Hai~ Hai~ x''D

New update! Makasih buat yang sudah nunggu update'an dari entah kapan itu ampe kemarin update x''D ampe ditimpuk camera obscura... /malah seneng/

Enjoys~!


This Story Based On

Fatal Frame – True Ending

Fatal Frame II: Crimson Butterfly - Promise Ending

Fatal Frame III: The Tormented - Alternate Ending

Fatal Frame IV: Mask of The Lunar Eclipse - Second Ending

Fatal Frame V: The Raven-Haired Shrine Maiden - Good Ending

Disclaimer

Fatal Frame © TECMO-KOEI

All of Out Character / our OC (Original Charecter) © Para Author KepoNeko

Summary

Entah ini hanya permainan takdir atau hanya kebetulan belaka, Rikka Rahmadhati dan kedua temannya Andra dan Nizar mendapatkan kesempatan studi ke Jepang. Dengan dibawah bimbingan langsung dari mentor mereka, Ren Houjou, Kei Amakura, dan Rei Kurosawa mereka melakukan penelitian budaya di gunung Seinaru (Seinaruyama). Tapi, rupanya ada misteri besar dibalik tempat itu yang menyebabkan mereka semua terlibat oleh kutukan penuh dengan dendam dan penyesalan.

Genre

Humor, Horror (?), Supernatural, Mystery, Fantasy (?)

Rating

( R-13 ? / R-15 ? )

Warning

Gaje, Horror nggak jelas, Humor maksa nan garing, bahasa amberegul, typo(?), kemungkinan adanya kadungan OOC dari karakter lainnya (yang bukan OC kami)

Don't Like, Don't Read. Plese don't Flame

Hope you like it,


Fatal Frame ~ Burning of Sin

~ Chapter 12 ~ Bad News

Sesosok bayangan di bawah cahaya rembulan terus berlari menelusuri hutan, tidak jauh di depannya terdapat seekor serigala putih yang memimpin jalan. Kimono putih-merah khas Miko milik Sakuya Tachibana berkibar seiring dia melompati beberapa akar pohon yang timbul di tanah.

"Kita harus cepat, Saiga!"

Serigala yang dipanggil Saiga itu menambah kecepatannya sebagai jawaban. Di sisi kiri wajah dan leher Saiga tertempel beberapa kertas mantra putih berisi tulisan berwarna merah, ditambah lagi dengan ukuran tubuhnya yang terbilang agak besar membuat serigala ini tidak terlihat seperti serigala normal pada umumnya.

'Kakek, maafkan aku harus melanggar peratuanmu.'

Ekspresi Sakuya sedikit menunjukkan penyesalan, tapi dia juga tidak bisa hanya tinggal diam dan bersantai ria di rumah sementara ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan di dalam hutan terkutuk ini.

"Ayo, Saiga! Kita harus menyusul mereka sebelum terlambat!"

Keduanya terus berlari ke dalam hutan hingga kegelapan malam menelan sosok mereka.

Di tempat lain, Mayu yang masih terguncang atas kejadian sebelumnya sekarang tengah berusaha menenangkan diri. Dia menoleh ke arah adiknya yang sudah pingsan entah sejak kapan, wajah Mio yang sejak tadi menujukkan kesakitan kini terlihat kelelahan.

Mungkin efek dari bencana di tempat ritual tadi, tebak Mayu seraya perasaan tenang mulai tumbuh di hatinya saat menyadari bahwa Mio sudah bersamanya lagi. Namun sayangnya, dia tidak menyadari sesosok bayangan yang perlahan sedang mendekatinya dari belakang.

"Aku harus membawa Mio kembali ke pondok, aku juga harus memberitahu yang lain soal Andra-san… dan meminta maaf kepada teman Andra-san itu…"

Mayu memejamkan mata sambil menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menghilangkan semua kecemasan soal nasib Andra, dia terus meyakinkan diri kalau Andra pasti selamat.

Ketika matanya terbuka lagi, Mayu melihat bayangan seorang pria yang berdiri di belakangnya terpantul di tanah akibat cahaya bulan.

Pantulan bayangan pada tanah itu mengangkat tangan kanannya yang seperti sedang memegang sebuah katana pendek. Mayu sontak menoleh ke belakang dan melihat seorang pemuda berkimono lusuh siap menebasnya sambil tersenyum gila.

Tubuh gadis bersurai cokelat itu seakan-akan membeku saat tangan kanan pemuda itu berayun ke bawah bertujuan menembus kepalanya. Namun, sebelum hal itu terjadi, seekor serigala putih tiba-tiba saja muncul dari arah kanan mereka lalu menerkam si pemuda dengan ganasnya.

"AARGH!"

"E-eh?" bisik Mayu yang terkejut sekaligus bersyukur terhindar dari maut, "Serigala?"

Lengan kiri yang digunakan sebagai tameng oleh pemuda itu sekarang terjebak di antara deretan gigi tajam serigala itu. Kulit pucat dan daging lengan kirinya sampai terkoyak seiring si pemuda berusaha melepaskan diri dari gigitan binatang buas tersebut.

Sebagai perlawanan, pemuda itu menancapkan pedang pendeknya ke sisi kiri leher Saiga kemudian mencabutnya lagi dengan kasar. Dia berencana menusuk serigala itu lagi sampai beberapa tombak es terbentuk di atas kepalanya lalu meluncur ke bawah dengan sangat cepat.

Sayangnya, refleks pemuda itu ternyata lebih cepat, dengan sigap dia menyentak tangan kirinya agar Saiga terbanting ke tanah dan melombat mundur ke belakang, menghindari deretan tombak es yang menancap di tanah mengikuti arah lompatannya.

Ekspresi si pemuda berubah kesal saat matanya menangkap sosok Sakuya di antara bayang-bayang malam.

"Miko..."

Mayu langsung ngelalihkan perhatiannya begitu mendengar perkataan si pemuda, gadis itu agak terkejut begitu melihat sosok Miko yang tadinya menolak untuk membantu mereka kini berdiri tidak jauh di belakang Mayu.

Keringat akibat lelah berlari mengalir turun dari dahi Sakuya sampai dagu dan menetes ke kimono putih yang sedikit kotor. Di tangan kirinya terdapat beberapa kertas mantra, sementara pada tangan kanannya terdapat satu kertas mantra yang berubah warna menjadi merah darah sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan kecil.

"Kau…," ucap Mayu yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sakuya sempat melirik Mayu, melihat bagaimana keadaannya sekaligus menyadari bahwa pemuda tinggi yang sebelumnya sudah tidak bersama Mayu, sosok pemuda itu telah terganti oleh sosok orang baru yang tergeletak di sebelah Mayu.

'Sudah terlambatkah..?' renung Sakuya seraya menyipitkan matanya saat menatap tubuh Mio, dia kemudian kembali mengalihkan perhatian kepada roh jahat berkimono lusuh di hadapannya, 'Tapi, pertama-tama aku harus melenyapkan di―huh?'

Baru saja Sakuya bersiap untuk menyerang, namun si roh pemuda itu sudah keburu berbalik badan dan perlahan menghilang ke dalam hutan yang lebat.

"Dia... kabur?" ucap Miko muda itu, baru kali ini ada roh jahat yang melarikan diri darinya, "Demo.. doushite?"

"Anu..."

Sakuya segera menoleh begitu mendengar suara Mayu, tatapan tenangnya balas menatap pandangan bingung Mayu.

"Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau dilarang untuk ke sini?"

Bukannya menjawab, Sakuya malah mendekati Mayu dan berjongkok di depannya. Menatap gadis Amakura itu dengan saksama selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas pertanyaan Mayu dengan pertanyaan lain.

"Apa kau baik-baik saja? …Apakah aku sudah terlambat?"

Rasanya Mayu ingin sekali menangis saat mendengar kata 'terlambat' dari mulut Sakuya.

'Kalau saja kau mau menolong kami sejak awal, mungkin Andra-san masih ada di sini sekarang!' bentak Mayu di dalam pikirannya, tentu saja gadis itu tidak berani untuk menyuarakannya, jadi sebagai gantinya dia hanya membuang muka dan menggangguk pelan.

"Sumimasen," respon Sakuya dengan rasa bersalah yang terlihat jelas di wajahnya.

Mayu tidak membalas perkataan Miko di hadapannya lagi, dia kesal. Aneh memang, tapi si kembar tertua hanya ingin melampiaskan emosi akibat hilangnya Andra pada seseorang.

Menghadapi keheningan yang tidak nyaman, Sakuya menoleh kesana-kemari untuk melihat keadaan sekitar sampai matanya menangkap sosok Saiga yang terbaring lemas dengan luka tusukan pada lehernya. Dia hampir lupa dengan partner setianya itu.

'S-Saiga!'

"Sial…! Kembalilah, Saiga…!" ucap Sakuya terburu-buru, seketika itu juga tubuh Saiga tersemuti oleh cahaya biru terang.

Tubuh Saiga dengan cepat berubah menjadi bola cahaya kecil, lalu terbang menuju tangan kanan Sakuya dan berubah lagi menjadi kertas mantra dengan sobekan besar di tengahnya.

'Lukanya parah!'

Dengan sigap Sakuya mengapit kertas mantra Saiga di antara jari telunjuk dan tengah, kedua matanya kemudian tertutup begitu mulutnya bergerak membisikan bacaan doa (mantra). Hal ini otomatis menarik perhatian Mayu.

Secara perlahan, Mayu melihat sobekan pada kertas mantra tertutup kembali. Bukan hanya itu, dia juga melihat sesuatu yang lebih mengejutkan lagi. Bersamaan dengan tertutupnya sobekan pada kertas mantra, terbentuk pula lebam keunguan yang Mayu duga sebagai yasumi di sisi kiri leher Sakuya.

'Dia menyalurkan luka serigala itu pada dirinya sendiri…?'

Mayu yang terlalu terfokus pada kertas mantra yang sudah kembali seperti semula, tidak menyadari bahwa Sakuya telah membuka matanya kembali.

"Kita harus segera pergi dari sini, kita tidak akan tahu akan ada apa lagi di hutan ini," ucap Sakuya seraya berdiri lalu melempar kertas mantra Saiga ke samping kanan, "Saiga."

Kertas mantra yang dilempar Sakuya berubah lagi menjadi Saiga yang kini berdiri dengan gagah tanpa ada luka sedikitpun.

"Bagaimana kau bisa melakukan itu?"

"Sulit untuk menjelaskannya, yang pasti ini adalah kemampuan turun-temurun keluargaku."

Sakuya menjawab dengan santai tanpa memperhatikan Mayu, sebaliknya dia mendekati tubuh Mio dan berusaha meletakan gadis pingsan itu di punggungnya. Mayu yang melihat Sakuya agak kesusahan, refleks berdiri lalu segera membantunya.

Sang kembar tertua mendapatkan anggukan sebagai ucapan terima kasih, Sakuya kemudian berdiri sekaligus menyesuaikan berat tubuh Mio di punggungnya sebelum menoleh pada Saiga.

"Saiga, temukan jalan tercepat untuk sampai ke kuil."

Perkataan Sakuya langsung dibalas dengan gerakan kepala Saiga yang mencari-cari jejak roh di hutan itu, walaupun lebih terlihat seperti sedang melacak bau tertentu di udara.

"Ermm…," Mayu mengeluarkan suara penuh keraguan saat dirinya kembali menatap heran Sakuya.

"Ya?"

"Bukankah kau di larang masuk ke hutan ini?"

Sakuya terdiam sebelum tersenyum tipis, "Ah, aku pernah mendengar istilah bahwa larang itu dibuat untuk dilanggar," senyum Sakuya bertambah lebar ketika melihat alis Mayu berkerut.

Baru saja Sakuya ingin mengikuti Saiga yang mulai berjalan, dia tiba-tiba teringat akan perkataan kakeknya tentang ketidaksopanan kalau tidak memperkenalkan diri kepada orang yang baru saja ditemui, walaupun ini sudah yang kedua kalinya.

"Umm, dari awal kita bertemu kita tidak saling memperkenalkan diri-"

"E-eh? Ah, b-benar juga. Namaku Mayu Amakura, senang bertemu dengan mu, err…"

"Sakuya Tachibana, senang bertemu dengan mu juga, Amakura-san."

Telinga Mayu seakan berhenti berfungsi setelah mendengar marga Miko yang sedang tersenyum kecil padanya. Mata gadis itu sedikit melebar saat mulutnya berucap marga yang sangat familiar kembali dia dengar untuk kedua kalinya.

"T-Ta… Tachibana…?"

xxxxxxxx

xxxxxxxx

".......nghhh... jam 3 pagi, huh?"

Keluh Rikka saat wajahnya tersiram cahaya dari layar handphone dikala menatap digit angka jam digital, cahaya itu juga sedikit menerangi kegelapan di ruangan kamar yang dijadikan khusus untuk perempuan di pondok.

Mahasiswi itu lalu meletakan handphonenya di samping futonnya sambil mengubah posisi tidur menghadap ke langit-langit. Entah sudah berapa kali ia mengecek jam semenjak Andra dan Mayu pergi. Ia pun mencoba untuk menutup matanya, harap-harap bisa tertidur walau hanya sebentar. Namun beberapa detik kemudian kedua matanya kembali terbuka.

"Sial," umpat Rikka sembari bangkit dari posisi terlentangnya menjadi (posisi) duduk, sambil melihat futon 'kosong' milik Mayu yang diklamufase olehnya seakan-akan Mayu sedang terlelap di sana.

'Ini semua gegara kalian... Coba kalian kagak pake acara pergi... Dan bego'nya gue gak hentiin mereka, kalau gue hentiin kan pasti gue bisa tidur dengan tenang sekarang... Bagus Rikka... Liat hasil keputusan bego lu tadi... Sekarang elu kagak bisa tidur.'

"Rikka."

Rikka spontan menoleh begitu mendengar namanya dipanggil pelan dari sisi kanan. Pandangannya melewati dua orang gadis tertidur dan satu futon 'kosong' yang memisahkan dirinya dengan Rei. Dilihatnya Rei dalam posisi sedikit bangun dengan menumpu pada satu siku sambil menatapnya lekat-lekat.

"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"

"Ah… Bukan apa-apa, Rei-san. Maaf sudah membuatmu terbangun," balas Rikka sambil berusaha terdengar senormal mungkin.

"Tidak apa-apa. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu bilang saja ya?"

"Iya, Rei-san. Terima Kasih."

Rikka melihat Rei merebahkan tubuhnya ke futon sebelum akhirnya membalikkan badan membelakangi dirinya. Gadis itu menghela napas lega ketika menyadari mentornya belum curiga terhadap apapun, ternyata maut masih ingin jauh darinya.

Kedua matanya juga sempat terfokus pada sosok Yuuri yang terpaksa menginap di pondok ini karena kereta yang bisa mengantarnya pulang tidak tersedia sampai besok pagi dan juga sosok Rui yang sepertinya tengah bermimpi indah.

'Enaknya kalau bisa tidur nyenyak kayak mereka berdua.'

Rikka mendengus kecewa lalu berdiri secara perlahan agar tidak menimbulkan suara, dia membereskan klamufase sosok Amakura Mayu dengan sigap dan tanpa suara, pikirnya akan mencurigakan kalau seorang Amakura Mayu tidak bangun pagi, kan dia bisa buat alasan bila gadis itu sedang lari pagi (sungguh lihai dirinya dalam menyembunyikan sesuatu). Setalah itu, ia berjalan keluar dari kamar. Kakinya dengan pelan menapak pada deretan papan kayu sampai dirinya berada di dapur.

Jemari tangan kirinya menekan tombol lampu sebelum berjalan mendekati wastafel lalu memutar kerannya. Air yang mengalir keluar segera Rikka tampung di kedua telapak tangan yang saling menempel, kumpulan air itu kemudian dia basuhkan pada wajahnya.

"Seharusnya kalian punya alasan yang lebih bagus lagi soal ini, sampai-sampai kalian harus pergi dengan cara diam-diam begini… Apalagi kalau Rei-san tau kalian menghilang, bisa-bisa kiamat semakin dekat."

"Kalau begitu, Rikka-san, jika Rei-san bertanya… bilang saja kami sedang pergi mencari 'kupu-kupu merah'."

Memori percakapannya dengan Mayu kembali teringat bersamaan dengan air menetes dari wajahnya yang bagai ikut membawa pergi sebagian beban pikiran Rikka.

Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah meyakinkan dirinya bahwa Andra dan Mayu akan pulang dengan selamat sekaligus berhasil menemukan 'kupu-kupu merah' atau apapun yang sedang mereka cari itu.

xxxxxxxx

xxxxxxxx

Kembali lagi dengan Mayu yang kini telah sampai dengan selamat di kuil. Matanya otomatis menatap ke atas saat menyadari kalau warna langit telah menjadi oranye-kemerahan, manandakan bahwa fajar mulai menyingsing.

Sudah berapa lama dia berjalan? Entahlah, yang jelas sekarang nyeri di lutut kanannya seakan-akan berteriak minta istirahat.

"Amakura-san."

Mayu segara menoleh ke arah Sakuya yang baru saja memanggil Saiga kembali menjadi kertas mantra. Mayu lalu berjalan tertatih-tatih mendekati Sakuya, pikiran negatifnya sempat menduga kalau terjadi sesuatu dengan Mio.

"Amakura-san, lebih baik kau cepat masuk dan beristirahatlah. Saat matahari sudah mulai tinggi, aku akan mengantarmu dan adikmu pulang."

"Arigatou, Tachibana-san."

Sakuya menggangguk sebagai balasan, dia baru saja ingin berjalan ke belakang kuil untuk menuju ke rumahnya yang ada di belakang kuil, namun tanpa menduga bahwa sang kakek ternyata sudah menunggu kedatangannya. Orang tua itu tengah berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada, tampangnya memang tidak menunjukkan kemarahan, tapi Sakuya tahu benar kalau tatapan datar kakeknya itu menandakan murka.

Si cucu pertama refleks menelan ludah saking takutnya.

"O-Ojiisan... watashi―"

"Sakuya, cepat bawa mereka ke kamar tamu," potong kepala pendeta di sana dengan nada pelan, "Jangan lupa berikan holy water kalau mereka terkena yasumi."

Dengan memberikan tatapan yang seakan-akan berkata 'hukumanmu akan menyusul nanti' di akhir ucapannya, sang kakek segera membalikkan badan dan berjalan pergi menelusuri lorong kuil.

Hening, tidak ada satupun dari gadis-gadis itu yang mau berbicara. Mayu agak merasa iba pada Sakuya yang sepertinya akan kena marah akibat menolongnya, sementara Sakuya sendiri sedang memikirkan hukuman apa yang akan didapatnya nanti.

"Ayo, Amakura-san," ucap Sakuya pelan setelah beberapa saat, kakinya mulai berjalan menuju kamar tamu dengan Mayu mengikutinya dari belakang.

Dari posisi ini, Mayu bisa melihat punggung Mio yang tengah digendong oleh Sakuya, entah kapan adiknya itu akan terbangun, sang kakak hanya bisa berharap secepatnya.

Sesampainya mereka di kamar tamu, Sakuya segera meletakan tubuh Mio di futon yang sudah digelar oleh Mayu. Gadis pincang itu otomatis langsung duduk di samping adiknya, begitu juga dengan Sakuya.

"Amakura-san, bisa beritahu aku apa yang terjadi? Dan juga katakan padaku dimana teman tinggimu itu? Apa dia masih terjebak di dalam hutan?"

"Aku tidak tahu apakah Andra-san masih terjebak di dalam hutan atau di dimensi lain…," kepala Mayu tergantung lemas saat merasakan kesedihan dan rasa stres kembali muncul.

Ekspresi Sakuya ikut berubah masam kala mendengarkan jawaban Mayu.

"Tachibana-san… ada yang aneh di sana… adikku hampir ditumbalkan di dalam aula besar bagai tempat ritual, dia berdiri di depan lubang api besar dan hampir saja bunuh diri karena dorongan para pendeta."

Tutur Mayu dengan nada suram, dia terus bercerita tentang semua kejadian yang dialaminya bersama Andra di dalam hutan. Sakuya sendiri hanya terdiam menunggu hingga cerita Mayu selesai, dalam hatinya dia meminta maaf karena tidak bisa memberitahu apa maksud dari semua kejadian yang dialami gadis pincang itu.

Dia sudah dibuat bersumpah oleh sang kakek untuk tidak menceritakan apapun yang dia ketahui pada orang luar.

"Tapi, ada sesuatu yang menurutku menarik…"

"Apa itu?"

"Aku mendengar salah satu kenangan roh di sana menyebutkan nama 'Tachibana'," Mayu menoleh sekaligus menatap Sakuya lekat-lekat, "Dan aku yakin itu bukan suatu kebetulan… kau juga berasal dari tempat itu kan, Tachibana-san?"

Miko muda di sampingnya sempat menyipitkan mata sesaat, menimbang-nimbang apakah dia harus melanggar sumpahnya dengan memberikan sedikit info pada orang luar yang baru saja berhasil selamat dari tempat terkutuk itu atau tidak.

"Lakukan saja apa yang menurutmu benar," tutur pelan Isamu Tachibana sambil menatap wajah bermasalah putrinya.

"Bahkan kalau itu menentang kakek?" Sakuya kecil balik menatap ayahnya dengan penuh kecemasan, namun pria dengan wajah yang tidak terlalu jelas itu hanya tersenyum tipis lalu menjawab.

"Bahkan kalau itu menentang orang tua itu."

Entah apa yang terjadi pada otaknya sampai-sampai kenangan terakhir dengan sang ayah terputar lagi. Sakuya dengan perlahan melirik Mayu yang sudah menunggu jawabannya sedari tadi, dia lalu mengambil napas dalam-dalam sebelum sekali lagi memutuskan untuk melawan kehendak kakeknya.

"Aku tidak bisa dibilang berasal dari sana, tapi aku memang keturunan dari seorang pendeta yang berasal dari desar itu… dan sekaligus menjadi satu-satunya orang yang selamat dari bencana yang menimpa desa itu 200 tahun lalu."

xxxxxxxx

xxxxxxxx

Waktu berlalu dengan cepat hingga empat digit angka digital di sudut kanan bawah laptop Rikka menunjukkan pukul 09.00 AM. Sekarang gadis itu tengah duduk di ruang tengah dengan jemarinya mengetik laporan kuliah pada laptop kesayangannya yang di letakan di atas Chabudai, sesekali dia melirik orang-orang yang lalu-lalang di depannya.

'Sebentar lagi pasti mulai ada yang sadar kalo Andra sama keponakan Amakura-san ilang.'

"Oi, Rik, elo liat Andra nggak sih? Dari gue bangun dia udah kagak ada deh," celetuk Nizar yang duduk berhadapan dengannya, pemuda itu juga samanya sedang mengerjakan laporan kuliah.

Di sebelah Nizar ada Yuuri yang sedang membaca kertas laporan sekaligus tengah membantunya mengoreksi laporan kalau-kalau ada kanji yang salah. Yuuri sendiri juga tidak keberatan saat dimintai tolong, lagipula ini bisa jadi pengisi waktu hingga kereta yang mengantarnya pulang tersedia jam sebelas nanti.

'Baru aja gue omongin,' renung Rikka sambil headdesk sebelum ia menjawab pertanyaan temannya itu, "Lagi nyari bubur buat sarapan kali."

"Ya kali, Rik…," ekspresi Nizar berubah menyesuaikan nada bicaranya, sementara yang diajak bicara hanya mengangkat bahu sebagai balasan.

"Rikka, Nizar."

Kedua remaja itu sontak mendongak begitu mendengar Rei memanggil mereka, Rei berjalan mendekati mereka lalu bertanya pertanyaan yang sama sekali tidak ingin didengar oleh Rikka.

"Apa kalian melihat Mayu? Keponakan Kei yang kemarin datang itu."

"Tidak, Rei-san. Mungkin dia lagi ngejaga Kei-san sekarang," jawab Nizar.

"Aku sudah memeriksanya, tapi dia tidak bersama Kei. Kemana perginya anak itu…?" Rei refleks bertolak pinggang dengan ekspresi bingung terpampang di wajahnya.

"Dia sedang mencari 'kupu-kupu merah' bersama Andra, Rei-san."

Baik Rei dan Nizar terkejut mendengar jawaban tak terduga dari Rikka, keduanya secara bersamaan menatap gadis itu sementara yang ditatap tidak bereaksi sama sekali. Kelihatannya mahasiswi itu cukup tenang, tapi dipikirannya sudah kocar-kacir dan agak mengutuk tekat bulatnya yang mengambil resiko mengatakan hal sebenarnya kepada Rei.

'Mampus gue... tapi Rei-san emang harus tau kan?! Awas si Andra... gue gantung kalo udah pulang nanti.'

"Mencari…'kupu-kupu merah'…?"

". . . . . . . . . . . . Iya, itulah yang Amakura katakan padaku sebelum dia dan Andra diam-diam pergi ke hutan," Rikka bisa melihat dengan jelas perubahan air muka Rei mulai marah.

"Kenapa kau tidak menghentikan mereka?!"

"Rei!"

Sebelum Rikka bisa menanggapi bentakan Rei, seruan mentor termuda sudah terlebih dahulu menarik perhatian mereka. Ketiga orang itu (dan juga Yuuri) menoleh secara bersamaan, mereka melihat Ren dan Rui berjalan mendekat dengan dua orang lainnya mengikuti di belakang.

"Mayu!" panggil wanita bermarga Kurosawa itu saat matanya menangkap sosok orang yang sedang dicarinya, "Mayu, kenapa kau pergi ke hutan? Apa yang sebenarnya kau lakukan?"

Wajah Mayu sangat bermasalah ketika menyadari bahwa Rei sama sekali tidak menyembunyikan kemarahan dalam nada suaranya. Sisa orang di sana hanya terdiam menunggu jawaban Mayu, bahkan Sakuya yang kembali menggendong Mio memilih diam karena merasa dirinya belum mempunyai hak untuk bicara.

"A-aku ke sana untuk mencari Mio, Rei-san…"

". . . . . . . . . . Amakura... Di mana Andra?"

celetuk Rikka tiba-tiba sambil berdiri, dia mulai merasa janggal tidak melihat sosok teman tingginya itu.

Jantung Mayu terasa seakan-akan jatuh ke perutnya saat mendengar pertanyaan dari gadis yang sudah berdiri tidak jauh dari Rei. Ia dapat melihat tatapan intens Rikka yang rasanya menusuk dirinya. Sebenarnya Mayu sudah mempersiapkan diri selama perjalanannya ke pondok tadi, tapi tetap saja hatinya tidak siap.

Dengan perlahan Mayu mulai mendekati Rikka dan berhenti tepat di depannya, lalu ia membungkuk sedalam-dalamnya, mata Mayu terpejam erat beriringan dengan air mata yang menetes begitu mulutnya mulai berucap.

"Tolong maafkan aku!" gadis pincang itu mengambil napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, "Aku tidak bisa membawa Andra-san pulang… k-karena Andra-san… d-dia…! dia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku dan Mio…"

Tubuh semua orang yang berada di dalam pondok itu menjadi kaku setelah mendengar ucapan Mayu, mereka benar-benar terkejut, terutama Nizar. Bahkan pemuda berkacamata itu sampai-sampai terbangun dari posisi duduk, wajahnya terlihat sangat shock.

Sedangkan ekspresi Rikka sama sekali sulit untuk ditebak, ia hanya menatap dingin sosok Mayu yanh membungkuk di depannya. Ia tidak menyangka kalau Andra tidak akan kembali bersama Mayu, apa lagi karena mengorbankan dirinya

Seseorang seperti Andra bisa mengorbakan dirinya demi orang lain? Apa lagi ini menyangkut soal nyawa... Riikka mungkin butuh berpikir dua kali untuk mempercayai hal itu.

Tapi, di dalam hatinya, ia mulai mengutuk keputusannya membiarkan Andra dan Mayu pergi ke hutan itu.

Tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Mayu membiarkan dirinya jatuh berlutut dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Bukan hanya karena efek kelelahan, tapi juga karena beban pikiran yang semakin menjadi-jadi setelah semua orang tahu kalau ini adalah kesalahannya.

Isak tangis dan perkataan maaf terus mengisi keheningan di dalam ruangan itu, punggung Mayu terus membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh lantai kayu.

"Aku minta maaf… hiks… m-maafkan aku… hiks karena aku… hiks… Andra-san... d-dia…"

Sekali lagi dalam hidupnya, Mayu Amakura mengecap dirinya sendiri sebagai bencana yang hanya akan menyeret orang-orang di sekitarnya menuju ajal mereka.

To Be Continue