.

.

.


.

.

.

Jongin masih tak percaya jika gadis yang berdiri di depannya adalah Kim Kyungsoo. beberapa menit yang lalu jongin mendapati Kyungsoo bersama Oh Sehun. Kyungsoo, gadis yang di maksud Ken, gadis yang diinginkan Ken.

"Jadi... kau...Kim Kai?" itu kesekian kalinya Kyungsoo bertanya pada Jongin dan Jongin tidak menjawabnya, ia hanya diam. "Dan kau membuat Daehyun terluka parah?" tanyanya lagi.

"Diamlah, Kyungsoo!" bentak Jongin membuat Kyungsoo terperanjarat "Apa sekarang itu penting? Sekarang kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, dia menginginkanmu!" tunjukknya pada Ken yang tengah berdiri dengan teamnya dan juga Sehun.

Kyungsoo hanya melirik sekilas. Ia membuang nafasnya secara kasar.

Jongin mengacak rambutnya frustasi, dalam kondisi seperti ini ia sendiri tidak yakin dnegan keputusannya melawan Ken. Maksud ia datang kemari adalah untuk mencari gara-gara agar ia bisa melampiaskan kekecewaannya terhadap Joonmyeon. Namun semua makin rumit setelah Kyungsoo datang. Mungkin Sehun harus menjelaskan sesuatu padanya.

"Harusnya kau bisa merasakan apa yang Sehun rasakan dulu ketika kau menantangnya!"

Jongin mendelik "Kau...? apa yang Sehun ceritakan padamu?"

Kyungsoo menggeleng "Cukup membuatku tahu siapa Kim Kai! Dan aku kecewa ternyata itu dirimu!"

"Aku memiliki alasan kenapa aku melakukan ini!"

"Apa? Melindungiku? Melindungiku dari apa? Kau membuat Daehyun cedera dan harus pindah sekolah! Itu maksudmu, kau membuatku di benci oleh wanita yang menyukai Daehyun..! Kau membuat Luhan dan Sehun dalam hubungan yang rumit! Seberapa banyak lagi kejahatan yang kau lakukan yang tidak aku tahu, eoh!?"

Jongin mendekat pada Kyungsoo hingga jaraknya dengan Kyungsoo hanya beberapa jengkal. Jongin meraih zipper jaket yang Kyungsoo kenakan lalu menariknya ke atas "Disini dingin... seharusnya kau memakainya dengan benar!" Kedua tangan Jongin memegang pundak Kyungsoo dan menepuk-nepuknya beberapa kali "...aku akan menang! Aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan Ken! Dan setelah itu aku akan menceritakan semuanya!" lanjutnya dengan lembut. Lalu ia berlalu dan meninggalkanKyungsoo yang masih mematung. Jongin menyusul beberapa temannya yang sudah stanby di arena balap.

Kyungsoo memandang nanar ke arah punggung Jongin yang makin menjauhinya. Tanpa sadar, kini Sehun berdiri di sampingnya.

"Ku harap kau tidak menyesalinya setelah ini!" katanya membuat Kyungsoo menggeleng pelan.

"Terima kasih! Terimakasih kau sudah membantuku!"

Sehun menepuk-nepuk pundak Kyungsoo "Berdoalah agar Jongin menang! Jika Jongin kalah, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu! Ken bukan pria yang baik dalam memperlakukan seorang gadis! Aku hanya memperingatimu, seharusnya tadi kau tidak menyetujui taruhan ini!" lanjutnya.

Kyungsoo hanya mengangguk.


"Aku merindukannya..." Tanpa sadar Minnie bergumam di depan layar ponselnya. "Astaga ! apa yang aku katakan? Tidak...tidak.. ini tidak benar!" Minnie men-lock kembali ponselnya dan kembali membalut tubuhnya dengan selimut lagi. "Kenapa dia tidak menghubungiku?" katanya lagi sambil menatap langit-langit. Minnie kembali meraih ponselnya, ia membuka aplikasi line nya dan menampilkan halaman chat-nya bersama Jongdae. Wajahnya muram ketika ia mengingat terakhir kali Jongdae mengirimnya pesan sekitar empat harian yang lalu.

"Jaljayo, Jongdae-yah.." Minnie mengetik pesan itu disertai emoticon kiss-nya. "Omo! apa ini, tidak..tidak ini kekananakan..hapus..hapus...!" Minnie menghapus pesan yang baru saja di ketiknya. "Harus lebih natural, eum...Jongdae-yah, aku lapar! Temani aku makan ramyeon?" Minnie kembali mengetik pesan sesuai dengan apa yang dia ucapkan. "Oh, ini terkesan murahan sekali!" Hapus. Minnie menghapus kembali.

"Otthokkae, aku merindukannya...!?" Minnie kembali bermonolog. Minnie masih memainkan ponselnya.

"Bodoh! Kenapa kau tidak menghubungiku?"

"Boghossipo-yo!"

"Bukankah kita masih memiliki 7 kali kencan? Waktu sudah menunjukkan akhir bulan..."

"Bagaimana jika kita pergi camping?"

"Berdua?"

"Yak!..."

"Aku tidak bisa tidur...!"

"Aku membencimu!"

Send!

"Andwe..!" Minnie memekik ketika ibu jari mungilnya menekan tombol send. "Ya Tuhan... bagaimana ini?" Minnie beranjak dari tidurnya dan mondar-mandir di kamarnya. Ia menggigit-gigit jemarinya. Ia merutuki kebodohannya sendiri ketika ia tanpa sadar mengeluarkan unek-uneknya sambil mengetik pesan ke Jongdae. Minnie membuka kembali ponselnya. "Eeoh.. belum dibaca? Apa dia sudah tidur?" Minnie melirik ke arah jam dindingnya. "Sepertinya dia sudah tidur.. ini kesempatanku untuk mengambil ponselnya dan menghapusnya!" Minnie bejalan keluar kamarnya.

Ia berjalan pelan ke kamar Jongdae. Jongdae memiliki kebiasaan tidak mengunci kamarnya ketika ia sedang tidur. Dengan mengendap-endap ia membuka dan masuk ke dalam kamar Jongdae.

"Benar dia sudah tertidur, syukurlah!" Minnie bernafas lega ketika melihat Jongdae tengah meringkuk di kamarnya. Namun ada sedikit rasa aneh yang mengganjal ketika mengetahui Jongdae tengah tidur. Minnie melirik ke atas nakas. Disana ponsel milik Jongdae.

"Itu dia!" katanya girang. Dengan pelan Minnie melangkahkan kaki mungilnya agar tidak bersuara dan mengganggu Jongdae yang tengah tertidur. Minnie mengambil pelan ponsel Jongdae seperti maling. Minnie tersenyum senang. Ia mengusap layar ponsel adiknya.

"Mwo? Kenapa di password sih? Pattern code? Yah Tuhan... bagaimana ini?" Minnie mendelik ketika ia tidak bisa membuka password ponsel milik Jongdae. "Mian, Jongdae-yah! Tidak ada cara lain.. aku harus mengambil ponselmu!" lirih Minnie lalu berjalan pelan menuju kamarnya sebelum Jongdae bangun.

Minnie bernafas lega ketika ia berada di luar kamar Jongdae dan menutup pelan pintu kamar adiknya itu.

"Minnie eonnie! Apa yang kau lakukan?" itu suara Krystal dari arah tangga membuat Minnie dengan cepat menyembunyikan ponsel Jongdae yang ditangannya ke belakang tubuhnya.

"Eh..." Minnie tersenyum kikuk. "Krys..Krystal... ?" tanya Minnie terbata.

Krystal mengernyitkan keningnya. "Apa yang eonnie lakukan dikamar Jongdae oppa?"

Minnie menggeleng "Tidak..tidak.. eh, maksudku aku mau ke kamar mandi, kamar mandi dikamarku sedang sedikit bermasalah!" kata Minnie berbohong.

Krystal hanya mengangguk, "Baiklah jika begitu, eonni aku ke kamar dulu yah!" kata Krystal dengan nada bicara yang setengah mengantuk.

Minnie mengangguk "Apa Kyungsoo sudah tidur?" tanya Minnie.

Krystal menghentikan aksi mengucek matanya "Dia kan tidur ditempat temannya malam ini, eonnie!"

Minnie mengernyitkan dahinya "Benarkah? Tumben sekali dia tidak meminta ijin padaku, ah sudahlah sebaiknya kau kembali ke kamarmu!" titah Minnie.

Krystal mengangguk kemudian berjalan ke arah kamar Kyungsoo.

Minnie kembali menuju kamarnya. Ia menggeser layar ponsel milik Jongdae. "Huh! Tidak ada cara lain! Maafkan aku Jongdae!" Minnie membongkar ponsel Jongdae dengan melepas batrainya, kemudian memasukkan ponsel yang tidak bernyawa itu ke dalam laci nakasnya.


Kyungsoo menatap garis finish yang belum juga menunjukkan tanda-tanda siapa pemenang balap motor antara Ken dan Jongin. Jauh di dalam hati Kyungsoo berharap Jongin yang menang. Tentu ia tidak mau menjadi milik Ken. Dan lagi pula Kyungsoo bukan barang.

Kyungsoo memejamkan matanya. Ia berdoa pada Tuhan agar adiknya mencapai garis finish terlebih dahulu.

"Untuk pertama kalinya aku mengharapkan Kai menang!" ujar Sehun yang berdiri di samping Kyungsoo.

Mendengar itu Kyungsoo membuka matanya dan menoleh ke arah Sehun "Bukannya kau membencinya?" tanyanya.

Tanpa memandang Kyungsoo, Sehun menjawab "Benar, aku memang membencinya! Tapi aku tidak membencimu, aku tidak rela jika kau bernasib sama seperti Luhan! Bagaimana pun aku pernah di posisi Kai!"

Kyungsoo mengerutkan keningnya, "Saat itu, kenapa kau menerima tantangan Jongin?"

Sehun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab "Kau tahu arti harga diri seorang pria? Bukan terletak pada cinta atau pun wanita, tapi ketika saat kami di pandang rendah!"

"Tapi kau mengorbankan perasaan Luhan hanya demi harga dirimu!" potong Kyungsoo cepat.

Sehun tersenyum "Memang! Saat itu aku berjuang mati-matian agar Luhan tidak lepas dariku tapi yah... saat pertandingan aku tidak fokus! Pikiranku saat itu hanya tentang Luhan tapi ternyata Kai menggunakan kelemahanku untuk mengalahkanku! Ku pikir saat ini Kai pun tidak fokus pada pertandingannya!"

Kyungsoo kembali ke melirik ke arah sirkuit, masih belum terlihat siapa yang akan mencapai garis finish terlebih dahulu.

"Hah! Itu mereka!" Ravi berteriak membuat Kyungsoo mengikuti ke arah suara Ravi.

"Jongin!" Kyungsoo bergumam saat motor yang ia ketahui milik adiknya memimpin. Kyungsoo tersenyum.

"Kau, selamat dari Ken, Kyungsoo-yah!" kata Ravi sambil tersenyum.

Kyungsoo mengangguk. Kedua matanya mengekor ke arah motor sport Jongin yang akan mencapai garis finish beberapa meter lagi.

Kyungsoo menangkap tatapan Jongin dari dalam helm yang tengah ia kenakan. Hingga akhirnya mata Kyungsoo melotot lebar ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri motor yang dikenderahai Jongin kehilangan keseimbangan. Jongin terseret beberapa meter melebihi garis finish.

SREEEEETTTT...

Sehun dan Ravi tercengang. Bahkan Ken berhenti sebelum mencapai garis finish saat melihat motor Jongin oleng dan menyeret si empunya.

"JONGGGGIIIIIN!" teriak Kyungsoo dan berlari kearah Jongin yang sudah tergeletak dengan satu kakinya tertindih tubuh motornya.

Dengan setengah sadar Jongin melihat Kyungsoo berlari kerahnya. Wajah gadis itu panik. Jongin tersenyum hingga akhirnya ia menutup mata dan hanya mendengar teriakan Kyungsoo yang menyebut namanya.


Berkali-kali Yixing menggedor pintu kamar putranya. Kamar Jongdae.

"Wae eomma?" Jongdae keluar juga akhirnya dengan tampilan yang acak-acakan. Dia harus memotong mimpi indahnya bersama Minnie karena gedoran maut Yixing. Hah, bahkan dalam mimpinya ia melihat Minnie masuk ke dalam kamarnya.

"Jongin ...Jongin ... Jongin belum pulang!" kata Yixing panik.

Jongdae memberanikan diri membuka matanya lebar-lebar, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu "Mungkin dia sedang nongkrong dengan teman-temannya, eomma! Bukankah ini bukan pertama kalinya ia tidak pulang!"

Yixing menggeleng. Yixing tidak terlalu khawatir jika Jongin tidak mempergokinya tengah bertengkar dengan Joonmyeon. Yixing juga tidak akan khawatir jika Jongin keluar tanpa emosi. "Ini berbeda Jongdae-yah! Jongin..Jongin... ah, kau harus mencari adikmu!" kata Yixing.

Jongdae mengusap wajah, "Eomma! Ini sudah menjelang pagi dan Jongin bukan anak kecil! Dia akan pulang sebentar lagi..."

"Tidak, Jongdae-yah!" potong Yixing "...Jongin sedang marah pada eomma dan appa! Eomma takut dia melakukan hal yang tidak-tidak!"

Jongdae mendesis "Akan ku coba hubungi beberapa temannya, eomma! Tenanglah!" Jongdae masuk ke dalam kamarnya.

Yixing hanya mengangguk. Sejak Jongin memergokinya tengah bertengkar dengan Joonmyeon. Baik antara Yixing maupun Joonmyeon tidak saling bicara. Keduanya diam. Hingga akhirnya Yixing begitu khawatir pada putranya.

"Eomma!" Jongdae menghampiri Yixing "Ponselku dimana?"

"Kenapa kau tanya eomma, itu kan ponselmu! Tolong Jongdae-yah! Bercandamu tidak lucu kali ini!"

"Aku bersungguh-sungguh, eomma! Aku tidak menemukan ponselku! Ish!..." Jongdae terlanjur frustasi. Ia terlampau kesal karena pertama, eomma-nya menggedor pintu kamarnya dengan tidak elit, kedua saat ia membutuhkan ponselnya tiba-tiba ia lupa meletakkan dimana ponselnya dan sekarang ia semakin kesal karena ekspresi Yixing yang terlihat panik.

Yixing dan Jongdae menoleh ke arah pintu kamar Minnie yang terbuka menampilkan seluit tubuh mungil Minnie yang menurut Jongdae tetap cantik meskipun baru bangun tidur.

"Minnie-yah! Jongin belum pulang!" rengek Yixing ketika Minnie menghampiri mereka.

"Bukannya itu sudah biasa eomma?" tanya Minnie.

"Untuk hari ini tidak biasa, sayang! Astaga! Kenapa eomma tidak kepikiran Kyungsoo, Kyungsoo pasti bisa menghubungi Jongin atau kontak teman-temannya!" Yixing ingat jika Kyungsoo dan Jongin hamir memiliki teman yang sama.

"Loh, Kyungsoo bukannya menginap di tempat temannya, eomma tidak tahu?" tanya Minnie.

"Hah? Astagaaa...!"

"Tumben sekali Kyungsoo menginap ditempat orang lain?" tanya Jongdae heran.

"Biar aku coba hubungi Kyungsoo, eomma!" Minnie meraih ponsel yang berada di saku piyama nya. Namun belum sempat ia mendial nomer Kyungsoo tiba-tiba ponselnya berdering. "Eh..." gumamnya. Matanya masih menatap layar ponselnya.

"Ada apa, noona?" tanya Jongdae penasaran begitu juga dengan Yixing.

Minnie mendongkak "Ada nomer asing menelponku! Aku tidak mengenal nomernya, dan saiapa yang ..." belum sempat Minnie menyelesaikan ucapannya, ponselnya kini berpindah tangan ke tangan Jongdae.

Dengan malas Jongdae menggeser mode menjawab di ponselnya. "Haloo... nugu.. Oh Sehun?" Minnie menatap Jongdae yang menyebut nama Sehun.

Minnie ingat nama itu, itu adalah kekasih Luhan –sahabat Jongdae-. Minnie mengerutkan keningnya, untuk apa Sehun menghubungiku?.

"Apa? Rumah sakit..? Rumah sakit mana? Euh! Aku akan kesana! Ne... terimakasih!" Jongdae mengakhiri panggilannya dan kembali menyerahkan ponselnya pada Minnie yang tengah menatapnya penuh tanda tanya.

"Rumah sakit? Siapa yang dirumah sakit, Jongdae-yah?" tanya Yixing.

Jongdae menatap melas ke arah eomma-nya. "Eomma..." lirihnya. Wajar jika Yixing panik tentang Jongin, mungkin Yixing memiliki firasat buruk tentang si bungsu. "...Eomma mau ikut ke rumah sakit?"

"Iya, tapi siapa yang..."

"Anniyo.. eomma sebaiknya istirahat! Aku akan ke rumah sakit sekarang, Minnie noona akan menjaga eomma!"

Yixing memegang lengan anaknya "Apa sesuatu hal buruk terjadi...?" tanyanya.

Jongdae makin tidak tega. tidak tega melihat bagaimana ekspresi Yixing jika tahu hal buruk menimpa anaknya.

"Jongdae-yah! Jangan membuat kami panik, eoh? Ada apa? Kenapa Sehun menghubungiku? Apa...?"

"Kyungsoo dan Jongin berada di ruma sakit sekarang..." lirih namun bisa di dengar oleh Yixing dan Minnie yang terkejut.

Yixing hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan namun dengan cepat Minnie menahan lengan eomma-nya.

"Eomma, gwenchanayo?" tanya Minnie.

Yixing mengangguk, "Ayo kita siap-siap ke rumah sakit! Kyungsooku da Jonginku di rumah sakit, ayo kita kesana... eoh! Jika kalian masih mengantuk, eomma yang akan menyetir, ayo siap-siap..." Yixing mulai meracau tidka jelas membuat Jongdae menarik nafasnya dalam-dalam.

Anak-anak adalah kelemahan Zhang Yixing!

"Aku akan menyiapkan mobil, noona dan eomma bersiaplah" kata Jongdae akhirnya, sebelumnya ia masuk kedalam kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan berganti pakaian.


Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya namun pada kenyataanya kini Kyungsoo berada dirumah sakit. Ikut mengantar Jongin ke rumah sakit. Kyungsoo mendongkak saat Sehun mendekatinya.

"Kau yakin tidak ingin menemuinya?" tanya Sehun yang berdiri di depan Kyungsoo.

Kyungsoo tak menjawab namun sorot matanya mengisyaratkan 'bagaimana keadaan Jongin?'

"Jongin baru saja di pindah ke kamar inap! Dia cedera di bagian kaki kanannya dan tangan kanannya! Dia harus mengenakan arm sling" kata Sehun.

Kyungsoo mengangguk.

"Dia juga sudah sadar..." lanjutnya.

Kyungsoo mengangguk lagi.

Sehun duduk di samping Kyungsoo "Aku tahu sedalam apa kecewa mu padanya, tapi dia sedang terluka sekarang!"

"Aku masih belum mengerti... boleh tinggalkan aku sendiri?" pintanya.

Sehun mengangguk.


Sehun membuka pintu salah satu kamar inap di rumah sakit. Ia melihat pasien yang duduk bersandar dengan tangannya yang di gendong. Si pasien melirik tajam ke arah Sehun. Seolah menandakan jika ia tidak mengharapkan Sehun disini.

"Mana Kyungsoo?" tanyanya dingin.

Sehun mengehela nafasnya. Jika bukan karena ke adaanya yang meprihatinkan mungkin Sehun sudah menghajar wajah dingin itu. "Dia diluar... dia belum ingin bertemu denganmu!"

"Ini semua salahmu!" sembur Jongin "Kenapa kau membawa Kyungsoo ke arena balap?"

"Dia memaksaku! Lagi pula dia terlalu penasaran dengan Kim Kai!" jawab Sehun dengan nada yang tidak kalah dinginnya. "Jangan bertingkah dulu, kaki dan tanganmu untuk sementara tidak bisa digunakan!" lanjutnya.

Jongin hanya mendecih.

"Keluargamu sedang menuju kemari, tadi aku menghubungi Minseok noona.."

Jongin tidak merespon. Mendengar nama keluarga, ingatannya kembali berputar pada beberapa jam yang lalu dimana ia mendengar pertengkaran Yixing dan Joonmyeon, menemukan sebuah fakta jika appa-nya adalah seorang gay dan dengan beraninya menampar seorang wanita yang sudah menemaninya dan memberikan keturunan.


Hingga siang menjelang Jongin masih belum melihat Kyungsoo menjenguknya. Setelah Minnie, Jongdae, Yixing dan juga Joonmyeon datang, Sehun pamit pulang dan mengantar Kyungsoo pulang. Kyungsoo yang memintanya. Dan Jongin tidak melihat wajah Kyungsoo kecuali terakhir kali saat Kyungsoo berlari ke arahnya dengan wajah panik.

Yixing duduk di samping ranjang Jongin, menatap sendu ke arah putranya yang engga menatapnya kembali. Di sofa ada Ryeowook dan Krystal.

"Sayang, sudah waktunya makan siang! Kau makan yah,?" suara lembut Yixing kembali terdengar untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya juga Jongin menggeleng.

Ryeowook menghela nafas panjang, dengan tergopoh ia mendekati ranjang cucu bungsunya itu.

PLAK.

"Awww... haelmonie!" pekik Jongin ketika dengan seenak jidatnya, Ryeowook menepuk kaki Jongin yang di perban.

"Aigoo...cucuku sangat nakal! Kau sudah membebani eomma-mu dengan balapan liarmu, dan sekarang kau membuatnya bersedih karena kau tidak mau makan!" omel sang nenek "Kau! Akan menemukan dimana lagi eomma seperti Yxing, eoh?" lanjutnya.

Yixing mengelus kaki Jongin yang baru saja mendapat sapaan hangat dari Ryeowook.

"Bahkan jika kau mencari kepenjuru dunia, kau tidak akan menemukan seorang ibu seperti ibu mu sekarang! Berhenti membuatnya menangis!" Ryeowook masih mengomel.

Krystal kini berdiri di dekat Ryeowook "Anak nakal ini tidak akan jera dengan ceramahan, grammy!" celetuknya.

Jongin mencibir "Anak kecil itu benar, haelmonie! Berhenti mengomeliku, itu akan memperpendek usiamu," oloknya membuat Ryeowook mendelik.

"Yak! Kau! Heung! Kelakuanmu benar-benar memperpendek umurku! Ah sudahlah, Krystal, sebaiknya temani aku keluar, aku perlu menghirup udara segar !"

Ryeowook dan Krystal meninggalkan Jongin dan Yixing.

"Jongin-ah!" suara lembut Yixing kembali terdengar.

Jongin menoleh kearah Yixing. Jongin dapat meliha jejak-jejak mutiara bening di pipi wanita itu. Jongin menyesal sudah membuat Yixing menangis.

"Mengenai appa-mu, tolong maafkan dia!"

Benar. Ryeowook benar. Dimana lagi ia akan menemui wanita seperti Yixing.

"Jangan kuasai hatimu dengan kebencian, sayang!" Yixing menggenggam tangan Jongin "Eomma masih sanggup menahan sesak, bersikaplah seolah kau tidak mengetahui apapun!"

Jongin menarik nafasnya panjang-panjang "Dia menyakitimu, eomma!"

Yixing menggeleng "Tidak sayang! Eomma yang terlalu takut kehilangan appa-mu! Tapi sekarang eomma sadar, ada yang lebih takuti!" Yixing mengelus sayang kepala sibungsu "Kalian... eomma takut kehilangan kalian! Berjanjilah sayang, untuk tidak membuat eomma khawatir dan takut, yah?"

Layaknya seperti mantra, Jongin mengangguk.

"Untuk kali ini, sembunyikan masalah ini dari saudara-saudaramu, yah?"

Jongin menarik nafasnya dalam-dalam. Ia memandangi langit-langit kamarnya "Eomma... berapa rahasia lagi yang harus aku tutupi?" tanyanya lirih.

Yixing tersentak "Eoh? Ma..maksudmu?"

Jongin menoleh ke arah Yixing. "Minnie noona! Apa ada rahasia lain yang eomma tutupi selain orientasi seks appa dan Minnie noona yang bukan noona kandungku?"

Yixing menutup mulutnya dengan kedua tanganya. Bagaimana bisa Jongin tahu tentang masalalu Minnie?. Bukannya menjawab, Yixing malah menggelengkan kepalanya.

"Eomma, aku tahu ! eomma begitu tertekan dengan yang semua eomma sembunyikan, eomma bisa berbagi denganku!"

Yixing tersenyum, sedikit tidak menyangka jika anak bungsunya yang jahilnya setengah mati ternyata memiliki sisi yang melankolis. Atau mungkin efek kecelakaannya. "Yang pasti yang eomma sembunyikan dari kalian adalah sesuatu hal yang terbaik!"

Itu adalah hal terbaik bagi kalian untuk tidak mengetahuinya.


"Noona?" tanya Jongin ketika melihat Minnie datang ke kamar inapnya. Yixing baru sjaa pulang karena di paksa oleh Jongin. Jongin tidak tega melihat eommanya terlalu lelah.

"Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu?" tanya Minnie sambil menyalakan suhu penghangat ruangan.

Jongin menggeleng. Aku berharap Kyungsoo yang disini.

"Besok kau sudah boleh pulang! Dasar anak bandel!"

"Kyungsoo tidak ikut?"

Minnie duduk di kursi "Tidak, katanya banyak tugas!"

Jongin mengangguk. Seharian ini Jongin tidak melihat Kyungsoo. "Jadi, noona akan menemaniku malam ini?"

Minnie mengangguk "Kau berharap eomma? Dan aku tidak mengijinkan eomma terlalu lama dirumah sakit!"

Jongin kembali diam, pikirannya mengudara. Mencari sosok mungil yang dirindunya. Jongin harus rela lamunannya terpaksa buyar ketika Jongdae datang dengan suara lengkingannya.

"Jongin-ah! aku datang... aku membawa ayam goreng pedas dan beer!" katany lalu meletakan beberpa kantong kresek diatas meja. Ia mendekati Jongin "Kakimu sudah seperti udang goreng tepung!" oloknya. "Kaki jalan menggunakan kruk, tangan digendong arm sling, ckckckck..."

"Hyung! Jika kau kemari hanya untuk mengejekku sebaiknya kau pulang saja sana!" usir Jongin.

Jongdae terkekeh "Aku kemari bukan untukmu! Tapi aku akan kencan dengan Minnie noona!"

Jongin bergidik geli melihat ekspresi Jongdae. Ia melirik Minnie yang tengah membereskan bawaan Jongdae. Sepertinya ia tidak mendengar apa yang Jongdae katakan.

Jongdae duduk di kursi dekat ranjang Jongin. Minnie masih mengacuhkannya.

"Hyung, ponsel baru?" tanya Jongin.

Jongdae yang baru saja mengelurkan ponselnya untuk bermain game online, mengangguk "Ponselku hilang.. aku ingat sekali semalam aku meletakkannya di atas meja!" jawab Jongdae.

"Mungkin kau lupa, atau seseorang mengambilnya!" balas Jongin.

Minnie yang mendengar percakapan mereka hanya diam. Ia meneguk beer kalengan yang dibawa Jongdae. Sedikit bersalah, karena pada kenyataannya ia yang mengambil ponsel Jongdae.

"Noona, aku mau ayam gorengnya..." seru Jongin membuyarkan lamunan Minnie.


Makan malam tanpa Jongin, Minseok dan Jongdae. Entah memang tanpa mereka atau memang karena faktor lain, tapi makan malam kali ini sangat dingin. Tak ada percakapan. Yang ada hanya dialogue antara sendok dan piring yang saling beradu kesakitan.

Joonmyeon memperhatikan Yixing yang tengah memperhatikan Kyungsoo. Sejak pagi tadi di rumah sakit, Yixing memang memperhatikan Kyungsoo yang lebih banyak diam. Bahkan dari cara makan Kyungsoo snagat terlihat sekali Kyungsoo tidak bernafsu.

"Sayang..." Yixing memanggil kyungsoo.

Kyungsoo mendongkak.

"Kau sakit?"

Kyungsoo menggeleng.

"Makanmu sedikit sekali, atau masakan eomma tidak enak?"

Kyungsoo menggeleng lagi "Seperti biasa, enak eomma!"

"Kau kenapa?" Kini Joonmyeon ikut bertanya "...kau kepikiran Jongin?"

Kyungsoo menggeleng "Aku sudah kenyang, terimakasih makanannya!" Kyungsoo beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.

Aku bingung! Bingung harus bersikap bagaimana setelah aku tahu Kim Kai adalah Kim Jongin?


"Apa Jongin baik-baik saja?"

"Bukannnya kau sendiri yang melihatnya di rumah sakit tadi pagi?" jawab Yixing acuh sambil membenarkan sprei tidurya.

"Bukan itu.. apa dia baik-baik saja disana?"

"Tak perlu kau khawatirkan! Ada Minnie dan Jongdae disana"

"Yixing-ah!" Yixing menoleh ke arah Joonmyeon yang baru saja memanggilnya. "...maafkan aku!"

"Aku sudah memaafkanmu, Joonmyeon-ssi!" kata Yixing lemah. "Tidurlah... aku tahu kau lelah"

GREP

Kini Yixing berada didalam pelukan Joonmyeon. "Ku mohon jangan seperti ini, aku lelah dengan sikap dinginmu..." Joonmyeon mengeratkan pelukannya "Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan agar kau kembali seperti dulu?"

Yixing menggeleng, dengan gerakan lambat ia membalas pelukan suaminya. Jujur ia merindukan suaminya.

"Aku benar-benar sudah berubah, aku hanya mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu.." bisik Joonmyeon.

Yixing mengangguk.

"Jika kau meminta aku untuk tidak menemuinya, akan aku turuti, aku berjanji aku akan menghindarinya, atau kita bisa pindah ke luar negri..."

"Kau terlalu berlebihan tuan Kim," Yixing mendongkakkan kepalanya, ia melepas pelukannya "Aku percaya padamu... maafkan aku!"

Joonmyeon menangkup kedua pipi istrinya "Benarkah? Kenapa kau berubah pikiran seperti itu?"

"Jika kau memang masih mencintainya, pasti kau akan kembali padanya saat ia keluar dari penjara dulu... dan aku sempat mendengar percakapanmu dengannya dulu ketika kau lebih memilihku..."

"Jadi kau sudah tidak marah lagi padaku?"

Yixing menggeleng "Aku tidak mungkin menanamkan rasa benci kepada anak-anakku, aku tidak ingin mereka salah paham padamu, masalah ini masalah kita dan aku tidak ingin melibatkan anak-anak! Sudah cukup aku melihat kekecewaan Jongin... aku akan melupakan semuanya..."

Joonmyeon mengangguk "Kau benar.. kita harus melupakannya dan memulainya lagi dari awal..."

"Tapi aku membencinya" kata Yixing manja.

Joonmyeon tahu siapa yang Yixing maksud. Kris. Istrinya memang membenci Kris. Mungkin karena Joonmyeon pernah membagi cintanya, dan itu terhada pria.

"Aku membencinya!" ulang Yixing.

Joonmyeon mengangguk "Aku tahu... dan aku berjanji tidak akan bertemu dengannya, aku berjanji akan menghindarinya! Lagipula, kau tidak perlu khawatir, kau ingat kan kata anak-anak jika kris sudah memiliki keluarga baru dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan!" ucapnya lagi.

Yixing tampak termenung, kemudian dia mengangkat kepalanya menatap Joonmyeon "...aku ingin Kyungsoo berhenti mengikuti les wushu!"


Sorenya Jongin sudah di perbolehkan pulang. Yixing, Jongdae dan Joonmyeon yang membawa Jongin pulang. Cidera di kaki Jongin tidak parah jadi ia masih mampu berjalan tanpa kruk ataupun kursi roda. Hanya saja ia merasa kesulitan menggerakkan tangan kanannya.

Seperti malam ini contohnya, Jongin kesusahan memasukkan makannya ke dalam mulutnya menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya masih menggunakan arm sling. Jongin nyaris gila ketika menggerakan sumpitnya untuk meletakan potongin daging ke dalam sendok nasinya.

Melihat itu Kyungsoo iba, ia mencomot daging yang Jongin maksud dan meletakkannya di sendok makannya. Tanpa ekspresi.

Jongin melirik sekilas ke arah Kyungsoo. Sejak ia keluar dari rumah sakit, Kyungsoo tampak datar menyambutnya.

"Eomma bisa menyuapimu, sayang!" tegur Yixing. Yixing iba melihat cara makan Jongin yang kesusahan.

Jongin berhasil menggerakkan sendok ke dalam mulutnya, jika dihitung ini suapan ke empatnya. "Aku bisa sendiri, eomma! Lagi pula aku bukan orang cacat!" tolaknya setelah selesai mengunyah.

"Kau memang bukan orang cacat, tapi lihat cara makanmu, seperti bayi! Nasi tercecer di mana-mana!" tunjuk Jongdae yang pada sekita mangkok Jongin yang sedikit berantakan.

Jongin mencibir "Ini karena tanganku susah digerakkan!" balasnya.

"Biarkan noona membantumu.." Minnie yang duduk di depan Jongin meletakkan beberapa menu lauk pauk pada mangkoknya dengan begitu Jongin bisa dengan mudah mengambilnya.

"Terimakasih, noona!" kata Jongin dengan senyum manjanya.

Kyungsoo sedikit mengacuhkan suasana makan malam mereka.

"Kyungs0oo-yah!" panggil Joonmyeon membuat Kyungsoo menoleh ke arah appa-nya.

"Ne, appa!" jawabnya dengan lemah.

Joonmyeon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya bicara, "Appa mendengar nilai pelajaran mu turun di sekolah,"

Kyungsoo mengernyitkan keningnya, kemudian ia menggeleng "Semua baik-baik saja, appa!" jawab Kyungsoo.

Joonmyeon melirik ke arah Yixing dan kemudian Yixing mengambil alih pembicaraan Joonmyeon "Maksud appa, kau sudah seharusnya fokus pada Ujian sekolah, kau juga harus fokus untuk persiapan ujian SAT, jadi appa dan eomma sudah memutuskan untuk mengurangi kegiatanmu diluar sekolah..."

"Maksud eomma?" tanya Kyungsoo.

"Kau bisa kan berhenti mengikuti les wushu? Eomma tidak ingin kau terlalu lelah karena banyak kegiatan, sayang!"

"Eomma... aku bisa membagi waktuku dengan baik! dan itu tidak menganggu pada kegiatan sekolahku, bukankah kita pernah membicarakan hal ini? Aku masih bisa mempertahankan prestasi akademikku, eomma..."

"Jadi kau menolak?" tanya Yixing.

Kyungsoo beranjak dari duduknya, "Aku kenyang, terimakasih makananya!" bukannya menjawab pertanyaan Yixing, Kyungsoo malah pergi meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya.

"Yixing aunty, .." panggil Krystal membuat yang ada disana mempusatkan perhatiannya pada Krystal "Ku rasa Kyungsoo eonnie sedang dalam masalah! Dia lebih banyak diam dan beberapa kali aku menemukannya menangis diam-diam..."

"Benarkah?" tanya Yixing penasaran.

Krystal mengangguk.

"Minnie-yah! Bukannya Kyungsoo selalu menceritakan hal apa pun padamu?" tanya Joonmyeon, "Kau mengetahui sesuatu,? Appa rasa sejak kemarin malam terlihat aneh"

Minnie menggeleng "Kemarin lusa aku bertemu dengannya keluar dari kafe seberang jalan sana, ku rasa dia bertemu dengan seorang pria.. dan dia terlihat gelisah! Dia tidak menjawab dengan detail ketika ku tanya, appa!"

"Joonmyeon-ssi, apa Kyungsoo memiliki kekasih? apa ucapanku kasar tadi?"Yixing memegang lengan suaminya.

"Tenanglah sayang! Kyungsoo sedang tumbuh menjadi dewasa, dia pasti baik-baik saja!" jawabnya.

Jongin hanya menunduk. Ia tahu penyebab Kyungsoo murung. Apa dan siapa lagi jika bukan dirinya.


"Haelmonie?" tanya Kyungsoo saat melihat Ryeowook masuk ke dalam kamarnya. Saat itu Kyungsoo tengah duduk di meja belajarnya.

"Kau sedang belajar? Apa haelmonie mengganggu?" Ryeowook duduk di tepi ranjang milik Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng. Ia kini duduk di samping Ryeowook.

"Kau terlihat kurus, sayang!" Ryeowook mengelus kepala Kyungsoo kemudian membawanya ke dalam pelukannya. "Apa kau memiliki kekasih?"

Kyungsoo menggeleng dalam pelukan Ryeowook.

"Tapi gelagatmu seperti memiliki kekasih?"

Kyungsoo melepas pelukan Ryeowook "Aku benar-benar tidak memiliki kekasih, haelmonie!"

"Kau terlihat memiliki masalah sayang?"

"Tidak haelmonie, aku baik-baik saja! Dan aku sedikit kepikiran kata-kata eomma! Aku tidak mau berhenti mengikuti les wushu" rengek Kyungsoo.

Ryeowook menghela nafasnya panjang-panjang . sebenarnya ia kasihan jika cucu kesayangannya tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan. Tapi untuk kali ini Ryeowook mendukung keputusan Yixing. Mengingat jika Kris memiliki hubungan dengan guru les-nya.

"Haelmonie.. bantu aku ne! Buat eomma tidak melarangku lagi..."

Ryeowook menatap sendu ke arah cucunya "Begini sayang, bagaimana jika kau pindah tempat les saja, masalah biaya biar haelmonie yang tanggung, bagaimana?"

Kyungsoo cemberut. "Tidak, haelmonie aku sudah nyaman disana, aku dekat dengan Huang ahjumma!"

"Tapi eomma dan appa mu benar sayang, kau harus fokus pada sekolahmu,"

"Haelmonie sama saja dengan eomma dan appa!"


"Sayang, bisa tolong eomma?" Kyungsoo yang sedang berdiri di depan kulkas memutar badannya dan menemukan eomma nya tengah menata beberapa obat di atas piring kecil. Kyungsoo mendekat.

"Apa, eomma?" tanya Kyungsoo.

"Bisa antar ini ke kamar Jongin? Sudah waktunya dia minum obat, eomma harus membantu appa mu menyiapkan pakaian kerjanya, appa ada perjalanan bisnis ke China,"

"Kenapa tidak Minnie eonnie saja?"

"Eonnie mu pasti lelah karena semalam menjaga Jongin di rumah sakit dan paginya harusnya bekerja, kau kan tidak sibuk! Tolong yah,?"

Kyungsoo mengangguk. ia membawa nampan itu ke kamar adiknya. Kyungsoo menemukan Jongin tengah duduk di ranjangnya. Jongin sedikit terkejut ketika Kyungsoo menghampirinya.

Kyungsoo meletakkan nampan tersebut di atas nakas "Kata eomma ini waktunya kau minum obat," katanya dingin.

Jongin hanya mengangguk.

Kyungsoo hendak melangkah meninggalkan Jongin namun ia urungkan. Akhirnya ia duduk di ranjang Jongin dan berhadapan dengan Jongin. Jongin duduk menyandar pada headboard ranjangnya. Kyungsoo meraih obat kemudian menyodorkannya pada Jongin. Tak lupa dengan air putihnya.

"Terimakasih!" kata Jongin.

"Tidurlah, selamat malam Jongin-ah,.." Kyungsoo beranjak dari duduknya. Ia tidak tahan terlalu di dekat Jongin ada perasaan aneh yang mengganggunya.

GREP

Jongin menahan langkah Kyungsoo. Ia meraih tangan Kyungsoo.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo dingin.

"Aku membutuhkan bantuanmu,..."


Jongin tanpa berkedip memandangi sosok indah di depannya. Mata bulat, pipi tembab dan bibir penuh milik Kyungsoo membuat Jongin tidak bosan menatapnya. Baginya pemandangan itu lebih indah daripada pelangi yang terbit setelah hujan. Kyungsoo lebih indah dari pelagi, dari apapun.

Sementara Kyungsoo harus mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba ingin lompat dari tempatnya. Ini bukan pertama kalinya Kyungsoo mengalami hal ini. Tapi untuk kali pertama ia merasa gugup ditatap sebegitu dekat oleh Jongin. Kyungsoo mengacuhkan tatapan Jongin. Ia lebih memilih mengusapkan handuk kecil ke wajah Jongin dengan pelan. Setelahnya ia mengusapkan krim pencukur ke area sisi pipi dan dagu Jongin.

"Kau masih marah padaku?" tanya Jongin, mencoba mencairkan ketegangan di keduanya.

Kyungsoo hanya mengangkat kedua pundaknya acuh.

"Kau masih marah padaku.." ini pernyataan dan bukan pertanyaan.

Kyungsoo masih fokus mengolesi krim pencukur.

"Aku memang Kim Kai"

Kyungsoo menghentikan kegiatannya, dirasa cukup ia mencuci tangannya di wastafel kemudian mendekati Jongin lagi dengan alat pencukur kumis dan jenggot. Jongin yang duduk diatas closet sedikit mengangkat dagunya agar mempermudah pekerjaan Kyungsoo. Kyungsoo sedikit merunduk dengan tangan kirinya berpegang pada pundak Jongin.

"Apa yang kau lakukan setelah mengetahui aku ini Kim Kai?" tanya Jongin lagi.

Kyungsoo dengan pelan menggerakan alat pencukur. "Kau ingin aku berbuat apa?" Kyungsoo bertanya balik.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Baik" singkat.

"Aku tidak akan minta maaf padamu karena aku memang tidak bermaksud berbohong padamu"

"Tapi kau harus meminta maaf pada Daehyun dan Sehun, mereka dua orang yang kau rugikan" balas Kyungsoo.

"Bukan salahku"

"Lalu itu semua salahku?" tanya Kyungsoo.

Jongin tidak menjawab. Ia tetap memandangi wajah Kyungsoo yang sibuk dengan kegiatannya.

"Setidaknya, beri aku alasan yang masuk akal kenapa kau melakukan itu pada Daehyun ?"

Jongin meraih tangan Kyungsoo yang tengah bekerja.

Kyungsoo menghentikan kegiannya, ia berdiri dengan tegap. Kepalanya menunduk menatap Jongin yang tengah menatapnya.

Jongin mendongkakkan kepalanya. "Pria mana yang akan diam saja ketika ada orang lain yang menyakiti gadis yang paling di cintainya?"

.

.

.

DEG

DEG

DEG

.

.

.

To Be Continue !

.

.

.

Sumpah ini telat banget postnya..

Maafkan aerii guys...

Maafkan aerii yang mengecewakan readers semua..

Hiks...hiks...hiks...

Dan ceritanya sedikit "BERANTAKAN"

Sama seperti otak aerii yang sedang BERANTAKAN

.

.

.

Jika nanti aerii laaaamaaaaaaa kagak post bukan berati aerii HIATUS yah, tapi karena kesibukan aerii..

Oke, yang ini benar-benar "SIBUK"

.

.

aerii bakal nyuri-nyuri waktu luang buat ngelanjutin semua ff aerii tapi tidak dalam waktu dekat,

Sekarang masa-masa sulit buat aerii, aerii dapat tekanan dari sana sini yang bikin gak bisa tidur dengan nyenyak.. hiks..hiks..hiks...

.

.

.

Yah sudahlah, abaikan yang diatas

See you guys..

RevieewJuseeyoo

.

.

.

XOXO

==aerii==