Dumbledore, "Dia seorang Slytherin, Albus. Kau hanya membuang-buang waktumu saja memikirkan rencana selama 10 tahun untuk merekrut Riddle. Membunuh Merope Gaunt dan melemparkan Riddle ke panti asuhan bukanlah cara yang cerdas untuk menarik simpatinya, bahkan dari apa yang kudengar para muggle yang ada di sana selalu menyiksanya. Tidak heran kalau Riddle sangat membenci muggle dan memilih bergabung dengan Grindelwald daripada pihak kita. Terlebih lagi saat kau menolak aplikasinya sebagai profesor pertahanan terhadap ilmu hitam."
"Aku tahu kalau itu hanyalah kesalahan, dan pada akhirnya Tom telah mempunyai pengaruh sendiri untuk menghancurkan para muggle." di sini Dumbledore memberikan ekspresi penuh kesedihan.
Harry yang melihat itu mampu merasakan bagaimana perasaan Voldemort, tidak heran kalau Voldemort tidak menyukai muggle. Para muggle yang berada di panti asuhan tempat tinggalnya tidak menyukainya dan terus menyiksanya, sangat mirip dengan keluarga Dursley yang sering menyiksa Harry. Dimanipulasi selama hidupnya tentu akan menimbulkan rasa benci yang luar biasa.
Tangan Draco yang memeluk pinggang Harry itu terasa begitu erat, saat Harry melihat ke arah Draco, ia sama sekali tidak menemukan seberkas emosi di wajah tampan Draco, kedua mata silver kebiruannya hanya menatap tanpa emosi ke arah sosok Moody dan Dumbledore. Meski Draco seperti itu, tapi Harry tahu kalau di dalam hati Draco sangat murka.
Harry kembali fokus kepada sosok kepala sekolah dan mantan profesornya saat ia mendengarkan nama ayahnya disebutkan.
"James Potter? Apa kau yakin?" tanya Moody sedikit ragu dengan apa yang diucapkan oleh Dumbledore barusan, Harry tidak tahu apa itu karena ia ketinggalan percangkapan selanjutnya.
Dumbledore berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Fawke yang tertidur di sangkarnya.
"Pengorbanan sangat diperlukan untuk mengakhiri perang ini." ujar Dumbledore, "James Potter adalah penyihir yang sangat kuat karena dia berada di garis keturunan keluarga Gryffindor yang hilang itu, sangat berpotensi tinggi untuk menghancurkan pihak dari keluarga Slytherin."
"Tapi apa tidak sayang kalau kita mengorbankan Potter begitu saja? Dia bisa menjadi pion yang sangat kuat bagi pihak kita."
"Aku sudah memikirkan hal itu dengan matang, Alastor. Kekuatan James tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan putranya yang saat ini masih berada di dalam kandungan Lily. Memang James sangan berpotensial, tapi aku tidak memerlukan sebuah pion yang keras kepala seperti dia." jawab Dumbeldore, "Aku yakin Putra James dan Lily itu memiliki kekuatan yang bisa menyaingi kekuatan Tom, oleh karena itu aku membutuhkan anak itu berada di pihak kita. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan James dan Lily dari posisi pertama, apabila mereka berdua masih ada di hadapan anak itu maka mereka hanya akan membuat masalah saja, menghalang-halangi rencanaku."
Moody mengangguk, mengerti dengan rencana kepala sekolah dari Hogwarts itu, "Lalu bagaimana kau menyingkirkan mereka berdua, Albus? Aku mengerti, kalau mereka berdua tewas maka secara otomatis tidak hanya pengaruh mereka berdua saja yang hilang, namun seluruh harta kekayaan Potter akan jatuh kepada putra mereka. Tapi karena kau adalah raja dari ini semua maka kau membuat kekayaan keluarga Potter berada dalam kekanganmu kalau kau berhasil memanipulasi putra mereka, bukankah begitu?"
"Kau mulai paham dengan jalan pikiranku, Alastor. Aku akan menyingkirkan mereka berdua dengan sedikit manipulasi, aku akan menggunakan jasa dari Tom sendiri yang akan melakukan pekerjaan kotor ini." jawab Dumbeldore, saat ia melihat tatapan mata ajaib Moody yang mengatakan 'bagaimana', Dumbeldore pun menjawabnya lagi, "Dengan ramalan yang sudah kusiapkan, ramalan palsu yang kusuruh Trelawney untuk membuatnya. Bahkan Severus yang berperan besar dalam hal ini pula juga sudah mengambil bagian untuk menyampaikannya kepada Tom. Tom adalah penyihir yang sangat kuat dan memiliki pengaruh yang sangat besar, tentu saja dia akan membunuh orang yang ia anggap berpotensial untuk mengalahkannya. Di sinilah permainan akan dimulai, Severus akan menyampaikan ramalan palsu Trelawney kepada Tom, yang pada akhirnya akan membuat Tom ingin untuk membunuh bayi Lily dan kedua orang tuanya. Setelah ini semua berakhir, bayi Potter itu akan kuberikan kepada keluarga Lily yang tidak menyukai sihir. Aku sangat yakin mereka akan memperlakukan anak itu dengan kasar dan tidak berperikemanusiaan, pada saat usianya mencapai 11 tahun aku akan memperkenalkannya pada dunia sihir dan membuat anak itu untuk berada di Gryffindor, agar ia bisa melihat dunia dari sisi Gryffindor yang membenci Slytherin."
"Rencana yang sangat jenius, Albus. Jadi di sinilah peran dari keluarga Weasley nantinya, menuntun bayi Potter ke arah kita. Tapi karena mereka tidak akan melakukannya secara gratis maka kau membutuhkan uang dari Potter untuk membayar mereka, sangat brilliant." Puji Moody. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, "Jangan lupakan Black dan Lupin dalam masalah ini. Mereka tidak akan membiarkan anak dari sahabatnya itu untuk tinggal dengan keluarga yang membenci bangsa kita, mereka berdua pasti akan meminta anak itu untuk tinggal bersama mereka."
Moody melihat sosok kepala sekolah yang terlihat bijaksana tersebut mengelus bulu phoenix peliharaannya, kalau saja ia tidak mempunyai mata ajaib maka Moody pasti tidak melihat seringai tipis yang muncul di bibir penyihir tua itu.
"Mereka tidak akan menjadi masalah, Sirius tidak akan melakukannya karena ia akan terjebak dengan rencana yang sudah kubuat untuknya. Sementara Remus tidak akan mengadopsi anak dari James karena dia adalah seorang Werewolf yang tidak akan dipercaya oleh pihak kementrian, terlebih lagi dia itu miskin yang pasti akan mendapat cap jelek dari pihak Order. Kalau rencana ini berhasil, tidak hanya Inggris yang akan takluk pada kita, namun seluruh dunia sihir akan mengakui kemampuan kita."
Sebuah suara phoenix terdengar begitu samar sebelum pemandangan di dalam kantor kepala sekolah Hogwarts itu memudar dan kembali ke tempat semula, ruangan yang ada di Riddle manor. Mereka berempat yang melihat dalam bayangan tadi tidak mengatakan apa-apa, tidak mengeluarkan suara ataupun sejenisnya. Bola kristal yang berpendar emas tadi kembali ke dalam tangan Tristan, pendarnya kini mulai redup sampai hilang sepenuhnya, kembali menjadi bola kristal biasa.
Baik Tom maupun Harry tengah merenungkan sesuatu, keduanya begitu diam meskipun telah mendapat penjelasan yang sangat jelas dari Tristan tentang mengapa ramalan Trelawney itu palsu serta tidak ada gunanya mereka berdua bertarung sampai mati. Mata silver kebiruan milik Draco bertemu dengan mata violet milik Tristan dari seberang, mereka berdua berpendapat kalau apa yang mereka lakukan ini lebih baik. Mereka tidak mungkin menyimpan rahasia sebesar ini dari Tom ataupun Harry, mereka berhak untuk tahu tentang yang sebenarnya sebelum keadaan akan bertambah menjadi runyam. Mungkin kata pepatah kuno memang ada tepatnya, kenyataan itu lebih menyakitkan daripada kebohongan yang ada.
"Ini..." ujar Harry yang tidak tahu harus mengatakan apa, tanpa melanjutkannya remaja itu meninggalkan ruangan itu sendirian.
Draco yang mengerti saat ini Harry ingin sendirian tidak mengikutinya, ia tahu kalau Harry bisa menjaga dirinya sendiri, oleh karena itu Draco tidak menyusulnya sebelum ia merasa Harry baikan. Pemuda itu mengalihkan pandangannya kepada ayahnya.
Tom terlihat begitu tenang, namun kedua mata ruby-nya berkata lain. Mereka berkilat-kilat penuh kemarahan, bahkan kedua tangannya menggenggam jemarinya dengan sangat kuat sampai mereka berwarna putih.
"Aku akan menghancurkan Dumbeldore sampai ia memilih untuk mati daripada menghadapi kemarahanku." kata Tom lirih dengan nada yang sangat berbahaya.
Baik Draco dan Tristan memikirkan hal yang sama, mereka tidak ingin berada di posisi Dumbeldore di mana saat ini Tom tengah merencanakan untuk menuntut balas padanya. Mengetahui siapa Tom yang juga seorang dark Lord, ia akan membuat Dumbledore memilih untuk mati.
Hogwarts, Inggris
Sudah dua hari lamanya semenjak Harry pergi dari Hogwarts untuk menemui Draco, selama itu pula Hermione merasa sangat khawatir akan bagaimana keadaan Harry sebab sahabatnya itu tidak mengiriminya kabar apapun. Selama dua hari itu pula Hermione semakin banyak menghabiskan waktunya di ruang rekreasi slytherin tanpa sepengetahuan Snape tentunya, ia menggunakan peta perompak milik Harry untuk menghindari Snape serta Ron. Ia mempunyai alasan kuat untuk menghindari Ron, remaja dari keluarga Weasley itu tidak pernah lelah untuk mengejar Hermione, sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu dan saat ini yang Hermione inginkan adalah ia tidak ingin bertemu dengan Ron lagi setelah apa yang ia lakukan pada Harry, Hermione masih belum bisa memaafkannya.
Selama itu pula Hermione menghabiskan waktunya bersama Daphne, Hermione menyukai gadis Slytherin itu karena menurutnya Daphne mampu terbuka untuknya bila gadis itu tidak melihat Hermione sebagai seorang Muggleborn. Bahkan bumbu sarkatisnya itu juga terdengar sangat lucu, dan yang paling membuat Hermione blushing terus menerus adalah godaannya yang menyangkut pautkan nama Alexander Malfoy dengan Hermione.
Berbicara mengenai Alex, Hermione menemukan pemuda itu sangat menarik. Memang ia sangat tampan, bahkan semua orang juga mengakuinya, namun dia bisa menjadi orang yang sangat lucu bila Alex tidak menggunakan personanya yang mengatakan aku-lebih-baik-dari-kalian kepada Hermione. Yang paling membuat Hermione tersenyum sampai sekarang ini adalah Alex mau berbicara dengan dirinya, bahkan kata-katanya itu juga sesekali terdengar sangat lucu. Saat ini Hermione jadi mengerti bagaimana pesona Slytherin yang mampu membuat siapa saja tertarik pada mereka, sebab Hermione adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tertarik dengan Slytherin.
Berbicara mengenai Alex, Hermione menemukan pemuda itu tengah berbicara dengan dua orang Prefect dari Ravenclaw yang kelihatannya tengah membahas sesuatu. Hermione hanya mengamati mereka, ia sangat mengagumi bagaimana Alex mampu menguasai situasi sekacau apapun dengan begitu tenang, sama sekali tidak terganggu oleh apapun. Bahkan saat ini saja ia mampu menguasai pembicaraan itu dengan kalem yang bahkan Hermione sendiri tidak mampu menguasainya.
"Aku harap kalian mengerti." ujar Alex kepada dua orang prefect Ravenclaw sebelum menyuruh mereka berdua untuk pergi dari hadapannya.
Setelah menemukan hanya mereka berdua berada di ruang pertemuan itu, Hermione beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri ketua murid laki-laki Hogwarts tersebut yang saat ini tengah bersantai di dekat perapian. Hermione mengambil tempat duduk di samping Alex.
"Kau sangat cocok dengan pekerjaan ini, Malfoy." kata Hermione tiba-tiba, ia diam untuk sementara sebelum ia menemukan wajahnya memanas karena pertanyaan bodoh itu.
Alex menoleh padanya, "Apa itu nada pujian yang kudengar dari mulutmu?" tanyanya dengan nada bosan.
"Anggap saja untuk sekali ini, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi."
Sebuah seringai kecil muncul di wajah tampan Alex, "Why, Granger. Aku tahu kalau kau mengagumiku, jadi kau tidak perlu malu-malu seperti itu lagi."
Sebuah Glare dari Hermione menjawab kalimat yang dilontarkan Alex. Inilah yang paling membuat gadis dari Gryffindor itu uring-uringan, Alex adalah seorang Smart ass yang narsis dan selalu membuat Hermione jengkel padanya, meskipun begitu setidaknya Alex seorang smart ass yang menarik dan tampan.
Hermione menyalahkan kutukan Gryffindor yang pasti menyukai seorang Slytherin, tidak hanya Hermione saja yang merasakan hal seperti itu. Harry dan Neville juga mengalami nasib yang sama, bicara mengenai Neville, sedang berada di mana anak itu?
"Kau tahu, meski orang mengatakan dirimu tidak bisa apa-apa, namun aku menemukan kau memiliki bakat yang sangat menarik." ujar Blaise yang saat itu tengah tiduran di atas sofa yang hangat.
Neville yang mendengar perkataan Blaise segera mengangkat wajahnya dari buku Herbology yang tengah ia tekuni tidak lama sebelum ini. Mereka berdua tengah berada di dalam kamar Blaise yang ada di asrama Slytherin, Neville menemukan dirinya sangat nyaman berada di sana daripada di asrama Gryffindor, sehingga beberapa anak Slytherin tidak akan heran lagi bila mereka menemukan Neville Longbottom berada di daerah kekuasaan Slytherin. Mereka membiarkan hal itu karena Blaise tentunya, Blaise mempunyai pengaruh yang sangat kuat di sana, bahkan mereka yang berada di tahun ketujuh pun akan berpikir dua kali sebelum berhadapan dengan penyihir dari Italia tersebut.
Neville yang tengah berbaring di depan perapian yang ada di kamar Blaise itu menoleh ke arah kekasihnya, wajahnya yang imut memberikan kesan keluguan di sana, biasanya hal itu membuat Blaise tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium Neville. Dan itulah yang ia lakukan saat ini, Blaise beranjak dari sofa tempatnya tiduran tadi untuk duduk di samping Neville, pemuda itu mengambil buku Herbology yang tengah di baca oleh Neville dan menutupnya. Dengan perlahan pemuda tampan tersebut mendekatkan wajahnya pada Neville, begitu dekat sampai keduanya mampu merasakan nafas di antara keduanya. Neville yang menemukan posisi itu tidak bisa mengalihkan pandangannya pada mate hazel milik Blaise yang sangat mempesona, ia mengalungkan kedua lengannya pada leher kekasihnya sebelum bibirnya dicium oleh Blaise dengan lembut.
Mereka berciuman untuk beberapa menit lamanya, lidah bertautan dan ciuman berubah menjadi semakin panas. Blaise melingkarkan lengan kanannya pada pinggang Neville dan selanjutnya mereka pun menemukan posisi keduanya di mana Neville berbaring di bawah tubuh Blaise dengan Blaise sendiri berada di atas Neville, tentunya dengan tumpuan tangan kirinya itu Blaise tidak akan mendesak Neville.
Keduanya melepaskan koneksi bibir mereka, untuk sesaat yang terdengar hanyalah desahan nafas mereka berdua. Neville yang masih menatap mata hazel itu, menggunakan tangan kanannya untuk membelai pipi kiri Blaise dengan penuh kasih sayang sebelum ia menarik tubuh kekasihnya ke bawah dan menciumnya lagi.
"Katakan, apa maksud perkataanmu tadi." ujar Neville dengan pelan.
"Kau ingin tahu?" tanya Blaise, melihat anggukan dari Neville itu membuat Blaise menjawabnya. "Kau mempunyai bakat terpendam yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali beberapa, Nev. Bakatmu itu sangat istimewa yang tidak boleh kau sia-siakan begitu saja."
"Aku tidak berbakat, Blaise. Semua orang juga tahu akan hal itu." kata Neville. Ia bangun dari posisinya tadi, tatapannya berubah menjadi sayu. "Kau tidak perlu menghiburku dengan mengatakan kalau aku istimewa, kita berdua tahu kalau hal itu sangat tidak benar. Bahkan nenekku saja percaya kalau aku ini tidak berguna."
Blaise tidak mengatakan apa-apa, kekasihnya itu selalu berada dalam tekanan baik dari teman maupun keluarganya. Neville pernah menceritakan bagaimana masa kecilnya di masa lalu, ia termasuk anak yang lambat dalam mengeluarkan tanda-tanda kalau ia seorang penyihir, bahkan keluarga besar Longbottom pun percaya kalau Neville adalah seorang squib dan itu membuat malu keluarganya. Bahkan pamannya yang terkenal sangat keras itu secara terang-terangan mengatakan kalau Neville itu tidak berguna. Mengalami masa kecil yang seperti itu tentu membuat Neville selalu merasa malu dan tertutup dari siapapun, Blaise hanya bisa berterima kasih pada apapun yang membuat mereka dekat karena ia adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Neville terbuka padanya. Blaise adalah teman pertama Neville sebelum mereka menjadi kekasih seperti ini.
Pemuda berdarah Italia itu memeluk tubuh kecil Neville dari belakang, keduanya tidak berbicara, hanya menikmati posisi yang nyaman di antara mereka sambil melihat ke arah api unggun di sana.
"Jangan biarkan perkataan mereka mempengaruhimu, Nev. Mereka hanya tidak tahu betapa istimewanya dirimu." kata Blaise.
Neville ingin memprotes Blaise, namun ciuman yang mendarat di bibirnya itu membuatnya tidak mampu untuk mengucapkan sepatah kata apapun untuk saat ini.
"Setiap orang memiliki keistimewaan dalam diri mereka, begitu juga dengan dirimu. Meskipun kau tidak tahu apa itu, orang-orang yang menyayangimu tahu akan keistimewaan dalam dirimu, Nev. Kau baik, pengertian, dan sangat berbakat dalam Herbology, bahkan Draco pun mengakui hal itu. Dan di dalam dirimu ini tersimpan inti sihir yang sangat besar, hampir sama besarnya dengan Potter." kata Blaise.
"Itu sama sekali tidak benar." sanggah Neville.
"Kau salah kalau kau mengatakan itu tidak benar, apa yang kukatakan itu sangat benar, Nev. Aku tidak ingin mendengar kau menyalahkan dirimu atau menyebut diri sendiri tidak berguna seperti tadi."
Neville menghela nafas panjang, kekasihnya itu bisa menjadi orang yang sangat keras kepala, tidak ada gunanya berdebat dengan Blaise karena ia tahu pasti Blaise-lah yang keluar menjadi pemenang. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun Neville kembali menutup mulutnya saat mereka berdua mendengar suara ketukan di pintu ruangan milik Blaise itu.
"Aku benci akan hal ini." bisik Blaise kepada Neville yang membuat kekasihnya itu tertawa kecil.
"Ayolah, buka sana. Pasti ada hal yang penting kalau mereka mengetuk pintumu." desak Neville, mereka yang ada di Slytherin tidak ada yang berani menganggu Blaise (kecuali Draco, Daphne, dan Alex tentunya) bila tidak ada hal yang serius.
"Aku harap begitu." jawab Blaise, ia berdiri dari posisinya tadi.
Dengan cepat ia merapikan dirinya sebelum berjalan menghampiri pintu kamarnya, Blaise membukanya dan di hadapannya kini telah berdiri Theodore Nott bersama Millicent Bulstrode di sana. Mereka berdua terlihat sedikit gugup.
"Ada apa ini?" tanya Blaise dengan suara dingin.
"Maaf, Blaise. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu 'waktu'-mu seperti ini, tapi kita ada masalah." ujar Theo dengan wajah lurus.
"Masalah?"
Milly dan Theo saling berpandangan sebelum keduanya menunjukkan pandangan mereka kepada Neville yang ada di dalam kamar Blaise.
"Iya, para Gryffindor membuat kekacauan di aula besar. Mereka menuduh para Slytherin telah menculik Potter dan mengumpankannya kepada Dark Lord. Kalau hal ini tidak segera diatasi maka tidak akan dipungkiri lagi kekacauan akan terjadi." jawab Theo.
"Di mana Alex dan Daphne?" tanya Blaise lagi, ia merasa geram dengan ulah Gryffindor itu.
Theo menggeleng pelan, "Kami tidak mengetahui keberadaan Alex saat ini, dia tidak ada di kamarnya, sementara Daphne tengah bersama Pansy dan keduanya juga terlibat adu mulut dengan Weasley serta Gryffindor lainnya. Beberapa murid yang berada di tingkat bawah tidak bisa melakukan apa-apa karenanya."
Blaise mengangguk mengerti, "Lalu apakah Dumbledore telah dihubungi akan masalah ini?"
"Aku sudah menyuruh Adrian untuk menghubungi para profesor. Blaise, kalau kau tahu di mana Potter aku harap kau menyuruh anak itu untuk segera ke sini, kita tidak ingin perang dingin antara Slytherin dengan Gryffindor pecah lagi." kata Milly.
"Baik, aku mengerti. Kalian bantu Daphne dan Pansy, aku akan segera menyusul kalian berdua." ujar Blaise, dengan itu baik Theo dan Milly segera pergi dari hadapan Blaise untuk menuju ke arah aula besar di mana kekacauan tengah berada.
Blaise menutup pintu kamarnya, pemuda itu mendapati kekasihnya memberikan tatapan penuh khawatir di wajahnya. Tidak heran kalau Neville tadi telah mendengar pembicaraan di antara mereka bertiga, Blaise sendiri juga tidak bisa menyalahkan Neville untuk tidak khawatir sebab asramanya tengah terlibat perdebatan dengan Slytherin. Kalau boleh Blaise mengkalkulasinya, Gryffindor tidak akan mempunyai kesempatan untuk menang bila kedua asrama melakukan duel sebab para Slytherin itu sejak kecil telah terlatih menggunakan sihir sebagai senjata mereka untuk bertahan hidup, sementara para Gryffindor meskipun beberapa di antaranya berasal dari keluarga berdarah murni, namun di sana lebih banyak yang berasal dari keluarga Muggle ataupun berdarah campuran. Ia harap entah itu Alex ataupun Draco ada di sini saat ini juga, karena ia yakin mereka berdua bisa menyelesaikan masalah seperti ini dengan cepat.
AN: Terima kasih sudah membaca fic ini, dan terima kasih sekali lagi bagi para reader yang telah memberi review pada chapter-chapter sebelumnya. Maaf kalau aku tidak bisa membalas semuanya.
Author: Sky
