Apa yang ada dalam benak Chanyeol selain Baekhyun adalah Kyungsoo. Bebannya jauh lebih berat mendengar Minseok kemarin malam memberi ultimatum. Jika Kyungsoo tidak menyetujui untuk bercerai dengan Jongin dalam waktu satu bulan, terpaksa Minseok akan membawanya kembali menetap di Tokyo.

Hanya karena benci kepada keluarga Heechul beserta Yixing termasuk Minseok sampai harus bertindak seperti ini. Dan yang lain adalah berusaha mempertahankan hubungan dengan Baekhyun. Chanyeol pening memikirkan bagaimana membuat hati Minseok melunak. Segala cara sudah dilakukan.

Selagi menggulung lengan kemejanya sampai siku, Chanyeol sudah mulai bekerja sesuai keinginan ayahnya. Tersenyum ketika menoleh ke sisi kanan mendapati seorang wanita tengah berlari mendekatinya.

"Maaf menunggu lama."

"Apa-apaan mata sembab itu?" Chanyeol menyela ucapan Baekhyun setelah bergabung duduk. "Dan lingkar hitam ini?" Lalu mengelus kulit halus kecokelatan dibawah mata Baekhyun dengan ibu jarinya. Wajah kekasihnya tampak sedih dan letih, seolah-olah tidak tidur beberapa hari, dan menangis sepanjang hari. "Kau tampak buruk, Baek. Berikan aku senyuman."

Baekhyun tersenyum. "Aku tak apa, Chanyeol."

"Bagaimana dengan ibumu?" Chanyeol mengambil sapu tangan dari saku celana bahannya, menyeka keringat Baekhyun. "Dari semua pengalaman yang kulihat, hidup Byun Baekhyun jauh lebih berat dari siapapun. Kalau saja kau wanita lemah kau sudah menceburkan diri ke sungai itu dan memilih mati."

Baekhyun terkekeh mendengar Chanyeol yang tak langsung mengatakan ia orang yang tangguh. Tapi memang benar, hidupnya berat. "Kalau saja tidak ada Park Chanyeol aku mungkin sudah mati dari kemarin-kemarin."

Kali ini Chanyeol yang tergelak, suaranya menenangkan hingga Baekhyun merasa lebih baik. "Baek, demi Tuhan sekarang aku tidak melarang kalau appa mau menikahi ibumu. Kalau kita menentang, tidak akan merubah apapun. Kau tahu kan ternyata mereka dulu seperti itu jauh sebelum kita ada. Aku menyesal ternyata appa menikahi Minseok terpaksa, dan yang lebih buruk berselingkuh dengan mendiang ibuku. Itu semua karna appa berupaya melupakan ibumu, tapi tak bisa."

Atensi Baekhyun beralih menatap kosong air sungai dihadapan mereka, mencoba memahami perkataan Chanyeol tapi tetap saja ia menganggap ibunya telah jahat. "Tapi ibuku sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia mau menjadi simpanan mendiang ayahku dan Sehun. Belum lagi dia menganggap Minseok eomma telah merebut paman Park. Pada akhirnya aku yang menanggung nama baik kami."

"Kau sudah melakukan yang terbaik. Sehun sudah bahagia karna kau, aku juga akan senantiasa bersamamu." Chanyeol meraih satu tangan Baekhyun pengaruhi wanita itu kembali menatapnya. "Yang harus kita lakukan adalah mencoba menghargai ayahku dan ibumu. Aku juga berusaha membuat eomma berhenti membenci ibumu."

"Minseok eomma pasti membenciku juga." Gumam Baekhyun muram.

Chanyeol mengangguk. "Kyungsoo dan Jongin sampai terlibat."

"Ya Tuhan.. itu tidak boleh terjadi."

"Karena itu aku sedang memikirkan agar keadaan membaik." Chanyeol beringsut mendekat untuk mencium bibir Baekhyun, terseyum ketika wajah kekasihnya merona. "Jangan khawatir."

"Aku paham bagaimana perasaan Minseok eomma. Dan membenci ibuku karena dialah wanita yang ada dalam pikiran ayahmu, Chanyeol-ah."

Chanyeol mengiyakan. Hidup rumit yang dialami orang tua mereka akan berpengaruh kepada anak-anaknya. "Yang terpenting Kyungsoo dan Jongin tidak bercerai. Aku juga tidak akan membiarkan kau berpisah denganku."

"Bagaimana kalau kita semua melarikan diri saja?"

"Kau sudah membawa Luhan kabur dan sekarang kau sendiri yang ingin melakukannya?" Chanyeol tergelak lagi.

"Tapi itu kan berhasil."

"Tidak, Baek." Sambil mengelus tangan Baekhyun yang terasa kecil di genggamannya ia menggeleng pelan. "Kita harus menikah baik-baik. Aku yakin eomma akan menerima semuanya. Minseok itu wanita kuat."

"Chanyeol, aku benar-benar takut. Ibuku hanya diam saja. Padahal aku sudah menangis seharian."

"Ya, aku mengerti. Diamnya ibumu bukan berarti dia tidak peduli. Dia sedang berpikir." Chanyeol memberi senyumnya yang menenangkan. "Suatu saat semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang berpisah, tidak ada lagi saling membenci, tidak ada lagi dendam. Bahkan lusa nanti aku dan Kyungsoo harus ikut serta menyambut pria yang akan menikahi eomma."

"Minseok eomma punya kekasih?"

Chanyeol mengangguk, atensinya beralih lurus memandangi langit yang menjelang senja. "Ya, kuharap pria ini bisa membuatnya bahagia dan melupakan kenangan pahit di masa lalu."


Lifeline

another fanfic story by winwey

Jongin x Kyungsoo

slight of Chanbaek Hunhan Chenmin

Drama, GS for uke's, Typo's, OOC, Rated T-M


Kyungsoo menatap Kyungie—boneka pinguin di pangkuannya. Duduk diam di ayunan kayu yang terdapat di halaman belakang rumah keluarga Kim membuatnya lebih rileks. Atensinya beralih memandangi berbagai tanaman di taman kecil milik Yixing itu.

Mencoba mengingat masa kecil pertemuan pertama dengan Jongin, ia justru di kejutkan oleh Jonginie—boneka beruang di depan wajahnya. Pemilik Jonginie yang tadinya berdiri dibelakang terkekeh sambil berjalan memutar, membuat dirinya dihadapan Kyungsoo sambil berlutut sementara wanita itu masih duduk di ayunan. Harusnya ia mulai masuk bekerja, tapi Jongin masih ingin menemani istrinya satu hari ini.

"Apa yang kau pikirkan?" Jongin meletakkan boneka beruang dipangkuan Kyungsoo, Jonginie dan Kyungie tampak duduk berdampingan memenuhi paha Kyungsoo. "Habis kehujanan kemarin harusnya kau tidak disini. Di luar dingin."

"Aku tidak apa-apa." Wanita itu membalasnya dengan tenang. "Aku ingin melihat-lihat tanaman bunga milik Yixing eomma. Sambil mengingat-ingat kedatanganku kesini sewaktu kecil."

"Kau sudah ingat?"

"Aku telah berusaha." Suara Kyungsoo penuh sesal. "Mungkin aku terlalu bodoh untuk bisa mengingatnya."

Jongin terkekeh lagi. Beberapa detik pandangannya teralih pada dua boneka di pangkuan Kyungsoo lalu kembali menatap wajahnya. "Kenangan itu sudah tak penting. Yang terjadi pada kita adalah yang terpenting sekarang." Katanya. "Kyung, jangan pernah menyerah padaku, pada kita. Aku tahu kita bisa melewati semuanya tanpa harus berpisah. Aku akan coba bicara dengan eommonim lagi."

"Jangan." Kyungsoo menyentuh jemari Jongin dengan satu tangan sementara yang lain memegang boneka mereka. "Biar aku saja yang bicara. Eomma sudah keterlaluan. Kita hanya punya waktu satu bulan sebelum dia mengamuk meminta kita bercerai."

"Apa yang akan kau bicarakan dengan eommonim?"

"Apa saja."

"Apakah kata-katamu nanti diluar nalar?"

Kyungsoo spontan tergelak, ia tersenyum ketika pria itu beralih menautkan jemari mereka. "Bisa jadi." Ujarnya sambil merasa sedikit gatal di hidung, lalu menoleh ke sisi lain untuk bersin ringan.

Jongin setengah tersenyum melihat itu, mengambil selembar tisu yang ia bawa dan mengusapi pelan-pelan hidung Kyungsoo yang memerah sambil bergumam simpati. "Kau mudah flu. Kalau kau tetap mau bicara dengan eommonim tunggu keadaanmu membaik dulu." Ia beralih mengusap tulang pipi wanita itu selagi mendapati dirinya mendekat. Sedikit lagi bibirnya meraih bibir Kyungsoo tapi tiba-tiba bahunya ditahan.

"Jangan dekat-dekat, 'kan aku sedang flu."

"Tapi aku tak peduli." Jongin sempat terkekeh kemudian ia tetap menekan satu ciuman. "Aku juga bawa vitamin."

Kyungsoo tersenyum memperhatikan Jongin mengambil sebotol kecil vitamin c dari kantung denimnya, mengeluarkan satu butir sebelum menyuapi ke mulutnya. "Aku akan mengantarmu ke rumah kalau kau sudah sehat. Pastikan jangan membuat eommonim semakin marah.. atau sakit hati."

"Akan lebih mudah bicara saat dia bekerja, eomma bukan tipe pemarah. Terlebih meledak-ledak di tempat ramai, terutama di kafe. Dia pasti malu teriakan marahanya di dengar orang lain meski kami akan bicara di ruangannya."

"Baiklah." Kata Jongin sambil menyelipkan botol vitamin itu ke saku. "Kalau kali ini tidak berhasil, aku akan melakukan apapun."

"Apapun?" Mata Kyungsoo berkilat cemas dan geli, "Jangan melakukan.."

"Aku sudah pernah bilang kalau bisa aku akan membawamu pergi jauh dari sini."

"Mulai lagi." Mereka tertawa bersama, tapi Kyungsoo tahu tidak mungkin Jongin kembali melakukan hal gila. "Ini tidak adil buatku. Kau juga harus berjanji untuk tidak melakukan yang seperti itu."

Jongin mengelus jemari Kyungsoo sambil terkekeh, "Baiklah. Aku janji."

.

.

Selama bertahun-tahun Kyungsoo tidak pernah menemukan Minseok yang marah sampai ke permukaan. Wanita itu berkeras menginginkan mereka bercerai. Rasa-rasanya gila mengingat dulu Minseok yang sama antusiasnya untuk Jongin segera menikahi Kyungsoo.

Ultimatum selepas Yixing dan Joonmyeon bicara pada Minseok tempo hari—meminta maaf soal Heechul, juga bahkan lebih gila. Apa-apaan meminta bercerai dalam waktu satu bulan? Itu terlalu cepat daripada rencana perjodohan dan pernikahan mereka sewaktu itu.

Kyungsoo tidak tahan lagi. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan ibunya. Dibalik meja kerjanya seolah-olah Minseok sudah tahu protes apa yang akan Kyungsoo sampaikan, jadi ia terlihat santai menatap putrinya.

"Mau membantah lagi?"

Kyungsoo mendesah lelah. "Eomma please.. aku bukan anak kecil."

"Bagus." Minseok melepas kaca mata bacanya, meletakkan ke atas meja. "Kau mulai tidak sayang eomma."

"Eomma yang tidak sayang aku." Hardik Kyungsoo cepat. Berusaha menjaga suaranya tidak meledak, tapi Minseok membuatnya terpaksa melakukan itu. "Sudahlah. Hentikan semua ini. Eomma dan ibu Baekhyun harus saling minta maaf."

"Aku minta maaf?" Minseok mendengus keras-keras. "Si Byun itu yang menuduhku merebut ayahmu!"

Kyungsoo terkejut ketika Minseok menggunakan intonasi tinggi. Ia tidak biasa melihat ibunya marah, dan Minseok benar-benar membuat Kyungsoo berpikir keras bagaimana cara menghadapi emosi ibunya sendiri. Ia mulai menarik napas. Jongin benar, ia tak boleh membuat Minseok semakin marah.

"Eomma.." Katanya, sebenarnya bingung bicara pada Minseok yang sedang keras kepala. "Apa kau tidak kasihan padaku? Pada Chanyeol?"

"Kalian juga harus kasihan padaku."

Bagus sekali, Kyungsoo makin bingung. Minseok tahu bagaimana dia harus mengobservasi. Wanita itu mendengar putrinya mengoceh panjang lebar dan pada akhirnya hanya menanggapi dengan mengembalikan kata-kata lawan bicara.

Kyungsoo membuang napas, protesnya seolah-olah tidak penting di mata Minseok. "Lupakan masa lalumu. Itu akan membuatmu terjebak. Aku tak mau kau bersedih."

"Eomma sudah melupakannya, Kyungsoo. Hanya saja sekarang tak mau berurusan lagi dengan keluarga mereka."

"Lalu bagaimana dengan kami?" Mendengar suara Minseok yang mulai rendah pengaruhi suara Kyungsoo parau. "Kau tidak bisa menganggap pernikahanku seakan-akan lelucon. Itu tidak baik."

"Lain soal kalau Jongin bukan sepupu Baekhyun. Dan juga tidak akan melarang Chanyeol kalau Baekhyun bukan putri Heechul."

Kyungsoo memejamkan mata sejenak. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak tapi ia terlalu lemas melakukannya. Sesuatu entah tiba-tiba datang dalam benaknya, tapi Kyungsoo takut kalau kata-katanya nanti akan menyakiti hati Minseok.

"Pulanglah kerumah mertuamu. Bulan depan kau harus ikut ke Tokyo setelah bercerai.."

"Tidak, tidak." Kyungsoo menggeleng sambil berdiri. Ia bersyukur selagi tidak menggebrak meja kerja Minseok. "Tidak ada perceraian. Aku.. aku.." Ia menelan ludah susah payah. Memikirkan sesuatu dalam benaknya tadi membuat suaranya tergagap tapi mantap, "A-aku hamil. Ya, aku sedang hamil."

"Secepat itu?" Minseok ikut bangkit tanpa sadar tangannya justru menggebrak meja. Bisa Kyungsoo rasakan emosi dan tidak kepercayaan wanita itu atas pengakuan barusan. "Tapi 'kan.."

"Tapi apa? Kau pikir siapa yang antusias memintaku cepat-cepat menikah? Siapa yang begitu senang melihat aku dan Jongin pergi ke Amerika? Siapa yang meletakkan..." Kyungsoo merasa malu tapi ia tetap melanjutkan, "..lingerie di koperku kemarin? Kau kan?" Tak pernah ia pikir kata-kata itu tegas keluar dari mulutnya, tapi kali ini Kyungsoo tak akan mundur.

Minseok sudah amat keterlaluan, wajahnya memerah karena marah dan Kyungsoo agaknya tidak yakin kalau wanita itu bisa diam karna ucapannya. Sama halnya dengan kejadian sewaktu di arena balap, ia tidak pintar berbohong tapi anehnya mereka semua percaya kalau ia hamil, begitupun dengan Minseok.

"Eomma aku tidak mau anakku lahir tanpa Jongin. Seperti kau dulu. Begitu aku lahir kau sudah bercerai dengan appa. Aku tidak mau seperti itu." Tidak tahan melihat wajah Minseok yang menderita Kyungsoo beringsut melangkah mendekati pintu.

"Aku tak bisa.. aku tidak bisa bercerai. Jadi.." Ia menggenggam kenop, seakan-akan hanya benda inilah satu-satunya pegangan. Namun Kyungsoo ingin cepat-cepat pergi dan menoleh kepalanya lewat bahu. "Jangan menjadikan pernikahanku hancur..." Ia memejamkan mata sejenak, "..seperti eomma dan appa."

Tangan Minseok terkepal ketika Kyungsoo telah hilang dibalik pintu.

.

.

Siapa kira dulu Jongin adalah pemuda bandel dengan tampang preman, tapi sekarang pria itu layaknya pria-pria pembisnis jeli hanya dengan setelan pakaian kerja. Ia baru saja pulang dan mendapati Kyungsoo menyambutnya ceria seperti itu membuatnya takjub. Mengingat hubungan mereka yang terancam istrinya seolah-olah baik-baik saja.

"Kau sudah makan?" Kyungsoo membantu melepas dasi pada kemeja Jongin, meletakkan jas dan dasi itu ke gantungan dekat pintu.

"Sudah. Kau? Kulihat kau tampak sehat."

"Aku dan ibumu makan banyak tadi. Eommonim bilang aku agak gemuk. Ahh Jongin..." Kyungsoo tanpa sadar merajuk. "Kau pasti punya pendapat lain. Aku tidak seperti itu kan?"

"Kau seksi." Jongin terkekeh ketika wajah Kyungsoo memerah. Tangannya merambat menangkup rahang lembut wanita itu. Wajah istrinya tampak letih begitu kentara. "Kau belum mengatakan apapun soal eommonim."

Senyum Kyungsoo menghilang. "Demi Tuhan kau harus melihat wajahnya."

Jongin mengajak Kyungsoo duduk di tepi ranjang selagi wanita itu membuka dua kancing atas kemejanya. "Memang kenapa?"

"Aku bilang pada eomma kalau aku hamil. Aku juga tidak mau pernikahanku.." Kyungsoo berdeham. "..berantakan seperti eomma dan appa dulu."

"Lalu tanggapan eommonim?"

"Dia hanya diam saja."

Jongin tak bisa untuk tidak tertawa, tapi ia segera melingkari pinggang Kyungsoo menariknya lebih dekat. "Kyungsoo," Sambil bergumam simpati, Jongin meraih tangannya yang diam di pangkuan lalu menciumi tangan mungil itu. "Kalau itu satu-satunya cara membuat eommonim berubah pikiran mungkin sembilan puluh persen kau berhasil. Tapi kurasa kau baru saja menyiram bensin ke dalam api, sayang."

"Sudah kubilang kau harus melihat wajahnya tadi. Eomma sangat menderita saat aku mengungkit soal pernikahannya di masa lalu."

"Semoga ibumu memaafkanmu." Jongin berhenti untuk mengecup pelipis Kyungsoo. "Dan aku tetap suka bagaimana caramu berbohong. Hamil lagi, huh?"

"Yah! Aku tak bisa berpikir selain mengatakan itu."

Jongin tergelak ketika Kyungsoo memukul dadanya dua kali. Masih ingat benar gagasan hamil yang pernah Kyungsoo ajukan di arena balap di masa lalu. Agaknya lucu alasan ini juga digunakan untuk menyelamatkan hubungan mereka. Meski begitu ternyata Minseok dibuat diam, Jongin yakin ibu mertuanya mempertimbangkan hal ini.

"Baiklah, baiklah. Aku akan mandi, kau jangan tidur dulu. Kupikir membuatmu benar-benar hamil menjadikan alasanmu bukan sekedar kebohongan."

Pipi Kyungsoo sekilas memerah, terlebih Jongin meraih wajahnya untuk menekan ciuman sebelum pria itu berjalan ke kamar mandi. Memastikan Jongin sibuk dengan urusannya Kyungsoo berjalan mendekati cermin, memerhatikan tampilan dirinya yang sedikit berisi.

Kyungsoo akui porsi makannya bertambah akhir-akhir ini. Mengira naik dua atau tiga kilo dari berat badan sebelumnya. Yixing bilang ia sedikit gemuk. Kyungsoo berdiri menyerong memerhatikan lekuk pinggangnya, hm.. lumayan. Lalu menepuk pipinya, sedikit gembil. Kemudian mengerang frustasi. Ahh Kyungsoo tak suka dikatai gemuk.

"Sepertinya aku perlu menurunkan berat badan."

"Sudah kurus begitu mau di kuruskan lagi?"

Mata Kyungsoo melebar melihat pantulan Jongin yang hanya menggunakan handuk melilit di pinggang. "Kau sudah selesai mandi? Cepat sekali."

"Kaunya saja yang terlalu lama berdiri disitu. Sedang apa sih?"

"Aku hanya memastikan sesuatu."

"Dengar ya aku tak mau kau kurus. Tubuhmu tidak asik di remas nanti." Pria itu berjalan semakin dekat hingga tepat di belakang Kyungsoo. Tangan melingkari perut dan menumpu dagu di pundaknya sambil mengamati pantulan mereka berdua. "Tahukah kau apa yang kusuka darimu?"

"Hm, apa?"

"Semuanya." Jongin memberi kecupan disisi leher Kyungsoo yang beraroma manis. "Terutama bokong, dada, dan... kau sangat sempit sayang."

"Aku merasa sudah kebal dengan ucapan mesummu, Jongin. Tapi aku tetap mau menurunkan berat badan. Setidaknya dua kilo."

Jongin tertawa. "Tidak perlu. Kau cantik." Katanya, "Tubuhmu cantik." Suaranya lebih rendah. "Desahanmu paling cantik."

"Jongin." Wajah Kyungsoo memerah, mencegah pria itu tidak bicara semakin vulgar. Ia menarik kata-katanya yang kebal dari ucapan mesum suaminya, ternyata tidak. "Apa kau juga akan berspekulasi begitu saat aku benar-benar hamil?"

"Tentu saja, karena itu aku akan membuatmu hamil." Jongin mulai menciumi telinga Kyungsoo. Tangannya telah membelai sisi tubuh wanita itu, meremas pinggangnya yang ramping. "Apa kau sedang datang bulan?"

"Belum. Aku tidak mendapat bulananku sampai akhir maret."

"Bagus."

Kyungsoo tidak yakin sudah berapa lama mereka berciuman, setelah Jongin tiba-tiba merapatkan punggungnya ke dinding sementara tangannya menarik lepas gaun tidurnya. Jongin meraih kaki Kyungsoo melingkari pinggangnya ketika mereka berhasil melucuti kain terakhir. Hembus tarikan napas menjadi satu, ciuman dengan lidah saling membelit itu belum terlepas.

Merasakan satu dua jemari Jongin merangsek masuk di bawah sana, bergerak cepat. Kyungsoo menegang, mengerang, mengalungkan lengannya ke sekitar leher Jongin. "Nghh.. Jonginh.." Ia melepas ciumannya. Kepalanya terkulai di bahu Jongin karena kenikmatan yang dia dapat. Jari pria itu keluar masuk dengan cepat. Kyungsoo merintih, sulit bernapas.

"Ya sayang. Desahkan namaku." Mungkin ibunya benar, Kyungsoo sedikit lebih berat dari terakhir pernah menggendongnya. Tapi Jongin suka menyentuh Kyungsoo yang seperti ini, payudara yang pas di telapaknya kini lebih berisi. Seberat apapun itu Jongin dapat menopang Kyungsoo dengan satu tangan, sementara yang lain terus menyentuhnya hingga istrinya berdenyut mencapai puncak.

Kyungsoo mendongak setelah mengatur napasnya. Matanya yang bundar menggemaskan berkilat menggoda Jongin sementara perlahan beringsut berlutut. Memberi kecupan ringan di dada Jongin yang bidang, perutnya yang berotot, sebelum meraih kejantanan besar mengeras itu dengan tangannya yang mungil.

Mulut Kyungsooo melengkung miring mendengar Jongin menggeram. Ia masih ingin mempermainkannya sebelum pria itu mengerang frustasi, Kyungsoo membawa benda yang menegang itu ke mulutnya, menggodanya dengan lidah.

Sambil mengerang Jongin terpana ketika menatap ke bawah. Menepi helai rambut Kyungsoo ke sisi wajahnya sebelum menyematkan jemari di rambut halusnya yang panjang. Wajah istrinya yang cantik bahkan lebih cantik saat memanjakan miliknya seperti itu.

Sial. Dia merasa sebentar lagi sampai. Jongin berusaha mencegah diri meledak cepat, masih ingin menatap Kyungsoonya di bawah sana. Tapi ini godaan terberat, ia keluar sesaat setelah Kyungsoo mengencangkan mulutnya.

Meraih tubuh mungil itu kembali ke gendongan, Jongin membawa mereka ke ranjang. Melumat puncak payudara Kyungsoo yang menegang, menciumi perutnya.. dan kewanitaannya yang basah. Lidahnya menggoda pusat menggairahkan itu sebelum kembali naik untuk menciumi bibir wanitanya.

Kyungsoo menikmati berat tubuh Jongin yang menekan ke kasur dan membalas ciuman pria itu. Ia menggeliat ketika Jongin mulai memasukinya, lebih dalam. Tangannya meremas kepala pria itu yang terbenam di dadanya. Mengerang keras ketika gerakan penyatuan tubuh mereka semakin liar.

Jongin sepertinya tidak main-main ingin membuat Kyungsoo hamil. Dia begitu tanpa ampun menyentuh wanita itu di setiap tubuhnya mengingat mereka sempat muram pada permasalahan Minseok di masa lalu.

Jongin akan menjadikan malam ini adalah waktu untuk mereka. Sejenak melupakan beban yang menekan itu dengan percintaan panas. Kyungsoo dapat menikmati irama tubuhnya ketika mereka menyatu, dan membawanya ke puncak yang memuaskan.

.

.

Pada akhirnya mereka tahu Minseok dapat menerima semuanya dengan lapang dan menenggelamkan kenangan pahit di masa lalu. Kyungsoo saja bisa melupakan masa lalunya—meski sedikit lebih lama—pun ia kembali menjadi sosok ceria seperti dulu. Itu semua karena Jongin, dan Minseok yang menurunkan sikap kuat hati kepadanya. Memang sudah seharusnya Minseok juga melakukan itu pada dirinya sendiri.

Kali ini Chanyeol tak perlu khawatir lagi karna hubungannya dengan Baekhyun akan berjalan baik, mereka tinggal merencanakan pernikahan. Begitupun Kyungsoo, bahkan selepas ini ia dan Jongin bisa meluangkan waktu memilih unit apartemen untuk di tinggali keduanya sementara.

"Eomma minta maaf." Kata Minseok kepada putra putrinya. Mereka duduk-duduk di ruang tamu. "Kemarin malam Heechul dan Baekhyun mendatangiku. Heechul meminta maaf padaku dan eomma juga perlu meminta maaf pada kalian."

Berkat Baekhyun juga.. wanita itu tidak pernah menyerah membujuk ibunya untuk menjadi orang yang lebih baik. Heechul tetap akan menikah dengan Hansoo. Dan secara hukum Chanyeol masih dapat menikahi Baekhyun.

Mereka semua tidak ada yang melarang karna memang itu sudah menjadi impian dua orang ini sejak lama. Bahkan Hansoo lebih ingin Chanyeol menikahi Baekhyun dulu sebelum ia menikahi ibunya, pernikahan itu tetap diperbolehkan.

"Aku tahu eomma tidak akan setega itu tidak merestui kami." Senyuman Minseok melengkung saat Chanyeol menanggapinya dengan ceria. "Dan aku juga akan merestui eomma dengan pria yang.." ia melirik arlojinya. "Semoga dia dapat diandalkan. Seharusnya sudah datang sekitar lima belas menit yang lalu. Ya 'kan, Kyung?"

"Um?" Saking larut pada keputusan Minseok yang melegakan itu Kyungsoo sampai melamun. Tapi ia segera ikut melirik pergelangan tangannya dan merasa malu karena sedang tidak menggunakan jam tangan. Sesaat melihat gelang pinguin dan beruang pemberian Jongin, iapun tersenyum. "Kurasa calon ayah baru kita sebentar lagi sampai."

Perasaan kelu dalam dada Minseok akan terhapus oleh pria yang belum datang itu. Meski begitu ia yakin pilihannya sudah tepat, sudah pasti. Selain bisa memberi segalanya pada Minseok, kekasihnya juga akan memberi hal yang sama kepada anak-anaknya.

Hanya satu yang Minseok harapkan. Kasih sayang dari seorang ayah untuk Kyungsoo yang jarang mendapatkannya, dan perhatian dari seorang ayah untuk Chanyeol yang tidak terlalu banyak mendapatkan itu dari Hansoo.

"Kyung, sepertinya bukan hanya kau yang menjadi nyonya Kim. Eomma juga." Kata Minseok sambil terkekeh. "Oh ya, kehamilanmu sudah berapa minggu?"

"Kau hamil, Kyung?" Chanyeol menoleh dengan mata melebar, binar bahagia terpancar disana. "Wow, rupanya bulan madu kalian tidak sia-sia. Kujamin kalian pasti melakukan itu setiap hari disana."

Biasanya Kyungsoo akan mengaju protes kalau ada yang menggodanya, tapi kali ini dia meringis. Tentu saja Minseok tidak akan lupa pembicaraan mereka tempo hari. "Ng.. itu.. usia kehamilanku.."

Ketukan di pintu yang terbuka mengalihkan perhatian. Seorang pria dengan setelan pakaian rapi tersenyum memasuki ruang tamu. Sejenak Chanyeol maupun Kyungsoo terbelalak sesaat pria tadi di persilahkan duduk oleh Minseok. Jadi Kim yang maksud adalah Kim Jongdae.

"Maaf karena tidak tepat waktu. Tadi aku menjemput putraku dulu."

Memang keduanya tidak pernah tahu bahwa Jongdae adalah kekasih Minseok selama ini. Dan posisinya yang menjadi dosen lebih membuat mereka terkejut. Jongdae tampak tidak kaku bertemu mereka, malah bahagia bisa mengenal sebelum di kenalkan.

"Ssaem—astaga.. aku minta maaf dulu sering terlambat mengumpulkan tugas. Aku tahu aku siswa yang—" Chanyeol meringis malu. "..sedikit bandel. Tapi aku benar-benar minta maaf. Jangan ceritakan masa kuliahku pada eomma oke?"

Mereka semua tergelak terkecuali Chanyeol sendiri. Tapi seorang pemuda datang, potongan rambutnya tampak rapi dari yang dulu. Setelah mengucap salam dan membungkuk sopan, matanya lurus memandang Chanyeol, lalu berlaih menatap Kyungsoo lebih lama.

Edawn Kim...

"Nah, itu dia. Edawn, sapa calon kakak-kakakmu."

Kyungsoo tersedak udara kosong melihat Edawn tersenyum kecil padanya. Lalu kenapa Chanyeol hanya diam, bukan terkejut. Kyungsoo tak tahu diamnya pria itu di sertai amarah.

TBC

Situasi gak memungkinkan banget buat update tapi karena aku ingin ini cepet selesai. Chapter depan episode terakhir yeay!

wey ngga bisa sebutin kalian satu persatu. Readers emang penyemangat di tiap chapternya. wey sangat berterima kasih banyak buat kalian yang selalu sempetin review selama fanfic ini update, karena itu juga aku sempetin buat update. Aku sayang kalian /pelukcium/

Terima kasih udah baca ^^

wey~