Chapter 12 : Childhood (Past) - Present – Future

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

Nah! Saya kembali!~~
Sekarang saya akan memperjelas plot fict ini dan hubungan yang mungkin miss link sama chapter sebelumnya. Dan saya sadar, gaya menulis maupun tata letak saya sudah banyak berubah ^^, apa perubahan ini bagus?

Saya percepat update jadi hari minggu, karena senin besok saya sudah sekolah. Maklum SMA saya masuk duluan daripada SMA atau sekolah setingkatnya yang lain ^^.

Langsung aja ya, Check this out!

A Fantasy Fict from me

~Dreamy Cherry Blossom~

Main pair : Kagamine Rin & Kagamine Len, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Cover : OrangeCornPuff from DeviantArt

Summary :

'Apa sebenarnya aku ini? Apa aku bukan bagian dari dunia ini? Apakah ada dunia lain yang tersembunyi?' 'Kau hanyalah mimpi, kau hanya makhluk ciptaan yang tidak nyata, kau hanya hidup di dunia sebagai bayangan. Tidak lebih setelah inangmu menghapus mu dengan yang baru.'

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje karena fict pertama, pendeskripsian kurang, kesalahan eja EYD dan teman-temannya.

'Abc'/"Abc" : flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc"/'Abc' : percakapan normal
"Abc" : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

Balas membalas review seperti biasa di bawah ya...

HAPPY READING MINNA!


Chapter 12 : Childhood (Past) - Present – Future


Normal POV

"Ah, Akane Len dan Kagamine Rin. Dua nama yang lama tidak ku dengar. Kalian sepertinya bersenang-senang ya?" Dell berkata dengan tenang, sayangnya semua tidak dihiraukan Len.

"Apa maumu ke sini?" Tanya Len dengan kasar.

"Wow, wow, tenang dulu. Aku sedang tidak ada urusan dengan kalian sekarang. Bisa kan tenang sebentar? Tapi jika ingin ku temani bermain, akan kuladeni... Hihihi.."

"Len, dia siapa?" Rin bertanya dengan gemetar, mendengar ucapan Len begitu bertempo berat membuat Rin takut.

"Dia.." Belum sempat Len bicara banyak, omongannya langsung dipotong oleh Dell.

"Aku Len palsu yang waktu itu bersamamu ke rumah Miku saat dia demam, ingat? Len palsu yang menanyakan tentang arti dunia padamu."

Saat itulah Rin ingat apa yang dimaksud Dell, ia keluar dari balik punggung Len lalu menatap Dell dengan tegas.

"Iya, aku ingat. Kau yang bertanya tentang arti kehidupan. Sudah kuduga, Len yang waktu itu bukan Len yang asli."

Sementara Rin dan Dell tengah berbicara sendiri, Len mencoba menghubungi Raphael di dalam tubuhnya namun entah kenapa yang menjawab panggilannya adalah Rei yang asli.

'Raphael, kau bisa dengar aku.'

'Sang Pandora sedang tidak ada Len, ini aku Rei.'

'Rei, kemana Raphael?'

'Sang Pandora sedang menghilangkan kesadarannya sendiri.'

'Kenapa?'

'Ia sadar, jika terlalu banyak makhluk sepertiku yang tercipta lagi di tubuhmu akan menyakiti dirimu sendiri. Ia berkata bahwa aku saja cukup untuk berdiam di tubuhmu, ia tidak bisa mengambil resiko jika tercipta makhluk lain lagi apabila dia terlalu sering menghisap emosimu.'

'Apa ia akan kembali Rei?'

'Itu mungkin iya, mungkin tidak. Sang Pandora sudah sepenuhnya menyerahkan kesadarannya pada 'mata' yang tertanam di tubuhmu, jadi kau sekarang yang mengendalikannya, ia berkata jika aku yang harus membantumu mulai sekarang.'

'Begitu, jadi... Apa pendapatmu sekarang Rei? Apa aku harus melawan Dell?'

'Ini berbahaya, kau tidak bisa melawan Rei di tempat terbuka seperti ini, lebih baik jika kau menggunakan kekuatan Pandora memindahkan kalian bertiga ke hutan atau tempat sepi apapun, untuk mengurangi resiko.'

'Baiklah.'

.

.

.

"Dell, jika kau memang sedang tidak datang sebagai musuhku. Aku ingin bertanya beberapa hal padamu, tapi tidak di sini. Rin juga ikut." Len berkata dengan wajah serius, Rin hanya mengangguk tanda setuju, Dell menghela nafas.

"Baiklah, mungkin pembicaraan ini akan menarik."

Len membuka sebuah distorsi waktu di belakang dirinya dan menarik Rin ke dalamnya. Ia memberi isyarat agar Dell mengikutinya. Mereka sampai di sebuah reruntuhan yang sepertinya reruntuhan distrik industri yang hancur tempo hari.

"Jadi, apa yang ingin kau tanya?" Dell berkata pada Len tanpa ekspresi, ia hanya berharap jika ini tidak membosankan.

"Pertanyaan pertama, aku tahu aku bukan manusia 'ciptaan' kalian. Aku tahu kalau aku dilahirkan, dan aku tahu orang tua ku sendiri. Kenapa kalian para Epitaph mengincarku?"

"Hey bocah Akane, Master sering mengataimu 'dopple' kan? Tapi tak jarang pula ia berkata kalau kau 'tidak akan pernah menjadi manusia'. Kami para Epitaph terbentuk karena penggabungan dua tubuh, hanya aku yang belum sempurna. Jadi Master mengambil sample mu yang istimewa itu untuk menjadi pelengkapku." Jelas Dell dengan serius.

"Jadi pada dasarnya aku bukan tiruan atau boneka kan?" Tanya Len lagi.

"Tidak sepenuhnya salah, gen dari anak seorang Scimitar Master, pembunuh Youkai terbaik di masanya. Itulah yang dinginkan Master, jadi pada dasarnya dari lahir kau memang bukan manusia asli. Master kemudian menjadikanmu 'boneka', ia mencampur Pandora dan gen Rinto sang Beast Tamer ke dalam tubuhmu, jadi tak ada bedanya kan? Kau tetap 'boneka'. Tapi, pada kasus ini, kau itu 'kelinci percobaan' bukan 'makhluk buatan'."

"Jadi, kenapa kalian semua berbohong padaku dengan berkata aku ini hanya 'tiruan' dulu?"

"Yang Master mau hanya keberhasilan proyeknya membuat kunci pelepas batas dimensi itu saja, mengatai mu sebagai 'tiruan' hanya sebagai pendorong agar kau tidak bertindak aneh-aneh. Ia tidak mau membuatmu memiliki emosi selain membunuh, walau pada akhirnya gagal sih, hihihi."

"Apa maksudmu 'pelepas batas dimensi'?"

"Maaf, informasi terbatas. Aku bukan mesin check list penjawab semua pertanyaanmu."

Len hanya bisa mendecih pelan mendengar perkataan sinis Dell. Rin yang mendengar itu semua, ia mulai mengerti apa yang dimaksud. Rin kini mengangkat kepalanya tegap dan ikut bertanya kepada Dell.

"Aku ingin bertanya, jika kau adalah Len palsu yang dulu seharian bersamaku. Apa kau juga yang menggantikan Len mulai dari Len kembali dari kamar kecil waktu itu?" Rin bertanya antusias pada Dell, yang hanya dibalas pejaman mata dan senyuman remeh.

"Ya, dan aku juga yang menyebabkan semua hal aneh pada waktu itu. Khukhukhu..."

Rin akhirnya mengerti, berarti pada waktu itu memang ada dua Len, Len yang asli sedang berada entah di mana, dan Len yang palsulah yang bersama dengannya seharian. 'Len yang tidak sopan itu sudah kuyakin pasti bukan Len yang ku kenal!' Pikir Rin.

"Bisa kau katakan padaku siapa saja anggota Twilight Epitaph yang aktif sekarang?" Len menyergah cepat, ia ingin sebisanya mengorek informasi mumpung ada kesempatan.

"Informasi terbatas."

"Apa kau juga memiliki bagian Pandora pecahan dari diriku?"

"Informasi terbatas."

"Apa Kaito anggota dari organisasi juga?" Kali ini Rin yang bertanya, dan itu membuat Len agak terkejut. 'Apa yang kau pikirkan, Rin?' Pikir Len.

"Rin apa maksudmu?" Len berbisik pelan pada Rin di sampingnya, tapi Rin tidak membalas bisikan itu. Rin langsung menjawab pertanyaan Len dengan suara keras, seolah tak ada gunanya menyembunyikan ini.

"Aku menduga kau waktu itu membawa Kaito keluar ruangan Miku, kau berbicara dengannya sebagai partner kan? Dan dari ekspresi kaget Kaito waktu itu, sudah pasti ada yang salah." Jelas Rin

Len langsung mengerti apa yang dimaksud Rin, ini terjadi pada saat Len kehilangan kesadaran waktu itu, dan Rin tengah mencoba menguak kebenaran pada waktu itu juga.

"Heh, tak kusangka kau berpikir aneh sejauh itu, tapi maaf... Informasi terbatas." Jawab Dell sama pada akhirnya.

"Jadi pada dasarnya aku bukan 'dopple' ciptaan, kalian hanya mengarang mengataiku dopple agar aku patuh pada kalian sebagai 'penciptaku'. Ya aku mengerti." Ucap Len lebih kepada dirinya sendiri.

"Heh, ku kira pembicaraan ini akan menarik. Sekarang-" Dell menggantungkan perkataannya sambil berdiri.

"-Aku ganti targetku dari manusia sampah menjadi kalian berdua." Tepat saat Dell berkata demikian dimensi ruang dan waktu tempat Len dan Rin berada berubah menjadi dunia hitam putih. Hanya mereka bertiga yang memiliki warna di dalamnya.

"APA?! Kau bercanda! Kau bilang tak ada alasan untuk bertarung!"

"Tapi itu tidak menghapus kemungkinan kalau akan terjadi pertarungan. Nah, sekarang... Shall we begin?"


Len's POV


Bagaimana ini?! Aku tidak bisa melibatkan Rin pada pertarungan berbahaya seperti ini!

"RIN! SEMBUNYI! SEMBUNYI DI MANAPUN KAU BISA!" Teriak ku panik pada Rin di belakangku, Rin hanya mengangguk setuju dan meninggalkan kami berdua.

"Nah, sekarang tidak ada pengganggu kan? Akan ku lakukan yang sulit dulu... Membunuh mu, baru membunuh anak perempuan itu, khukhukhu..."

.

.

.

"Command Aura, Offensive Aura, Defensive Aura, Support Aura!." Aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku dalam pertahanan, penyerangan dan support! Aku tidak boleh kalah.

"Wow, wow, jangan buru-buru bocah Akane. Kenapa langsung mengeluarkan kartu AS seperti itu?"

"Bilang saja kau takut, buatan. Aku masih punya kartu truft-ku bahkan sebagai harapan terakhir, kartu joker!" Ucapku mengejek.

"Wah, wah, ada yang sombong di sini. Jangan salahkan aku jika kau kesulitan bergerak seperti waktu melawan Raphael." Apa?! Dia tahu test yang diberikan Raphael waktu itu?!

"Darimana kau tahu?!" Ucapku geram.

"Informasi terbatas, nah... Sekarang, when we begin this battle? Not become too hard, this just game, isn't it?"

"Change : Rune Blade! Holy Field of Punishment!"

Tidak mungkin! Ia menaiki tiap mata pedang, tombak, pisau dan semua senjata yang keluar dari tanah , apa langkahnya seringan itu?! Tidak ada waktu lagi, aku harus mengeluarkan mode yang lebih kuat!

"Mode Prime Knight of Odin!" Tidak ada cara lain.

"Hey bocah Akane, kau hanya memperberat gerakan tubuhmu dengan baju zirah aneh itu jadi jika boleh kuingatkan, kau seharus-"

BUAK!

"Cih! Lumayan."

Aku tidak bisa membuang waktu! Kau salah Dell, baju zirah aneh yang kau sebut ini merupakan senjata terkuat dari Scimitar Master, aku bisa menaikan status fisik tubuhku sendiri.

Dell menyeka darah di sudut bibirnya, ia tampak terlihat senang.

"Baiklah bocah Akane, jika kau mengajak serius. Third G.U. Excalibur Project ." Ia terlihat berganti pakaian juga, jubah putih dengan lambang salib, pedang emas bertengger di punggungnya.

"Aku juga tidak akan segan-segan." Lanjut Dell.

"Ayo kita jadikan pertarungan ini seru, Change : Lance of Thunder, Gungnir!" Aku mengeluarkan tombak bermata tiga seperti trisula. Menurut legenda yang diceritakan Raphael, Gungnir adalah 'tombak' dari segala tombak, senjata yang digunakan sang pejuang Odin bersama Sleipnir kudanya.

.

.

.

TRANG! TRANG! TRANG! BUAK!

Ukh... Ia kuat...

"Ada apa bocah Akane? Kau sudah menyerah?" Ejek Dell.

Aku bingung, sebenarnya apa kekuatannya?! Ia mampu mengimbangi kecepatan ku dalam mode Prime Knight dan semua serangan kejutan dari senjata ku lainnya yang ku keluarkan secara diam-diam selama pertarungan mengenainya, tapi sama sekali tidak membuatnya terluka. Padahal dia hanya fokus pada ayunan Gungnir ku, bagaimana dia bisa melihat gerakan senjata ku yang lain?!

"Jangan harap! Command Aura, Change-" Eh? Kenapa tidak keluar?!

"Kau sudah kehabisan tenagamu ya? Khukhukhu.."

"Jadi..."

"Ya, bocah Akane. Sekuat apapun pertahanan, serangan dan pengendalianmu terhadap senjata. Itu tidak bisa digunakan selama yang kau mau. Ada batasnya, jangan bilang kau menguasai tanpa tahu dasarnya? Dasar bocah! Hahahaha!"

Ukh, aku tidak tahu bahwa tekhnik Multi Weapon ada batasnya. Ini buruk.

"Len! Len! Kau tidak apa-apa?!" Rin berlari menghampiriku yang tersandar di tembok salah satu bangunan.

"Pergi Rin. Jauhi diriku sementara ini, aku belum tentu bisa mengendalikan kekuatan yang selanjutnya." Ucapku sambil menunduk, menjauhkan tangan khawatir Rin yang hendak memegang ku.

"Jangan bilang kau..."

"Ya Rin tidak ada pilihan lain."

.

.

.

'Len! Jangan gila! Kau bisa melukai Rin seperti saat insiden distrik industri!'

'Tak ada pilihan lain, jika aku mencoba menggunakan kekuatan Pandora yang belum sempurna tidak ada bedanya dengan menggunakan kekuatan Scimitar Master yang kehabisan tenaga. Jika terjadi skenario terburuk, aku mungkin masih bisa membiarkan Rin kabur dengan membuka celah dimensi dengan kekuatan Pandora yang ada, karena Dell tidak mungkin membunuhku tanpa seizin Kiyoteru.'

'Ukh, aku tidak bisa berkata apa-apa. Lakukan sesukamu, jika kau kehilangan kendali dan lupa dengan rencana membuat Rin melarikan diri. Aku akan menggantikan kesadaranmu dan membuat Rin keluar dari sini.'

'Terimakasih Rei.'

.

.

.

"ARGH!"

"RIN PERGI SEKARANG!"

Rin pergi dengan muka cemas, tidak Rin jangan, jangan menatapku seperti itu atau aku tidak bisa melakukan apa yang harus ku lakukan.

"Ukh, kau berganti mode lagi bocah Akane. Akan kuladeni kau sampai mode terkuat yang kau punya."


Normal POV


Len tidak punya pilihan lain, gen Beast Tamer harus digunakan di sini, dia tidak bisa membiarkan hal yang lebih buruk terjadi pada Rin.

"GROAAR!"

DUAR! DUAR!

Len mengaum ganas, hanya dengan auman saja, tanah yang ia pijak seakan terpendam menahan kuatnya suara yang ia lepas.

"Wah, wah, aku tidak menyangkan kau akan menggunakan kekuatan yang belum ku kuasai untuk melawanku. Otakmu pasti sudah rusak ya?" Dell berbicara, tapi tidak Len tanggapi. Len telah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ia hanya bergerak menurut insting, dan instingnya sedang berada di tingkat terburuk. Ia menganggap semua yang ia lihat musuh.

DUAR! DUAR! DUAR!

Len mengeluarkan tembakan cahaya hitam pekat yang dialiri listrik yang sama seperti sebelumnya. Dell kewalahan, Barrier nya hancur dalam 5 tembakan beruntun.

"Cih tidak kusangka bentuk yang belum bisa dikendalikan dapat melukaiku seperti ini. Gen Beast Tamer memang tidak bisa diremehkan. Tapi maaf, ini akan segera selesai dalam hitungan detik." Ucap Dell. Ia mengambil ancang-ancang menyerang dan membuat lambang aneh di tanah tempat ia berpijak.


"Ready? Sorry, kid. You're no match for my blade."

"Chaos Gehenna!"

Terbentuk lambang aneh juga di tanah tempat Len berpijak, dan Len terlihat terikat. Len tidak bisa bergerak dan meraung-raung lebih ganas, mencoba melepaskan diri.

"Emperor of Light! Give me your strenght to punish this creature to your hell!"

Dell memberi belenggu yang lebih kuat kepada Len, Len tidak sadarkan diri, raungannya lenyap.

"Sekarang untuk serangan penutup, terima serangan yang paling menyakitkan yang pernah kau rasakan. Linker of Soul, Vajra! Sacred Skill, Magnus Dan!"

Dan seluruh cahaya menutupi sekujur tubuh Len, cahaya itu membesar dan meledak dengan dahsyat hingga membentuk kubah ledakan putih yang besar. Rin yang bersembunyi pun terpental karena kuatnya ledakan yang terjadi. Radius kubah ledakan terbentuk hingga ratusan meter dari pusat tubuh Len.

.

.

.

"Maaf bocah Akane, seharusnya aku tidak membunuhmu. Tapi aku lepas kendali."

"Len! Len!"

Rin menghampiri tubuh Len yang masih berwujud monster dengan sigap. Ia menahan tengkuk dan punggung Len.

"Pergi, Kagamine. Kaburlah, aku tidak ada urusan denganmu. Anggap ini balas budi kepada ayahmu karena dulu ia banyak membantu Masterku. Aku hanya ada urusan dengan bocah Akane. Ia sudah cukup kuat, Master tidak akan marah jika ia ku hisap sekarang."

"Kau..."

"Pergi, Kagamine ini peringatan terakhir."

"Membunuh..."

"Maaf, sepertinya aku harus menusukmu bersamaan dengan bocah Akane."

"LEN!"

Tubuh Rin bersinar, sekujur tubuhnya diselubungi lambang aneh. Dell yang terkejut terpental jauh

"Kau tidak akan kumaafkan!"

Tepat saat Rin berteriak demikian, tubuh Dell terangkat sendiri. Dell merasa seperti di genggam kuat. Tubuhnya sulit digerakan selama Rin menghampirinya, Rin buta arah, ia hanya merasakan kemarahan kepada Dell.

"Rin! Pyo! To! Sha! Kai! Jin! Retsu! Zai! Zen!"

Tepat saat Rin membaca sesuatu yang seperti mantera, muncul makhluk besar dengan tudung, di punggungnya tertancap banyak senjata dan susunan tubuhnya hanya tengkorak dan tulang. Makhluk itu hendak melakukan sesuatu kepada Dell.

"Inikah kekuatan sang Tsukuyomi yang diwarisi keluarga Kagamine? Sang dewi penyelamat yang merangkap sebagai iblis penghancur. Aku bisa lenyap nih, kalau dibiarkan begini." Dell mengucap santai saat tangan makhluk dibelakang Rin mendekati tubuhnya.

"Maaf, tapi aku tidak sudi 'dimurnikan' di sini olehmu. Jadi, sampai bertemu lagi."

Tubuh Dell menghilang bagai asap, saat Dell hilang kemarahan Rin melega. Ia langsung menghampiri Len yang terbaring di tanah. Dimensi telah kembali normal, waktu menunjukan hampir petang di tempat mereka berada sekarang, di reruntuhan distrik.

"Len, Len, jawab aku." Ucap Rin tersedu, ia tidak rela jika harus kehilangan Len.

Len yang masih berwujud monster tiba-tiba matanya terbuka lebar. Rin terkejut karena Len langsung bangkit dan mencekik Rin dengan satu tangan.

"Ukh, Len... Sa-sadar, ini a-aku, Rin.." Rin berkata dengan susah payah

"Mati, Mati, Mati."

"Le-Len kumohon, sa-sadar."

Pluk! Blam! Blam! Blam!

Tubuh Len tiba-tiba meledak-ledak kecil di beberapa bagian, ia jatuh tersungkur dan menjadi Len normal lagi, walau tubuhnya penuh luka.

"Ah, tunggu apa- Kaa-chan?!"

"Sepertinya masih sempat ya Rin."


"Ngh, dimana aku?"

"Ah, kau sudah sadar Len? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana lukamu? Apa sakit?" Rin bertanya bertubi-tubi pada Len yang baru bangun.

"Tenang, luka seperti ini akan pulih dengan cepat. Loh? Bagaimana dengan Dell? Apa kita menang?"

"Entahlah, aku juga tidak begitu ingat. Tapi sepertinya kita telah berhasil membuatnya mundur untuk sementara."

Len mengangguk mengerti, ia menerawang sekitar dan mendapati di leher Rin ada bercak merah yang melilit lehernya. Ia sadar tanda apa itu, yang membuat Len makin bersalah.

"Rin, lehermu... Salahku ya?"

"Ah ini, tidak apa-apa. Yang penting kita berdua selamat." Rin berkata dengan lembut dan senyuman tulus yang makin membuat Len merasah bersalah.

"Tapi Rin! Jika kau mati ditanganku, aku, aku..."

"Sudah lah Len, berterimakasih lah pada Kaa-chan yang menolong mu saat kau lepas kendali. Aku tidak apa-apa asal kau tetap selamat."

"Kaa-chan? Rin, ini dirumahmu?"

"Iya, memang kenapa?"

"Mana.."

"Eh?"

"Mana Lenka baa-san? Di mana?"

"Dia di ruang tengah, sedang menyesap teh. Memang ada apa?"

Len tidak menjawab pertanyaan Rin, ia langsung berlari tergesa-gesa menuju tempat Lenka dan benar, Lenka ada di sana.

"Ah Len-kun sudah sadar ya? Duduklah di sini, kau pasti punya banyak pertanyaan kan?" Lenka menepuk lantai di sebelahnya, mengisyaratkan Len untuk duduk dan berbicara tenang. Rin yang penasaran mengikuti Len hingga ke ruang tengah dan merasa suasana sedang tegang di sana.

"Lenka baa-san, apa benar?"

"Iya?"

"Apa kau yang merencakan kudeta di dunia youkai dan menyebabkan Rinto-san tewas di tanganku pada malam itu?"

Rin dan Lenka terkejut, namun Lenka langsung tersenyum dan berkata dengan nada yang terdengar sedih.

"Iya, tidak diragukan. Aku yang melakukannya..."

Dan dunia terasa terasa berhenti berputar bagi Rin dan Len saat mendengarnya.


Chapter 12 completed~~

Fuah! Panjang juga ngetiknya dalam 2 jam. Sumpah, saat selesai ngetik dan baca ulang saya baru sadar. Fantasy nya overdosis, ekekeke

Banyak banget adegan pertarungannya, berarti chapter depan kita rileks dulu ya~~~

Yosh! Balas review!

-To reviewer named Alfianonymous22 :

Hahaha XD beneran dikarain cewek loh~~
Rune blade sebenarnya saya ambil dari salah satu game online.

Ini updatenya! Makasih Reviewnya!

-To reviewer named Hime-chan :

Yah bagus deh kalau suka, saya juga senang ^^

Anda laki-laki juga? Sebaiknya beri tahu saya sebelum saya salah kaprah lagi ^^

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Namikaze Kyoko :

Saya agak salah ketik disitu, yang bener Nanohanagou.. saya beritahu sedikit. itu pohon besar yang batangnya menjulang sampai angkasa di dunia youkai ada 5 buah di 5 titik berbeda. Gunanya... nanti tahu sendiri ^^

Memang sebenarnya Bahamut, saya ada alasan sendiri. Karena menurut orang timur tengah, Bahamut itu adalah makhluk mitos (naga yang seperti belut tinggal di dalam laut di sana yang suka menghancurkan kapal pelaut) sebenarnya Bahamut adalah Leviathannya orang timur tengah dengan kata lain mereka sebenarnya sama (menurut yang saya tahu) jadi saya memakai Behemoth bukan Bahamut, Behemoth sendiri adalah monster besar seperti Werewolf, tapi dia tidak jadi-jadian asli monster (karena kebanyakan di cerita Werewolf itu jejadian alias bisa jadi manusia lagi)

Dell mah di kulitin terus di kukus XD(Dell : Woy!)

Ini updatanye! Makasih reviewnya!

-To reviewer named BerlianaDeceiver1224 :

Memang, konsep Time Loop ada banyak di anime, seperti salah satunya KagePro, Amnesia, Clannad, dan Suzumiya Haruhi no Yuutsu. Jadi ya gak jarang jika di temui di mana saja, dengan kata lain Time Loop memang ide pasaran, banyak digunakan jadi saya ikut gunakan ^^

Makasih FavFoll nya!

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named billa neko :

Oke! nih update cepet! :3 (karena senin besok sekolah XD)

Makasih ya reviewnya!

-To reviewer named Azakayana Yume :

Makasih udah dibilang keren ^^ gak apa-apa baru dibaca, kan saya juga maksa ^^

Makasih ya reviewnya!

Maafkan saya kalau ada cara membalas yang kurang berkenan di hati para reviewer.. saya mohon maaf.
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan ^^ jangan terlalu pedas ya! Karena review kalian adalah penyemangatku untuk menulis! Jaa~~ Matta ne~~ !

Best regards,
Aprian