Chapter 12

Ginny tak tahu lagi hendak kemana kakinya melangkah. Semua tempat tampak suram di matanya. Penerangan redup, nisan berserakan di mana-mana, pohon-pohon berukuran raksasa adalah pemandangan yang menghiasi tempat itu. Sungguh gadis itu sudah muak. Dia kebingungan dan juga kelelahan dalam pelariannya ini. Dalam hati terkadang dia merutuk. Di sisi lain dirinya dilanda kecemasan. Bagaimana nasib Astarte? Apakah dia berhasil mengatasi iblis itu? Lalu, apakah dia akan menyusul Ginny seperti janjinya tadi?

Sesekali Ginny berpaling, mencari-cari sosok gadis blonde yang berjalan mengikutinya dari belakang. Namun dia tidak menemukan seorang pun. Tidak ada Astarte di sana. Juga tidak ada iblis. Perasaan Ginny tidak kunjung membaik. Jauh di dalam hatinya sedang bergejolak. Dia ingin kembali dan bertarung bersama Astarte, atau setidaknya membantu gadis itu sebisanya. Mungkin itu akan lebih baik, pikir Ginny. Paling tidak dia tidak akan tersesat sendirian di tengah pemakaman seram begini di tengah kabut yang semakin tebal.

Bulu kuduk Ginny sontak meremang. Dia tahu akan ada hal buruk terjadi. Setiap langkah yang membawanya menjauhi atau mendekati entah di mana pun Shura berada terasa semakin berat. Ginny merasakan kegalauan yang teramat sangat. Pertama kali dalam hidupnya dia merasa tidak yakin atas hal yang sedang di lakukannya ini. Tapi dia terus berjalan dan berjalan. Menggenggam erat-erat kunci Devil's Gate yang harus dimusnahkannya nanti, perlahan Ginny menerobos kabut putih yang mendadak muncul dan menghadangnya.

"Kau akan menemukannya dengan keyakinanmu, begitu katamu, nona Astarte?" desah Ginny, agak menggigil di tengah selubung kabut. Kini hawa dingin yang terasa tidak hanya sekedar menusuk tulang, tapi seolah membekukan daging. Benar-benar dingin. "Well, aku penasaran dengan keyakinanku..."

Seakan menjawab pertanyaan Ginny, seketika selubung kabut putih tebal itu terkuak bagaikan tirai, menampakkan sebuah bangunan menyerupai menara. Ginny mengerjapkan matanya tak percaya. Kedua tungkai kakinya gemetar hebat.

Menara itu bercat putih bersih berkilauan. Kedua pintunya berukuran besar, berukir indah dan terbuat dari kayu mahoni, dengan jendela-jendela mozaik yang memancarkan cahaya warna-warni dan dindingnya yang terbuat dari bata kokoh. Puncaknya memancarkan sinar terang berwarna putih perak. Suasana hening berubah. Sayup-sayup Ginny mendengar alunan syahdu dari dalam menara itu. Musik merdu yang pernah didengarnya saat memimpikan Arcelia. Untuk sesaat Ginny terpesona, hampir lupa apa tujuannya datang kesini.

Detik berikutnya, Ginny terhenyak. Dia ingat kalau waktu sedang memburunya. Di suatu tempat yang jauh dari sini Astarte sedang bertarung melawan iblis dan Ginny tak tahu bagaimana nasib gadis blonde itu sekarang, karena itulah Ginny tidak ingin membuang waktu lagi. Banyak nyawa yang sedang dipertaruhkan saat ini.

Tanpa banyak pikir lagi Ginny berlari, menyusuri jalan setapak berbatu untuk menuju ke menara itu. Anehnya, kedua kaki Ginny sempat terhenti di ambang pintu. Hanya untuk sepersekian detik, sebenarnya. Tapi cukup untuk membuat otak Ginny berpikir keras sekali lagi. Apakah yang sedang dia lakukan sekarang ini benar?

Kedua pintu menara terbuka dengan sekali gebrak. Ginny tidak dapat melihat apa-apa di dalam menara itu karena pencahayaan yang nihil. Itulah sebabnya Ginny berjalan selangkah demi selangkah, memantapkan rasa hatinya yang semakin bercampur baur, antara rasa takut dan juga kenekatan. Selang dua langkah dari ambang pintu, mendadak pintu menara tertutup dengan sendirinya dalam sebuah hentakan keras.

Jantung Ginny seolah berhenti seketika. Dia sadar sudah terkurung di dalam sebuah bangunan asing yang gelap (benar-benar gelap hingga dia tak mampu melihat kedua tangannya sendiri) tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah dia akan keluar hidup-hidup atau justru sebaliknya? Ginny menelan ludahnya dengan agak kesulitan. Debar jantungnya semakin menjadi. Dia mulai panik!

Ginny berputar di tempatnya. Menengadah dan memperhatikan sekelilingnya di kegelapan. Sia-sia saja. Matanya tak mampu menembus kegelapan yang ada di sana. Di saat Ginny mulai menyadari ada sesuatu yang salah di tempat itu, tiba-tiba sorot cahaya keperakan muncul dari atas, menerangi sebuah peti hitam legam yang entah sejak kapan sudah berada di tengah-tengah ruangan.

Feeling Ginny memburuk. Ada yang salah! Jelas ada yang salah di sini! Batinnya.

Dengan nafas tertahan Ginny mulai berjalan mendekati peti itu. Selangkah dan selangkah lagi, setiap langkahnya terasa begitu lama. Segala macam pikiran buruk berkecamuk. Hati kecilnya seolah berontak. Tidak seharusnya kau melongok isi peti itu! Begitu kira-kira jeritan hati Ginny. Tapi sudah terlambat. Ginny melongokkan kepalanya, mengintip apa isi peti itu dan menjerit sejadi-jadinya begitu tahu apa yang ada di dalamnya.

Ginny merosot lemas di tempatnya berdiri. Nafasnya tak beraturan dan wajahnya berubah pucat pasi. Kedua tangannya basah oleh keringat dingin. Kedua matanya terbelalak. Jantungnya kini sudah benar-benar hendak melompat keluar.

"Ini tidak mungkin… Ya. Sangat tidak mungkin… Tidak mungkin yang di dalam peti mati itu… " desis Ginny berulang kali, sekujur tubuhnya bergetar hebat dan diselimuti hawa dingin aneh. "...aku."

Masih gemetar, Ginny memberanikan diri untuk bangkit dan sekali lagi menengok apa isi peti mati di hadapannya. Yang dilihatnya masih tetap sama. Dia melihat dirinya sendiri, sepucat patung lilin, dengan bibir ungu menghitam dan terbaring kaku di dalam sana.

"Tidak!" teriak Ginny, menggeleng keras sambil mundur perlahan tanpa sadar. "Itu bukan aku! Tempat ini bukan Shura! Bukan!"

"Memang bukan, jalang tolol!" hardik seseorang dari arah belakang. "Ini upacara kematianmu!"

Refleks Ginny berpaling. Belum sempat dia melihat siapa pemilik suara itu, serta merta seseorang itu meninju wajahnya dengan sangat telak, membuat Ginny jatuh terjengkang.

Secara berangsur-angsur kegelapan di tempat itu mulai hilang, berganti dengan cahaya benderang yang seolah diproduksi begitu saja dari seluruh penjuru. Ginny menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat lebih jelas, mengabaikan sudut bibirnya yang sudah mengalirkan darah segar. Bekas hantaman di pipi kanannya pasti sudah membiru, dan itu rasanya sangat sakit.

"Kau siapa?" tanya Ginny dengan suara parau.

Cahaya terang yang mendadak muncul begitu saja ini telah membuatnya silau. Dia hanya bisa menangkap siluet dari orang yang sudah memukulnya tadi. Dari posturnya, dia seorang pemuda. Tinggi dan bertubuh atletis. Rambutnya agak acak-acakan dan sepertinya berwarna gelap. Tapi tunggu dulu! Ginny terkesiap. Dia kenal betul siapa penyerangnya ini. Tidak mungkin dia adalah...

"Harry...?" desis Ginny tak percaya.

Cahaya menyilaukan di dalam ruangan itu sudah padam, menyisakan penerangan temaram seperti yang biasa dihasilkan oleh lilin pada umumnya. Pemuda itu berdiri angkuh di hadapan Ginny yang masih terbaring di lantai. Tegak seperti batu karang. Mencibir dan menatap Ginny dengan tatapan bak binatang buas, seolah tak mau tahu kalau dengan tatapan kejam ini saja sudah cukup untuk meremukkan hati Ginny sekarang.

"Kebingungan, Weasley?" balas pemuda berkacamata itu dengan cibiran yang menyakitkan. Ya. Dia Harry Potter. Tidak salah lagi.

"Tapi ini tidak mungkin…" tukas Ginny, mencoba bangun. Namun Harry buru-buru menyepak perut Ginny tanpa rasa iba dan membuat gadis itu kembali terkapar di lantai berdebu.

"Tetaplah di sana, gadis kotor! Di lantai itulah tempatmu seharusnya! Bergumul bersama debu-debu menjijikkan. Cih!" bentak Harry, mata hijaunya melotot tajam.

Di luar keinginannya, kedua mata Ginny telah berlinang airmata. Tidak biasanya dia menangis. Tapi kata-kata ini sungguh sangat menyakitkan, bahkan terasa jauh lebih sakit daripada pukulan dan tendangan yang baru saja diterima Ginny tadi. Apalagi keluar dari mulut Harry, seseorang yang dia percaya tidak akan mampu mengucapkan kata-kata sekejam itu kepada siapa pun.

"Kau bukan Harry..." gumam Ginny, meringis menahan rasa sakit di bagian perutnya. Saking sakitnya dia belum mampu bangkit dan masih terbaring lemah di lantai.

"Weasley kumuh," desis Harry, sambil perlahan-lahan menekan leher Ginny dengan kaki kirinya dan membuat Ginny merintih kesakitan. "Walau dalam otakmu bercampur darah pengkhianat, tapi kau pintar juga. Tadi sempat kukira otakmu sudah rusak parah karena begitu mudah tertipu dengan Shura buatanku ini."

Ginny mencengkram ujung sepatu Harry yang terasa semakin kuat menginjak lehernya. Nafasnya semakin tercekik. Sia-sia saja dia berusaha menyingkirkan kaki Harry dari lehernya, tenaganya mulai berkurang. Dia hampir tak kuat lagi.

"Aku bukan Harry, tentu saja. Aku hanya menggunakan tubuhnya," cibir Harry dengan sorot jijik melecehkan. "Aku malaikat mautmu. Aku Madeline."

Mata Ginny terbelalak lebar, tercengang. Namun ekspresinya berubah hampa saat Madeline memamerkan seringai liciknya sambil membuka mantel yang dikenakan Harry, menunjukkan sesuatu yang sangat mengerikan di balik mantel itu. Ginny membekap mulutnya sendiri, terisak-isak. Sangat terpukul. Juga sangat mual melihatnya.

"Harry Potter sudah tidak ada lagi sejak pagi ini, Weasley. Tepatnya hanya beberapa menit sejak kau meninggalkan bangunan bobrok tak berbentuk yang kau sebut rumah itu. Well, kurasa kau akan sangat tertarik mendengar ceritaku tentang bagaimana aku melubangi dada pemuda yang diam-diam kau sukai ini, kan?" ujar Madeline, menanggalkan mantelnya begitu saja agar Ginny bisa melihat pemandangan mengerikan di tubuh Harry dengan lebih leluasa.

"Tidak…" isak Ginny. Kedua bahunya terguncang-guncang. Isakannya mulai berubah menjadi tangis. Tapi Madeline sama sekali tidak peduli, masih menahan leher Ginny dengan kakinya sambil bercerita panjang lebar. Ekspresinya sangat puas.

"Kau boleh menyebutnya sebagai kebodohanku, Weasley, karena aku baru sadar kalau sebagai seorang iblis, aku punya kemampuan unik untuk mengetahui banyak hal yang sedang terjadi di banyak tempat. Aku hanya memikirkan di mana saat ini Harry berada, dan tiba-tiba saja datang sebuah visi di kepalaku. Aku jadi tahu keberadaan Harry saat itu. Visi yang sangat mengagumkan. Begitulah aku menemukan bangunan menyedihkan yang disumpali penuh oleh satu keluarga berdarah pengkhianat plus Harry Potter di dalamnya.

"Mungkin aku mengambil resiko berbahaya dengan meninggalkan wadahku yang nyaris sempurna, wadah gadis kecilku. Tapi tak masalah karena aku sudah menyerap hampir seluruh sari kehidupannya dan kini gadis kecil itu tak lebih dari seonggok daging sekarat. Oh, maaf. Kau pasti tak tahu banyak tentang Ailsa Elwood, kan? Jadi kita lompati saja cerita happy ending ini. Happy ending untukku, tentu.

"Lalu aku yang hanya berupa gumpalan asap kelabu tebal menyusup ke dalam ruangan tempat Harry saat itu berada. Sayang sekali dia sedang bersama kakakmu saat itu. Siapa namanya, Rupert? Whatever. Jadi aku segera merasuki tubuh Harry dan..."

"Apa yang kau lakukan kepada Ron?" jerit Ginny, yang dibalas dengan tekanan semakin kuat pada lehernya. Tidak bisa dipungkiri kalau Madeline sangat menikmati saat-saat seperti ini, menginjak leher Ginny sambil menceritakan bagaimana kesadisannya seharian itu.

"Tidak ada. Lagipula aku tidak sudi membuang waktu dengan pemuda hina itu. Kukira kau sudah paham, gadis jalang! Kakakmu yang tak kalah tololnya darimu itu langsung pingsan begitu melihat Harry melubangi dadanya sendiri untuk mengambil organ vital yang ada di dalamnya. Sebenarnya itu hasil karyaku, karena aku yang menggerakkan tangan Harry waktu itu, kan? Agak menyedihkan memang, bisa merasakan nafas-nafas terakhir Harry saat benda itu dikeluarkan paksa dari tubuhnya."

Madeline mengakhiri penuturannya dengan terkekeh ringan. Sementara airmata Ginny mengucur semakin deras. Isi kepala gadis itu seolah berpusing-pusing dan membuatnya bertambah mual. Dadanya memanas. Segala rasa bercampur di dalam rongga dadanya itu. Antara geram, sedih dan juga miris.

"Hasil akhirnya tidak terlalu bagus ya? Tulang iganya jadi berantakan begini. Mencuat kemana-mana…" kata Madeline dengan nada sesal yang dibuat-buat.

"Hentikan!" jerit Ginny. Dia sudah benar-benar tidak tahan lagi mendengar ini semua.

"Oh, baiklah," balas Madeline tenang dan menyingkirkan kaki Harry dari leher Ginny. "Lagipula semuanya nyaris berakhir dalam hitungan menit lagi. Jadi buat apa banyak bicara. Yeah, aku sudah kembali, Weasley. Jauh lebih kuat. Jauh lebih baik, atau kau boleh menyebutku jauh lebih kejam, terserah."

Setelah mengatakan itu, tubuh Harry bercahaya. Sinarnya keperakan dan cemerlang. Dalam hitungan detik, cahaya itu padam dan menampakkan sosok baru yang dikenali Ginny sebagai Madeline Lestrange yang asli. Madeline telah kembali dengan tubuhnya sendiri. Tidak lagi dalam bentuk gumpalan asap seperti yang sudah-sudah.

"Apa wajahku masih sama cantiknya seperti dulu?" tanya Madeline sambil melempar senyum jijik untuk Ginny. "Hai Ginny Weasley. Kau senang melihatku lagi? Well, bersiap-siaplah. Kita berdua akan bersenang-senang sebentar lagi…"

"Jadi, kabar baik rupanya, eh?" cibir Madeline, menatap Ginny dengan sorot ramah yang dibuat-buat.

Bisa dibilang Madeline sangat puas dengan posisinya sekarang. Momen yang selalu ditunggunya sejak lama, bisa bertemu langsung dengan pembunuhnya, Ginny Weasley. Rasa dendamnya masih bergolak di dada. Dia harus menuntaskannya sekarang. Oh, dia sudah tidak sabar lagi malah. Untuk kali ini dia tidak perlu lagi merapal mantra kutukan. Cukup menjentikkan jarinya dan dia akan sangat terhibur menonton leher Ginny yang terpuntir. Tapi dia tidak ingin melakukannya dengan buru-buru. Dia ingin menyiksa Ginny pelan-pelan. Ini akan terasa jauh lebih nikmat.

"Well, kurasa kau sudah tahu betul apa alasanku kembali ke dunia. Betul, kan?" kata Madeline, mundur beberapa langkah untuk memberi Ginny ruang agar bisa bernafas.

"Sejujurnya, tidak," geram Ginny yang sedang mencoba duduk. Nafasnya masih tersengal-sengal. "Kenapa kau melakukan ini kepadaku, Lestrange…?"

"Jangan buat aku tertawa, Ginny Weasley!" balas Madeline dingin tapi tajam. "Kau sudah menghancurkan hidupku, jalang sial."

Nafas Madeline memburu. Rongga dadanya seolah terbakar. Kebenciannya semakin bertambah dalam dan pedih. Apalagi mengingat semua pengorbanan yang sudah ia lakukan untuk bisa kembali lagi ke dunia. Dia terpaksa harus merendahkan dirinya sendiri, menjelma menjadi iblis, makhluk yang setingkat di bawah manusia, dan hidup dengan menghisap setiap cabikan jiwa manusia yang dibunuhnya. Karena itulah dia ingin mendapat bayaran setimpal atas semua penderitaannya ini.

"Aku tidak pernah bermaksud membunuhmu, Lestrange. Itu hanya… kecelakaan… "

"Ah, betul juga!" seru Madeline, berpura-pura terkesima. "Kecelakaan. Pilihan kata yang bagus, Weasley. Sangat menyentuhku, sungguh. Tidak masalah sih kalau pilihan kata cerdas itu bisa membuatmu merasa jauh lebih baik dan kau tak perlu menyesal sudah menghilangkan nyawa seseorang. Kecelakaan. Yeah, memang sekedar kecelakaan. Brillian!"

Madeline tersenyum sinis saat melihat wajah Ginny yang merah padam menahan marah. Tentu saja dia puas dengan provokasinya ini. Perkataan tajam dan menyudutkan ini seolah-olah menuduh Ginny tidak punya nurani. Meskipun gadis itu punya sekalipun, Madeline tetap akan meragukannya. Bagi Madeline, Ginny tak lebih dari kotoran yang terselip di sepatu dan harus segera disingkirkan agar tidak semakin menyengat mata.

"Kau yang membuatku terpaksa melakukannya. Aku hanya melakukan pembelaan diri..."

"Tak perlu bertele-tele! Sekali membunuh tetap saja membunuh! Kau pikir menceramahiku dengan segepok alasan pembenar akan membuatku menghormati keputusanmu, begitu?" cecar Madeline dingin. "Dalam duel, seharusnya memang ada yang menang dan kalah. Yang sangat menggangguku hanyalah, well, seharusnya aku yang memenangkannya, benar? Tidak bisa dipercaya aku akan kalah di tangan sampah pengkhianat sepertimu. Cih, menjijikkan!"

"Tutup mulutmu, berengsek!" sentak Ginny. Dia sudah benar-benar kehilangan kesabaran sekarang. Dengan agak kesusahan, gadis itu bangkit. Masih sempoyongan, tapi terlihat cukup mantap.

Sekali lagi Madeline tersenyum pongah. Targetnya sudah mulai memakan umpan. Menghadapi orang yang kalut pasti akan lebih mengasyikkan. Lebih mudah ditaklukkan. Dia sudah tidak sabar lagi untuk semakin menginjak-injak martabat Ginny.

"Kau harus tahu kalau aku menyesal, Lestrange. Amat sangat menyesal harus membunuhmu... secara tidak sengaja, yah..." ungkap Ginny. Wajahnya berubah muram dan sorot matanya sayu.

Selama beberapa saat Madeline tertegun mendengar perkataan Ginny ini. Matanya yang putih berkilau meredup, mencermati baik-baik ekspresi penyesalan mendalam gadis yang dibencinya sampai ke tulang itu.

"Sesaat setelah kau... setelah kau koma, aku tak tahu apa lagi yang harus kuperbuat. Aku... aku hanya bisa berharap... seandainya aku tidak pernah merapal mantra itu... " sesal Ginny, bibirnya bergetar dan sorot matanya menyiratkan kesedihan bercampur bimbang.

"Kau sungguh-sungguh, Weasley?" tanya Madeline, nyaris berbisik, tampak semakin tertegun.

"Yeah, tentu saja. Aku sangat menyesal, Lestrange. Aku minta maaf..."

Suasana sempat hening selama beberapa menit. Baik Ginny dan Madeline hanya saling pandang, sebelum pada akhirnya Ginny terkejut saat Madeline malah memberinya applause dan mencibirnya jijik.

"Waw, akting yang sangat mengesankan. Harusnya kau memenangkan thropy untuk aktris dengan penjiwaan paling memualkan, Weasley. Nah, apa sekarang aku sudah boleh muntah?" seloroh Madeline, masih bertepuk tangan dengan antusiasme berlebihan.

Madeline merasakan bara api di mata Ginny, namun ini justru membuatnya semakin puas. Bibirnya masih belum cukup kering dan belum bosan untuk meluncurkan hinaan-hinaan tajam kepada gadis berambut merah itu.

"Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tuntut Ginny. "Kalau kau dendam padaku, kau tidak perlu membunuh Harry! Kau tak perlu menyakiti banyak orang tak berdosa seperti apa yang sudah kau lakukan sekarang! Kau hanya harus membunuhku, itu saja!"

Perkataan Ginny ini hanya ditanggapi Madeline dengan berlagak mengorek-ngorek lubang telinganya. Tampang gadis iblis itu geli sekali. Baginya semua kata-kata Ginny ini sama sekali tak berarti, tak lebih bermakna dari debu yang berterbangan dan membuat telinga gatal.

"Jangan berkata seolah-olah kau peduli dengan nasib orang lain. Itu menggelikan, kau tahu," balas Madeline, pura-pura memasang tampang prihatin. "Seharusnya kau sadar diri, Weasley. Aku tahu kau mengerti apa alasanku melakukan ini semua."

"Sayangnya, aku tidak pernah bisa mengerti, Lestrange," desis Ginny dalam amarahnya. "Harry tidak bersalah..."

"Wow, kau cukup pintar juga rupanya. Semula kukira rambut merah konyolmu itu bisa sedikit mempengaruhi IQ atau apa," ejek Madeline, terkekeh. "Oh, itu benar, Weasley. Harry tidak bersalah. Hanya saja sewaktu aku menemuinya tadi, aku merasakan kalau jantungnya tidak lagi berdebar kencang untukku seperti dulu. Jujur, aku ngeri membayangkan seberapa kencang jantung itu setiap kali dia bertemu denganmu. Aku ingin memonopoli jantung itu untukku sendiri. Jadi, aku terpaksa harus membunuh Harry juga, kan? Karena aku yakin dia tidak akan mau menyerahkannya begitu saja kalau aku memintanya baik-baik. Sungguh, aku tidak sengaja melakukannya, ups..."

"Kau... kau benar-benar tidak berperasaan!" geram Ginny, kedua tangannya mengepal kuat-kuat.

"Tebakan salah," Madeline menggelengkan kepalanya, melemparkan cibiran sengit. "Dulunya aku punya perasaan. Sayangnya kau sudah merenggutnya dariku... Aku sangat merindukan masa-masa di saat aku masih punya perasaan itu, kau tahu. Karena itulah..."

Serta merta Madeline menodongkan telapak tangannya dan seketika itu pula membuat tubuh lemas Ginny terhempas ke dinding. Terdengar bunyi gemeretak saat tubuh gadis itu terbenam semakin dalam ke dinding. Suara rintih kesakitan Ginny saat merasakan tulang belakangnya nyaris retak tidak begitu dihiraukan Madeline.

"Kau sudah lupa rupanya. Dulu aku juga seorang manusia, seorang gadis yang punya perasaan dan cinta sama sepertimu. Aku juga punya kehidupan, Weasley. Walau kuakui kehidupanku tidak begitu indah, yang jelas aku tidak perlu hidup berkalang sampah dan kotoran Muggle sepertimu. Yang jelas aku juga punya masa depan yang cerah. Aku pintar dalam hal pelajaran dan bisa bermain Quidditch sama hebatnya denganmu..."

Madeline memejamkan kedua matanya, membayangkan semua kejadian yang dilalui semasa hidupnya dan mengabaikan jerit kesakitan Ginny yang semakin memilukan.

"Oh, aku juga punya kisah cinta yang lumayan menyenangkan. Tidak sepanjang kisahmu sih, tapi aku cukup bahagia. Ya, karena aku bukan piala bergilir sepertimu tentunya," ujar Madeline sambil menelan ludah. Entah kenapa dadanya terasa perih saat mengingat ini semua. "Sedih juga rasanya. Hanya sempat menyukai satu orang cowo seumur-umur. Lebih sedih lagi karena aku tahu cowo itu justru memilih seseorang yang tidak layak untuknya..."

Perlahan Madeline menurunkan tangan kanannya, membiarkan tubuh Ginny terjun dari dinding yang menahannya tadi dan jatuh dengan suara debum keras. Dengan raut tanpa ekspresi Madeline memandangi Ginny yang sedang terkapar tak berdaya di lantai, terbaring tengkurap dan mengerang kesakitan.

"Kau pernah dengar ungkapan lebih baik dicintai daripada mencintai?" tanya Madeline dengan nada bergetar.

"Kau tahu kenapa, Weasley? Karena mencintai itu adalah hal yang paling menyedihkan di dunia. Memberikan sesuatu yang paling murni dalam hati kita kepada orang lain dan kau berharap hal yang sama akan terjadi padamu. Digantungkan oleh sugesti kalau perasaan murni ini akan mengangkat beban hidupmu. Lalu kau berpikir kalau kau akan bisa hidup selamanya bersama dengan cintamu itu, meski dari hari demi hari akan selalu ada pertanyaan yang sama seperti, apa dia juga mencintaiku?

"Di hari kematianku, saat-saat suara itu belum bergema di kepalaku, aku sempat berpikir... andai saja aku bisa percaya kalau Harry juga mencintaiku, mungkin aku akan bisa bertahan hidup..."

Madeline meraba salah satu pipinya, tertegun saat mendapati setetes airmata mengalir di sana. Di saat yang bersamaan dadanya semakin terasa perih dan berat seolah digandoli oleh sesuatu.

Ini tidak mungkin terjadi! Aku iblis! Aku... aku tidak punya perasaan...

Namun airmata yang mengalir dari kedua matanya semakin deras dan Madeline tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Satu pemikiran sempat terlintas di benaknya. Dia masih sangat menginginkan Harry. Sama seperti dulu, bahkan jauh lebih dalam lagi. Terlebih lagi semasa hidupnya dulu dia belum pernah merasakan cinta yang setulus dan sedalam ini kepada seseorang. Mungkin tidak ada seorang pun yang bisa mengerti kepedihan hatinya ini.

"Cinta itu menyedihkan, Weasley. Apa kau tahu itu?" cecar Madeline menahan pahit, menatap Ginny yang masih tergolek lemah. Pandangan gadis iblis itu mulai buram karena airmata. "Karena sejujurnya aku bahkan tidak tahu apa jawabannya. Bahwa kenapa aku masih terus berharap dan berharap meski aku tahu kalau tidak akan pernah ada Harry dalam hidupku. Aku tetap tidak bisa untuk tidak mencintainya... Bahkan setelah aku membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri... Tapi aku tetap..."

Gadis iblis itu tidak meneruskan ucapannya. Ginny sudah bisa berdiri tegak dengan tongkat sihir digenggamnya mantap dan balik menatap Madeline dengan sorot menantang. Madeline mengusap setitik airmata yang hampir menetes di dagunya dan tersenyum pahit.

"Jadi, kau pasti sudah mengerti apa alasanku, kan?" tanya Madeline kaku.

"Yeah, kurasa begitu," balas Ginny tegas. "Kau hanya tidak bisa merelakan kalau cinta itu tidak dapat dipaksakan. Lalu menimpakan penyebabnya kepadaku. Seolah-olah karena kesalahankulah Harry meninggalkanmu..."

Tanpa banyak bicara Madeline mengibaskan tangannya, membuat tubuh musuhnya itu terlempar oleh kekuatan iblis dan jatuh berguling-guling sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya. Berani sekali gadis jalang itu berkata begitu kepadanya. Jelas Ginny tampak tidak takut meski menyadari nyawanya tinggal menghitung detik saja.

"Mulut kotormu lancang, Ginny Weasley!" desis Madeline geram. "Kau tidak tahu sakitnya patah hati!"

"Impedimenta!"

Kali ini giliran tubuh Madeline yang terhempas kuat saat tanpa diduga Ginny mengacungkan tongkat sihirnya. Sebelum gadis iblis itu sempat bangkit, Ginny sudah bersiap meneriakkan mantra, "Stupe...!"

Dengan cepat Madeline menjentikkan jarinya. Seketika itu tubuh Ginny terangkat beberapa meter dari lantai. Tubuh itu terus melejit tinggi dan tinggi, sampai akhirnya membentur langit-langit menara dan tertahan di atas sana.

"Sayangnya kau tak punya sapu untuk bisa terbang, gadis kotor," cibir Madeline, serta merta menjentikkan jarinya sekali lagi, membuat tubuh Ginny terjun bebas dari atas sana dan menikmati jeritan Ginny yang bergema ke seluruh penjuru.

Seolah tahu kalau tubuh musuhnya itu akan remuk saat menghantam tanah, Madeline menodongkan tangannya ke arah Ginny dan menghentikan laju gadis itu. Tubuh Ginny sempat melayang-layang tanpa daya di ketinggian dua meter dari tanah, sebelum Madeline mendaratkannya di tanah dalam posisi duduk bersimpuh.

"Kau benar-benar tolol, Ginny Weasley," kata Madeline menarik nafas panjang, memasang ekspresi prihatin yang menggelikan saat menyadari lawannya mengalami shock berat. "Apa kau ingin membuat jasad Harry ini semakin hancur berantakan?"

Sambil memamerkan senyum liciknya, Madeline kembali berubah wujud menjadi Harry. Dia tersenyum puas melihat ekspresi kosong di wajah Ginny yang tampak sangat terpukul. Jelas sekali Madeline sadar betul kalau dia sudah berhasil memanfaatkan kelemahan Ginny. Melihat pemuda yang telah lama disukainya muncul dengan kondisi tubuh mengenaskan, apa lagi yang bisa diperbuat Ginny selain diam tak berkutik.

"Jangan berpaling, Ginny!" seru Madeline, sengaja memakai suara Harry, seraya berlutut dan mencengkram dagu Ginny yang sedang terisak-isak sedih. "Kau harus melihatku. Melihat Harry yang sudah jadi mayat ini."

"Tidak..."

"Yeah. Kenapa tidak? Kau akan terbiasa dengan lubang besar di dada ini, Ginny," paksa Madeline.

Seringai Madeline semakin lebar saat menangkap kengerian di mata Ginny. Sebenarnya Madeline sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya jika dia bertukar tempat dengan Ginny saat ini. Tapi dia tahu kalau dia sudah berhasil membuat hati gadis itu hancur lebur. Sungguh sebuah ide bagus bisa merasuki tubuh Harry yang sudah tak bernyawa lagi demi menggoyahkan mental Ginny.

"Aku tidak seharusnya mati mengenaskan begini, kan?" bisik Madeline yang sedang berpura-pura menjadi Harry. "Tapi aku sudah mati. Sayang sekali..."

Ginny membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya berguncang-guncang saat isakannya berubah menjadi tangis tertahan. Namun Madeline belum ingin berhenti menerornya.

"Tak apa-apa. Kau masih bisa melakukan sesuatu untukku, Ginny. Kau masih bisa memperbaikinya," desis Madeline, semakin berusaha menjerat kekalutan Ginny. "Kau tahu, aku masih bisa tertolong. Yeah, aku masih bisa hidup lagi."

Sontak Ginny mengangkat wajahnya dan menatap Madeline yang masih berwujud Harry dengan tatapan sendu bercampur tak percaya. Madeline balas menatap Ginny dengan sorot penuh rasa sayang, sorot yang sama yang selalu dia berikan untuk Harry. Kali ini tujuannya tidak lebih supaya Ginny semakin takluk dalam genggamannya.

"Aku sudah pernah menyelamatkan nyawamu dari kamar rahasia. Lalu apa yang akan kau berikan untuk menyelamatkan nyawaku? Kau berhutang budi padaku, ingat itu," ujar Madeline, menirukan gaya bicara Harry semirip mungkin. "Sekarang adalah kesempatanmu untuk membuktikan kalau kau ini gadis yang tahu cara berterima kasih."

Jerat beracun Madeline sepertinya sudah berhasil mencengkram korbannya saat ekspresi Ginny berubah hampa. Gadis itu sudah hilang harapan, termanipulasi oleh bujuk rayu iblis.

"Atau kau memang tidak pernah mencintaiku? Mungkin Dean memang jauh lebih baik dariku dan kematianku tidak akan banyak berarti untukmu..."

"Itu... itu tidak benar, Harry!"

Madeline membasahi bibirnya, sangat girang. Aktingnya sebagai Harry semakin memperdayai Ginny. Kegembiraannya bertambah saat Ginny berkata lirih, "Bagaimana caraku untuk menolongmu...?"

"Percayalah! Hanya kau yang bisa menolongku, Ginny. Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaan mudah ini..." ujar Madeline hati-hati, namun dia gagal menyembunyikan seringai liciknya. "...jika aku menawarkan sebuah perjanjian untukmu, maka apa jawabanmu?"

Ginny sempat terdiam selama beberapa saat, hanya memandangi mata Harry yang sedang dikendalikan oleh Madeline. Di saat yang bersamaan Madeline berharap gadis kumuh itu tidak menyadari kalau dirinya sedang ditawari sebuah klausula perjanjian dengan iblis. Yeah, itu karena taruhannya besar sekali. Tidak. Madeline tidak menginginkan nyawa Ginny. Nyawa Ginny baginya tidak lebih memuakkan dari seonggok daging berbelatung. Dia menginginkan sesuatu yang jauh berharga daripada nyawa Ginny.

"Aku akan menyetujuinya," kata Ginny dengan suara tercekat.

Madeline menyeringai puas. Tipu dayanya sukses besar. Sambil menahan rasa jijiknya (mengingat dia menyamakan Ginny dengan sampah), Madeline yang saat itu masih berwujud Harry menarik dagu Ginny dan mencium gadis itu sebagai tanda kalau perjanjian terlarang mereka telah mencapai kata sepakat.

Aku menginginkan hidupmu, jalang idiot...