Seluruh Jepang memang sedang dilanda musim panas, tapi ada yang berbeda dengan hawa panas Okinawa.
Selalu ada yang berbeda dari Kitanakagusuku.
"Nona, anda masih belum pulih sepenuhnya. Tolong pakai sweater yang kubawakan."
Kelopak mataku membuka. Angin musim panas membuatku terlena. Kalau saja Juugo mau menutup mulutnya, tentu akan sempurna.
"Juugo, itulah inti dari convertible cars. Meski aku pakai sweater, angin tetap akan membuatku merasa dingin; sempurna untuk melawan hawa panas dari matahari."
"Jangan paksa aku memasang kap mobil, nona."
Aku melempar kepalaku ke bangku mobil. Serius? Juugo baru saja mengancamku?
"Ambil jalur tol 329. Akan ada gedung bertuliskan "Caleb" di sana. Setelah sampai lampu merahーarah selatan dari pom bensin Essonーkita ke timur. Lurus terus sampai ke kompleks apartemen. Dari sana, kita turun."
Juugo melirikku.
"Aku dan Ibu pernah ke sana berdua."
Aku memutar bola mata saat Juugo bersikeras memakaikan sweater berwarna biru pastel. Ia tidak bersuara sedikitpun ketika langkah kakiku memburu ke lapangan bunga berjarak beberapa belas menit jalan kaki dari kompleks apartemen, dan untuk itu aku menurutinya mengenakan sweater.
"Wow."
Aku menghela nafas. Ya, wow.
Hamparan karpet berwarna kuning keemasan menyambut siapa saja yang memandang. Sepuluh ribu meter persegi luasnya, dengan 400.000 bunga matahari sejauh mata bisa melihat.
"Dibanding Hokkaido yang seluas 23 hektar, memang tidak seberapa. Datanglah pada bulan Februari, bunga matahari di sini akan baru saja mekar. Mereka juga mengadakan festival bunga matahari. Sesuatu yang tidak bisa kau lakukan di Hokkaido pada musim dingin."
"Jadi, nona ke sini pada saat festival?"
Aku memandang Juugo.
"Dengan Ibu, tentu saja."
"Itachi-donno tidak tahu soal ini?"
"Tidak. Kami ke sini di bulan Agustus sebelum kepergian Ibu. Aku berniat mengajak Itachi dan Sasuke tahun lalu, tapi..."
Aku mengalihkan pandanganku. Mulutku terus bicara tanpa henti, seperti orang bodoh saja.
"Apa ini yang nona ingin lihat?"
"Hmm...salah satunya."
"...nona?"
Aku mengedipkan mataku. Sial. Tidak mau hilang. Kenangan bersama Ibu dan air mataku; siapa sangka adalah kombinasi bak minyak dan api?
"Di-di tengah lapangan ada-pagar bunga matahari tempat pasangan muda menikahー"
"Pelan-pelan saja. Aku mendengarkan."
Aku terdiam menerima sapuan tisu Juugo di kedua pipiku. "Apa kau akan melaporkan semua ini pada Itachi-nii?"
Juugo menyunggingkan senyuman. "Kalau nona berjanji mengancingkan sweater itu, saya tidak akan mengatakan apapun."
"Kau orang aneh."
"Atau nona lebih suka Itachi-donno tahu tentang tempat ini?"
"Lakukan itu dan aku akan membunuhmu."
"Heh, tantangan yang menarik."
Aku memandang Juugo kesal.
"Cepat nyalakan mobilnya. Masih ada tempat yang harus kudatangi."
"Lagi? Tapi hujan tampaknya akan turun."
Aku mendongak. Matahari sudah tak terlihat lagi. Gumpalan awan hujan menelannya.
"Justru karena itu, kita harus cepat."
