Gundam SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate SUNRISE

"Don't Take Him!"

By Setsuko Mizuka

Rate : T

Genre : Friendship and Romance

Pairing : CagalliAthrunXX and LacusKira

Warning : Gaje, OOC (mungkin), AU, Typo(s)! Untuk komen di FB sengaja pakai kata-kata tidak baku dsb!

Summary : For my special person, Cagalli Hibiki / Pasti seorang laki-laki yang mengirimnya / Terlihat sekali kau sedang senang, apa karena kejadian semalam? / URUSAI YO! / Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? / Soal... Athrun Zala / What happened with two of us!? UPDATE CHAP 11! (Maaf telat u,u)

~ Chap 11 : Relationship Without Status ~

Athrun Prince Zala menambahkan foto baru di album Athrun's Album Photos

My Princess with A Tiger Baby

[Foto Cagalli bersama anak harimau sewaktu mereka pergi ke kebun binatang dengan wajah tersenyum bahagia dan terlihat sangat natural. Tampak sinar matahari sedikit menyinari wajahnya. Alami dan tak ada editan ataupun tambahan lainnya dari Athrun] –bersama Princess Blonde Hibiki.

6 jam yang lalu. Suka. 100 suka. 42 komentar

Kira Found Freedom :3 kawaii na my sweet twin sister!

Lacus Queen Pink jadi dugaanku benar, Athrun ngambil foto Cagalli diam2

Prince Cute-Green Nicol baru kali ini kau upload foto perempuan, Ath. Tanda-tanda nih biasanya, haha

Shiho JustLoveSomeone Joule aw! makin keliatan aja... ^_~

Milly For Elthman keliatan apa, Shiho? Jangan-jangan...

Shiho JustLoveSomeone Joule -_-* jgn mikir yg macam2, Milly!

Milly For Elthman siapa yg mikir macam2 coba? Hooo!

Dearka AlwaysBeside Milly ayang Milly pikirannya jadi begitu, ckckck

Milly For Elthman WHAT THE H*LL WITH YOUR NAME!?

Dearka AlwaysBeside Milly memang kenapa? Lucu kan namanya? ;D

Milly For Elthman LUCU!? #kabur ke kemar mandi#

Dearka Love Miriallia baiklah, sudah kuganti tuh demi ayang Milly... ~_~

Athrun Prince Zala -_- kalau mau mesra2an jgn di komenan saya

Kira Found Freedom bilang aja ngiri sama mereka berdua, Ath

Lacus Queen Pink aku jadi ingin ikut2an ganti nama nih

Athrun Prince Zala [aKira: siapa yg ngiri lagi!? [aLacus: tinggal ganti nama aja repot banget -_- [aNicol: tanda2 apa, Col?

Prince Cute-Green Nicol tanda-tanda KIAMAT! -_-*

Athrun Prince Zala #gubrak#

Yzak's Cool Man cieh, pura-pura gak tau

Shiho JustLoveSomeone Joule apaan siiieeeh?

Lacus Queen Pink sepertinya masih ada yang marahan? #lirik samping

Athrun Prince Zala marahan?

Kira Found Freedom yg pasti sih bukan Athrun Prince Zala dan Princess Blonde Hibiki

Athrun Prince Zala iyalah, tadi kan habis...

Shiho JustLoveSomeone Joule habis apa ayooo?

Yzak's Cool Man mau tau aja urusan orang

Shiho JustLoveSomeone Joule apaan sih!? Merasa ditanya apa!?

Dearka Love Miriallia udahlah kalian, berantem mulu sih, bosen liatnya

Yzak's Cool Man kalo bosen gak usah diliat, baka!

Kira Found Freedom [aAthrun: habis apaan, Ath? #sambil bawa pemukul baseball# [aYzak&Shiho: baikan dong, jangan marahan begitu :)

Shiho JustLoveSomeone Joule #off

Yzak's Cool Man #off

Miriallia For Elthman bener2 gak ngerti sama masalah mereka...

Lacus Queen Pink sama... oh iya, mana nih Princess Blonde Hibiki nya?

Athrun Prince Zala gak tau deh

Kira Found Freedom paling belum buka FB sejak dua bulan yang lalu...

Athrun Prince Zala o.O lamanya...

Kira Found Freedom apa yg kalian lakukan kemarin malam?

Dearka Love Miriallia Athrun dan Cagalli maksudnya, Kira?

Kira Found Freedom iyalah terus siapa lagi!?

Athrun Prince Zala gak ada, oh iya, saya off karena ngantuk #off

Lacus Queen Pink bilang aja gak mau jawab dan kabur -_-o

GUNDAM SEED DESTINY

Cagalli Hibiki termangu sebentar menatap layar ponsel Android miliknya yang baru saja menyala dan bergetar. Gadis itu heran setelah melihat layar tersebut memperlihatkan sebuah pesan masuk dan nama si pengirim pesan. Meyrin? Tumben kirim e-mail?

Klik.

"Hm?"

Kira menatap si adik heran. "Siapa, Cag?"

"Meyrin," jawabnya sambil membaca e-mail tersebut dalam hati. Tak lupa ia menggigit sepotong roti ditambah selai kacang kesukaannya dengan tangan kanannya. Sepulang sekolah jam 12 siang nanti, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Aku harap kamu bisa datang ke taman. Terima kasih. Meyrin.

"Meyrin? Kau sudah baikan dengannya?" tanya Kira lagi.

Tampak Cagalli mengedikan bahunya.

"Kalian berdua bertengkar kenapa memangnya?"

"Kami tidak bertengkar kok, Kaa-san."

Via –si ibu– tampak memandang ragu ke arah si bungsu yang masih sibuk dengan ponselnya. Lalu ia beralih pada si sulung dengan maksud meminta penjelasan. Tapi Kira malah sibuk membaca ulang isi buku catatannya. "Kira, rotinya dimakan dulu," suruh Via lembut.

"Iya, Kaa-san."

"Hari ini kalian ujian?" tanya Ulen seraya membalikkan halaman koran.

Kira maupun Cagalli mengangguk.

"Tidak terasa sebentar lagi kalian akan naik kelas," katanya.

"Ingat saat ingin naik kelas, aku jadi tak sabar untuk cepat-cepat lulus dan kuliah lalu kerja!" kata Cagalli girang dan penuh semangat. Tercetak di imajinasinya saat ia memakai jas kantoran dengan celana panjang hitam sebagai bawahannya. Tampak di sana Cagalli memakai kacamata hitam berbentuk persegi sehingga wajahnya terlihat sangat dewasa.

Kira, Via, dan Ulen tertawa geli mendengarnya.

Gadis berambut blond itu hanya tersenyum jahil.

"Sudah jam setengah delapan, lebih baik kalian berangkat sekarang."

"Ah iya!" Cagalli dan Kira masing-masing menegak segelas susu lalu berjalan keluar ruang makan dengan terburu-buru. Di belakangnya Via mengekor sambil membawakan jaket si bungsu yang sempat ditinggalkannya begitu saja di sandaran kursi.

Cklek.

Kriet!

"Cag, awas!"

"EH!?"

Kaki kanan Cagalli hampir menginjak sesuatu kalau saja Kira tidak buru-buru berteriak. Hampir gadis itu oleng, namun ditahan bahunya oleh si kakak. Dengan wajah kesal ia kemudian berjongkok untuk mengambil sesuatu yang ternyata adalah sebuket bunga matahari dengan setangkai mawar merah di tengah-tengahnya. Wangi buket tersebut tercium sampai ke hidung Cagalli, membuatnya mengembangkan senyuman manis di wajahnya. "Kaa-san pesan buket ini? Tapi kenapa ditaruh di depan pintu?" tanya Cagalli seraya menengok ke arah si ibu.

"Kaa-san tidak pesan buket itu, Cagalli."

"Lalu? Kau ya, Kira?" Cagalli menengok ke Kira.

"Mana mungkin aku pesan buket bunga, aku ini 'kan laki-laki."

"Mungkin saja kau pesan untuk Lacus."

Blush! Wajah Kira memanas seketika. "T-terserah kau sajalah! Tapi aku memang tidak memesannya, mungkin itu dari Athrun untukmu," balasnya seraya pergi keluar menuju garasi untuk mengambil motornya.

Blush!

Tiba-tiba kejadian semalam kembali terulang di otaknya.

BLUSH!

"Cagalli, wajahmu merah. Kamu sakit?"

"A-a-a-a-ah! T-t-ti-ti-tidak, Kaa-san!" Cagalli menundukkan wajahnya sedalam mungkin agar tidak terlihat. Ia menggaruk pelan pipi kirinya seperti orang berpikir dengan wajah merona. (Author nosebleed ngebayanginnya...) "P-pasti i-ini Tou-san yang belikan untuk Kaa-san," katanya masih dengan wajah memerah.

"Tou-san pasti akan memberikannya langsung pada Kaa-san, Cag."

"Lalu siapa yang be- eh?"

Secarik kertas menyita perhatian sepasang iris mata amber-nya. Ia pun menarik kertas berwarna hijau muda yang tertempel di buket tersebut kemudian membacanya. For my special person, Cagalli Hibiki.

"Pasti seorang laki-laki yang mengirimnya," gumam Via.

Siapa? Special person? Aku?

"Ehem." Via sengaja berdeham.

"Sudah jam segini," Cagalli melirik jam tangannya, "aku berangkat, Kaa-san!" Ia mengambil jaketnya dari sang ibu lalu menyerahkan sebuket bunga matahari tersebut dengan secarik kertas yang tadi masih di tangannya.

Selama di perjalanan menuju sekolah dan kelasnya, Cagalli terus berpikir tentang pengirim buket bunga itu. Belum lagi e-mail dari Meyrin yang tiba-tiba, membuatnya terheran-heran. Sekarang ia jadi tidak yakin untuk bisa fokus ke ujiannya.

"Masih kepikiran soal buket tadi?" tanya Kira.

"Tentu saja, baka," ketusnya.

"Aku yakin itu dari Athrun."

Cagalli mengernyit. "Buktinya?"

"Hanya perasaanku saja sih."

Gadis berambut blond itu terdiam sebentar seraya mengambil kertas dari buket dengan bunga matahari dan setangkai bunga mawar di tengahnya tadi. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu masuk kelas, sementara Kira sudah masuk lebih dulu. Apa iya buket itu dari Athrun? Tapi... kenapa?

"Ohayou, Cagalli."

Deg!

B-baru diomongin. Cagalli menyimpan kertas tersebut ke dalam saku. "Hm, ohayou," balasnya tanpa menoleh sama sekali sambil berjalan masuk ke dalam kelas. Toh, kalaupun menoleh juga sama saja, ia sudah tahu siapa yang menyapanya barusan. Setelah kejadian 'itu' Cagalli harus lebih hati-hati jika berpapasan dengan orang tersebut karena selalu saja wajahnya merona tanpa ia pinta.

Athrun –orang yang menyapa Cagalli tadi– tersenyum.

"Ohayou, Cagalli-chan~!"

"Stop to call me with that suffix!"

Siswa-siswi kelas 2-1 tertawa pelan melihat ekspresi Cagalli yang sudah semerah tomat itu. Cagalli tak habis pikir, kenapa semua terlihat menyebalkan di matanya? "Cag, kau duduk di sini!" Seseorang memanggilnya dan menunjukkan kursi kosong bernomor enam di mejanya. Untuk tiap ujian, posisi tempat duduk memang diatur sesuai nomor absen.

"Thanks." Ia tersenyum kecil.

"A-a, iya," jawab siswa itu gugup.

"Hari ini kau lebih ramah dari biasanya, Cag."

"Terus?"

Athrun duduk di kursinya yang kebetulan berada tepat di depan kursi milik Cagalli dengan meja bernomor lima. "Terlihat sekali kau sedang senang," katanya sambil tersenyum lalu melanjutkan, "apa karena kejadian semalam?"

BLUSH!

"URUSAI YO!"

Bletak!

GUNDAM SEED/DESTINY

"Hoshi no furu basho de... anata ga waratte irukoto wo... itsumo negatteta... ima tookutemo... mata aeru yo ne..." Meyrin mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang sambil bersenandung kecil. Sinar kehidupan di matanya tampak redup dari biasanya. Di bawah matanya juga terlihat seedikit bengkak dan menghitam seperti orang kurang tidur.

"Maaf, lama."

Gadis berkuncir dua itu mengangguk.

Kriet, kriiet, kriiieeet...

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

Ia menatap teman sepermainannya yang kini sudah duduk di ayunan kosong sebelahnya. Sama. Meyrin melihat gadis beriris mata amber itu sama seperti dulu. Wajahnya terlihat cuek dan datar namun di balik semua itu tersimpan kehangatan yang mampu membuat siapa saja merasa nyaman jika berada di dekatnya.

"Mey?"

"M-maaf! Sebelumnya... terima kasih karena sudah datang ke sini."

"Ya," Cagalli tersenyum simpul, "jadi?"

Meyrin mengayunkan lagi ayunannya. "Sudah lama kita tidak main di sini. Terakhir kali kita main sewaktu kelas satu JHS, 'kan?" kenangnya. "Dulu, tiap sore kita ke sini, bermain ayunan, seluncuran, petak umpat, dan bermain pasir bersama-sama."

"Dulu... ya..."

Hening sesaat. Keduanya tampak menunduk.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Cagalli.

Yang ditanya tersenyum. "Soal... Athrun Zala."

"Aa, I know. Apa yang ingin kau tanyakan dariku?

"Apa hubunganmu dengannya?"

Seperti tertohok sebilah pedang, pertanyaan Meyrin membuat Cagalli terdiam memikirkannya. "Hubunganku dengan... Athrun hanya...," ugh! Kenapa bilang teman saja susah begini!? rutuknya dalam hati ketika mendapati lidahnya kelu. Kejadian kemarin malam dan semalam masih terngiang di benaknya. Ia mengayunkan tubuhnya ke belakang lalu terdorong ke depan. "Hubunganku dengannya hanya sebatas... teman, Mey. Tidak lebih."

"...benarkah?"

"Kau menyukainya?"

"Ya, aku menyukainya."

Lagi, perkataan Meyrin membuatnya tertohok. Kenapa? Kenapa denganku? Bukankah sudah terlihat sejak waktu itu, tapi kenapa... rasanya sakit seperti saat melihat wallpaper ponsel Athrun dulu? Tanpa terasa senyum pahit mengembang di wajahnya. "Kau beruntung, dia belum punya pacar, Mey. Tapi... mungkin dia sudah menyukai orang lain." Lagi-lagi Cagalli merutuk dalam hati.

"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?"

"Tak ada maksud apapun, hanya ingin bilang saja," gumam Cagalli.

"Bohong." Meyrin menatap tajam ke arah gadis berambut blond itu.

"Kenapa aku mesti berbohong padamu?"

"Karena... kau mungkin bermaksud mengatakan secara tidak langsung bahawa kaulah orang yang disukainya. Iya 'kan, Cagalli?"

Cagalli membalas tatapan Meyrin dengan wajah datar. "Aku?"

"Jangan berbohong padaku, Cag."

"Memang aku tidak berbohong padamu."

"Lalu kenapa...," Meyrin meremas rok hitam selutut miliknya, "...lalu kenapa... kalian b-bericuman di depan rumahmu s-semalam?" Air mata Meyrin hampir keluar dari kelopak matanya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk meredam tangisannya. "Itu berarti kalian... ada apa-apanya 'kan, Cag?"

Cagalli terdiam memikirkan kejadian semalam.

"Jawab, Cagalli."

"Kau tak tahu apa-apa, Mey."

"Makanya aku bertanya padamu untuk mengetahuinya!"

"Kau TAK MENGERTI perasaanku, Mey!" Entah kenapa Cagalli jadi ikut emosi melihat Meyrin emosi. Tangannya terkepal, pandangan matanya tertuju ke sebuah pohon sakura yang mulai menggugurkan bunganya. Aku bingung... Ya, gadis itu bingung dengan hubungan dirinya dan Athrun. Jika diperhatikan kedekatan mereka tidak bisa dikatakan sebagai teman, terlebih setelah kejadian semalam ketika mereka berciuman. Tapi Cagalli tidak bisa mengatakan bahwa hubungan lebih dari teman karena Athrun sendiri tidak mengatakan apa-apa.

Melihat Cagalli menjambak rambutnya sendiri, Meyrin menunduk.

"Kalau aku mengatakan 'kami' lebih dari teman? Apa yang akan kau lakukan?" Wajah Cagalli sengaja ia tutupi dengan menjambak rambutnya sendiri.

"Dalam maksud apa?"

"Hubungan tanpa status," gumam Cagalli.

"Belum resmi pacaran, 'kan?"

Yang ditanya membuang muka.

"Masih ada kesempatan untuk mengambilnya kalau begitu."

Iris mata Cagalli melebar mendengar perkataan serius dari Meyrin. Ia tahu, 'teman'nya ini bersungguh-sungguh dengan perasaannya pada Athrun. Kenapa... kenapa jadi seperti ini?

Cinta segitiga.

Ia kembali teringat akan ucapan Lacus.

Tapi... aku tidak mencintai Athrun...

"Jadi, hubungan kalian berdua apa?"

"Aku tidak tahu, tanyakan saja pada Athrun."

Meyrin mendesah, "bertanya padanya? Mana mungkin aku bertanya langsung ke orangnya." Ia mengayunkan lagi ayunannya. "Andai aku yang bertemu dengannya lebih dulu..."

Cagalli melirik. "Memang bisa berubah?"

"Apa?"

"Memang perasaan bisa berubah... jika kau yang lebih dulu bertemu dengannya?"

Pertanyaan Cagalli membuat ia yakin bahwa Athrun memang punya perasaan pada gadis di sampingnya ini dan Cagalli sendiri sudah mengetahuinya. Mana mungkin Cagalli tidak tahu setelah Athrun menciumnya, kata Meyrin dalam hati. Ia tersenyum tipis. "Mungkin, tak ada yang tidak mungkin 'kan di dunia ini?"

"..."

"Jadi, kalian memang berhubungan tanpa status ya?"

"Entah."

"Selama kalian belum berhubungan, itu berarti masih ada kesempatan untukku mendapatkannya."

"Hmm."

Hening menyapa mereka berdua lagi.

"Jadi, kau ingin bertemu denganku untuk menanyakan hal itu saja?"

"Sebenarnya tidak..." Meyrin berdiri dari ayunan yang ia duduki sedari tadi lalu berdiri di hadapan Cagalli yang masih duduk di atas ayunan. Kedua mata gadis itu menatap satu sama lain, lalu, lalu, lalu (jangan mikirin yang macem-macem ya :D #kabur) Meyrin berkata sesuatu dengan wajah dan nada serius. "Aku harap kamu mengerti maksudku tanpa harus aku mengatakannya."

"Huh? Maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Yang pasti aku menyukai Athrun, itu intinya."

"Well, aku harus menjauh dari Athrun supaya kau bisa bersamanya, begitu?"

Meyrin tidak menjawab.

Cagalli berdiri lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia berjalan satu langkah dan berhenti tepat di samping kiri Meyrin. "Aku akan melakukannya jika itu maumu, tapi ada satu hal yang perlu kau tahu. Aku pernah berusaha menjauhinya setelah melihat seorang gadis tengah tertidur di wallpaper ponselnya. Tapi pada akhirnya ia memintaku untuk tidak menjauh."

Deg! Jantung Meyrin berdegup cepat.

"Kau tahu, sekeras apapun aku berusaha untuk menjauh, aku tak bisa menjauh karena dia mengerti tentangku seperti halnya Kira dan Lacus."

"Lalu siapa-"

"-entah, aku sendiri juga tidak tahu siapa gadis itu."

Lagi, tangan Meyrin terkepal mendengarnya.

"Aku harus pulang sekarang," kata Cagalli sambil melangkah.

"Kenapa... kenapa kau selalu mengambil semuanya dariku?"

Tap, tap. Adik Kira itu berhenti melangkah tanpa menoleh.

"Kenapa selalu kau yang berada di atasku? Kenapa?"

Cagalli menolehkan kepalanya tanpa membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat lebih datar dari sebelumnya. "Siapa yang mengambil siapa, Mey? Kau tidak ingat siapa yang mengambil kebahagianku sewaktu kecil? Kau lupa dengan kejadian 'waktu itu'? Apa perlu kuingatkan lagi?"

Kini Meyrin tampak bungkam dengan tubuh bergetar.

"Asal kau tahu, aku masih marah padamu soal 'itu'."

GUNDAM SEED/DESTINY

Athrun menatap ke luar jendela balkonnya. Hujan rintik-rintik membuat segala aktivitasnya terganggu karena kemalasan melanda pikirannya. Ia berjalan ke dapur lalu membuka kulkas. "Huh? Nggak ada cemilan?" gumam Athrun seraya menutup kulkas. Kaki jenjangnya melangkah lagi menuju lemari di dinding atas paling pojok, tempat biasanya ia menyimpan cemilan dan kotak P3K.

Kriiiet.

"Kosong juga?"

Pintu lemari itu tertutup lagi setelah melihat barang yang tersisa hanya kotak P3K. "Lebih baik beli sekarang sebelumnya hujannya deras," kata Athrun di tengah-tengah kesunyian. Ia mengambil jaket serta helm dan kunci motor yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Cklek.

"Konnichiwa."

Athrun memasukkan kunci apartemennya lalu menoleh. "Konnichiwa." Ia tersenyum pada pemilik apartemen di sebelahnya itu yang sempat menyapanya. "Baru pulang ya?"

"Ya. Hari ini adalah hari yang melelahkan ya?"

Si tunggal Zala itu mengangguk dengan masih tersenyum.

"Mau kemana? Di luar 'kan hujan."

"Mau beli cemilan untuk nanti malam. Mau nitip sesuatu?" tawarnya.

"Ah, tidak usah. Persediaanku masih banyak di lemari kok."

"Sou ka, kalau begitu aku permisi dulu."

Seperginya Athrun, tampak tetangganya itu berjalan tepat ke depan pintu apartemen milik Athrun. Dari matanya terlihat begitu tajam bagaikan seorang pembunuh berdarah dingin. "Athrun Zala. Kau memang pengganggu," gumamnya dengan nada datar.

Athrun tersenyum seraya mengambil belanjaannya yang rata-rata berisikan keripik kentang dan beberapa botol minuman itu setelah dihitung di meja kasir dan membayarnya.

"Terima kasih karena sudah belanja di sini," kata si pelayan kasir.

"Terima kasih juga, Ahmed."

Click.

"Terima kasih sudah berbelanja di Shimshon."

Tap, tap, tap.

Laki-laki berambut dark blue itu mengambil helm yang tersangkut di spion motor dan ingin memakainya. Lalu tiba-tiba kehadiran sesosok manusia yang sangat tidak asing baginya menarik perhatian Athrun. Ia pasang helm-nya ke lengan kiri sementara belanjaannya digantung di stang motor sebelah kiri. Athrun berniat menyusul sosok itu yang tengah asyik berjalan sambil mendengarkan musik dari headphone.

Bruuum.

Athrun ingin berbelok namun terhenti setelah melihat sosok gadis berambut blond sebahu tersebut dipaksa untuk ikut dengan dua orang gadis lainnya masuk ke sebuah gang. Sontak saja ia langsung memarkirkan lagi motornya itu dengan asal lalu berlari kecil mendekati gang tersebut.

"Apa-apaan kalian!? CEPAT LEPASKAN AKU!"

"Hm? Melepaskanmu?"

Sosok itu –Cagalli– merintih pelan saat rambutnya dijambak.

"Sebenarnya aku ingin melepaskanmu, tapi kau sudah membuat temanku menangis!" teriak gadis berambut merah yang tengah menjambak rambut Cagalli dan mengunci kedua tangan Cagalli di belakang tubuhnya.

"T-teman siapa m-maksudmu? L-lalu siapa kalian?"

"Ah, kami lupa mengenalkan diri, namaku Mayura Labatt, dan mereka teman-temanku," katanya seraya menunjuk gadis berkacamata yang tengah menyender di dinding sambil mengunyah permen karet. "Juri Wu Nien, dan yang ingin menghajarmu itu adalah Asagi Caldwell, Ketua geng kami." Tampak seorang gadis berjalan mendekati mereka sambil membaca pemukul baseball.

"S-sebenarnya apa s-salahku pada kalian?" Cagalli sedikit meringis.

"Kau sudah membuat teman kami menangis, kau pasti kenal Meyrin Hawke 'kan? Teman sepermainanmu sejak kecil itu?" kata Asagi dengan senyum seringaian di wajahnya.

Cagalli terbelalak. "Kalian t-temannya?"

"Ya, dan kami benci jika dia menangis." Juri berjalan mendekat.

Asagi menengadahkan wajah Cagalli dengan ujung pemukul baseball. "Wajah biasa seperti ini sih bagusnya dihajar saja dengan pemukul baseball atau dengan tangan," katanya.

Duagh! Mayura mendorong Cagalli ke dinding.

Seketika tubuh Cagalli terhempas sampai headphone-nya terjatuh.

"Ittai," ringisnya sambil berusaha bangkit.

Srek. Juri menarik jaket Cagalli sementara gadis itu hanya terengah-engah seperti orang yang baru saja lari marathon. "Aku benci dengan orang yang munafik sepertimu!" Duagh! Pipi kiri Cagalli memerah karena tinjuan Juri. Tampak gadis berkacamata itu tersenyum senang melihat keadaan mengenaskan Cagalli.

"Ck." Cagalli mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.

Plak!

Kini sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Cagalli.

"Itu mewakili perasaan Meyrin saat melihatmu berciuman dengan orang yang dia sukai! Dan ini," tanpa berperasaan Mayura menjedotkan kepala Cagalli ke dinding yang membuat Cagalli memekik dengan lumayan keras, "untuk rasa sakit hati Meyrin yang kemarin di taman!"

"Ugh."

Pandangan Cagalli sedikit mengabur setelahnya. Sontak ia memegang kepala belakangnya untuk mengecek apakah kejadian tadi membuat kepala belakangnya itu mengeluarkan darah. Belum sempat ia menyentuh bagian kepala yang membuatnya kesakitan, Mayura sudah menjambak rambutnya.

"Uuugh!"

"Sakit ya? Hm?" tanya Mayura.

Sudah cukup!

Athrun yang melihat keadaan Cagalli terlihat sangat marah di ujung gang. Kedua tangannya terkepal dengan kuat. Iris mata emerald itu tampak berubah menjadi lebih gelap dari yang biasanya (bayangkan Athrun dalam mode SEED). Baru selangkah kakinya berjalan, suara menantang dari Cagalli membuatnya terhenti.

"Heh? Apa hanya ini –uhuk– kekuatan kalian?"

"A-apa?"

Senyum meremahkan terlihat di wajah Cagalli. "Dasar kalian payah."

"Mati kau, CAGALLI HIBIKI!"

Asagi yang mulai terbawa emosi lebih dari yang sebelumnya kini mengayunkan pemukul baseball miliknya setelah Mayura berdiri dan mundur selangkah. Pemukul itu terarah ke wajah Cagalli dan...

Duagh!

"KAU!?" geram Asagi.

Cagalli menahan pukulan tersebut dengan tangan kirinya.

"'Teman' sepertimu lebih baik mati!"

Lagi, Asagi mengarahkan pemukul itu namun ke arah kepala Cagalli.

GREB!

Kini pemukul baseball milik Asagi tertahan di tangan kiri Cagalli. Terdengar kekehan kecil dari mulut Cagalli. Hal itu membuat Asagi bersikap siaga dan berusaha menarik pemukulnya dari genggaman Cagalli. Namun sayang, kekuatan Asagi masih dikatakan lebih lemah dari kekuatan Cagalli walau gadis itu hampir kehilangan kesadarannya.

"L-lepaskan pemukulku!"

"Tidak akan kulepaskan..."

Tiba-tiba Mayura mencekik leher Cagalli dengan lengan kanannya.

"Ugh!"

"Rasakan ini!" Cekikan Mayura semakin kuat.

Asagi tidak tinggal diam, ia langsung menarik dengan paksa pemukulnya. Namun Cagalli terus menahannya. "Cepat lepaskan pemukulku, gadis bodoh!" Juri yang sedari tadi diam kini mengambil ancang-ancang untuk meninju perut Cagalli.

Cagalli yang melihatnya langsung meninju perut Mayura yang berada tepat di belakangnya dengan sikut tangan kanan. Dan dengan cepat ia menarik pemukul yang dipegang Asagi lalu Cagalli memutar tubuhnya untuk membelakangi Asagi kemudian membantingnya seperti dalam bela diri Judo. Juri yang tadi bersiap meninju Cagalli tampak kaget melihat kecepatan Cagalli, terlebih saat ini gadis itu sudah berada tepat di hadapannya dengan tangan terkepal.

Duagh!

Dengan sekali pukulan, Juri terpental ke belakang dan menabrak dinding.

Baik Mayura, Asagi, dan Juri meringis kesakitan. Apalagi Asagi yang dibanting Cagalli tanpa alas sekalipun sebagai pendaratannya. Tampak Cagalli terengah-engah sambil mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Tiba-tiba darah segar mengalir ke pipinya. Cagalli langsung memeriksa kepala belakangnya dan melihat telapak tangannya sudah dipenuhi darah.

"Sekarang kalian puas melihatku seperti ini?" tanya Cagalli.

"Sakit di fisik sih –uhuk– tidak ada apa-apanya daripada sakit di hati," balas Mayura sambil terus memegangi perutnya.

"Huh? Manusia memang aneh," racau Cagalli.

"Memang kau pikir –ugh– kau itu apa? Malaikat?" kata Asagi.

Tanpa disangka Cagalli tertawa.

"TAK ADA YANG LUCU!" seru Juri.

"Kalian benar-benar GENG BODOH!"

Tangan Juri terkepal dan ia bangun ingin meninju Cagalli.

"Jangan sekali-kali kau bilang kami ini geng-

-greb!

Tinjuan Juri berhasil ditahannya. "Kenapa? Marah jika aku mengatakan kalian ini geng bodoh?" Duagh! Cagalli meninju Juri sampai gadis itu terjatuh. Dengan sempoyongan ia mendekati Juri lalu menarik kerah Juri. "Dengar! Perbuatan kalian ini sangat melanggar hukum, aku bisa kapan saja melaporkan kalian ke polisi sesukaku dengan menunjukkan semua luka ini. Tapi aku masih punya pikiran! Jika aku laporkan, Meyrin juga akan jadi tersangka karena semuanya berawal darinya. Seharusnya kalian berpikir seperti itu sejak awal!"

Juri terdorong lagi ke belakang setelah Cagalli melepas cengkramannya.

"S-sial...," desis Mayura.

"Membela teman bukan dengan cara seperti ini," kata Cagalli lemah.

"Nggak usah ceramahin kita semua!" teriak Asagi.

Cagalli melirik Asagi dengan tatapan tajam.

Glek!

"Membela teman bukan dengan cara mem-bully orang yang sudah menyalahkan teman kalian. Kalian tahu Meyrin sedang sedih seperti itu, seharusnya kalian men-support-nya, menyemangatinya!"

"Huh? Kenapa kau dengan mudahnya berbicara seperti itu? Padahal jelas-jelas kau yang salah karena sudah merebut orang yang disukainya," kata Mayura.

"Kalian tidak tahu apa-apa tentang kami, yang kalian tahu hanya dari sudut pandang Meyrin." Cagalli berjalan melewati Juri lalu berhenti. "Bilang pada 'teman'mu, Meyrin Hawke. Sampai kapanpun aku takkan memaafkan semua kesalahan yang ia perbuat padaku. Bilang juga padanya, jika dia menginginkan laki-laki itu, silahkan ambil saja! Aku tak berhak atas dirinya karena dia bukan milikku, bukan pacarku, atau apapun itu. Dia... dia...," Cagalli mengepalkan tangannya, "dia hanya seseorang yang selalu membuatku kesal dan... salah satu orang yang mengerti diriku." Gadis itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga.

Juri bersumpah melihat beberapa butir air mata di udara tadi.

"Dia... menangis?" lirih Asagi.

Sebuah taksi berhenti tepat di depan Cagalli setelah memberhentikannya.

Mayura tampak kaget melihat seseorang di ujung gang setelah Cagalli pergi menaiki taksi tersebut. "I-itu... Athrun... orang yang disukai M-Meyrin, 'kan?" Orang itu –Athrun– menatap mereka bertiga sejenak dengan wajah datar dan iris mata yang menggelap (Athrun masih dalam mode SEED tuh).

Sementara itu di dalam taksi, tampak Cagalli meringis kesakitan karena sakit di kepalanya makin menjadi. "Pak, b-bisa lebih –ugh– cepat lagi?" tanyanya lirih dengan pandangan mengabur.

"Bertahanlah, Nona! Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit!"

Cagalli tidak membalas dan terus memegangi kepalanya.

To Be Continued

HUAAA! #nangis sesenggukan# bener-bener hilang mood kemarin-kemarin jadi telat banget update-nya. Gomen, gomen, gomen, minna! #sujud-sujud# hehehe, gimana chap 11 ini? Ngenes ya? (u,u) janji deh, besok gak ngenes kaya gini lagi, tapi ini memang bagian dari sinopsisnya kok, ciyusan. :D

Mizuka speechless banget liat review chap 10 kemarin. Nggak nyangka dibilang hot banget, gomen, tapi Mizuka senang bisa nulis moment AsuCaga seperti itu #nosebleed# nah, Mizuka mau balas review dulu. Niatnya sih balas lewat PM tapi tiba-tiba modemnya nggak connect-connect mulu. , nyebelin!

irma. susanti. 560 (thanks for your reviews, irma-san^^. Haha, tau tuh mereka sendiri yang buat namanya jadi lebay begitu #plak!# terima kasih untuk jempolnya ^/^),

aelita pink princess (thanks for your review, aelita-san^^. eeeh? Terlalu hot? Hehe, arigatou tapi niat awal gak sampai se-hot itu kok, beneran deh),

Hoshi Uzuki (thanks for your review, Hoshi-san^^. Tenang, tenang, Meyrin gak akan bunuh diri karena keberadaannya sangat penting di chap 11 dan 12 nanti #tawa nista#),

Rukaga Nay (thanks for your review, Rukaga-san^^. Mizuka senang Rukaga bilang begitu karena Mizuka sendiri suka banget sama perempuan –dalam artian teman ya– yang tomboy tapi punya sikap keibuan :D. hehe, tau tuh nyebelin banget! Siapa sih yang buat tu orang semenyebalkan begitu!? #digetok Meyrin#),

Guest (thanks for your review^^. Namamu chngu ya? #sweatdrop# ini udah dilanjut, baca lagi ya...),

fmn ferdian (thanks for your reviews, ferdian-san^^. Sedikit bingung baca review keduamu tapi tenang, ini udah dilanjut chap 11-nya. Dibaca lagi ya! iya, Meyrin bener-bener tumbang (OOC) di sini, gomen. gimana hasil UTS nya? UTS Mizuka ancur total #curcol mode on plus pundung di pojokan# haha),

Yukishiro1412 (thanks for your review, Yuki-san^^ boleh Mizuka panggil begitu kan? :D haha, Mizuka juga suka scene di depan rumah Cagalli itu. Jadi pengen... #ngebayangin# ini udah dilanjut, baca lagi ya! hehe),

Citrus Bergamia (thanks for your review, Citrus-san^^. #ngangguk2# lanjutan hubungan mereka sepertinya masih suram #bekep mulut# ini udah dilanjut chap 11-nya, baca lagi ya! :D),

mrs. zala (thanks for your review, mrs. zala-san^^. Hehe, makasih dibilang cerita ini lucu ^/^ eh? Udah pernah dibuat ya? Mizuka bener-bener gak tau tapi ini asli hasil pemikiran Mizuka sendiri. Mizuka juga berharap bakal happy ending :D),

Scarlet (thanks for you review, Scarlet-san^^. #ikut ketawa nista# o.O kenapa bisa curiga sampai ke sana? Hehe, tapi yang pasti sebentar lagi bakal ketauan kok siapa identitasnya. Dari semua review yang ada, cuma kamu lho yang ngebahas soal itu. d^_^b),

LIa (thanks for your review, LIa-san^^. Ini udah dilanjut kok, baca lagi ya... o.O masa iya harus scene 'begituan' lagi? Kalo begitu cerita ini bakal ganti rating dong jadi M, haha, Mizuka cari aman aja. Mudah-mudahan kamu juga suka dengan chap 11-nya :D),

air phantom zala (thanks for your review, air-san^^. Gak apa-apa kok, yang penting kamu sudah berpartisipasi untuk membacanya juga tak apa :) terima kasih sekali lagi, hehe. Yosh! Semangat!),

FuRaHeart (thanks for your reviews, FuRa-san^^. Boleh panggil begitu? Mizuka senang kalo kamu juga senang membacanya :) hoho, kalo gak di cut pasti kebablasan dan menjurus ke M, chap 10 nya kan T semi M. haha, Mizuka cari aman aja, ini udah dilanjut, baca lagi ya...),

hendrik. widyawati (thanks for your reviews, hendrik-san^^. Duh, Mizuka bingung balas review-mu tapi Mizuka senang kamu mau baca dari awal sampai chap 10 :) oh iya, Mizuka lupa, hehe, terima kasih sudah mengingatkan... baca lagi ya chap 11-nya),

dan untuk semua silent readers, arigatou gozaimasu! :D

hehe, apa ada yang suka dengan shoujo manga? Sekarang Mizuka lagi greget(?) banget sama komik "Namida Usagi (Tears of First Love)" karya Minase Ai nih! Hehe, bisa kali kita saling share. :D

last, mind to review?