A/N : Seneng banget kemaren nonton Boruto episode 41, banyak banget momen Borusara-nya XD
Lanjut aja deh, chapter ini mau baper-baperan eaaa XD
HAPPY READING
"Ini minum lo!" Sarada menyodorkan sekaleng soda pada Boruto sambil memasang wajah cemberut.
Boruto yang tadi sedang bermain kartu di meja guru bersama dua temannya kini menoleh. Mendapati Sarada menuruti perintahnya untuk membelikan minuman.
"Thanks." Boruto meraih kaleng sodanya.
Baru ingin Sarada melangkah, Boruto kembali memanggil namanya. Tentu dengan cara yang lebih berbeda dan berhasil membuat seisi kelas X IPA 1 berpusat pada mereka berdua.
"Sarada sayang..."
"Dia itu..." Sarada menggeram, ia membalik badan. "Jangan panggil gue kayak gitu!"
"Loh kenapa? Nggak suka? Atau ... lo mau dipanggil 'bebeb' aja?"
Sarada menghembuskan napas berat. "Cukup Sarada aja."
"Loh? Tuannya mana?" goda Boruto mengulum senyum. Saat-saat menjahili Sarada adalah yang paling menyenangkan baginya.
Namun, tidak bagi Sarada yang semakin tertekan.
"Cukup Sarada aja, Tuan Uzumaki Boruto."
Seisi kelas sibuk berbisik. Mulai dari fakta Sarada seperti budak Boruto. Dan ternyata rumor itu benar. Ditambah Boruto sudah berani sayang-sayangan dengan Sarada sekarang. Apalagi namanya kalau bukan pacaran? Wah, para siswi harus menanyakan itu langsung pada Sarada nanti. Siapa tahu Boruto hanya iseng mengingat dirinya adalah berandal sekolah.
"Okay," Boruto menjentikan jari dan menunjuk-nunjuk pundaknya sendiri, "sekarang lo pijitin gue."
"Apa? Nggak! Gue mau ngerjain PR dari Bu Kurenai."
"Lo berani membantah perintah majikan lo sendiri?" tanya Boruto santai dengan sebelah alisnya yang naik, "dan sejak kapan seorang Uchiha Sarada ngerjain PR di sekolah?"
Sarada semakin geram saja Boruto meremehkan dirinya. Ia maju dua langkah dan berdiri di hadapan Boruto dengan sorot marah. Lagipula, bagaimana ia tidak mengerjakan PR di sekolah? Jika Borutonya saja suka sekali mengganggunya melalui pesan WhatssApp. Sarada sampai tak fokus belajar dan berakhir marah-marah tiap kali Boruto menghubunginya dengan cibiran yang membuat Sarada semakin frustrasi.
"Apa?" tanya Boruto, tatapannya menantang.
Wajah Sarada semakin menekuk. Ia lelah berdebat. Akhirnya Sarada mengalah dan memijat pundak Boruto.
"Kalo nggak karena harga diri, gue nggak bakalan mau mijitin anak gila kayak dia," bisik-bisik Sarada yang ternyata sampai di telinga Boruto.
"Ngomong apa?"
"Nggak ada."
"Jangan bohong."
"Nggak ada!" sahut Sarada lantang. Mana mau dirinya mengaku. Nanti Boruto bisa makin menyebalkan jika tahu apa yang Sarada katakan tadi.
Bukannya Boruto tak mendengar, ia hanya pura-pura tidak tahu. Ia mengabaikan semua tatapan penuh arti dari teman-temannya dan menarik tangan Sarada sampai gadis itu maju menabrak tubuhnya. Kini wajah Sarada berada di samping kepala Boruto. Posisi mereka persis seperti Boruto sedang memanggul Sarada di punggungnya. Para murid laki-laki dan perempuan juga terkejut melihat kejadian itu. Bahkan, sebagian ada yang menjerit kecil.
"B-boruto? Lo ngapain?" bisik Sarada gugup.
Posisinya terlalu berbahaya saat ini. Bahkan, Sarada bisa melihat dengan jelas betapa birunya mata Boruto. Begitu indah. Pemuda itu diam saja. Ia juga tak berkedip memerhatikan setiap lekuk wajah Sarada yang menurutnya sangat cantik.
"Lo wangi," kata Boruto.
Pipi Sarada merona malu. Ia langsung menarik diri dan menjauh dari Boruto.
"Lo jangan macem-macem, ya?" tekan Sarada.
"Kenapa? Sama pacar sendiri juga," kata Boruto tanpa dosa, "daripada sama pacar orang."
"Lo?" tunjuk Sarada semakin malu. Saat ini dirinya sudah benar-benar menjadi pusat perhatian. Beberapa siswi di kelas yang menyukai Boruto berteriak tidak percaya.
"Mereka pacaran?"
"Gue kecolongan sama Sarada."
"Tuh, kan? Pacaran."
"Gila, Sarada. Pacaran sama bom atom macam Boruto, ntar kalo meledak, angus lo!"
Cibiran berdatangan. Sarada mengelus dadanya beberapa kali. Harus sampai kapan ia bersabar? Hidupnya semakin tidak tenang akhir-akhir ini. Ini semua gara-gara si biang kerok.
Ya, ampun. Boruto itu memang tidak bisa diam. Setiap saat selalu saja mengganggu Sarada. Apa anak itu tidak ada kerjaan lain? Bahkan sekarang, dengan santainya Boruto menyebar luaskan status mereka berdua—sebenarnya hanya berlaku bagi Boruto. Sarada tentu saja tidak mengakui pemuda itu sebagai pacar. Amit-amit!
"Cie, yang lagi kasmaran euy!" Yang itu Inojin—yang paling suka mencibir di kelas X IPA 1.
Sarada memilih diam. Diam itu emas. Emas itu kuning. Kuning itu—sudahlah! Sarada tidak tahu pikirannya ada di mana sekarang.
"Kenapa? Malu?" tanya Boruto melangkah maju. Ia menyisir rambut Sarada dengan jemarinya.
"Ya, iyalah! Lo kok bisa-bisanya pamer kalo kita pacaran di depan anak-anak?" bisik Sarada, ia melirik ke arah teman-teman sekelasnya yang sedang bersiul-siul menggoda.
"Ngapain malu coba?" Boruto mengangkat dagu Sarada agar gadis itu menatap matanya. "Lo itu, eh maksud aku, kamu itu cantik. Aku nggak pernah malu punya pacar kayak kamu. Kalau bisa seluruh dunia tahu..."
Boruto semakin mendekat. Paras tampannya melekat dalam penglihatan Sarada yang berhasil membuat jantungnya berdegub kencang.
"... kalau Sarada itu pacarnya Uzumaki Boruto."
..o0o..
"Pokoknya gue mau datang ke acara ulang tahun Mitsuki!"
Baru juga resmi pacaran satu hari, Boruto protektifnya sudah keterlaluan. Seenaknya melarang Sarada untuk pergi ke acara ulang tahun Mitsuki—rival paling hot—karena Boruto mengaku cemburu.
Mengakunya sih dalam hati, tetapi sikapnya tidak bisa disembunyikan. Dan salahkan keegoisan Sarada yang memilih untuk tidak peka. Gadis itu selalu mengira bahwa Boruto itu hanya mempermainkannya sebagai pelampiasan rasa bosan, mungkin. Atau, karena Boruto memang gemar menjahili dan mengganggu hidup orang lain. Padahal Boruto melakukan itu semua hanya untuk mendapatkan perhatian Sarada.
"Nggak boleh!"
"Kenapa nggak boleh?" tanya Sarada.
"Ya, pokoknya nggak boleh."
"Ish, lo inget, 'kan? Di luar sekolah, gue bukan budak lo lagi!" seru Sarada menunjuk wajah Boruto di parkiran sekolah. "Jadi, lo nggak punya hak ngelarang-larang gue, Boruto!"
Inginnya Boruto tersenyum karena melihat wajah Sarada. Gadis itu semakin tampak menggemaskan ketika sedang marah, pikir Boruto. Namun, ia harus terlihat tegas di depan gadisnya itu agar perintahnya didengarkan.
"Nggak punya hak? Ya, punyalah!" sahut Boruto memandang rendah Sarada. "Gue kan merintah lo pas lagi di sekolah. Dan perintah itu tentang lo yang nggak boleh datang ke acara ulang tahun Mitsuki itu. Jadi, lo wajib nurutin apa mau gue."
"Ya, nggak bisa gitu dong! Itu nggak adil!"
"Lagian, ya? Di luar status majikan dan budak, lo harus inget status bahwa lo itu pacar gue. Selepas gue nggak bisa ngelarang lo sebagai majikan, gue masih bisa ngelarang lo sebagai pacar." Boruto tersenyum dengan deret giginya. Yang sangat ingin Sarada lempar pakai sepatu.
Lalu bagaimana? Sarada tidak mungkin tidak datang ke acara ulang tahun itu. Ia telah berjanji pada Mitsuki.
"Tapi gue sudah janji..." Kali ini Sarada agak memelas, ia sudah lelah. "Dan janji itu harus ditepati."
"Sebegitu pentingnya Mitsuki buat lo?" Ada nada dingin dalam pertanyaan Boruto kali ini.
Sarada menunduk lemah. Menatap Boruto begitu lama membuat jantungnya menggila. Ia sendiri heran mengapa bisa seperti itu.
"Hm?" Boruto menagih jawaban.
"Bukan Mitsukinya yang penting, tapi pertemanan kami dan janji itu," kata Sarada melemah.
"Penting banget?"
"Iya, penting banget."
"Dari apa pun?"
"Mungkin."
"Bahkan lebih penting dari gue?" tanya Boruto lagi, berhasil membuat Sarada mengangkat kepalanya.
Maksud Boruto itu apa? Penting darinya? Memangnya Boruto itu siapa? Kok sok penting banget?
"Jawab!"
"Gue nggak tahu," sahut Sarada pada akhirnya. Ia benar-benar jujur tentang 'tidak tahu' itu. Ia bahkan ragu mengakui Boruto ada dalam hidupnya. Masalah itu pantasnya dibuang, bukan dipertahankan. Dan masalah Sarada kali ini adalah Boruto.
"Gitu?" kata Boruto lebih dingin. Gurat wajahnya mengeras, tetapi matanya tak lepas melihat Sarada. "Emang sih, gue itu dilahirin bukan sebagai orang yang penting untuk diutamakan. Bahkan, Bokap yang dulu sangat gue banggakan sudah pernah membuang dan mengabaikan putranya sendiri."
"Boruto, gue nggak maksud—"
"Nggak masalah kalau gue nggak penting buat lo. Gue udah terbiasa digituin," sambung Boruto. Ia beralih melihat ke arah lain daripada harus melihat tatapan bersalah Sarada.
"Heh, jangan ngomong gitu!" Kali ini Sarada yang menuntun Boruto untuk menatapnya. Tangannya terulur menyentuh dagu pemuda itu. "Nggak ada manusia yang terlahir nggak penting di dunia ini. Semuanya penting. Mungkin bukan buat gue, bukan buat Ayah lo, atau siapa pun. Tapi percayalah, ada seseorang yang sangat menyayangi lo dan peduli sama lo. Yang tanpa kehadiran lo di sisinya, dia bakalan tersiksa banget. Dan salah satunya adalah adik lo sendiri, Himawari. Lo pikir, gimana perasaan adik lo kalo lo nggak ada di dekat dia? Pastinya Himawari bakalan sedih banget."
"Gue cuma ngerasa ... gue membawa masalah dan nggak berguna buat orang yang gue sayang."
Kali ini dua sudut bibir Sarada terangkat membentuk senyuman tulus. Sama sekali tak ada paksaan bagi Sarada melakukan itu. Pada dasarnya, Sarada adalah anak yang baik. Meskipun terkadang terlihat cuek, sebenarnya ia sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Hanya saja jarang ia tunjukkan.
"Hey," ucap lembut Sarada membuat Boruto tertegun. Tangannya menyentuh pipi Boruto. "Udah gue bilang, jangan ngomong gitu. Gue sadar kok sekarang, kalau masalah itu bukannya harus dibuang begitu saja. Tapi dihadapi dengan kesabaran, pasti akan selesai mau hasilnya baik atau nggak sesuai dengan harapan kita. Yang penting kita nggak takut buat melangkah maju."
Seperti Boruto, Sarada harus bersabar menghadapi pemuda berjenis biang kerok seperti itu. Harus dengan sikap lemah lembut agar sikap brutalnya melunak.
"Lo kok jadi imut gini, sih?" tanya Boruto sudah menggenggam tangan mungil Sarada di pipinya, "kan gue jadi pengen peluk."
"Jangan macem-macem, Tuan."
"Peluk, ya?" bujuk Boruto beserta cengirannya.
"Berani peluk, gue teriak!"
"Ini perintah."
Peduli setan. Mana takut Boruto dengan ancaman seperti itu. Ia memeluk Sarada sampai wajah gadis itu tenggelam di dada bidangnya. Lumayan banyak yang melihat mereka seperti itu. Bahkan, Pak Satpam geleng-geleng kepala sendiri.
"Dasar kids zaman now, pelukan di parkiran sekolah," katanya.
Sementara Sarada pasrah dalam dekapan hangat itu. Pada awalnya, ia melawan hendak melepaskan diri. Akan tetapi, samar-samar Sarada mendengar bisikan Boruto di telinganya. Bisikan yang membuat Sarada terdiam dalam keterkejutan.
"Makasih, ya. Aku nggak pernah merasa sangat berarti seperti ini lagi semenjak mendiang Ibuku pergi. Tapi kamu ... satu-satunya cewek yang bikin aku semangat lagi," Boruto tersenyum tanpa Sarada tahu, "kalau boleh aku minta, kamu menjadi salah satunya orang yang menginginkan keberadaanku di kehidupanmu. Yang jika aku nggak ada di sisimu, kamu tersiksa. Jadi orang yang mau peduli sama aku, bahkan sayang seperti aku sayang sama kamu, Sarada."
TBC
#cmiwiw XD
