~Fall in Love With You, again and again ~ [Chapter 12]
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Judul : Fall in Love With You, again and again.
Author : Ciel Bocchan
Genre : Romance, School, Comedy, and Fantasy
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)
Rating : T
|Syaratnya...kau harus terus hidup dan tak boleh meninggal lebih dulu dariku. Karena aku tak bisa jika kau meninggalkanku. Aku yang akan meninggal dengan senyum di wajahku dan kau berada di sana untuk menemaniku sampai aku benar-benar berakhir|
"Kenapa kau menangis?" tanya Naruto panik. Hinata telah selesai memakai sepatunya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Naruto mengikuti gadis itu. Ketika Hinata membuka pintu dan udara dingin menyerbu masuk, Naruto menarik salah satu lengan Hinata. Membuat langkah gadis itu terhenti.
"Tolong, jangan seperti ini padaku, Hinata-chan. Aku baik-baik saja jika orang lain yang bersikap seperti ini, tetapi jika orang itu adalah Hinata-chan,... aku mohon, katakan jika aku telah menyakitimu, aku berjanji akan meminta maaf dan memperbaiknya." Naruto menatap Hinata dengan kedua matanya yang telah berubah coklat. Raut wajahnya berubah sangat sedih.
Hyuuga Hinata menatap mata Naruto kaget. Gadis Hyuuga itu kemudian berhenti menangis dengan tiba-tiba. Hinata kembali teringat pada kejadian di dalam bus bersama Naruto. Ketika Naruto membeku dan kedua mata pemuda itu berubah. Kali ini, Hinata benar-benar kaget. Tidak, ia tidak salah lihat seperti apa yang telah Naruto katakan. Saat ia melihat kedua mata Naruto berubah di dalam bus waktu itu, Hinata tahu ia tidak salah lihat. Mana mungkin ia salah lihat untuk kedua kalinya?
Menyadari bahwa pintu rumah membuka dan udara dingin sejak tadi telah menembus masuk. Hinata kemudian cepat mendorong Naruto untuk masuk kembali ke dalam dan menutup pintu.
"Jangan marah padaku" kata Naruto pelan. Hinata melepas kembali sepatunya.
"...Aku tidak marah padamu, Naruto-kun" ujar Hinata sambil membawa Naruto kembali masuk ke dalam kamar. Gadis Hyuuga itu kemudian baru sadar kalau pemanas ruangan tidak menyala.
"Kenapa kau matikan pemanas ruangannya?" tanya Hinata sambil menyalakan kembali pemanas ruangan tersebut.
"Kau tidak marah lagi padaku?" tanya Naruto yang terus mengikuti Hinata yang baru saja menyalakan pemanas ruangan. Hinata mengambil selimut yang berada di atas tempat tidur.
"Duduklah" katanya sambil menepuk ujung tempat tidur Naruto. Naruto menurut. Pemuda berambut kuning itu lalu duduk di pinggir tempat tidurnya. Hinata kemudian menyelimuti tubuh Naruto yang kembali dingin akibat terkena udara dingin tadi. Gadis Hyuuga itu kemudian duduk di samping Naruto.
"Kau tidak marah lagi padaku, kan, Hinata-chan?" tanya Naruto lagi.
"Aku tidak bisa marah pada orang yang sedang sakit" jawab Hinata lalu tersenyum sangat manis.
"Lalu kenapa tadi kau menangis? Kau bahkan membentakku. Kau tak pernah seperti itu sebelumnya" ujar Naruto. Ia sudah merasa cukup hangat karena Hinata telah meyelimutinya. Gadis itu selalu cepat melakukan sesuatu untuk membantu orang lain. Hinata hanya menyesali dirinya. Kenapa ia sampai harus bersikap kasar seperti tadi pada Naruto. Lagipula, kenapa ia harus marah? karena secara kasat mata, Naruto belum menjadi siapapun baginya. Jadi, terserah pemuda itu jika ingin bersama gadis lain.
"A-aku minta maaf" ucap Hinata kemudian. Gadis itu menunduk dengan wajah bersalah.
"Eh? Kenapa Hinata-chan yang meminta maaf?" tanya Naruto kaget. Pemuda itu menatap Hinata yang sedang menunduk.
"A-aku seharusnya tidak kasar seperti tadi padamu. Kau pasti kaget dan marah"
"Tidak! Aku tak pernah marah pada Hinata-chan. Lagi pula, kenapa tadi Hinata-chan menangis dan tiba-tiba ingin pulang? Karena aku sudah membuat Hinata-chan marah, kan?." Hinata langsung mengangkat kepalanya dan menatap senyum lebar Naruto. Kedua matanya menatap mata Naruto. Mata pemuda itu telah kembali berwarna biru. Sebaiknya ia tak usah menanyakan masalah mata dulu.
"S-sebenarnya,...ada yang ingin aku tanyakan...pada Naruto-kun" ujar Hinata akhirnya. Gadis Hyuuga itu sedang berusaha menghilangkan rasa takut dan malunya untuk bertanya pada Naruto. Ia ingin tahu yang sebenarnya tentang perasaan Naruto.
"...A-apakah...N-Naruto-kun...m-menyukai...S-Sakura-chan?" tanya Hinata sangat pelan dan lamban. Satu menit hampir saja berlalu hanya untuk mengatakan empat kata itu.
"Menyukai Sakura-chan? Aku? Tentu saja. Aku menyukai kalian semua. Sasuke, walaupun anak itu menyebalkan. Suigetsu, walaupun dia cerewet. Kiba dan Shino yang selalu ribut. Ngng...Karin dan Nagato juga. Dan...si gadis bercepol dua itu. Siapa namanya?...ah, Tenten, yang menyukai kakak Hinata-chan" jawab Naruto semangat. Hinata langsung menghela nafas dengan wajah malas. Sampai kapan pemuda bermata biru safir itu akan terus berpikir hanya sebatas hubungan sebagai teman.
"M-maksudku mencintai, Naruto-kun. Apakah Naruto-kun mencintai Sakura-chan?" tanya Hinata lebih jelas. Sepertinya Naruto memiliki pengertian lain tentang 'menyukai'.
Naruto terdiam mendengar pertanyaan gadis Hyuuga itu. Pemuda itu kemudian teringat ketika beberapa saat yang lalu Haruno Sakura bertanya mengenai 'mencintai'. Naruto menatap Hinata yang sedang menunggu jawabannya. Kenapa Hinata bertanya seperti itu? Apakah gadis Hyuuga tahu kalau Sakura baru saja menyatakan cinta padanya?
"…Naruto-kun?"panggil Hinata. Menandakan bahwa ia sedang menunggu jawaban pemuda itu.
"Aku tidak mencintai siapapun,. Tak pernah" jawab Naruto
"T-tidak pernah? Kau tidak pernah jatuh cinta?" seru Hinata kaget. Tentu saja gadis itu kaget mengingat betapa banyak gadis yang menjadi penggemar Uzumaki Naruto.
"Apakah Hinata-chan pernah mencintai seseorang?" akhirnya Naruto balik bertanya. Hinata kaget. Pikiran gadis itu langsung tertuju pada Uchiha Sasuke.
"P-pernah. Mana mungkin aku tidak pernah jatuh cinta. Aku sudah enam belas tahun" jawab Hinata. Gadis itu kemudian tertawa gugup dengan kepala menunduk.
"Pada siapa?" Tanya Naruto penasaran. Hinata langsung mengangkat kepalanya.
"S-Sasuke-kun" jawabnya. Kedua mata Naruto langsung membulat, kaget. Awalnya, ia berpikir kalau hanya Sasuke yang mencintai Hinata. Tetapi, ternyata gadis itu juga mencintai Sasuke. Sinar matanya perlahan redup. Naruto sedikit menundukan kepalanya. Sedih. Ia tiba-tiba merasa sangat sedih. Naruto bingung pada dirinya sendiri. Kenapa ia merasa sedih hanya karena Hinata mencintai Sasuke? Ia tak pernah merasa sedih sebelumnya. Satu-satunya yang ia rasakan selama ratusan tahun adalah kesepian.
"Tetapi itu dulu" kata Hinata tiba-tiba. 'Karena kau telah membuatku berpaling dari Sasuke-kun' lanjut Hinata dalam hatinya.
Hinata terlihat menghela nafas lalu berkata, "Ini sudah malam, istirahatlah" ujar Hinata sambil kembali berdiri. Gadis itu beranjak menutup tirai jendela yang berada tepat di sisi kiri tempat tidur Naruto. Di luar, salju masih terus berjatuhan dan membuat jalanan memutih.
"Apakah kau punya alas atau sesuatu agar aku bisa tidur dan..."
"Di sini" kata Naruto sebelum Hinata melanjutkan kalimatnya. Pemuda bermata biru safir itu menepuk tempat tidurnya. Untuk kesekian kalinya Naruto membuat Hinata melongo. Kenapa pemuda Uzumaki itu selalu dengan mudah mengatakan atau melakukan sesuatu yang bersifat sensitif dengan mudahnya?
"Aku bersumpah aku tidak akan menyerangmu ketika kau tidur" lanjut Naruto
"Menyerang?" gumam Hinata dengan wajah heran. Gadis itu lalu menghela nafas untuk yang kesekian kalinya lagi.
Melihat Hinata yang terus berdiam diri membut Naruto kehilangan kesabaran. Ia bingung kenapa Hyuuga Hinata selalu berpikir dulu sebelum bertanya atau mengatakan sesuatu padanya. Gadis itu tak pernah langsung bertanya dengan cepat seperti dirinya. Hinata juga terkadang menjawab agak lama setiap kali Naruto bertanya. Dan berpikir sangat panjang ketika Naruto sedang mengajak atau menyuruhnya.
Kalau tidak di desak, gadis itu akan terus berdiri melamun seperti itu. Akhirnya Naruto menarik tangan Hinata dan memaksa gadis itu untuk segera tidur.
Wajah Hinata memerah.
"Aku yang akan tidur di bawah" kalimat Naruto membuat gadis Hyuuga itu tercengang.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau pikir aku juga akan tidur di atas? Aku tahu ada beberapa batasan bagi manusia yang tak boleh kulanggar" lanjut Naruto. Pemuda itu lalu tersenyum lebar. Hinata menurut ketika Naruto membantu tubuhnya berbaring. Pemuda itu lalu menyelimuti Hinata dengan selimut tipis yang hanya akan membuat gadis itu nyaman. Karena ia tahu Hinata tak memerlukan selimut tebal karena suhu tubuh gadis Hyuuga itu berbeda dengannya.
Naruto kemudian mengeluarkan sebuah alas tidur yang cukup tebal dan menggelarnya di lantai yang telah sejak awal berlapis karpet merah. Pemuda itu kemudian mengambil bantal dan guling cadangan dan satu lembar selimut lagi. Naruto selalu menggunakan dua lembar selimut tebal jika suhu tubuhnya mulai dingin. Dan jika tubuhnya sudah membeku, rubah itu akan mengeluarkan semua selimut yang ia miliki. Juga apapun yang ia miliki untuk menghangatkan kembali tubuhnya. Naruto terkadang bosan terus menjaga tubuhnya sampai ia tidak berani untuk keluar rumah kecuali pergi ke sekolah. Tubuh yang tak bisa bertahan lama ketika terkena suhu yang sangat dingin. Pemuda Uzumaki itu ingin sekali merasa bebas ketika musim dingin, sama seperti saat menghadapi musim-musim lainnya. Tetapi, jika ia nekat melakukan hal tersebut. Kejadiannya akan seperti beberapa hari lalu. Ketika ia hampir saja tertangkap oleh beberapa anggota klan Uchiha yang mengincarnya.
Naruto tiba-tiba teringat akan sesuatu. Bukankah obat yang pernah diberikan Hinata padanya masih ada? Bagus, pikirnya. Berarti, ia akan bisabertahan sedikit lebih lama besok pagi. Karena Naruto berencana untuk mencari keberadaan Uchiha Itachi. Kemana Uchiha Izuna membawa kakak Uchiha Sasuke itu. Setelah ia bisa membawa Itachi kembali. Akan mudah baginya untuk menemukan buku peninggalan kedua orangtuanya karena sepertinya Itachi mengetahui sesuatu yang penting mengenai buku tersebut.
Naruto sedang memikirkan beberapa rencana yang akan ia lakukan besok ketika suara Hinata mengagetkannya. Naruto yang tadinya sudah berbaring, langsung duduk kembali dan melihat ke arah Hinata.
"S-selamat...malam, Naruto-kun." Naruto terlihat kaget sebentar, kemudian tersenyum lebar. Tak ada yang pernah mengucapkan selamat malam padanya kecuali Hyuuga Hinata.
"Selamat malam juga, Hinata-chan" balasnya.
Uchia Izuna seharusnya sudah bisa mendapatkan rubah itu begitu menangakap Uchiha Itachi. Tetapi, sepertinya, walaupun ia dan Uchiha Itachi berasal dari klan yang sama. Itachi bukanlah orang yang bisa ia ajak untuk bekerja sama dalam hal ini. Pemuda itu tak berbicara apapun sejak malam tadi dibawa oleh kedua anak buahnya.
"Sayang sekali jika otak jeniusmu itu hanya digunakan untuk hidup bersama manusia biasa. Aku bisa memberimu kekuatan. Kekuatan yang akan membuatmu jauh lebih kuat dari siapapun dalam klan kita. Karena kau, Uchiha Itachi, orang yang sangat berbakat" ujar Uchiha Izuna dengan senyum tipis.
Uchiha Itachi yang sejak malam tadi terikat dengan kursi memang tak berbicara apapun yang akan membocorkan apa saja yang telah ia ketahui. Ia sudah bisa menebak bahaya apa yang akan terjadi jika Uchiha Izuna sampai tahu cara mendapatkan siluman rubah itu.
"Mungkin akan sedikit membuat anda kesal, tapi saya sama sekali tidak tertarik. Kekuatan membuat saya... mungkin akan menjadi seperti anda" jawab Itachi dengan senyum di wajahnya.
"Jangan mempermalukan Uchiha dengan menjadi manusia lemah yang tak memiliki kekuatan..."
"Hanya mereka di masa lalu yang memiliki kekuatan seperti itu" potong Itachi cepat sebelum Uchiha Izuna selesai berbicara.
"Sekarang, dunia sudah berubah. Seharusnya tak ada lagi manusia yang memiliki kekuatan yang tak boleh mereka miliki. Karena manusia, berubah dari satu zaman ke zaman yang lain. Tetapi, anda merubah Uchiha yang terlahir sebagai manusia murni dengan memberikan kekuatan pada mereka untuk membantu menangkap rubah itu. Anda bisa bertahan hidup hingga saat ini, meskipun ratusan tahun telah berlalu, karena anda memiliki kekuatan klan Uzumaki dalam diri anda. Jika kekuatan Uzumaki itu telah habis, maka hidup anda akan berakhir. Dan yang akan anda lakukan sebelum semua itu terjadi adalah... bagaimana mendapatkan lagi kekuatan dari klan tersebut. Semakin anda ingin bertahan hidup dan takut kehilangan kekuatan anda, makan anda akan semakin sering membunuh mereka untuk memperpanjang umur anda. Keserakahan akan membuat manusia perlahan hancur. Dan keberadaan anda akan menghancurkan Uchiha, seperti yang dulu pernah dilakukan Uchiha Madara terhadap klan ini." Itachi menatap tajam pemimpin klan Uchiha itu. Ia lalu tersenyum sinis.
Uchiha Izuna menggeram melihat Itachi yang terlihat tanpa rasa takut menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Heh! Sepertinya kau cukup jeli dalam menjelaskan sesuatu" ujar Uchiha Izuma dengan seringai jahatnya.
"Anda seharusnya tak mengganggu Uchiha yang telah murni. Bukan hanya Uchiha, siapapun juga. Kami sudah bukan Uchiha yang berada di masa lalu. Kami tak pernah berperang dan saling membunuh. Jika anda menginginkan kekuatan seseorang, jangan mengorbankan orang lain. Semua sudah berubah. Klan Hyuuga, mereka sudah tak memiliki kekuatan untuk membuat udara yang panas berubah dingin, dan mata mereka sudah tak bisa melihat apapun dari jarak jauh. Klan Uzumaki juga sudah tak bisa menyembuhkan diri mereka dengan sangat cepat, tetapi satu hal dari mereka yang masih diwarisi, yakni umur yang panjang, namun sudah tak bisa melebihi dua ratus tahun. Itulah kenyataan"
Uchiha Izuma tersenyum kagum. Ia tak menyangka kalau Uchiha Itachi tahu mengenai hal-hal tersebut dengan sangat tepat. Itulah kenapa ia ingin Itachi untuk bergabung dengannya. Tetapi, sepertinya keinginan itu hanya tinggal gurauan saja.
"Sepertinya aku harus pergi" kata Itachi tiba-tiba. Kening Uchiha Izuna mengerut. Itachi kemudian menoleh ke arah jendela yang terbuka dengan senyum menang. Uchiha Izuna mengikuti arah pandangan Itachi. Pria itu terkejut begitu mendapati siluman rubah yang ia cari selama, berada tepat di arah jendela dan sedang berjalan dengan senyum kemenangan di wajahnya.
"Dia datang" desis Uchiha Izuna lalu menghilang dari hadapan Itachi. Tidak, dia tidak menghilang, gerakannya yang sangat cepatlah yang membuatnya seperti terlihat menghilang.
Uzumaki Naruto menghentikan langkahnya tepat setelah ia berhadapan tidak jauh dengan pintu masuk sebuah rumah tua berlambang kipas di depannya.
"Tidak terlalu sulit menemukan rumah tua di tengan hutan lebat seperti ini" gumam Naruto.
Uchiha Izuna menyambut kedatangan Naruto dengan seringai tajam. Sebenarnya, pria Uchiha itu sedikit gentar melihat kadatangan rubah itu yang tiba-tiba. Ia tahu kalau ia tidak akan bisa mengalahkan rubah itu, apalagi dengan tubuh tua seperti ini. Tetapi, setidaknya, salju ini akan sedikit menguntungkannya untuk bisa meringkus siluman rubah itu. Setelahnya, ia hanya harus segera menemukan buku peninggalan Minato dan Kushina.
"Aku tidak menyangka kau berani keluar di pagi salju seperti ini hanya untuk menjemput manusia lemah seperti Uchiha Itachi" ujar Uchiha Izuna.
"Heh, jangan kira karena musim dingin, kalian bisa mengalahkanku. Aku masih mampu membunuh puluhan orang di tengah salju seperti ini" sahut Naruto. Uchiha Izuna menatapnya dengan mata menyipit. Tentu saja perkataan rubah itu bukan ancaman belaka.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan berteman dengan manusia dan tinggal di dunia mereka. Kekuatanmu sudah tak kau gunakan seperti di masa lalu. Aku tidak tahu kenapa kau abadi. Tak ada makhluk yang pernah merasakan hidup abadi sepertimu. Tetapi, rubah, keabadian dan kekuatan yang ada dalam dirimulah yang membuat begitu banyak orang mengincarmu. Salahkan dirimu sendiri kenapa kau memiliki segalanya" ujar Uchiha Izuna. Lalu, beberapa pria Uchiha lain tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Uchih Izuna. Sembilan orang Uchiha yang telah diberi kekuatan oleh Uchiha Izuna. Jumah yang bisa dibilang banyak jika di bandingkan dengan jumlah anggota Uzumaki Mito.
Naruto menatap mereka dengan senyum di wajahnya.
"Formasi yang bagus" puji Naruto ketika sembilan anggota Uchiha telah mengelilinginya dan Uchiha Izuna berdiri berhadapan dengannya. Raut wajah Naruto langsung berubah dingin. Tatapannya tajam. Dan senyum sinis tersungging di bibirnya. Ketika sembilan anggota Uchiha itu melompat untuk menyerangnya, Naruto menghindar dengan melompat ke salah satu dahan pohon. Gerakannya yang sangat cepat membuat semua Uchiha tercengang.
Naruto tersenyum sebentar, lalu wajahnya berubah dingin. Siluman rubah itu kemudian bergerak sangat cepat ke arah sembilan Uchiha yang tadi menyerangnya, dan dengan satu kali cakaran, lima dari sembilan Uchiha itu terluka di bagian yang sama, leher hingga dada dengan lima luka cakaran yang menganga dan darah yang merembes keluar.
Naruto menatap tangan kanannya yang berlumuran darah. Kedua matanya sendu, tapi tak ada yang bisa melihat kesenduan itu. Sudah lama ia tak melukai manusia. Tetapi ia tak menyesal untuk yang satu ini, karena mereka adalah manusia yang harus dihancurkan, setidaknya, menyadarkan jika mereka masih bisa disadarkan.
Melihat kelima anak buahnya terluka, Uchiha Izuna menyuruh lalu menyuruh empat yang tersisa untuk mundur dan segera mengobati lima anak buahnya yang terluka.
"Aku tahu aku tak bisa mengalahkanmu. Tetapi jika sekali saja aku memiliki kesempatan untuk sedikit melumpuhkan gerakanmu, maka, semuanya akan berakhir untukmu, rubah. Aku bisa menyegelmu untuk sementara karena segel yang kami miliki tak terlalu kuat. Karena itu aku harus segera menemukan buku itu." Uchiha Izuna lalu mengeluarkan pedangnya.
Naruto kemudian melompat ke arah Uchiha Izuna, mencoba menyerang tepat di leher dan dada pria itu agar aliran nafasnya rusak. Tetapi, Uchiha Izuna cukup pintar untuk menghindar.
"Sepertinya orangtua sepertimu cukup pintar menghindar" kata Naruto. Ia kemudian menyerang lagi. Mereka saling menyerang tanpa ada yang terluka. Ketika akhirnya Uchiha Izuna dapat menggores lengan kanan Uzumaki Naruto dengan pedangnya hingga lengan siluman rubah itu sedikit robek.
Naruto menatap lengan hakamanya yang robek dan tangan kanannya yang sedikit mengeluarkan darah. Rubah itu kemudian mengangkat kepala dari lengannya.
"Pedangmu tajam juga" puji Naruto.
Uchiha Izuna kaget ketika Naruto tiba-tiba menghilang dan sudah berada tepat di belakangnya. Tangan kanan Naruto merangkul leher Izuna dari belakang hingga pria Uchiha itu kesulitan bernafas. Sementara tangan kirinya mengunci gerakan tangan kiri Izuna hingga pedang pria itu jatuh di atas salju.
"Jika aku ingin diriku di segel, aku lebih baik di segel oleh anggota klanku sendiri. Uzumaki Mito bisa melakukan lebih baik darimu, Uchiha bodoh!" hardik Naruto dan semakin mengeratkan tangan kanannya yang melingkar di leher Uchiha Izuna yang sudah tak bisa bergerak dan kesulitan bernafas.
"Aku tidak ingin membunuh siapapun lagi. Aku ke sini hanya untuk menjemput Uchiha Itachi." Tangan kanan Naruto lalu mencekik leher Izuna hingga leher Uchiha tua itu berdarah oleh kuku panjangnya. Dengan satu gerakan kecil, Naruto sudah bisa menghempaskan Uchiha Izuna jauh ke depannya hingga tubuh pria Uchiha itu membentur salah satu pohon tua yang mengelilingi rumahnya agar tak mudah terlihat manusia.
Rubah itu langsung menghilang ke dalam ruangan di mana Itachi ditahan. Empat Uchiha yang masih selamat tadi sedang menjaganya. Dan akhirnya, nasib mereka berakhir seperti lima Uchiha lainnya.
Uchiha Itachi menatap sangat takjub pada apa yang ada di depannya. Wujud Uzumaki Naruto yang sesungguhnya. Rambut merah yang panjang. Dua telinga yang berada di kepalanya. Hakama merah. Kuku-kuku panjang yang berlumuran darah. Dua taring tajam yang sangat mencolok. Dan tentu saja, bola mata yang coklat.
"...Kau...memang siluman rubah legendris itu" kata Itachi sambil menatap Naruto dengan kedua matanya yang takjub. Naruto tersenyum kecil, senyum manusia.
"Sebenarnya, aku tidak ingin berada dalam wujud ini di depan manusia. Tetapi, untuk menolongmu, aku harus melakukannya. Aku akan kalah, meskipun mereka tak bisa membunuhku, setidaknya aku akan tertangkap jika datang dengan wujud manusia" jelas Naruto lalu melepaskan tali yang melilit tubuh Uchiha Itachi dengan pedang milik salah satu anak buah Uchiha Izuna.
"Aku tidak percaya ini, bertemu dengan siluman rubah yang sudah berada dalam buku-buku cerita fiksi jepang. Tetapi, sebenarnya, kau memang ada, hidup, hingga saat ini" ujar Uchiha Itachi dengan senyum takjub. Pemuda Uchiha itu tak bisa menghilangkan rasa kaget dan takjubnya melihat wujud Naruto.
"Tapi ingat, kau tidak boleh mengatakan apa yang telah terjadi dan kau lihat tentangku" ujar Naruto.
"Aku tahu." Itachi mengangguk pasti.
Hyuuga Neji terbangun pagi harinya dengan kaget.
"Ayah!" teriaknya tiba-tiba setelah melihat dirinya di cermin dalam keadaan baik-baik saja dan berlari menuruni anak tangga. Ia mendapati Ibu dan adiknya sedang mempersiapkan sarapan.
"Di mana Ayah?" tanya Neji panik.
"Ayah pergi ke rumah paman Obito. Jangan berteriak di pagi hari seperti ini" omel Ibunya.
"Di mana Hinata?" tanyanya lagi
"Hinata? Dia masih di rumah Karin. Bukankah tadi malam kau sendiri yang bilang kalau Hinata akan menginap di rumah Karin?" jawab Ibunya.
"Lagipula, Oniichan pulang ke rumah dalam keadaan setengah sadar, Oniichan pasti pergi minum-minum dan meningglkan Hinata-neechan di rumah temannya itu setelah Ayah menyuruh kalian ke rumah teman Hinata-neechan yang berambut kuning itu" tuduh Hanabi kejam. Kening Neji mengerut. Ia pulang ke rumah tanpa Hinata dan mengatakan kalau adiknya itu menginap di rumah Karin? Tidak, tidak mungkin. Ia seharusnya tak bisa lagi untuk pulang tadi malam. Mereka diserang oleh empat orang jahat. Ia , Hinata, dan Uchiha Itachi. Tapi aneh, kenapa ia baik-baik saja dan tidak merasakan sakit sedikitpun?
"Aku tidak pernah bilang kalau Hinata menginap di rumah Karin!" sangkal Neji. Karena ia merasa kalau dirinya tak pernah mengatakan hal semacam itu.
"Tadi Hinata baru saja menelpon kalau dia sebentar lagi akan pulang" kata Ibunya.
"Aku pulaaaaang!" seru Hinata dengan senyum lebar. Baru saja dibicarkan, gadis itu sudah muncul. Cemas, Neji langsung menyambut adiknya itu dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Hinata, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu? Kenapa aku bisa berada di rumah tanpamu? Kenapa kau bisa menginap di rumah Karin?." Neji memberondongi Hinata dengan pertanyaan-pertanyaan posesifnya. Kening Hinata mengerut.
"Apa yang Oniisan katakan? Aku baik-baik saja. Aku memang menginap di rumah Karin, bukan? Dan Oniisan pergi bersama teman-teman Niisan" jawab Hinata kaget. Hyuuga Neji terdiam. Pikirannya berkecamuk. Apa yang terjadi? Kenapa Hinata terlihat segar dan baik-baik saja setelah kejadian malam tadi. Neji kemudian melihat kejadian-kejadin berlalu di kepalanya. Kejadian seperti yang telah Hinata katakan.
"Bu, aku mau mandi dan mengganti baju dulu, sebentar. Jangan sarapan sebelum aku datang" kata Hinata. Gadis itu kemudian berjalan menaiki anak tangga menunggu kamarnya. Wajahnya yang tadi terlihat baik-baik saja langsung berubah lega. Untung saja ia bisa membohongi kakaknya.
~flashback~
Naruto bangun pagi sekali. Ia berdiri dan menatap Hinata yang masih tidur. Pemuda itu tersenyum. Ia kagum pada gadis Hyuuga itu, wajahnya, kecantikannya, hatinya. Naruto kemudian beranjak menuju lemari dan mengambil obat yang pernah diberikan Hyuuga Hinata padanya. Ia meminum habis obat itu dan tubuhnya langsung terasa hangat. Ia tersenyum kecil. Istirahatnya tadi malam benar-benar membuat tubuhnya kembali segar dan kuat. Tak pernah ia tidur begitu nyaman selama ratusn tahun. Terlebih lagi di musim dingin yang selalu membuatnya menggerutu kedinginan di malam hari.
Ia harus menjemput Uchiha Itachi pagi ini. Jika ia menunda hingga siang hari, akan banyak kecurigaan yang akan muncul karena pemuda Uchiha itu tak pulang ke rumah sejak tadi malam.
Naruto menatap Hinata sekali lagi sebelum pergi. Irama nafas Hinata yang sangat teratur dan tenang membuat sesuatu dalam dadanya bergemuruh. Kening Naruto mengerut samar.
"Ck. Ada apa denganku? Kenapa aku selalu seperti ini setiap kali menatap wajah gadis ini?" gerutu Naruto. Naruto adalah siluman, jadi, ia tak tahu, jika sesuatu dalam dadanya bergemuruh, manusia menyebutnya sebagai jatuh cinta.
Karena tidak bisa menahan diri melihat wajah lembut Hinata, Naruto akhirnya nekat mendekatkan wajahnya pada wajah gadis Hyuuga yang tertidur itu. Pemuda bermata biru safir itu merasakan nafas Hinata menerpa wajahnya. Naruto tersenyum kecil. Pemuda itu kemudian mencium Hinata tepat di bibir gadis itu. Cukup lama sampai akhirnya Naruto berpindah ke kening gadis itu.
Hinata menggeliat pelan ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh keningnya. Kedua matanya membuka perlahan dan mendapati Naruto sedang berdiri menatapnya dengan senyum lebar. Kaget, Hinata langsung bangun dengan semburat merah di pipinya.
"Selamat pagi, Hinata-chan" sapa Naruto pura-pura tak tahu kalau Hinata terbangun dengan kaget karena gadis Hyuuga itu pasti merasakan sesuatu pada wajahnya.
"S-selamat pagi, N-Naruto-kun" jawab Hinata gugup.
Naruto kemudian duduk di atas tempat tidur, tepat di depan Hinata.
Sementara Hinata sedang merutuki dirinya dalam hati. Ia pasti terlihat sangat berantakan sekarang. Karena itu Naruto tersenyum sangat lebar. Pemuda itu pasti ingin tertawa, tetapi tidak enak jika harus tertawa langsung di depan objek.
"Aku ingin Hinata-chan melakukan apa yang aku katakan. Jangan bertanya apapun, cukup lakukan, dan aku berjanji semuanya akan baik-baik saja setelah malam tadi" kata Naruto serius. Hinata mengangguk dan mendengarkan apa yang Naruto katakan.
"Jika nanti Hinata-chan telah sampai di rumah, Neji pasti akan bertanya banyak padamu. Pastikan kau meyakinkannya bahwa tidak pernah terjadi hal buruk apapun malam tadi. Katakan saja kalau tadi malam kau menginap di rumah Karin. Keadaan Neji baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir, aku sudah membawanya ke rumah sakit dulu sebelum mengantarnya pulang. Jangan mengerutkan kening seperti itu, aku melakukannya sangat cepat sebelum membawamu kemari. Aku juga sudah memberitahu Karin, hanya untuk berhati-hati saja kalau Neji tiba-tiba ingin memastikan dan menelponnya"
"T-tidak mungkin Neji-niisan akan lupa dengan kejadian tadi malam"
"Kalau kau meyakinkannya, dia pasti akan percaya padamu karena tubuhnya baik-baik saja, dan kau juga baik-baik saja. Setelah itu, Neji pasti akan berpikir kalau semua hal buruk yang terjadi tadi malam hanya mimpi" jelas Naruto. Tentu saja Naruto yakin, karena saat membawa Neji pulang setelah menyembuhkan luka pemuda Hyuuga itu, ia menghilangkan semua ingatan Nenji tentang kejadian yang sesungguhnya. Ingatan tersebut akan kembali di pagi hari, tetapi, akan teringat samar karena Naruto telah mencampurnya dengan ingatan yang sesuai dengan apa yang akan Hinata katakan pada Neji nanti.
"B-baiklah" jawab Hinata agar ragu apakah rencana ini akan berhasil.
"Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Hinata-chan, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang"
"Tidak apa-apa Naruto-kun" sahut Hinata cepat. Naruto tersenyum lebar.
"Kau tahu, Hinata-chan?"
"A-apa?"
"Di luar sedang salju"
"K-kalau begitu, seharusnya Naruto-kun tak keluar dulu dan menunggu sampai salju berhenti"
"Aku akan baik-baik saja jika tubuhku kuat. Jadi, maukah kau membantuku?"
Kening Hinata mengerut, lalu bertanya heran, "A-apa yang bisa kau bantu?"
"Aku akan merasa bisa bertahan lebih lama jika aku sudah sudah memelukmu" kata Naruto jujur. Hyuuga Hinata kaget. Hatinya yang sudah berdebar sejak tadi semakin berdebar ketika mendengar penyataan gamblang Naruto.
"Apa kau bisa membantuku? Sebentar saja, dan aku yakin aku akan kembali ke rumah tanpa tubuh beku dan menggigil." Hinata menatap wajah Naruto yang serius. Perlahan, kepalanya mengangguk kecil. Gadis Hyuuga itu menunduk karena malu. Naruto tersenyum kecil dan langsung memeluk Hinata sangat erat.
"Aku tidak tahu kau akan percaya atau tidak, Hinata-chan. Tapi, aku akan tetap mengatakannya, bahwa kau, membuatku semakin kuat dan tidak takut lagi untuk menghadapi segalanya." Kedua mata Hinata melebar. Gadis itu bisa merasakan dengan sangat jelas dekat jantung Naruto yang cepat. Ada apa ini? Pikirnya. Kenapa Naruto berdebar? apakah pemuda Uzumaki itu... Hinata langsung menghentikan pikiran-pikiran seperti itu ketika kalimat yang pernah di ucapkan Naruto ketika mereka naik bianglala tiba-tiba terdengar kembali di telinganya.
"Aku tidak suka jika ada anak perempuan yang menyukaiku"
~flasback end~
[TBC]
