Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Naruto © Masashi Kishimoto
Nanairo no Compass © Seira Schiffer
.
Rated : T
.
Generation of Miracle x Hinata Hyuuga
.
Belum pernah ada yang mencium
Harumnya perasaan ini
.
RnR
.
TOK TOK TOK TOK
Padahal matahari baru menampakkan sinar beberapa menit yang lalu. Biarpun begitu pagi-pagi buta seperti ini sudah terdengar gedoran keras pada sebuah daun pintu dengan papan nomor 7. Berulang kali si penggedor melakukan aksinya. Mungkin dia berharap agar si pemilik kamar akan menjawab panggilannya.
"NEJI-CHAN! HINATA-CHAN!" Teriaknya tak memperdulikan apakah para tetangga akan terganggu dengan tindakannya atau tidak. Karena yang diinginkannya sekarang adalah agar dua orang di dalam sana terbangun dan membiarkannya masuk.
Bukan karena malu. Tapi kakinya mulai pegal jika terus berdiri satu jam penuh.
TOK TOK TOK TOK
"HINATA-CHAN. NEJI-CHAN. CEPATLAH KALIAN BANGUN. KAKIKU MULAI KESEMUTAN."
Sementara itu, tepat di balik pintu mahoni, seorang pemuda bergelut tak nyaman dalam kehangatan selimut. Berulang kali dia berusaha menutup telinga dengan bantal berwarna hitam legam yang ada di sofa. Suara berisik tepat di balik pintu apartemennya itu sukses membuat paginya hancur.
"Arrggghh..! Anak bodoh satu itu. Tak bisakah membiarkan kehidupanku lebih tenang sedikit?!"
Segala sumpah serapah dari pemuda bermata perak itu dia tujukan pada orang tak tahu diri yang berani mengganggu waktu paginya.
Tak lama setelahnya, seorang gadis keluar dari dalam kamar sambil merenggangkan sendi-sendi tulangnya yang sedikit kaku karena tidur. Gadis berambut indigo itu melemparkan pandang pada sang kakak yang bergerak tak nyaman dalam tidurnya.
Senyum geli tertoreh di bibir peachnya tatkala mengetahui siapa yang menyebabkan sang kakak hingga seperti itu.
TOK TOK TOK
Mata indah gadis itu kembali bergulir ke arah pintu. Senyum cantiknya masih terkembang. Hinata tahu. Dari seluruh orang yang dia kenal, hanya satu orang yang berani memancing amarah kakaknya setiap hari.
Nijimura Shuuzou.
Pemuda yang merupakan teman dari sang kakak. Walau baru bertemu beberapa hari yang lalu, Hinata sudah merasakan sebuah ikatan kuat padanya. Sebab itulah Hinata merasa tak lagi canggung apabila berdekatan dengannya.
Gadis berambut sepinggang itu mendekati sofa di mana sang kakak sedang berusaha untuk kembali tidur. Setibanya di sana, Hinata menatap wajah Neji yang tak lagi terlihat. Dikarenakan sebuah bantal yang telah beralih fungsi untuk menutupi wajahnya.
Hinata tertawa lirih. Rindu rasanya jika melihat Neji begini. Jika dipikir-pikir lagi sudah lama Hinata tidak melihat hal seperti ini dari Neji. Dan sekarang dia berayukur bisa melihatnya lagi.
Jemari lentiknya kemudian terulur menggapai selimut yang kini mencapai perut Neji. Dengan perlahan Hinata menarik selimut agar menutupi tubuh Neji sampai dagu. Setelah itu, Hinata memberi tatapan lembut pada Neji. Meskipun pemuda itu tak akan menyadarinya.
"Tidurlah kembali, Niisan. Aku yang akan menemui Shuu-nii." Ujar Hinata lalu berbalik menuju pintu.
Cklek
Hinata memutar gagang pintu lalu menariknya ke dalam. Sehingga daun pintu mulai memberi celah agar siapapun yang ada di baliknya bisa tertangkap mata.
Dan tepat pada saat pintu itu terbuka, wajah rupawan Nijimura seketika terpantul di iris lavender Hinata. Senyum lima jari Nijimura yang selalu berhasil membuat Hinata tak bisa mengintimidasi pemuda berambut hitam tersebut karena tindakannya.
Seolah seperti virus, senyum menawan itu ikut menorehkan lengkung apik di bibir Hinata.
"Ohayou, Shuu-nii."
"Ohayou mou, Hinata-chan." Nijimura melambaikan tangan beberapa kali dengan penuh semangat.
"Boleh aku masuk?" Tanya Nijimura tanpa mengurangi lengkungan senyum di wajahnya.
Untuk beberapa detik Hinata membiarkan keadaan dimana mereka yang saling pandang. Sebelum akhirnya Hinata memutuskannya secara sepihak kontak mata mereka alih-alih untuk mendorong pintu agar terbuka semakin lebar sepenuhnya. Baru setelah itu, Hinata kembali melemparkan tatapan ramah padanya.
"Masuklah Shuu-nii." Ujar Hinata mempersilahkan Nijimura untuk masuk ke dalam.
Baru setelahnya Hinata kembali menutup pintu dan kembali menguncinya. Hanya berjaga-jaga saja. Seperti yang dia lakukan biasanya.
"Aku tadi berpas-pasan dengan Kagami di jalan. Sepertinya dia sedang jogging. Apakah dia serajin itu?"
"Mungkin saja. Shuu-ni ingatkan kalau Taiga-kun adalah pemain basket? Sangat penting baginya menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dalam setiap pertandingan." Jelas Hinata sembari menggiring Nijimura ke dapur.
"Kupikir kau akan menemaninya."
"Kenapa aku?"
"Kau kan managernya."
"Tugasku hanya memantau mereka, Shuu-nii. Lagipula Satsuki-chan lah manager yang sebenarnya."
Nijimura mengerutkan kening. Matanya menatap heran pada punggung gadis yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah diisi bubuk coklat.
"Kau bukan manager?"
Hinata menggeleng pelan, "Bukan. Bisa dibilang aku hanya juru masak mereka. Shuu-nii tahu Satsuki-chan itu payah dalam membuat makanan."
Melihat senyum geli Hinata, Nijimura merasa penasaran. "He.. benarkah?"
Hinata menghentikan kegiatannya sejenak untuk menatap lucu pemuda dihadapannya. "Awalnya aku tak percaya. Mungkin mereka hanya melebih-lebihkan saja. Tapi saat aku merasakannya sendiri, sungguh rasanya memang aneh. Lidahku sampai mati rasa untuk beberapa jam."
Nijimura tak bisa menahan gelak tawanya ketika Hinata mempraktekkan betapa anehnya masakan Satsuki dengan ekapresinya. "Kau harus mengajarinya memasak Hinata-chan. Aku tak bisa membayangkan anak-anak jenius basket itu saat memakan makanan buatan Momoi-chan."
Senyum Hinata mengembang ketika mendengar lontaran pernyataan dari Nijimura. Memang benar apa yang diucapkannya. Hinata juga penasaran apa yang terjadi sebelum dirinya masuk ke tim basket. Apakah setiap hari mereka dipaksa makan makanan Satsuki? Ataukah mereka terpaksa memakannya karena tega jika sampai menyakiti hati si gadis berambut pink tersebut?
Entahlah. Hinata rasa mereka akan memakan makanan itu demi menjaga perasaan Satsuki. Tapi, untuk beberapa orang Hinata tak yakin. Lagipula ada Daiki, Ryouta dan Atsushi yang suka bicara terus terang. Kemungkinan merekalah orang yang menolak secara terang-terangan akan keajaiban makanan sang manager.
Pada akhirnya, baik Hinata dan Nijimura mulai hanyut dalam perbincangan tentang klub basket yang diikuti Hinata. Tak jarang Nijimura menanyakan apa saja tentang para pemain basket tersebut. Kadang Nijimura menggoda Hinata bahwa gadis itu sangat beruntung bisa berteman dengan idola-idola sekolah.
Pembicaraan yang seru itu berakhir waktu terdengar derit kursi di sebelah Nijimura. Tanda bahwa ada orang yang mengisi kursi kosong tersebut. Dan benar saja, saat iris lavender Hinata dan manik obsidian itu menoleh ke sumber suara mereka mendapati Neji yang baru saja bangun tidur.
"Ohayou, Niisan." Sapa Hinata lalu menyodorkan segelas susu hangat yang masih utuh pada Neji.
"Ohayou Hinata." Balas Neji lirih khas orang bangun tidur.
"Ohayou, Neji-chan~~" Sapa Nijimura diikuti kerlingan mata bak anak kecil saat bertemu sang ayah yang dirindukan.
"Subuh-subuh sudah bertamu tahukah kau bahwa yang kau lakukan itu menganggu acara tidirku? Tidakkah kau tahu aku ingin beristirahat." Neji memarahi Nijimura. Layaknya seorang ayah yang mengomeli putranya.
Dalam perdebatan antara Neji dan Njjimura, Hinata memilih jadi pendengar setia. Dia tidak akan ikut dalam perdebatan tersebut. Selain tak mau mengabaikan susu hangat di dalam genggamannya, Hinata ingin lebih mematri momen ini dalam ingatan jangka panjangnya.
"Hinata-chan." Manik Nijimura terarah ke lavender Hinata. Meminta agar sang adik dari si jenius Neji akan membelanya.
"Gomenne, Shuu-nii. Aku pihak netral." Ujar Hinata sambil mengulas senyum bersalah.
Mendemgar hal itu Nijimura kembali menatap Neji yang juga sedang menatapnya tajam. Seolah dipaksakan, Nijimura memasang senyum yang malah terlihat kaku di hadapan kedua Hyuuga tersebut.
"Gomenne, Neji-chan. Jangan marahi aku lagi ya. Aku akan jadi anak baik." Rayu Nijimura.
Sementara itu Neji masih terus melemparkan deathglare nya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengiyakan permintaan si sahabat konyolnya tersebut.
Sang pridogy Hyuuga itu meneguk susu hangatnya sampai setengah gelas. Di sela itu, Neji melontarkan perkataan yang membuat Nijimura langsung menghambur kepelukannya. Itupun jika Neji tak melemparkan tatapan peluklah-aku-jika-kau-sudah-siap-bertemu-mautmu.
"Jadi... apa yang kau ingin kami lakukan untuk membantumu?"
"Ayahku mau mengadakan pesta musim panas di rumah. Kalian pasti tahu berapa banyak hal yang harus di beli. Meskipun bukan pesta besar, tetap saja membutuhkan berbagai hal."
"Kau ingin kami mengawalmu berbelanja, begitu?"
Nijimura mengangguk semangat, "Sekaligus aku ingin mengundang kalian."
"Shuu-nii sudah datang jauh-jauh untuk mengundang kita. Meskipun undangannya tidak dibawakan dengan benar, tapi sepertinya seru merayakan musim panas ramai-ramai. Jadi... bagaimana keputusanmu, Niisan?" Hinata menoleh menatap Neji dengan sabar menanti keputusan sang kakak.
"Demi menghargai undangan keluargamu, kami akan ikut memeriahkan pesta musim panas kalian." Putus Neji sebelum menegak kembali minumannya. Kali ini sampai tandas.
"Arogatou ne, Neji-chan. Kau memang sahabat sejatiku."
Neji mendengus geli mendengar ucapan kekanakan Nijimura. Meskipun begitu dia tak memungkiri perasaan lega setelah melihat raut bahagia di kedua wajah orang di hadapannya.
Selepas itu, pembicaraan mereka berlanjut ke hal apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk pesta. Sekali lagi, Nijimura berhasil membuat Neji berang.
Bagaimana bisa Nijimura mengatakan pada orangtuanya jika dia yang akan mempersiapkan semuanya. Sedangkan dirinya sendiri tak tahu apa yang harus dipersiapkan. Haruskah Neji meminta stok kesabaran lebih pada Kamisama? Karena 70% stok kesabarannya selalu dihabiskan untuk menghadapi kekonyolan Nijimura.
.
Tepat pukul 9 pagi, Hinata, Neji dan Nijimura bersiap-siap untuk berbelanja. Karena ini sudah memasuki musim panas, mereka mengenakan baju yang sesuai dengan kondisi cuaca.
Hinata dengan dress one piece selutut berwarna biru langit. Tak lupa rambut yang dikuncir menampilkan leher jenjangnya. Sementara Neji hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu polos ditambah celana vens selutut berwarna senada.
Nijimura memakai baju putih dengan sedikit tulisan di bagian belakang. Juga sebuah celana training berwarna biru dongker. Sesuai sekali dengan dirinya yang santai.
Hinata berjalan diantara kedua pemuda tampan tersebut. Dan terkadang beberapa orang yang mereka lewati berbisik-bisik tentang ketiganya. Tentu mereka mengetahui hal itu, tapi mereka tak terlalu memperdulikannya.
Malahan itu membuat Hinata mengulas senyum kecil. Sembari melirik kedua laki-laki di samping kiri-kanannya.
"Senangnya bisa berjalan bersama dua laki-laki tampan." Gumam Hinata yang masih mampu tertangkap telinga Neji dan Nijimura.
Karena perkataannya, mereka berdua tergelak geli. Tak menyangka pernyataan seperti itu bisa terlontar dari gadis seperti Hinata.
Beberapa menit kemudian, Nijimura menggiring mereka ke sebuah taman kota yang tak jauh dari lokasi bangunan apartemen.
Rasa heran sempat menghampiri dua kakak beradik Hyuuga. Jika mereka mau ke toserba, kenapa mereka malah berjalan ke arah taman? Bukankah kedua tempat itu berbeda arah?
Namun setelah mereka sampai di tempat di mana masyarakat sekitar gunakan untuk berolahraga dan bermain-main, rasa penasaran itupun lenyap seketika. Baik Hinata maupun Neji mulai paham apa yang direncanakan Nijimura.
"Ohayou, minna." Sapa Nijimura sambil melambaikan tangan ke orang yang dituju.
"Ohayou." Balas mereka. Tujuh pemuda berambut pelangi yang tampak santai memakai pakaian musim panas mereka.
Di tengah-tengah mereka terdapat sosok Satsuki yang mengenakan setelan dress merah mudanya. Gadis berambut bumble gum itu menorehkan sebuah senyum manis saat melihat kedatangan mereka bertiga. Atau bisa disebut jika pandangan Satsuki hanya tertuju pada sosok Neji.
"O-ohayou, Shuuzou-san, Hinata-chan dan... Neji-san." Sapa Satsuki malu-malu.
"Hn." Neji mengangguk sekilas. Sementara Hinata hanya membalas dengan senyum ramahnya.
"Bisa jelaskan keberadaan mereka?" Tuntut Neji.
"Sebelum pergi ke apartemen kalian, aku bertemu dengan Kagami. Dan saat itu aku berpikir kenapa tidak kuajak dia untuk membantu kita. Jadi aku memintanya berkumpul di sini jam 9." Jelasnya diakhiri tawa kikuk. Karena sejak awal penjelasannya Neji terus memberinya tatapan tajam.
"Lalu mereka?"
"Nijimura-san mengundang kami ke pestanya. Dan juga sekaligus meminta bantuan kami untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan." Si Kapten merah ikut menjelaskan alasan kehadirannya di sini.
"Kalau kau punya bantuan sebanyak ini kenapa kau malah menemui kami?" Alis Neji terangkat sebelah.
"Kalian kan pintar dalam berbelanja. Lagipula kau sudah berjanji akan mengajariku." Nijimura balik menyerang Neji dengan pernyataannya. Pemuda itu mengingatkan Neji tentang janjinya yang lalu. Disamping itu dia tahu bahwa Neji tak akan pernah mengingkari janjinya sendiri.
"Niisan harus memegang kata-kata Niisan sendiri. Jadi, tak ada alasan untuk Niisan menolak ajakan Shuu-nii kali ini." Ujar Hinata mengerling pada sang kakak yang dibalas dengan helaan napas panjang.
"Baiklah. Tapi aku tak mau harus membawa barang-barangnya. Mengerti?"
"Yosh. Ayo belanja, ssu." Teriak Ryouta mengawali perjalanan mereka menuju toserba.
Selama dalam perjalanan Neji terus menggenggam telapak tangan Hinata. Sementara Nijimura yang berada di sebelah Hinata sibuk memeriksa daftar belanjaan.
Tepat di belakang mereka GoM dan Satsuki tak bersuara selama perjalanan. Walaupun begitu, hanya Ryouta lah yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
Shintarou yang berjalan di sebelahnya tampak sedikit risih akan hal itu. Namun dia menahannya. Sampai pemuda pecinta Oha-Asa tersebut mulai habis kesabaran. Bibirnya sudah gatal untuk menanyai pemuda hiperaktif tersebut.
"Kenapa dengan wajahmu, nanodayo? Aku bertanya bukan berarti khawatir." Ujar Shintarou sembari membenarkan letak kacamatanya yang tak bergeser sedikitpun.
Ryouta tersentak mendengar Shintarou melontarkan pertanyaan untuknya. Pemuda berambut pirang itu mengulas senyum lima jari sambil memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan alasan kenapa pikirannya kusut.
"Kenapa sejak tadi Neji-san selalu menggenggam tangan Hinata-chan?" Sela Satsuki.
Ryouta mengangguk kuat. Seolah apa yang dikatakan Satsuki menyerukan apa yang menjadi alasan kekusutan pikirannya.
"Hinatacchi seperti anak dan Neji-san terlihat seperti seorang ayah jika berpegangan seperti itu, ssu."
"Apakah Hinata-chin selalu seperti itu jika berjalan bersama Neji-nii?" Tanya Atsushi dengan wajah mengantuk layaknya anak kecil. Tak lupa sebungkus maibo ukuran jumbo di dalam pelukannya.
"Benar juga. Sejak festival sekolah kemarin aku juga melihat kalian selalu bergandengan tangan. Apakah kalian—"
"Hilangkan pikiran itu jika kau masih ingin hidup, Dobe." Perempatan kekesalan muncul di dahi Neji. Sebenarnya dua keturunan Hyuuga itu sempat merasa terkejut dengan pertanyaan Satsuki. Namun setelah mendengar ucapan konyol Nijimura membuat rasa terkejut itu hilang.
Hinata bahkan harus menahan kejengkelan Neji untuk menendang sang sahabatnya.
"Kalian hanya melihat tangan yang saling berpegangan. Tapi tak begitu teliti melihat genggaman tersebut." Hinata menjeda penjelasannya untuk mengulas senyum hangat, "Aku hanya ingin memastikan bahwa tangan yang kugengam adalah kakakku. Karena sebelum ini, ada yang melepas paksa genggaman tanganku yang lain."
Neji menatap sendu saat mendengar perkataan Hinata.
Nijimura merasa ada sesuatu yang berbau rahasia. Dan dia yakin bahwa memang ada sesuatu dengan dua Hyuuga itu yang tak dia ketahui.
Berbeda dengan Nijimura, delapan orang yang berada di belakang mereka mengartikan perkataan Hinata ke hal yang lain. Serentak setelah penjelasan dari Hinata, mereka menatap tangan Hinata yang terbebas. Sebelum mata mereka bergulir ke sosok Nijimura yang berada tepat di sisi di mana tangan kosong Hinata berada.
DEG
'J-jangan-jangan...' Pikir mereka secara serentak.
Hinata lalu melanjutkan perjalanan bersama Neji. Sementara yang lain masih sibuk memikirkan perkataan gadis indigo yang terdengar ambigu. Termasuk Nijimura yang terus menduga-duga apa yang disembunyikan keduanya sampai Neji memunculkan ekspresi sendu beberapa mili detik yang lalu.
.
Setelah 15 menit berlalu akhirnya mereka sampai di Toserba. Bangunan 4 tingkat yang menyediakan segala keperluan pesta mereka nanti sore. Selain area perbelanjaan di sini juga terdapat sebuah showroom yang pada hari-hari tertentu akan diadakan sebuah pertunjukan. Entah itu musik, stand up atau band. Yang pasti mereka bertujuan untuk menghibur para pengunjung yang datang ke sana.
Sementara tempat yang akan kumpulan remaja itu tuju adalah swalayan yang berada di lantai tiga. Dengan bantuan lift, mereka tak perlu susah payah menaiki tangga maupun eskalator. Walaupun mereka sempat kisruh karena Ryouta menuntut agar bisa se-lift dengan Hinata. Padahal dia tahu bahwa satu lift tak bisa menampung mereka semua.
Ruang lift hanya bisa menampung 10 orang dewasa. Sedangkan jumlah mereka adalah 11. Ditambah ada 3 orang yang sudah ada di dalam sana. Seorang ibu dan kedua anaknya.
Dengan keberadaan tiga orang itu jelas sekali bahwa tak semua dari mereka bisa masuk. Harus ada yang mengalah dan naik di antrian berikutnya. Tapi tetap saja tak ada yang mau mengalah.
"Baiklah. Ryouta-kun akan masuk ke dalam." Putus Hinata pada akhirnya.
"Lalu Seijuurou-chin dan Neji-nii?"
"Seijuurou-kun juga masuk ke dalam. Aku dan Neji-nii yang akan mengantri lift selanjutnya."
"Tapi—"
Hinata menatap lurus manik Daiki yang berniat melanjutkan sesi pertanyaan yang mana bisa menghabiskan lebih banyak waktu. Melihat ekspresi tak mengenakkan dari Hinata, Daiki memilih diam. Tak jadi merampungkan kalimatnya.
"Shuu-nii yang akan menunjukkan lokasinya. Kalian ikuti saja dia. Kami akan menyusul."
Saat Hinata menangkap gerak-gerik Satsuki yang ingin protes Hinata sekejap langsung memencet tombol tutup. Sambil mengulas senyum, dia menatap semua orang di dalam lift.
"Mata ne."
SET
Pintu lift tertutup sepenuhnya.
Nijimura memencet tombol lantai 3. Lalu lift mulai bergerak naik. Selama itu, tak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya suara mesin lift yang tertangkap telinga. Namun keadaan itu tak berlangsung lama. Keheningan yang tercipta hancur seketika oleh sebuah pertanyaan.
"Gadis yang cantik. Apakah dia sahabat kalian?" Pertanyaan yang ternyata keluar dari seorang ibu yang membawa kedua anaknya di dalam dua genggaman tangan.
Pertanyaan mudah seperti itu tentu dapat mereka jawab dengan cepat. Perhatian yang sebelumnya tertuju pada benak masing-masing berganti tertuju pada wanita berambut coklat muda tersebut.
"Kalian beruntung bisa berteman dengan gadis seperti itu." Ujar si ibu yang membuat kening Seijuurou mengerut.
Atsushi yang tak tahu apa maksud si wanita hanya tersenyum lebar, "Tentu saja. Berteman dengan Hinata-chin memang sebuah keberuntungan."
"Tapi, bagaimana Anda bisa megatakan bahwa kami beruntung berteman dengannya?" Tanya Tetsuya yang ternyata juga mengetahui ada kejanggalan dalam kalimat sang ibu.
"Onichan ini memang bodoh ya." Tukas salah seorang anak laki-laki yang lebih tua.
Mendengar hujatan dari seorang anak kecil, harga diri Daiki merasa terinjak. Akibatnya si ace Teiko itu menatap nyalang si bocah laki-laki.
"Apa katamu bocah?" Walau wajah Daiki terkenal sangar dikalangan anak-anak, namun anak kecil itu sama sekali tak terlihat gentar. Yang ada dia malah membalas tatapan Daiki dengan tak kalah tajamnya.
"Daiki. Jangan kekanakan, nanodayo. Kau mau dipanggil pengecut karena menantang anak kecil?" Shintarou menyela pertengkaran yang mungkin akan terjadi diantara dua laki-laki berbeda usia itu.
"Jangan mengguruiku Shintarou. Bukan masalah anak kecil atau tidak. Tapi ini masalah harga diri."
"Lalu apa lagi sebutan untuk orang sebebal Niisan jika bukan bodoh? Idiot, huh?"
Si ibu menepuk punggung si anak dengan pelan. Berusaha memperingatkan bahwa perilakunya tak mencerminkan seorang anak yang sopan santun.
"Jangan berbicara seperti itu pada seseorang yang lebih tua, Syo-kun."
Satsuki menyikut perut Daiki dan melemparinya dengan tatapan tajam. Lalu dalam sekejap pandangannya jadi lebih lembut saat menatap sang anak yang berani menantang sahabat masa kecilnya itu.
"Kenapa kau bisa bilang bahwa kami bodoh? Bisa kau jelaskan?" Ucap Satsuki dengan nada ramah.
"Sebelum kujawab, aku akan bertanya adakah dari kalian yang memiliki seorang saudara kandung?"
Shintarou membenarkan letak kacamatanya dan menatap si anak dengan pandangan lurus. "Aku. Kenapa?"
Ryouta pun mengangkat tangannya. "Aku, ssu. Aku punya dua nee-chan. Mereka juga seorang model sepertiku, ssu."
Mendengar penjelasan dari Ryouta seketika membuat si anak beralih menatap pemuda kuning tersebut.
"Bagaimana jika salah satu dari mereka mati?"
Ryouta tersentak kaget. Tak menyangka kalimat itu yang akan dia dengar dari bocah cilik di hadapannya. Mendadak lidahnya menjadi kelu. Dia tak tahu apa yang akan dia katakan untuk mejawab perkataan si anak.
Si anak menyeringai lalu menatap sang ibu yang tiba-tiba membekap mulutnya.
"Maafkan anakku. Dia memang suka bicara ngawur."
Tetsuya menggelang pelan, "Nandemonai yo, Baasan. Syo-chan, bisa katakan mengapa kau berbicara seperti itu?"
Walaupun Tetsuya sudah bilang seperti itu namun si ibu terus membekap mulut si anak. Tak membiarkannya menyelesaikan masalah yang dia timbulkan.
Tepat di sampingnya sang saudara yang melihat hal itu hanya diam. Matanya bergulir menatap Tetsuya.
Bertepatan dengan itu suara lift berdenting. Tanda bahwa mereka sudah sampai di lantai tiga. Tak mendapati jawaban dari si anak membuat mereka segera melangkah keluar dari ruangan sempit tersebut.
Tetap sebelum pintu tertutup si bungsu berkata, "Oni-chan. Nee-chan bermata bulan tadi adalah satu dari 1000 orang yang bisa kalian temui. Meskipun begitu sebagai sahabat, tugas Onee-chan dan Oni-chan hanya harus berada di sampingnya dan menjadi sandarannya."
.
5 menit berikutnya, Neji dan Hinata menampakkan batang hidungnya. Mereka memasuki swalayan dan mulai mencari keberadaan yang lain. Tak sulit menemukan mereka. Selain tinggi badan yang tak begitu biasa rambut mencolok mereka bisa dijadikan ciri khas.
"Apakah kalian menunggu lama?"
Merasa diajak bicara, Satsuki menengok ke belakang. Seketika wajahnya merona. Neji tepat 3 langkah di belakangnya. "T-tidak. K-kami baru saja berkeliling."
Hinata melirik 2 keranjang belanjaan yang dibawa oleh Tetsuya, Satsuki. Sedangkan Ryouta memilih menggunakan troli belanjaan. Untuk yang lain, mereka memilih mengekor di belakang Nijimura. Seperti anak bebek.
"Ada baiknya kita berpencar untuk menemukan semua yang kita butuhkan." Intruksi Hinata sambil mengulurkan tangan kanannya pada Nijimura.
Seolah paham. Nijimura memberikan kertas daftar belanjaannya.
SREK
Hinata merobek kertas itu menjadi 2 bagian. Satu dipegang olehnya. Satunya lagi diulurkan pada Neji. "Satu kelompok akan bersamaku. Dan kelompok lainnya akan bersama Neji-nii."
"Aku mau satu kelompok dengan Hinatacchi, ssu." Seru Ryouta.
Hinata melirik sekilas kertas ditangannya lalu menoleh pada Ryouta. "Kau memang akan satu kelompok denganku, Ryouta-kun. Selain itu, aku butuh Taiga-kun, Daiki-kun, Shintarou-kun dan Atsushi-kun."
"Kenapa aku tidak ikut?" Tanya Tetsuya yang merasa sebal dengan ekspresi bahagia Ryouta. Seolah wajah pemuda itu meminta ignite pass kai-nya.
"Maaf, Tetsuya-kun. Tapi bagianku adalah barang-barang yang berat. Aku khawatir kau akan kesulitan." Tutur Hinata tanpa maksud tertentu.
Berbeda dengan Daiki yang tak bisa menahan diri. Pemuda berkulit eksotis itu tertikik geli menertawakan Tetsuya. Berbanding terbalik yang lain yang menahan tawa.
Tetsuya yang memang terlalu peka mendekat perlahan-lahan pada Daiki. Kemudian tanpa aba-aba, Tetsuya meluncurkan tekhnik ignite pass kai pada perut Daiki. Menyebabkan pemuda itu tersungkur dan terguling-guling ke belakang dengan tak elitnya.
"Hinata-san. Aku akan berolahraga dan membentuk tubuhku. Agar kau tak menganggapku lemah." Tetsuya membalikkan badan. " Ayo Neji-san. Kita mulai mencari barang yang kita butuhkan.
"Jika kalian selesai, tunggu kami di depan rak sayuran." Ujar Nijimura.
Setelah kepergian tim Neji, Hinata membaca sekali lagi daftar belanjaan yang harus mereka cari. Baru selanjutnya dia mengarahkan pemuda-pemuda itu ke tempat tujuan.
"Kita cari minuman yang bersoda sebanyak 5 botol." Ucap Hinata memimpin rombongan.
Setibanya di rak minuman, Ryouta mendorong troli belanja tepat di depan minuman bermerk yang dia kenal.
"Kita ambil ini ya?" Sahut Ryouta menunjukkan sebuah botol pada Hinata.
"Tidak. Taruh kembali." Hinata menolak setelah melirik sekilas pada minuman yang disodorkan Ryouta.
"Kalau yang ini?" Ryouta kembali menunjukkan merk yang lain.
Hinata menggeleng.
"Yang ini?" Kembali sebuah gelengan yang didapat Ryouta atas segala saran yang dikeluarkannya.
"Kau mencari minuman seperti apa?"
Hinata diam. Tak bisa menjawab pertanyaan sederhana Daiki. Dirinya juga masih mencari minuman yang dia maksud. Matanya menelusuri setiap rak minuman. Berharap menemukan apa yang dicari.
"Apakah ini yang kau maksud?" Shintarou menunjukkan sebuah merk yang tak begitu terkenal di pertelevisian namun terkenal di kalangan masyarakat.
Hinata mengamati apakah merk itu memang yang dicarinya atau bukan. Dan benar saja saat melihat bahwa aspek gizinya sesuai yang diinginkannya, Hinata mengulas senyum manis.
"Kau menemukannya di mana?" Tanya Hinata.
"Ada beberapa di sebelah sana, nanodayo." Tunjuk Shintarou.
"Taiga-kun tolong bantu Daiki-kun mengambil minuman itu." Perintah Hinata yang langsung dilaksanakan tanpa bantahan. Hinata lalu mengambil botol di genggaman Shintarou dan menaruhnya di dalam troli.
"Arigatou, Shintarou-kun." Ucap Hinata tersenyum manis.
Shintarou membenarkan kacamata alih-alih menutupi rona merah di pipinya. Lalu berdehem guna menghilangkan kegugupan di dalam dirinya. "Aku memang tahu apa yang kau cari, nanodayo. Jadi tak perlu berterimakasih."
"Booo... Midorimacchi tsundere, ssu." Ledek Ryouta yang tadi sempat melihat rona merah mengunjungi wajah si shooter.
"Urusai."
"Jangan bertengkar. Sekarang kita cari barang selanjutnya."
Sama seperti komando dari Hinata, 5 pemuda itu melaksanakan apapun yang diperintahkan gadis itu. Walau terkadang mereka salah dalam mengambil beberapa benda. Meskipun begitu, Hinata dengan sabar menjelaskan pada mereka bahwa ada pilihan yang lebih baik.
Sesekali Ryouta membuat lelucon dengan berbagai barang. Tak ada alasan untuk mengabaikan humor Ryouta yang terdengar nyeleneh. Padahal lelucon itu biasa saja. Tetapi entah mengapa jika yang mengatakannya Ryouta itu akan terdengar lucu. Bahkan Shintarou yang selalu menjaga sikap tenangnya tak tahan jika dihadapkan dengan lelucon Ryouta.
Walau hanya sesungging senyum, namun Shintarou cukup terhibur dengannya.
Keseruan mereka ternyata diamati oleh sepasang manik yang memancarkan aura permusuhan. Orang itu merasa tak suka dengan apa yang dilihatnya. Terlihat jelas dengan kedua tangannya yang terkepal erat.
"Aku bersumpah akan menghancurkanmu, Hinata. Akan kuhancurkan sampai kau harus membunuh dirimu sendiri." Geramnya kemudian berlalu pergi.
.
"Hinatacchi, aku mau minuman kaleng." Rengek Ryouta saat mereka akan pergi ke tempat berkumpul.
Hinata menghentikan langkah untuk memandang sang model majalah. Tepat saat Hinata akan berkata sesuatu, matanya menangkap sesosok yang begitu familiar. Seseorang yang tengah menatapnya tajam dengan seringai iblis. Seseorang yang tak akan bisa Hinata lupakan.
"Hinatacchi~~~"
Pikiran Hinata kembali terpecah ketika Ryouta kembali memanggilnya. Gadis itu tersenyum kecil, "Pergilah dulu, aku akan menyusulmu."
"Arigatou, ssu." Seru Ryouta bahagia. Sekejap dia berjalan cepat menuju rak minuman.
Sementara itu Hinata menaruh perhatian pada keempat pemuda yang tersisa. "Kalian pergi dulu saja. Aku akan menemani Ryouta-kun."
"Hinata-chin."
"Iya?"
"Kau tak akan bermesraan dengannya kan?"
"Tidak."
Atsushi mengangguk lambat, "Kami pergi dulu, Hinata-chin."
Hinata kemudian berjalan ke arah yang sama di mana Ryouta pergi. Tak perlu jauh-jauh untuk mencari keberadaan si model hiperaktif, karena tepat di depan mata Hinata sudah bisa menangkap sosoknya.
Ryouta tengah sibuk berjongkok untuk mengamati beberapa merk minuman isotonik. Mencari diantara banyaknya merk isotonic yang terpajang. Beberapa kali Hinata bisa melihat berulang kali Ryouta membandingkan merk satu dengan yang lain. Seolah dia belum pernah melihat mereka.
Tepat satu meter di belakang Ryouta berdiri kokoh piramida 1x1 meter yang tersusun dari kaleng minuman pereda panas dingin. Minuman yang baru-baru ini menghiasi iklan di televise. Menurut Hinata, untuk mempromosikan minuman baru tersebut, toserba ini terbilang kreatif. Karena pada dasarnya perhatian manusia akan tertarik pada hal yang unik dan tak biasa.
Decakan kagum Hinata berikan untuk siapapun yang telah memikirkan ide sejenius itu.
Hanya saja kekaguman itu dalam sekejap berganti dengan keterkejutan. Langkahnya ikut berhenti karena rasa kagetnya itu.
"Shion." Sebut Hinata tatkala melihat sosok yang sejak tadi dia perhatikan selalu mengamatinya.
Sosok gadis yang sekarang tengah berdiri pas bersebrangan dengan Ryouta. Jika Ryouta berada di depan piramida kaleng, maka di gadis berambut pirang berada di sebaliknya. Dia berdiam diri di sana sambil menatap kosong kaleng-kaleng yang tersusun rapi di hadapannya.
Jujur, Hinata sedikit kaget dengan keberadaan Shion di sini. Karena seingat Hinata bahwa Shion bukanlah gadis yang menyukai tempat seperti ini. Saat masih kecil dulu, Shion selalu dikelilingi barang-barang branded. Tak sekalipun Shion mau menginjakkan kaki di tempat-tempat seperti ini.
Jadi tak heran jika Hinata begitu kaget.
Dalam keterkejutannya, Hinata melihat Shion mengulurkan tangan ke depan. Entah kenapa saat itu juga detak jantung Hinata bekerja 2 kali lipat. Darahnya memompa dengan cepat. Rasanya seperti akan meledak.
Dan Shion, seolah mengetahui kehadiran Hinata gadis itu menolehkan wajah ke samping. Mempertemukan dua manik yang hampir serupa itu. Tanpa disangka, Shion melemparkan seringai padanya. Dan kemudian bibirnya bergerak seolah mengucapkan sebuah kata.
Mata Hinata menyipit alih-alih untuk menerjemahkan apa yang dikatakan Shion.
"E…nyah."
DEG
Mengerti akan kemungkinan apa yang akan terjadi, Hinata segera mengambil langkah seribu untuk berlari. Fokusnya bercabang, satu mengarah pada Ryouta yang tak menyadari keadaan berbahaya. Dan satunya pada Shion yang mulai mendorong tumpukan kaleng tersebut ke arah si pemuda.
Tepat saat itu telinga Ryouta menangkap suara aneh di belakangnya. Karena penasaran, dia berniat membalikkan badan berharap mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Dan Ryouta terperanjat mana kala dia melihat tumpukan kaleng yang semula berdiri apik di belakangnya sekarang akan roboh menimpanya.
Tak sempat berpikir untuk menghindar, Ryouta memilih untuk diam di tempat dan menutup mata. Sepertinya dia sudah pasrah atas apa yang akan terjadi padanya. Dalam hati dia membayangkan bagaimana rasanya tertimpa ratusan kaleng minuman itu. Apakah menyakitkan? Mungkin hanya tergores sedikit. Paling parah mungkin ada beberapa bagian tubuhnya yang lecet.
Untuk itu, Ryouta mulai menghitung mundur. Menghitung mundur atas kemalangan yang akan dia rasakan.
KLONTANG KLONTANG
"Oyama..! Bunyi apa itu?" Satsuki mengelus dadanya setelah terkesiap mendengar bunyi nyaring yang entah berasal dari mana.
Tepat di sampingnya, Tetsuya memperhatikan Satsuki dalam diam. Tidak tahu mengapa hatinya dilanda rasa khawatir. Suara kaleng jatuh tadi entah mengapa membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.
"Paling hanya tindakan ceroboh pengunjung, nanodayo."
"Menurutmu apa suara tadi berasal dari ratusan kaleng minuman yang disusun menjadi piramida?" Daiki bertanya.
"Mungkin." Sahut Taiga sambil memainkan troli belanja yang berisi penuh barang-barang mereka.
"Pasti rasanya seperti tertimpa 4 tubuh Atsushi." Sambung Satsuki.
"Aku hanya ada satu Momochin." Ujar Atsushi dengan polos. Satsuki hanya mengulas senyum ringan, memahami kepolosan Atsushi yang setara anak TK.
"Aku tak bisa membayangkannya." Nijimura meringis membayangkan bagaimana rasanya tertimpa banyaknya kaleng seperti itu.
Sementara mereka sibuk membayangkan apa saja yang akan terjadi pada si 'pengunjung malang', Neji dan Seijuurou memilih diam. Tak mau ikut campur dalam pembahasan tak mutu mereka.
Sampai manik perak Neji memergoki sosok Shion yang melintas tepat beberapa meter di depannya. Mata Neji terus mengawasi Shion. Merasa diperhatikan, Shion melirik ke samping. Tepat ke manik Neji. Dalam lirikan mata itu, Neji bisa merasakan celaan yang diarahkan untuknya. Sebelum Shion memilih untuk memalingkan wajah dan memutuskan kontak mata mereka sepihak.
Anehnya, baru beberapa langkah yang dia ambil Shion malah berhenti dan menoleh sepenuhnya pada Neji. Menatap sepenuhnya pada saudara pepupunya. Hanya dalam 3 detik. Sebelum Shion kembali berjalan dan menghilang dari pandangan Neji.
Namun dalam 3 detik itu, Neji mengerti apa yang dilontarkan Shion. Dan karena itu juga sekarang Neji mendadak menggiring kakinya untuk berlari dan mencari dua sosok yang sejak tadi belum kelihatan batang hidungnya.
"Eh… Neji..! Kau mau ke mana?!" Nijimura yang seperti terikat tali dengan Neji mengikuti ke manapun Neji berlari. Nijimura hanya merasa was-was saja masalahnya adalah perubahan sikap Neji. Yang mana selama dia berteman dengan Neji, setiap kali pemuda itu seperti ini pasti sebuah pertanda buruk.
"Atsushi. Satsuki. Kalian tunggu di sini dan jaga belanjaannya." Tihtah Seijuurou sebelum mengikuti arah di mana Neji dan Nijimura menghilang. Di belakang si pemuda merah, Taiga, Daiki, Tetsuya dan Shintarou mengekor. Mereka juga ingin tahu apa penyebab perubahan tingkah Neji.
Sementara itu, Ryouta masih saja berhitung. Tapi, sudah setengah menit berlalu dirinya tak juga merasakan sakit. Malahan, yang dia rasakan adalah sepasang tangan hangat yang menelingkupi tubuhnya. Sepasang tangan yang mendekapnya erat.
Ryouta bisa merasakan kehangatan tangan itu di atas punggung dan kepala belakangnya. Dan jika tebakannya benar, maka wajahnya sekarang berada di perpotongan leher penyelamatnya.
Memberanikan diri untuk membuka mata, pandangan yang ditangkap Ryouta pertama kali adalah leher jenjang nan putih si penolong. Perlahan tapi pasti Ryouta mulai mendorong tubuh si penolong agar menjauh darinya. Berharap jika dia bisa melihat wajahnya.
Tapi, saat melihat wajah si penolong Ryouta tertegun. Niat hati ingin berterimakasih, Ryouta malah bungkam.
Nafas Ryouta seakan tersendat di tenggorokan, "H-Hinatacchi. A-apa yang—"
SET
Tangan Hinata terulur untuk mengusap kepala Ryouta. Mengusap dengan gerakan halus. Sambil tersenyum lemah, Hinata berkata lirih, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
TES
Setetes cairan kental jatuh menimpa pelipis Hinata, mengalir turun ke pipinya dan berhenti di sana. Warna merah di cairan itu membuat Ryouta membelalakkan mata.
"Hinata..!" Teriak Neji dari kejauhan.
Kakak dari Hinata itu berlari sekuatnya setelah menemukan keberadaan sang adik. Rasa lega yang baru saja memdatangi hatinya harus berubah menjadi rasa cemas tatkala melihat ekspresi kekagetan Ryouta.
Pun sama dengan orang-orang yang mengikutinya. Mereka juga merasa khawatir dengan keduanya. Dan kecemasaan sesaat yang Tetsuya dan Neji rasakan sebelumnya menjadi kenyataan. Memang terjadi sesuatu pada kedua orang itu.
DRAP DRAP DRAP
Dalam sekejap 7 pemuda itu sudah berada di samping Ryouta dan Hinata.
Seketika kecemasan Neji bertambah beberapa kali lipat saat melihat darah di pipi kiri Hinata.
"Jelaskan apa yang sudah terjadi." Neji mengarahkan tatapan tajamnya pada Ryouta.
Takut-takut Ryouta membalas tatapan Neji. Tubuhnya mulai gemetar. Keadaan seperti ini sama sekali tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Apalagi melihat Hinata yang berdarah karenanya. Sungguh membuat lidah Ryouta terasa kelu. "A-aku… a-aku…"
"Katakan saja. Kami tak akan marah." Tutur Seijuurou yang mengerti kegugupan Ryouta.
"…." Ryouta masih bungkam. Matanya kembali menatap cairan yang masih menempel di pipi putih Hinata. Sangat kelihatan kontras. Tubuhnya semakin gemetar membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Ck. Kau mulai membuatku kesal Kise." Decak Daiki yang memang tak sabaran. Salah satu tangannya menarik kerah baju Ryouta. "Katakan apa yang terjadi?"
Shintarou dan Tetsuya mencoba menghentikan tingkah seenaknya Daiki. mereka tak menyalahkan kecemasaan si pemilik kulit eksotis itu, karena baik Tetsuya maupun Shintarou juga ingin tahu apa yang telah terjadi.
Tapi mereka juga tak tega jika memaksakan kehendak pada pemuda yang sedang terguncang emosinya itu.
"Siapa yang melakukan ini?" Taiga menatap ke sekitar, memperhatikan betapa berantakannya tempat ini. Banyak kaleng berserakan ke segala arah. Hanya beberapa yang masih berdiri di tempat semula, namun sebagian besar sudah berhamburan ke mana-mana.
"Shion." Gumam Hinata.
Suara lirih yang akhirnya keluar dari bibir Hinata menarik perhatian mereka. Beberapa pertanyaan bermunculan dalam benak mereka. Namun tak ada yang berani mengatakannya secara langsung.
Mata Hinata kemudian menatap lurus Neji. Untuk beberapa detik kedua kakak beradik itu saling berpandangan sebelum Hinata memilih memutuskan kontak alih-alih menatap Ryouta yang masih gemetar.
Pemandangan itu membuat sesuatu dalam diri Hinata bergejolak. Entah apa yang bangkit dalam dirinya namun Hinata tak suka melihat kegemetaran yang Ryouta alami. Seketika Hinata bangkit berdiri. Tanpa mengatakan apapun Hinata mengambil langkah untuk menjauhi mereka.
"Mau ke mana?" Tanya Neji mampu menghentikan langkah Hinata. Satu-satunya pemuda berambut panjang itu berjalan dan menempatkan dirinya tepat di hadapan Hinata.
DEG
"Mengejarnya." Jawab Hinata dengan suara datar. Persis seperti seekor singa betina yang sedang marah.
"Tidak boleh." Tolak Neji.
"…" Hinata menatap tajam Neji. Seolah tak terima bantahan yang diajukan olehnya. Untuk Neji sendiri, dia tak perduli dengan tatapan yang dilemparkan Hinata padanya. Dia akan terus mencegah Hinata untuk mewujudkan keinginannya. Walaupun hal itu memaksa Neji harus menggunakan cara kasar sekalipun.
"Mereka sudah khawatir. Jangan menambah kekhawatiran mereka." Bisik Neji. Tatapannya kemudian melunak saat Hinata mulai menemukan kesadarannya.
"Kita sembuhkan lukamu terlebih dahulu. Dan Ryouta…" Neji menatap pemuda pirang yang sekarang sudah bisa berdiri di samping Taiga dan Daiki. "Kami tidak akan memaksamu untuk bercerita."
"Dobe, bisa tolong selesaikan masalah ini? Aku akan membayar belanjaannya. Dan kalian, bisa obati Hinata?" Tak mau mengeruhkan suasana yang sudah membaik mereka segera mematuhi perintah Neji.
Seijuurou membantu Nijimura membereskan masalah tadi, sementara yang lain menggiring Hinata ke lobi toserba. Taiga dan Daiki menyusul setelah membeli beberapa peralatan medis untuk Hinata.
Kebosanan Atsushi dan Satsuki pecah saat melihat kedatangan Neji. Pemuda itu meminta bantuan keduanya untuk membawakan barang-barang mereka ke kasir.
Sementara itu, di lobi Shintarou dengan sigap mengobati luka di dahi Hinata. Dan beberapa luka gores di lengan Hinata. seperti seorang dokter yang professional, Shintarou dengan cekatan menutup luka-luka itu dengan plester.
"Masih sakit?" Tanya Shintarou selesai mengobati Hinata.
"Tidak."
"Hinata-san. Kumohon, setelah semua kejadian tadi jangan berbohong dan menambah kecemasan kami." Tutur Tetsuya dengan suara yang tak terdengar datar seperti biasa.
"Hanya sedikit sakit di beberapa bagian. Tapi tidak parah kok. Jangan khawatir."
Daiki menekan tepat di dahi Hinata yang terluka. Spontan saja hal itu membuat si korban mendesis dalam. "Heh… tidak parah katamu?"
"Apa yang kau lakukan?! Kau membuatnya kesakitan, Aomine!" Seru Taiga marah.
"Hanya menyadarkannya agar tak lagi berbohong." Jawab Daiki santai.
Ryouta hanya terdiam. Tak berniat berbicara. Kejadian tadi sepertinya masih membekas di dalam ingatannya. Dan itu sungguh membuatnya frustasi.
Hinata terluka karena melindunginya.
Hinata berdarah karenanya.
'Aku sungguh tak berguna.' Batin Ryouta mengutuk dirinya sendiri.
"Ryouta-kun. Tak ada yang menyalahkanmu." Hinata memahami kegelisahan Ryouta. Dan dia tak mau sampai hal itu membuat Ryouta menyalahkan dirinya sendiri. Dia tak ingin Ryouta semakin terpuruk. Makanya, dia harus menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Aku terluka karena keputusanku. Misalkan yang berada di sana tadi adalah Tetsuya-kun atau Atsushi-kun, aku pasti juga akan melindungi mereka. Jadi… jangan menyalahkan dirimu sendiri."
TES TES
"Hinatacchi… hiks.. hiks…"
Ryouta menangis. Dadanya kembang kempis mengeluarkan segala keresahan yang sejak tadi menggelayuti hati dan pikirannya. Air matanya tak mau berhenti keluar. Entah ini adalah air mata kesedihan atau kebahagiaan dia sendiri tak tahu.
Yang pasti dirinya merasa lega.
Dia pikir Hinata akan membencinya. Dia pikir Hinata tak akan mau berteman dengannya lagi. Dia takut. Jika Hinata tak mau berbicara dengannya lagi.
Tapi, pemikirannya salah. Hinata tak menyalahkannya. Hinata masih mau berteman dengannya.
"Huaa… Hinatacchi… bolehkah aku memelukmu lagi?"
Mendengar permintaan Ryouta, Daiki dan Taiga menolak. Shintarou dan Tetsuya menjuhkan Hinata dari jangkauan Ryouta.
"Bisa-bisanya kau mencari kesempatan di saat seperti ini." Ujar Shintarou sambil menatap tajam Ryouta.
Tak merasa takut, Ryouta malah memajang wajah polos. "Bukankah pelukan bisa mengurangi rasa khawatir?"
Tak lama setelah itu yang lain mulai datang satu per satu. Sesuai dengan dugaan Hinata, Satsuki akan histeris saat melihat seluruh tubuhnya diplester. Gadis bumble gum itu mengajukan banyak pertanyaan seputar alasan mengapa plester luka menghiasi tubuhnya. Dia menuntut penjelasan dari Hinata. Tapi dengan perintah dari Neji, Satsuki terdiam tak berani melanjutkan tuntutannya.
Dan sejak detik itu Neji meminta mereka melupakan kejadian ini.
.
Saat matahari nerada di atas kepala kegiatan belanja mereka selesai. Sebelum pamit, Nijimura mengucapkan banyak terimakasih. Karena atas bantuan mereka dia merampungkan tugasnya dengan mudah dan cepat.
Pun sama dengan Neji yang ijin undur diri pada mereka. Katanya dia ingin mengajak Hinata ke suatu tempat sebentar. Saat mereka mau ikut Neji melarang. Dia tak mengijinkan ada yang mengikuti mereka. Karena ancaman itulah, mereka lalu menurut.
Sepeninggal Hinata dan Neji, mereka kembali diselimuti keheningan. Tak ada yang berniat bersuara.
Mereka merasa hari ini cukup melelahkan. Padahal hari masih panjang tapi rasanya sangat meletihkan. Lagipula sudah terlalu banyak hal yang terjadi hari ini.
TAP
Daiki menengok ke belakang. Melihat Ryouta yang terdiam di tempat. Tanpa sadar dia ikutan berhenti untuk memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja.
Setelah kejadian tadi Daiki sempat khawatir dengan mental Ryouta.
"Oi. Baka. Jangan berhenti seenaknya."
Ryouta diam. Tak membalas makian Daiki. Dia hanya menatap jalan yang dipijaknya. Tangannya lalu terkepal erat. Seolah batinnya tengah berperang.
Memdengar ada keributan di belang membuat yang lain ikut menghentikan langkah masing-masing. Mereka menoleh ke belakang guna melihat apa yang sedang terjadi.
Seperti Daiki, perhatian mereka lalu terfokus pada Ryouta. Yang mana pemuda kuning itu terus membisu layaknya patung.
"Kau mau mengatakan sesuatu, Ryouta?" Tanya Seijuurou yang melihat gelagat Ryouta yang seakan ingin mengeluarkan sesuatu di dalam benaknya.
"Kalian ingat apa yang dikatakan anak kecil di dalam lift tadi?" Tanya Ryouta meski sempat dilanda keraguan kemudian dengan hati-hati memandang mereka satu per satu.
"Kurasa aku tahu apa maksudnya." Ryouta lantas menatap kedua telapak tangannya yang mulai gemetar lagi. "Satu dari seribu orang. Itu maksudnya adalah Hinata rela membahayakan dirinya untuk keselamatan kita. "
"Jangan ngawur Ryouta." Sentak Taiga. Walau dia senang dengan perkataan Ryouta namun ada rasa tak suka saat mendengar Hinata yang berani membahayakan dirinya hanya untuk mereka.
"Pertemanan kita bahkan belum ada setahun. Mana mungkin Hinata mau melakukan itu." Daiki setuju dengan pernyataan Taiga.
"KALIAN SALAH!" Untuk pertama kalinya Ryouta berani membentak Daiki ditambah dengan tatapan tajam yang dia arahkan pada idolanya itu.
Semburan amarah Ryouta membisukan mereka. Baru kali ini mereka melihat kemarahan Ryouta. Selama ini yang mereka lihat dari Ryouta adalah sikap kekanakannya. Tapi mereka tak menyangka jika Ryouta bisa marah karena hal sepele itu.
"Kalian tidak tahu. Saat akan tertimpa puluhan kaleng tadi… Hinata… Hinata melindungiku." Ryouta mengepalkan tangannya. Suaranya menjadi lemah. Berbanding terbalik dengan tadi.
"Dia menjadikan dirinya tameng untuk melindungiku."
"Hinata bahkan tidak berpikir jika tubuh wanita itu lebih lemah dari tubuh laki-laki. Dia tak berpikir bahwa jika aku yang tertimpa mungkin aku hanya akan tergores dan ngilu di beberapa tempat. Dia bahkan tidak sempat memikirkan itu. Hinata no Baka."
HIKS HIKS
Ryouta tak lagi bisa membendung air matanya. Setiap kali dirinya teringat kejadian tadi, rasanya ingin menangis. Melihat Hinata yang terluka karenanya asalah hal terakhir yang ingin Ryouta lihat.
Terlebih lagi jika sampai Hinata terluka. Kenapa Hinata harus melindunginya.
'Kenapa?' Batinya pilu.
"Hiks… laki-laki macam apa aku ini..!" Ryouta menjerit histeris. Jerit tangisnya mendatangkan banyak perhatian dari orang-orang. Beberapa orang berhenti hanya sekedar menonton dan ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Saat mereka mengetahui bahwa pemuda yang sedang menangis histeris itu adalah seorang model yang sedang naik daun. Mereka mulai bergossip. Bisik-bisik terdengar sampai ke telinga Ryouta. Namun dia tak hiraukan.
Dia tidak perduli jika mereka menjelekkan dirinya. Hanya saja saat mendengar ada yang menuduh sahabat-sahabatnya telah menyakitinya Ryouta geram. Marah pada dirinya sendiri.
Kenapa teman-temannya harus ikut dijelekkan karena kesalahannya?
Akibatnya, Ryouta seketika berhenti menangis. Dengan kasar dia mengusap air matanya. Hingga menyisakan mata sembab dan hidung memerah. Khas seperti orang yang menangis semalam suntuk.
"Maafkan aku. Aku memang tak berguna. Maaf."
DRAP DRAP DRAP
Setelah berketa seperti itu Ryouta langsung berlari meninggalkan mereka. Ryouta kabur karena tak mau membuat orang-orang berpikiran buruk pada teman-temannya. Tidak lagi.
Daiki yang benci dengan hal-hal rumit menjadi jengkel sendiri. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Dan lagi, kenapa orang-orang ini masih berkumpul di sini? Apa mereka tak ada kerjaan lain?
"Apa lihat-lihat? Bubar sana..!" Bentak Daiki. Mengindahkan perintah dari pemuda eksotis itu, orang-orang mulai bubar. Mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Daiki mengusap kasar wajahnya. Tanda bahwa emosinya berada di level tinggi.
"Daiki. Setelah ini menjaulah dari barang pecah belah. Jangan membuat kamarmu menjadi tempat sampah, nanodayo." Shintarou lalu membetualkan letak kacamatanya, "Jika tidak, akan kuberitahu Ibumu di mana saja tempatmu menyembunyikan majalah Hirokita Mai."
"Apapun yang terjadi, nanti sore kalian harus hadir di pesta Karasuma-sensei. Tidak sopan jika kita tidak hadir di pestanya setelah kita menerima undangan." Tambah Seijuurou.
.
Setelah belanja, Neji mengajak Hinata ke taman yang sama saat menemui teman-teman yang lain. Dan sejak tiba sampai sekarang Neji belum mengatakan apapun. Dia malah menyaksikan anak-anak SD dan TK yang sedang asyik bermain.
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan kita pulang saja." Putus Hinata yang tak tahan dengan suasana canggung di antara mereka.
"Hei.. Hinata." Neji menatap lurus manik Hinata. Suara datar Neji terasa aneh di telinga Hinata.
"Hn?"
"Jangan bangkitkan dia lagi." Ujar Neji masih menatap datar Hinata.
Sedangkan Hinata terperangah kaget. Mata polosnya menatap Neji. Hanya saja, kali ini tanpa cahaya kehidupan yang terpancar di dalamnya.
"Aku menyayangi kalian."
DEG
Tanpa sadar, mata Neji berkaca-kaca mendengar penuturannya. Neji menutup matanya lalu menarik napas panjang. Tangannya terkepal erat. Sungguh berat untuk mengatakan hal itu. Tapi Neji harus melakukannya. Harus. Karena ini dia lakukan demi adiknya. Agar kehidupan Hinata kembali normal.
"Tidak boleh. Pokoknya jangan pernah keluar lagi. Mengerti?!" Bentak Neji.
.
Jam baru menunjukkan pukul 6 sore. Namun kediaman Nijimura sudah terlihat ramai. Beberapa undangan telah hadir di pesta kecil-kecilan mereka. Karena tema pestanya adalah garden party, orang-orang menggunakan pakaian santai.
Tepat di bangku taman keluarga Nijimura, terdapat sosok Ryouta yang menatap murung gelas sodanya yang tinggal setengah. Dalam kesunyian yang dia ciptakan, Ryouta sibuk memikirkan banyak hal. Termasuk kejadian siang tadi. Saat dia berani membentak teman-temannya.
Bahkan disaat itu dia tak memikirkan apakah Seijuurou akan marah padanya atau tidak. Atau mungkin mereka akan membencinya karena hal tadi. Ryouta dilema. Dia ingin minta maaf, tapi ragu apakah mereka akan memaafkannya atau tidak.
"Boro-boro dimaafkan, mungkin sebelum aku meminta maaf Akashicchi akan membunuhku dengan guntingnya, ssu." Ryouta mengacak kasar rambutnya.
"Aku tidak keberatan dengan permintaanmu itu, Ryouta." Sahut sebuah suara yang familiar dari belakang Ryouta.
Takut-takut Ryouta membalikkan badan guna menatap siapa yang berada di belakang punggungnya. Saat dia berbali, dirinya harus berhadapan dengan 7 sahabatnya yang baru saja dipikirkannya. Hal ini membuatnya gelagapan. Dia belum tahu harus mengatakan apa.
Otaknya serasa blank.
"A-ano…" Ryouta menatap ke lain arah. Tak berani menatap wajah mereka. Merasa malu mungkin. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentak kalian. Saat itu aku hanya kesal saja. Maafkan aku."
Daiki menggaruk pipinya yang tak gatal. Ragu-ragu dia menatap Ryouta. "Aku… sepertinya sudah berlebihan tadi. Maaf."
"Aku juga. Maafkan aku, Kise." Sambung Taiga yang menampilkan senyum kecilnya.
"Dan untukmu, Ryouta. Jangan merendahkan diri seperti itu lagi." Ujar Seijuurou menatap lurus Ryouta.
"Hn. Kau itu berguna bagi kami." Shintarou meperbaiki letak kacamatanya sambil mengalihkan wajah ke arah lain, "Bukan berarti aku memujimu, nanodayo."
"Kisechin memang berguna. Berguna untuk menghibur kami dengan tingkah konyolnya." Sahut Atsushi sambil memakan takoyaki buatan Nyonya Nijimura.
"Bisa dibilang Kise-kun itu seperti badut." Ujar Tetsuya membenarkan penyataan Atsushi.
"Kichan memang seperti badut." Tambah Satsuki dengan senyum cerianya.
"Minna—"
"Benar juga. Tingkah konyol Ryouta kan memang seperti badut." Sela Daiki memotong kalimat Ryouta.
"Bodoh tapi menghibur." Timpal Taiga.
"Minna. Kalian kejam, ssu~~"
Tawa kembali hadir diantara mereka. Kepolosan Atsushi memang berhasil memancing sebuah pembicaraan yang membuat mereka semakin memojokkan Ryouta. Apalagi fakta bahwa Ryouta itu adalah sosok yang paling mudah dibully.
Di samping itu melihat wajah merajuk Ryouta menjadi hiburan tersendiri untuk mereka. Meskipun begitu, mereka tahu bahwa Ryouta itu penting untuk mereka. Dan itu kenyataannya.
.
Pesta yang digelar keluarga Nijimura berlangsung dengan meriah. Banyak tamu yang bersenang-senang dengan pengaturan acara pesta yang mereka buat. Apalagi jika mereka bisa melihat kekonyolan seorang model muda yang dibuat bingung dalam game memukul semangka dengan tongkat base ball.
Di saat itu, Daiki benar-benar harus bersabar untuk menghadapi kebodohan Ryouta. Pasalnya pemuda itu dengan seenaknya mengayunkan tongkat base ball ke segala arah. Padahal dirinya sudah jelas menginteruksikan di mana letak semangka itu berada. Tapi si rambut kuning itu memang dasarnya susah mengerti hingga Daiki menghentikan permainan itu secara sepihak dan menggantikan posisi Ryouta dengan dirinya sendiri. Dan saat dirinya yang berjaga, tak butuh waktu lama semangkapun akhirnya terpecah dengan ukuran tak menentu.
"Begitu saja tidak bisa. Payah."
"Urusai, ssu."
Permainan berlanjut. Beberapa permainan asyik kembali dimainkan oleh para anak muda. Sementara yang tua memilih duduk bergerombol membicarakan rencana-rencana yang akan dilakukan untuk menghabiskan musim panas. Seperti berkemah, memancing, hiking dan yang lain.
Hingga akhirnya Nyonya Nijimura menghentikan permainan mereka untuk memberitahukan bahwa sudah saatnya mereka makan malam. Dengan bantuan Neji dan Hinata, keluarga Nijimura menyajikan makanan di meja besar yang ada di taman samping. Mereka menata peralatan makan sesuai dengan banyaknya tamu undangan.
Baru setelah itu Hinata duduk bersama teman-temannya. Dalam kesempatan ini, berbagai cerita lucu berhamburan menemani kegiatan makan mereka. Entah itu cerita tentang kenangan mereka atau hal-hal yang dialami oleh orang lain yang mereka lihat.
Suara tawa menghiasi udara malam. Sungguh hal yang menyenangkan bisa menghabiskan musim panas bersama banyak orang. Apalagi jika bersama keluarga. Pasti menyenangkan.
'Seandainya ayah di sini.' Batin Hinata menatap sendu makanannya.
Usai makan, maka sudah waktunya pada puncak acara. Nijimura meminta tolong GoM untuk mengambil petasan yang disimpan di ruang tamu. Sedangkan Satsuki dimintai tolong Nyonya Nijimura untuk membantunya membereskan peralatan makan.
Hinata dan Neji memilih menata tempat yang nantinya akan dijadikan ruang bermain petasan. Kedua kakak beradik itu dengan hati-hati dan cermat memperkirakan jarak aman untuk memainkan petasan. Dia tidak ingin ada orang yang mendapat bahaya saat mereka bermain petasan.
Di sela pekerjaan mereka, Neji menatap Hinata yang selesai menyingkirkan bangku taman agar sedikit ke tepi.
"Hinata." Panggil Neji lirih.
"Hn?" Hinata berbalik guna menatap wajah Neji yang tampak sendu.
"Maafkan aku." Neji menunduk. Merasa bersalah atas kejadian yang terjadi di taman tadi. Walau tadi dia sudah meminta maaf, tapi rasa bersalah masih menggelayuti hatinya. Rasanya Neji belum puas jika belum mengucapkan permintaan maaf sekali lagi.
"Tadi aku hanya takut. Aku tidak mau kehilanganmu. Setelah seseorang merenggut dia dari kita, aku jadi benar-benar takut, Hinata." Neji mengepalkan tangannya. Masih menatap tanah. Seakan-akan tanah yang dia pijak lebih menarik dari hal lain.
"Neji-nii." Panggil Hinata yang membuat Neji seketika mendongak. Gadis itu menatap hangat sang Kakak. "Kami menyayangi kalian."
"Hinata aku berjanji. Aku akan melindungi kalian. Dan kita akan selalu bersama." Tutur Neji menatap mata besar Hinata.
Hinata menganggum senang, "Haik. Kita akan selalu bersama."
Neji lalu duduk di sebuah bangku panjang yang berada di tepi taman. "Ne.. Hinata. Apa kau bahagia bersama mereka?"
"Um." Hinata mengangguk. Lalu ikut mendudukkan diri tepat di samping Neji.
Keduanya mendongak ke atas menatap indahnya langit tak berawan. Tampak begitu jernih. Ratusan bintang terlihat lebih jelas dari biasanya. Inilah kelebihan musim panas. Di saat-saat seperti inilah mereka bisa sering menatap gemerlap bintang di atas sana.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka direnggut dariku."
"Tapi kau harus ingat, Hinata. Cepat atau lambat mereka akan menemukan kebenaranmu."
"Aku tahu." Hinata menatap sang kakak dengan penuh keyakinan diri, "Aku akan menerima apapun yang menjadi keputusan mereka."
Sejenak mereka menikmati kesunyian yang disuguhkan alam. Membiarkan suara alam mengisi gendang pendengaran. Rasanya damai. Entah kapan terakhir kali mereka merasakan perasaan damai seperti ini. Untuk kali ini mereka akan membiarkannya walau sebentar. Membiarkan kesunyian menang atas mereka. Biarkan mereka hanyut dalam kedamaian sesaat. Karena mereka tak tahu kapan lagi bisa merasa setenang ini.
Terbuai akan keindahan alam, mereka tak menyadari kedatangan beberapa orang yang mulai mendekat ke arah mereka. Dan orang-orang itupun tak tahu bahwa kedua saudara itu sedang berada dalam pembicaraan pribadi. Yang mana pembicaraan itu tidak akan dibicarakan secara gamblang dihadapan mereka.
Hanya saja, saat nama mereka disebut secara bersama-sama mereka berhenti berjalan. Memilih diam dan ingin mendengarkan apa yang kedua Hyuuga itu bicarakan tentang mereka.
"Niisan. Aku sudah menganggap mereka sebagai bagian penting dariku. Karenanya aku… pasti akan melindungi mereka." Tutur Hinata yang mana membuat Neji mengelus kepala Hinata dengan lembut penuh pengertian.
Sementara Hinata memilih kembali memandang jutaan bintang yang bertaburan di langit. Di atas sana, bintang-bintang itu mulai terlihat kabur di mata Hinata. Dan dalam sekejab berubah menjadi layar kilas balik kenangan dan momen saat dirinya bersama teman-temannya.
"Punggung Tetsuya-kun yang senantiasa mendorong kami dengan senyum ramah. Tatapan tegas Seijuurou-kun yang selalu mengawasi semuanya. Perhatian Shintarou-kun yang terkesan malu-malu." Hinata mengukir senyum lucu di wajah saat mendeskripsikan setiap anggota tim basket.
"Ekspresi serius Atsushi-kun juga. Meski terlihat main-main namun sebenarnya menyanyangi kami lebih dari apapun. Lalu langkah kuat Ryouta-kun yang ramah, jujur dan murni meski sering membuat masalah." Tawa kecil keluar dari bibir mungil Hinata saat mengingat tingkah konyol Ryouta seperti pemuda itu tak kehabisan akal untuk berlaku lucu dihadapan mereka. Walau kadang sering kena marah Seijuurou dan yang lain.
"Sifat keibuan yang dimilik Satsuki-chan. Walau sedikit cerewet Satsuki-chan selalu tahu apa yang kami butuhkan."
"Awalnya aku takut dengan Daiki-kun. Tapi seiring waktu aku tahu bahwa dia adalah sosok yang bisa diandalkan. Meskipun dia cukup keras kepala." Hinata terkekeh saat mengatakan itu. Walau terdengar mustahil, namun Hinata memang mengakui bahwa Daiki memang bisa diandalkan di saat genting.
"Dan juga pada kerja keras Taiga-kun. Tanpa diketahui oleh siapapun, Taiga-kun selalu berusaha mencapai level yang sama seperti yang lain." Untuk hal ini, Hinata teringat saat mereka belajar bersama untuk menghadapi Ujian tahunan Teiko. Saat itu Taiga benar-benar belajar dengan tekun. Bahkan disetiap kesempatan dia meminta Hinata untuk mengajarinya.
"Ikatan persahabatan yang kami buat adalah hal yang tak ternilai. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merusak hubungan ini."
Senyum hangat terpasang di wajah Neji. "Kau menyayangi mereka?"
"Aku rela menunggu waktu yang lama hanya untuk mendapat sahabat seperti mereka." Terang Hinata membalas senyum Neji dengan senyuman lebar.
HIKS HIKS
"Eh?" Dua saudara itu menoleh ke belakang. Tak disangka mata mereka langsung bertemu pandang dengan banyak pasang mata yang juga sedang menatap mereka. Ada yang memasang air muka malu, terharu, senang, bahkan ada yang menangis saking bahagianya.
"Hinatacchi. Aku juga menyayangimu, ssu." Ryouta langsung berlari ingin memeluk Hinata, namun dihalangi Neji.
"Mau apa?"
Ryouta menarik ujung bibirnya gugup, "Iie. A-aku hanya ingin berterimakasih, ssu."
Atsushi meletakkan petasan di atas tanah. Kemudian menatap Hinata dengan senyum lebar, "Hinata-chin, daisuki ne."
GREB
Pelukan hangat Satsuki berikan secara percuma untuk Hinata. Mendengar pujian yang diberikan Hinata adalah hal yang menggembirakan untuknya. "Aku baru tahu kalau Hinata-chan begitu memperhatikan kami."
"Terimakasih telah memujiku, nanodayo. Tapi—"
"Bukan berarti aku tersanjung atas itu." Lanjut Daiki yang merasa jengah atas ke-tsundere-an yang dimiliki Shintarou. "Tsk. Katakan saja bahwa kau memang suka dipuji seperti itu oleh Hinata. Tidak perlu malu-malu seperti itu. Lagipula kalaupun kau mengelak, kami tetap tahu bahwa kau memang senang."
Shintarou memalingkan wajah. Tak bisa melawan perkataan Daiki yang memang benar.
"Well Hinata, aku memang selalu bisa diandalkan." Ujar Daiki sambil tersenyum senang.
"Mungkin aku memang seorang pekerja keras. Tapi tanpa dorongan, aku tidak bisa melakukan apapun. Terimakasih telah membantuku saat itu." Tukas Taiga juga mengemban senyum simpul disertai rona merah di pipi tan-nya.
"Hinata-san, aku tidak sekuat itu. Aku sepenuhnya seperti yang lain." Sahut Tetsuya yang merasa pernyataan Hinata terlalu melebih-lebihkan. Padahal seingatnya, dia adalah orang pasif yang ikut apa yang menurutnya benar.
Seijuurou menepuk puncak kepala Hinata dengan pelan, "Untuk hal mengawasi itu memang sudah tugasku, Hinata. Terimakasih."
Neji tersenyum puas atas pemandangan yang dilihatnya. Tak perlu meragukan ikatan persahabatan mereka. Karena Neji yakin, tanpa dipaksa mereka akan saling melindungi dan menjaga. Tak ada suatu masalah yang bisa menghancurkan ikatan yang sudah mereka buat.
Sekali lagi, Neji merasa senang. Adiknya berhasil menemukan sahabat yang bisa dipercaya seperti mereka. Sepertinya keputusan untuk menyetujui kepindahan Hinata ke Teiko adalah hal benar.
Seakan tak mau mengganggu kegiatan mereka, Neji berniat pergi meninggalkan tempat itu. Dia akan memberitahu pada Nyonya Nijimura bahwa mereka bisa mulai menyalakan petasan. Tapi, sebelum itu tepat di persimpangan jalan menuju ruang tamu Nijimura mencegat Neji.
Dia menatap Neji dengan serius.
Seakan mengerti tatapan dari Nijimura, Neji menghela napas panjang lalu bertanya, "Mau bicara apa?"
"Apa maksudmu dengan 'Cepat atau lambat mereka akan menemukan kebenaranmu'?"
Neji terkejut. Apakah Nijimura berada di sana saat dia mengatakan hal itu? Meskipun Nijimura berada di sekitarnya, seharusnya pemuda itu tak bisa mendengar percakapannya dengan Hinata. Soalnya Neji berhati-hati jika menyangkut rahasia keluarganya.
Akan tetapi, karena Nijimura sudah terlanjur mendengar, Neji tak bisa melakukan apapun selain menjelaskan pada sang sahabat.
"Kejadian saat di swalayan tadi, apakah kau menyadari ada sesuatu yang janggal?" Tanya Neji dengan suara sama lirihnya. Yang mana hanya bisa didengar oleh dirinya dan pemuda dihadapannya saja.
Nijimura mengangguk membenarkan. Dia memang melihat beberapa kejanggalan dalam kecelakaan yang menimpa Hinata. "Aku memang tidak tahu siapa pelakunya, tapi Hinata tak seceroboh itu untuk menabrak tumpukan kaleng. Dan juga…"
"Ekspresi terkejutmu setelah melarang Hinata mengejar seseorang bernama Shion. Tentu saja bukan tanpa alasan kenapa kau harus terkejut melihat wajah Hinata seolah kau memandang seorang monster." Lanjut Nijimura menceritakan kejanggalan yang dia rasakan saat itu.
Neji mengangguk. Apa yang diucapkan Nijimura memang benar. Memang harus ada suatu alasan mengapa dia melakukan suatu hal. Dan memang ada alasan kenapa dia terkejut sesaat setelah melarang Hinata saat itu.
Hanya saja, sebelum mengatakan hal itu pada Nijimura, Neji menimbang-nimbang sebentar. Apakah dia harus membeberkan rahasia keluarganya pada seseorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara? Atau dia harus menyembunyikan hal itu dan membuat hubungan mereka menjadi canggung?
Neji sadar bahwa Nijimura juga menganggap Hinata sebagai adiknya. Bahkan sepengetahuannya, keluarga Nijimura sudah menganggap mereka berdua seperti anak-anak mereka sendiri.
Bukankah ini cukup untuk memastikan dirinya bahwa Nijimura tak akan menyebarkan rahasia adiknya? Kalaupun dia berani menyebarkannya, tak ada yang akan mempercayainya.
Jadi sudah diputuskan, Neji akan memberitahu Nijimura. Secuil rahasia yang dia coba sembunyikan sejak lama.
"Aku mengatakan ini karena percaya padamu, Shuzou."
Mendengar namanya dipanggil oleh Neji, Nijimura menyadari bahwa apa yang akan dikatakan oleh Neji kali ini bukanlah hal main-main. Neji yang jarang dan hampir tak pernah memanggil namanya dan lebih suka memanggilnya 'Dobe', ketika pemuda itu menyebut namanya sudah pasti adalah Neji sedang serius.
Dan Nijimura cukup bisa membaca situasi untuk tak menggoda Neji. Pemuda bermata obsidian itu membalas tatapan Neji dengan kebulatan tekadnya.
Neji menarik napas panjang lalu melepaskannya lewat mulut perlahan. Berhati-hati saat mengucapkan kalimat yang menurutnya terlarang bagi orang luar.
"Hinata... memiliki dua kepribadian."
TBC
Sudah berapa bulan nih hiatusnya. Seira sempat nggak ngitung *plak*
Tapi sungguh, setiap mau update cerita oneshoot yang lain, Seira pasti keinget Nanairo no Compass. Padahal kerangkanya udah ada, tinggal nambahin paragraph sama percakapannya. Tapi…. 98% hasilnya malah melenceng dari kerangka cerita.
Karena itu *senyum lebar* Seira milih buat nyelesaiin request kalian dulu. Soalnya udah 3 chapter yang melenceng dari rencana. Dan itu membuat Seira berpikir, cerita ini alurnya masuk akal nggak sih? Atau kelihatan nyeleneh? Akibatnya, Seira jadi galau sendiri *pundung dipojokan*
But, dalam kegalauan Seira, Seira tahu kok kalau kalian sangat menunggu kelanjutan Nanairo no compass. Makanya, mengesampingkan kegundahan hati Seira, terciptalah chapter 12 ini. Yang mana Seira sangat berharap nggak akan membuat kalian kecewa *winks*
Karena kepuasan kalian adalah hal yang sangat penting untuk Seira. Makanya, Seira tak mau membuat kalian kecewa jika cerita ini semakin hari malah semakin membosankan.
Oleh karena itu Seira sangat butuh Review dari kalian ~~
Thanks a lot for likes, favs and reviews kalian di chapter sebelum-sebelumnya.
Special thanks to =
Onxy Dark Blue, Akina Yumi, Ayu493n Birubiru-chan, BlaZe Velvet, Hime1211, Keycchi, Novita610, Xero Claudiu's, Zulfa Novita, lizadz, ameyukio2, hatakerohim97, hinata127, , mouluchifer666, naruhina03, nyonya uchiha, oortaka, purebloods07, seventhplayer, sharingan12115, shiroi tensi, sucilavender40, unaruhina04, yudarockline1995, Gagaganbatte, NazRif99, Reza Mizuki, Shyoul Lava, mitha1303, ranmiablue, sucilavender40, unaruhina04, wysan, yudarockline1995, hime-chan1204, Hinata00, ReiHyu, Suci895, Narulita706, Shiroi Tensi, Irma97, Chibi Hina, Arashi, Tsuki, Yukina, Kyosuke, Hiro-kun, Sasuke dark, Naruto, Park Soah, Nanami, Yuki Asuna, Mirai, Hime, Konoha Village, Akyo Hideaki, Byakugan, Hyuuga Hinata, Hinata lover, Neko no Kitsune, Shiinnki, Wawaemon, Park Iseul, Hatsune Cherry, Yulia, Rueby Nadana, cepihime, flor, sunaga, sasihina, love dan chepihina. Serta pembaca lain yang belum disebutkan *winks*
See you next chapter guys (^-^)v
.
Seira Schiffer
