Us

e)(o

Have you even imagine—that my fingers going around on your skin..

Seberapa keras Chanyeol mencoba untuk kembali ke titik sadarnya, tetap saja, harum dari sosok mungil yang sedang mengerang dan meminta di bawah kungkungannya membutakan segala akal sehatnya.

Segalanya. Bahkan, membayangkan tentang bagaimana wajah Junmyeon ketika murka jika mawar putih yang ia tanam sejak benih, telah dipetik dan sedang dinikmati oleh sahabat dekatnya saja, tak terlintas di benak Chanyeol.

Sudah berapa kali mereka hampir melakukannya, namun, akal sehat dan keberuntungan yang menyakitkan selalu datang untuk menyelamatkan hubungannya dengan Junmyeon.

Tapi, saat ini, bahkan nama Junmyeon pun tak terlintas lagi. Tidak saat Chanyeol menyusuri kulit lembut Baekhyun dengan bibir dan jemari panjangnya. Suara tercekat halus dan lembut tertangkap oleh telinga Chanyeol, membuat ia melirik ke atas. Di mana wajah pucat Baekhyun berubah menjadi merah merona, lezat seperti Cherry masak di atas kue tart.

"Aku hampir takut menyentuhmu, Baekhyuni—"

Mata Chanyeol masih mengawasi, tapi jarinya terus mengembara. Chanyeol kembali mendaki hingga ke pucuk payudara cantik milik Baekhyun yang masih terbungkus. Lelaki itu mengendus di sana, mencari dari mana harum yang sedari tadi menguasai indera penciumannya.

Chanyeol tiba pada lerengnya, di antara dua benda yang sangat pribadi milik gadis belia itu. Baekhyun gemetar di bawah sentuhannya, dan Chanyeol mengecup keras di antara keduanya hingga melukiskan sebuah tanda kebanggaan di sana.

Chanyeol menarik wajahnya, menatap kembali bidadari yang sedang mengulum bibir menahan erangan.

"Hai—"

Mata Baekhyun hampir berair. Sudah sampai mana mereka tadi? Mengapa Chanyeol masih bisa menyapanya dengan senyum yang begitu tampan?

"Hai—Jagganim—"

Suara parau Baekhyun membuat Chanyeol mengerut dahi. "Kau baik? Ingin berhenti saja?"

"Tidak!!" Baakhyun menggeleng dengan cepat. Tidak, katanya tadi—tapi Baekhyun tak tahu apa yang harus dia lakukan. Membaca novel erotis memang membuatnya mengerti bagaimana lelaki dan wanita berhubungan. Namun, pada prakteknya, Baekhyun belum pernah melakukannya. Lelaki asing pertama yang menyentuhnya hanya Chanyeol.

"Tidak?" Chanyeol mengulang jawabannya, lalu mengendus rahang halus milik Baekhyun. "Lalu—apa yang harus aku lakukan untukmu?"

"Engh—"

Chanyeol membenamkan lidahnya pada belakang telinga Baekhyun, membuat gadis itu mengerang dan meracau. Lengan gadis itu tertahan di dada Chanyeol.

Jemari Chanyeol menemukan kancing bra yang berada di depan. Sebelum membuka pengaitnya, Chanyeol kembali menatap Baekhyun. "Haruskah?"

Baekhyun memalu dan menutup wajahnya dengan sebelah lengannya.

"Tidak?"

"Jagganim terlalu banyak pidato—aku malu—" suara Baekhyun nyaris tertelan kembali ketika bunyi suara 'klik' dari pengait bra yang ia kenakan terlepas. Sesaat sesuatu sepertinya terasa lega dan bebas, setelah Chanyeol melempar pembungkus itu ke lantai.

"Mianhae—" ucap Chanyeol dengan nada main-main.

"Ya Tuhan—benda apa yang ada di sini? mengapa semuanya berkilauan—" jemarinya kembali mendaki, kini hingga menyentuh puncaknya yang mungil dan merah muda. "Oh Baekhyun—kau membuatku gila—"

Sentuhan halus, basah, dan hangat yang Chanyeol hantarkan pada pucuknya membuat Baekhyun melemparkan kepalanya ke udara, mendingak dan menatap ke langit-langit kamar. Cukup malu untuk melihat kegiatan 'menyusu' Chanyeol.

Baekhyun merasakan lidah basah Chanyeol di pucuk tubuhnya, ketika telapak tangan lebarnya meraih salah satu yang lainnya menggaruk dan menggambarkan pola-pola menyenangkan hingga Baekhyun melepaskan sebuah lenguhan panjang yang tak sadar telah memancing Chanyeol untuk turun gunung.

Wajah Chanyeol sama meronanya dengan milik Baekhyun. Hanya saja, tatapan gelap Chanyeol tak pernah meninggalkan tubuh halus Baekhyun sama sekali.

"Kau—benar-benar menginginkan ini?"

Baekhyun mengangguk malu-malu. "Yes—"

"Pardon?" Chanyeol mengendus kulit di atas perut datar Baekhyun, melukiskan api di sana-sini membuat Baekhyun menggeliat dan melarikan jemari cantiknya ke kepala Chanyeol. Meminta lelaki itu agar tidak meninggalkan tubuhnya.

"Jagganim—" rengek Baekhyun saat Chanyeol melepaskan telapak tangannya dari kulitnya.

"Apa yang kau inginkan?" bisik Chanyeol, kini tangannya ada di sisi pinggul Baekhyun, mengelus permukaan satu-satunya kain penutup tubuh bagian bawahnya.

"You—I want you—everywhere..""Is it that all you need?"

Baekhyun terdengar merengek saat Chanyeol menyisipkan sebuah kesenangan sebelum menarik lepas celana dalamnya turun melewati tumitnya yang juga di kecup oleh Chanyeol. Pekikan malu Baekhyun, senyum separuh Chanyeol, dan redupnya cahaya kamar, jadi saksi betapa mereka menginginkan satu sama lain.

"Aku akan berikan apa saja—semuanya yang aku punya—agar aku bisa menyentuhmu seperti ini. Setiap detik, untuk selamanya—"

Baekhyun memalu dengan sebuah senyum yang tak bisa gadis itu sembunyikan. Chanyeol mengusap sebuah gairah di sana. Bulu-bulu halus yang malu-malu di bawah sentuhannya meremang. Sebuah aroma yang 'sangat' Baekhyun menguar menggoda indera penciumannya.

Oh—hai lidah—Mata Baekhyun membulat, menatap horror kepala Chanyeol yang semakin rapat dengan pahanya.

Chanyeol menjilat di sana. Di tempat paling pribadi milik Baekhyun. Panas, basah, dan dengan isapan yang kuat membuat Baekhyun merasakan kepalanya terlempar ke udara bersama dengan akal sehatnya.

Chanyeol seperti sedang menggali sebuah harta karun, dengan lidah dan dua bibir panas yang terus mengecup hingga berisik di bawah sana.

"Jagganim—" Baekhyun merengek menarik rambut Chanyeol gemas.

"Apa sayang—" Chanyeol mendongakan kepalanya menatap wajah merona Baekhyun.

oh! lihat bibirnya yang menjadi merah dan basah. "—Aku—aku—eungh tidak tahu caranya."

Chanyeol tersenyum lalu menyipitkan matanya, "Bisa aku atasi—" Chanyeol kembali memanjat dengan bibir dan lidahnya hingga wajahnya berada di atas wajah Baekhyun. "Mau aku beri tahu sesuatu yang menarik?"

Baekhyun lantas mengangguk. Wajahnya lebih santai setelah sesi 'mari menggali harta karun' yang Chanyeol lakukan.

"Diam di sini, dan jadi anak baik, okay?"

Chanyeol bangkit, mata Baekhyun mengikuti di mana lelaki itu berdiri. Chanyeol di sana, berdiri di ujung ranjang, dengan celana yang sudah ia tanggalkan dan sesuatu yang sudah tegang bergelantungan, terlihat sangat 'kuat', 'keras', dan 'berurat'.

Baekhyun menutup wajahnya—malu sekali! Melihat penulis itu naked sama seperti dirinya sekarang, jelas dan terang-terangan, membuatnya malu setengah mati. Kenapa matanya langsung tertuju pada kejantanannya? Padahal seluruh tubuh Chanyeol yang lain sangat lezat untuk dilihat.

"Siapa bilang kau boleh menutup wajahmu?" Chanyeol merangkak naik ke ranjang, membuat benda itu berderit dan jantung Baekhyun ingin menjerit. Chanyeol melebarkan paha Baekhyun. Ya Tuhan! Baekhyun berdebar setengah mati!

"Lihat aku, sayang." Chanyeol menarik sebelah tangan Baekhyun turun. "Kau takut?"

Baekhyun menggeleng, berkedip dua kali, lalu menggangguk. Tawa serak Chanyeol pecah hingga membuat inti kewanitaan Baekhyun berdesir panas. Suara tawa Chanyeol yang ini, jenis tawa yang baru yang belum pernah Baekhyun dengar. Suaranya basah, sedikit lembap dan juga berat. Telapak tangannya membawa tangan Baekhyun turun ke sana. Ke bagian tubuh Chanyeol yang akan mengubah dunia Baekhyun dalam semalam.

Tangan Baekhyun mencoba mengepal awalnya, hingga merasakan permukaan benda itu yang halus dan panas membuat Baekhyun penasaran lal mencoba untuk menggenggamnya.

"Genggam dengan lembut. Tarik dan dorong pelan-pelan seperti ini."

Baekhyun mengikuti apa yang di arahkan Chanyeol. Menelusuri di mana pangkal dan ujungnya. Memutari 'kepala' yang berlubang itu dengan telunjuknya. Baekhyun bahkan mengelusnya bukan menggenggam. Mengulanginya berkali-kali, hingga ia terpana melihat wajah merah Chanyeol dengan alis tertaut keras. Bibirnya terbuka dengan napas berat yang panas. Apa aku melukainya? Pikir Baekhyun dalam hati sebelum sebuah erangan dari bibir Chanyeol keluar membuat inti di dirinya terasa lebih panas lagi.

"Oh! Baekhyunah—"

"Eungh—"

Wajah Chanyeol turun meraih pucuk payudara Baekhyun yang membusung. Telapak tangannya terus turun mengelus kulit pingggulnya yang halus hingga ke bawah, ke tempat persembunyian harta karun yang baru tadi ia gali dengan lidah. Baekhyun terkesiap dengan napas tertahan, tanpa sadar melebarkan pahanya. Jemari panjang Chanyeol menggodanya, melukiskan api di sekitar pusatnya. Mencubit dan menekan membuahkan erangan lebih keras lagi dari bibir Baekhyun.

"Eunghh—" genggaman pada batang kejantanan Chanyeol menguat.

"Iya, sayang. Seperti itu—" hambusan napas panas dan berat bercampur erangan menguap di samping telinga Baekhyun. Gadis itu masih meracau dan merengek dengan dua jari Chanyeol yang sedang berputar-putar di sekeliling pusatnya.

Jemari Chanyeol seakan tak ingin berhenti. Selubung itu terasa panas dan lembap, jemari Chanyeol sendiri sudah basah dan lengket, tapi juga terasa sangat menyenangkan. Chanyeol membuka matanya lebar-lebar, menatap dengan keinginan yang sangat kuat pada wajah mengerang Baekhyun. Bahkan jemari lentiknya tak lagi bergerak, dan hanya menggengam milik Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lalu mengecup sudut bibir Baekhyun yang terbuka. Mengulang erangan yang membuat Chanyeol menjadi candu. Ketika jemarinya semakin cepat bergerak, Baekhyun terkesirap dengan sensasinya; sesuatu seperti akan meledak di bawah sana, maka gadis itu terus menggeleng keras, mengerutkan dahi dan bernapas kuat-kuat.

"Tidak—tidak—oh!" Baekhyun hancur lebur hanya dengan jemari Chanyeol.

Baekhyun masih terengah akibat ledakan gairah dari bawah sana. Chanyeol mengecup dan menjilat lehernya yang harum dan memabukkan sebelum bangkit dan merobek bungkusan alumunium foil dan membungkus batangnya.

Baekhyun bahkan belum sempat bereaksi, tangan Chanyeol dengan lembut membelai wajahnya. "Lihat aku. Aku ingin kau menatapku saat kita melakukannya."

Baekhyun menatap mata Chanyeol. "Cium aku." Tegas Baekhyun. Baekhyun bukannya tak sadar, tapi saat Chanyeol balik menatapnya dengan tatapan yang sama manisnya, ia tak bisa untuk tidak meminta. "Cium aku sekarang, Jagganim."

"Ya Tuhan—apa yang telah aku lakukan pada—" Baekhyun langsung menarik leher Chanyeol dengan kedua tangannya. Mengecupnya kuat-kuat, menarik lidah Chanyeol yang tadi menggali harta karun milliknya, menyesapnya hingga Chanyeol membalasnya dengan sama kuat. Kaki Baekhyun terangkat, hingga tungkainya saling mengait di pinggang Chanyeol.

Chanyeol merendahkan pinggulnya, mengerang ketika batang yang terbungkus karet super tipis itu menyentuh inti dari Baekhyun. Ciuman heboh mereka pecah, Baekhyun semakin terengah-engah, tapi Chanyeol sudah tak lagi memiliki kesabaran. Tangan kasarnya menyeka keringat di dahi Baekhyun, mengecupnya sekali, lalu menurunkan bibirnya untuk menikmati bibir Baekhyun lagi.

Sensasi saat ini menuntun pinggul Baekhyun untuk bergerak, teramat pelan—namun cukup membuat Chanyeol tersenyum kecil di sela ciuman basah mereka. Chanyeol meresponnya gesekan itu dengan menekan bagian tubuhnya yang sudah keras dan terasa menyakitkan.

"Kau harus bertanggung jawab karena sudah melakukan ini padaku." Suara Chanyeol rendah, senyum di bibirnya membuat Baekhyun semakin menggesek bagian bawah mereka lebih pelan.

"Harusnya itu kata-kataku—" Baekhyun mengecup rahang Chanyeol.

"Kau selalu membuatku hilang akal Baekhyunah. Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itukan—" Chanyeol mendorong dengan pelan. Membuat Baekhyun memekik dan melenguh; rendah, keras, dan panjang. Kedua tangannya berpegangan pada punggung Chanyeol. Mencakar dan memeluk, seakan tak ingin tubuh Chanyeol melepaskan rengkuhannya.

Gerakan mendorong Chanyeol yang pelan membuat Baekhyun merasakan betapa intensnya percumbuan mereka. Chanyeol mengerang rendah, menahan hasratnya untuk segera mendorong dengan keras. Karena yang ada di hadapannya saat ini adalah wajah luar biasa menggoda milik Baekhyun yang ingin Chanyeol nikmati tiap detiknya, dan ingin Chanyeol rekam dalam ingatannya.

Baekhyun mengetatkan tautan kakinya pada pinggul Chanyeol. Sensasinya seperti; seluruh sakit, perih, dan rasa nikmat yang menggelisahkan membuat kepalanya pening bukan main. Baekhyun mengerang putuh-putus, lalu menangis menahan gejolak yang meledak-ledak yang segera menghancurkan tubuhnya. Tatapan Chanyeol ikut membakar semua syaraf di tubuhnya.

Baekhyun meremas bahu Chanyeol, lalu terisak-isak saat pangkalnya menyentuh pubis dari intinya. Sesuatu yang tumpul, tebal dan keras menghantam titik pertahannya hingga hancur berkeping-keping. Seluruh Chanyeol kini mengisi ruang kosong di dalam diri Baekhyun. Rasanya penuh sesak namun nikmat tak berkesudahan.

Chanyeol mengecup ujung mata Baekhyun yang basah karema air mata. Setelah Baekhyun merengek dan mendesah senang, Chanyeol bergerak perlahan, mengejar apa yang telah ia cari dari awal. Gerakan Chanyeol yang menjadi acak dan hentakan keras mengaburkan mata Baekhyun. Gadis itu menjerit nikmat, hal yang sama yang di lakukan Chanyeol. Mereka saling mengejar apa yang mereka butuhkan. Baekhyun bahkan menggerakan tubuh bagian bawahnya, mencengkram Chanyeol dengan sangat kuat hingga penulis itu memberi sebuah gigitan manis di bahu si gadis.

Chanyeol belum berhenti; karena sepertinya ia tidak mau berhenti, dan tidak tahu caranya berhenti. Baekhyun tersengal keras, kuku-kuku jari kakinya melengkung kaku, menahan hasrat yang kini sudah sampai pada ubun-ubunnya.

Baekhyun menjerit manis sekali, sebelum melenguh panjang dan menciptakan goresan panjang di punggung Chanyeol. Baekhyun meledak lagi; kini dengan Chanyeol yang sedang memompanya keras juga cepat.

Banjir yang Baekhyun ciptakan membuat gerakan Chanyeol semakin keras dan cepat. Chanyeol semakin hilang, ia bergerak semakin liar tanpa berpikir apapun lagi. Apa yang ia butuhkan ada di ujung kepalanya, tapi itu saja belum cukup terpenuhi. Chanyeol kembali mengejar, meliukan badan, menarik jauh lalu mendorong keras-keras hingga Baekhyun kembali mendesah tinggi, imut sekali.

"Jagganim—aku—aku! OH! AH!!" wajah manisnya basah oleh gairah, payudaranya terpantul karena gerakan acak Chanyeol yang liar. "Aku sudah—tidak! Tidak!! cukup!! AH!"

"Belum—aku belum mendapatkannya. OH! Ya Tuhan! aku sangat memuja tubuhmu Baekhyunie!" Chanyeol menggeram keras, membuka bibirnya lebar-lebar untuk bernapas.

Keduanya menjerit; lenguhan mereka penuh dengan rasa sakit yang bercampur nikmat. Chanyeol jatuh dipelukan Baekhyun, mengistirahatkan wajahnya di antara payudara gadisnya yang masih naik turun menata napas yang tersengal.

"Ya Tuhan—apa itu tadi." Bisik Baekhyun tersengal. Tubuhnya panas berkeringat juga lengket, namun ia semakin merapatkan badannya dengan panas badan Chanyeol yang berada di atasnya.

"Tadi itu, menakjubkan." Sahut Chanyeol serak seraya melesakkan wajahnya ke pipi payudara Baekhyun yang putih dan halus.

Baekhyun mengangkat wajah Chanyeol, menariknya untuk sebuah ciuman basah yang berisik. Gadis itu mendorong kepala Chanyeol, lalu memberikan sebuah senyuman manis "You did well. Thank you for being my first—and please be my last."

Chanyeol mengecupnya sekali. "Tentu. My pleasure, baby."

Chanyeol bangkit melepaskan kondom lalu mengikatnya sembelum melemparnya ke dalam tempat sampah di bawah nakas. Ia mengenakan celana dalam sebelum kembali kepada Baekhyun di ranjang mereka.

Chanyeol membawa Baekhyun pada pelukannya. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka. Berharap malam jangan cepat berlalu, biar terang menunggu sedikit lebih lama.

Dipikirannya sekarang hanya, bagaimana cara Chanyeol akan berterima kasih pada Junmyeon nanti. Saat waktunya tepat, Chanyeol akan mengatakan perasaannya kepada Junmyeon tentang betapa ia mencintai Baekhyun.

Dan tentang Ayah dan keluarganya. Park Joonhyung—juga ibu tirinya. Chanyeol akan mencoba untuk menjelaskan semuanya. Demi Baekhyun, demi masa depan mereka.

e)(o

Halo? masih pada sehat?

sedikit ya ini?

IYA!

tapi, panas gak?

jangan lupa login sebelum review ya!

reach me on ig ya! @pandananaa.ffn