Disclaimer : Diriku tidak mempunyai Death Note. Fanfictna si punya beberapa…

Summary : L adalah pewaris terakhir keluarga bangsawan Lawliet. Disaat kewajiban memanggilnya kembali, bagaimana kelanjutan cintanya dengan Light? Apalagi jika salah satu kewajibannya adalah menghasilkan seorang pewaris yang tidak bisa diberikan oleh Light… LxLight. LightxMikami Yaoi. Mpreg. AU. No Death Note.

Note: Agak OOC. Ya ialah… Kalo ga OOC ga mungkin ada Yaoi. Hidup YAOI!!!

Genre : Romance/Angst

Rating: Mulai Chapter ini jadi M!

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Light's Journal….

Apakah aku begitu menyedihkan? Bertahan hidup ditempat ini hanya karena kewajiban. Menunggu orang yang seharusnya menjadi pendamping hidupku setiap malam karena takut akan layangan tangannya lagi?

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Mengapa? Mengapa ia harus mencintai orang ini? Mengapa ia masih menyimpan cinta disaat ia terus disakiti seperti ini? Setetes air mata kembali jatuh ke pipinya. Memaksanya menunduk kembali. Menyelesaikan tugasnya memperbaiki dasi L. Namun cengkeraman kuat L di pinggangnya malah menambah rasa sakit yang rasakan.

" Maaf...," bisiknya sangat pelan. Maaf karena ia dikalahkan oleh rasa sakit di tempat ini.

" Maaf...," bisiknya lagi. Namun tetap saja air matanya jatuh lagi ke pipinya. Memaksanya menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan kepedihan di wajahnya.

Ia sendiri tidak tahu ia harus meminta maaf karena apa. Sebagian kecil dirinya terus berpikir apakah rasa sakit ini memang pantas ia rasakan? Apakah ia pernah menyakiti L dulu hingga L membalasnya seperti ini? Namun di lubuk hatinya ia tahu pasti. Yang pernah ia lakukan kepada L sejak dulu adalah mencintainya. Mencintai L lah yang merupakan kesalahan besar baginya. Mencintai L lah yang membuatnya begitu lemah seperti ini. Mencintai L lah yang membuat dadanya sakit seperti ini.

Tidak pernah seumur hidupnya ia merasakan penyesalan yang begitu dalam dibalik rasa sakit dan kepedihannya.

Bukan karena menyesal telah mencintai L.

Akan tetapi menyesali mengapa nyawanya tidak diambil saja bersama desiran ombak kemarin….

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Chapter 12 : A Sacrifice

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Light semakin menjauh. Ia menyadari itu. Entah mengapa jarak yang memisahkan mereka terasa semakin bertambah. Ia menoleh kecil menatap pria tampan yang duduk di sofa limousine yang sama dengannya. Namun entah mengapa ia mampu merasa Light semakin menjauh darinya. Hal yang ia sadari dimulai saat Light menangis di koridor hotel tadi.

Ia sendiri bingung, entah apa yang ia perbuat sehingga membuat Light menangis seperti itu. Setahunya ia tidak melayangkan tangannya lagi saat itu. Namun tangisan sunyi yang dibuat Light seakan ia telah melukai Light lebih dalam lagi. Ia hanya mampu bernafas lega saat tidak ada satu orang pun yang melihat ini semua.

Ditolehkan lagi kepalanya menatap pendamping hidupnya yang sekali lagi hanya terdiam memandangi pemandangan diluar kaca hitam limousine dengan pandangan kosongnya itu.

" Light-kun…," panggilnya pelan. Sesaat ia terdiam menunggu gerakan atau jawaban dari Light. Namun Light kun tetap diam tak bergeming. Seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

" Light-kun!" panggilnya lebih keras. Kali ini Light nyaris melonjak karena kaget. Namun tentu saja ia menahan dirinya untuk melakukan itu. Light menolehkan kepalanya perlahan menghadap L. Akan tetapi ia tidak menatap matanya sama sekali. Pandangannya terarah ke dada L.

" Ya, Tuan…," bisiknya nyaris tak terdengar. Namun L mendengar dengan jelas setiap kata-katanya. Dengan gerakan cepat ia menggenggam sebelah jari-jari tangan Light dan mencengkeran dagu Light, memaksanya menatap langsung kepadanya dengan ini.

" Kau adalah pendamping hidupku…," desisnya dingin. Mendadak ia emosi mendengar kata-kata Light tadi.

" Aku tidak suka melihatmu merendahkan dirimu seperti tadi! Kau ini bukan pelayanku!" serunya meninggi.

Light terdiam. Terdiam tanpa bereaksi apa-apa. Menatapnya dengan tatapan hampa dari mata cokelat redupnya.

Mendadak ia menyadari jari-jari Light yang dingin dan melemas bagai tak bernyawa di tangannya.

Mendadak ia menyadari seberapa jauh jarak antara mereka berdua.

Sekali lagi Light hanya terdiam sembari menatapnya dengan mata cokelat redup itu. Matanya yang menjadi cermin jiwanya yang telah hancur dan compang camping. Ia telah berjuta kali memuja keindahan makhluk di hadapannya ini. Namun ia sendiri mampu melihat Light tidak bercahaya seperti dulu lagi. Berganti dengan keindahan yang penuh dengan kesedihan dan luka. Wajahnya pun seakan berukirkan sedih di sana. Namun sekali lagi ia tak mampu menahan diri melihat keindahan di tangannya ini. Seperti sebuah patung mahakarya yang berada di dalam gelas kaca.

Dibiarkan ibu jarinya berpindah menyentuh bibir merah muda milik Light. Diusapnya bibir itu perlahan-lahan. Dengan lembut ia menurunkan kepalanya dan mengecup bibir Light. Bibir mereka bersentuhan untuk beberapa detik. Sekali lagi tidak ada reaksi apa-apa dari Light. Ia hanya diam di sana, membiarkan L melakukan apa yang ia inginkan. Menyadari Light tidak bereaksi apa-apa, perlahan-lahan L melepaskan ciumannya. Mata hitamnya masih terperangkap menatap bibir sempurna dihadapannya. Perlahan-lahan bibir itu membuka.

" Baik…," sebuah suara pilu membalas ciumannya.

" L…." Bisikan kecil keluar dari sana. Namun yang membuatnya terdiam membeku adalah kekosongan dan getar kehancuran dari mulut Light. Diangkat kepalanya menatap mata cokelat Light kembali.

Kosong…

Hampa bagai kematian. Lalu dihadapannya, kedua mata cokelat itu meredup penuh kepedihan.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Empat bulan kemudian…

Light terbangun karena rasa sakit di tenggorokkannya. Begitu ia sadar ia akan terbatuk, cepat-cepat diambil sapu tangan putih yang tergeletak di meja sebelahnya. Ditutupnya mulutnya cepat-cepat sementara paru-parunya mulai memanas. Lima menit ia terbatuk tanpa berhenti. Menunggu hingga paru-parunya berhenti memburu, ia pun akhirnya melepas sapu tangan yang menutupi mulutnya.

Beberapa percikan darah menodai sapu tangan itu. Ditutup kedua kelopak matanya dalam kepedihan. Perlahan-lahan dibiarkan kepalanya menyentuh bantal di belakangnya lagi. Mendadak kelelahan menimpa tubuhnya. Kehamilannya sudah mulai terlihat. Bukit kecil yang nyaris tak terlihat membentuk di perutnya.

Ditempat ini, di kamarnya sendiri ia berbaring diam memandangi langit-langit di atasnya. Ia sadar betul dengan kekhawatiran Namikawa akan dirinya. Ada kehidupan di dalam perutnya, namun bukannya bertambah berat badan, berat badannya malah menurun perlahan-lahan. Ia tidak tahu apa yang mampu ia perbuat lagi. Bukan makanan yang menurunkan berat badannya. Tetapi stress yang ia sadar ia rasakan. Namun ia tidak pernah sekali pun mengatakan kepada L masalah ini. L tidak perduli dengannya, ia tahu itu.

Dijulurkan tangannya meraih ponsel yang diberikan ayahnya kepadanya. Ditekannya beberapa nomor yang ia tahu jelas. Beberapa kali bunyi sambung terdengar di telinganya, hingga akhirnya suara yang ia kenal mengangkat panggilannya.

" Hallo, Light?" suara Soichiro menyapanya.

" Ayah…," balasnya pelan.

" Kau tidak apa-apa?" tanya Soichiro. Sesaat keheningan mewarnai panggilan mereka hingga akhirnya suara seraknya menjawab pertanyaan ayahnya.

" Tidak…," bisiknya. Masing-masing mengetahui kebohongan dibalik ucapannya ini. Ia dapat membayangkan helaan nafas yang dikeluarkan ayahnya.

" Light, kau tahu apa yang terjadi di markas hari ini?" mulai Soichiro. Light diam saja tak menjawab apa-apa. Tidak lagi terbiasa membuka mulutnya selama beberapa bulan ini. Seperti biasa, ayahnya menceritakan kejadian-kejadian di markas Jepang atau apa saja. Ia hanya mendengar. Seperti biasa, ia hanya diam mendengarkan. Yang paling penting baginya adalah ia mampu mendengar suara-suara ayahnya, atau suara Sayu. Apa saja yang membebaskannya dari keheningan ini.

Ia menyadari betapa sedikitnya kata-kata yang keluar dari mulutnya beberapa kali ini. Namun ia sama sekali tidak mengubah hal tersebut. Di sini, ditempat ini, ia tidak ditakdirkan untuk bersuara. Untuk mengeluarkan semua isi hati dan jeritan kesakitannya. Ia menyadari hal ini. Ia menyadari betapa terkekangnya ia bahkan untuk bicara sekali pun. Perlahan-lahan kehidupannya terlepas dari tangannya. Walaupun ayahnya tidak tahu itu, hanya telepon darinya lah yang menahan kehidupannya. Dibiarkannya matanya menutup, mendengarkan suara menenangkan dari ayahnya.

" ... lalu dia menjatuhkan kopi itu ke kepala Aizawa. Aku sendiri memikirkan apa yang akan terjadi kepada rambutnya itu. Dasar Matsuda...."

Sekali lagi dibiarkannya terlarut dalam suara menenangkan ayahnya.

Apa saja.... Apa saja untuk membebaskannya dari keheningan menyakitkan ini....

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Tuan Lawliet…," ujar seorang pemuda berumur tiga puluhan itu. L yang tadinya mengacuhkan keberadaan pemuda itu terpaksa menoleh memberikan perhatiannya.

" Ada apa, Mr. Namikawa?" ujarnya tegas dan singkat. Beberapa saat ia menunggu mendengar jawaban Namikawa. Namun dokter muda dihadapannya ini terdiam membisu. Seakan menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

" Apa ada sesuatu dengan Light-kun dan bayinya?" tanya L mendesak. Ditodong seperti ini, Namikawa terpaksa membuka mulutnya.

" Berat badan Light perlahan-lahan terus menurun. Saya rasa ini bukan akibat dari kehamilannya, tetapi karena stress," ujarnya cepat. Matanya menatap mata sang bangsawan dihadapannya sedikit khawatir. Akan tetapi mata hitam milik L tidak menunjukkan emosi apa-apa. Malah kedua alis mata L terangkat mendengar ini.

" Lalu?" desak L lagi. Kali ini Namikawa nyaris menahan helaan frustasi melihat keacuhan pria dihadapannya ini. Ditenangkannya dirinya, berusaha menyiapkan diri untuk menerima amarah dari pria temperamental ini.

" Melihat sikapnya akhir-akhir ini, saya rasa lebih baik Light berkonsultasi dengan psikiater…," ujarnya lembut. Sesaat hening, ia pun nyaris berjengit begitu mendengar bentakan dari pria dihadapannya ini.

" Psikiater?!" seru L keras. Memberanikan dirinya, Namikawa mengangguk sembari menatap mata hitam L lurus.

" Kalau anda perhatikan, sikap Light seperti ini tidak bisa dianggap normal-"

" Light-kun baik-baik saja!" potong L tiba-tiba.

" Tidak ada yang salah dengan Light-kun. Kalau masalah kesehatannya, itu urusan anda, bukan urusan saya. Seharusnya anda hanya melaksanakan tugas anda. Itu saja. Tanpa harus ikut campur mengurusi masalah keluarga kami!" ujar L. Mendengar ini, Namikawa merasa tidak bisa tinggal diam.

" Anda tidak melihatnya sendiri! Bagaimana Light perlahan-lahan jatuh dalam depresi! Anda-"

" Diam!" mendadak sepasang tangan mencengkeram kerah bajunya dan menabrakkannya ke dinding di belakangnya. Namikawa tidak sempat bersikap apa-apa saat L melakukan ini. Bukannya berhenti karena ketakutan, ia malah sengaja menjabarkan apa yang terjadi dengan Light.

" Berat badan yang terus menurun, mata yang tidak bersinar lagi, tidak ada keinginan untuk hidup, tidak ada perlawanan sedikit pun, hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan terhadap diri sendiri-"

" Hentikan!" potong L lagi. Matanya menatap Namikawa dengan sangat emosi.

" Kau seharusnya sadar akan posisimu di sini! Hanya. Seorang. Dokter. Suruhan. Sebaiknya berhenti mengurusi urusan orang lain!" desisnya marah. Namun dokter muda dihadapannya malah tersenyum menatapnya.

" Anda ingin memecat saya? Seharusnya anda tahu rahasia apa yang saya simpan sekarang ini. Dengan beberapa kata dari mulut saya saja akan menghasilkan skandal besar bagi anda di publik. Anda tahu, Tuan Bangsawan. Seumur hidup saya belum pernah merasa sekasihan ini pada seseorang. Hanya pada Light. Buka matamu, tuan Bangsawan. Lihat apa yang terjadi pada pendamping hidupmu!" ujarnya. Segera L mengangkat kepalan tangannya mendengar ini.

" Kau-"

" Pukul! Silahkan pukul saya!" potong Namikawa, membuat kepalan tangan L berhenti di tengah jalan.

" Itu yang anda lakukan, bukan? Memukuli pendamping hidup anda sendiri? Memaksanya tunduk mengikuti perintah anda?" ujarnya menyindir. Melihat L yang terdiam tidak menjawab apa-apa, Namikawa meneruskan perkataannya.

" Sadar, Lawliet! Yang anda inginkan adalah sebuah boneka. Bukan seorang manusia!" ujarnya lagi. Perkataannya ini membuat L tanpa sadar melepaskan cengkeramannya di kerah baju Namikawa.

' Kau menginginkan sebuah boneka, bukan manusia….'

Mendadak perkataan Light kepadanya terngiang di kepalanya. Kata-kata yang sama. Namun dengan ekspresi berbeda. Ia masih dapat melihat air mata yang mengalir perlahan di pipi Light. Atau kepedihan dan luka di wajahnya saat itu.

" Trauma…," mendadak ucapan Namikawa membuyarkannya dari lamunannya.

" Saya rasa Light mengalami trauma mendalam. Akibat perbuatan siapa? Saya yakin anda sendiri tahu jawabannya...," ujar Namikawa. Dengan itu ia mundur dan berbalik pergi. Membiarkan sang pewaris keluarga bangsawan terdiam membeku. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti dan sedikit berbalik. Menatap L yang masih berdiri membeku.

" Tuan Lawliet, saya rasa bukan Light saja yang membutuhkan bantuan seorang psikiater."

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Percikan rasa sakit yang hebat mendadak menyerang area perutnya. Memaksa sebuah erangan kesakitan keluar dari mulutnya. Light memiringkan badannya, berusaha meringkuk sembari memeluk perutnya yang terasa diiris-iris. Mendadak serangan sakit lagi membuatnya terpaksa mencengkeram seprai di bawahnya erat-erat. Ringisan kecil keluar dari mulutnya sementara matanya mulai berair karena sakit. Rintihan kecil sekali lagi keluar dari mulutnya.

Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana penampilannya saat ini. Beberapa kali ia berguling dan menegang menahan sakit yang membuat matanya berair. Sekali lagi rintihan keluar dari mulutnya, bergema di kamar putihnya yang kosong. Selimutnya sudah membelit kakinya sementara baju dan seprainya berantakan. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah mengerang kesakitan begitu area perutnya serasa diiris dan disobek-sobek.

Sebagian dirinya ingin berteriak meminta pertolongan seseorang. Memanggil siapa saja untuk mendengar jeritannya. Namun entah mengapa selalu ada perasaan ragu di hatinya.

' Kau ini tidak berarti apa-apa bagiku, Light-kun…' ucapan L selalu terngiang di telinganya. Ia sadar. Ia menyadari segala keraguan terhadap dirinya sendiri yang main menghebat. Akan tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Bukan dia yang ingin menjadi seperti ini. Sungguh dari hari kehari otak dan hatinya selalu merasa dirinya sendiri tidak berharga. Semakin hari ia semakin jatuh dalam kenistaan.

Rasa sakit sekali lagi menyerang daerah perutnya. Light berguling berbalik dan meringis kecil karena kesakitan. Perlahan-lahan suaranya menghilang bersaman dengan jati dirinya. Ia menyadari itu. Menyadari keinginannya untuk bicara yang terus menghilang, mengingat di tempat penuh kebusukkan ini suaranya tidak berarti apa-apa.

Keringat dingin perlahan-lahan menetes di tubuhnya. Namun tetap saja hanya ringisan kecil yang keluar dari mulutnya. Pikirannya sudah tidak berpikir rasional lagi. Yang mampu ia rasakan hanyalah ketakutan. Ketakutan bahwa setiap suara yang ia buat hanya akan dibalas dengan layangan tangan dari L lagi.

Mendadak mulutnya terbuka dalam jeritan sunyi saat sebuah sentakan hebat rasa sakit menerpanya. Matanya berair arena rasa sakit, namun tidak setetes air matapun jatuh ke pipinya. Perlahan-lahan, rasa sakit itu menghilang, menyisakan dirinya yang dirinya yang terengah-engah di atas ranjang. Berusaha menyingkirkan kelelahan hebat yang menerpa dirinya. Ia melirik sebuah jam besar yang terpajang di kamarnya. Sudah waktunya makan siang dan ia diharuskan hadir di ruang makan utama setiap harinya.

Dipaksakan tubuhnya yang kelelahan untuk duduk. Begitu ia menggerakkan kakinya, mendadak ia terpaku. Tanpa disadarinya kedua mata cokelatnya membesar. Sekali lagi dicobanya menggerakkan kakinya.

Nihil….

Nyaris putus asa, dicobanya menggerakkan kakinya lagi.

Sekali lagi nihil…

Ia sadar sekarang, kedua kakinya mati rasa.

Mendadak seluruh dunia terasa menimpanya kembali. Tanpa disadarinya kepalanya menunduk lemas.

Ia seharusnya tahu ini. Ia seharusnya dapat menerima ini akan terjadi. Namun entah mengapa tetap saja begitu berat menghadapi ini secara langsung. Kelumpuhan. Hari ini mungkin kakinya yang tak mampu ia gerakkan. Suatu hari, ia hanya akan menjadi seonggok tubuh yang hanya mampu hidup dengan sejumlah mesin buatan. Ia tahu itu.

Mendadak setetes air mata jatuh di pipinya tanpa ia sadari. Pernah ia menyangka ia sudah tidak mampu lagi menangis. Namun beberapa tetes airmata ini menunjukkan sebaliknya. Sebelah tangannya meraba perutnya yang membukit. Untuk bayi inilah, untuknya dia mengobankan semuanya.

Isakan kecil keluar dari bibirnya sementara ia menunduk mencengkeram selimut putih yang membelitnya.

Tidak bisakah ia, sekali saja merasa bahagia?

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Pintu mahogani bercat putih itu ia dorong perlahan. Ia berjalan masuk beberapa langkah hingga kakinya berhenti di sisi ranjang milik Light. Di sana Light berbaring lemah. Tidak tertidur, tetapi tidak pula menyadari kehadirannya. Mata cokelatnya menatap langit-langit di atasnya dengan pandangan yang begitu kosong dan hampa. Bibirnya dan wajahnya pucat, tangan dan seluruh tubuhnya mengurus sementara ia terbaring tak menyadari sekelilingnya di sana. Tidak pernah ia melihat Light seperti ini. Seakan begitu kecil dan rapuh.

Denyut berkesinambungan dari mesin di sisi tempat tidur Light lah yang terus mengisi kesunyian mereka. Sementara Light bernapas begitu berat dan pendek dibalik masker oksigennya. Sebuah selang infus menancap di pergelangan tangannya. Ia melirik sebuah kursi roda yang berdiri tak bersalah di sudut ruangan. Akan tetapi percuma saja, dengan kursi roda sekali pun Light tidak akan kuat keluar dari kamar ini. Kamar yang secara tidak langsung menjadi penjara emasnya.

Tidak pernah. Tidak pernah sekali pun Light mengeluh atau meringis sedikit pun. Akan tetapi ia dapat melihat, kesakitan dan kepedihan di mata Light tiap kali Light menyangka ia tidak ada di sana. Ia bahkan menyengajakan dirinya menuju ruang kontrol hanya untuk melihat rekaman kamera dari kamar ini. Semuanya sama. Tidak ada hal yang dilakukan Light selain menatapi langit-langit kamarnya hampa. Akan tetapi bila ia melihat lebih dalam, ia mampu melihat. Kepedihan dan kesakitan yang terkadang terpancar di matanya. Atau setetes air mata yang mendadak jatuh dari sudut mata Light. Ia tidak mampu mengerti, apa yang membuat Light seperti ini. Seakan air mata yang jatuh dari sudut matanya murni karena rasa sakit yang ia rasakan. Entah karena sakit di hatinya atau di tubuhnya. Ia tidak tahu lagi. Light tidak pernah mengatakan apa-apa.

Pernah ia sangat merindukan suara serak Light yang biasanya mudah sekali ia dengar dulu sehingga ia memerintahkan Light untuk bicara. Namun yang ia dapatkan selalu bisikan kecil seakan dipaksakan.

Perut Light yang membuncit tertutup rapi oleh selimut besar yang menyelimuti dirinya. Namun dibalik itu ia mampu melihat kimono biru langit yang ia berikan. Yang hingga kini terus dipakai Light walaupun mereka berdua sama-sama tahu, ia tidak akan pernah datang kepada Light.

" Light-kun…," ujarnya datar. Sesaat keheningan menyelimuti mereka berdua hingga akhirnya Light menoleh perlahan.

" L…," bisiknya tanpa arti.

" Aku akan pergi ke Paris sekarang…," ujar L lagi. Light memandangnya kosong di balik masker oksigennya. Akan tetapi mata Light tidak pernah bertatapan dengan matanya langsung.

" Apa ada sesuatu yang kau inginkan, Light-kun?" tanya L. Pertanyaannya ini segera dijawab dengan gelengan kecil dari kepala Light.

" Tidak ada…," bisiknya menambahi. Sesaat L terdiam dan memandangi sosok Light di hadapannya. Tidak akan ada yang diinginkan Light dari Paris. Ia sendiri tahu, satu-satunya keinginan Light adalah satu-satunya keinginan yang tidak akan pernah ia kabulkan.

" Kalau begitu aku pamit dulu…," ujar L cepat. Anggukan kecil menjadi sahutan dari Light sementara ia berbalik dan melangkah pergi. Untuk keberapa kalinya meninggalkan Light yang sedang hamil dan sakit hebat seperti ini. Meninggalkan Light untuk sekali lagi menatapi langit-langit dengan pandangan kosong.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Mendadak seruntunan sentakan rasa sakit membangunkannya dari tidurnya. Sepasang mata cokelat terbuka dengan menampakkan kesakitan sementara bibirnya tidak mengucapkan apa-apa. Keringat dingin mulai menetes di tubuhnya, sementara mulutnya mulai terbuka karena kesakitan. Tidak seperti biasanya, sakit yang ia rasakan kali ini terasa menghebat. Seakan perutnya teriris dua, seakan ada pisau yang menghujam di sana.

Ia tidak pernah mengeluh atau meminta tolong. Akan tetapi kali ini, meminta tolong entah mengapa menjadi suatu pilihan yang begitu meyakinkan. Diliriknya tombol merah yang diletakkan pelayan di tepi meja. Diangkat tangannya yang gemetar, berusaha menggapai tombol yang entah mengapa terasa begitu jauh itu.

Mendadak rasa tersedak memenuhi tenggorokkannya. Cepat-cepat disingkirkan masker oksigennya dengan tangannya yang gemetar lalu ditutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia pun terbatuk-batuk keras. Dirasakannya cairan hangat membasahi telapak tangannya. Senyuman sedih tersungging di wajahnya.

Darah yang ia batukkan lebih banyak dari biasanya. Ia sadar ia sekarat. Akan tetapi ia tidak mampu membawa dirinya untuk perduli lagi. Sudah tidak ada yang menjadi semangat hidupnya di dunia ini. Entah mengapa, kematian malah terasa begitu menenangkan bagi dirinya. Dipasangkan kembali masker oksigennya dengan tangannya yang gemetar sementara sentakan rasa sakit sekali lagi menyerang dirinya.

Sungguh ia tidak punya tenaga lagi bahkan untuk mengangkat tangannya sekali pun. Dibiarkan telapak tangannya yang bernoda darah membasahi selimut putihnya. Mata cokelatnya mulai berair karena rasa sakit di perutnya. Satu hal lagi yang mengingatkannya pada keberadaannya di dunia ini saat ini.

Ia masih tinggal di dunia ini bukan untuk hidup, tetapi untuk melahirkan L pewaris kesayangannya. Ia sendiri sudah menyadari itu. Tidak lagi ia mengisi waktunya dengan hal-hal duniawi yang dulu sangat ia gemari. Percuma, karena sekarang ia bahkan tidak punya kekuatan untuk melakukannya.

Sebuah sentakan keras membuat setetes air mata terjatuh dari pipinya. Ia sudah terbiasa menerima rasa sakit. Ia sudah terbiasa disakiti. Bahkan sesekali ia mendapati dirinya melupakan bagaimana rasanya tidak merasakan sakit bahkan untuk sejenak. Namun satu hal yang tak bisa ia lepaskan. Bahwa di dunia ini, kehadirannya sungguh tidak berarti apa-apa. Bahwa keberadaannya tidak mengubah apa-apa di dunia ini. Setiap hari ia selalu diperingatkan hal itu.

Sangkar emasnya di tempat ini, selalu dipenuhi dengan cacian dan remehan yang harus ia terima. Ditempat ini, kehadirannya, suara yang ia keluarkan sama sekali tidak berarti. Ditempat ini, ia hanya sendirian melawan begitu banyak kebusukkan dunia. Tidak lagi ia berteriak kesakitan karena tidak akan ada yang mendengar jeritannya.

Dicobanya mengangkat tangan kanannya yang sekali lagi bergetar hebat dan terjatuh lemas ke bantalnya. Dengan pandangannya yang mengabur, ia menatap langit-langit di atasnya seperti biasa. Perbedaannya hanyalah rasa sakit yang dicerminkan mata cokelat redupnya itu. Nafasnya memburu karena jantungnya yang berdegup semakin cepat. Tanpa sadar ia memegangi perutnya yang membuncit. Mendadak sentakan hebat membuat tubuhnya mengejang. Pandangannya mengabur sementara ia tanpa sadar menutup kedua kelopak matanya. Tetesan kecil darah mengalir dari sudut bibirnya sementara ia 'tertidur' tenang. Ia sempat mengingat keinginannya dulu yang tak bisa di kabulkan oleh Tuhan.

Agar nyawanya di ambil saat itu juga....

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Light-kun?" panggil L begitu ia memasuki kamar tidur Light. Entah mengapa ruangan tersebut terasa begitu sunyi. Akan tetapi Light memang selalu terasa begitu sunyi. Ia pun berjalan memasuki ruangan tersebut hingga akhirnya ia dapat melihat Light yang terbaring diam di ranjang. Kali ini dengan mata yang tertutup.

" Light-kun…," panggilnya pelan. Ia baru saja pulang berpergian dan langsung pergi ke ruangan ini. Namun sepertinya Light sedang tidur. Ia pun berbalik dan berjalan pergi. Baru beberapa langkah ia berjalan, mendadak ia menyadari apa yang salah dalam ruangan ini. Suara mesin pendeteksi detak jantung terdengar begitu lemah dan jarang. Ia pun terdiam membeku, berusaha mendengarkan suara-suara tersebut. Benar saja, denyut yang seharusnya standar terdengar begitu lemah dan lama. Segera ia berbalik, berjalan setengah berlari ke sisi Light.

Dari jarak sedekat ini, ia mampu melihat bercak merah di selimut putihnya. Light yang terbaring dihadapannya terlihat begitu damai disamping wajahnya yang begitu pucat. Cepat-cepat ditekannya tombol merah di sisi meja yang seharusnya langsung memanggil para medis ke ruangan ini. Sentakan sakit merasuk di hatinya begitu ia menyadari keadaan Light yang seperti ini.

Perlahan-lahan diangkatnya kepala Light lalu didekapnya dekat ke dadanya. Tetesan kecil darah di sudut mulut Light kini terlihat jelas olehnya. Sementara ia menunggu para medis datang, ia mendapati dirinya tidak mampu melepaskan tubuh Light yang kurus dari dekapannya. Sudah lama ia tidak mendekap Light seperti ini. Ironisnya, di saat ia mendekap Light seperti ini adalah di saat Light tidak sadarkan diri.

Hatinya sakit begitu ia menyadari, yang ia rasakan dari tubuh Light bukanlah kehangatan. Tetapi kerapuhan yang ada di sana. Dibiarkan sebelah tangannya mengusap pipi Light dengan lembut.

" Light-kun…," panggilnya setengah berbisik. Mata hitamnya tak mampu lepas dari wajah Light. Kepucatan yang terlihat sakit di seluruh tubuh Light. Juga tulang-tulangnya yang mampu ia lihat dari leher Light.

' Tidak ada pengguna Geak yang pernah selamat….'

Mendadak kata-kata itu terngiang di kepalanya. Didekapnya Light lebih erat mengingat ini. Dibiarkan sebelah tangannya berpindah, meraba perut Light yang kini membuncit.

Bayinya….

Akan tetapi ia tak mampu merasakan kebanggaan yang seharusnya dirasakan oleh seorang ayah dalam mengatakan ini. Ditatapnya kembali pria ditangannya.

Kekasihnya….

Namun malah rasa sakit yang ia rasakan karena ini.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Delapan jam operasi dan sama sekali tidak ada kemajuan yang dilaporkan tim dokter terbaik yang ia datangkan. Ia pun mendapati dirinya terduduk kaku di ruang tunggu rumah sakit. Hal terakhir yang dilaporkan kepadanya adalah bayinya telah selamat. Diangkat dengan operasi dari perut Light walaupun ia masih berumur delapan bulan. Namun keadaan Light lah yang mengkhawatirkan.

Mendadak suara langkah kaki yang berlarian di koridor rumah sakit membuyarkan lamunannya. Ia pun mendongak, mendapati Soichiro dan Sayu yang berlarian khawatir. Jelas sekali mereka mengambil penerbangan paling cepat untuk sampai kesini.

" Light, bagaimana?" tanya Soichiro masih dengan nafas yang terengah-engah begitu ia berhenti dihadapannya.

" Belum ada kemajuan…," ujar L tanpa emosi.

" Bayinya?" potong Sayu segera.

" Selamat," jawabnya singkat. Mereka pun terdiam dalam keheningan yang menyiratkan kekhawatirannya masing-masing. Masing-masing duduk dengan pemikirannya yang berbeda-beda hingga akhirnya Soichiro memecahkan keheningan.

" Bayinya, sudah kau beri nama?" tanyanya mendadak. L menoleh menatapnya mendengar pertanyaan ini.

" Belum…," jawabnya.

" Aku belum sempat membicarakan masalah nama kepada Light," ujarnya lagi. Bukan hanya membicarakan persoalan nama, tetapi juga semuanya. Ia tidak pernah mempunyai waktu untuk memikirkan nama untuk anak mereka.

" Kira…," ujar Soichiro. Membuat sekali lagi L menoleh menatapnya. Kali ini Soichiro pun menoleh dan membalas tatapannya.

" Light menginginkan bayinya diberi nama Kira. Ia yang mengatakan sendiri kepadaku...," ujar Soichiro lagi. L terhenyak mendengar ini.

Kira....

Sebuah kata yang dalam bahasa inggris berarti 'killer' atau pembunuh. Ia sadar, dengan ini Light ingin mengingatkannya bahwa jika Light mati karena ini, berarti ia lah yang membunuhnya. Ia menyadari Light yang semakin lama semakin sunyi apalagi dalam kehadirannya. Namun ia juga sadar, seumur hidup pun, Light tidak akan pernah melupakan semua perbuatannya.

Pembunuh....

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Dua jam kemudian baru lah sang dokter kepala keluar kamar operasi dan menghadap L. Dari wajahnya yang suram mereka semua bisa tahu, berita apa pun yang ia bawa pastilah tidak akan menyenangkan.

" Anda semua keluarga pasien?" tanyanya begitu melihat mereka. L mengangguk singkat sementara Sayu segera berdiri dari tempat duduknya.

" Bagaimana keadaan kakak, dok?!" desak Sayu segera. Sang dokter memberikan helaan napas berat sebelum membuka mulutnya.

" Kami sudah berusaha semampunya. Kerusakan bagian dalam organ tubuh pun sudah berusaha kami perbaiki. Hanya saja ada satu organ yang kerusakan sudah terlalu parah…," ujar sang dokter berat.

" Kerusakan ginjal pasien kami begitu berat. Sepertinya ginjalnya sudah lama memar dan terluka akibat posisi kehamilan yang abnormal. Apakah ia tidak pernah mengeluhkan sakit di bagian itu?" tanya sang dokter. L terhenyak sejenak mendengar ini. Terkadang ia melihat kesakitan di mata Light beberapa kali. Namun tidak pernah sekali pun Light mengeluh. Tidak pernah….

" Tidak pernah…," jawab L cepat. Mendengar ini sepertinya sang dokter merasa terkejut.

" Hmm…. Seharusnya melihat kondisi ginjalnya sekarang, ia pasti merasakan sakit yang hebat tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali. Maksud kami, pasien membutuhkan donor ginjal secepat mungkin. Sayangnya tidak ada ginjal yang cocok dalam stok ginjal kami," ujar sang dokter.

" Bagaimana kalau ginjal saya saja," ujar Soichiro cepat.

" Ayah kan punya kelainan ginjal!" ujar Sayu. Ia pun berbalik menatap kepala tim dokter tersebut.

" Ginjal saya saja. Golongan darah saya dan kakak sama…," ujar Sayu cepat. Kali ini sang dokter memperhatikan Sayu dengan seksama.

" Kalau boleh saya tahu, profesi nona ini apa ya?" tanyanya lagi.

" Saya pelajar.... Pelari juga...," ujar Sayu ragu. Mendengar ini sang dokter menggelengkan kepalanya perlahan.

" Kalau begitu nona harus berpikir lebih lanjut dahulu. Salah satu efek samping apabila kita hanya memiliki salah satu ginjal adalah gangguan keseimbangan dan juga mudah lelah. Tidak mungkin nona dapat menjalani aktivitas yang berat apalagi berlari," ujar sang dokter. Mendengar ini Sayu terdiam membeku.

" Tidak bisa... berlari lagi?" bisiknya. Melihat anggukan kecil sang dokter, Sayu menoleh menatap ayahnya yang jelas memberinya tatapan yang mengatakan ia akan menyerahkan semuanya kepada dirinya. Mendadak kakinya terasa begitu lemas. Namun ia membiarkan kakinya berjalan menyusuri koridor rumah sakit tersebut tanpa arah.

Ia benar-benar menyayangi kakaknya. Apalagi melihat hidup kakaknya yang begitu berat. Melihat senyuman kakaknya yang kini tidak pernah tersungging lagi di bibir kakaknya itu. Kakaknya yang sorot matanya begitu redup dan menyedihkan. Ia sungguh-sungguh menyayangi kakaknya.

Akan tetapi, melepaskan mimpinya demi kakaknya?

Kakinya yang terasa lemas seakan tidak mampu berjalan lagi. Dibiarkan dirinya merosot ke lantai sementara matanya mulai memanas dengan air mata.

Berlari adalah satu-satunya hal yang mampu ia lakukan lebih dari orang lain. Ia bukan gadis yang pintar seperti kakaknya. Hanya dengan berlarilah ia unggul dari orang lain. Namun ia dapat mengingat jelas sosok kakaknya di hari pernikahannya saat itu. Sebuah pernikahan yang seharusnya diwarnai kebahagiaan. Akan tetapi yang mampu ia lihat dari kakaknya hanyalah kesedihan.

Didalam sana, kakaknya berjuang demi hidupnya. Jika kakaknya mati sekarang, maka yang mampu ia ingat hanyalah kesedihan dan rasa sakit. Hatinya sakit tiap kali ia menelepon dan hanya beberapa kata kecil yang keluar dari mulut kakaknya. Seakan ia terbiasa tak pernah didengar kata-katanya. Setiap kali ia memikirkan kakaknya, yang mampu ia ingat hanyalah tubuh kurus kakaknya. Tatapan mata hampa dengan mata cokelat yang redup di sana. Semua yang malah memilukan hatinya sendiri.

Setetes air mata jatuh di pipinya sementara ia merogoh kantungnya, mengambil handphone merah muda miliknya. Ditekannya beberapa tombol yang ia kenal jelas.

" Hallo, Sayu?" terdengar suara sahabatnya dari seberang telepon. Dengan sekuat hati Sayu berusaha menahan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.

" Mitsuko...," ujarnya sedikit gemetar.

" Sayu, ada apa?" tanya sahabatnya khawatir. Mendengar ini, isakan pun tidak tertahankan lagi. Demi kakaknya.... Ia melakukan ini demi kakaknya yang jarang sekali mendapatkan kebahagiaan. Demi kakaknya yang jiwanya telah begitu compang camping. Demi kakaknya yang terlalu sering disakiti. Ia tidak ingin menjadi salah satu orang yang tidak memberikan kesempatan kepada kakaknya. Ia tidak ingin menjadi orang yang menyakiti kakaknya.

Demi kakaknya....

" Untuk pertandingan minggu depan… tolong katakan pada pelatih. Aku tidak bisa ikut...."

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Author :

Yeah!!!! Akhirnya selese juga. Ni ga tidur ampe saur ngetiknya. Hehehe….

Kira tu ntar jadi tokoh yang penting lo.

Mohon ripyu ya!