BoBoiBoy © Animonsta Studios
Warn! Teen!Boboiboy Elemental, Fang, Yaya, Ying, and Gopal. Semi romance. Typo. [BoldItalic] for message. [Italic] for electronic voice. AU. No power.
Menu yang tersedia pada meja makan bisa dikatakan cukup spesial. Ada nasi. Sayur-sayur yang dimasak tumis bersama jagung. Lauk berupa ikan air tawar yang digoreng. Pokoknya, pada waktu itu empat sehat telah melengkapi menu-menu disana.
Tapi hebatnya lagi meski sudah ada menu besar disana, masing-masing kursi telah dibagi rata bagian menu utama. Mee goreng.
"Aku yakin orang yang masak gemar sesuatu yang keriting."
Api mengangkat setengah tangannya ke udara sambil memegang untaian bagian mee goreng. Matanya menyelidik melihat bagaimana bumbu-bumbu remah menempel lekat pada benda yang dipegangnya. Walau punyanya ada sedikit berbeda dari milik saudaranya yang lain.
"Sudahlah, Api. makan saja. Bagianmu paling capek karena paling rewel diminta cabe."
Halilintar langsung bersungut menanggapi celoteh Api. Ya, itu bedanya. Ada biji dan badan cabe melekat dari bagian tersebut.
"Ambigu ya, kak Api," tiba-tiba musuh bebuyutan Halilintar—sebut saja Air—ikut memasuki obrolan. "Aku yakin, yang masak ini akan apakan Yaya seperti ini."
"Hahaha! Mungkin?" tanggap Api.
"Tolong jangan berterus terang."
"Ha? Jangan berterus terang kalau kak Hali bakalan iyaiya sama Yaya?"
Permintaan Halilintar hanya dianggap angin oleh mereka berdua. Dasar adik kurang ajar.
Hanya sendiri saja Gempa yang sedari tadi diam. Dia sedikit gugup. Harus bicara seperti apa agar dia terlihat sebagai kakak tertua yang bahagia? Haruskah memberi hadiah, atau semacamnya agar Api merasa Gempa senang dia kembali?
Ini adalah bagian Gempa yang memang tidak bisa disangka Gempa miliki.
Setelah ia ditinggal oleh dua sanak saudaranya selama lima tahun lebih ini, pelajaran yang didapat Gempa cukup membekas. Perasaan rindu. Perasaan bersalah. Jera. Banyak bagian yang Gempa petik selama hidupnya ia gunakan untuk merenung.
Gempa ingin lebih baik dari dulu. Dan Gempa tidak ingin, kesalahannya yang sama terulang kembali.
".. untuk awal, aku ingin bilang selamat datang di rumah ini kembali. Api."
Api mengejang dari tempat duduknya. Matanya memerhatikan pemilik rumah yang menyambutnya tulus.
"Aku tadi langsung main peluk tanpa tanya-tanya. Haha, sungguh, aku tidak menyangka keluarga kita nyaris akan lengkap."
Sementara Halilintar dan Air saling memandang melalui ekor mata. Kedua insan tersebut memberi sinyal dengan menyunggingkan senyum.
Gempa telah berbicara. Orang yang memang paling berpengaruh di rumah tersebut telah memulai acara.
"Jadi, Api… kau mau sekamar sama Air kembali?"
Api terkekeh, "Tentu saja. Tapi aku hanya minta kipas angin rumah dimatikan."
"A—ahhh! Mana boleh!" celetuk Air. "Kipas angin itu sudah bagian dari hidupku. Jangan pisahkan aku dengan udara sejuk yang memerangkap dalam ruangan sana~"
Air terdiam dan memperbaiki posisinya. Hawa dingin pelototan Halilintar itu super sekali, sampai bisa Air deteksi. Air mencari aman.
"Haha. Kalau begitu, kau sekamar saja denganku."
"B—benarkah boleh? Bersama kak Gempa?" mata Api berbinar.
"Boleh. Tapi ingat satu hal, jangan bongkar-bongkar barang orang sembarangan."
Air dan Halilintar menelan ludah bersama. Ah, Gempa… kadang kau masih belum bisa untuk baca hati orang? Bisa-bisa Api tersinggung kembali lalu kabur—
"Sip! Jadi, pinjam baju juga boleh nih? Hehe."
Air dan Halilintar menghela napas lega. Mungkin Api masih dalam mood baik.
"Dasar gak modal."
"Kak Hali jangan terus terang! Aku memang bau!"
"Habiskan saja makannya, kak Api. Kak Api boleh pinjam bajuku. Tunggu ya."
Air bangkit dari kursinya menuju lantai atas. Sementara menunggu Air kembali, mereka melanjutkan makan malam mereka.
Tidak butuh waktu lama. Air turun sambil membopong satu set pakaian yang telah dilipat. Api yang kebetulan saja baru selesai memakan jatahnya, menyambut sodoran Air. Api tentu sedikit bercanda dengan adik manisnya sebelum benar-benar pergi dari dapur menuju kamar mandi.
Seusai makan, Halilintar dan Air membersihkan ruang dapur. Mungkin terbawa angin, Gempa juga ikut membantu adik-adiknya membereskan meja makan. Padahal biasanya Gempa akan kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaanya.
"Tidak ada kerjaan, kakak sulung?" tegur Halilintar.
"Aku senggang, mungkin?" balas Gempa yang kini mengelap meja. "Aku sudah banyak merepotkan kalian. Kurasa ada kalanya aku harus ikut bersih-bersih. Haha."
Halilintar tersenyum tipis. Dia tahu Gempa terlalu senang dengan keadaan sekarang. Perasaan senang bisa memicu seseorang memiliki tenaga lebih dari seharusnya, dan mungkin Gempa memang kelebihan tenaga.
"Nih."
Halilintar menyodorkan dua buah surat beramplop pada Gempa.
"Kapan datangnya?"
"… sore sebelum kau pulang. Kusarankan kau membuka yang paling atas dulu."
"Itu penggemar rahasia kakak," sambung Air. "Penggemar sedang menunggu kakak untuk membalas."
Hanya mengangguk. Gempa mengiyakan ucapan kedua adiknya untuk membuka amplop surat paling atas.
Suratnya beramplop putih polos. Tidak ada tulisan pengiriman dan dari siapa surat itu datang. Bagaimana mereka bisa mendapat surat yang tidak memiliki alamat? Atau mungkin saja—
Gempa menahan rasa penasarannya dan mengambil surat dari dalam amplop. Surat dengan format B4 polos tanpa bergaris. Ditulis dengan cukup rapi dan berformat tulisan lumayan besar—karena bagaimana tulisan besar dan barisnya banyak bisa muat dalam kertas sekecil itu.
Iris emasnya membaca baris demi baris kata.
"Kepada kakak kami yang baik…"
Tubuh Gempa dirasa mengejang. Respon apakah ini, setelah mendengar Halilintar menyebut isi surat tersebut sama dengan ketika ia membacanya dalam hati?
"Mungkin lebih tepatnya, Paman kami yang Baik."
"Kami punya masalah dengan kakak kami."
Kali ini yang melanjutkan membaca surat adalah Air. Kapan mereka kompakan?
"Dia selalu memperhatikan masalah orang lain."
"Tapi, dia selalu menyimpan masalah miliknya sendiri."
"Tapi aku tahu tentangmu, karena Air memberitahuku tentangmu. Air lebih tahu tentangmu lebih tepatnya."
Kedua mata Gempa terasa perih. Inikah maksud pernyataan Halilintar sebelum itu? Gempa langsung teringat ucapan Halilintar saat Air menghilang.
"Dan kami…"
Entah dorongan apa yang membuat Gempa menoleh pada kedua wajah adiknya. Mereka berdua juga menatap kakak tertua.
Namun ekspresi mereka terlihat susah menahan air mata.
"Takut dia bakal menjadi orang lain…"
"Kami takut… apa solusinya, Paman Baik?"
Air dan Halilintar mencintai kakak mereka apa adanya.
Mencintai kakak mereka yang sedikit tegas dan dingin. Mencintai kakak mereka yang diam-diam selalu memperhatikan kondisi keluarganya.
Juga, mereka mencintai kekurangan Gempa di mata Taufan.
Gempa, adalah Gempa. Sampai kapanpun, Gempa bukanlah Gempa kalau bukan orang yang mereka kenal.
"… pfftt, penggemar ya?"
Kedua adiknya serentak tertegun. Tidak, jangan melawak Gempa. Itu moodbreaker.
"Terima kasih. Gempa, akan selalu menjadi 'Gempa'. Karena Gempa yang kalian kenal, tidak ada di dunia ini selain aku."
Air menghela napas," Fyuuh, kukira—"
"Jadi, sudah boleh membuat kalian amnesia?"
Oh iya ya. Kalau Gempa sudah menjawab surat, dia akan mengambil ancang menidurkan orang lalu menyuruh mereka lupa akan ingatan saat mereka bertemu. Itukan cara Gempa mengamankan privasinya supaya jejak 'sok ngurus' problema orang tidak terendus kepadanya.
"Oi, kami ini adikmu! Gak usah pake praktek kayak orang lain juga!"
=oOo=
Air berdiri dari tangga dan membungkukkan badannya kecil. Rumah memang dalam keadaan sunyi dikarenakan tidak ada sesiapapun keluarganya ada pada ruang keluarga. Oh ya, jam delapan malam. Memang seharusnya semua sudah beristirahat dalam kamar masing-masing.
Ini kesempatan Air untuk keluar diam-diam.
Air menyalakan ponsel layar sentuh dan membuka menu pesan. Disana ada bagian pemberitahuan bahwa satu pesan diterima sejak jam enam sore.
[Hai, Liquidium-Hidro. Kudengar kau tinggal di Sabah? Aku dengar dari salah satu pembacaku, kalau kau tinggal di Sabah.
Boleh kita bertemu? Di kafe kokotiam, kau tahu letaknya? Aku yakin semua orang Sabah yang hobi jalan-jalan tahu tempat populer ini.
Malam ini jam delapan malam kutunggu. Cari seorang gadis dengan rambut kuncir dua juga berjaket abu-abu kehitaman.
Alasan aku ingin bertemu denganmu akan kuungkap nanti. Sekalian menghabiskan waktu berdua di kafe 'kan? Hihi.
Salam,
Apocalypse de Genesis]
"Astaga ini author favoritku…" Beberapa kali Air menarik dan membuang napasnya. "Oke Air, kamu jangan gugup. Jangan. Jangan. Ini hanya author perempuan."
Sebelumnya ia telah menyiapkan pakaian apa yang harus ia kenakan untuk kesana. Jaket simpel biru kesayangannya dengan topi biru laut polos ke depan. Untuk apakah, kali ini ia memakai kacamata berbingkai hitam lumayan besar.
'Kudengar kak Api sudah masuk dalam buletin mana-mana. Bisa repot kalau aku ketangkap malam-malam. Jadi lebih baik menyamar.'
Dunia malam adalah waktu baik untuk orang jahat bekerja di lapangan. Air tidak mau ada pihak polisi mendapatinya keluar karena ingin mengunjungi idolanya dari dunia maya. Kebetulan Air diberkahi wajah sama dengan penjahat itu—tidak, mana ada berkah-berkahnya punya keluarga penjahat.
Ia membuka pintu luar pelan kemudian menutup kembali. Air segera berlari cepat keluar dari teras rumah dengan berpegangan ujung topinya. Tempat janjian hanya berjarak kurang dari 100 m dari rumahnya. Tidak butuh 15 menit, Air tiba pada lokasi.
Air mengingat-ingat ciri-ciri yang dimaksudkan isi pesan tersebut. Rambut kuncir dua. Disana ada sekitar tiga gadis berpola rambut serupa. Namun hanya ada satu yang berjaket.
Pikirannya berhalusinasi tentang postur tubuh sang author. Tegas, lihat saja isi A/N yang begitu ditulis seperlunya namun cukup ada martabat dalamnya. Sedikit humoris karena isi ceritanya yang tidak dibawa seserius mungkin.
—namun ekspektasi kedudukan tinggi jatuh ketika melihat author idolanya ternyata orang pendek.
Perempuan dengan hanya berkacamata bingkai bundar biru. Gayanya tomboi. Rambutnya yang dikuncir dua—dan ayolah tidak adakah gaya rambut yang lebih baik dari sekedar meniru gaya culun? Dan pertama kali kesan yang didapat Air saat melihat parasnya, dia adalah orang yang pemarah.
"Enghh… apocalyse?"
"Itu nama penaku," balas perempuan tersebut. Ia terduduk tenang dari kursinya. "Duduk saja, Hidro."
"Nama itu terdengar tidak nyaman. Panggil saja saya Air."
"Namamu terdengar mirip dengan elemen penamu. Penggabungan Yunani dan salah satu nama senyawa yang membuat Air, bukan?"
Air menarik satu kursi kosong dan mendudukinya secara hati-hati. Masih tidak buruk juga perempuan di depannya ini. Bahasanya mirip bagaimana selama ini Air mengartikan membaca A/N karyanya. Digambarkan berkelas, mungkin?
"Suatu kehormatan, saya bisa bertemu Anda."
Air membuka kacamatanya disusul semakin menundukkan letak topinya. Air benar-benar malu.
"Aku Ying. Panggil saja aku demikian," ujar gadis itu. "Aku ingat wajahmu—kau mirip… Gempa dan Api."
"Uh enghh—begitulah. Aku adik bungsu mereka."
Mereka berdua—Api dan Gempa—pernah terlibat dalam kasus berita dan percetakan. Ying pernah bercerita kalau ia juga keluarga bagian redaksi, dan tidak heran bagi Air kalau Ying tahu—setidaknya mengenal—wajahnya.
Tapi Air merasa dia pernah mengenal Ying sebelumnya. Baru-baru saja, tapi kapan?
"Espresso dua dan cheese cake dua?"
Seorang pelayan dengan memakai kacamata dan celemek, menenteng baki berisi dua cangkir kopi dan dua potong kue dalam piring putih medium. Ying mengiyakan pertanyaan sang pelayan dan memberi ruang agar makanan dan minuman tersebut muat pada meja mereka.
Sejenak Air bingung. Apakah perempuan itu akan menghabiskan menunya itu sendirian?
Si pelayan meminta izin untuk mundur dan Ying memperbolehkan. Ying langsung menangkap sinyal heran dari Air.
"Espresso mengandung kafein yang lebih kuat dari kopi biasa. Jangan lihat takaran airnya yang cuma setengah gelas."
"B—bukan itu—engh, aku juga tahu espresso adalah kopi terbaik. Espresso itu seperti ibu cappuchino dan latte."
"Kopi dari espresso itu banyak jenisnya. Nah, ayo kita makan."
Sekarang Air lebih dibuat bingung oleh perempuan itu. Dia sengaja memesan makanan dan minuman deminya? Air sebenarnya punya jiwa berkelas tinggi dalam memilih makanan jajan, tapi Air sepertinya paham mengapa Ying lebih memilihkan menu untuknya dari menunggu Air bersuara.
Mungkin saja Ying tahu kalau Air adalah orang yang cukup berjiwa segan.
Ying dan Air bersama-sama menarik cheese cake mereka. Mereka sejenak terdiam, saling menatap, lalu tertawa bersama.
"Hihi, kukira kau dingin. Aku selalu membaca pesanmu dalam karyamu, dan kukira kau hanya suka menulis."
Air sedikit tersinggung, "… aku hanya pemalu. Aku tidak tahu bagaimana merespon rasa kagum penggemar."
"Kita sama. Oh sebelum itu, aku boleh sedikit menyinggung keluargamu? Ini masalah Gempa. Kebetulan sepertinya aku mendapat bukti banyak dalam kasusku."
"Boleh saja. Kudengar kau salah satu keluarga besar majalah anak-anak naungan Gempa. Kau pasti banyak berkomunikasi dengan kakakku."
"Kakakmu baru bicara denganku tadi pagi."
Air mulai menyendoki kuenya, mengikuti Ying. Ia berdiam menunggu gadis itu melanjutkan.
"Kamu hilang bukan kemarin? Aku sempat diminta Gempa untuk mencarimu. Tapi kau sudah ada bersama dengan Api. Gempa baru saja mengabariku tadi sore."
Air tidak mau membahas kehilangannya, "Kemudian?"
"Seharusnya hari ini adalah jamku mencarimu dan Api. Tapi kasus ini sudah terpecahkan. Aku hanya perlu mencari satu anggota keluarga kalian yang tersisa. Kira-kira, kau bisa memberi informasi tentang pribadi kakakmu itu?"
Air tampak berpikir, "Dia baik hati. Saat kecil, dia selalu kebal dengan luka dan serangan fisik lainnya. Orangnya kuat menghadapi hidup. Tapi entah, asal keluarga kami pecah dikatakan karena latar belakang sakit hati. Berarti Taufan bisa sakit hati."
"… bukan, dia bukan sakit hati. Air si author yang kuat menulis karakterisasi harusnya tahu alasan Taufan demikian."
"Apa sih? Praktek dunia maya dan dunia nyata itu berbeda!" bantah Air.
"Tidak, Air. Kau tahu 'kan pasti? Sekarang kau juga pasti tahu apa yang membuat Gempa dan Taufan bersengketa. Apa kekurangan Gempa. Kita tahu seseorang bukan karena kita menilai. Tapi kita telah menembus dalam hatinya. Air, sebelumnya aku tahu kau karena aku diberi kesempatan untuk tahu masalah keluargamu oleh Gempa."
Air bisa sadar diri. Author favoritnya bukanlah author biasa yang menulis tema pasaran. Ying terkenal mudah memahami alur meski dibuat rumit sekalipun—tidak untuk cerita dengan banyaknya plot hole.
"Jadi, apa yang bisa buat kau tahu bahwa Liquidium-Hidro itu aku?"
"Karyamu."
Jantung Air terasa bergerumuh, ketakutan. Karisma Ying tampak menyeruak dari mata Air, selaku penulis yang sering dijadikan panutan olehnya.
"Karena karyamu yang terselip seperti masalahmu dengan dunia. Air, kau tahu bahwa aku selalu diam-diam menengoki karyamu?"
"Kau bercanda," Air menutup setengah wajahnya dengan lengan kiri. Tidak mungkin Air bisa tersanjung oleh perkataan orang lain. tapi haruskan termasuk dipuji oleh orang yang dihormatinya?
Air itu selalu tidak mau peduli pada nasib orang luar. Air demikian tidak lain karena dia sendiri kehilangan kepercayaan yang disebabkan oleh masalah keluarganya. Bisa dibilang pelampiasan menyalahkan.
Air takkan mudah goyah oleh bualan orang luar.
"Aku penasaran denganmu. Kau selalu muncul dalam komentar karyaku dan aku menyukai kau yang diam-diam peduli."
"Haha, aku ingin pulang," kebiasaan buruk Air adalah selalu ingin kabur sebelum ia terbuai oleh ucapan orang. Bisa saja Air menemukan alasan setelah momen terjebak seperti sekarang. "Aku bisa-bisa dihajar kakak-kakakku."
"Aku akan bantu kau mencari Taufan."
"… tidak perlu repot-repot."
"Karena aku tertarik padamu."
"… bualan."
Air terpancing untuk emosi kepada yang bukan keluarganya. Ying bisa diberi tepuk tangan oleh Halilintar sekalipun kalau kakak-kakak Air tahu kondisi ini sekarang. Kenapa? Karena Air biasanya merespon diam.
"Aku ingin jadi bagian hidupmu."
"Hentikan dramamu. Aku tahu kau penulis dan penulis selalu bisa main drama dimana saja—"
Tangan Air direngkuh oleh perempuan tersebut. Kapan Ying berdiri dari kursinya?
"… apakah tidak sakit untuk selalu menulis hal-hal yang kontras dengan fakta?"
"Aku ingin pulang. Kumohon, kita bisa lanjutkan pembicaraan dengan mengirim email nanti."
"Tapi aku tahu kau disana pasti berbohong."
"YING!"
"Aku berjanji akan menemukan Taufan dan aku akan mewakilimu apa yang mau kau katakan pada Taufan dan Gempa."
Air dibuat terdiam olehnya.
"Maafkan aku yang daridulu memang keras kepala. Sungguh, kau adalah orang yang bisa membuat aku mau repot seperti ini. Aku keluarga polisi. Aku bisa membantumu."
"Aku pegang janjimu. Tapi aku benar-benar harus pergi."
Dengan berat hati, Ying melepas cengkeraman tangannya. Air meninggalkan tempat pertemuan mereka dengan sebelumnya berterima kasih atas traktiran. Adik bungsu membiarkan Ying masih memandangnya dari belakang.
"Air itu memang seperti boneka. Dia punya bakat terpendam, tapi tidak ada penggerak karena itulah dia tidak bisa percaya diri. Harusnya kami berdua bisa menggerakkan dunia ini bersama. Kemampuannya, dukunganku, seharusnya bisa membuat dunia menyembah kami."
Ying membisiki dirinya sendiri sambil tersenyum. Sementara Air yang sibuk dengan terus menerus ingat pertemuan mereka berdua membatin kasar.
'Dasar wanita agresif—'
=oOo=
Waktu hidup itu sangat berarti bagi nasib seseorang. Apa yang biasa kita kejar dahulu hanyalah kenangan ketika sudah dikebumikan. Dalam arti apabila telah mati, seseorang bukanlah lagi apa-apa.
Ada dua tipe manusia di dunia ini ketika dihadapkan maut. Antara ingin cepat dijemput, atau masih ingin bermain dengan dunia.
"Kalau aku memilih, aku ingin segera maut menjemputku setelah semuanya lepas. Aku merasa tidak punya hak lagi untuk membuat adik-adikku sengsara."
Satu lesatan bulir air jatuh. Ranjang Gempa kini sedikit berbekas basah.
=To be Continued=
A/N: AirYing? Oh ya, tentu saja Ying harus berbuat sesuatu atau kalau tidak Taufan takkan pernah bermain disini.
Saya berterima kasih dengan beberapa readers yang masih mau review setelah saya mengosongkan A/N dua kali. Satu hal yang harus kalian ketahui tentang saya, saya orang yang cukup pemalu dan tidak tahu harus bicara apa pada kalian sebagai balasan. Jadi maafkan karena review kalian jarang/tidak pernah saya balas. *senyum sama Air*
Dan btw lagi, saya sedang berusaha aktif kembali sebagai fans BBB. Mungkin beberapa hari ini saya disibukkan dengan membuat komik orisinil (dan sakit asma—) dan itu alasan saya sedikit tipis hawa keberadaan. Semoga saja masih bisa terus berkarya untuk pembaca yang menyukai tulisan saya.
Last note, apakah ada yang tahu akun lampion malam? Iya, ini saya yang bermigrasi ke akun baru.
