Keringat sudah mengucur dari kening Tayuya. Seorang perempuan berambut pirang pendek menatapnya tajam. Wanita itu seolah mengatakan, "Kau merusak dapurku."

Mahasiswa baru jurusan tata boga Hashirama saat ini tengah menghadapi tes akhir. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi seorang senior. Hanya ada satu juri dalam tes kali ini. Dia adalah Maeda Yuri.

Maeda Yuri adalah lulusan terbaik jurusan tata boga empat tahun lalu. Wanita itu amat terkenal, karena memiliki program televisi yang berkaitan dengan masak. Kebanyakan yang menjadi penggemarnya adalah ibu-ibu dan sejumlah lelaki yang suka sifat dingin si ratu dapur.

Baru saja Hinata lega, karena dia dinyatakan lolos dalam tes ini. Namun, saat ini dia takut Tayuya, orang yang paling dekat dengannya di kampus, tidak lolos. Dia sangat tegang menunggu komentar Maeda Yuri.

"Kau kupecat," kata Yuri singkat.

Ootsutsuki Toneri, selaku ketua kelompok segera memberikan sanggahan. "Dia masih bisa diberi kesempatan, Maeda-san. Kesalahannya tidak fatal."

"Tidak fatal? Maksudmu membuat lidahku terasa sepat sampai dua hari ke depan bukan kesalahan fatal?"

"Jangan bercanda. Memang ketika Anda seusia gadis ini, Anda bisa mengolah daging ular dengan sempurna?"

Yunior mana yang tidak akan menyukai Toneri kalau sikapnya begitu? Teman seangkatan Hinata yang lain bahkan merasa sial karena Toneri bukan ketua kelompok mereka. Beberapa dari mereka sekarang justru sudah pulang dan tidak akan pernah kembali lagi ke kampus sampai tahun ajaran baru tiba, itu pun bila mereka berhasil melewati tes masuk.

Demi seorang yunior, Toneri tak segan mengatakan hal yang membuat wajah Yuri tampak tegang. Seharusnya Toneri bersikap lebih baik kepada Yuri, selaku senior, bukannya membela yuniornya.

Sungguh. Hinata terkesan, sedikit. Dia jadi merasa bersalah menilai pria itu kurang ajar. Nyatanya Toneri memang pria baik.

"Terserah apa maumu," kata Yuri datar. Wanita itu keluar dari dapur dengan wajah merah menahan malu.

"Terimakasih, senpai!" kata Tayuya sambil membungkukkan badannya.

"Tidak masalah," balas Toneri singkat. "Kalian segeralah kembali ke penginapan dan bersiap-siap untuk acara puncak summer camp kita."

"Hampir saja!" pekik Hinata. Dia memeluk Tayuya seraya mengujar syukur kepada Dewa. "Ayo kita susul yang lain," ajak Hinata.

"Tidak, Hinata," kata Toneri cepat, "ada hal yang perlu kubicarakan dengan Tayuya. Kau duluan saja."

Hinata tersenyum mengerti, kemudian mengangguk. Di mata Toneri, itulah pertama kalinya gadis itu tersenyum begitu tulus padanya. Seolah Hinata memberikan sedikit celah untuknya memasuki hidup gadis itu.

"Ada apa, senpai?" tanya Tayuya singkat setelah Hinata meninggalkan dapur bersama teman-teman sekelompoknya.

"Aku butuh bantuanmu," jawab Toneri.

Tayuya menatap Toneri penuh tanya. Namun, kemudian gadis itu tersenyum senang. "Aku senang sekali jika aku bisa membantu senpai. Jadi, hal apa yang bisa kubantu?"

"Baguslah. Ini tidak akan sulit untukmu, cuma tentang Hinata."


Chapter 12

©Rosetta Halim


Pada kamis malam seorang Uchiha berkunjung ke mansion Hyuuga. Tampilannya sama seperti seorang pegawai pada umumnya, mengenakan kemeja hijau toska dengan celana bahan dan sepatu pentofel berbahan kulit. Tetapi, tompel di wajah pemuda itu membuatnya tidak normal, apalagi tatapan matanya yang seakan mampu membunuh siapa saja. Hal itu membuat seluruh pelayan Hyuuga bertanya-tanya.

Di samping itu, baik sebelum revolusi dan sesudah revolusi, Hyuuga dan Uchiha bukanlah teman dekat. Siapa pun yang belajar sejarah Jepang tahu hal itu. Jadi, jelas jika seorang Uchiha mengunjungi Hyuuga atau sebaliknya, hanya akan menimbulkan tanda tanya.

Dahulu sebelum revolusi, mereka sering terlibat dalam pertengkaran, entah panas maupun dingin. Padahal di mata orang luar, keduanya sama saja.

Sesudah revolusi berlangsung, saat Hyuuga kehilangan keluarga cabang yang biasanya mereka jadikan pengawal dan pelayan, mereka tak sekuat dulu lagi. Demikan pula Uchiha, sekarang semua anggota klan bebas pergi ke mana pun yang mereka mau. Tetapi bedanya, bila Hyuuga semakin terpuruk, maka Uchiha semakin bersinar.

Penyandang nama Uchiha biasanya menjadi nomor satu di bidang apa saja yang mereka kerjakan. Entah seni, sastra, politik, bisnis maupun teknologi. Tetapi, mereka cukup kaku soal pengetahuan sosial, meskipun ada beberapa yang mahir.

Hyuuga Hideki selaku kepala keluarga Hyuuga Souke sangat membenci mereka, begitu pun Hyuuga lainnya. Kebencian yang diwariskan, kata orang. Tetapi, menurutnya itu bukan warisan.

Dulunya, Hyuuga bergerak di bidang transportasi mesin, tetapi gulung tikar berkat Uchiha sombong bernama Madara. Sekarang bisnis perhotelan mereka pun harus bersaing ketat dengan menantu pria itu, Uchiha Fugaku. Para investor, jangan ditanya, baik dalam negeri maupun luar negeri, semua berlomba-lomba menanamkan modal di perusahan mereka.

Hideki memberikan izin untuk kedatangan Uchiha muda—yang sekarang duduk di hadapannya dengan wajah angkuh—atas saran putra semata wayangnya, Hiashi. Agar mereka bisa bertahan di dunia bisnis, mereka harus siap menerima tawaran kerja sama dari siapa saja, mengesampingkan dendam masa lalu.

Kedatangan Sasuke ke mansion Hyuuga bukan cuma untuk menawarkan kerja sama. Dia tahu, tidak pernah ada kerja sama antara Hyuuga dan Uchiha. Sasuke bersumpah, dia datang ke sini hanya untuk mengintimidasi Hyuuga Hideki, kakek sialan yang selalu berlaku kurang ajar pada Hinata-nya.

"Hyuuga-sama," kata Sasuke tajam, "biar ini jelas, kau harus memberikan sesuatu untukku supaya kerja sama kita segera terlaksana."

Hiashi yang duduk di sebelah Hideki langsung mengerti ke mana arah pembicaran Sasuke. Berbeda dengan Hideki yang tampak mengernyitkan kening.

"Sesuatu macam apa yang kauinginkan dari tua bangka ini?" tanya Hideki.

"Tidak sulit untuk kau turuti. Kau hanya harus berhenti mencoba melenyapkan Hyuuga Hinata, cucumu yang manis itu," ujar Sasuke, kemudian terkekeh pelan.

Hideki mendecih. Kini bocah dihadapannya itu menjadi sangat kurang ajar. "Kau menuduhku?" tanya Hideki menusuk.

"Kita sama-sama tahu apa yang kaurencanakan untuk melenyapkannya di Chiba," balas Sasuke. Kali ini dia benar-benar serius.

Hiashi menatap Sasuke, meminta penjelasan dari pemuda itu tentang rencana di Chiba. Jujur saja, selama ini dia tak pernah kecolongan. Walaupun terkadang lama, dia selalu tahu rencana apa yang dibuat ayahnya untuk melenyapkan putri tercintanya, sehingga dia tahu harus melakukan apa untuk menggagalkan rencana itu. Namun, Sasuke tak menanggapi itu, dia terlalu fokus pada Hideki.

"Kau sok tahu, Bocah!"seru Hideki penuh amarah. "Lagipula apa yang bisa kusembunyikan dari kakekmu yang sepanjang waktu mengawasiku dan seluruh keluargaku?"

"Tentu saja tidak ada, itulah kenapa aku tahu rencanamu," jawab Sasuke enteng. "Jadi, berhentilah bersikap seolah kau tidak tahu apa-apa."

"Kalau itu yang kaumau, aku tidak membutuhkan kerja samamu," balas Hideki. "Kurasa mansion kami tidak terlalu besar untuk membuatmu lupa jalan menuju pintu keluar."

"Dengar, Tua Bangka Sialan," kata Sasuke tajam. Tidak ada lagi sopan santun. "Aku akan membinasakanmu jika sesuatu terjadi padanya, entah sekarang maupun di masa depan. Aku sudah cukup sabar padamu. Aku menawarkan kerja sama padamu, tetapi kau memaksaku mengancamu."

Sasuke menelusuri rekam jejak Hideki sejak dia mewarisi kekayaan kakeknya. Dia sempat berpikir untuk menebas kepala pria tua itu setelah tahu Hinata nyaris mati karena racun yang dengan sengaja ditaruh dalam es serut yang dibeli Hinata pada saat musim panas ketika Hinata masih SMP. Bukan hanya itu, ada banyak lagi perlakuan kurang ajar Hideki terhadap Hinata.

"Tidak ada gunanya mulut besarmu itu. Pergi dari sini sebelum aku memanggil penjaga."

Meskipun sebenarnya Hideki terpojok, dia tidak mau menunjukkan ketakutannya. Pemuda itu harus segera pergi dari sini agar dia bisa menelepon seseorang di Chiba sana.

"Kau pembohong ulung," sindir Sasuke. "Tawaranku masih berlaku jika kau masih sudi bekerja sama denganku."

Sasuke beranjak pergi ditemani Hiashi yang terlihat nyaman berada di sekitar Uchiha muda itu.

Pemuda itu sangat jeli dalam mengamatinya, benar-benar keterlaluan. Entah kesialan apa yang dibawa anak haram sialan itu sampai dia harus menghadapi kebengisan Uchiha. Dia harus mencari tahu hal ini.


Hiashi menerima ajakan Sasuke ketika mereka keluar dari mansion Hyuuga. Bagaimana pun dia harus tahu apa yang direncakan ayahnya kali ini. Dia tidak akan tenang bila belum mengetahuinya.

Beberapa minggu belakangan, dia dan Sasuke memang sering bertemu untuk membicarkan masalah ini. Dia pun tahu dengan baik apa arti Hinata bagi pemuda Uchiha itu.

"Kudengar darinya, pada hari terakhir camp-nya, mereka diminta memasak daging ular. Bukan yang berbisa, hanya ular sawah. Itulah celah yang digunakan Tua Bangka Sialan itu untuk melenyapkannya. Sudah pasti dia akan menyusupkan ular berancun khusus untuk Hinata. Hinata sudah pernah memasak daging ular sebelumnya, cuma kemungkinan berhasil akan lebih besar bila Hinata jauh dari Konoha."

Hiashi menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Itu sungguh keterlaluan. "Entah kapan dia berhenti," bisiknya lirih.

"Paman tenang saja, aku akan menjaganya."

"Kupikir putriku itu tidak punya cukup daya tarik untuk menarik minat pria dari kalangan atas, kau tahu maksudku." Hiashi tersenyum lembut. "Tapi, justru kau yang datang. Padahal aku dan Neji sudah merencanakan masa depannya."

"Kalian sudah mencarikannya seorang pria?" tanya Sasuke sedikit curiga.

Sontak tawa renyah meluncur dari mulut Hiashi.

"Maksudku bukan begitu. Aku dan Neji mencari sebuah tempat rahasia. Kami berniat menjauhkan Hinata dari pandangan Hyuuga. Itulah rencananya."

Sungguh tidak lucu bila ayah dan kakak Hinata sudah menerima lamaran dari seorang pria jauh-jauh hari, sehingga saingan Sasuke harus bertambah. Tetapi, Sasuke yang terlihat waspada gegara hal yang tidak lucu itu adalah hal yang lucu,

Ah, selama ini Sasuke terlalu santai. Dia berpikir tidak ada pria yang berminat memasuki area kekuasaannya. Hinata tidak menarik di mata pria, makanya dia merasa tak perlu bersikap berlebihan.

Tiba-tiba kepalanya terasa nyeri. Memikirkan pria lain membuatnya teringat pada pria sinting bernama Toneri.

Sepulang dari summer camp nanti, dia harus lebih protektif terhadap Hinata.

"Hari Sabtu ini, pukul delapan, kakekku akan mengadakan pesta di kediamannya. Jika tidak keberatan, aku ingin Paman datang."

"Aku pasti datang."

Mobil yang membawa mereka kini telah sampai di depan mansion Madara. Sasuke meminta sopirnya mengantarkan Hiashi kembali ke mansion Hyuuga sebelum dia turun dari mobil. Dia merasa lega sekaligus resah. Rencana pembunuhannya jelas tidak akan dilaksanakan Hideki, tetapi Toneri itu …

Lain kali aku harus berkunjung ke mansion Ootsutsuki dan bertemu langsung dengan pria kurang ajar itu.


Acara puncak summer camp terasa seperti hari kebebasan bagi Hinata dan teman-temannya. Mereka diberi hadiah jamuan makan malam dari koki-koki kelas elit untuk usaha keras mereka. Selain itu, telinga dan mata mereka juga dimanjakan oleh penampilan Shinohara Fuu. Penyanyi dan penari ternama.

Sebenarnya Hinata merasa kasihan pada mereka yang langsung DO setelah gagal. Tetapi, ya sudahlah, mana mungkin dia membujuk kepala jurusan untuk mempertahankan mereka.

Mereka baru saja selesai menyantap hidangan penutup. Beberapa teman dari kelompoknya maupun dari kelompok lain mulai menghampirinya untuk memberikan selamat. Itu untuk keberhasilannya mencapai peringkat tiga yang diumumkan sebelum mereka makan tadi.

"Aku pasti sudah pulang kalau saja Toneri-senpai tidak menolongku," kata Tayuya.

Hinata menguap. "Aku ngantuk," katanya.

Aktivitas mereka sangat berat sejak hari pertama, Hinata bahkan yakin berat badannya berkurang banyak. Dia butuh istirahat sekarang. Makan malam sudah selesai, artinya tidak ada lagi acara.

"Hinata-chan, ayolah. Kau memang tidak suka pada Toneri-senpai?"

"Sasuke-kun, aku lebih suka Sasuke-kun," jawab Hinata mantap. "Ayo tidur."

"Ya, sudah," kata Tayuya. Tetapi, dalam hati dia masih tidak terima Hinata yang baik hati itu berpacaran dengan Uchiha Sasuke yang tatapan matanya saja membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi, kau jangan tidur dulu. Aku dan teman-teman sekelompok kita yang lain sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan kita semua."

"Toneri-senpai tidak ikut, 'kan?"

"Tenang saja, dia tidak ikut. Lagipula kalau dia ikut, apa yang mungkin dilakukannya?"

"Entahlah. Perasaanku tidak enak saja sejak kau kembali dari dapur tadi sore. Kupikir kau agak aneh."

Tayuya menelan ludahnya. Walaupun polos, sepertinya Hinata punya intuisi yang bagus.


Nyaris tengah malam Hinata kehilangan kesadarannya. Dia sepenuhnya berada di bawah pengaruh alkohol. Gadis itu tidak punya rasa malu saat dia mengatakan pada Tayuya betapa dia merindukan Sasuke-kun. Hinata meracau tentang ciuman Sasuke, menunjuk-nunjuk bagian tubuhnya yang paling sering dicium Sasuke.

Untunglah teman-teman mereka yang lain sudah lelap berkat obat tidur yang dimasukkannya ke dalam jus nasi. Sementara untuk Hinata sendiri, Tayuya mencampurkan tiga puluh persen alkohol pemberian Toneri ke dalam jus nasinya. Supaya rencana mereka membuat Hinata mabuk berat berhasil.

"Sasuke-kun sayang, kau bilang kau mau datang ke sini dengan helikop …." Hinata tersedak. "….ter. Mana sayang, kenapa belum datang juga. Aku ingin menciummu. Aku sangat merindukan bibirmu, dan …"

Toneri baru tiba setelah dia mengirim pesan singkat beberapa menit lalu. Pria itu mendekati Hinata yang tergeletak di lantai bersama teman-temannya yang lain.

"Dia sudah gila," kata Tayuya. "Dia nyaris menciumku tadi, karena dia pikir aku pacarnya."

"Bagus. Kalau sudah begitu tidak akan sulit membuatnya mengira aku adalah pacarnya."


Sebelum pesta khusus, yang dibuat kakeknya untuk memperkenalkan dirinya pada rekan bisnisnya, usai, Sasuke sempat ingin tidur. Namun, ada hal lain yang begitu mendesak dalam dirinya.

Dia mengalami kegelisahan sejak pulang dari mansion Hyuuga pada Kamis lalu.

Kamarnya di mansion kakeknya terasa sangat pengap. Dia seakan tak bisa bernapas.

Hyuuga Hideki sudah menarik orang-orangnya dari Chiba. Keselamatan Hinata pasti bukan hal yang perlu dicemaskannya. Entah apa, dia hanya merasa cemas.

Selama Hinata belum pulang dia menginap di apartemen Naruto dan Sai jika sedang di Shimane. Dia cukup beruntung kedua orang itu bisa menenangkan kegelisahannya dengan mengatakan padanya bahwa semua itu cuma perasaannya saja.

Memang benar. Gegara itu dia menghubungi Hinata lima menit sekali, bahkan pada tengah malam. Tetapi, dia tidak mendapati hal-hal ganjil. Hinata tampak baik-baik saja di sana. Ketika dia menghubungi kakaknya dan ibunya yang sedang jauh darinya, mereka pun terlihat baik-baik saja. Seharusnya itu cuma perasaannya.

Hanya saja ….

Sasuke tak bisa menghentikan kegelisahan ini. Dia menyingkap selimutnya, kemudian turun dari ranjang. Dia berpikir mungkin dia bisa tenang setelah menatap langit malam. Jadi, dia berjalan mantap ke jendelanya, menyibakkan tirai coklat muda, lalu mendesah kecewa. Bulannya mengintip dari balik selimut tebal berupa segumpal awan. Itu justru semakin memperparah suasana hatinya.

Pokoknya, aku harus bersama Hinata secepatnya. Berulang kali sisi lain dari dirinya berteriak meminta Hinata, seakan Hinata segera lenyap dari dunia ini. Hal apa lagi yang terpikir dalam kepalanya kalau bukan, Hyuuga Hideki menjalankan rencana lain, karena rencana sebelumnya terlanjur ketahuan.

Pemikiran itu tiba-tiba menyentaknya. Dia berlari ke lemari nakas, membuka laci dengan tergesa, mengabaikan lampu tidur yang nyaris jatuh dari meja nakas karena ulah tangannya yang tak sabaran.

Ponsel, dia perlu menyalakan ponselnya agar dia bisa menelepon orang yang diperlukannya untuk mempersiapkan keberangkatannya.

Setelah semua dihubungi, Sasuke berlari ke aula pesta. Dia segera menarik paksa ayahnya dari kegiatan bercakap-cakap dengan rekan bisnis mertuanya.

"Kau mau langsung mengajak ayahmu kerja sama?" tanya Fugaku bercanda.

"Bukan. Ada hal yang kubutuhkan," balas Sasuke.

"Tou-san sudah mengajarimu dengan benar sesuai janji tou-san pada kakekmu. Apa itu masih kurang?"

"Aku mau terbang ke Chiba sekarang juga," jawab Sasuke mantap.

"Astaga! Manusia mana yang berhasil membuatmu ingin terbang sekarang juga?" kata Fugaku, lagi-lagi bercanda. Oh, sungguh, pria ini benar-benar tidak bisa menyaksikan wajah cemas putra bungsunya. Mungkin sedikit mabuk.

Bukannya dia tidak melihat, Fugaku hanya ingin sedikit menggoda. Beberapa minggu lalu Itachi membeberkan segala tindak-tanduk Sasuke yang melenceng dari karakternya karena seorang wanita. Itachi bahkan menunjukkan foto wanita itu dengan semangat. Ayah dan anak itu dengan kompak menertawakan Sasuke kala itu.

"Cepatlah, tou-san, ini darurat."

Darurat? Fugaku yakin darurat yang terdengar di telingannya berbeda. Kedengarannya seperti rindu setengah mati.

"Terbanglah sana. Tou-san akan memberitahu mereka," ujar Fugaku akhirnya.


Tepat pukul satu lewat tiga puluh dini hari sebuah helikopter buatan Uchiha mendarat di atap salah satu cabang hotel milik Uchiha Fugaku. Manajer hotel mengira orang yang meminta mendarat di atap bangunan tertinggi di Chiba itu adalah orang setengah waras. Entah keadaan darurat macam apa yang memaksanya terbang di tengah malam. Orang sakit? Lupakan. Rumah sakit di Konoha adalah yang terbaik.

Si Manajer sempat terpelongo ketika pemuda bertompel turun dari sana. Orang jelek yang beruntung, pikirnya. Benar-benar jauh dari kata pantas untuk menjadi putra Uchiha Fugaku.

Sasuke tak mempedulikan manajer hotel yang terlihat merendahkannya atau beberapa bawahannya yang mencoba mencari muka di depannya. Dia langsung mengambil langkah turun ke lantai satu.

Seharusnya aku mendarat di peternakan Ootsutsuki saja.

Iya, seharusnya begitu Sasuke. Walau mereka tidak mengizinkan, langgar saja semua batasan yang mereka buat. Bukankah itu yang selama ini kau lakukan?


Sasuke menggedor-gedor pintu salah satu kamar inap di penginapan milik Ootsutsuki sambil memanggil-manggil nama Hinata.

Satpam tersenyum geli melihat tingkah pemuda Uchiha itu. Bayangkan saja, Sasuke datang jauh-jauh dari Konoha hanya untuk menjemput kekasihnya. Padahal setahunya meraka berangkat dari sini besok pukul tujuh pagi.

Seseorang yang Sasuke tahu bernama Tayuya membuka pintu seraya mengucek-ucek matanya. Ketika dia melihat siapa yang ada di depan pintu dia melotot tak percaya.

"Di mana Hinata?" tanya Sasuke, terdengar kasar, seolah Tayuya baru saja menyakiti gadis itu.

Tayuya mempersilahkan Sasuke masuk, agar pemuda itu bisa melihat Hinata dengan mata kepalanya.

Mata Sasuke menyipit tajam. Seorang lelaki yang Sasuke yakin anggota kelompok Hinata meletakkan kakinya di bokong Hinata yang tertidur dalam posisi telungkup.

"Apa-apaan ini?!" geram Sasuke. Mereka semua tidur dalam posisi yang kacau. Dengan kasar Sasuke menyingkirkan kaki lelaki itu.

"Kami cuma sedikit berpesta," ujar Tayuya takut ketika Sasuke membalik tubuh Hinata kemudian mengendus napas gadis itu. Sasuke itu tampak seperti iblis di matanya. Sama sekali tidak memiliki aura bersahabat. Itulah kenapa dia lebih suka Hinata dengan Toneri, meskipun terlihat kejam, tetapi baik.

"Sedikit?" tanya Sasuke tajam. "Kalian … sudahlah. Aku akan membawanya pulang. Bisa kau ambilkan barang-barangnya?"

Terang saja Tayuya memberengut. Pemuda sombong itu tidak tahu caranya meminta tolong. Sudah jelek, sok oke pula, pikir Tayuya sambil mengemas barang-barang Hinata.

Hinata yang penyayang dan apa adanya memang tidak cocok dengan pemuda seperti itu. Tidaklah masalah dia jelek, setidaknya dia punya kepribadian yang baik.

Tetapi, entah kenapa, pemuda itu terlihat begitu mencintai Hinata. Dia dengan sabar memakaikan jaket yang dikenakannya pada Hinata, kemudian menggendong Hinata di punggungnya walaupun jelas semua orang tahu Hinata tidak seringan itu. Sungguh, itu membuatnya meleleh, tetapi sekejap kemudian dia merasa cemas.

Tayuya mengeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak, aku tidak melakukan kesalahan.

"Apa yang kau lakukan?"

Suara Sasuke mengagetkannya. Dia langsung memberikan barang-barang Hinata pada Sasuke.

"Biar aku yang bawakan," kata Satpam yang sejak tadi menunggui Sasuke di depan kamar inap. Tayuya pun memberikan tas Hinata dan pisau kesayangan Hinata pada Satpam itu.


Sasuke menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Dia meremas setir dengan keras, merasa kesal pada dirinya sendiri.

Hinata di jok sebelah tampak baik-baik saja. Seyum tipis tak henti-hentinya menghias wajah tidur Hinata. Pasti karena dia sangat bahagia berhasil melewati rintangan paling berat dalam kariernya.

Sasuke mencubit pelan pipi Hinata, kemudian dia mencodongkan tubuhnya ke kanan agar bisa mengecup pipi gadis itu.

"Aku tidak bisa tidur karena terlalu mencemaskanmu," bisik Sasuke. "Kau sudah bersamaku, setengah dari diriku lega, tetapi aku tidak akan bohong pada diriku sendiri, setengah yang lainnya masih mencemaskan sesuatu. Saat bangun nanti kau harus membantuku mencari tahu hal itu."


Langit-langit kamar yang dicat dengan warna yang sama seperti rambutnya membuatnya bertanya-tanya. Kamar di penginapannya dicat dengan warna putih. Lantas Hinata menolehkan kepalanya ke kanan.

"Eh?" pekiknya kaget. Dia langsung terduduk di tempat tidur. Kepalanya berdenyut-denyut.

"Sudah bangun?" tanya Sasuke. Dia berbaring di sebelah kanan Hinata. Wajahnya lah yang membuat Hinata kaget. Dia sendiri kelelahan setelah menyetir delapan jam dari Chiba ke Shimane. Karena alasan privasi dia tak mau pulang dengan helikopter, tidak ingin ada penghuni hotel yang melihatnya bersama Hinata. "Mandi sana, supaya sakit kepalamu hilang."

Walau malas dan ada banyak pertanyaan, Hinata menuruti Sasuke.

Sasuke keluar selagi Hinata mandi. Mencari makan siang yang cukup enak untuk mereka berdua.


Usai makan siang, Hinata kembali ke tempat tidur, dia masih sangat lelah, sama halnya dengan Sasuke. Sebelum benar-benar tidur Hinata berniat menanyakan berbagai macam pertanyaan pada Sasuke. Sasuke sendiri tidak ingin menanyakan kecemasannya pada Hinata saat ini. Wanitanya masih perlu istirahat.

"Sasuke-kun." Suara yang dirindukan Sasuke mengalun di telinganya ketika dia hampir tertidur.

"Hm?" Dia bergumam sambil senyum-senyum aneh.

"Jam berapa kau datang ke sana?"

"Jam dua kurang lima belas," jawab Sasuke enteng.

"Eh?" Hinata tampak terkejut. Dia menimbang-nimbang, apa harus dia ceritakan sesuatu yang sekarang dia yakin hanya halusinasi pada Sasuke. Tidak perlu.

"Ada apa?"

"Tidak. Aku hanya kurang percaya kau benar-benar menyusulku."

"Hei!" Sasuke berseru. Dia mencubit-cubit pipi Hinata dengan gemas. "Aku sudah bilang, 'kan. Pria Uchiha akan melakukan hal paling tak masuk akal sekali pun demi wanitanya. Kalau hanya itu, bukan hal besar."

"Aku meragukannya," balas Hinata geli.

"Kenapa?"

"Soalnya setiap kali aku memintamu mengatakan 'itu' kau selalu mengalihkan topik."

Sasuke memutar bola matanya bosan. "Itu lagi, itu lagi."

"Itu penting, Sasuke-kun. Supaya aku berbunga-bunga," kata Hinata. Dia senyum-senyum membayangkan Sasuke mengucapkan kata-kata romantis. Pasalnya Sasuke memang buruk sekali dalam menyentuh hatinya dengan kata-kata. Dia dan Itachi sering bergurau tentang itu. "Kau berbeda sekali dengan Itachi-nii. Dia nomor satu dalam membuat hati wanita berdebar-debar dengan setiap kata manis yang tertuang dalam tulisannya."

Itulah yang paling dibenci Sasuke. Sewaktu-waktu Hinata senang memanas-manasinya. "Aku akan membuktikan aku jauh lebih baik dari baka aniki itu." Untuk pertama kalinya Sasuke terpancing kata-kata Hinata.

"Cobalah," tantang Hinata.

Sasuke mengurut keningnya pelan-pelan, mencoba memikirkan sesuatu. Dia harus mengatakan sesuatu yang membuat Hinata melayang, yang pasti harus berkaitan dengan 'itu' yang dimaksud Hinata.

Mudah baginya mengukapkan itu lewat perbuatan, tetapi sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Bukankah Hinata sendiri menjadi saksi betapa buruknya nilai Sasuke di kelas sastra.

"Ah, ini, dengar aku." Hinata mencoba menahan tawa, dia membayangkan seburuk apa Sasuke akan mengatakannya. "Kau selalu memintaku mengatakan bahwa kau wanita paling cantik di dunia ini. Aku tidak akan mencoba membual atau mengarang, aku hanya akan mengatakan yang sejujurnya."

Terkadang, bila kau marah, kau lebih menakutkan daripada cacing

Wajah masammu jauh lebih buruk daripada masakanmu yang gagal

Kau suka sekali memanas-manasiku

Kau senang membuatku ketakutakan dengan melempar cacing padaku

Itu sangat menjengkelkan

Kau memang tidak secantik berlian

Ada banyak wanita yang lebih cantik di luar sana

Aku mengakuinya

Aku tak mungkin berpura-pura

Mengatakan kau adalah wanita paling cantik seakan mataku buta

Tetapi, Hinata, bagiku, kau adalah hidupku

Bisa kau bayangkan betapa berharganya dirimu untukku, 'kan?

Barang dihargai berdasarkan kegunaan, kualitas dan keindahannya

Manusia dihargai berdasarkan karakternya

Tetapi, Hinata-ku tidak begitu, kau sangat berharga hanya karena aku mencintaimu

Dan aku mencintaimu karena … aku sendiri tidak tahu

Ya, itu lebih baik daripada dikatakan wanita paling cantik atau bahkan wanita paling baik. Sungguh, Hinata sangat menyukainya.

"Bagaimana? Puas?" tanya Sasuke. "Sekarang cantik, pintar, entah apapun itu, tidak perlu lagi dipertanyakan. Itu benar-benar tidak berguna."


Hinata merutuki kecerobohannya sepanjang kelas pertama hari ini. Bisa-bisanya dia salah mengambil ponsel. Yang dibawanya justru ponsel Sasuke.

Setahun yang lalu, tepat di hari ulang tahunnya, Sasuke memang memberikan ponsel serupa milik pria itu. Katanya ponsel itu diproduksi secara khusus oleh Nara Industries. Hanya ada dua di dunia, miliknya dan milik Sasuke. Soal kualitas, ponsel itu mampu menangkap sinyal, bahkan di tempat paling terpencil, RAM-nya lebih besar dan batrainya tahan lama. Hinata sama sekali tidak mengerti, baginya itu sama saja.

Alhasil tidak heran kalau akhirnya kejadian seperti ini kesampaian juga.

Tidak masalah. Simpan saja dulu. Aku bisa log in e-mailku dengan ponselmu.

Kalau ada nomor tidak dikenal menelepon Kyou, jangan diangkat.

Hinata menurutinya begitu saja tanpa berpikir macam-macam tentang nomor tidak dikenal itu. Lagipula, dia setiap hari melihat isi ponsel Sasuke. Kadang-kadang, saat Sasuke sedang sibuk melakukan sesuatu sementara sebuah surel menuntut dibalas, pasti dia yang diminta Sasuke membalasnya. Dia percaya pada Sasuke.

Tetapi, masalahnya, apakah di pihak Sasuke baik-baik saja kala lelaki itu memegang ponsel Hinata?


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Kakashi bertemu Kyou. Begitulah Kyousuke, seorang model indie, katanya. Tidak terikat pada label, agensi atau bahkan kontrak jangka panjang. Kyousuke hanya menyukai kontrak singkat, satu sampai tiga bulan mungkin. Padahal cukup banyak yang meneleponnya hanya untuk menawari kontrak bermain drama, apalagi semenjak hubungannya dengan Sakura diumumkan.

Rasanya Kakashi akan mendapat untung banyak bila saja Kyou menerima semua kontraknya. Sayang sekali. Tetapi, ya, Kakashi bukan hanya terikat sebagai rekan kerja atau ayah-anak pura-pura dengan Kyousuke. Mereka sungguh memiliki ikatan emosional.

Itulah sebabnya, dengan usaha keras, akhirnya Kakashi punya sedikit waktu yang bisa ia gunakan untuk mengunjungi putra angkatnya itu sekaligus menyelesaikan salah satu kontrak iklan. Cuma iklan kulkas buatan Nara Industries. Tidak akan memakan waktu yang lama.

"Aku sebenarnya berharap sekali bisa memakan masakan calon menantuku," ujar Kakashi ketika Kyou duduk di sebelahnya untuk istirahat sejenak. Menyindir Kyousuke yang ia pikir lupa menyampaikan hal itu pada Hinata.

"Baik aku atau dia, kami sama-sama sibuk. Jadi, maaf saja, keinginan mulutmu itu tidak bisa kuturuti," balas Sasuke.

"Sialan kau, Sasuke."

"Bagaimana Si Jinjaa? Kau harus cepat-cepat memikatnya, dia semakin agresif saja padaku."

"Tidak perlu membahasnya."

Sasuke hendak membalas perkataan Kakashi. Bunyi ponsel Hinata menghalanginya melakukan itu. Mungkin saja Hinata mengirim pesan, memintanya membelikan sesuatu yang hanya ada di Fuuma Supermarket seperti biasa.

Via Whatsapp di daftar chat Hinata. Seseorang baru saja mengirim pesan pada Hinata. Dia seorang pria berambut perak yang sering membuatnya jengkel, selain gadis berambut merah muda yang sering menjelek-jelekkannya di setiap percakapannya dengan Hinata.

Toneri

(Sebuah video)

Kau kelihatannya biasa saja di kampus tadi. Masih belum ingat apa yang kita lakukan kemarin?

Video itu mungkin bisa mengingatkanmu.

Kalau sudah ingat, datanglah kemari.

Wajah Kyousuke menegang. Hatinya berusaha melarangnya melihat, tetapi pikirannya sangat penasaran. Kyousuke mengunduh video itu dan menunggu sebentar.

"Kau kenapa?"

"Tidak ada. Cuma penganggu."

"Oh. Aku keluar dulu, lapar sekali."

"Hn."

Rahang Sasuke mengeras sebelum video itu selesai. Durasinya cuma lima menit dan terlihat seperti potongan dari sebuah video panjang. Hanya saja, apa yang ditontonnya di sana benar-benar mengacaukan hidupnya. Bahkan jika hanya lima detik itu tetap mampu membunuh sisi manusianya. Sasuke cepat-cepat mengetik balasan.

Bagikan lokasimu, Senpai.

Dia segera angkat kaki dari studio 19, tempatnya syuting iklan. Teriakan sutradara yang memintanya kembali tidak diacuhkan Sasuke. Dia hanya perlu pergi menemui bajingan yang berani menantangnya dengan cara seperti itu. Dia tidak peduli apa wujudnya sekarang, Kyousuke atau Sasuke, mana saja, keduanya ingin segera menghabisi bajingan itu

Lantai dan nomor?

Sasuke berusaha melaju dengan kecepatan normal. Hanya supaya tidak menarik minat polisi. Meski cukup lama, dia bisa bersabar. Meski saat adegan dalam video itu membayang-bayangi otaknya, dia harus bersabar.

Itulah. Itu yang membuatnya merasa cemas selama ini. Seharusnya dia tahu sejak awal. Hinata itu terlalu polos. Dia bisa saja dijebak dengan berbagai cara licik. Dia bukan perempuan lihai seperti Sakura, yang dengan mudah melepaskan diri dari rencana kotor orang lain.

Firasat buruk itu sudah mendatanginya beberapa hari sebelumnya. Tetapi, dia justru mewaspadai kakek tua.

Apa yang dipikirkannya?

Hinata tidak begitu menarik?

Tidak ada pria yang cukup berkelas yang menginginkannya serta sanggup bersaing dengannya?

Setelah semua ini dia bertanya, selama ini dia yang terlalu percaya diri dan meremehkan Hinata atau Toneri memang memiliki kelainan jiwa?

Kau bodoh Sasuke. Bagaimana kau berpikir pria itu sakit jiwa? Kau sendiri, bisakah kau menjelaskan bagaimana ceritanya kau tergila-gila pada perempuan itu? Apakah orang lain tak boleh menaruh perasaan gila yang sama padanya?

Intinya, kau lah yang terlalu percaya diri.


Toneri menyeringai ketika bel pintunya berbunyi. Dia yakin Hinata sudah berdiri di depan pintunya.

Tidak seperti kebanyakan mahasiswa, dia menempati apartemen untuk kalangan atas dan hanya untuknya seorang. Berbeda dengan mahasiswa lain, yang bahkan berbagi tempat tinggal dengan empat sampai lima orang untuk meringankan biaya sewa. Sebab dia memang berbeda dengan mahasiswa lain, dia anak orang kaya.

Tak ada hal yang sempat dilakukan Toneri setelah dia membuka pintu. Bertanya pun tidak diberi kesempatan. Seseorang yang tidak pernah berbicara, atau bahkan bertukar sapa dengannya, secara membabibuta menghajarnya. Menyerang balik pun tidak ada artinya, pria itu jelas sedang kerasukan, tenaganya sangat besar dan terlihat tidak merasakan sakit walau dia berulang kali mengenai wajah dan beberapa titik vitalnya.

Toneri cuma tahu orang itu Hatake Kyousuke, dengar dari berbagai macam media. Dia bersumpah dia tidak tahu apa yang dibicarakan orang itu dan apa alasan orang itu memukulinya.

Menyentuh miliknya, katanya.

Berani macam-macam padanya.

"Kau sama sekali tidak tahu apa yang kaulakukan, Brengsek. Kau pun tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Akan kukirim kau ke neraka. Di sana saja kau coba merebut kekasih orang."

Kyousuke sekarang duduk di atas perutnya seraya memukuli wajahnya. Beberapa tulangnya sudah patah. Apartemennya sudah tak berbentuk lagi. Dia benar-benar tak berdaya.

Ketika Toneri nyaris tak sadarkan diri, itulah saat dia berpikir ke sana, memikirkan gadis itu. Dia hanya tertarik pada seorang wanita, Hyuugga Hinata namanya. Dia punya suara yang manis, senyum yang cantik dan hati yang baik. Dia tidak peduli dengan tubuh yang kegemukan, dia pikir suatu hari jika Hinata mau, dia bisa diet. Tetapi, kalau pun tidak, itu bukan masalah.

Semenjak dia tahu seperti apa tampang kekasih Hinata, dalam benaknya dia meyakini satu hal, dia cukup kuat untuk bersaing dengan Uchiha Sasuke. Dia jelas lebih tampan, mungkin juga lebih kaya.

Pasti begitu, 'kan?

Orang mana lagi yang dimaksud Kyousuke kalau bukan Hinata?


Hinata tiduran di sofa sambil menonton anime movie. Dia sering melakukan itu selagi menunggu Sasuke pulang. Tadi sore, Sasuke janjinya pulang pukul sepuluh malam, karena katanya ada yang mau dibicarakan. Sekarang nyaris tengah malam.

Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Hinata langsung berlari ke pintu, berpikir Sasuke tadi lupa bawa kunci.

"Naruto-kun," kata Hinata.

"Hai," balas Naruto agak kikuk. "Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"

"Masuk dulu, Naruto-kun."

Naruto mengekori Hinata ke ruang tamu sambil menghafal semua kata yang harus dikatakannya pada Hinata.

"Jadi, bagaimana kabarmu?"

"Naruto-kun tidak mau minum?"

"Tidak usah. Sebenarnya aku ke sini cuma mau bilang Sasuke malam ini tidak pulang."


Ada yang tidak beres. Hinata menyadari itu sejak Naruto muncul di balik pintu rumahnya kemarin malam. Tetapi, dengan cara cerdik Naruto berhasil membuatnya terbuai dalam cerita konyol pria itu hingga tanpa sadar dia tertidur.

Pagi hari ketidakberesan itu menjadi jelas di matanya. Semua orang sedang membicarakannya. Trending topic, katanya.

"Aku dan Sai sudah menengoknya ke kantor polisi. Dia memintaku menjagamu selagi dia mendekam di sana. Kakek Madara sudah datang dan ingin membebaskannya, tetapi dia menolak."

Berita di televisi dan koran bermacam-macam, tetapi kebanyakan memojokkan Sasuke. Padahal itu semua salahnya. Dia saja yang bodoh.

"Aku ingin menemuinya."

Sakura pun ikut terlibat dalam masalah itu. Wartawan yang menduga kecemburuan adalah motifnya sibuk mengejar-ngejar Sakura.

Semuanya menjadi kerepotan karena dirinya, terutama Sakura. Jika saja dia tidak sebodoh itu. Atau jika saja dia terbiasa dengan alkohol, dia mungkin tidak akan semabuk itu.

Kalau itu tidak bisa diubah, bisakah kecerobohannya mengambil ponsel yang salah diputar ulang.

"Hinata,"

"Aku ingin menemuinya."

"Hinata, dia memintaku menjagamu sekaligus menjauhkanmu darinya. Dia tidak mau bertemu denganmu. Kau harus tetap berada di zona aman. Lagipula, dia bilang dia tidak sanggup melihatmu."

Dia pasti anak sialan, yang kata orang tak seharusnya lahir ke dunia ini. Ayahnya mati demi melindunginya. Siapa pun yang ada di dekatnya selalu direpotkan dengan kalimat, "menjaga Hinata"

Sejak awal memang seharusnya dia tidak perlu membangun hubungan dengan siapa pun.