SWORD LOVE "CHUSEOK FESTIVAL 2"

Pair : 2MIN

.

.

.

"Ta… Taemin?"Minho membelalakan menatap lekat Taemin yang berjalan kedalam arena. Minho terkejut, ia bagaikan melihat sosok Kim Jaejoong dalam diri Taemin.

Taemin berjalan memasuki lapangan bersama Kibum dan Siwon, mereka ikut berbaris bersama peserta yang lain, menunggu Sang Raja memulai pertandingan ini.

"Baiklah, mungkin tidak perlu basa-basi, kita akan mulai saja perandingannya, mengingat para peserta telah siap bertanding." Ucap raja, ia mengambil pemukul gong, dan memukul gong kecil di sebelahnya, pertanda bahwa pertandingan telah di mulai.

Para peserta mengambil tempat duduk mereka pertandingan di mulai, peserta telah mengambil nomor untuk sudah tau siapa saja lawan mereka.

Taemin meremas ujung bajunya, sedangkan tangannya yang lain memegang pedang ber-Jull merah yang diberikan Ratu padanya tadi. Taemin terlihat gelisah, entah karena apa, hatinya merasa tidak enak ketika sang ratu menyerahkan pedang itu pada Taemin.

"Minie, Kau akan bertarung dengan Bokken, bukan dengan pedang itu."Kata Kibum menyadarkan Taemin dari segala pikirannya.

"Ahh.. Ne, Hyung!" Taemin segera meletakkan pedangnya.

"Kau mau ku pilihkan Bokken?Atau kau mau memilihnya sendiri?" Tanya Kibum

"Biar ku pilih sendiri saja, Hyung."Kemudian Taemin berdiri dan berjalan meninggalkan Kibum untuk mengambil Bokken.

Taemin berjalan kesisi lapangan untuk mengambil Bokken.Sesekali ia melihat beberapa peserta yang tengah berlatih dan beberapa peserta yang bertanding. Mereka sangat hebat dan terlatih. Ya… walaupun Taemin juga terlatih, tapi ia masih merasa selalu kalah ilmu. Bahkan teknik berpedang merekabisa dikatakan sudah handal. Hanya satu hal yang selalu Taemin takutkan, jika ia terlalu larut dengan pertandingan dan hilang kendali atas dirinya sendiri.

Taemin menggigit bibir belum memmilih Bokken, ia hanya menatap kosong tumpukan bokken di hadapannya, Taemin menghembuskan nafasnya untuk menenagkan akhirnya memilih bokken, dan membawanya. Mata Taemin melirik Minho yang berada di singgasananyabersama keluarga kerajaan yang lain. Tak disangka tatapan Taemin bertemu dengan tatapan Minho yang sedari tadi juga sedikit membungkuk hormat pada Minho kemudian kembali ketempatnya.

.

.

.

.

.

Tiba giliran Taemin yang betanding, Taemin bersiap dengan bokkennya Taemin adalah seorang laki-laki muda, sempat di jelaskan bahwa dia adalah juara kendo nasional, sepertinya lawan yang cukup berat bagi Taemin.

"Seperti sebelumnya, kalian hanya di perbolehkan memukul pada bagian pundak ke bawah, cukup dengan menjatuhkan pedang lawan, maka salah satu dari kalian akan menang."Seorang pengawas turnamen menjelaskan beberapa peraturan pertandingan pada Taemin dan lawannya.

"Mulai!"

Aba-aba dari pengawas turnamen mengawali Taemin sudah bersiap mengarahkan pedang bokkennya pada Taemin masih enggan mengangkat bokkennya.Ia masih meremat-remat pedangya dengan gelisah, lebih baik ia menghindari pertarungan ini.

"Angkat pedang mu tuan, pertandingan telah di mulai." Seru lawan masih tetap bergeming. "Kalau begitu biarkan aku yang memulainya, hyaaa…" Namja itu menebskan bokkennya kearah Taemin menghindarinya.

"Sial!"Kembali namja itu menebaskan pedangnya, dan Taemin kembali Taemin terus saja menyerang sedangkan Taemin terus saja menghindarinya. Hingga Taemin mengangkat Bokkennya dan..

Plukk

Pedang milik lawan Taemin terjatuh ke tepi lapangan ketika Taemin menampik tangan lawannya dengan pedang bokken yang ia pegang dan itu membuat lawannya terkejut.

"Tuan, Kau tau jika pedang mu jatuh kau akan kalah, tapi kenapa kau memegang pedang seperti memegang sebuah slendang?" Ucap Taemin , ia terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya.

"Ahhh….. sombong sekali kau!"

"Pemenangnya Lee Taemin!" Pengawas turnamen itu mengangkat salah satu tangan Taemin, menandakan bahwa Taeminlah itu Taemin kembali ketempat duduknya dan pertandingan kembali berlanjut.

Minho kembali melemaskan otot-ototnya yang sempat tegang beberapa saat sangat khawatir dengan Taemin, ia takut jika Taemin terkena tebasan pedang bokken itu. Walaupun pedang kayu bokken juga dapat melukai. Selain itu, ia masih terbayang-bayang mimpinya beberapa hari yang lalau, ketika perut Jaejoong tertebas pedang, dan Minho takut itu terjadi pada Taemin.

"Sepertinya kau sangat mencemaskan pengawalmu itu Oppa?"KAta Aeohyun yang sedari tadi duduk disamping Minho dan terus memperhatikannya.

Minho tersadar dari bayangan akan mimpinya ketika Seohyun bertanya seperti itu padanya. Minho bingung harus menjawab apa, Apa mungkin dia akan berkata bahwa dirinya mencemaskan Taemin? Tentu saja tidak.

"Tentu saja sayang, Taemin sudah seperti sahabat bagi Minho."Sahut Eomma Minho membelai rambut legam Seohyun.

"Ohh… Jadi begitu, pantas kau sedikit sensitive jika aku berkata kasar padanya, Oppa."

"Karena memang seorang wanita tidak sepantasnya berkata kasar." Ucap Minho kemudian kembali focus pada pertandingan. Ekor mata Minho sesekali melirik pada Taemin yang tengah beristirahat di ujung lapangan.

.

.

.

.

Pertandingan terus berlanjut hampir pada babak terus maju dan melawan peserta yang memang lebih hebat dari peserta sebelumnya. Walaupun Taemin lebih sering menghindar tapi ia tetap memenangkan pertandingan. Hanya segelintir orang yang bias membuat benar-benar mengangkat pedangnya. Seperti beberapa tangan kanan dari Choi Dongwon, paman Minho yang sempat melukai beberapa bagian tubuh Taemin. Walaupun tidak mengeluarkan darah, tapi tetap saja akan meninggalkan bekas lebam pada tubuh Taemin.

Selain Taemin, Kibumpun terus memenangkan pertandingan, ia hanya menunggu gilirannya kalah melawan Taemin, Jadi dia terus melaju bersama Taemin ke final. Begitupun Siwon, berkat kemampuannya ia bias terus melaju. Siwon mulai tertarik dengan Taemin dan Kibum karena mereka terlihat menonjol walaupun mereka terlihat bias saja.

Kibum bersiap, karena setelah ini ia akan melawan Siwon. Ia cukup mengerti kemampuan Siwon. Selma pertandingan berjalan ia memperhatikan bagaimana cara siwon bertanding , jadi sebagian besar teknik siwon ia tahu.

"Peraturannya sama, dibabak ini salah satu dari kalian akan melawan Lee Taemin di pertandingan berikutnya."Jelas pengawas turnamen.

Pengawas pertandingan memundurkan langkahnya "Mulai!" pengawas itu menghindar dan pertandingan Kibum melawan Siwon pun dimulai.

Kibum dan Siwon saling memasang kuda-kuda, tapi tak ada satupun diantara mereka yang terlihat akan menyerang terlebih dahulu. Iris mereka saling memandang satu sama lain. Siwon yang tidak tahan dengan keadaan itu akhirnya menyerang Kibum terlebih mengayunkan pedangnya pada Kibum dan ditangkis oleh Kibum. Kini pedang bokken mereka saling beradu seperti mata keduanya yang tengah menatap sengit satu sama lain. Siwon mendorong pedang Kibum, tapi Kibum menghindar kesamping dan berdiri di belakang menatap punggung Siwon sejenak, kemudian menebaskan pedangnya tiba-tiba saat Siwon tengah berbalik untuk melawannya. Namun Siwon dapat menahan pedang membuat kibum berfikir kembali bahwa lawannya ini memiliki reflek yang baik.

Kibum menarik kembali memutar pedangnya, melemaskan pergelangan tangannya. Melihat itu Siwon segera menyerangnya dengan tebasan bertubi-tubi,tapi kibum dapat menahannya. Membuat serangan Siwon terhenti, membuat kibum menyeringai.

"Tidak sabaran."Setelah berkata seperti itu kibum memundurkan dirinya, membuat jarak dengan menarik pedanngya melewati telinga, tangan kirinya menyusuri pangkal pedang hingga ujungnya. Taemin yang melihat itu menegakkan tubuhnya. Kibum akan mengakhiri pertandingannya.

Siwon menatap Kibum dengan seksama, ia menunggu apa yang akan dilakukan Kibum selanjutnya. Siwon mempererat pegangannya pada pedangnnya.

Kibum mulai melangkah maju, ia mengacungkan pedangnya pada Siwon, kemudian menyerang Siwon. Kibum memukul pergelangan tangan Siwon, sedangkan memukul bahu kanan Kibum. Kibum menarik kembali pedangnya dan membalikkan tubuhnya kebelakang Siwon dan menghunuskan pedangnya melewati perut siwon dan menebas punggung Siwon, membuat Siwon sedikit terjungkal mencoba menguatkan tubuhnya, serangan Kibum barusan cukup membuatnya berbalik dan menatap Kibum.

"Aku lupa jika disini harus memukul."Kibum mengendikan bahunya, membuat Siwon mengeryitkan mencoba menyerang Kibum kembali, namun Kibum menghindarinya.

"Hei… hei… Tunggu sebentar tuan." Kibum mennyeringai dan membalas serangan Siwon.

Ditengah pertandingan Kibum dan Siwon, gerakan mencurigakan muncul dari beberapa peserta dan pengunjung. Ada beberapa orang yang terlihat merapat ke kepodium dimana raja dan keluarga kerajaan yang lain tengah duduk dan memperhatikan pertandingan.

Minhopun yang sibuk melihat pertandingan Kibum tidak menyadari jika dibelakangnya telah ada beberapa orang yang tengah mengintainya.

"Hentikan pertandingannya!"Perintah salah seorang pria yang kini tengah menodongkan pisau pada Sang Raja, di ikuti pemberontak lain yang kemudian ikut menodongkan pisau pada keluarga keraaj lain.

Minho membelalakan matanya ketika melihat orang-orang dengan baju serba hitam ini. Minho segera mengedarkan pandangannya keseluruh lapangan, mencari keberadaan Taemin.

"Hentikan pertandingannya!" Triak Raja, membuat seluruh mata pengunjung tertuju pada Raja dan keluarga kerajaan lain yang tengah disandera.

Kibum dan Siwon yang melihat itu berniat menyerang para pemberontak itu, namun kata-kata salah seorang pemberontak.

"Jumlah kami lebih banyak dari kalian, jangan mencoba melawan jika kalian tidak ingin raja dan keluarga kerajaan lain terluka!" Seru orang itu, membuat beberapa pengawal raja termasuk Kibum dan Siwon melihat sekitar. Lelaki berpakaian hitam telah mengelilingi beberpa pengunjung dan keluarga kerajaan.

"Kyaaa….." Sebuah teriakan dari Seohyun membuat semua mata teralih padanya.

Seorang pemberontak yang menawan Seohyun terkapar ketika mendapat pukulan pada tengkuknya.

"Taemin!"Ucap Minho ketika melihat Taemin yang ternyata adalah pelaku pemukulan pemberontak tadi.

Taemin melayangkan pukulannya lagi pada pemberontak yang menawan Minho, dan membuat pemberontak itu tersungkur.

"Hentikan dia!" Triakan dari seseorang yang Taemin fikir adalah pemimpin pemberontak itu menggerakkan beberapa orang yang kemudian mengepung Taemin dengan beberapa pedang ditangan mereka.

"Taemin! Taemin hentikan dan turuti saja kata mereka." Kata Minho membuat Taemin mengalihkan pandangannya.

Tapi Taemin tidak menjawab, aia menendang pergelangan salah satu pemberontak, membuat pedang yang di pegangnya terlempar dan ditangkap sempurna oleh Taemin. Kini Taemin memiliki senjata yang sama dengan mereka.

Melihat Taemin bertarung, Kibum juga tidak tinggal diam. Ia berlari ke arah para pemberontak dan memukulnya untuk mendapatkan pedang yang dipegang pemberontak itu. Siwonpun melakukan hal yang sama akhirnya.

Disisi lain raja di bawa pergi oleh salah seorang pemberontak. Mereka membawa raja ke salah satu ruang dalam istana itu. Tetap dengan pengawasan salah seorang pemberontak. Raja dihadapkan pada seseorang yang tengah berdiri membelakangi mereka.

"Raja Kerajaan Korea Selatan, seharusnya sudah taka da lagi. Sebuah Kerajaan yang menganut system kuno Korea, Negara ini hanya membutuhkan satu pemimpin, yaitu presiden. Buat apa harus ada seorang Raja?" Ujar orang itu tanpa membalikan tubuhnya.

"Itu pendapat anda Menteri Yoon, bukan pendapat Presiden."

"Kau memang cerdas, kau bias mengetahui jika aku yang melakukan ini." Orang itu berbalik dengan bertepuk tangan. "Tapi sayangnya pendapat itu sebentar lagi akan menjadi pendapatku."

Tanpa ada yang saling hormat, Raja dan Menteri Yoon saling menatap sengit. Seakan tengah beradu pedang kasat mata.

"Tidaklah sulit mengenali pisau buatan eropa yang dulu pernah terpajang di museum sebagai salah satu koleksi kebanggaan anda."

"Ohh…. Kau masih mengingatnya." Menteri Yoon tertawa meremehkan Raja.

"Pisau yang sama yang hampir melukai anakku, tentu tak akan ku lupakan."

Senyum sinis terukir pada bibir menteri Yoon, ia berjalan dan duduk pada kursi yang seharusnya adalah tempat peristirahatan Raja.

"Tawaran ku masih berlaku Choi, Runtuhkan Kerajaan!" Mata sengit Menteri Yoon menatap tajam Raja.

"Dan jawabanku tetap sama, tidak akan! Kerajaan harus tetap berdiri untuk mempertahankan adat Korea." Raja menatap keluar jendela dan menutkan tangannya di belakang punggung.

"Tjiihhh… Itu hanya dalih mu saja bukan Choi, kau hanya ingin mempertahankan perusahaan mu agar tetap mendapat investasi dari pemimpin besar negara lain."

"Kau pun sama Yoon, Kau hanya ingin meruntuhkan Kerajaan untuk menjadi Presiden bukan?"

Braaakkkk

"Kau Fikir aku sama sepertimu? Seoul tidak memerlukan 2 sistem pemerintahan, Kau akan tetap dihormati meskipun kerajaan diruntuhkan."

"Jika saja pemerintahan tidak membatasi lahan kerja Choi Corp, aku tidak akan sekuat ini mempertahankan kerajaan….. "

"Tuan!"

Sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka. Seorang pengikut Menteri Yoon menerobos pintu dengan tiba-tiba.

"Salah seorang pengawal Raja membunuh hampir seluruh orang-orang kita, Kita harus segera mundur." Serunya membuat Menteri Yoon dan Raja terkejut.

"Baiklah, lagipula aku juga telah selesai, Pastikan taka da yang mengawasi."

Pengawal itu mengangguk dan keluar dari tempat itu. Sedangkan Raja masih tetap dalam posisinya.

"Jangan pernah bicarakan pertemuan kita, jika kau tak ingin rumahmu di jaga polisi Negara." Ucap menteri Yoon yang kemudian pergi dari ruangan itu.

.

.

.

.

Taemin berdiri di tengah lapangan. Suasana di lapangan itu menjadi dingin sedingin tangan Taemin yang tengah memegang pedang ber Jul Merah yang telah berlumuran darah segar milik pemberontak-pemberontak dihadapannya. Beberapa orang berlarian pergi dari tempat itu.

Keluarga Kerajaan telah diamankan, Namun Minho enggan beralih dari tempat itu, pdahal ia sadar bahwa di arena itu telah dibanjiri darah. Seohyun awalnya memaksa Minho, tapi Minho tidak menanggapi paksaan Seohyun, bahkan matanya tak beralih dari sosok yang tengah menghabisi seluruh manusia dihadapannya. Sosok yang memegang ber-jul merah itu, bisakah ia menyebut…..

"Taemin…" Kata yang terlontar dari mulut Minho itu membuat iris Kibum beralih padanya.

"Ya, dia Taemin." Ucap Kibum, kemudian ia melangkah menghampiri Taemin.

"Lee Taemin!" Seru Kibum kemudian melangkah menghampiri Taemin.

Taemin membalikan tubuhnya, ia menatap Kibum dengan mata tajam bak ujung pedang yang siap menusuk siapa saja yang ia lihat. Seringaian yang terukir pada bibir Taemin membekukan segalanya. Taemin berjalan mendekati Kibum, ia mengacungkan pedangnya, kemudian menjilat ujung pedang itu.

"Sudah lama sekali tidak mencium darah sesegar ini." Ucap Taemin di hadapan Kibum. Percikan darah diwajah Taemin membuatnya tampak menyeramkan.

"Dasar gila! Kau membuat takut pangeran." Balas Kibum membuat Taemin melirik kearah Minho yang tengah membeku.

Taemin kemudian menghampiri Minho. Ia memasukkan pedangnya kedalam sarung pedang yang ia pegang. Jul merah pada pedang itu menjuntai dan melambai seakan tengah menari kegirangan karena berhasil mengambil beberapa nyawa.

"Pangeran!" Taemin membungkuk hormat pada Minho yang masih membeku dihadapannya.

"T…. Taemin?" Suara Minho membuat Taemin menegakkan tubuhnya. Ia mengembangkan seringaiaannya pada Minho.

"Kita bertemu lagi, ahhh… tidak… bukankah setiap hari aku bertemu dengan mu?" Taemin berbicara seakan tak menghiraukan Minho yang tengah menahan phobianya.

"Kau masih takut pada darah bukan? Kenapa kau disini? Seharusnya kau pergi dengan keluargamu."

"Berbicaralah yang sopan pada Pangeran, Taemin! Ingat dia adalah orang yang paling Minie hormati."

"Diamlah Kim! Kau benar-benar tidak berubah, masih saja crewet." Taemin berjalan mendekati Minho. Ia memegang tangan Minho yang gemetar. Taemin tau Minho menahan ketakutannya pada darah hanya untuk melihat dirinya yang lain ini. Taemin menempelkan telapak tangan Minho pada pipinya yang penuh dengan percikan darah, membuat minho menahan nafasnya.

"Perkenalkan, aku adalah Lee Taemin, tatap aku dan biasakan dirimu."

Raja berdiri di sebuah ruangan bersama ratu dan beberapa orang dari kepolisian. Mereka tengah di mintai keterangan atas tragedy yang terjadi siang tadi.

"Yang Mulia, apa anda sempat berdiskusi dengan salah satu dari mereka? Karna yang kami dengar anda sempat di bawa pergi oleh salah satu dari mereka." Tanya seorang Inspektur polisi.

"Tidak! Bolehkah kami istirahat sekarang? Kami masih sedikit shock dengan kejadian tadi." Ucap Raja.

"Baiklah, tapi jika boleh, kami harus membawa pengawal anda ke kantor."

"Pengawal mana yang kalian maksut?" Ratu menyahut.

"Tentu saja yang telah membantai beberapa pemberontak itu. Dalam peraturan pemerintahan membunuh tanpa alasan adalah criminal."

"Melindungi Raja adalah criminal, begitu maksutmu?" Ratu menaikan nada suaranya.

"Tapi, Raja dan keluarga kerajaan yang lain taka da yang dilukai satupun."

"Ohh… jika penyanderaan itu terjadi pada presiden, apa yang akan kepolisian lakukan? Diam saja seperti orang dungu? Aku yakin kalian akan menembak mati para pembelot itu bukan?" sergah Ratu sarkastik membuat inspector polisi itu terdiam.

"Kami tidak pernah mengganggu system presiden, dan membunuh orang yang membahayakan keluarga kerajaan itu adalah system adat kerjaan korea, jadi jangan ganggu system akmi!" setelah berkata itu Raja berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan tersebut.

"Lagi pula aku tidak pernah mau berurusan dengan pemerintahan. Sampaikan salam ku pada menteri Yoon." Ucap Raja sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.

"Cihhh…. Anak buah Yoon benar-benar sama sepertinya." Gerutu Raja.

"Aku akan melihat Minho dulu." Ucap Sang Ratu membuat Raja menghentikan langkahnya.

"Apa dia tidak apa-apa? Phobianya…."

"Tenang saja, Minho akan terbiasa dengan semua ini." Ratu memotong ucapan Raja, membuat Raja menghela nafas.

"Aku selalu menunda-nunda penobatannya karena itu, mungkin jika saat itu kita berada disana, Minho tidak akan seperti ini dan…" Raja menghentikan kata-katanya sejenak. "Dia tidak akan meninggal secepat itu." Sesal Raja.

"Sudahlah, semua sudah berlalu, waktu tak bias di sesali." Ucap Sang Ratu.

"Aku berharap dia tenang disana." Raja menatap langit kelam malam itu.

.

.

.

.

Kibum tengah berdiri di jembatan kecil yang membentang di tengah danau istana menatap kuncup lotus yang akan bermekaran dalam beberapa hari.

"Ehmmm.. apa aku mengganggu?" Tanya sebuah suara, membuat Kibum mengalihkan pandangannya pada asal suara tersebut.

Begitu mengetahui siapa yang dating Kibum segera menundukkan kepala dan memberi hormat pada orang tersebut.

"Tuan Choi Siwon, apa yang membawamu kemari?" Tanya Kibum.

"Jangan seformal itu pada ku, aku bukan Raja." Balas Siwon sambil berjalan mendekati Kibum.

"Baiklah, sesuai permintaanmu, apa ada yang kau butuhkan dari ku?"

"Tidak, hanya kebetulan melihatmu saat aku akan mengunjungi Minho." Ucap Siwon menatap langit temaram yang tak menunjukkan kehidupan astronominya.

"Lalu?" Kibum masih tak mengerti tentang maksud kedatangan Siwon.

"Eummm… Jujur saja, aku terkesan dengan teknik berpedang mu tadi, kau seperti bukan pemain kendo biasa." Siwon mulai menjelaskan maksudnya sambil menatap Kibum.

"Ahh… benarkah? Aku benar-benar tersanjung karena pujianmu."

"Kau pemain Kendo?"

"Bukan, Jika aku pemain kendo, kau tentu akan mengenalku, ku dengar kau sering keluar masuk Dojo kendo untuk berlatih teknik-teknik berpedang."

"Kau benar, dan nyatanya aku tidak mengenalmu." Siwon menghela nafas sejenak. "Sebenarnya aku hanya mempelajari beberapa teknik sebelum benar-benar memegang pedang yang asli."

Kibum tersenyum, membuat Siwon mengerutkan dahinya.

"Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" Tanya Siwon heran.

"Bukankah pedang yang asli tidak memerlukan teknik khusus?" Kibum berjalan ke belakang Siwon. "Kau hanya perlu memegannya….."

Greepp….

Kibum memegang tangan kanan Siwon kemudian mengangkatnya

"Menariknya…" Ia menarik tangan Siwon ke sisi wajahnya. Perlakuan Kibum itu membuat Siwon menatap intens pada Kibum.

"Kau tinggal mendengarkan suara pedang itu dan ikuti pedangnya." Kibum tiba-tiba mendorong tangan Siwon layaknya menusuk musuh dihadapannya, lalu melepaskan tangan Siwon. Kibum tersenyum pada Siwon dan kembali ketempatnya berdiri semula.

"Mendengarkan sebuah pedang, itu teknik yang unik." Siwon tersenyum kecil. "Kulihat teknik mu memang bukan teknik kendo, apa lagi dari cara mu menggoreskan pedangmu pada ku tadi, Mungkin jika kita bertanding dengan pedang asli aku sudah terbunuh tadi."

"Teknik ku bukan sekedar memukul dan menjatuhkan pedang." Kibum mengendikkan bahunya.

"Bolehkah aku mempelajari teknikmu? Mungkin kita bias berlatih bersama?" Tawar Siwon.

"Ohh… aku sangat berterimakasih atas tawaranmu, tapi aku harus menjalankan beberapa tugas besok, aku pamit." Pamit Kibum ia membungkuk pada Siwon dan berencana pergi, tapi tangan siwon yang memegangnya menghentikan langkahnya.

"Aku serius, bisakah kita berlatih bersama?"

Kibum tersenyum dan berbalik, ia menatap Siwon kemudian berjalan mendekatinya.

"Satu hal yang harus kau tau." Kibum semakin mempersempit jarak diantara mereka. "Jika kau ingin membunuh, maka dengarkan pedang itu, tapi…" Kibum menghentikan kata-katanya, ia mendekatkan wajahnya pada telinga Siwon. "Jika kau ingin melindungi seseorang, pedang itu bisa mendengarkan mu." Bisisk Kibum, setelah itu ia berbalik dan pergi dari tempat itu.

"Menarik!" Ucap Siwon sambil tersenyum. "Kau menarik Kim Kibum."

.

.

.

.

Taemin duduk di samping danau kecil di belakang paviliun Pangeran, ia tengah mengobati luka lebam karena pertarungan tadi dengan salep yang di berikan oleh Kibum. Taemin menghela nafas berat, ia meletakkan salep itu di sebelahnya.

"Seharusnya aku lebih berhati-hati, kenapa akhir-akhir ini aku sulit mengendalikan diri." Gumam Taemin, ia menatap bayangan dirinya pada air danau.

"Kenapa kau harus ada dalam diriku?" Taemin bertanya pada pantulannya di air danau itu.

"Mungkin jika dia tidak ada, kau juga tidak aka nada disini sekarang." Jawaban Minho membuat Taemin memalingkan wajahnya dari danau dan menatapnya terkejut.

"Ya… Yang Mulia?"

"Apa Kau akan mengelak lagi, Jika aku bertanya siapa dirimu sebenarnya." Ucap Minho menatap dingin Taemin.

Taemin hanya bisa menundukkan kepalanya, ia tidak pernah mau menceritakan dirinya pada siapa pun. Ia memilih di jauhi oleh semua orang dari pada harus menguak jati dirinya yang selalu membuat luka masa lalunya kembali menganga. Minho berjongkok dan duduk di samping Taemin.

"Taemin dengar! Aku bukan Kibum yang sanggup menunggu bertahun-tahun untuk mengetahui siapa sebenarnya dirimu, aku bukan eomma yang bisa dengan cepat mengetahui sifat seseorang." Minho menatap sendu Taemin. "Aku perlu penjelasan langsung dari mu, kau orang yang benar-benar ku percaya, bahkan mungkin kau satu-satunya, bisakah aku mengenal Lee Taemin yang sesungguhnya?"

Taemin menghela nafas kembali, ia menyerah, Minho begitu ingin tahu mengenai dirinya, lagi pula, hidup dan mati Taemin sekarang adalah milik kerajaan terlebih Minho. Ia telah mengemban amanah untuk menjaga Minho, memang sudah seharusnya Minho mengetahui tentang siapa Taemin sesungguhnya. Ia bukan pengawal bayaran lagi seperti dulu.

"Baiklah Yang Mulia, tapi ini sedikit rumit." Taemin menggigit bibir bawahnya.

"Aku akan pelan-pelan memahaminya." Minho menyamankan duduknya.

"Seperti yang selalu anda pertanyakan, saya memang memiliki dua kepribadian, yang pertama adalah saya, yang saat ini bersama anda, yang kedua, aku yang anda lihat tadi." Taemin menundukkan kepalanya.

"Kau tau, dirimu yang lain sangat mengagumkan." Ucap Minho ketika mengingat bagaimana Taemin memainkan pedangnya.

"Banyak memang yang mengatakan itu, tapi bagi ku, itu sangat mengerikan, aku yang selalu haus darah dan selalu merindukan besi tajam itu membuatku tidak segan untuk melukai orang di sekitarku."

"Tapi kau melindungiku tadi."

"Yah…. Sekarang bisa di katakana seperti itu, tapi nantinya…." Kata-kata Taemin terhenti . selalu seperti ini, ketika ia mengingat dirinya di masa lalu. Taemin menatap kosong refleksi dirinya yang mengingatkannya pada sosok hangat yang selalu melindungi dirinya.

"Sekelam itu kah, sampai kau tak sanggup membicarakannya?"

"Aku membunuh Kakak ku."

Ucapan Taemin barusan membuat suasana yang melingkupi istana menjadi dingin. Minho yang terkejut enggan mencairkan suasana itu. Ia takut jika sesuatu yang keluar dari mulutnya akan membuka luka Taemin semakin lebar.

"Aku berada di panti asuhan dengan kakak ku yang hanya berbeda 2 tahun dengan ku, dia besar di dojo sensei Kaguya, ia menarikku ke dojo itu dan dialah yang mengajari ku segala teknik berpedang, hingga aku mengetahui diriku yang lain bersemayam dalam tubuhku yang saat itu dibangunkan oleh pedang Murasama milik jendral Honjo." Taemin terdiam sejenak, mengingat bagaimana ia tergila-gila pada pedang Murasama itu. "Saat itu usia ku 14 tahun dan aku mengemban amanah untuk melindungi pangeran seishiro." Lanjutnya.

"Seishiro? Anak kaisar jepang itu?"

"Ya, aku pernah menjadi pengawal bayaran untuk menjaga pangerm seishiro dan itu menjadi tugas terakhir ku bersama kakak ku, disanalah aku juga mendapatkan luka pertamaku dan luka satu-satunya yang aku miliki."

"Taemin." Minho menyentuh bahu Taemin membuat Taemin meliriknya sekilas.

"Setelah tugas itu, aku membenci diriku, aku mencoba membunuh diriku agar aku bisa bertemu kembali dengan kakak ku, tapi, setiap aku melihat darah yang keluar dari dalam tubuhku, diriku yang lain kembali bangkit dan menguasai tubuh dan fikiranku. Aku keluar dan membunuh orang-orang di dojo untuk memenuhi hasrat membunuhku." Taemin bercerita dengan memejamkan matanya, ia tak sanggup mengingat kejadian itu.

"Lalu bagaimana kau bisa mengendalikan dirimu?" Tanya Minho.

Taemin kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu, hingga dada putihny terekspos dihadapan Minho. Membuat Minho menahan nafasnya, buikan karena dia bernafsu dengan dada Taemin, tapi karena melihat beberapa bekas luka sayatan di dada dan sekitarnya.

"Mungkin beberapa bekas lukanya telah hilang, Sensei akhirnya mengajariku untuk memanfaatkan diriku yang lain untuk mempertinggi keahlian ku dalam berpedang, meskipun begitu aku masih takut." Taemin membenarkan bajunya.

"Takut?" Tanya Minho tak mengerti, Minho fikir Taemin sudah bisa mengendalikan dirinya sepenuhnya.

"Aku takut diriku yang melindungi pangeran akan berbalik membahayakan pangeran." Taemin menunduk dalam.

Minho menghela nafas, ia meraih kedua pundak Taemin, membuat Taemin menatapnya.

"Taemin, Cahaya tidak akan ada tanpa menciptakan sebuah bayangan." Minho mendekatkan dirinya, ia meraih dagu Taemin.

"Aku mempercayaimu, aku… " Minho menggantungkan kata-katanya dan mendekatkan wajahnya pada Taemin. "Aku sangat… Menyukaimu…"

Chuu~

Minho menyatukan bibirnya dengan bibir Taemin, membuat Taemin memejamkan matanya. Sedangkan disisi lain, seseorang tengah berdiri di balik bangunan kamar Minho. Menatap tidak suka kearah danau, mata tajamnya ia palingkan dari sana, tangannya terkepal kuat.

"Aku tidak akan memberikan Minho pada mu Lee Taemin.

.

.

.

.

.

.

Tbc.