Kenangan keduabelas

"Multiple Sclerosis."

"Mul … ti … "

"Multiple Sclerosis. Tadinya saya akan menjulukinya MS-probable, tapi ternyata positif. Yang saya takutkan."

"Penyakit apakah itu, dokter?"

Dokter itu menunjuk gambar otak yang ada di sisinya, "Otak memberikan perintah pada syaraf untuk menggerakkan anggota badan. Atau melihat. Atau mendengar. Semacam itulah."

"Syaraf dilindungi oleh selaput berlemak, namanya Myelin. Pada penderita MS, Myelinnya hilang atau rusak di beberapa tempat, membentuk bekas luka, dan diberi nama sclerosis. Dengan adanya sclerosis, syaraf tidak bisa menerima perintah lagi dari otak, dan sebaliknya juga tidak bisa memberi informasi pada otak," ia menunjuk-nunjuk gambar otak itu.

"Mak..maksudknya.." aku masih belum mengerti, "ini .. penyakit … yang gawat?"

Dia tersenyum menenangkan, "Semua penyakit juga gawat kalau tidak ditangani dengan baik. Kita," dia menekankan pada kata 'kita', "akan menangani penyakit ini dengan baik, miss Lightweather."

"Anna saja," sahutku lemah. "Apakah .. penyakit saya ini .. belum ada obatnya?"

Dia menggeleng. "Sayangnya sampai kini belum ada obatnya. Tapi dengan penanganan yang baik, anda akan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Seperti biasa. Tentu akan ada beberapa hal yang tidak bisa anda lakukan, tapi kita tidak bisa melakukan semua hal, bukan?"

Aku mengangguk, tetapi pikiranku tidak fokus. Dengan pikiran yang bercabang aku mengikuti penjelasan dr Howard tentang obat apa saja yang harus kuminum untuk memperingan gejala penyakit ini, apa saja yang harus kulakukan. Aku sebaiknya tidak tinggal sendiri, harus ada yang membantu dalam kegiatan sehari-hari. Harus berjemur di pagi hari manakala ada sinar matahari, vitamin D sangat membantu. Minum vitamin B12 membantu dalam pembuatan kembali Myelin. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Aku pulang dengan pikiran tak menentu. Dr Howard mengatakan aku termasuk beruntung karena penyakitku dideteksi dini, pada stadium awal. Jadi bisa dilakukan tindakan-tindakan pencegahan. Tapi aku tak tahu…

Pulang dengan lelah, aku menyandarkan diriku di sofa. Tak ingin melakukan apa-apa.

Tapi terlintas kemudian di pikiranku, apa yang harus kukatakan pada Severus? Sejujurnya kah?


Sore sudah mulai menggelap ketika Severus datang. Tapi aku tak sempat mengatakan apa-apa karena dia hanya memelukku erat.

Dia melonggarkan pelukannya, dan aku dapat melihat langsung ke matanya. Mata yang lelah. Dan sepertinya mata itu tidak berada di tempat ini. Tidak ingin berada di sini. Tapi jauh, jauh mengembara.

"Ada apa, Severus?" tanyaku hati-hati.

Ia menggeleng. Aku tak tahu apa yang dia ingin sampaikan.

Aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi ketika bibirnya cepat memagut bibirku yag gemetar, dan melumatnya. Dunia seakan terhenti. Aku terhenti bernapas.

Entah berapa lama barulah kesadaranku kembali. Ia menatap mataku dalam-dalam.

"Aku .. tak pandai mengatakannya.Tapi .. aku mencintaimu."

Dan aku terdiam tak bisa mengatakan apa-apa.

"Aku tak bisa mengatakannya padamu," ia melanjutkan, "tapi aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi," ujarnya serius. "Kita tak bisa bersama, Anna. Tapi kau harus tahu kalau aku mencintaimu."

Aku masih terdiam.

"Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku tahu, tapi aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku … ini akan menggemparkan," katanya lirih.

Ia melepas pelukannya, kedua tangannya menangkup kedua pipiku, lalu ia mengecup keningku. "Baca saja koran besok," katanya pendek. Lalu ia pergi. Secepat datangnya.

Lama aku memandang ke arah ia pergi walau sosoknya sudah tak terlihat.

Dan aku baru teringat, tak sepatah katapun aku bicara padanya tentang Multiple Sclerosis.


Malamnya aku tidur tidak nyenyak. Subuh aku putuskan bangun saja. Mandi, berpakaian, sarapan. Yang semakin lama memang semakin sulit aku kerjakansendirian.

Burunghantu pengantar koran datang. Ia seperti kelelahan. Dan ia seperti tergesa-gesa mengantar koran ke penyihir atau Squib lain. Ada apakah gerangan? Sepertinya setiap orang ingin membaca koran hari ini. Severus mengatakan padaku tadi malam-- dan aku tertegun membaca judul berita utama di halaman depan.

KEPALA SEKOLAH ALBUS DUMBLEDORE DIBUNUH

OLEH STAF PENGAJARNYA SENDIRI, SEVERUS SNAPE

Aku terduduk.

Tidak cukup dua kali aku membaca berita itu. Juga berita-berita yang terkait di halaman-halaman lain.

Kepala Sekolah?

Dan Severus?

Wilbur pasti lebih tahu. Dia penyihir bukan Squib. Jadi aku bergegas ke toko.

Di jalan orang-orang hilir mudik dengan panik. Dengan ketakutan.

Aku tiba di toko. Ternyata tidak buka. Er, … pintunya hanya buka setengah. Aku masuk, dan kudapati Wilbur seperti orang linglung. Di tangannya koran terpegang erat-erat.

"Wilbur…"

Ia mendongak, memandangku tajam-tajam, "Anna, kenapa bisa jadi begini?"

Aku menggeleng. Aku duduk di sebelahnya.

Aku teringat mata hitam yang kulihat tadi malam. Mata yang lelah. Mata yang jauh.

Jauh.

TBC

A/N: Kebenaran uraian tentang Multiple Sclerosis dan sejenisnya dalam FF ini, ditanggung oleh penulis. Sumber dari Wikipedia.