"Kau tahu, terjadi kecelakaan beruntun di daerah bukit beberapa hari yang lalu!"

"Benarkah?"

"Iya. Mengerikan sekali!"

"Iya aku juga dengar. Katanya setelah tiga mobil itu saling menabrak, kemudian ketiga mobil tersebut jatuh ke dalam jurang!"

"Hii… Mengerikan sekali! Bagaimana dengan orang-orang yang berada di dalam mobil?"

Kuroko mengabaikan cuap-cuap teman sekelasnya tentang berita terjadinya kecelakaan beberapa hari yang lalu. Ditolehkannya kepala ke depan. Tepat di depannya tempat duduk Aomine kosong untuk ketiga kalinya dalam seminggu ini. Seraya menghela nafas kecewa, Kuroko kemudian mengalihkan pandangannya ke light novel yang baru saja dibelinya tanpa minat membacanya. Memandang kosong susunan kalimat pada kertas di lembar kedua buku tipis itu.

.

.


'Kagami itu sudah bosan dengan kita semua! Makanya dia pergi begitu saja tanpa memberi kabar. Heck, bahkan aku yakin ia tidak pernah menganggap kita ada walau hanya sebagai teman. Jadi buang fikiran kita tentang dia! Kagami yang hebat saja tidak sanggup dengan kita, apalagi mereka yang lemah?!'


.

.

"Murasakibara, jangan makan saat jam pelajaran berlangsung!"

Wali kelas 3-C sekaligus guru mata pelajaran sastra Jepang memukul meja dengan penggaris begitu memasuki ruang kelas.

"Tapi aku lapar." Jawab Murasakibara malas.

Guru tersebut hanya bisa menghela nafas kemudian menatap murid yang berada di barisan paling depan.

"Ada yang tahu tentang Kise Ryouta?"

"Hari ini ia ada jadwal pemotretan di luar kota, Pak."

"Lagi? Kuharap ia dapat mengejar ketertinggalan nanti. Baiklah kita lanjutkan pelajaran hari ini. Dan tolong makan dengan tenang, Murasakibara."

"Hn."

.

.

"Momoi Satsuki, Pelatih Sanada menunggumu di ruang guru."

"Ah, kalau begitu saya permisi keluar sebentar, Sensei."

Momoi segera keluar kelas begitu mendapat anggukan dari guru yang baru saja masuk ke kelasnya. Mengabaikan tatapan menyelidik dari Midorima, Momoi menutup pintu kelas perlahan dan berjalan menyusuri lorong kelas yang kosong menuju ruang guru. Setelah mendapat izin masuk, ia segera mendatangi meja Pelatih Sanada.

"Ada keperluan apa Coach?"

"Silahkan duduk dulu, Momoi."

Momoi menarik kursi ke belakang lalu mendudukinya.

"Bagaimana perkembangan teman-temanmu?" Momoi tersenyum kecut.

"Sepertinya bapak harus memberitahu kepada kalian semua nanti tentang suatu hal."

"Maksud bapak?" Momoi menatap bingung pelatih basket yang sedang mengusap wajahnya gusar.

"Suruh semuanya berkumpul di gym minggu depan. Tanpa terkecuali."

.

.

"Aku hargai keputusanmu untuk tidak memberitahu mereka sebelumnya, Sensei. Tapi bukankah mereka berhak tahu sejak awal?" Ujar Nijimura dari seberang telepon.

"Aku sendiri meragukan keputusan yang sudah ku buat sebelumnya, Nijimura. Maka dari itu aku berniat memberitahu mereka sebelum terlambat." Pelatih Sanada menghembuskan nafas lelah.

"Tepat sebelum ujian? Apa itu tidak mengganggu mereka nantinya?" Terdengar nada khawatir dari Nijimura.

"Mereka berbeda, Nijimura. Aku yakin kabar tentang keberadaan Kagami Taira membuat mereka lebih bersemangat. Apalagi kalau mereka tahu tentang pertandingan yang diikutinya."

.

"Apa maksudmu, Momoi?" Coach Sanada memandang bingung Momoi.

"Maafkan aku Coach. Tapi mereka semua tidak ada yang mau mendengarkanku. Bahkan Tetsu-kun, maksudku Kuroko Tetsuya tidak bisa kutemukan. Ia bahkan mengalihkan semua panggilan teleponku." Momoi tertunduk lesu.

"Tidak apa, Momoi. Ini semua salahku. Harusnya sejak awal aku memberitahu tentang Kagami Taira kepada kalian." Pelatih Sanada menepuk pelan pundak Momoi.

"Eh? Apa maksud pelatih? Bukankah ia pergi karena tidak sanggup dengan kami?" Pelatih Sanada tertawa. Membuat Momoi semakin tidak mengerti.

"Bisa dapat kesimpulan dari mana kalian? Kagami Taira harus segera kembali ke Amerika karena mendapat panggilan bermain di sana. Ia lupa mengabari kalian karena ponselnya dicuri dan hanya bisa menelepon lewat sekolah karena hanya nomor telepon sekolah yang bisa ia temukan lewat brosur yang ada di tasnya."

"Jadi…." Kedua mata Momoi membulat.

"Sebentar. Kalian semua berfikir demikian?! Sial! Gara-gara aku tidak memberitahu kalian lebih awal malah jadi seperti ini." Pelatih Sanada merutuki dirinya sendiri sementara Momoi membatu.

.

.

.

-SEASON 1 SELESAI-