Chapter XII
ONE PIECE © Eiichiro Oda
~MUGIWARA'S SON~
.
.
"Kumohon biarkan aku pergi bersamanya, Ayah! Biarkan aku pergi!" ronta seorang gadis, mencoba melepaskan diri dari genggaman ayahnya yang begitu kuat mencengkram pergelangan tangannya. Air matanya tak hentinya mengalir, ketika sang ayah menarik dan menggiringnya—paksa.
Dia benar tak berdaya.
"Mulai sekarang tidak akan kubiarkan kau meninggalkan kamar ini tanpa seijinku!"
Gadis itu bersujud memeluk kaki ayahnya dan memohon, "Aku sangat mencintainya, Ayah! Biarkan aku pergi bersamanya!"
"TIDAK! Tidak akan kubiarkan kau berhubungan dengan pemberontak itu! Apalagi sampai hidup bersamanya! Itu tidak akan pernah terjadi!"
"Tapi aku mencintainya, aku tidak akan bisa hidup tanpanya…"
"Hentikan pemikiran bodohmu itu! Dengan membiarkannya masuk ke dalam kehidupanmu, sadarkah kau telah mengundang malapetakamu sendiri!"
"Malapetaka?" Gadis itu mendongak menatap wajah murka sang ayah. Tersenyum, "Jangankan malapetaka, mautpun akan aku terima…"
"SAKUYA!"
DEG!
Ojou terbelalak, terbangun dari mimpi. Mendudukan diri, "Oyoyoyoii~ lagi-lagi mimpi yang sama."
.
.
"BERHENTI! KUBILANG BERHENTI!" cerocos Axel sambil mempercepat laju kakinya.
"Gawat! Anak itu masih saja mengejarku!" gumam si pencuri sambil melirik Axel yang bergerak semakin dekat dengannya. Kedua bola matanya beralih menatap ke segala arah—mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menghentikan pengejaran Axel. Dan BINGO! Dia menemukan sebuah gerobak yang dipenuhi tong air terparkir diujung jalan.
Tanpa mengurangi kecepatan larinya, pencuri itu merogoh saku mantel lusuhnya dan mengeluarkan sebuah pisau.
"Selamat tinggal sobat kecil!" ucapnya menyeringai sambil menghunuskan pisaunya pada tali yang mengikat tong-tong itu dan memukulkan kepalan tangannya. Akibatnya, tong-tong air yang semula merapat diatas gerobak mulai berguling menghadang jalan Axel.
"He?" Axel meringis kaget.
Melihat segerombolan tong berguling ke arahnya, bocah berambut raven itu berusaha melompat dan menghindar.
HAP~! Tong pertama berhasil dia hindari dengan sempura. Begitu pula dengan yang kedua. Namun saat akan menghindari tong yang ketiga, tiba-tiba salah satu kakinya tergelincir dan hilang keseimbangan.
"EGK?"
BUGH! Tong besar berisi air itu menghantam dan menggilas tubuhya—komikal.
"Hihihi~" seringai pencuri itu—senang—melihat tubuh kecil Axel yang terbaring komikal. Dia melanjutkan pelariannya dan berbelok memasuki hutan.
Merasa keadaan sudah aman, pencuri itu duduk bersandar di bawah pohon. Meregangkan setiap otot-otot kakinya yang telah bekerja keras.
"Melelahkan juga…" gumamnya sambil mengibas-ngibaskan kerah baju. Mendesah berat, "Kuharap benda ini memiliki nilai jual yang tinggi! Kalau tidak, sia-sia sudah perjuanganku melarikan diri dari bocah malang itu, hihihi~!"
Pencuri itu mengeluarkan hasil curiannya dan menatapnya dengan seksama. Sedikit heran melihat bentuk aneh dari bandul kalung yang dicurinya dari Axel. Dia menggoyangkan kalung itu ke kiri dan kanan. Sweatdrop, "Buah dada dan tulang?"
Lalu…
SREEGH~! Dari dalam-semak keluar sepasang tangan kecil yang mencoba merampas kalung aneh yang sedang ditamatinya. Namun dengan sigap dia menggerakan tangannya ke atas—mengamankan hasil curiannya.
"Kau?!" pekiknya terkejut.
"Kembalikan kalung itu padaku!" teriak suara cempreng seorang bocah.
"Tidak akan!" sahut pencuri itu lalu mengambil ancang-ancang dan melesat pergi. Bocah itu… bagaimana bisa dia sudah ada disini?
.
.
"Dengarkan semuanya!"
"Ya!"
"Kuserahkan semua ini pada kalian!" seru Garp sambil menunjuk sesuatu di belakangnya.
"HEEEE~?!" pekik semua prajurit.
"Anda sendiri yang tiba-tiba meninju tebing itu, kenapa sekarang kami yang harus membersihkan reruntuhannya?"
"Padahal kita kemari untuk membuka jalan tapi Anda malah menghancurkan tebing dan menambah pekerjaan kami!"
"Anda tidak boleh lari dari tanggung jawab, Anda juga harus ikut membersihkan reruntuhan itu!"
Garp garuk-garuk kepala, "Baiklah!"
Sesaat kemudian…
SRRRUK~ BURRRG! SRUUKK~ BURGG!
Garp memindahkan reruntuhan batu dari tebing yang dihancurkannya. Pada akhirnya dia membereskan batu-batu yang menghadang jalan sendirian.
Biarpun usianya sudah tak lagi muda, ketangguhan mantan wakil Admiral itu sama sekali tak berkurang. Buktinya, dia masih bisa mengerjakan pekerjaan berat seorang diri.
"Garp-san, ini…" Seorang prajurit datang menyodorkan sebotol air minum, "Beristirahatlah, sisanya biar kami yang kerjakan!"
"Tidak! Akan kuselesaikan ini sebelum matahari berada tepat diatas kepalaku…"
"Kalau begitu ijinkan saya membantu Anda!" seru prajurit muda itu sambil membungkukan badan.
Garp hanya tersenyum seiris dan kembali mengangkat sekopnya.
Melihat itu, cepat-cepat prajurit muda itu mengambil sekop dan membantu Garp menyingkirkan reruntuhan.
SRUUUKK~ SRUUK~ BURRG!
"Garp-san~!"
"Hnnn?"
"Boleh saya tahu kenapa tiba-tiba Anda menghancurkan tebing itu?" tanya prajurit itu tanpa menghentikan gerak tangannya.
"Karena tadi aku melihat seekor kumbang tanduk raksasa terjepit disela-sela tebing itu. Awalnya aku hanya ingin membuat lubang kecil agar kumbang itu terbebas tapi karena tergelincir aku malah menghancurkan seluruh bagian tebing itu, bhuahahaha~" Garp meletakan sekopnya di bahu dan terbahak.
"Hanya gara-gara seekor kum-bang tan-duk? Rak-sa-sa?" gumam prajurit itu, sweatdrop.
SRUUKKK~ SRRUUUKK~ BURGGGH!
Itu bukan sekedar kumbang tanduk biasa, tapi itu adalah seekor kumbang tanduk raksasa. Jika bocah tolol itu melihatnya dia pasti akan berjingkrak gembira…
Flashback.
"Kakek! Coba lihat apa yang aku temukan di belakang bar Makino!"
"Menjauhlah! Jangan menggangguku, Luffy!" sahut Garp tanpa menoleh kearah cucunya.
NGUK~! NGUK~! Luffy menusuk-nusuk punggung Garp.
"Lihatlah sebentar Kakek! Lihatlah! Lihatlah~!"
"Akan kulihat nanti! Sekarang menjauhlah!"
NGUK~! NGUK~! Luffy kembali menusuk-nusuk punggung kakeknya.
"Apa kau tidak lihat aku sedang mengasah kapak! Jika tanpa sengaja kapak ini melukaimu bagaiman… Hnnn?!" Garp mendadak melongo melihat sesuatu yang di sodorkan Luffy padanya. "HOOOOOO~ KECOA RAKSASA!" reflex Garp mengayunkan kapak yang dipegangnya dan membelah serangga—besar bertanduk—yang dibawa Luffy menjadi dua.
DOONG~~
Wajah Luffy berubah datar, penuh aura suram.
"Hitman-chan~" panggil Luffy lirih. Ingus dan air matanya mulai menetes keluar. Sedih melihat binatang temuannya mati terbelah.
"…?" Garp.
"Kenapa Kakek membunuhnya?!" Luffy berteriak. "Aku sudah bersusah payah mengejar dan penangkapnya tapi Kakek malah membelahnya!"
"Aku tidak mau melihat kecoa ada disekitarku! Apa lagi kecoa sebesar itu!" Garp balas berteriak.
PLETAK! Luffy melempar setengah tubuh Hitman tepat ke kepala kakeknya.
"BOCAH KURANG AJAR! KENAPA MALAH MELEMPAR POTONGAN TUBUH KECOA MENJIJIKAN INI PADAKU!"
"APANYA YANG KECOA!" ucap bocah bercodet itu kesal.
"Hee?" Garp menamati potongan tubuh Hitman. "Kumbang tanduk?" Garp bergumam lalu melotot heboh. "HEEE~ ADA KUMBANG TANDUK SEBESAR INI?!"
Kemudian…
KRRRKKK~! Suara perut Luffy.
"Hitman-chan… hym~ hym~" Luffy mengigau.
"Dasar! Dalam keadaan lapar pun kau masih sempat memimpikan kumbang tanduk itu," gumam Garp—menoleh kearah Luffy yang tengah tertidur nyenyak dipunggungnya. Tersenyum, "Mungkin besok aku harus menangkap kumbang tanduk yang lebih besar dari yang kau tangkap…"
Flashback End.
Garp tersenyum mengenang masa lalu ketika Luffy kecil masih dalam asuhannya. Kerinduan dalam hatinya seakan tergugah dan memunculkan keinginan untuk kembali menjalani kehidupan di masa lampau.
"Garp-san, Anda baik-baik saja?" tanya prajurit cemas karena atasannya tiba-tiba terdiam cukup lama.
"Ya~ aku baik-…"
BUGKK! Belum selesai Garp berkata-kata sesuatu dari langit jatuh menimpa kepalanya.
"GKYAAAA~! GARP-SAN!"
"Ittee-tee-tete~! Orang brengsek mana yang telah melempar batu sebesar ini ke kepalaku?" ucap Garp geram.
"Garp-san, awas!" seru prajurit memperingatkan.
"Hnnn?" Garp mendongak ke langit. Sebuah batu besar entah dari mana meluncur tepat di atas kepalanya. Memincingkan mata. "BATU SIALAN ENYAHLAH KAU!" umpatnya lalu melompat menyambut batu besar itu dengan sebuah bogem super.
DUAAAAARR~! Batu besar itu hancur berkeping-keping.
"…!" Garp mengerutkan dahi. Pikirnya, pasti masih ada bongkahan batu lain yang sedang meluncur ke arahnya. Tetua keluarga 'Monkey' itu kembali melompat sesaat setelah menginjak tanah. Dia sudah siap memuntahkan tinjunya yang kedua.
Kepalan tangannya yang menghitam telah dilesatkan menembus serpihan batu yang membentuk kepulan di udara.
WUUSHH~ angin berhembus kencang menyapu setiap serpihan batu di udara.
"…?!" Garp mendelik. Tinjunya tertahan setelah melihat apa yang menantinya di balik kabut.
DEG!
"Lu—Luffy?"
.
.
"Luffy! Kau tidak boleh bertindak gegabah!" sergah Nami—tangannya menahan bahu Luffy yang hendak beranjak pergi.
"Kalau aku hanya berdiam diri di tempat ini, Zoro tidak akan pernah terbangun lagi…"
"Tapi kau.."
"Dia benar!" potong Sanji membenarkan. Mematikkan api lalu membuat lingkaran asap. "Aku akan ikut bersama Luffy. Hanya berdiam diri di tempat ini tanpa melakukan apa-apa sama saja dengan membiarkan Marimo mati perlahan-lahan."
"Tapi kemana kalian akan mencari penawar untuk mematahkan jurus kutukan itu?"
Luffy meninjukan kepalan tangannya ke telapak tangannya yang lain. Mendesis geram, " Tentu saja ke tempat wanita gagak itu berada!"
"…" Nami.
Berpindah ke sebuah pulau tak jauh dari Pulau Majonoia. Ke sebuah pulau terapung yang dihuni oleh para arang—kaum terbuang negeri Majonoia.
Pulau Dash!
"Ghahahaha~! Ghahahaha! Sepertinya dewa memang sedang berpihak pada kita! Tak peduli bagaimana para bajak laut itu bisa berada di Majonoia, yang jelas kelima orang tua itu pasti akan senang jika kita bisa membawa mereka dalam keadaan hidup!"
"Bagaimana jika salah satu dari mereka mati?" sahut Kagura tanpa ekspresi. "Aku telah menggunakan jurus terlarang kaum arang untuk membunuhnya secara perlahan."
"Kurasa itu tidak akan mengurangi kesenangan para Gorosei. Tapi… apa kau yakin jurus terlarang yang dibangga-banggakan oleh para arang itu akan berhasil membunuhnya? Bukankah masih ada penawar untuk mengatasi jurus itu?"
"Dia hanya akan selamat jika mereka bisa meminumkan sari buah kehidupan padanya. Sangat mustahil bagi mereka untuk melakukannya karena untuk mendapatkan sari buah itu mereka harus memasuki altar suci. Manusia kotor seperti mereka tidak akan bisa melakukannya…"
"Ghahaha~ menarik sekali… keyakinanmu membuatku semakin penasaran pada altar suci yang sedang kalian perebutkan. Bahkan tidak hanya kalian, para gorosei pun sangat menginginkan tempat itu…"
"…" Kagura.
"Katakan padaku tempat seperti apa altar suci itu?!"
"Maafkan aku, Maria-sama! Hanya tetua yang hidup sebelum perpecahan negeri inilah yang tahu bagaimana wujud dari altar suci. Karena setelah perang besar antara golongan arang dan golongan emas berakhir tak seorang pun bisa memasuki altar tanpa seijin Madoka!"
Di luar ruangan tempat Kagura dan Maria berada…
Midori berjongkok sambil membekap mulutnya sendiri. Diam-diam gadis berambut hijau itu mencuri dengar pembicaraan Kagura dan Maria—ibunya.
Aku harus segera mencari cara untuk pergi ke Majonoia dan menemui Robin-nee. Yah~! Aku harus memberitahunya bagaimana menyelamatakan kakak pendekar dari jurus Kagura-nee-san.
.
.
Di tempat Garp.
"HOOOOAAAAA~!" Axel menjerit.
"…?!" Garp.
BUGKK~! Axel yang terjatuh dari langit jatuh menimpa Garp.
"GARP-SANNN~!"
"Uhuk~ uhukhuk~!" Axel terbatuk akibat kepulan debu yang mengelilinginya. Heran. Setelah jatuh dan terhempas dari atas tebing sedikitpun dia tidak merasakan sakit ataupun nyeri pada tubuhnya. Dia menggerak-gerakan kedua tangannya keatas dan kesamping. Memutar dan zigzag. "Tidak sakit!"
Lalu muncul suara lenguhan yang membuatnya tersadar bahwa dia sedang menduduki tubuh seorang pria paruh baya.
Histeris. Kedua bola matanya melotot komikal dan melompat menjauh dari tubuh kakek-kakek yang didudukinya. "HOAAAA~ KUMOHON JANGAN MATI! AKU BENAR-BENAR TIDAK SENGAJA! MAAFKAN AKU~ MAAFKAN AKU!" teriaknya sambil menyembah-nyembah konyol.
"Garp-san, Anda baik-baik saja?" seru prajurit—menghampiri Garp.
"Sudah berapa kali kau mengajukan pertanyaan itu hn?" sahut Garp lalu bangkit berdiri. Langsung mengarahkan pandangan pada Axel yang sedang menangis lega dan menghampirinya.
"…?" Axel.
NGOOOK! Garp tiba-tiba menarik pipi Axel. Tampak terkejut. Tidak melar!
"HIYAAAA~ SAKIIITT!" Axel menjerit lalu mengayuh kakinya menendang muka Garp.
"Hei bocah tengik! Kenapa kau menendang mukanya?!" omel prajurit.
"Lalu bagian mana yang harus kutendang?!" Axel ikut mengomel. Menunjuk-nunjuk Garp. "Orang tua itu yang tiba-tiba menarik kedua pipiku duluan kenapa kau malah memarahiku?!"
"Setidaknya hormatilah orang yang lebih tua darimu dan apa orang tuamu tidak…"
Garp mengangkat tangannya memberi isyarat agar prajurit muda itu diam.
"Garp-san, bocah itu sudah bertingkah kurang ajar kenapa Anda malah membiarkannya?"
"Garp-san? Garp…" Axel bergumam, mendadak teringat percakapannya dengan Sabo saat di hutan.
Flashback.
"Monkey D. Garp, siapa dia?"
"Kau bertemu dengannya?" Sabo balik bertanya.
Axel menggeleng,"Siapa dia?"
"Dia adalah vice admiral angkatan laut sekaligus kakek Luffy dan kakek buyutmu," jelas Sabo.
"Kakek buyutku?"
"Bukankah sudah kukatakan padamu saat kita berlabuh, besar kemungkinan kau akan bertemu kakek buyutmu di tempat ini,"
Flashback end.
"Aku benar-benar bertemu dengannya…" gumam Axel pucat. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan tegang.
"Hei bocah siapa namamu dan darimana kau berasal?" tanya Garp.
Axel mengangkat satu tangannya, karena grogi gerakannya jadi sama persis seperti robot, "YO!"
"…" Garp.
"Yo?" ulang prajurit. Pasang muka suram—sweatdrop. Kenapa tiba-tiba aku merasa kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya ya? (chapter X!)
"Bhuahahaha~ kenapa kau jadi kaku begitu?" tawa Garp mengejek.
Alis Axel merapat, mengerucutkan bibir—sebal.
"Hei bocah! Sebenarnya siapa kau ini…" sahut prajurit. Menunjuk langit. "Kau tiba-tiba jatuh dari langit dan menendang muka orang seenaknya!"
Plug! Axel memukulkan kepalan tangannya ke telapak tangannya yang lain, teringat sesuatu. "Tidak seharusnya aku berlama-lama disini!"
"Hoi~! Hoi~! Apa dia mengacuhkanku?"
"Aku harus pergi!" Axel berlari pergi begitu saja.
"Jangan kabur begitu saja, bocah nakal! Setidaknya katakan siapa namamu!" seru prajurit.
"AXEL!" sahut Axel, nyengir lebar. Menatap ke belakang sambil melambaikan tangan pada Garp. "Ahahahak~! JAA NE!"
"XL?" gumam prajurit.
"…!" Garp terpaku menatap wajah Axel, muncul bayangan wajah Luffy dengan ekspresi yang sama—nyengir lebar—di sebelah bocah itu.
"Jaa ne? Apa dia berniat untuk bertemu dengan kita lagi? Bocah yang aneh!"
Garp membalikan badan, menunduk.
"Garp-san…"
"Tiba-tiba aku ingin menemui seseorang, kuserahkan sisanya padamu," sahut Garp, menepuk pundak prajurit dan melangkah pergi.
"SIAP!" jawab prajurit dengan sikap hormat sempurna.
Berpindah ke tempat Axel.
Bocah itu tengah berlari kembali menuju tebing tempatnya terjatuh. Mengepalkan tangan dan berlari semakin cepat. Tidak akan kubiarkan mereka mempermainkanku lagi! Tunggu saja, setelah ini akan kuhajar mereka berdua!
"BERSIAPLAH KALIAN!" teriak Axel kesal, mengangkat kedua tangan dan berlari lebih cepat lagi.
Mereka? Siapa 'mereka' yang dimaksud oleh Axel? Dan apa yang sebenarnya terjadi sampai putra penguasa Kuja itu terjun bebas dari atas tebing?!
Flashback sesaat sebelum Axel terjatuh.
Bocah itu… bagaimana bisa dia sudah ada disini? Sial! Harus berapa lama lagi aku berlari? Jika terus seperti ini dia pasti bisa menangkapku! Ditangkap? Ditangkap oleh anak yang beberapa tahun lebih muda dariku? TIDAK! Tidak akan kubiarkan hal memalukan itu menimpaku!
"Hiro!"
"…?" Pencuri itu mendengar seseorang memanggil namanya.
"GKYAAA~!" Hiro berteriak. Seseorang telah menarik tubuhnya masuk ke dalam semak.
Axel tolah-toleh mencari keberadaan pencuri yang dikejarnya. "Tidak mungkin aku kehilangan jejaknya, dia pasti sedang bersembunyi di sekitar sini!" Memutar tubuh, melihat sekeliling. Dan tubuhnya berhenti ke sebuah semak tak jauh darinya. "Disana!" pekiknya.
"…!" Hiro.
Bagaimana dia bisa tahu aku sedang bersembunyi disini? Apa dia keturunan seorang paranormal?
Merasa tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, Hiro melompat keluar dari semak dan melarikan diri lagi.
"Melarikan diri lagi?" runtuk Axel lalu mengejar Hiro.
Hiro mencuri-curi kesempatan untuk melirik Axel. Dia ingin tahu seberapa jauh jarak mereka.
"…?!" Hiro mendelik saat menyadari sebuah kaki meluncur ke arahnya.
JEDEAKK! Kaki kecil itu mendarat tepat di wajah Hiro.
Axel langsung mencengkram kerah baju Hiro yang tersungkur.
Sekuat apa bocah ini sebenarnya?
"Kembalikan kalungku atau aku akan menghajarmu!" ancam bocah berambut raven itu. Tangan kanannya yang mengepal sudah terangkat—siap memukul.
Hiro merapatkan mata, pasrah. Situasi macam apa ini? Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi bocah ini…
"…?" Axel mengerutkan dahi. Melepas cengkraman tangannya. "Siapa kau? Dan dimana pencuri itu?" tanyanya tiba-tiba.
Dia menyadarinya!
"ARRRGGH~!" Axel menjerit frustasi. "Bodoh sekali, aku salah mengejar orang!"
"K-Kau! Darimana kau tahu jika aku bukan orang yang kau kejar sebelumnya?"
"Apa maksud pertanyaanmu, jelas-jelas kalian tampak berbeda! Mana mungkin aku tidak tahu kalau kau bukan pencuri itu!" Axel malah mengomel, dia menghentak-hentakan kaki—kesal. "Seharusnya aku tidak asal mengejar orang kalau seperti aku bisa kehilangan kalung itu!"
Dia satu-satunya orang yang mengatakan bahwa aku dan Hiro berbeda… kini bocah itu benar-benar membuatku takut!
Kemudian dari atas pohon.
"NAOKI~! Bertahanlah, aku akan segera menyelamatkanmuuuuuuuu~" Hiro yang asli muncul dengan berayun dari atas pohon. Dengan kakinya dia mendepak tubuh kecil Axel hingga terlempar jatuh dari tebing.
"HOOOOOAAAAAAAA~!"
Axel merapatkan mata. Kembali ke masa sekarang.
Dia sudah sampai di tebing—tempatnya terjatuh. Ambruk. Menutup mata—mengatur napas. Kakinya terasa lemas sekali. Entah sudah berapa kilometer dia berlari.
Angin berhembus pelan menggoyang rambut hitamnya. Bocah itu terkikih sendiri. Meremas tanah, "Ahh~ kalian selalu memberiku kekuatan baru… dengan begini aku tidak akan takut kehabisan tenaga jika harus mengejar komplotan pencuri itu…"
Cittt~ cici~ ciiciiitt~! Seekor burung kecil hinggap di dahi Axel. Burung itu menggoyangkan kepala dan kembali terbang.
Axel nyengir lalu bangkit berlari mengikuti burung kecil itu terbang.
Di tempat lain.
JDEUG! Sebuah tendangan terayun menghantam perut Hiro—pencuri yang sedang Axel cari.
"Seharian berkeliaran kau hanya mendapatkan kalung aneh tak berharga ini?"
"Cukup! Jangan pukul Hiroki lagi, Han-san!" Naoki merentangkan tangan melindungi Hiro.
"Kalau kau tidak ingin aku memukul saudara kembarmu yang bodoh itu, suruh dia mencari lebih banyak barang berharga untukku! Jangan cuma mengumpulkan sampah!" bentak Han—melempar kalung aneh Axel ke Hiro.
"Mulai besok aku akan membantunya, aku berjanji akan membawakan lebih banyak barang berharga untukmu!"
"Bagus! Memang itu yang seharusnya kau lakukan, karena kalau tidak aku akan menjual adik perempuan kalian sebagai budak!"
"…!" Naoki.
"…!" Hiro.
"Kenapa gaduh sekali? Kalian tahu kan apa hukuman bagi orang yang berani mengganggu tidur siangku?" Muncul seorang pria tambun berkepala kerucut dari dalam tenda.
"Tuan muda," Han menundukan kepala saat pria tambun itu berjalan melewatinya.
"Ckckck~ Lagi-lagi si kembar Hiro-Nao, sekarang ulah apa lagi yang kalian perbuat sehingga membuat ajudanku yang setia marah?"
Hiro dan Naoki hanya diam. Membalas tatapan pria itu saja mereka tak bernyali.
Pria tambun itu lalu mengambil kalung Axel yang ada di dekat Hiro dan menggigitnya, "Ini…"
"Itu hanya kalung tidak berharga, maafkan aku Tuanku… biarkan aku saja yang membuangnya!" sahut Han.
"Tidak! Ini bukan kalung sembarangan Han!"
"…?" Han.
"Meskipun aku tidak mengerti maksud dari bentuk bandul—aneh—kalung ini, tapi bandul ini dibuat dari emas yang terbilang langka… warnanya yang kuning kehitaman, aku yakin benda ini dibuat dari emas yang hanya ada di lereng pegunungan Kuja!"
"…?" Hiro dan Naoki saling memandang. Terkejut, ternyata kalung yang semula dianggap Han sebagai sampah ternyata adalah kalung langka yang sangat berharga.
"Akhirnya aku menemukan kalian! Sekarang juga kembalikan kalungku!"
"Dia…" Hiro mendelik melihat sosok Axel yang sudah berdiri berkancak pinggang.
"Apa dia seorang monster? Kupikir dia sudah mati setelah terjatuh dari tebing…"
"Siapa bocah itu?" tanya si pria tambun.
"Dia pemilik kalung itu Tuan…" sahut Naoki.
"Kembalikan kalung itu padaku atau aku akan…"
"Akan apa?" sela Han.
"Atau aku akan menghajar kalian!" jawab Axel sambil mengacungkan ibu jarinya ke bawah.
.
.
"Apa ada sesuatu yang sedang menganggu pikiranmu?"
"Hnn?" Makino tersadar dari lamunannya. "Anda mengatakan sesuatu?"
"Hahaha~ sepertinya memang hanya tubuhmu yang ada di tempat ini," Shanks terkikih. "Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau mengacuhkanku?" tanyanya lagi.
"M-Mengacuhkan Anda?" sahut Makino, sedikit merona. Menunduk malu, "Kenapa Anda berkata seperti itu Kapten…"
"Sejak aku datang tawaran untuk minum tak juga muncul dari mulutmu, yang kau lakukan hanya diam bermain busa sabun…"
"Busa sabun?" sahut Makino.
Shanks menunjuk bak pencuci piring dengan dagunya.
"Gkyaa~! Astaga apa yang aku lakukan?" pekik Makino, terkejut melihat bak pencuci piring dipenuhi busa.
"Hahaha~!" Shanks tertawa melihat tingkah wanita berambut hijau gelap itu.
"Maaf~! Pikiran sedikit kacau…"
"…" Shanks.
"Tadi pagi aku melihat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan Luffy. Mata hitamnya yang besar dan caranya mengerutkan dahi, benar-benar seperti Luffy. Mungkinkah jika anak itu…" Makino tidak melanjutkan kalimatnya.
"Mungkinkah jika anak itu adalah anak Luffy, itukan yang ingin kau katakan?"
"…" Makino mengangguk pelan.
"Luffy adalah seorang laki-laki, bukan tidak mungkin jika dia berhubungan dengan seorang wanita dan memiliki seorang anak…" wajah serius Shanks berubah jenaka, "Tapi melihat kebodohannya, itu akan jadi sangat mustahil. Karena wanita tidak akan mendapat tempat di pikirannya."
"Apa di dalam pikiran Anda juga tidak ada tempat bagi seorang wanita?"
"…?" Shanks.
.
.
Robin mengusap wajah Zoro yang kian memucat. Sedetikpun dia tidak bisa melupakan saat-saat dramatis ketika pria berkepala hijau itu dengan gigih melindunginya.
"Kau tidak boleh mati…" ucapnya dengan suara bergetar. "Tidak boleh…"
"Robin-san!" seru seorang pengawal tiba-tiba.
"…" Robin.
"Seorang gadis muda ingin bertemu dengan Anda, sekarang dia sedang menunggu di depan pintu kastil ini!"
"Seorang gadis muda?"
"Ya, seorang gadis muda berambut hijau,"
"Midori…" gumam Robin lalu bergegas menuju pintu masuk kastil.
Di depan pintu masuk.
"Robin-nee!" seru Midori lalu beringsut ke pelukan Robin. Dia menangis mengenang kejadian tak mengenakan yang menimpa Zoro. "Ini semua salahku! Jika saat itu aku langsung menerima ajakan pulang Kagura-nee-san semua ini pasti tidak akan terjadi!" ucapnya, menyalahkan diri.
"Ini bukan salahmu!" sahut Robin sambil menyeka air mata Midori.
Midori menggenggam tangan Robin erat-erat. "Aku akan memberitahumu bagaimana cara menyelamatkan kakak pendekar dari jurus terkutuk itu!"
"…!" Robin.
Sesaat kemudian…
"Aku tahu bagaimana cara menyelamatkan Zoro! Aku tahu!" seru Robin mengagetkan Luffy dan yang lainnya.
"Kau sudah tahu bagaimana caranya?" tanya Franky.
"Kalau begitu cepat katakan pada kami bagaimana cara menyelamatan Zoro, Robin!"
"Zoro bisa selamat jika dia meminum sari buah kehidupan yang tumbuh di puncak altar suci!"
"Robin kau tahu benar bahwa itu sangat mustahil untuk kalian lakukan!" sahut Chitto.
"Kenapa mustahil? Bukankah kita hanya perlu mengambil buah dari pohon itu dan meminumkan sarinya pada Zoro!"
"Karena tak sembarang orang bisa memasuki altar suci Majonoia!" balas Chitto.
Nami terduduk lemas, "Kenapa semuanya jadi serumit ini! Disaat kita sudah tahu bagaimana cara agar Zoro terbebas dari jurus kutukan itu, kita malah tidak bisa berbuat apa-apa!"
"Hei rambut merah!" Luffy mencengkram baju Ben, "Apa benar tidak ada cara untuk masuk ke tempat itu?"
"Maafkan aku Mugiwara!"
Luffy melepas cengkramannya dan berbalik.
"Luffy kau mau pergi kemana?"
"Jika memang tidak ada cara untuk memasuki tempat itu, tidak ada jalan lain selain menerobosnya!"
"Kau bisa mati terbakar sebelum menginjakan kakimu ke tempat suci itu!"
"Bagiku lebih baik mati dari pada hanya berdiam diri melihat temanku menderita!" tegas Luffy penuh luapan emosi. Sampai-sampai sebuah aura mengerikan terpancar keluar dari sorot matanya.
BRUUGH~!
Raw tiba-tiba pingsan.
Ben, Chitto dan Sanji yang berdiri di tepat di depan Luffy sesaat tak bisa menggerakan tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" Chopper yang tidak terkena luapan emosi Luffy tampak kebingungan.
"Luffy telah mengeluarkan haki Raja-nya," sahut Robin.
"…?" Nami.
"…?" Usopp.
"…?" Franky.
Luffy melangkahkan kembali kakinya. Tekatnya untuk menerobos altar suci sudah sangat bulat. Kali ini tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
Kembali ke tempat Axel berada.
"Yuhuu~! Akhirnya kalung ini kembali lagi padaku!" seru Axel senang.
Hiro dan Naoki mendelik tak percaya.
"Anak itu benar-benar menghajar Han-san dan tuan Baba!"
"Dia pasti seorang monster!" Sudut bibir Naoki berkedut ngeri.
"SEMUANYA LETAKAN TANGAN KALIAN DI BELAKANG KEPALA DAN SERAHKAN DIRI KALIAN!"
"…?" Axel.
"…?" Hiro.
"…?" Naoki.
Jajaran pasukan angkatan laut tiba-tiba mengepung dan mengangkat senjata.
"Angkatan laut?" gumam Axel.
Di tempat Garp.
Pria tua itu berjalan linglung. Pertemuannya dengan Axel membuatnya kacau. Kerinduan yang selama ini dipendamnya untuk Luffy mendadak tak terkendali. Oleh karena itu dia ingin sedikit mengobati rasa rindunya dengan berkunjung ke tempat Luffy pernah dibesarkan.
Yak! Sekarang Garp tengah menuju markas keluarga Dadan.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah pohon besar melintang menghadang jalannya.
"Apa yang terjadi, kenapa tempat ini kacau sekali…" gumam Garp.
Tok! Tok! Tok!
Garp mengetuk pintu. Tidak ada respon dari yang empunya rumah. Dia kembali mengetuk.
Tok! Tok! Tok!
"SIAPA KAU YANG BERANI MENGGANGGU SAAT-SAAT TENANG RUMAH INI!" teriak Dadan setelah membuka pintu. Seperti biasa, dia akan mengomel tanpa peduli siapa orang yang berdiri di depan pintunya.
"Lama tak berjumpa!"
"GARP?!" pekik Dadan.
"Sepertinya kau sedang mabuk berat," sahut Garp saat mendapati semburat merah di pipi Dadan.
"Apa tujuanmu datang kemari? Jika kau ingin mengacau sebaiknya kau pergi! Kenapa kau dan cucu-cucumu itu tidak pernah bisa membuat hidupku tenang!"
"…" Garp.
"Bahkan cicitmu pun tidak rela jika aku menikmati sisa hidupku dengan tenang~!"
"Cicit?!" sahut Garp.
"Ya~! Cicitmu itu hampir saja membunuhku! Kau lihat pohon besar yang tergeletak disana?" Dadan menunjuk pohon yang dirobohkan Axel. Menangis bombai, "Pohon itu hampir menghilangkan nyawaku! Dan itu semua gara-gara cicitmu!"
"Apa maksudmu dengan cicit?"
"Garp! Kau ini bodoh tau sedang berpura-pura bodoh? Sekarang kau bukan hanya seorang kakek tapi kau juga sudah menjadi kakek buyut!"
"…!" Garp.
"Putra Luffy yang entah dari wanita mana tiba-tiba datang menggantikan ayahnya untuk mengacaukan hidupku!"
Pernyataan Dadan seperti petir yang menyambar di hari yang cerah.
"Luffy mempunyai seorang anak?"
"Ya! Dia bernama Axel. Wajahnya, tingkah-lakunya dan cara mendengkurnya pun sama!"
"Axel…" gumam Garp, teringat pertemuannya dengan Axel.
"Jangan kabur begitu saja, bocah nakal! Setidaknya katakan siapa namamu!" seru prajurit.
"AXEL!" sahut Axel, nyengir lebar. Menatap ke belakang sambil melambaikan tangan pada Garp. "Ahahahak~! JAA NE!"
"Jadi bocah itu…" Garp pergi meninggalkan rumah Dadan. Tujuannya kini bukan lagi mencari penawar untuk mengurangi kerinduannya pada Luffy. Tujuannya sekarang adalah menemukan Axel, bocah asing yang sempat membuatnya penasaran karena kemiripannya dengan Luffy.
Dan ocehan Dadan telah memberinya jawaban kenapa bocah itu bisa begitu mirip dengan Luffy.
"Monkey D. Luffy! Sadarkah kau apa akibat dari kebodohanmu yang satu ini?!" geram suara Garp.
Sesaat setelah kepergian Garp dari rumah Dadan.
Sabo datang memanggul seekor bison berukuran besar. Seperti yang telah dijanjikannya pada Axel, dia kembali tanpa tangan kosong.
"Ada apa dengan tempat ini?" tanya Sabo pada Dadan yang tengah menenggak minuman keras di depan pintu. "Dimana Axel?"
"Bocah itu pergi ke desa bersama Dogra dan Magra!"
Tiba-tiba Sabo merasa tidak tenang. Dia melihat bungkusan makanan di depan pintu. Mengambilnya, "Kenapa kau menaruh makanan ini disini?"
"Itu bukan milikku, sepertinya Garp menjatuhkannya disana! Hahaha ekspresi wajahnya konyol sekali, aku jadi ingin tertawa jika mengingatnya!"
"Garp? Garp-san datang kemari?"
DEG!
Sabo menoleh ke sebuah arah! Dia mendengar suara peluit. Suara peluit yang diberikannya pada Axel. Axel telah meniup peluitnya. Dia pasti dalam keadaan bahaya! Aku harus segera menyelamatkannya!
"Pria tua itu memang datang kemari tapi setelah dia tahu cucunya telah memberikannya seorang cicit, dia langsung pergi begitu sa… HEI DENGARKAN BAIK-BAIK JIKA ADA YANG SEDANG BICARA PADAMU!" omeh Dadan saat tahu Sabo sudah melesat pergi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. "Dasar! Mereka semua sama tak bergunanya!"
Sabo berlari secepat yang dia bisa setelah mendengar tiupan peluit kedua. "Tunggu aku! Aku akan segera datang menyelamatkanmu!"
.
Bersambung
.
Thanks For Reading
and
See You in The Next Chapter :)
