Bucket Balloons List

.

.


VH


.

.

"Min Yoongi, berpacaranlah denganku!"

"tidak sampai kau mulai belajar memanggilku 'hyung', bocah gila."

.

.

"Yoongi hyung, apa hal yang paling kau sukai di dunia?"

"uang dan musik"

"selain itu?"

"... ketenangan.."

"bagaimana denganku? Aku tak punya apapun hal yang kau sukai..."

"well, karna aku memang tak menyukaimu."

"Min Yoo-"

"aku mencintaimu, puas?"

"..."

"jangan tanya apa alasannya, bocah, aku memang sudah terlalu gila karna mau menjadi pacarmu..."

.

.

Banyak orang bilang cinta adalah sihir. Mampu membuat orang melakukan apapun, memberikan kebahagian, kekuatan, kebaikkan, keburukan... dan semua hal-hal itu ada di diri Min Yoongi.

Sihir tidak masuk akal, sama seperti Jimin yang tak habis pikir kenapa ia bisa mempercayakan hatinya pada remaja bermulut kasar sepeti Min Yoongi.

Sihir itu indah. Seperti Min Yoongi, alasan kenapa Jimin tergila-gila dengan pemuda berkulit seputih susu itu di usia belianya.

.

.

"aku akan pergi ke Daegu. besok."

"a-apa?! Kenapa begitu tiba-tiba? Kapan hyung akan kembali?!"

"aku tak akan kembali ke sini."

"maksud hyung?"

"kau mendengar apa yang kukatakan dengan jelas, Park Jimin. Jangan buat aku mengulang perkataanku."

"maksudku –maksudku, kenapa? Kenapa kau tidak kembali? Apa ini karna keluargamu?"

"iya. Kami tidak bisa tinggal di Seoul lagi. kau tahu keluargaku telah bangkrut. Kami akan memulai semuanya dari awal."

"... lalu bagaimana denganku...? –maksudku, 'kita'?"

"kau bayangkan saja, apa kau masih mau berhubungan dengan orang yang selamanya tak akan kau lihat, Park Jimin?"

"selamanya? Hyung! Aku bisa mengunjungimu ke Daegu jika kau mau!"

.

"tidak. aku tidak mau. Kita berakhir di sini."

.

"hyung, aku mencintaimu..."

.

"kita masih muda, Jimin. Kita masih punya banyak waktu untuk mencari orang yang benar-benar mencintai kita... aku bicara seperti ini karna aku sadar kita memang tak di takdirkan untuk bersama."

.

"hyung tahu apa tentang takdir?!"

.

"aku tahu. Kita. Tak akan pernah bertemu lagi."

.

.

.

Cinta adalah sihir. Seperti Min Yoongi yang memiliki kata-kata yang menyihir otak Jimin hingga menjadi rusak. Min Yoongi selalu dengan mudah memainkan kata-kata yang mengalir di mulutnya, begitu saja. yang selalu Jimin harap semuanya adalah dusta. Tapi mata Min Yoongi tak pernah memancarkan silat keraguan.

Cinta adalah sihir. Mengerikan. Seperti Min Yoongi.

.


VH


.

Chapter 12 –Love is Magic

.

.

Masih di waktu yang sama. Waktu yang bersejarah.

Dimana seorang Kim Taehyung baru saja merengut ciuman pertama seorang Jung Hoseok.

.

.

"Tae, kau tahu kau baru saja mencuri ciuman pertamaku?"

Tanya Hoseok, dengan wajah menggoda. Sedangkan seorang yang duduk di depannya hanya bisa menunduk dalam dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Kadang remaja yang lebih muda itu mengigiti ujung-ujung kukunya, kadang memandang gelisah ke segala arah kecuali ke arah Hoseok di saat hening mereka. Yang anehnya Hoseok seperti orang jahat menjadi satu-satunya yang menikmati reaksi Taehyung sekarang.

Menggemaskan.

"hm... maaf... hyung... aku tak bermaksud-"

"ya! apa kau sedang mempermainkan ciuman pertamaku sekarang?"

"bukan begitu maksudku!" elak Taehyung cepat. Namun dengan itu ia dapat menatap Hoseok dengan pandangan menegur. Ia belum menyelesaikan kalimatnya. Taehyung berdehem pelan "maksudku... well.. aku tidak mengerti, itu hanya terjadi begitu saja!" ujarnya malu sendiri.

"... hari ini pikiranku kacau. Aku tak bisa berpikir dengan jernih... dan sesuatu itu membuatku penasaran dan ingin mencobanya..." jelas Taehyung seraya memandang remaja yang lebih tua darinya itu ragu.

Sedangkan Hoseok mulai makin mendekatkan wajahnya pada Taehyung dan suara nyaris berbisik Hoseok kembali bertanya "apa yang membuatmu penasaran...?" tanyanya.

"berciuman..." jawab Taehyung begitu saja. "aku bertanya-tanya apa rasanya saat bibir bertemu bibir... dan kenapa banyak orang melakukannya..." lanjutnya lagi. dan itu cukup untuk membuat wajah Hoseok sontak memerah karnanya. Mendengar Taehyung bicara dengan nada polos makin membuat ia merasa panas dan ia mulai merasa takut melihat remaja yang lebih muda di depannya.

.

"tapi, tapi sungguh hyung aku menyesal karna telah merebut ciuman pertama hyung. Aku tak tahu ciuman pertama ternyata sepenting itu. maafkan aku hyung... p.. pikiranku sedang kacau... hhh... dan... ugh..."

.

Hoseok makin bingung harus bicara apa saat Taehyung menekan kedua matanya dengan telapak tangan dan remaja itu mulai mengerang frustasi. melarang air mata untuk jatuh lagi. hati Hoseok langsung sakit melihat Taehyung yang juga terlihat yang seperti ini.

Ia tak pernah habis pikir masalah sebesar apa yang dialami Taehyung selama ini. Taehyung sudah terlalu sering menangis, ia sudah terlalu sering sakit, dan Hoseok mulai tak tahan dengan semua itu. ia ingin melindungi, dan menyelesaikan masalah 'tetangga'nya itu.

Akhirnya, hanya sebuah pelukan yang dapat Hoseok berikan. Remaja yang lebih tua itu memeluk Taehyung dengan erat. Ia menaruh kepala Taehyung untuk beristirahat di bahunya.

.

"kau ingin bercerita...?"

.

Bisik Hoseok tepat di sebelah telinga Taehyung. Membuat Taehyung yang sudah mendapatkan posisi ternyamannya itu menggeliat pelan karna geli. Taehyung –anehnya- menikmati posisi mereka, dimana ia bisa dapat menghirup aroma Hoseok dengan mudah, dan tangan Hoseok yang besar menepuk nepuk lembut punggungnya terasa begitu menenangkan. Seperti ketika dulu Ibu memeluknya ketika kecil.

Ia merasa begitu aman. seolah Sungjae bukanlah apa-apa, dan ia seolah tahu apa yang dirasakan ibunya saat itu. saat ia memeluk dan mencium seseorang yang sangat berarti baginya.

Taehyung tersenyum di balik bahu Hoseok. Merasa pikirannya sontak menjadi jernih dan kekuatannya bertambah. Pelukan Hoseok terasa seperti mesin sihir bagi Taehyung. Yang secara tak sadar membuat Taehyung mengeratkan pelukannya pada Hoseok.

"... ini mungkin aneh... tapi aku mulai merindukan ibu..." ucap Taehyung akhirnya. Masih memeluk Hoseok, dan ia memejamkan matanya saat Hoseok mengelus belakang kepalanya.

"merindukan ibumu sendiri bukan hal yang aneh..." ucap Hoseok kemudian, dengan suara tenang menenangkan "aku yakin ibuku tahu alamat ibumu sekarang. akan ku tanyakan nanti." Lanjutnya, mengingat Nyonya Jung adalah teman-minum-teh-sore ibu dari Taehyung. Seharusnya itu bukan hal yang sulit.

"tapi aku tak ingin bertemu dengannya." ujar Taehyung dengan suara pelan, seraya melepaskan pelukannya dan meletakkan lengannya di kedua bahu Hoseok.

Hoseok terlihat tak mengerti, dan makin mengerutkan dahinya saat Taehyung mulai tersenyum aneh. "well... hyung tahu aku memang aneh, kan?... ada hal penting... aku ingin menanyakan sesuatu dan kuharap hyung tak akan menertawakanku!" ucapnya, dengan pipi kembali memerah.

Hoseok tak menjawab. Memilih menunggu Taehyung melanjutkan bicaranya. Namun entah kenapa merasakan firasat yang tak nyaman. jantungnya kembali berdebar.

.

"apa dua orang yang saling bercumbu dan berpelukan itu sudah pasti disebut pasangan kekasih?"

.

.

Hoseok kembali melongo –yang entah sudah yang keberapa kalinya. Ia memang tak bisa menebak jalan pikiran Taehyung dan apa yang akan di katakan anak itu. Hoseok hampir saja pingsan tadi, jika saja ia tak sadar akan sesuatu. logikanya mulai berjalan. Apa ini ada hubungannya dengan ibu Taehyung?

Remaja yang lebih tua itu akhirnya berdehem setelah beberapa saat untuk mulai bicara setelah berpikir panjang "jawabannya... tidak juga. Pasangan-pasangan yang biasa ada di televisi dan melakukan 'dua hal itu' tidak bisa kita sebut pasangan jika mereka hanya berakting." Jelas Hoseok. Dan remaja itu segera menambahkan saat melihat dahi Taehyung kembali berkerut.

"tapi kupikir, jika mereka sama-sama merasakan kebahagiaan saat melakukan 'dua hal itu' berarti dua orang itu benar-benar pasangan kekasih. Mereka pasti saling mencintai." Tambahnya. Hoseok mengakhiri penjelasan absurbnya itu dengan mengacak rambut Taehyung.

"apa kau baru menemukan dua orang yang melakukan 'dua hal itu', Taehyung-ah?"

Taehyung mengangguk.

"dan apa mereka terlihat bahagia?"

Taehyung kembali mengangguk dengan pelan. dan Hoseok akhirnya bisa tersenyum lega saat melihat Taehyung—nya tersenyum tipis dan mengatakan sesuatu dengan suara yang amat kecil.

.

"sangat."

.

.

Begitupula denganku, hyung.

.

.

VH

.

Masih di waktu yang sama.

Kembali pada Jimin, bersama dengan sang masa lalu, Min Yoongi.

"astaga hyung, demi Tuhan kita akan pergi menemui siapa?!" tanya Jimin untuk yang kesembilan kalinya dalam jangka waktu satu jam terakhir. Ia makin frustasi saat remaja pemilik kulit pucat berbaju serba hitam itu tak menjawab apapun. Hanya terus memimpin perjalanan yang entah kemana.

Jimin kembali mendengus kesal. mengingat mereka telah dua kali memasuki bus yang sama dan berjalan memutar hingga kembali ke tempat yang sama. Jimin sungguh curiga apa penyakit buta arah Yoongi sudah sembuh atau belum.

"hyung, kau beri tahu alamatnya. Biar aku yang mencari."

"diam kau. Jangan ikut campur dan berisik atau kau kutinggal."

Yah, yang jelas Jimin yakin penyakit keras kepala Yoongi tetap ada hingga sekarang.

Walaupun merasa dongkol, Jimin dalam diam hanya bisa tersenyum menatap punggung Yoongi dari belakang yang terlihat kecil. Kenangan-kenangan manis masa lalunya teringat begitu saja. well, walau tak benar-benar manis sebenarnya. kurang-lebih memang persis seperti ini.

Yoongi yang galak, dan Jimin yang tak sabaran.

.

.

"sudah? Kita sudah sampai? Di sini?" tanya Jimin bertubi-tubi setelah ia mengikuti Yoongi memasuki sebuah hotel bintang empat.

"jika ini memang benar hotel DongNam, berarti kita memang sudah sampai." Ucap Yoongi tanpa menoleh kearah Jimin.

Remaja yang lebih muda itu hanya ber-oh ria, dengan masih mengekori Yoongi dari belakang. kini senyuman Jimin makin lebar. karna jika mereka sudah sampai di tempat tujuan Yoongi dan Yoongi segera menyelesaikan urusannya, itu berarti waktunya untuk Jimin. Bersama Yoongi. Membicarakan hal. Tentang mereka.

"hyung, bagaimana jika kita setelah ini makan ma-"

Sebelum Jimin menyelesaikan bicaranya, tiba-tiba tangan Yoongi menahannya untuk berhenti berjalan dan menariknya bersembunyi ke balik dinding persimpangan koridor hotel. Jimin membulatkan matanya karna kaget, dan ketika ia menoleh menatap Yoongi, remaja pemilik tubuh sedikit lebih rendah darinya itu memberikan tatapan tajamnya. Seolah mengisyaratkan Jimin untuk diam.

Dan jimin memang melakukan itu. ia menajamkan instingnya dan mulai waspada. Tak butuh waktu lama untuk keduanya mulai mendengarkan suara langkah kaki dan suara canda tawa beberapa orang. Jimin kembali menoleh ke samping saat merasakan nafas Yoongi tertahan di sebelahnya. Jimin memandang Yoongi dengan tatapan bingung sekaligus khawatir, saat melihat remaja yang memang memiliki warna kulit putih pucat itu kini wajahnya terlihat makin pucat. Dalam artian tertentu.

Dan butuh waktu beberapa saat hingga Yoongi menghela nafasnya panjang dan menutup matanya sejenak. Jimin tak tahu secepat ini ia kembali melihat wajah ketakutan Yoongi –karna dia memang punya ekspresi unik sendiri saat takut. Jimin mencoba menyentuh pipi Yoongi, tapi kalah cepat dengan Yoongi yang menepis tangan Jimin dan tiba-tiba berjalan keluar dari tempat persembunyian mereka.

.

"Yook Sungjae!"

.

Pekik Yoongi, seraya ia berdiri di tengah-tengah koridor. Menghalangi tiga orang yang berada tak jauh darinya. Dimana satu diantara tiga orang tersebut bernama Yook Sungjae. Yang kini memasang wajah seolah kaget akan kedatangan tiba-tiba Yoongi.

"wah... lihat siapa yang datang~" ucap Sungjae dengan nada dibuat kaget. Namun senyuman sinis itu tetap... mendominasi. Sukses untuk membuat segelintir orang merinding karnanya.

Dulunya, termaksud dengan Yoongi. Yang tidak untuk kali ini. remaja bersifat dingin itu tidak lagi menyandang nama memalukannya. Ia sudah kembali menjadi seorang 'Min Yoongi', bukan—

"apa yang uri SUGA lakukan di Seoul? Kau pernah bilang tak akan pernah ke kota ini lagi..." ujar Sungjae lagi dengan tenangnya. Ia berjalan mendekat kearah Yoongi, yang kini matanya telah berkilat penuh amarah.

Ia sungguh tak suka dipanggil dengan nama –sial- itu.

Tapi di sini, bukan itu lagi yang penting. Yoongi mencoba mengendalikan emosinya sendiri. ia kembali menghela nafasnya panjang dan memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya kembali memberikan tatapan tajam andalannya. Namun kali ini terlihat sangat tegas.

"kuminta... tidak. kuperintahkan kau berhenti dengan rencana kekanakanmu itu." ucap Yoongi dengan tegas. "atau aku akan menghubungi polisi atas semua masalahmu." Gertaknya kemudian.

"woa wooaaa... Suga-ssi, bicaramu mulai melantur. Kami tak mengerti maksudmu." Ujar tiga dari mereka yang lain. yang memiliki wajah aneh, Changsub. Wajahnya yang mengolok-olok makin membuat Yoongi jengah.

"kalian tahu benar maksudku..." ujar Yoongi, seraya menarik kerah baju Sungjae –yang sedari tadi terlihat menahan tawa "jangan. Sentuh. Taehyung." Ucapnya kemudian penuh penekanan. tapi Sungjae masih juga memasang wajah seolah Yoongi di hadapannya adalah badut penghibur. Remaja tinggi itu tetap memasang wajah kelewat ceria yang mengerikan.

Yoongi mengutuk sisi Sungjae yang itu. serasa ia ingin sekali menginjak-injak dan melemparkannya ke jalan raya wajah tampan nan menyebalkan itu. itupun kalau ia bisa... nah, ini bagian dari dirinya yang tak ia sukai.

.

Sungjae tiba-tiba tertawa keras, seolah ia sudah tak bisa lagi menahan tawa yang sedari tadi ia tahan. Karna Yoongi terlihat begitu menggelikan –yang ini adalah kali pertamanya Sungjae dan teman-temannya melihat sisi Yoongi seperti ini. sejak Sungjae mengenal Yoongi, ia paham sekali jika remaja berkulit seputih salju itu tak lebih adalah anak yang tak pernah peduli dengan sekitar. Pada orang-orang pula.

"apa Taehyung sepenting itu bagimu, Suga?" tanya Sungjae "sangat aneh melihatmu bertingkah seperti ini... apa? Kantor polisi? Kukira keluarga Tuan Min tak pernah berhubungan baik dengan polisi." Lanjutnya, seraya makin mendekatkan wajahnya pada Yoongi.

Ia kemudian mengangkat tangannya. bermaksud menahan wajah Yoongi untuk tidak memalingkan wajah kearahnya. Dan Sungjae baru saja menyentuh dagu Yoongi hingga tiba-tiba seseorang melesat kedepannya. Memisahkan jarak antara dirinya dengan Yoongi.

Kalian tahu itu siapa. Remaja lain yang sedari tadi tak tahan untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya.

"jangan berani kau menyentuh Yoongi hyung!" pekik remaja itu –Jimin yang wajahnya memerah murka. Ia merentangkan tangannya, berusaha melindungi Yoongi.

"mwoya? Gula-gula itu menyuruh kita untuk tak menyentuh si pecundang Taehyung, dan sekarang ada orang lain yang melarang kita menyentuh si gula-gula? Apa kita sekotor itu untuk menyentuh kalian berdua? Apa kalian berdua keturunan bangsawan, huh?" Changsub terus berceloteh tak jelas dan Sungjae kembali tertawa meremehkan Jimin dan Yoongi di depannya.

Dan butuh waktu beberapa saat untuk Yoongi menenangkan dirinya sendiri karna rasa dongkol telah menumpuk di dadanya yang mulai terasa sesak. ia akhirnya menghela nafas sejenak dan menurunkan tangan Jimin yang menghalanginya.

.

"kalian memang kotor, brengsek, dan sampah. Harusnya kalian tahu aku tak pernah bermain-main dengan kata-kataku sendiri."

.

Ucap Yoongi, sebelum akhirnya menarik lengan Jimin untuk pergi. ia tahu saat ia menyeret Jimin pergi, remaja yang lebih muda itu menatap Yoongi, menunjukkan penolakkan. Tapi Yoongi balik menatap Jimin dengan tatapan lelah bercampur marah. Seperti bagaimana perasaannya saat ini hingga akhirnya Jimin menurut dan mengikuti Yoongi untuk pergi.

Sedangkan Sungjae, remaja bertubuh tinggi itu mengorek telinganya sendiri sambil tertawa aneh "kapan terakhir kali kita mendengar Min Suga memaki?" tanyanya pada dua temannya.

"sejak Taehyung... ah, apa kalian tak sadar kejadian tadi seperti deja Vu?" tanya Changsub kemudian, Sungjae mengangguk. kini senyuman licik kembali terbentuk di bibirnya.

"nah, bagaimana jika kita ubah rencana dan membuat kejadian yang sama seperti tahun lalu? Paniel hyung, kau setuju, kan?" tanya Sungjae, seraya ia menoleh pada satu temannya yang sedari tadi hanya diam menonton di belakang.

Remaja berwajah orang luar itu tak langsung menjawab. Memilih untuk berjalan meninggalkan dua temannya yang lain "ayo cepat pergi, aku lapar..."

.

.


VH


.

.

Sore itu mendung.

.

"aku sangat minta maaf hyung, dan terima kasih atas bantuanmu selama ini..."

"tunggu! Ya! aku sama sekali tak memikirkannya—hei! Jangan pergi dulu!"

.

.

Wanita itu meletakkan cangkir kopinya di meja begitu bahunya di tepuk pelan dari belakang. ia menoleh, dan tersenyum hangat saat melihat seorang pria yang kini telah mengambil tempat duduk di sampingnya.

"apa yang sedang kau lihat?" tanya pria dewasa itu. yang memiliki tubuh tinggi semampai, berambut hitam agak pendek dan berkaca mata tebal. Bertanya pada wanita bertubuh kecil yang cantik di sebelahnya.

"kau lihat itu? sepertinya Namjoonie baru saja diputuskan oleh pacarnya yang lain." ucap wanita itu, seraya terkekeh geli. Tangannya menunjuk ke luar jendela besar di hadapan keduanya. Dimana seorang remaja –Namjoon, mencoba menghentikan seseorang lagi untuk pergi. setelah mereka bicara begitu serius tadi. dan wanita itu sudah memperhatikan di dalam toko bukunya sejak setengah jam yang lalu.

Sang pria memutar bola matanya malas, lalu mengacak rambut pendek coklat karamel wanita di sebelahnya "kau selalu menyimpulkan segala hal sendiri, Baekhyun-ah." Ucap pria itu.

Wanita itu –Byun Baekhyun, pemilik toko buku Rosemary yang 'bekerja sambilan' sebagai penulis terkenal itu memasang wajah tak setuju, seraya tangannya mencoba menghalangi tangan besar tunangannya –Park Chanyeol- agar tidak mengacaukan tatanan rambut halusnya.

"kau menghancurkan tatanan rambutku, Park Chanyeol!" pekik Baekhyun kesal, tapi kini balik Chanyeollah yang tertawa. "seorang Byun Baekhyun tak pernah menata rambutnya, kau gumpalan benang!" ejek Chanyeol nakal.

Dan seterusnya. Kedua pasangan itu berakhir dengan saling ejek, berteriak, dan memukul di dalam toko buku rintisan keduanya yang sepi sore ini. Tapi tidak sampai suara bell pintu toko berbunyi. Tanda seseorang masuk ke toko. Bukan pelanggan, tapi seorang remaja yang mereka bicarakan sebelumnya.

"nah, kenapa wajahmu seperti itu? tidak seperti kau baru di putuskan oleh seseorang?" celetuk Baekhyun begitu saja, yang setelahnya di berikan sikutan oleh Chanyeol. Baekhyun hanya mengangkat kedua bahunya. Memandang pekerja dan Tunangannya secara bergantian.

Sedangkan kini balik Namjoon –Rapmon- lah yang memutar bola matanya. memandang malas Bos cantiknya itu. "dia sepupuku, Bos." Jawab Namjoon pendek. Ia rasanya segera ingin kabur mengerjakan kembali tugasnya bersih-bersih toko, tapi Baekhyun kembali bicara.

"tenanglah, memacari keluarga sendiri bukan sesuatu yang sulit, ku pikir... tapi memacari dua orang sekaligus itu yang sulit." Celoteh Baekhyun dengan riangnya. Ia kembali di sikut oleh Chanyeol di sebelahnya, yang kembali membuatnya kesal.

Chanyeol berdehem "maafkan dia Namjoon-ah, kau tahu Baekhyun hanya terlalu senang hari ini." ucap Chanyeol seraya memamerkan senyuman maklum "otaknya memang sedang tak beres sejak tadi pagi –aak!"

Namjoon akhirnya hanya menghela nafasnya ketika melihat kelakuan dua bosnya itu. saat Baekhyun dan Chanyeol mulai saling mencubit dan berteriak. Persis seperti anak sekolahan yang bahkan –pasti tak akan ada yang menyangka umur keduanya sudah mencapai tiga puluhan. Namjoon sendiri tak tahu kenapa ia bisa tahan bekerja hampir dua tahun di bawah perintah dua pasangan aneh nan kekanakan ini.

"oke, Bos kalau begitu aku akan mulai bersih-bersih dan pulang." ujar Namjoon akhirnya saat dirasa ia telah membuang waktunya menonton dua bosnya.

"hei, Namjoon-ah, apa sepupumu ada masalah?" tanya Baekhyun. yang lagi-lagi membuat Namjoon menghentikan langkahnya. Bos cantiknya itu kini tak lagi menatapnya dengan pandangan jahil, melainkan terlihat serius dan cemas.

Sebelum Namjoon ingin membuka mulutnya untuk menjawab bahwa ini masalahnya dan bos nya itu tak perlu ikut memikirkan, Baekhyun kembali berkata "apa semua orang yang ke sini dan menemuimu memang seperti itu? wajah sepupumu tadi sangat terlihat jika dia tak sedang baik-baik saja. sama seperti 'temannya temanmu' yang ke sini beberapa hari lalu... wajah mereka sama, seperti seseorang yang membutuhkan bantuan." ujar Baekhyun. wajah wanita dewasa itu terlihat makin sendu.

.

"aku pun akan membantu, jikapun aku bisa... dan jikapun mereka mau kubantu, bos..."

.

Ucap Namjoon, seraya tersenyum tipis dan memasang ekspresi seolah mengatakan bosnya itu untuk tak perlu terlalu memikirkan masalahnya. Kadang Baekhyung memang menyebalkan dengan sifat sok tahunya, tapi di sisi lain, Baekhyun memang wanita yang terlalu sensitif dengan sekitar. Ia suka menerka-nerka, dan hampir sebagian besar dugaannya memang tepat. Namjoon harus susah payah mengakui itu.

"ah, bos, kalian bilang kalian akan pergi sore ini?" tanya Namjoon akhirnya, mencoba memecah nuansa sendu yang tiba-tiba terjadi diantara ketiganya.

Baekhyun tersentak, seolah baru menyadari "benar! Yaa Chanyeol-ah ayo cepat bergegas!" pekik Baekhyun heboh sembari bangkit dari tempat duduknya dan menarik lengan Chanyeol untuk segera pergi.

"kalau begitu kami pergi dulu, Namjoon-ah. Kau boleh langsung pulang, besok saja bersih-bersihnya" ucap Chanyeol sebelum pria itu menutup pintu toko. Meninggalkan Namjoon sendirian di dalam toko buku bernuansa putih itu.

Remaja itu menghela nafas, seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Sepertinya ia memang akan bersih-bersih toko besok pagi seperti apa yang dikatakan Chanyeol. Tapi itu bukan hal terpenting... karna perkataannya sendiri tadi seolah menyadarkannya sesuatu, tentang membantu.

Tanpa berpikir lama, Namjoon pun merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Mencari satu kontak dan menghubungi nomor tersebut.

.

.

"halo? Hoseok-ah?"

.

.


VH


.

.

Dan malam itu,

Hujan.

.

"waah... ternyata kau lebih tangguh dari yang kubayangkan, bocah."

"di sinilah kau harus mulai menyadari bahwa dunia itu kejam!"

.

.

BUK

BUK

.

Remaja itu mendongak, atau lebih tepatnya, terpaksa mendongak saat rambutnya dijambak ke belakang. ia tersenyum "satu pukulan lagi, dan hutangku akan lunas, kan?" tanyanya dengan ekspresi –yang-mengejutkannya- terlihat riang. Tubuhnya penuh dengan lebam dan luka, ia sudah berkali-kali dipukuli dua orang dewasa di depannya, tapi ia sama sekali tak mengeluh dan meminta ampunan. Ia hanya mengerang kesakitan. Itu saja. tapi ia sama sekali tak memberikan perlawanan.

"satu pukulan lagi, dan bagaimana jika kau bergabung dengan kami?" tanya salah satu pria di sana "kami butuh bocah yang bisa menahan sakit sepertimu."

.

BUK

.

Satu pukulan di perut remaja itu.

"ini tawaran bagus untukmu nak. Kau akan mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan. Kau akan berlatih berkelahi dan tugasmu hanya mengikuti perintah ketua." Tambah pria satunya lagi, setelah pukulan terakhir. Ia melepaskan pegangannya di kerah baju remaja itu dan membiarkannya bernapas dengan benar untuk beberapa saat.

Remaja itu terbatuk darah, namun senyuman tetap tertera di bibirnya. ia menatap dua pria itu untuk beberapa saat, kemudian menggeleng.

"aku tak pernah punya cita-cita untuk menjadi preman penagih hutang, tuan." Jawab remaja itu dengan ringan.

.

"aku hanya ingin menjadi orang baik tanpa masalah, itu saja..."

.

Kedua pria dewasa itu tertawa serentak. Yang suara tawanya cukup untuk membuat remaja yang tengah terkapar itu mengernyitkan dahinya karna kepalanya pusing. Dan tiba-tiba dagunya di cengkram dengan kuat oleh salah satu dari mereka.

"ini benar-benar tawaran paling bagus, nak. Kau cukup bodoh untuk menolaknya."

"yah... aku memang bodoh karna sering membolos sekolah. Setelah ini semua selesai aku akan belajar dengan giat, tuan." Jawab remaja itu dengan polosnya.

"dan sebelum kau pintar, kau akan mati kelaparan. Bocah miskin! Kau harusnya cukup pintar untuk tahu bagaimana caranya bertahan hidup!" pria itu mulai menaikkan suaranya. Remaja itu meringis saat pipinya di tekan makin kuat oleh pria di depannya.

Hujan makin lebat. Ia sudah basah seutuhnya dan rasanya kulitnya makin sakit karna air hujan bercampur lumpur mengenai tubuhnya. Ia ingin segera menyelesaikan ini semua.

Remaja itu menggeleng dengan kuat.

"aku harus hidup dengan baik! Aku sudah berjanji!"

Pekiknya tiba-tiba. Remaja itu pun tak mengerti kenapa emosinya bisa naik begitu saja. di pikirannya sekarang kini hanya ada satu orang. yang terus menghalangi kepalanya untuk mengangguk. menyetujui tawaran begitu bagus dua preman penagih hutangnya itu. ia sudah pernah dengar tentang cerita kelompok-kelompok rentenir kasar yang hampir mirip dengan mafia itu. dan remaja itu tahu dengan jelas bagaimana hidupnya ketika ia masuk dalam kelompok seperti itu.

Ia akan makan dengan baik, memakai baju yang pantas, tidur di tempat hangat, bekerja ketika di suruh ketuanya, bertindak kasar, dan memukuli orang-orang yang bernasib sama dengannya. itu bukan hal bagus.

.

Ia sudah berjanji, hidup seberat apapun... ia tetap harus menjadi orang baik, hidup dengan baik, hingga bukan kejahatanlah yang akan membuatnya mati. Tapi kerja keras.

.

"sepertinya kami sudah terlalu baik padamu, bocah idiot..."

.

"bagaimana jika beberapa pukulan lagi akibat kau membuat kami berdua marah?"

.

.

Terserahlah. Ia sudah menyerah dengan hidupnya. jikapun ia mati, setidaknya ia mati tanpa mengingkari janjinya sendiri.

Ia kembali menerima pukulan di perutnya. Kakinya. Punggungnya. Dan bagian lain hingga erangannya makin keras, seolah menantang suara hujan yang makin deras. Kegelapan menyamarkan warna darahnya yang bercampur dengan air dan lumpur dari gang sempit yang kotor itu.

Hingga remaja itu telah sampai di limitnya, dan ia melihat sebuah cahaya dari ujung gang.

.

.

Dan semuanya benar-benar menjadi gelap dan tubuhnya terasa remuk.

Remaja itu hanya tahu tubuhnya diangkat dan tiba-tiba air hujan tidak mengenai tubuhnya. Mungkin ia mati. Itu yang sempat di pikirkannya hingga beberapa saat, ia mencoba membuka matanya kembali walau terasa berat. namun ia masih tak bisa mendefinisikan dimana ia sekarang.

"bertahanlah nak, kita akan sampai ke rumah sakit sebentar lagi."

"bisakah kami tahu namamu?"

Remaja itu hanya bisa mendengar suara itu tanpa ada wujud manusia yang bisa ia lihat. Menyerah. Terserahlah, tubuhnya sudah sangat lelah dan anehnya yang bisa ia rasakan hanya kelegaan dan rasa aman. Remaja itu menutup matanya kembali, dengan sebuah senyuman penuh kelegaan kembali terukir di bibirnya.

.

.

"... Jeo... Jeon Jungkook..."

.

.

.

bersambung

.

.

Hi this is Bisory as always!

it's already 12th chapters guys! look how cool you all can read this long story, ehehee... and yeah, semuanya sudah semakin komplit, semua member sudah pada perannya masing-masing, dan semoga beberapa rahasia yang terungkap sedikit mengobati rasa penasaran readersnim sekalian ^^

dan bagaimana inii? saya sedang dalam proses menulis untuk chpter 15, dan baru menyadari vhope sepertinya akan mulai sedikit bertransformasi(?) menjadi... ah, please looking forward for them! /plak

dan... dan... saya tak akan habis-habisnya mengucapkan terima kasih pada readersnim sekalian. yang sudah membaca, apalagi mereview! kalian nggak akan tahu betapa ajaibnya kata-kata kalian di box review ff ini bagi saya... terima kasih sudah mengingatkan hal yang kadang terlupakan(?), mengoreksi, memberi semangat, dan antuasiasme-nyaaa! love you all~! (TT . TT)

and last,

what do you think 'bout this chapt guys?