Cast : B.A.P Members

Genre : AU, Yaoi, Drama

Part : 12/?

Warning : Typo, alur kecepetan /?.

:::::

Tampaknya waktu mulai berjalan dengan cepat, hari-hari melelahkan di weekday tidak terasa berganti kembali menjadi hari weekend dimana semua orang bersemangat untuk melakukan rencana-rencana di akhir pekan.

"Huwaaa, badan ku lelah sekali." Youngjae memijat pundaknya sendiri.

Ia dan Daehyun baru saja selesai membereskan kamar mereka yang tidak dibersihkan semenjak pra coba ujian yang dilakukan sekolah sejak seminggu belakangan. Dan kini, keduanya duduk bersandar menghadap AC untuk sekedar menyegarkan kembali tubuh yang penuh dengan keringat.

"Kau haus?" Daehyun menoleh pada orang disampingnya dan hanya dibalas anggukan.

"Ya sudah, tunggu sebentar." Dengan langkah besar, Daehyun bergegas mengambil beberapa botol cola dan air mineral yang ada dalam kulkas. Ia tidak mau membuat Youngjae menunggu lama.

"Jae-ya." Panggil Daehyun seraya melemparkan satu botol cola ke arah Youngjae yang bersandar menunggunya.

Hap. Beruntung tangan Youngjae bisa menangkap botol tersebut dengan cekatan sebelum mengenai dahinya. "Kalau tidak ikhlas, tidak perlu melempar seperti ini."

"Kkk, aku hanya menguji refleksmu. Ternyata bagus juga." Jelas Daehyun, kembali duduk disamping Youngjae.

"Bisa kau buka kan ini?" Youngjae menyodorkan botol miliknya yang berbusa akibat lemparan tadi.

"Ei~ kau ingin mengerjaiku eoh?" Daehyun melirik botol tersebut.

"Aish, kenapa kau tau." Youngjae memanyunkan mulutnya.

"Aku tidak bodoh kkk." Daehyun menyenderkan tubuhnya di lengan Youngjae.

"Kau seperti seorang gadis saja." Ledek Youngjae, ia membiarkan Daehyun bersandar pada dirinya sembari menikmati cola.

"Seorang pria juga boleh bertingkah seperti ini pada pasangannya." Sahut Daehyun sambil memejamkan mata.

"Uhuk uhuk." Youngjae tersedak mendengar ucapan santai Daehyun. "Pasangan?"

Daehyun mengangguk, "Bukankah kita pasangan, aku suami dan kau istriku."

"Kita hanya pasangan diatas kertas bukan?"

"Ani, pernikahan berarti juga janji pada Tuhan. Dan itu artinya aku berjanji menjadikanmu istriku untuk selamanya." Jawaban Daehyun berhasil membuat Youngjae terdiam beberapa detik karena obrolan yang mendadak jadi serius.

"Hm, aku mandi dulu." Youngjae mengalihkan pembicaraan

"Kau tidak ingin aku ikut?"

"Tidak, aku ingin mandi tanpa busana kali ini."

"Justru itu aku ingin ikut."

"Pervert." Sindir Youngjae dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan Daehyun masih terduduk ditempatnya.

Suara gelak tawa terdengar di area keluarga, seorang pemuda dan seorang wanita dewasa tengah sibuk mentertawakan tingkah lucu dari bocah-bocah dalam sebuah acara tv. Ya siapa lagi kalau bukan Mrs. Jung dan Jung Daehyun, sudah sangat lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini.

"Aigoo aigoo, anak itu menangis."

"Tapi wajahnya sangat lucu umma." Daehyun membalas komentar ibunya.

"Umma ingin sekali punya cucu seperti mereka." Mrs. Jung melihat antusias pada tiga bocah kembar di acara tersebut.

"Kkk, itu tidak mungkin umma." Daehyun terkekeh.

"Aish benar. Umma lupa Youngie adalah namja." Mrs. Jung menggelengkan kepala karena kepikunannya.

"Belum juga jadi halmeoni, umma sudah pikun saja."

"Terlalu banyak memikirkan anak nakal sepertimu membuat ingatan umma semakin berkurang Dae."

"Tidak perlu mengurusku umma, kau lupa? Anakmu sudah menikah."

"Omo, kalau bukan kau siapa lagi yang harus umma urus eoh? Makanya cepatlah beri umma cucu, agar umma tidak mengurusmu lagi."

"Bagaimana caranya?"

"Cara apa?" Youngjae yang baru datang dari kamarnya ikut bergabung dalam pembicaraan ibu-anak tersebut. Ia mendudukkan diri tepat disamping mertuanya hingga kini Mrs. Jung diapit oleh anak dan menantu di sebelah kanan dan kirinya.

"Ah ani, umma hanya menyuruhku untuk dapat peringkat 5 besar saat ujian nanti. Itu hal mustahil kkk." Daehyun dengan pintarnya membuat alasan. Tanpa Youngjae sadari, Daehyun memberi kode pada ibunya agar berhenti membicarakan topik sebelumnya.

"Kalau orang itu adalah kau, sepertinya memang mustahil. Memegang buku saja kau sudah alergi, apalagi mempelajarinya." Tanpa beban, Youngjae membalas pernyataan Daehyun itu, beruntung ia percaya dengan pengalihan topik Daehyun tadi.

"Sebenarnya umma juga sudah lelah menyuruhnya belajar. Hah, bagaimana nasib Jung Group jika penerusnya saja bodoh seperti ini." Mrs. Jung melirik Daehyun sedih.

"Eish, umma. Aku tidak bodoh, aku hanya malas. Lagipula ada Youngjae yang membantuku mengurus perusahaan nanti." Daehyun membela diri.

"Kata siapa? Aku akan mengurus perusahaan keluarga Yoo nanti." Sanggah Youngjae langsung.

"Kau lupa? Namamu sekarang Jung Youngjae, bukan Yoo Youngjae lagi."

"Tetap saja aku akan meneruskan milik ayahku, Jung Daehyun."

"Sudah-sudah, kalian kenapa jadi berdebat. Yang penting sekarang kalian belajar yang benar agar bisa memajukan perusahaan nanti. Terutama kau, Daehyunnie." Lerai Mrs. Jung.

"Arasseo umma." Layaknya anak kecil yang baru dimarahi, Daehyun-Youngjae menjawab bersamaan sambil menunduk.

"Anak pintar." Mrs. Jung tersenyum, kedua tangannya ia arahkan untuk mengusap lembut kepala anak serta menantunya, seakan ingin menyalurkan rasa kasih sayangnya.

"Hah, jika sudah diperlakukan seperti ini aku jadi merindukan madam Baek." Youngjae menghela napasnya berat karena teringat ibunya yang bermarga asli Baek.

"Kau boleh memeluk umma, jika kau merindukannya."

Youngjae mengernyitkan dahinya, ragu. "Jinjayo?"

"Ne~~." Mrs. Jung merentangkan tangannya yang tentu saja langsung disambut Youngjae dengan sebuah pelukan sayang seorang anak pada ibu. Jika boleh jujur, Youngjae sangat merindukan orangtuanya namun ia mengurungkan niat untuk pulang karena jika ia pergi, tentunya Mrs. Jung akan menyuruh Daehyun mengikutinya dan Youngjae tidak ingin mengganggu quality time Mrs. Jung dan Daehyun yang sangat jarang terjadi tersebut.

"Ummaaa." Baru Daehyun ingin ikut memeluk ibunya, tapi Youngjae berhasil menampik Daehyun lebih dulu agar tidak mengganggu.

"Aaaa jangan ambil umma ku." Rengek Daehyun yang terus memaksa untuk memeluk Mrs. Jung, ia tidak peduli dengan dorongan tangan Youngjae. Ia justru memeluk Mrs. Jung dan Youngjae bersamaan dengan erat. Mrs. Jung tertawa lepas karena tingkah dua orang dalam pelukannya itu.

'Andai saja ada makluk kecil dikeluarga ini, pasti hidupku semakin sempurna.' Batin Mrs. Jung yang bahagia berada dalam pelukan kedua anaknya.

:::::

"Kenapa tanganmu disembunyikan terus?" Tanya Daehyun setelah jam pelajaran telah berakhir.

"Hah apa?" Youngjae yang terfokus dengan catatannya, bertanya balik.

"Ck, tanganmu kenapa disembunyikan." Daehyun mengambil tangan kiri Youngjae yang sejak tadi berada di bawah meja.

"Aku tidak bisa melepasnya, sepertinya jariku membesar." Keluh Youngjae karena dijari tangan kirinya terpasang cincin pernikahan yang biasa ia lepaskan saat sekolah.

"Gwaenchana, untuk apa kau sembunyikan hal sepele ini." Sahut Daehyun, ia mengambil cincin dalam saku celananya dan memasangnya di jari manis kanan.

"Aish kenapa kau pakai juga, nanti ada yang melihatnya." Tegur Youngjae dengan nada pelan, ia berusaha melepas cincin di jari Daehyun.

"Diamlah, mereka melihat kita." Daehyun balas berbisik, mulutnya mengumbar senyum buatan untuk teman sekelasnya yang memperhatikan tingkah mereka.

"Aish, aku tidak mau ketahuan. Itu bisa berbahaya." Lanjut Youngjae lagi setelah teman-temannya pergi meninggalkan kelas.

"Tenang saja, kita tidak dalam drama yang selalu bernasib sial. Everythings gonna be ok, honey." Bisik Daehyun lembut ditelinga Youngjae dan membuat si empunya telinga merinding campur tersipu saat dipanggil dengan sebutan 'honey'.

"Ehem, hyungdeul." Jongup yang entah sejak kapan datang menginterupsi dengan sebuah batuk yang dipaksakan.

"Waeeee." Daehyun mengerutkan kening, sudah berapa kali Jongup datang disaat yang tidak tepat seperti ini.

"Aku lapar."

"Lalu?"

"Traktir aku, umma belum memberi uang hari ini." Pinta Jongup.

"Kasian dia Dae. Ayo kita makan, nanti keburu waktu istirahat habis." Youngjae bangkit dari duduknya.

"Bagaimana kalau kita bolos saja? Aku akan mentraktir kalian makan di cafe baru dekat sekolah." Tawar Daehyun.

"Kau ingin aku lapor pada umma?"

"Andwae. Sudahlah, kajja." Daehyun merangkul pundak Youngjae dan Jongup bersamaan dan mengajaknya berjalan bersama menuju kantin.

"Junhongie lama sekali, sebenarnya apa yang dia lakukan." Penasaran Daehyun.

"Mungkin banyak berkas yang harus dibereskan dengan Choi Ahjussi." Sahut Jongup sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.

"Apa kita harus membawakan mereka makanan? Sudah siang, mereka pasti lapar." Ucap Daehyun dengan mulut sibuk mengunyah kue beras miliknya.

"Perhatian sekali." Celetuk sosok disampingnya.

"Wae? Kau cemburu?"

"Ti-tidak, untuk apa cemburu pada manusia tidak jelas sepertimu." Youngjae coba menyangkal.

"Tapi perasaanku padamu sangat jelas, Jae." Goda Daehyun dengan kedipan sebelah mata.

"Mwoya, bicaramu semakin melantur."

"Hyung, pipimu merah lagi." Seru Jongup yang hanya jadi penonton pasangan ini.

"Kau lihat kan? Pipinya memang benar-benar merah kkk." Daehyun semakin antusias mendengar ucapan Jongup tadi, tangannya pun tanpa ragu menarik-narik kedua pipi chubby Youngjae gemas.

"Yaaak! Berhenti melakukannya di depan umum." Sadar tempat mereka sekarang, Youngjae langsung menepis kedua tangan Daehyun.

"Berarti kau boleh melakukan itu di kamar kalian hyung." Lagi-lagi Jongup membela Daehyun yang sudah mentraktirnya.

"Aish Moon Jongup, kenapa kau jadi seperti ini."

"Baiklah, kalau begitu aku lakukan dikamar kita saja." Daehyun menyunggingkan senyum miringnya.

Plak. Telapak tangan Youngjae mendarat dengan manis di kepala Daehyun. "Kau berpikir apa eoh? Pervert."

"Apa? Memangnya kau pikir aku memikirkan hal dewasa? Ckck, pervert." Ledek Daehyun balik dan membuat Youngjae memanyunkan bibirnya.

"Junhong-ah!" Teriak Jongup ketika Junhong terlibat dari arah belakang Daehyun dan Youngjae.

"Hyuuung." Dengan semangat, Junhong menghampiri ketiga hyungnya dan mendudukkan diri tepat di samping Jongup dan berhadapan dengan Youngjae.

"Aigoo, Youngjae hyung kenapa manyun?" Junhong kebingungan.

"Biasa, Youngjae hyung kalah debat kkk." Jelas Jongup seraya menyerahkan lemon tea miliknya untuk Junhong yang ia tahu sedang kelelahan.

"Oh. Youngjae hyung, lemme kiss u." Junhong berusaha membujuk dan tentunya disambut Youngjae dengan mencondongkan wajahnya ke arah Junhong.

"ANDWAE." Teriak Jongup dan Daehyun bersamaan.

"Kenapa? Bukankah Youngjae hyung sering menciumku juga."

"Aish, kau ingin dilihat guru?" Jongup memberi alasan.

"Ini tempat umum." Lanjut Daehyun.

"Moon Jongup, kau cemburu?" Selidik Youngjae.

"Sepertinya Daehyun hyung yang cemburu, hyung."

"Eish, tidak. Kami hanya mengingatkan. Benarkan Jongupie?" Sanggah Daehyun diikuti anggukan dari Jongup.

"Ck, dasar." Dengus Youngjae.

"Ngomong-ngomong, dua hari lagi kita ujian semester. Appa bilang, pengawasannya akan lebih diperketat." Junhong memberi info sambil berbisik.

"Baguslah, itu artinya aku bisa fokus saat ujian."

Mendengar perkataan Youngjae, Daehyun langsung mendorong pelan kepala orang disampingnya itu, "Kau senang tidak memberi jawaban padaku?"

"Err…. kau ingin aku jujur atau tidak?" Tanya Youngjae balik.

"Baiklah baiklah, aku senang karena dengan begini kau bisa coba untuk belajar sungguh-sungguh." Jawab Youngjae saat Daehyun meliriknya tajam.

"Aish, kau lupa? Aku tidak bisa menghapal semua materi."

"Pasti bisa jika kau berusaha. Aku tidak ingin punya suami bodoh, Jung Daehyun." Youngjae berbisik tepat ditelinga Daehyun saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

'Suami?' Batin Daehyun, ia terbelalak mendengar kata suami diucapkan oleh Youngjae. Apa itu artinya…

Teeett. Bel tanda istirahat berakhir berbunyi dan langsung menghentikan Daehyun hanyut dalam pikirannya.

"Ck, baru aku mau pesan." Keluh Junhong sambil menatap miris buku menu yang ada ditangannya.

"Aku punya roti di kelas, kau makan itu saja."

"Jinja? Kyaaa, Jongup hyung memang penyelamatku." Refleks, Junhong memeluk serta menggoyangkan tubuh Jongup.

"Lebih baik kita tinggalkan mereka." Ajak Daehyun seraya melingkarkan lengannya di leher Youngjae dan menuntunnya untuk pergi.

"Bagaimana kalau Choi Ahjussi melihatnya?" Youngjae berusaha menyeimbangkan langkahnya tanpa menjauhkan lengan Daehyun.

"Hm, mungkin mereka akan dinikahkan seperti kita." Daehyun terkekeh sambil membayangkan ucapannya.

"Eish, jaga omonganmu. Gawat kalau ada yang mendengar." Tegur Youngjae sambil menyikut pinggang Daehyun.

"Kkk, arasseo arasseo."

Hari sudah cukup larut malam dan orang-orang memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah seharian beraktifitas. Namun berbeda dengan dua orang di kediaman Jung, lampu kamarnya menyala sebagai tanda masih ada tanda kehidupan diruangan tersebut. Sejak selesai makan malam hingga sekarang, keduanya sibuk mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan materi ujian nanti.

"Jae, apa kita tidak bisa istirahat sebentar? Otak ku lelah sekali." Pinta Daehyun yang tampak frustasi dengan buku-buku dihadapannya.

"Terserah, tapi jangan harap aku menolongmu saat ujian." Sahut Youngjae tanpa mengalihkan pandangan dari buku teori yang cukup tebal ditangannya.

"Aish, kau tega sekali."

"Kalau tidak dipaksa, mana mau kau belajar."

"Ayolah, aku tidak bisa dipaksa belajar seperti ini."

"Lalu harus bagaimana?"

"Beri aku hadiah agar lebih semangat."

"Seperti anak kecil saja." Cibir Youngjae yang masih fokus dengan buku.

"Memang."

"Hah, baiklah. Akan aku beri hadiah jika kau masuk 15 besar." Youngjae mengalah.

"Apa? Syaratmu mustahil sekali." Daehyun menyerah duluan.

"Ya sudah kalau tidak mau."

"Memangnya kau mau beri aku apa?"

Krik, Youngjae mendadak diam saat ditanya Daehyun. Jujur saja, dia hanya sembarang bicara tanpa memikirkan terlebih dulu. Dipikirannya hanya ingin Daehyun belajar dan nilainya meningkat agar Mrs. Jung senang.

"Yak, Jung Youngjae. Jawab aku." Daehyun menggoyangkan kaki Youngjae yang berada disampingnya.

"E-eh, ya?"

"Kau melamun?"

"Tidak. Ah ya, aku akan traktir sebulan penuh. Deal?" Tawar Youngjae.

"Hm, no deal. Aku bisa beli makanan sendiri."

"Makanan dan gadget baru." Tawar Youngjae namun ditolak Daehyun lagi. Dan membuat Youngjae memutar otak kembali.

"Ck, bagaimana kalau….." Youngjae memutar bola matanya, menyerah. Ia meletakkan buku disampingnya dan mendekati Daehyun.

"Hatiku." Youngjae berbisik dengan nada sangat lembut.

"CALL!" Tanpa berpikir, Daehyun langsung menyetujuinya.

'Halah langsung semangat.' Batin Youngjae.

"Youngjae-ya, cepat ajari aku rumus yang ini." Dengan semangat, Daehyun langsung membuka bukunya kembali. Lelah yang ia rasakan tadi mendadak hilang.

"Oh ini gampang, begini…." Youngjae dengan cekatan membantu Daehyun memahami rumus. Ia perlu kesabaran untuk mengajari Daehyun yang lemah dalam hitungan.

:::::

Sejak pulang sekolah Daehyun, Youngjae, Jongup dan Junhong kembali sibuk mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi ujian semester yang akan dilaksanakan esok. Seperti biasa, Youngjae dengan sukarela membantu kedua maknaenya untuk memahami materi yang belum mereka mengerti. Namun ada yang berbeda dari biasanya, Daehyun yang sering santai saat akan ujian kini berubah menjadi serius dengan semua pelajaran. Wajar saja, dia begitu ingin mendapat hadiah dari Youngjae meskipun syarat yang diajukan cukup mustahil.

"Tidak panas." Gumam Himchan yang baru datang ke rumah Daehyun bersama Yongguk. Melihat pemandangan aneh, ia segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Daehyun untuk memastikan.

"Aish, jangan ganggu aku." Daehyun menjauhkan tangan Himchan, kesal.

"Bbang, lihat. Dia memarahiku." Adu Himchan, ia ikut duduk disamping Yongguk yang mulai membuka laptopnya.

"Itu salahmu Hime." Bukannya membela, Yongguk justru menyalahkan Himchan.

"Ish. Awas kau." Himchan pura-pura merajuk namun tidak digubris. Ia pun mencoba mengusir kebosanan dengan ponselnya.

"Ada banyak cemilan di lemari dapur hyung, makan saja." Suruh Youngjae pada Himchan yang hanya duduk.

"Hahahaha, kau tahu saja aku lapar. Gomawo." Himchan segera melesat ke dapur.

"Hime, apa disana ada ramen? Tolong buatkan untukku." Pinta Yongguk sedikit berteriak, sedangkan matanya terus memandang ke layar laptop.

"Arasseo, Bbang." Sahut Himchan, tangannya sibuk menggeledah lemari dapur yang berisi stok makanan.

"Yak hyung, sisakan untuk ku." Teriak Daehyun.

"Kalau kau lapar, istirahat saja Dae." Saran Youngjae.

"Tidak, aku tidak lapar sama sekali." Daehyun tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya pada Youngjae kemudian kembali menyibukkan diri dengan rumus.

"Daehyun hyung aneh sekali belakangan ini." Kata Jongup yang sejak tadi diam.

"Iya, seharian ini saja aku hanya melihat Daehyun hyung makan satu kali. Yang dikerjakan hanya belajar dan belajar." Tambah Junhong.

"Aku hanya ingin masuk 15 besar, apa itu salah?"

"Jinja? Sejak kapan kau berpikir seperti ini? Whoaa, Youngjae-ya, kau apakan dia sampai otaknya benar begini." Himchan datang dari dapur dengan sebuah nampan yang berisi mangkuk ramen dan beberapa snack.

"Aku hanya mengimingi hadiah hyung."

"Sudah ku duga, Daehyun tidak mungkin mau menyentuh buku jika tidak ada penyebabnya." Sindir Yongguk.

"Aish, berhenti membicarakanku." Daehyun mendengus kesal karena menjadi trending topic dirumahnya.

"Kkk, bagaimana kalau kita bicarakan tentang liburan? Bukankah setelah ujian kita libur." Junhong memberi ide.

"Jangan ke luar negeri lagi, uang ku sudah habis untuk bayar kuliah."

"Apa uangmu habis karena membayar kekurangan biaya kuliah ku juga? Mianhae, jika uangku sudah terkumpul akan aku ganti." Raut wajah Himchan mendadak berubah saat mendengar ucapan Yongguk.

"Eish, Tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu menggantinya. Aku ikhlas." Yongguk mengecup kening Himchan agar kekasihnya itu berhenti merasa bersalah.

"Setelah ujian aku akan menjenguk appa di Gyeongju, kalian mau ikut? Aku hanya sendiri." Ajak Jongup.

"Ibumu tidak ikut?" Tanya Yongguk sambil mengusap lengan Himchan.

"Tidak, mereka sudah fix berpisah. Jadi…. appa bukan urusan umma lagi." Jawab Jongup dengan wajah datarnya. Junhong menepuk pundak Jongup untuk memberi semangat. Tidak ada komentar dari lainnya, karena mereka tahu. Didalam hati Jongup, ia mengharapkan hal ini terjadi, daripada harus memaksakan keluarganya utuh namun tidak akur. Bukankah itu percuma.

Sejenak suasana rumah menjadi hening, hingga akhirnya Himchan bersuara kembali. "Sepertinya liburan di Gyeongju akan menyenangkan. Aku ingin kesana." Himchan memberi puppy eyes kearah Yongguk yang otomatis tidak dapat ditolak oleh pria berwajah tegas tersebut.

"Baiklah, kita akan ikut Jongup." Yongguk mengalah untuk kesekian kalinya.

"Daehyunnie, kita tidak ikut juga?" Tanya Youngjae.

"Terserah kau saja." Jawab Daehyun singkat, ia terlalu sibuk.

"Asik, kita jadi liburan." Junhong menggoyangkan tubuhnya asal karena senang.

"Nanti saja kita bicara tentang liburan, sekarang kalian harus belajar. Palli." Perintah Himchan sedikit mendikte.

"Neeee hyuuuung." Sahut Jongup dan Junhong serempak.

:::::

Malam mulai berganti dengan pagi yang cerah, seolah memberi semangat kepada seluruh orang untuk kembali beraktifitas. Sebuah suara dering ponsel berbunyi yang membuat si empunya ponsel menghentikan kegiatannya di pagi hari.

"Selamat pagiiiii. Aigoo, umma sangat merindukan kalian." Wajah Mrs. Jung yang berada diluar kota terpampang jelas di layar ponsel Daehyun.

"Pagi umma, aku juga merindukanmu. Chu, morning kiss untukmu kkkk." Kata Daehyun manja.

"Daehyunnie, wajahmu lesu sekali. Kau tidak bisa tidur?" Nada khawatir terdengar dari suara Mrs. Jung.

Daehyun mengangguk, "Aku tidur larut malam belakangan ini."

"Oh begitu, setelah pulang nanti kau harus tidur. Arasseo?"

"Ne umma."

"Hm, dimana Youngie? Umma ingin melihat wajahnya."

"Dia sedang ganti pakaian, sebentar." Dengan ponsel yang masih menyala, Daehyun bergegas ke kamar mandi untuk menghampiri Youngjae. Ia langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu.

"YA! YA! YA! YA! Keluar kau!" Teriak Youngjae yang sedang bertelanjang dada. Ia mendorong Daehyun hingga keluar.

"Umma ingin bicara denganmu, Jae." Seru Daehyun sebelum pintu tertutup.

"Tunggu diluar. Aish kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu. Aish Jinja." Omel Youngjae sambil mengenakan seragamnya.

"Umma tidak melihatnya bukan?" Daehyun memastikan.

"Aniya, umma hanya mendengar teriakan Youngie saja kkk."

Tidak berapa lama, Youngjae keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil ponsel Daehyun dan menyuruhnya bersiap.

"Umma annyeong, bogoshipeoyo." Sapa Youngjae.

"Youngie-ya, kau kurang tidur juga? Aigoo, setelah pulang kalian harus tidur lagi. Arasseo." Pesan Mrs. Jung sama seperti pada Daehyun.

"Ne~~ umma jangan telat makan dan kelelahan. Arasseo?" Youngjae balik mengingatkan.

"Ah ya, Daehyunie rajin belajar belakangan ini." Bisik Youngjae.

"Jinja? Umma senang sekali mendengarnya."

"Umma, kau tidak ingin memberi semangat pada kami?" Daehyun yang sudah berseragam lengkap kembali duduk disamping Youngjae.

"Aegideul! Daehyunnie~ Youngie~ Hwaiting! Maaf umma tidak bisa menyemangati kalian secara langsung, tapi umma selalu mendoakan keberhasilan kalian. Hwaiting~ Chu. Saranghae~"

"Saranghaeyo ummaaa." Teriak Daehyun dan Youngjae serta memberi hati kecil dari jari mereka.

"Omo, ini sudah jam 7. Cepat kalian berangkat, jangan sampai terlambat. Umma matikan dulu, annyeong~" Pamit Mrs. Jung sebelum memutuskan video call.

"Kau ingin sarapan disini atau makan dijalan?" Tanya Youngjae setelah video call berakhir.

"Tidak usah. Aku sangat gugup hari ini, mana bisa makan."

"Aish, setidaknya kau harus mengisi perutmu sebelum ujian. Biar otakmu bisa berpikir."

"Apa hubungannya?"

"Molla. Cepat turun, aku akan siapkan sandwich untuk makan dijalan." Youngjae segera beranjak ke dapur meninggalkan Daehyun yang masih menyiapkan perlengkapannya.

"Sudah siap?" Daehyun menghampiri dengan dua ransel dipundaknya.

"Eum, aku buat dengan bahan seadanya agar cepat." Sahut Youngjae sambil memasukkan beberapa potong sandwich dikotak bekal.

"Kajja." Ajak Youngjae setelah merasa semua sudah beres. Diambilnya satu ransel yang ada pada Daehyun dan menenteng kotak bekalnya agar mudah diambil.

"Tunggu." Daehyun menghentikan langkah Youngjae.

"Apa?"

"Ceroboh." Gumam Daehyun sambil berlutut dan mengikat tali sepatu Youngjae yang tidak terikat dengan benar.

"Kakimu baru sembuh, jadi jangan sampai jatuh lagi."

"N-Ne…. Gomawo." Jawab Youngjae agak tersipu atas perlakuan Daehyun.

"Tidak masalah. Kajja, kita sudah kesiangan." Daehyun tersenyum tulus mendengar terimakasih dari Youngjae.

"Kau sudah mengerti rumusnya?" Youngjae mencoba memastikan Daehyun sebelum ujian dimulai.

Ujian setengah jam lagi akan dimulai, dan Daehyun mengajak Youngjae untuk ke rooftop agar bisa fokus belajar dan tentunya dapat menikmati sandwich yang tersisa dengan tenang.

"Aku sudah paham karena kau ajari semalam."

"Syukurlah. Jika kau tidak bisa menjawabnya, tanya saja padaku."

"Perhatian sekali." Sindir Daehyun.

"Tidak mau aku beri dukungan?"

"Mau lah, siapa yang tidak senang disemangati istri sendiri."

"Kenapa kau senang sekali mengucapkannya disekolah eoh?" Youngjae memukul lengan Daehyun pelan.

"Tidak ada yang dengar, tenang saja."

"Oh ya Dae, tolong lepas cincinmu kalau disekolah. Aku tidak ingin dapat masalah karena ini." Tunjuk Youngjae pada cincin yang terpasang dijari manis Daehyun.

"Ayolah, aku memakainya karena memang sudah tidak bisa dilepas lagi, sedangkan kau tidak. Akan ada yang curiga jika kita memakainya bersamaan disekolah. Dan aku ingin kita lulus tanpa masalah Dae." Jelas Youngjae karena mendapat tatapan penuh tanya dari Daehyun.

"Terkadang pikiranmu lebih dewasa dariku. Baiklah, aku menurut saja." Daehyun melepas dan menyimpan cincinnya disaku celana.

"Gomawo."

"Cheonma." Daehyun mengusap rambut Youngjae lembut kemudian mengecek jam tangannya. "Delapan menit lagi kita masuk, ayo turun."

"Ayo." Youngjae hendak membereskan buku serta kotak bekal yang ia bawa, namun langsung diambil alih Daehyun.

"Biar aku yang membawanya." Ucap Daehyun lalu berjalan lebih dulu.

"Daehyunie." Panggil Youngjae yang mencoba mensejajarkan posisi.

Chu. Youngjae mencium pipi kanan Daehyun kilat. "Hwaiting."

Chu. Daehyun balas mencium kening Youngjae setelah terdiam sejenak. "Neo ddo. Aku tunggu hadiahmu." Lalu tersenyum dan berjalan lebih dulu dari Youngjae.

Tanpa Daehyun sadari, orang yang ada dibelakangnya itu kini tengah menutup wajahnya dengan satu tangan agar wajahnya yang agak memerah tidak terlihat oleh orang lain, termasuk Daehyun.

:::::

TBC.

Hayolo gimana kira-kira hasil Daehyun, bakal dapat hadiahnya ga tuh. Well, lanjutannya akhirnya bisa dipost. Mohon maaf atas kekurangannya. Saran selalu dipersilakan. Thanks ^^

[Balasan Review]

kensopu : seyong bakal ilang ke laut kok (?) gatau nih, tunggu aja ya gomawo sdh baca ^^

Jung Rae Gun : ah syukur deh kalo udh panjang gomawo sdh baca yaa ^^

adios wipe : seyong bukan power ranger kak, gabakal berubah lagi (?) akhirnya ya kaaaan, gemes liat jae yg udh kebuka kkk. Thanks sdh bacaaa ^^

BYDSSTYN : duh aku ngakak terus tiap baca review kamu kak xD gosah ngiri gitu ah sama jongup (?). waduh kita juga sepemikiran ternyata /woi. Minta gendong seyong aja sanaaaaa. LOPEK TOO KAKAAA MUAH DAE /eh salah. Thanks sdh bacaaa ^^

: gemes sama saya? Makasih loh makasih /dijitak daejae/ makasih yaaa udah baca ^^

KJMZYX : waaaa senengnya bisa jd mdbstr kamu kaak. Makasih banget yaaa ^^

A Y P : udaaaah, makasih ya ^^

Indriana217 : kamu digendong seyong aja kaaak :p kesian babeh keberatan gendong emak xD thanks for reading ^^

Sillyfangirl7 : aaa jangan diabetes duluuuuu. Makasih banget yaaa ^^

Jiraniatriana : iyasih, dae ga peka kalo jae pura2 ga peka .-. makasih udah baca yaaaa ^^

Xupw1ria27 : jonglo itu pasangan polos memang xD makasih sdh bacaaa ^^

Missraze21 : lol tawa jenglot xD yup, tbh Seyong always stalk daehyun cause he rlly want dae. But hopefully he will give up now kkk. Ah, Jae is too shy for sayin that T.T anw, thanks for reading ^^