Warning!

Chapter ini mengandung muatan dewasa

Bagi pembaca di bawah 18 tahun, diharapkan untuk tidak membacanya

(Atau, dilewatin aja bagian yang *sensor* nya, wkwkwk…)

Wrong Number

"Jangan terlalu sering ke tempatnya, aku tidak suka melihat kau terlalu akrab dengannya." Rengek Namjoon. Mereka sedang berduaan di dalam mobil, jadi Jin bisa dengan bebas mengeratkan pelukannya pada pria di sampingnya.

"Kau juga jangan terlalu pencemburu begitu. Aku menyukai Jungkook tapi bukan berarti sama seperti caraku menyukaimu, kau tahu?"

Namjoon tersenyum malu. "Jangan memelukku terus," Ia menepis-nepis tangan Jin yang melingkar di bahunya. "Aku bisa saja salah paham."

Setelah akhirnya Jin melepas pelukannya, ia menyahut, "Ternyata selain laki-laki pencemburu, kau juga laki-laki mesum." Jin menghembuskan napas berlebihan. "Aku pulang sekarang."

"Eh?" Sebelum Jin membuka pintu, Namjoon langsung menarik tangan Jin, meletakkannya di bahunya seperti tadi. "Tu-tunggu, sebentar lagi. Biarkan seperti ini dulu."

Jin tersenyum, mengusap-usap belakang kepala Namjoon dengan sayang. "Sesuatu terjadi, kan?"

"Aku tidak heran lagi saat kau bisa mengetahui masalahku."

"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?"

Namjoon kemudian menceritakan tentang adiknya, Illy. Orangtuanya mengangkat Illy sebagai anak sejak masih bayi dan Namjoon sangat menyayanginya. Pagi tadi Illy harus dirawat lagi karena masalah ginjalnya. Mereka masih belum bisa menemukan orangtua kandung Illy -yang sebenarnya bukan orang Korea- dan belum menemukan ginjal yang cocok dengan adiknya itu.

"Dari jutaan orang di sepanjang Korea dan tidak ada ginjal yang cocok, aku rasa itu mustahil." Ujar Jin.

Ternyata Namjoon juga berpendapat hampir sama. "Itu dia yang selalu kupertanyakan. Orangtuaku seperti masa bodoh terhadap hal ini." katanya sedih. Jin menepuk-nepuk pundaknya berusaha menenangkannya.

"Aku akan membantumu. Kau bisa pegang kata-kataku. Jangan menangis seperti wanita, aku suka Namjoon yang kuat dan bersemangat seperti biasanya."

"Terimakasih. Bisa apa aku tanpamu?"

"Ooh, kau bisa melakukan apapun tanpaku. Hanya saja akan lebih baik kalau kita melakukannya bersama-sama, iya kan?"

"Sekarang kau yang terdengar seperti wanita." Sahut Namjoon yang sudah kembali ceria. Jin tak sengaja menarik rambutnya dan Namjoon langsung bereaksi menciumnya seketika.

Di dalam mobil.

Di halaman parkir.

"Agh! Sudah kuduga!" Hoseok menutupi wajah dengan ponselnya. "Mereka harus dihentikan! Demi Tuhan, itu tempat umum dan siapa saja bisa melihat mereka!" teriaknya frustasi tapi Yoongi dan Jungkook tak terlihat terganggu sama sekali. Malah kedua orang itu mulai berjalan lebih dekat ke balkon agar dapat melihat pemandangan Jin dan Namjoon yang saling berpelukan di dalam mobil dengan lebih jelas.

"Tenanglah! Mereka hanya sedang melepaskan rindu. Tidak akan ada yang lihat selain kita. Disana cukup gelap." Balas Yoongi yang sekarang sedang tersenyum aneh.

Hoseok mengangkat tangannya tanda ia menyerah dengan kelakuan dua orang di depannya itu lalu memilih masuk kamar dan mengabaikan pertunjukan di halaman parkir.

"Anak kecil belum boleh melihat ini. Masuk sana!" Yoongi menyenggol pundak Jungkook sengaja.

Disebelahnya, Jungkook masih serius memandang ke balik mobil Jin. "Kau juga sedang melanggar privasi orang lain, sunbae. Masuk sana!" Balasnya bercanda.

Tiba-tiba pintu mobil Jin terbuka. Namjoon keluar darisana dan langsung melihat ke atas balkon lantai dua tempat Jungkook dan Yoongi berdiri. Karena merasa tertangkap basah, mereka langsung berlari ke apartemen mereka masing-masing sambil tertawa terbahak-bahak.

*

Kali ini Taehyung terbangun lagi di tengah malam. Napasnya tersengal seperti orang yang baru saja berlari jauh. Bukan mimpi buruk yang didapatinya malam ini, tapi cukup untuk membuatnya ketakutan. Jungkook. Untuk pertama kalinya, Taehyung memimpikan pria itu.

Jimin tidak terbangun untuk menenangkannya seperti biasa karena memang temannya itu sendiri dalam kondisi kurang baik. Taehyung akhirnya memilih untuk pergi ke dapur, membuatkan coklat panas agar moodnya tidak memburuk.

Setiap laci dan meja dapur diperiksa, tapi tak satupun coklat bubuk yang terlihat. Sepertinya Jimin menggunakan coklat bubuknya tanpa dia ketahui. Akhirnya Taehyung memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi ruang tengah, kamar, lalu kembali kedapur dan begitu seterusnya sampai dia bosan.

Hanya bosan yang didapatnya, kantuknya belum juga kembali. Matanya segar seperti ponsel yang sudah diisi baterai berjam-jam. Taehyung tak bisa lagi memikirkan cara lain. Ia akhirnya keluar dan berjalan ke depan pintu tetangganya. Pintu 105.

Ia baru mengetuk pintu setidaknya lima kali dan pintu itu langsung terbuka. Ternyata orang yang dicarinya belum tidur.

"Sunbae, ada apa?"

Ia melirik ke dalam dari balik bahu Jungkook, tidak ada siapapun di ruang tamunya, tapi beragam jenis makanan berserakan di atas meja dan televisi dinyalakan dengan suara minimum. "Kau belum tidur?" Jungkook mengangguk. "Aku tidak boleh masuk?"

Pintu dibukakan lebih lebar dan Jungkook mempersilakannya masuk. Mereka kemudian duduk bersama di sofa depan televisi, mengobrol sambil menikmati camilan yang tersedia di meja. "Kau mau kubuatkan minum, sunbae?"

"Nde, aku mau coklat panas." Katanya senang. Taehyung merebahkan kepalanya ke sofa sambil mengamati acara musik di layar. Tidak terlalu menarik, tapi entah kenapa ia merasa sangat nyaman.

Coklat panas pesanannya datang. "Kau tidak ikut minum?" tanyanya heran begitu melihat hanya ada satu gelas yang dibawa ke atas meja.

"Perutku penuh." Jungkook mengelus-elus perutnya. "Aku tidak bisa tidur kalau sedang kekenyangan." Setelah lama diam, ia akhirnya bicara lagi. "Omong-omong, aku mau minta maaf, sunbae. Karena kecerobohanku, kau jadi terlihat tidak nyaman dengan keberadaanku. Apa kau masih marah?"

Taehyung tersenyum padanya. "Harusnya aku yang minta maaf, kan? Sudahlah jangan membuatku tidak nyaman. Aku tidak tahu tentang kebiasaan mabukmu yang memalukan itu dan malah memperlakukanmu seperti orang brengsek."

"Kalau begitu, kita impas?" Taehyung mengangguk bersemangat. Tangannya meraih puncak kepala Jungkook tapi ia segera menariknya kembali. "Mulai sekarang jangan menghindariku lagi, sunbae. Aku juga tidak akan menghindarimu. Masalah sebelum-sebelumnya, kau bisa melupakannya."

Ia menatap Jungkook dalam-dalam. "Aku tidak bisa dan tidak ingin melupakannya." Jungkook balas menatapnya bingung.

Mereka tidak bicara lagi setelah itu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Kemudian tiba-tiba Taehyung menghabiskan minumannya dan bangkit berdiri. "Aku kembali saja. Ini sudah larut malam, kau tidurlah. Jangan sampai kau ditegur dosen karena mengantuk di kelas."

Jungkook tersenyum lega, tadinya ia mengira seniornya itu masih marah padanya. "Besok hanya ada kelas sore. Sesekali aku ingin merasakan bangun siang." Guraunya. Jungkook mengantarkan Taehyung ke pintu.

Ketika Jungkook akan membungkuk dan mengucapkan salam, Taehyung berbalik dan menahan pintu. "Aku tidak yakin bisa tidur nyenyak malam ini. Bagaiamana kalau sedikit kecupan untuk ucapan selamat malam?"

Jungkook menggeleng, "Maaf, aku~"

Sebelum Jungkook bisa menyelesaikan kalimatnya, Taehyung sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook dengan cepat, menekan mulutnya ke bibir Jungkook. Lidahnya langsung menelusup masuk dan meluncur ke dalam mulut pria itu.

Lembut seperti vanilla, nikmat seperti coklat…

Taehyung melepaskan ciumannya sesaat. "Maafkan aku, Jungkook. Sekali ini saja, dan aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Kau membuatku gila! Aku tak bisa berpikir jernih saat menyadari kau tidak ada di sekitarku seharian ini." Dia menundukkan kepalanya dan lidahnya di dalam mulut Jungkook, menjilatinya dengan ritme teratur dan lembut.

Dia tahu mereka tak sepantasnya seperti ini, tapi Jungkook membiarkannya terus melumat bibirnya. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja mereka sudah jatuh ke sofa bersamaan dengan Jungkook ada dibawah pelukannya.

Bagian belakang kaki Taehyung menyentuh bahu sofa dan mereka hampir terjatuh. Dengan gesit Jungkook menahan lengannya ke meja dan mengembalikan posisi mereka seperti semula. "Sunbae, aku – napas" kata Jungkook dengan suara tercekik.

Ia melepaskan ciumannya sebentar, membiarkan Jungkook menghirup udara dalam-dalam. Taehyung tak bisa berdiam diri, ia mulai menelusuri bagian rahang dan leher Jungkook lalu tersenyum kesenangan karena akhirnya pria itu merespon sentuhannya dengan sedikit desahan. "Kau sedikit sensitif di sini ternyata." Jari-jarinya menyapu bekas ciumannya di leher Jungkook.

Ketika akhirnya Taehyung beralih ke bagian telinga, ia bisa merasakan Jungkook menggeliat di bawahnya. "Sunbae~ ahh! Kita tidak bisa melakukan ini."

"Sebentar lagi. Ya Tuhan, aku tak bisa berhenti – bagaimana ini…" sahutnya lembut dengan nada frustasi.

Mata Jungkook tertutup dan ia bisa merasakan jari-jari Jungkook menyentuh kepalanya bagian belakang. Ia bisa mendengar jantungnya berdetak di telinganya sendiri dan udara yang semakin gerah di sekeliling mereka. Napas berat Jungkook di wajahnya juga yang menjadi penyebab ciuman mereka semakin panas.

Ia menyuruh Jungkook melihatnya, menatap ke dalam matanya, dimana ia menunjukkan keinginan dan fantasinya disana, membayangkan pria itu menjadi objek yang dia butuhkan.

Tangan Taehyung mulai mengelus paha Jungkook dengan posesif dan membelai tepi celananya. Jungkook langsung terduduk begitu menyadari tangan Taehyung sudah bergelung di pangkal pahanya, lalu bergerak mengambil jarak di antara mereka.

"Selamat malam, sunbae. Kau bisa kembali sekarang." Suaranya bergetar.

Ia tersenyum mengerti dan ikut berdiri. Taehyung menghampiri Jungkook dan memeluknya. "Terimakasih. Aku akan menepati janjiku. Selamat malam, kucing kecil." Katanya sebelum keluar dan menutup pintu.

Malam itu akhirnya Taehyung bisa tertidur lelap, tanpa mimpi apapun yang mengganggunya.

*

Jimin mengerutkan kening, berusaha mengumpulkan konsentrasi penuh pada musik yang terputar di telinganya. Kakinya melemah karena bergerak terus-menerus selama enam jam, kepalanya juga mulai pusing dan perutnya mulas. Ini mungkin sebagian efek dari minuman semalam dan juga karmanya sendiri karena pernah menjahili Jungkook dengan membuatnya mabuk.

Biasanya dia tak akan selemah ini hanya karena berlatih beberapa jam, tapi hari ini dia langsung ambruk bahkan di lima belas menit pertama. Pada akhirnya dia tak bisa fokus dan terus gagal sampai enam jam berikutnya.

Studio masih sepi sampai jam sebelas siang, padahal dikiranya akan ada Hoseok atau Yoongi yang akan datang menemaninya, tapi sepertinya kedua orang itu masih terlalu sibuk bermimpi di ranjang mereka.

Ia tengah beristirahat dengan menelentangkan badannya di lantai saat tiba-tiba pintu depan berderit menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam studio. Bukan, ada lebih dari satu orang, karena ada suara tapak kaki lain yang mengikuti orang yang membuka pintu.

"Yah! Kau sudah makan siang?" Itu suara Hoseok. Jimin langsung bangkit dari tidur telentangnya dan terkejut melihat dua orang yang berdiri dekat pintu bersama Hoseok.

"Oppa! Aku bawakan makanan untukmu." Seru salah seorang dari mereka dalam bahasa Korea yang patah-patah.

Senyuman tersungging di bibirnya. "Yuiko-chan!" Ia menghampiri gadis itu.

Disampingnya ada Haruna yang sekarang sudah resmi menjadi kekasih Hoseok. Dia menggunakan t-shirt yang sepertinya pernah ia lihat dipakai Hoseok juga. Jimin spontan memberikan komentar. "Wah, sepertinya hubungan kalian berjalan sangat mulus, ya hyung?" Pria itu langsung menimpuk kepala Jimin dengan tas tangan Haruna yang dipegangnya.

Haruna dan Yuiko menyiapkan banyak makanan untuk mereka. Omusubi buatan Yuiko yang pertama kali diambil Jimin karena bentuknya yang lucu dan warnanya menarik. Ia lebih terkesan lagi saat makanan itu sampai di lidahnya. "Wow, kupikir hanya akan terasa seperti nasi biasa." Pipi Yuiko memerah karena mendengar pujian Jimin.

Mereka akhirnya makan bersama di dalam studio. Sesekali Jimin dan Hoseok akan bercanda tentang rasa masakan yang pernah mereka buat sendiri dan kedua gadis itu terus tertawa mendengar cerita mereka.

Selesai makan, Hoseok mengajak Haruna berkeliling kampus untuk sekedar melihat pemandangan sekitar. Yuiko ditinggal berdua dengan Jimin di dalam studio.

"Oppa," panggil Yuiko ragu-ragu. Jimin menoleh. "Apa kau punya pacar?"

"Tidak." Jawabnya langsung.

Yuiko menundukkan kepala, raut wajahnya terlihat kecewa. "Lalu kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Aku selalu menunggu ponselku berdering tapi langsung kecewa karena itu bukan telepon darimu. Apa kau sedang menyukai seseorang?"

"Ya."

"Lalu kenapa kau terlihat sedih?"

"Karena dia tidak menyukaiku. Aku sudah melakukan apapun yang aku bisa untuk membuatnya senang, tapi dia tidak pernah melihatku. Dia bisa dengan mudah akrab dengan orang lain tapi tidak denganku." Yuiko menepuk-nepuk bahu Jimin ikut prihatin.

"Aku tahu rasanya. Sangat tahu." Mata Yuiko menerawang memandangi langit-langit studio. "Aku pernah pacaran dengan seorang pria yang akhirnya menikah dengan orang lain. Kau pasti tidak ingin mendengar hal bodoh apa saja yang kulakukan saat itu. Dan pada akhirnya aku bisa menemukan cara terbaik untuk melupakan kesedihanku."

Jimin menoleh padanya penasaran. "Bagaimana?"

"Dengan menemukan orang lain. Memang itu cara yang jahat, jadi aku tidak melakukannya pada seseorang yang menyukaiku agar tidak akan ada yang terluka pada akhirnya. Aku hanya perlu mencoba menyukainya dan hanya melihat padanya untuk beberapa saat, karena aku sadar itu hanya sebuah pelarian. Setelah itu aku bisa meninggalkan orang ini dan sekaligus melupakan mantan pacarku."

"Kau membuatnya terlihat simple. Aku tahu pasti sulit sekali menjalaninya." Jimin terkekeh.

"Memang benar. Tapi kalau kau mau mencobanya, aku bersedia jadi pelarianmu."

Ia langsung menggeleng cepat. "Seperti katamu tadi, Yuiko-chan, aku tidak ingin ada yang terluka pada akhirnya nanti."

"Tenang saja, tidak akan terjadi. Kita akan memulainya dengan menjadi teman dekat, bukan sepasang kekasih, jadi kita bisa sama-sama aman. Bagaimana?"

"Ini ide yang buruk, tapi jujur saja aku ingin mencobanya."

Yuiko mengulurkan tangannya pada Jimin. "Kalau begitu, kita mulai saja dulu."

"Apa?" Jimin meraih tangan Yuiko tapi masih menatapnya bingung.

*

Hoseok tengah duduk bersantai di bawah pohon kesukaan Taehyung saat tiba-tiba ia melihat Yoongi dari kejauhan sedang berjalan menuju studio. Ia segera berlari mendekati pria itu untuk menghentikannya.

"OH, gawat!" Hoseok menyuruh Haruna untuk tetap disana selagi ia menghampiri Yoongi. Setelah lebih dekat, ia mengatur napas sebelum bicara. "Kau- hah- kau sudah datang?" Pria di depannya menaikkan alisnya heran. "Aku ingin mengenalkan seseorang padamu."

Ia kemudian mengajak Yoongi ke tempat Haruna duduk dan membiarkan mereka saling memperkenalkan diri. "Aku tidak akan mengganggu lebih lama, jadi aku permisi saja." Kata Yoongi tiba-tiba.

Sayangnya saat Yoongi berbalik, ia melihat Jimin dan Yuiko keluar dari studio. Hoseok menepuk jidatnya sendiri karena gagal menutupi ini dari Yoongi. Dilihatnya sendiri tangan Yoongi mengepal dan bahunya bergerak tak karuan. Auranya berubah gelap seketika. Pria itu berjalan pergi, bukan ke studio, melainkan ke arah gerbang. Dia pulang.

Hoseok terduduk lesu di samping Haruna. "Agh! Ini salahku."

"Aku tidak mengerti, kenapa Yoongi-ssi terlihat marah?" Tanya Haruna di sebelahnya. Jelas saja gadis itu bingung. Yoongi menunjukkan wajah seseorang yang sedang cemburu terhadap Jimin dan Yuiko, sementara dia belum mengenal Yuiko sama sekali, jadi dia tidak mungkin cemburu terhadap temannya itu.

"Akan kuceritakan lain kali. Apa Yuiko memberitahumu mereka akan pergi ke mana?"

Haruna mengecek ponselnya, ternyata ada satu pesan masuk, dari Yuiko.

"Mereka pergi menonton bioskop, semacam kencan."

*

Yoongi kehilangan selera untuk pergi latihan. Dia menjatuhkan punggungnya kembali ke tempat tidur dan menatap lama langit-langit kamarnya. Ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar terus sejak tadi tapi ia mengabaikan semua panggilan masuk dan tak mempedulikan satupun pesan baru.

Pintu depan diketuk beberapa kali suara Jungkook terdengar memanggil-manggil namanya dari luar. "Sunbae, aku lapar!" teriak anak itu. Yoongi terkikik geli lalu pergi keluar kamar.

Senyum Jungkook melebar begitu ia melihat Yoongi membuka pintu untuknya. "Kalau kau lapar pergi makan sana, kenapa malah mencariku?"

"Aku sedang ingin makan daging, dan sunbae akan ikut denganku." Katanya dengan nada tegas seolah itu keputusan bulat.

"Kau tidak bertanya padaku lebih dulu padahal kau tahu aku ini pria yang penuh kesibukan. Tapi karena ini tentang daging, aku ikut!" balas Yoongi tak kalah semangat dengan Jungkook. Ia langsung berganti pakaian dan mereka pergi ke restoran daging bersama.

Selama makan, mereka tak henti-hentinya memuji betapa lembutnya daging yang mereka makan. Jungkook yang langsung menanyakan pada pemilik restoran kecil itu tentang daging itu. "Apa ini masih daging sapi, ahjussi?"

Si pemilik restoran tetawa senang. "Tentu saja. Bedanya, sapi-sapi yang kami potong adalah yang kami pelihara sendiri dan makanan hewan-hewan itu sangat kami jaga kualitasnya. Kami hanya menggunakan sapi dengan umur yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua jadi tidak ada daging yang alot." Jelasnya.

"Kalian saling kenal?" tanya Yoongi heran karena Jungkook terlihat akrab dengan pemilik restoran.

"Aku kesini beberapa kali. Ahjussi ini orang yang baik sekali. Dia selalu menambahkan sedikit lebih banyak daging di porsiku." Dia berbisik pada seniornya itu.

"Kalau begitu lain kali kau harus mengajakku setiap kali akan kesini, kau mengerti?" Jungkook membuat tanda hormat ala militer lalu mereka tergelak dengan kekonyolan mereka sendiri.

Poster besar dilekatkan ke dinding bagian depan aula sebuah gedung pertunjukan. Jungkook dan Yoongi berdiri di bawahnya untuk melihat seberapa megah persiapan yang dilakukan oleh panitia lomba.

Mereka pergi kesana setelah Jungkook sedikit memaksanya menunjukkan tempat dimana lomba yang akan diikuti Yoongi. Aula ditutup sementara sampai gelada bersih minggu depan, jadi mereka tidak bisa masuk. Jungkook hanya bisa mengintip di balik celah jendela.

"Di dalam luas sekali. Kalau aku jadi kau, aku akan gemetar di atas panggung, sunbae. Pasti penontonnya akan banyak sekali."

"Untungnya aku bukan kau." Balasnya menertawakan Jungkook.

"Sunbae, apa kau yakin akan membawakan lagu pilihanmu itu?"

Mereka mulai berjalan menjauhi gedung dan pergi ke halte. Yoongi memandanginya. "Kupikir kau senang aku memilih itu."

"Sudah pasti aku senang. Tapi aku lihat kau menulis lagu lain, dan menurutku itu sangat bagus. Kenapa kau tidak membawakan itu saja?" Jungkook mengingat beberapa kertas partitur yang dilihatnya di studio dan sempat coba memainkan nadanya.

Yoongi menunduk menatap tanah di bawah kakinya. "Lagunya belum rampung."

"Kau berbohong, sunbae."

"Belum ada judulnya." Sahutnya lagi.

"Ah, benar juga! Aku tidak melihat ada judul di sana."

Wajahnya berubah sendu. "Aku menyuruh seseorang untuk menemukannya, tapi kurasa dia tak pernah memikirkan tentang ini sama sekali. Padahal aku ingin sekali dia yang memberikan judulnya."

"Wah, aku tidak tahu kau laki-laki yang romantis, sunbae." Jungkook terkikik. "Apa aku boleh membantumu mencari judulnya?" katanya lagi menggoda Yoongi.

"Tidak boleh. Aku akan menunggunya sampai dia menemukannya." Jungkook kembali tergelak melihat sikap defensif Yoongi.

Ia memanggil Jungkook saat mereka sudah duduk di dalam bus. "Aku boleh tahu sesuatu?" Jungkook menoleh. "Kemarin malam aku tidak sengaja melihat Taehyung keluar dari apartemenmu, dan wow- wajahnya merah padam dan dia tersenyum aneh."

Jungkook tertawa gugup. "Sekarang kau yang sedang tersenyum aneh, sunbae! Apa maksudmu dengan mengatakan ini padaku?"

Yoongi memandanginya lekat-lekat.

"Apa yang kalian lakukan semalam, eh?"