Disclaimer : Ilana Tan
Character :
Chanyeol
Baekhyun
In a Blue Moon
Bab Dua Belas
KIM JONGIN melangkah memasuki A Piece of Cake dan mendapati dirinya berada di tengah keramaian. Toko kue Baekhyun sangat ramai hari ini. Ia bertanya-tanya apa istimewanya hari ini sampai orang-orang memutuskan membeli kue.
Ia memandang ke sekeliling toko, mencari Baekhyun. Karyawan-karyawan toko sibuk melayani pelanggan, namun Baekhyun tidak ada di antara mereka. Jongin baru hendak menghampiri salah seorang karyawan untuk bertanya ketika ia melihat Baekhyun berjalan keluar dari bagian belakang toko diikuti oleh Bo.
"Apakah Mike tidak bisa memperbaikinya?" tanya Baekhyun kepada Bo dengan kening berkerut. Ia tidak melihat Jongin dan sama sekali tidak menyadari kehadiran Jongin di dekatnya.
"Mungkin bisa," sahut Bo, "tapi butuh waktu lama."
"Dan kita harus mengantar kue ulang tahun untuk putra Mrs. Sandberg sekarang," lanjut Baekhyun sambil berpikir serius.
"Kita bisa memakai taksi."
"Atau aku bisa membantu mengantarnya," sela Jongin.
Kepala Baekhyun berputar ke arahnya dan gadis itu mengerjap menatapnya dengan kaget. "Oh, hai, Jongin," sapanya setelah beberapa saat. "Ada yang bisa kubantu?"
"Kukira aku yang akan menawarkan bantuan," koreksi Jongin sambil tersenyum lebar. "Mobilmu rusak?"
"Benar," sahut Baekhyun sambil mengembuskan napas panjang.
"Dia memilih rusak di hari sesibuk ini."
"Aku bisa membantu mengantarnya," kata Jongin. "Kudengar itu pesanan Mrs. Sandberg. Apakah maksudmu Sylvia Sandberg?"
"Oh, ya. Dia temanmu, bukan?" tanya Baekhyun. "Dia memesan kue ulang tahun untuk anaknya. Katanya dia datang ke sini atas rekomendasi darimu."
Jongin mengangkat bahu. "Dia mencari yang terbaik, jadi aku merekomendasikan yang terbaik."
Baekhyun tersenyum kepadanya. "Kau sangat baik."
"Aku tahu alamat Sylvia dan aku bisa mengantar kue-kuenya sekarang juga, kalau kau mau," kata Jongin lagi. Dan mungkin mengajak gadis itu makan siang bersamanya setelah itu. Itulah tujuan Jongin datang ke sini, mengajak Baekhyun menghabiskan hari Sabtu yang cerah ini bersamanya.
Baekhyun menatapnya sejenak, lalu berkata, "Baiklah. Aku ikut denganmu."
Sylvia Sandberg mengantar Baekhyun dan Jongin ke pintu depan sambil mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya setelah Baekhyun dan Jongin mengantarkan kue ulang tahun Patrick dengan selamat dan tepat waktu. "Omong-omong, aku tidak menyangka kau adalah tipe laki-laki yang mau menemani kekasihnya mengantar kue di hari Sabtu, Jongin," gurau Sylvia.
Jongin hanya tertawa. Baekhyun menyadari Jongin tidak mengoreksi pernyataan Sylvia yang menyiratkan mereka adalah pasangan kekasih. Sepertinya ia harus menjelaskan beberapa hal kepada Jongin, termasuk memberikan jawaban atas pertanyaan laki-laki itu beberapa waktu yang lalu.
"Apakah kau punya waktu untuk minum kopi bersamaku?" tanya Jongin kepada Baekhyun ketika mereka sudah masuk kembali ke dalam SUV milik Jongin. Tokonya sedang ramai dan banyak pekerjaan yang menunggunya di sana, tetapi Baekhyun merasa perlu meluruskan beberapa hal dengan Jongin. "Ya," katanya. "Tentu saja."
Baekhyun tertegun ketika Jongin membawanya ke salah satu kafe yang sering mereka kunjungi dulu ketika mereka masih berhubungan. Ia tertegun bukan karena Jongin memilih mengajaknya ke sana, tetapi karena ia baru menyadari bahwa lokasi kafe itu tepat di seberang Ramses. Ia dan Jongin benar-benar sering bertemu di sini dulu, dan Baekhyun jadi bertanya-tanya apakah ia dan Chanyeol pernah berpapasan tanpa sadar.
Ia juga bertanya-tanya apa yang dilakukan Chanyeol sekarang dan apakah Chanyeol sudah ada di Ramses.
"Baekhyun?"
Baekhyun tersentak dan mengalihkan pandangan dari pintu depan Ramses kepada Jongin. "Ya?"
"Kau mau minum apa?" tanya Jongin.
"Oh." Baekhyun menyadari pelayan kafe sudah berdiri di samping meja mereka. "Cappuccino. Terima kasih," katanya kepada si pelayan.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Jongin kepada Baekhyun ketika pelayan kafe itu sudah pergi.
"Hm," Baekhyun bergumam membenarkan. "Tentu saja aku ingat. Kita sering bertemu di sini dulu."
Jongin tersenyum. "Itu masa yang menyenangkan."
Baekhyun menatap Jongin, ragu, namun akhirnya mengambil keputusan. "Jongin," katanya, "kenapa kau membiarkan temanmu beranggapan bahwa aku adalah kekasihmu?"
Sepertinya Jongin tidak menduga pertanyaan Baekhyun yang blak-blakan itu karena matanya melebar kaget, lalu ia tertawa pelan. "Kau benar-benar sudah berubah, Baekhyun," katanya.
Baekhyun memilih tidak berkomentar.
"Baiklah," kata Jongin setelah berpikir sejenak. "Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku siap berubah apabila kau bersedia memberiku kesempatan sekali lagi."
Baekhyun terdiam. Ia sudah menduganya. Namun, keputusan Jongin untuk berubah sudah terlambat empat tahun bagi Baekhyun.
Baekhyun menoleh memandang ke luar kafe, ke arah Ramses, lalu kembali menatap Jongin. Ia menghela napas pelan dan menggeleng.
Jongin mencondongkan tubuh ke depan. "Bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi?"
"Maafkan aku, Jongin. Aku tidak bisa," kata Baekhyun hati-hati.
"Kenapa tidak?"
Baekhyun menggigit bibir, dan memutuskan berkata jujur.
"Aku bersama seseorang."
Alis Jongin terangkat. "Begitu?" katanya perlahan selama beberapa detik. "Tapi kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya."
Baekhyun tidak perlu langsung menjawab karena saat itu kopi-kopi pesanan mereka diantarkan. "Memang belum ada yang terjadi ketika terakhir kali kita bertemu," sahutnya sambil menatap cappuccino-nya.
Hening. Lalu, "Boleh aku bertanya siapa orangnya?"
Tanpa sadar Baekhyun kembali menoleh memandang ke luar kafe, ke arah Ramses.
"Jangan-jangan..." Jongin menghentikan kata-katanya, mengikuti arah pandang Baekhyun. "Park?"
Nada suara Jongin membuat Baekhyun kembali menatapnya.
"Baekhyun, kau tidak mungkin serius," lanjut Jongin dengan alis berkerut tidak setuju.
Sepercik kekesalan terbit dalam diri Baekhyun. "Kenapa tidak?" tanyanya.
"Dia pernah menyakitimu dan kau tentu tahu dia akan melakukannya lagi," cetus Jongin. "Kenapa kau mau berhubungan dengan orang yang menyakitimu? Baekhyun, kupikir kau lebih cerdas daripada ini."
Nada suara Jongin yang merendahkan dan menggurui membuat Baekhyun tersinggung. Tentu saja Baekhyun cerdas, dan ia tidak sudi diatur oleh laki-laki yang muncul mendadak setelah menghilang tanpa kabar selama empat tahun.
Mungkin raut wajah Baekhyun jelas menunjukkan kekesalannya, karena Jongin mendesah dan meminta maaf. "Kata-kataku keterlaluan. Maafkan aku. Bukan itu maksudku. Tapi, Baekhyun, kau tentu tahu..."
"Chanyeol sudah bertemu dengan keluargaku," sela Baekhyun, secara efektif menghentikan ucapan Jongin.
"Joonmyun dan Jongdae tahu?" Jongin terlihat ragu.
"Ya." Baekhyun menatap mata Jongin dan tersenyum kecil.
"Dia mengambil risiko ditembak oleh kakak-kakakku."
Mungkin tidak seharusnya Baekhyun melemparkan kata-kata Jongin dulu kembali ke wajahnya sekarang, tetapi Baekhyun tidak bisa menahan diri. Jongin mengernyit samar, lalu mata biru cerahnya beralih ke arah Ramses. "Itu dia, bukan?"
Baekhyun menoleh mengikuti pandangan Jongin dan melihat Park Chanyeol sedang melangkah keluar dari Ramses. Jantung Baekhyun langsung saja berdebar sedikit lebih cepat dan sudut-sudut bibirnya mulai tertarik membentuk senyuman. Kemudian seorang wanita melangkah keluar dari Ramses di belakang Chanyeol. Baekhyun tertegun ketika mengenali rambut indah berwarna merah manyala itu. Miranda Young.
Chanyeol dan Miranda terlihat berhenti dan berbicara di trotoar. Sepertinya Miranda yang lebih banyak bicara karena wanita itu menggerak-gerakkan tangannya untuk menegaskan sesuatu, sementara Chanyeol hanya berdiri diam dengan kedua tangan dijejalkan ke dalam saku jaket.
"Kau kenal wanita itu?"
Baekhyun mendengar Jongin bertanya kepadanya, tetapi ia tidak mengalihkan pandangan dari Chanyeol dan Miranda. "Ya," sahutnya. "Itu temannya."
Saat itu Miranda mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Chanyeol.
"Kau yakin?"
Miranda masih belum melepaskan lengan Chanyeol. Baekhyun menyeret pandangannya dari kedua orang itu dan kembali menatap Jongin sambil tersenyum datar. "Aku juga sedang duduk di sini, minum kopi, dan mengobrol berduaan denganmu," katanya. "Itu tidak berarti aku berselingkuh."
"Aku butuh bantuanmu, Chanyeol."
Chanyeol mulai merasa pelipisnya berdenyut. Sekarang masih terlalu pagi baginya untuk menghadapi Miranda, tetapi sepertinya Miranda tidak mau tahu. Wanita itu datang menemuinya di Ramses untuk meminta Chanyeol mendampinginya ke acara yang akan diselenggarakan oleh klien terbarunya.
"Kurasa itu bukan gagasan yang bagus," kata Chanyeol sambil duduk bersandar.
Miranda menatapnya dengan alis terangkat. "Kenapa?"
Chanyeol menahan desakan untuk memijat pelipisnya. "Kau tahu kenapa aku tidak bisa menemanimu ke acara apa pun lagi, Miranda."
Mata hijau Miranda menyipit samar. "Maksudmu karena kau bersama Baekhyun sekarang?"
"Begitulah."
Miranda bersedekap dan memberengut. "Membosankan. Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa bersosialisasi seperti dulu hanya gara-gara kau sudah... bersama seseorang," keluhnya. Ia melirik Chanyeol dengan tatapan menyelidik. "Apakah dia melarangmu?"
Chanyeol mendesah dan berdiri. "Aku melarang diriku sendiri," katanya tegas. "Kalau hanya itu yang ingin kaukatakan, Miranda..."
"Kau mau pergi?" tanya Miranda heran ketika Chanyeol menyambar jaket dari gantungan.
"Ya." Chanyeol mengenakan jaketnya dan berjalan ke arah pintu.
"Tapi kau baru tiba. Chanyeol, tunggu." Miranda segera bangkit dan menyusul Chanyeol keluar dari ruang kerja.
Chanyeol melangkah ke trotoar dan ke tengah-tengah udara dingin bulan Januari. Nah, kenapa ia tadi memutuskan keluar dari restorannya yang hangat? pikirnya sementara ia menggigil. Oh, ya, karena ia ingin menghindari Miranda.
"Chanyeol!"
Chanyeol menghela napas. Kelihatannya Miranda tidak akan pergi walaupun Chanyeol mengabaikannya. Miranda akan terus mengusiknya kalau ia tidak mendengarkan. Jadi ia berhenti, menjejalkan tangan ke saku jaket dan membiarkan Miranda menyusulnya.
"Chanyeol, kau harus membantuku," desak Miranda. "Dengar, mereka sangat terkesan ketika mereka tahu bahwa aku mengenalmu. Mereka ingin bertemu denganmu. Bukankah itu suatu kebanggaan?"
"Dan kau memberitahu mereka bahwa kau bisa mempertemukan mereka denganku?" tebak Chanyeol.
"Ya," jawab Miranda langsung dan tanpa ragu. "Mereka adalah tokoh penting dalam dunia fesyen dan aku akan menjadi model pembuka di peragaan busana mereka kali ini. Kau harus tahu bahwa itu adalah kesempatan yang luar biasa. Kalau mempertemukan mereka denganmu bisa membuatku mendapat kontrak kerja jangka panjang dengan mereka, aku harus melakukannya."
Chanyeol mengangkat alis. "Apakah kau sadar bahwa kau baru saja mengakui bahwa kau memanfaatkanku?"
Miranda mendecakkan lidah. "Caramu mengatakannya membuatnya terdengar buruk," gerutunya. Ia mengembuskan napas dan mengulurkan tangan menyentuh lengan Chanyeol.
"Bantulah aku, Chanyeol. Katakan padaku kau akan menghadiri peragaan busana itu dan pesta sesudahnya. Kau tidak perlu berlama-lama di pesta itu, kalau kau tidak mau. Hanya sampai aku memperkenalkan mereka padamu. Aku berjanji."
Chanyeol menggeleng-geleng, lalu berkata dengan nada muram,
"Miranda, kau harus berhenti menganggapku dan membicarakan diriku seolah-olah aku ini selebriti. Aku bukan selebriti dan aku tidak ingin menjadi selebriti. Mengerti?"
Miranda mencoba memprotes, "Tapi kau koki peraih bintang Michelin. Kau pemilik Ramses yang merupakan restoran terbaik di New..."
"Apakah kau mengerti?" sela Chanyeol tegas.
Miranda memberengut. "Ya," gumamnya enggan.
Chanyeol menghela napas. "Dengar, aku akan menghadiri pesta itu, tapi—" katanya cepat ketika bibir Miranda mulai melengkung membentuk senyum lebar, "—tapi hanya apabila Baekhyun setuju pergi bersamaku."
Senyum yang baru hendak muncul itu pupus seketika.
"Dan ini adalah terakhir kalinya aku membantumu dalam hal-hal seperti ini," lanjut Chanyeol.
Miranda mengerjap menatap Chanyeol. Lalu ia kembali menyunggingkan senyumnya yang cerah, walaupun sepertinya senyum itu tidak terlihat dalam sinar matanya. "Tentu saja kau boleh mengajak Baekhyun. Aku yakin dia akan menikmati peragaan busananya," katanya. Lalu ia merogoh tas dan mengeluarkan amplop tebal. "Ini undangannya. Jangan lupa membawanya besok, karena kau tidak akan diizinkan masuk kalau tidak menunjukkan undangan ini. Oke? Sampai jumpa besok!"
Chanyeol mengawasi kepergian Miranda sambil mengembuskan napas panjang. Kepalanya masih berdenyut-denyut.
"Sedang apa kau berdiri di tengah trotoar?"
Mendengar suara yang sudah dikenalnya dengan baik itu, senyum Chanyeol otomatis mengembang. Ia berbalik dengan santai dan mendapati Baekhyun berdiri di sana dalam balutan jaket tebal biru gelap, wajahnya nyaris tak terlihat di antara syal putih tebal di sekeliling lehernya dan topi rajutan putih yang menutupi rambutnya. "Baekhyun," sapa Chanyeol senang.
"Benar-benar kejutan yang menyenangkan."
Sakit kepalanya pun perlahan-lahan menghilang.
"Kau baru saja bersama Kim?"
"Ya," sahut Baekhyun sambil memandang sekeliling. Ramses belum dibuka untuk layanan makan siang, jadi ruang makannya yang luas masih kosong dan para karyawan sedang bersiap-siap dan mengatur meja sementara Baekhyun dan Chanyeol duduk berdampingan di bar. Suasana sepi saat itu sangat berbeda dengan suasana saat ruangan itu dipenuhi orang-orang berpakaian indah. Saat ini Ramses terlihat lebih santai.
"Kau baru saja bersama Kim?" ulang Chanyeol lebih pelan.
Baekhyun menoleh kembali menatap Chanyeol dengan alis terangkat. "Apa? Kau juga baru bersama Miranda."
"Itu berbeda."
"Apa yang berbeda?"
"Dia mantanmu!" cetus Chanyeol dengan alis berkerut.
"Lalu?"
"Kau bisa saja mendadak memutuskan kembali kepadanya."
Baekhyun melotot. "Kau pikir aku ini orang seperti apa? Bagaimana denganmu sendiri? Kau juga bisa saja menyerah pada desakan Miranda dan menuruti keinginannya. Apalagi dia jelas-jelas masih berharap kau akan memilihnya."
Chanyeol menggerak-gerakkan jari telunjuknya. "Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena aku menyukaimu."
"Well, aku juga..." Baekhyun berhenti sejenak, berpikir cepat,
"tidak membencimu!"
Sebelah alis Chanyeol terangkat.
Wajah Baekhyun memanas menyadari apa yang nyaris saja dikatakannya. Ia mengalihkan pandangan dari wajah Chanyeol sejenak. Ketika ia kembali melirik Chanyeol, laki-laki itu sedang menggeleng-geleng dan tersenyum kecil.
"Omong-omong, apakah ini pertengkaran pertama kita?" tanya Chanyeol dengan nada merenung.
Baekhyun mendesah. "Sepertinya begitu."
Chanyeol mencondongkan tubuhnya ke samping dan mendorong pelan bahu Baekhyun dengan bahunya. "Kau seharusnya tahu kau tidak perlu mencemaskan Miranda," gumamnya.
Baekhyun mendengus pelan dan balas mendorong bahu Chanyeol dengan bahunya. "Kau juga," katanya. "Maksudku, tentang Jongin."
"Baiklah." Chanyeol tersenyum.
Masih menatap Chanyeol, Baekhyun menggigit bibir, berpikir sejenak. Lalu ia berkata, "Aku tidak bisa mengemudi."
"Hm?"
"Aku tidak bisa mengemudi," ulang Baekhyun.
"Oke," kata Chanyeol, namun nada suaranya jelas menunjukkan bahwa ia masih tidak mengerti.
Baekhyun tertawa pelan. "Kau pernah bertanya kepadaku apa yang tidak diketahui Jongin tentang diriku," ia mengingatkan Chanyeol.
"Oh, ya. Benar." Chanyeol mengangguk satu kali.
"Dia tidak tahu aku tidak bisa mengemudi."
Chanyeol menatap Baekhyun dengan alis terangkat ragu. "Dia tidak tahu kau tidak bisa mengemudi?"
Baekhyun mengerutkan hidung, berusaha mencari penjelasan yang tepat. "Dia tidak tahu bahwa alasan aku tidak bisa mengemudi adalah karena aku takut," katanya hati-hati. "Orangtuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas, jadi..." Baekhyun mengangkat bahu sedikit. "Hal itu membuatku benar-benar tidak bisa mengemudi. Hei, apakah ada sebutan ilmiah untuk fobia mengemudi?"
Chanyeol menatap Baekhyun sejenak, tanpa ekspresi, lalu ia menggeleng. "Entahlah."
"Yah, aku juga tidak tahu," gumam Baekhyun.
"Jadi kau tidak pernah memberitahunya tentang fobiamu?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng.
"Boleh aku tahu alasannya?"
"Karena aku ingin dia berpikir aku wanita dewasa yang modern dan mampu melakukan apa saja," aku Baekhyun. Ya, seperti itulah kesan yang ingin diberikannya kepada Jongin dulu. Jongin sangat cerdas dan hal itu kadang-kadang membuat
Baekhyun merasa harus berusaha keras mengimbanginya. Chanyeol terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Aku mengerti. Terima kasih karena sudah memberitahuku."
Baekhyun berdeham dan tersenyum kikuk.
"Jadi apakah kau mau menghadiri peragaan busana Miranda besok?" tanya Chanyeol.
Baekhyun bertopang dagu di meja bar dan mengerutkan hidung.
"Baiklah," katanya setelah berpikir sejenak. "Dan itu hanya karena aku belum pernah menonton peragaan busana. Bukan karena aku tidak mau membiarkanmu berduaan dengan Miranda."
Chanyeol mengangguk. "Tentu saja," katanya dengan nada sungguh-sungguh walaupun seulas senyum lebar dengan segera tersungging di bibirnya.
In a Blue Moon
"HARUS kuakui bahwa Miranda melakukan pekerjaannya dengan sangat baik," kata Baekhyun dengan suara lantang untuk melampaui suara musik ketika ia dan Chanyeol sedang berjalan ke arah bar. Peragaan busana telah berakhir dan para tamu undangan kini memenuhi ruang pesta di mana sedikit makanan ringan dan banyak minuman keras disajikan. "Dia sangat cantik."
"Dia seorang model. Tentu saja dia cantik," sahut Chanyeol.
Mereka tiba di bar dan Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Mau minum apa? Blue Moon?"
Baekhyun mengangguk. Setelah menunggu Chanyeol menyebutkan pesanannya kepada salah seorang bartender, ia berkata,
"Dia cantik dan dia tertarik padamu. Kenapa kau tidak tertarik padanya?"
Chanyeol kembali menatapnya dengan alis berkerut bingung.
"Kenapa? Apakah apabila seseorang tertarik padamu berarti kau juga harus tertarik padanya?" ia balik bertanya.
"Well, tidak juga."
"Nah, kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri," kata Chanyeol puas. Ia menatap Baekhyun sejenak, lalu bertanya,
"Omong-omong, apa yang membuatmu tertarik padaku?"
Baekhyun mengeluarkan suara setengah mendengus setengah tertawa. "Kau terlalu percaya diri. Apa yang membuatmu berpikir aku tertarik padamu?"
"Apakah kau akan terus menyangkalnya?" balas Chanyeol sambil tersenyum geli.
"Ya."
"Baiklah. Mari kita lihat berapa lama hal itu akan bertahan."
"Baiklah. Silakan menunggu."
Chanyeol tertawa pendek dan menggeleng-geleng. Perdebatan kecil mereka disela oleh Miranda yang menghampiri mereka sambil tersenyum cerah. "Halo! Terima kasih sudah bersedia datang. Apakah kalian menikmati acaranya?"
Baekhyun merasa sikap dan gaya bicara Miranda seolah-olah menyatakan bahwa dia adalah si perancang busana, bukan model. Tetapi Miranda memang orang yang sangat percaya diri.
Tanpa menunggu jawaban, Miranda menyentuh lengan Chanyeol dan berkata, "Chanyeol, ada orang yang ingin kukenalkan kepadamu." Kemudian ia menoleh ke arah Baekhyun. "Kau tidak keberatan kami pergi sebentar, bukan, Baekhyun?"
"Baekhyun akan ikut denganku," kata Chanyeol.
Baekhyun menggeleng. "Tidak apa-apa. Pergilah. Aku akan menunggumu di sini," katanya kepada Chanyeol.
Chanyeol menatapnya. "Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk. "Mm-hm." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Chanyeol dan menambahkan, "Tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama."
Chanyeol tertawa kecil. "Baiklah. Aku berjanji."
Miranda tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi ia melihat bagaimana Baekhyun mencondongkan tubuh ke arah Chanyeol dan tangan Chanyeol terangkat menyentuh bahu gadis itu, nyaris merangkulnya. Hal itu membuat Miranda tertegun. Sepengetahuannya Chanyeol bukan tipe orang yang suka menyentuh tanpa alasan, karena walaupun Miranda sering menyentuh dan menggandeng lengan Chanyeol, Chanyeol sendiri nyaris tidak pernah menyentuhnya.
Mendadak menyadari keningnya berkerut, Miranda dengan segera mengendalikan ekspresinya. Ia melemparkan seulas senyum cerah yang sudah terlatih sempurna kepada Baekhyun sebelum menggandeng lengan Chanyeol dengan akrab dan beranjak pergi. Miranda pada dasarnya adalah wanita yang penuh percaya diri, tetapi saat ini ia harus mengakui bahwa ia tidak merasa seperti itu.
Tidak merasa percaya diri tidak berarti ia tidak bisa berpura-pura bersikap penuh percaya diri.
"Itu Leo Donaldson, perancang busananya," kata Miranda kepada Chanyeol sambil menunjuk seorang pria berpakaian serbahitam berumur sekitar 40-an yang sedang dikerubungi banyak orang. "Dialah yang ingin berkenalan denganmu." Chanyeol tidak berkomentar, hanya mengangguk kecil.
"Leo!" Miranda berseru memanggilnya ketika mereka sudah berada di dekat pria itu.
Leo Donaldson menoleh ke arah Miranda dan tersenyum lebar. "Oh, Miranda. Ke mana saja kau? Bersenang-senang?" Miranda menarik lengan Chanyeol agar laki-laki itu melangkah maju dan berkata kepada Leo, "Kau pernah berkata ingin berkenalan dengan Park Chanyeol. Ini dia orangnya."
Mata Leo beralih kepada Chanyeol dan matanya melebar seiring dengan senyumnya. "Halo, halo, halo," katanya penuh semangat sambil menjabat tangan Chanyeol. Ia menoleh ke arah kerumunan orang di sekelilingnya dan berkata, "Permisi sebentar, Teman-teman." Masih sambil menjabat tangan Chanyeol, ia melangkah menjauh sedikit dari kerumunan, praktis mengajak Chanyeol ikut menjauh. "Senang berkenalan denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari Miranda," katanya kepada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Leo dengan sopan. "Terima kasih karena telah mengundangku. Aku juga harus mengucapkan selamat karena sepertinya pertunjukanmu sukses besar."
Leo mengibaskan sebelah tangan. "Oh, aku masih menemukan banyak kesalahan yang seharusnya tidak terjadi, tapi sebaiknya kita tidak membahasnya."
"Kau terlalu berlebihan," kata Miranda sambil memutar bola matanya. "Semuanya berjalan dengan sangat baik."
Leo mencegat seorang pramusaji yang membawa senampan sampanye dan mengambil segelas. "Omong-omong," katanya kepada Chanyeol, "aku tidak pernah menduga kekasih Miranda adalah pemilik Ramses. Benar-benar mengesankan!"
Miranda merasakan tatapan Chanyeol yang ditujukan kepadanya, tetapi ia pura-pura tidak sadar. Ia memang pernah menyiratkan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya. Memangnya kenapa? Apakah itu kejahatan?
"Astaga. Susah sekali mendapat meja di sana, kau tahu?" lanjut Leo. "Hei, apakah menurutmu kau mungkin bisa membantu agar aku dan teman-temanku bisa mengadakan pesta kecil di sana minggu depan?"
Kali ini Miranda memberanikan diri melirik Chanyeol. Chanyeol masih tersenyum, namun Miranda tahu itu adalah senyum sopan yang dipaksakan. "Aku hanya koki di sana, jadi aku tidak tahu segala hal menyangkut reservasi," kata Chanyeol lancar.
"Mungkin kau bisa berbicara dengan manajer restoran, Jared Newt. Aku yakin dia bisa membantumu mencari jadwal yang sesuai."
Bohong, pikir Miranda. Jared memang manajer Ramses, tetapi untuk reservasi khusus, ia selalu harus mendapat persetujuan Chanyeol. Jadi sepertinya Chanyeol sama sekali tidak terkesan dengan Leo. Oh, tidak bisakah Chanyeol membantu sedikit?
Leo beralih menatap Miranda dan berkata, "Miranda, kau benar-benar beruntung, kau tahu? Kau bisa makan di Ramses kapan pun kau mau."
Miranda tertawa dan mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Kau benar, Leo," katanya dengan nada bangga, walaupun sebenarnya ia meringis dalam hati. Pada kenyataannya, percaya atau tidak, ia sama sekali belum pernah mencicipi makanan di Ramses, apalagi masakan Chanyeol sendiri.
"Kuucapkan selamat sekali lagi," kata Chanyeol tiba-tiba sambil mengulurkan tangan kepada Leo. "Sebaiknya aku tidak menahanmu terlalu lama, karena pasti masih banyak orang yang ingin berbicara denganmu."
Leo menjabat tangan Chanyeol. "Terima kasih. Terima kasih banyak. Apakah kau mau pergi sekarang?"
"Tidak," sahut Chanyeol, "tapi kekasihku sedang menunggu di bar, jadi aku harus kembali kepadanya."
Miranda menahan napas sementara ia merasa tubuh dan wajahnya berubah kaku. Ia sama sekali tidak menduga Chanyeol akan mengatakan sesuatu seperti itu.
Leo juga sama terkejutnya. Ia menatap Miranda dan Chanyeol bergantian. "Oh?"
"Permisi," kata Chanyeol sebelum berbalik pergi. Leo menatap Miranda dengan alis terangkat tinggi.
"Miranda? Apa...?"
"Maaf, Leo. Aku juga permisi sebentar," sela Miranda dan bergegas menyusul Chanyeol tanpa menunggu balasan Leo. Ia berhasil menyusul Chanyeol dan menahan lengan laki-laki itu. "Chanyeol, tunggu!"
Chanyeol berhenti melangkah dan berbalik. Ia berdiri tegak menatap Miranda dengan kedua tangan dijejalkan ke saku celana. "Ya, Miranda?"
Miranda mengembuskan napas kesal dan memberengut.
"Apa-apaan itu tadi? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kau tidak akan berkomentar tentang hubungan kita? Bahwa kau akan membiarkan aku mengurusnya?"
Sebelah alis Chanyeol terangkat sedikit. "Kau memberitahunya bahwa kita memiliki hubungan khusus."
"Ya," aku Miranda. "Karena dia melihat artikel gosip itu dan bertanya kepadaku. Sudah kubilang aku ingin menjaga citra diriku, jadi aku melakukan apa yang harus kulakukan."
"Miranda." Ada sedikit perubahan dalam nada suara Chanyeol saat itu. Lebih tegas dan lebih serius. "Aku tidak akan berbohong demi dirimu."
Entah kenapa satu kalimat itu terasa begitu menusuk. Miranda merapatkan bibir dan bersedekap. Chanyeol menarik napas sejenak, lalu berkata, "Begini saja. Kau boleh mengatakan apa pun yang ingin kaukatakan kepada klienmu itu, tapi sebaiknya kau tidak berkata bahwa kita memiliki hubungan khusus atau semacamnya."
"Karena Baekhyun tidak akan suka?" Miranda tidak berhasil menghilangkan nada tajam dalam suaranya. Chanyeol menoleh ke arah bar tempat Baekhyun sedang menunggu, lalu kembali menatap Miranda. "Aku juga tidak suka," katanya.
Miranda menggigit bibir dengan sebal. "Kau..." Ia ragu sejenak, "mencintainya?"
Chanyeol tidak menjawab.
Seberkas harapan Miranda terbit kembali. "Coba lihat," katanya puas, "kau bahkan tidak bisa menjawabnya!"
Chanyeol tersenyum samar. "Aku hanya ingin ketika aku mengatakannya, dia adalah orang pertama yang mendengarnya."
Bahu Miranda melesak. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mengamati kepergian Chanyeol dengan dada sesak. Ia benci mengakuinya, tetapi sepertinya ia sudah kalah.
Chanyeol berjalan kembali ke arah bar tempat Baekhyun menunggu sambil berbicara dengan seorang pria yang tidak Chanyeol kenal. Chanyeol menghampiri Baekhyun dan menyentuh bahu gadis itu. Baekhyun menoleh dan tersenyum lebar melihat Chanyeol. "Oh, hai. Aku tidak menduga kau akan kembali secepat ini," katanya.
Ia menggerakkan tangannya ke arah pria yang berbicara dengannya tadi. "Ini Douglas. Dia juga sedang menunggu temannya, jadi kami mengobrol sebentar." Kemudian Baekhyun kembali menatap teman bicaranya, bersiap memperkenalkan Chanyeol. "Dan ini..."
"Chanyeol. Tunangannya," sela Chanyeol mulus sambil mengulurkan tangan dan menjabat tangan Douglas. Untuk sekali itu Baekhyun tidak memukul atau menyikut Chanyeol. Ia juga tidak membantah pernyataan itu. Chanyeol menatapnya dengan heran, namun ia tidak berkomentar. Sebagai gantinya ia bertanya, "Apakah kau mau kita makan di tempat lain?"
"Oke," sahut Baekhyun langsung. "Senang mengobol denganmu, Douglas."
"Sama-sama." Douglas tersenyum dan menunjukkan deretan gigi yang sangat putih dan sangat tidak alami bagi Chanyeol. "Mungkin kita bisa mengobrol lagi kapan-kapan."
Dalam mimpimu, gerutu Chanyeol dalam hati sementara ia menggenggam tangan Baekhyun dan nyaris menyeretnya keluar dari ruang pesta.
"Omong-omong, bagaimana perkenalanmu dengan si perancang busana tadi?" tanya Baekhyun ketika mereka sudah keluar dari gedung dan sedang berjalan berdampingan menyusuri trotoar ke mobil Chanyeol yang diparkir dua blok dari sana. Salah satu tangan Baekhyun yang tidak terbungkus sarung tangan berada dalam genggaman tangan Chanyeol yang hangat, sementara tangannya yang lain dijejalkan ke dalam saku jaketnya yang tebal.
"Baik," sahut Chanyeol. "Tetapi seperti orang-orang lain, dia juga meminta meja di Ramses."
Baekhyun tertawa kecil, lalu mendongak. "Oh, lihat. Salju!"
Chanyeol ikut mendongak dan melihat butiran-butiran putih sehalus kapas melayang turun dari langit yang gelap. "Dan kau meninggalkan sarung tanganmu di mobil," gumamnya sambil melirik tangan Baekhyun dalam genggamannya.
"Mungkin aku sengaja meninggalkan sarung tanganku," kata Baekhyun sambil tersenyum.
Chanyeol tidak mengerti. "Kenapa?"
Baekhyun menoleh menatap Chanyeol. Matanya berkilat-kilat tertawa. "Mungkin aku ingin memberimu alasan untuk memegang tanganku."
Chanyeol menatap Baekhyun sejenak, lalu berhenti melangkah. Baekhyun masih berjalan beberapa langkah sampai tangannya yang masih berada dalam genggaman Chanyeol menahannya. Baekhyun berputar menghadapnya. "Ada apa?" tanyanya agak heran.
Chanyeol tidak berkata apa-apa selama lima detik, lalu,
"Aku mencintaimu."
Alis Baekhyun terangkat tinggi. Selama beberapa detik ia hanya tercengang menatap Chanyeol tanpa berkata apa-apa. Chanyeol mengembuskan napas dengan perlahan ketika merasakan serbuan perasaan lega karena telah menyatakan perasaannya.
"Dan kau memilih mengatakannya sekarang?" tanya Baekhyun kemudian. Ia memandang berkeliling sambil tersenyum kecil.
"Di tengah jalan? Di tengah-tengah Park Avenue?"
"Apa? Memangnya ada tempat yang tepat untuk menyatakan perasaan?" Chanyeol balas bertanya.
Baekhyun mengangkat bahu sekilas. "Well, tidak juga."
Chanyeol tersenyum dan menarik tangan Baekhyun dengan pelan, membuat gadis itu melangkah mendekat sedikit. "Jadi," gumamnya. "Aku sudah mengatakan aku mencintaimu. Dan kau berkata...?"
"Aku... tidak membencimu?" kata Baekhyun dengan nada bertanya.
Chanyeol menyipitkan mata dan pura-pura berpikir. "Aku sudah tahu itu. Coba lagi," katanya sambil menarik tangan Baekhyun sekali lagi.
Baekhyun membiarkan dirinya ditarik mendekat. "Kurasa," ia menunduk sesaat, lalu mendongak menatap Chanyeol dengan mata berbinar-binar, "aku menyukaimu."
Senyum Chanyeol melebar dan hatinya melambung tinggi. Itu adalah pertama kalinya Baekhyun mengatakan sesuatu seperti itu. Merasa percaya diri, Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun dan kali ini Baekhyun melangkah masuk ke dalam pelukannya. Lengan Chanyeol melingkari pinggang Baekhyun sementara ia menunduk menatap gadis yang kini telah menjadi sangat penting baginya. "'Kurasa'?" ulangnya. "Apakah menurutmu kau bisa menghilangkan kata itu?"
Baekhyun tertawa kecil. "Baiklah." Ia menarik napas. "Aku..."
Chanyeol menunggu.
"...juga mencintaimu."
Chanyeol pun bergeming. Matanya melebar menatap wajah Baekhyun yang merona. Jantungnya seolah-olah berhenti berdebar selama dua detik sebelum akhirnya berdebar kembali dengan kecepatan penuh. "Kau serius?"
Baekhyun mengangguk kecil. Satu kali. "Ya."
Chanyeol yakin ia belum pernah merasakan kebahagiaan sebesar itu. Baekhyun mencintainya. Astaga. Ini benar-benar sulit dipercaya, namun ia akan menerimanya dengan senang hati.
Banyak yang ingin dikatakannya kepada Baekhyun, namun saat ini otaknya masih terpaku pada pernyataan gadis itu tadi. Jadi ia memutuskan melakukan sesuatu yang harus dilakukannya.
Saat itu juga. Di tengah jalan. Di tengah-tengah Park Avenue. Di tengah butir-butir salju yang melayang turun di sekeliling mereka.
Ia mencium Baekhyun.
TBC
"Aku hanya ingin ketika aku mengatakannya, dia adalah orang pertama yang mendengarnya." ughhhh part favorite, sweet banget sumpah
akhirnya selesai juga chapter terakhir, tinggal epilog *besokya*
makasih yang udah ngikutin ff ini dari awal,dan trus nungguin update ini sampe akhir
makasih juga yang udah review, fav, dan follow, walaupun sekedar review next doang aku seneng kok
mungkin aku bakalan ngeremake novel lagi, tapi gak sekarang *mungkinsetelahdapetptn* *aamiinyaallah*
aku berharap dapet snmptn biar dapet waktu libur banyak trus nyari novel yang sweet lagi
almaepark : disini chanbaek manis juga, makasih ya kamu udah review trus dari awal my sweet reader-nim
ay : sudah di next ya
myrceu : sudahh
Yoon745 : disini udah selesai kok masalahnya, makasih iya aku bakal belajar *hiks
khakikira : chanbaek emang bikin orang gemes melulu kok
hulas99 : makasih, ini udah diupdate ya
VFlicka6104 : ya dia emang agak nyebelin sih wkwk
hyuniee86 :makasih doanya i love u *muah*
FreezingUnicorn180 : sudah dilanjuut
parkobyunxo : harapanmu tak terkabul nak wkwk
pupibekyuni61 : berdoalah agar jodohmu seperti chanyeol *biargakiri* hehe
park yeolna : sudah di next yaw
juanais : sudah
BaekHill : pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini
