Chapter 12
Mother
Hakai baru kembali dari rutinitas paginya. Melakukan misi pengintaian di sekitar markasnya sembari menghirup udara segar. Ia melihat ke arah langit sembari bergerak kembali ke markasnya. Selama beberapa minggu terakhir ini, Hakai menjalankan misi sendirian. Ia menghancurkan divisi transport lawan sembari melihat divisi lawan.
Hakai kemudian langsung menghela nafas dan berkata,
"Mayoritas yang kuperhatikan dari divisi transport lawan memiliki cukup banyak bauxite... Berarti yang akan menyerang berikutnya adalah tipe kapal induk lain."
Hakai kemudian melihat ke arah langit. Langit tersebut sangat cerah. Walaupun beberapa saat yang lalu, langit dipenuhi dengan pesawat dari lawan. Dapat dikatakan Hakai sudah cukup muak menghancurkan pesawat yang terus menerus menutupi langit semenjak ia mengetes Anemone dulu.
Tidak berapa lama, ia melihat sebuah pesawat yang sangat dikenalnya. Sebuah pesawat Abyssal. Hakai langsung mengetahui siapa pemilik pesawat tersebut. Ia langsung menghubungi markasnya,
"Graf, kau yang hari bertanggung jawab untuk memanggilku rupanya."
"Iya, itu tugas yang saya dapatkan hari ini."
"Anemone sudah hadir ?"
"Iya, Laksamana Anemone sudah menunggu di ruang kerja anda."
"Baguslah, aku akan kembali dalam waktu dekat. Katakan saja pada Anemone, aku akan tiba lebih kurang satu jam dari sekarang."
"Siap."
Graf langsung menghentikan pembicaraan antara mereka berdua. Hakai langsung menghela nafas dan berkata pada dirinya sendiri,
"Gadis itu... Masih terlalu kaku. Tapi, aku tidak dapat menolak fakta bahwa dirinya baru beberapa minggu di markas ini. Bismarck... Mengapa kau sama sekali tidak membantuku... Haaa..."
Hakai langsung bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk kembali ke markasnya.
Satu jam berlalu, Hakai akhirnya tiba di markasnya. Ia langsung disambut oleh Katori, Asagumo dan Yamagumo. Selain itu, ia melihat Zuikaku dan Katsuragi yang sedang berbincang-bincang dengan Akagi dan Graf. Melihat kedatangan Hakai, Zuikaku langsung berkata,
"Tidak kusangka tuan rumah dari markas ini tidak menyambut kedatangan tamunya sama sekali."
"Aku sedang menjalankan kebiasaanku di pagi hari. Lagipula, Anemone datang lebih cepat dari waktu yang sudah dibicarakan di pertemuan sebelumnya."
"Ahahahaha... Mungkin itu salah kami, mungkin juga tidak."
"Kalian tidak salah. Justru, hadir jauh sebelum waktu yang ditentukan itu merupakan hal yang cukup baik. Saya sendiri yang salah tidak memperhitungkan kemungkinan tersebut."
Zuikaku langsung tersenyum kecil melihat Hakai. Ia kemudian berkata,
"Kau... Sangat berbeda sekali pada saat aku bertemu dengan dirimu pertama kali."
"Begitukah ?"
"Aku merasakan dirimu sangat haus darah pada saat itu..."
"Aku akan menunjukkan hal tersebut pada saat bertempur dengan gadis kapal. Aku tidak akan menunjukkannya kepada dirimu yang sekarang, sebagai sekutu dari unitku."
"Kau tahu... Wajah itu juga sangat berbeda dengan wajah yang kau tunjukkan saat itu."
"Kau ingin melihat wajah tersebut ?"
"Ahahahahaha... Tidak... Tidak... Sudah cukup sekali lagi saja melihat wajah tersebut."
Hakai tersenyum sinis, dan langsung berjalan melewati Zuikaku dan Katsuragi. Ia langsung berjalan ke arah Katori yang menunggu dirinya. Hakai langsung berkata,
"Katori, sudah berapa lama Anemone menunggu di sana ?"
"Sudah satu jam menunggu anda."
"Satu jam... Berarti pada saat Graf memanggil diriku, Anemone baru saja tiba di sini."
"Benar sekali. Bagaimana jika anda pergi ke sana ?"
"Aku akan langsung ke sana. Daripada itu, Katori... Tolong cek semua yang kubawa kembali."
"Baik, Hakai-san."
"Apakah dia sendirian di ruang kerja ?"
"Tidak... Dia bersama 'Ibunya'..."
"Ibu ?"
Katori langsung tertawa kecil, dan kemudian membuat tanda untuk melihatnya sendiri. Katori juga memberi tahu untuk pelan-pelan saja pada saat mendekati kantor. Hakai langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Katori.
Pada saat Hakai tiba di depan kantornya, ia mendengar suara dari dalam.
"Shoukaku, apakah rambutku berantakan ?"
"Tidak... Rambutmu sangat rapi."
"Kau yakin ?"
"Atau ingin aku sisir kembali rambutmu ?"
"Tolong, Shoukaku..."
"Tentu saja.
Hakai mengintip dari jendela, dan melihat Shoukaku yang menyisir rambut Anemone. Lalu, Shoukaku membantu merapikan pakaiannya, dan beberapa hal. Hakai langsung berkata dalam hati,
"Jadi dia... yang dimaksud dengan 'Ibu'... Benar-benar perhatian ibu kepada anaknya... Padahal, siapa atasan siapa bawahan... Haaah."
Hakai kemudian membuka pintu, dan kemudian berkata,
"Anemone, maaf membuat anda menunggu lama..."
"Ah, tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak memiliki jadwal yang cukup padat."
Hakai hanya tersenyum saja. Ia kemudian melihat ke arah Shoukaku, dan berjalan di belakangnya. Pada saat ia berada di belakang Shoukaku, Ia langsung berkata dengan pelan,
"Ya... Usahamu bagus sekali, Ibu..."
"Eh ?!"
Shoukaku melihat ke arah Hakai dengan wajah terkejut. Hakai dapat membaca dari wajah Shoukaku, saat ini Shoukaku sedang panik. Hakai kemudian duduk di kursinya, dan kemudian mengambil sebuah dokumen. Hakai kemudian berkata,
"Bagaimana perkembangan dari divisimu selama beberapa bulan ini ?"
"Dapat dikatakan, kami mendapat beberapa kapal perusak dan kapal penjelajah ringan baru dari divisi transport lawan yang kami hancurkan. Sangat sulit untuk mendapatkan kapal tempur atau kapal induk..."
"Seperti itu sudah cukup bagus daripada tidak sama sekali."
"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Hakai ?"
"Setidaknya sudah mendapat beberapa kapal perusak, kapal penjelajah ringan, dan kapal penjelajah berat. Karena beberapa hari yang lalu menyerang divisi transport berat."
"Sepertinya kita tidak mendapatkan tambahan di bagian daya tembak."
"Tetapi kita mendapat bantuan di bagian torpedo dan pengintaian karena mayoritas dari mereka dapat bergerak lebih cepat."
Kapal perusak Abyssal yang dibuat oleh Hakai memiliki perbedaan yang sangat jauh dari Kapal perusak Abyssal umumnya. Mereka mampu bergerak lebih cepat, dan menyerang lebih cepat. Selain itu, mereka sangat sulit dilihat di radar karena tubuh mereka yang didesain untuk melewati radar angkatan laut. Untuk urusan torpedo dan daya tembak, mereka setingkat dengan kapal penjelajah ringan angkatan laut.
Hakai kemudian mengecek kembali dokumen, dan kemudian berkata,
"Aku baru sadar, kita tidak memiliki kapal selam sama sekali selain Yuu."
"Selain kapal selam, semua kapal induk kita type berat semua. Setidaknya kita membutuhkan kapal induk yang lebih ringan. Walaupun kapasitas mereka tidak sebanyak umumnya... Tetapi mereka dapat membantu menghadapi kapal selam."
"Kau ada benarnya."
Hakai langsung bersandari di kursinya dan melihat ke arah langit-langit. Ia kemudian berkata,
"Selain itu... Apakah kau mendapat kabar dari 'mereka' ?"
"Mereka sudah memutuskan hubugan dengan diriku. Dapat dikatakan aku sudah bagian dari mereka lagi."
"Hah... Baguslah... Wanita tersebut tidak akan mengetahui lebih lanjut apa yang akan dilakukan oleh kita."
"Tetapi, aku mendapat kabar bahwa mereka akan berkumpul kembali dalam waktu dekat."
"Aku tidak terlalu tertarik. Mereka tidak ada hubungannya dengan diriku."
Hakai langsung menggaruk-garuk dahinya, dan membaca dokumen. Ia kemudian melihat ke arah Anemone dan bertanya,
"Apakah mereka memiliki tambahan kekuatan ?"
"Aku dengar dari Zuikaku, angkatan laut baru kehilangan beberapa gadis kapal mereka kembali. Yang paling besar adalah kapal penjelajah ringan Jintsuu. Dan dengan ini dapat dikatakan kekuatan mereka bertambah."
"Aku yakin... Zuikaku menuduh diriku yang membunuhnya, sama seperti Mutsu."
"Tepat sekali."
"Padahal itu semua ulah mereka. Aku baru ingin menemui Jintsuu, namun sudah didahului oleh mereka. Sayang sekali."
Anemone langsung tersenyum mendengar hal tersebut. Hakai kemudian berdiri, dan kemudian berkata,
"Sebaiknya kita mencari dua type yang baru saja kita bahas. Jika dapat menemukannya lebih cepat, tentu saja akan membuat semua misi ini menjadi jauh lebih mudah."
"Tentu saja."
Anemone kemudian memalingkan wajahnya ke arah salah satu sudut dari kamarnya, dan melihat sebuah papan catur. Namun, bidak caturnya tidak lengkap. Anemone kemudian bertanya kepada Hakai,
"Hakai-san... itu..."
"Beberapa bidak hilang... Maka dari itu aku tidak dapat memainkannya sekarang. Aku harus mencarinya terlebih dahulu."
"Begitukah..."
"Apakah kau tertarik untuk bermain catur..."
"Ah... Ummm..."
"Ahahahaha... Jika kau tertarik silakan saja, aku siap menghadapi dirimu."
Hakai langsung tertawa kecil melihat reaksi dari Anemone. Hakai kemudian menutup matanya sekali lagi, dan kemudian berkata,
"Baiklah, mari kita mulai mencarinya sekarang... Apa yang ingin kau cari ?"
"Hmmm... Mungkin kapal selam..."
"Tapi bukankah kapalmu tidak dapat menyerang kapal selam sama sekali ?"
"Ah... Tetapi 'senjataku' dapat melakukannya..."
"Jangan menggunakan 'senjatamu' selain kuijinkan..."
"Uuuu..."
Anemone langsung mengembangkan pipinya karena kesal. Hakai langsung menghela nafas dan berpikir,
'Anak ini... Keras kepala rupanya... Tapi, itu bagusnya sih...'
Hakai kemudian melipat tangannya, dan kemudian berpikir sebentar. Tidak berapa lama, ia mengambil telepon, dan memanggil beberapa orang. Tidak berapa lama, ia masuk Asagumo, Yamagumo, Shigure, Yuudachi, dan Mutsuki. Hakai kemudian berkata,
"Jika kau benar-benar ingin menghadapi kapal selam, aku akan meminjamkan mereka berlima..."
"Begitukah ?!"
"Iya... Berarti aku yang akan mencari kapal induk ringan."
"Iya."
"Sebagai gantinya, pinjamkan Katsuragi, Zuikaku, dan Shoukaku..."
Pada saat ia menyebut Shoukaku, ia berpikir sebentar. Ia kemudian berkata,
"Tidak... Tidak jadi... pinjamkan Katsuragi dan Zuikaku saja. Shoukaku temani dia."
"Baik, Laksamana."
Anemone sangat senang dengan hal tersebut, karena ini akan menjadi balas dendamnya kepada kapal selam setelah divisinya dihabisi oleh kapal selam dahulu. Sementara itu, Hakai menunjukkan wajah yang sedikit muak dengan langit yang penuh dengan pesawat. Hakai kemudian berkata,
"Semoga saja kita dapat mengumpulkan itu semua dengan cepat."
"Baik."
"Aku akan memulai patroli sekarang. Jika kau sudah mendapatkan target kita, datang kembali ke markas ini."
"Siap."
"Aku menunggu hasil positif darimu, Anemone."
Hakai langsung menepuk kepala Anemone dan kemudian berjalan meninggalkan kantornya. Ia menyempatkan diri untuk memberi perintah kepada semua kapal perusaknya untuk mendengar perintah Anemone selama misi ini.
Ia melirik ke arah Anemone yang terdiam. Namun, Hakai dapat melihat aura dari Anemone yang berubah drastis. Hakai langsung menghela nafas dan meninggalkan kantor tersebut untuk ke arah dock.
Di dock, Hakai langsung memanggil semua gadis kapal yang akan ikut dirinya. Ia memanggil Akagi, Hiryuu, Unryuu, Graf, Teruzuki, dan Suzuya. Ia kemudian berjalan ke arah Zuikaku dan Katsuragi, dan memberitahu perihal misi berikutanya. Zuikaku langsung berkata,
"Apa ?! Aku akan diperintah oleh dirimu ?"
"Ada apa ? Kau tidak senang ?"
"Tidak... Hanya saja, ini terlalu mendadak."
"Apa maksudmu ?"
"Walaupun saat ini kita sedang dalam aliansi, namun kau tetap saja orang yang telah membunuh Shoukaku-nee. Bagaimana mungkin aku dapat menerima perintah darimu."
"Rupanya masih ada dendam. Ya sudahlah."
"Tentu saja... Aku sangat membencimu... Hei... Hei..."
Hakai langsung meninggalkan Zuikaku. Zuikaku sangat terkejut dengan jawaban dari Hakai, dan langsung berkata,
"Tunggu dulu. Mengapa kau tidak membalas apa yang kukatakan barusan ?!"
Hakai langsung tersenyum sinis, dan kemudian berkata,
"Tidak ada gunanya berargumentasi dengan dirimu... Hanya akan membuang waktu saja."
"Apa maksudmu ?!"
"Ahahahaha... Lagipula..."
"Lagipula apa ?"
"Untuk apa aku memaksakan kehendak kepada dirimu. Jika kau ikut karena terpaksa tidak ada gunanya. Hanya akan merusak kesatuan dari divisi dan menghancurkan keseluruhan dari misi tersebut. Lebih baik membawa 'ikan-ikan' lucu di dalam air daripada membawa dirimu."
Zuikaku benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hakai. Zuikaku kemudian menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Maaf, aku hanya bercanda saja."
"Ahahahaha... Aku mengetahui hal itu."
"Jika mengetahui hal tersebut mengapa dirimu menjawab demikian ?!"
"Hanya mengikuti alur itu saja."
Zuikaku langsung kesal dengan jawaban dari Hakai. Hakai membalikkan badannya, dan kemudian berkata,
"Jadi apakah kau akan mengikuti misi ini sebagai perwakilan dari unit Anemone ?"
"Heh... Tentu saja. Misi apakah ini hingga kau membawa cukup banyak kapal induk dan satu kapal perusak untuk anti-air ?"
"Kita mengincar kapal induk lain."
"Kapal induk lagi ?"
"Namun kali ini kapal induk ringan yang jauh lebih dinamis dari kalian semua. Setidaknya untuk membantu pengintaian."
"Begitu ya. Lalu bagaimana dengan Laksamana ?"
"Anemone... Dia akan mencari kapal selam. Itu saja."
"Baiklah. Aku menjadi cukup panas untuk misi ini."
Zuikaku melihat ke arah Hakai sekali lagi, dan kemudian berkata,
"Entah mengapa... Wajahmu, mirip seseorang..."
"Hmmm ?"
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Wajahmu mirip dengan dirinya."
"Dirinya ?"
"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha dengan keras untuk sesuai harapanmu."
Zuikaku langsung berlari ke arah gadis kapal lain. Hakai langsung tersenyum, dan kemudian langsung bersiap-siap di peluncurnya. Ia berkata di dalam hati,
"Semoga saja... Ada hal yang menarik lagi dari pihak angkatan laut. Ahahahaha"
Di markas angkatan laut Tawi-Tawi, atmosfer yang sangat gelap menyelimuti tempat tersebut. Walaupun beberapa bulan sudah berlalu semenjak hancurnya unit kapal induk yang digunakan untuk menyerang Hakai, Kawano Shinji masih merasakan lubang di hatinya.
Ia seperti seseorang yang tidak memiliki jiwa. Ia beraktifitas dengan normal, namun dalamnya benar-benar kosong. Tentu saja, ia baru kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, Zuikaku, di pertempuran tersebut. Dan hasil dari pertempuran menghadapi Hakai tersebut merupakan yang terburuk dari semua misi yang ia lakukan.
Shinji saat ini menunggu kehadiran dari kapal induk ringan yang dijanjikan oleh markas angkatan laut pusat, sebagai pengganti sementara dari kapal induk yang hancur tersebut.
Shinji mengecek kembali semua gadis kapal di tempat tersebut, dan tidak berapa lama Musashi dan Shinano masuk ke dalam kantor Shinji. Shinano melihat mata dari Shinji yang benar-benar tidak memiliki nyawa sama sekali. Shinano menghela nafas dan melihat ke arah Musashi, yang langsung dibalas dengan anggukan dari Musashi. Shinano langsung berkata,
"Laksamana..."
"..."
"Laksamana Kawano..."
"Ah... Oh, Shinano... Musashi... Ada apa ?"
Shinano langsung melihat ke arah Musashi, dan menarik nafas panjang. Shinano kemudian berkata,
"Laksamana, divisi transport dari markas angkatan pusat sudah tiba. Dari lima yang dikirim, hanya tiga yang sampai kemari."
"Yang menyerang dua divisi transport ?"
"Abyssal bernama Hakai tersebut."
"Di mana lokasi terakhir kali mereka terlihat radar ?"
Shinano mengambil peta di sekitar markas Tawi-Tawi, dan menunjuk ke arah lokasi tempat dua divisi transport yang hancur. Shinji langsung menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Jalur itu pun sudah tidak aman. Jika aku lihat, dari berbagai jalur yang dapat dipikirkan... Tidak ada satu pun jalur yang cukup aman untuk membawa sumber daya maupun unit bantuan kemari."
"Namun, cara lawan menyerang juga sangat..."
"Mengacak... Tidak ada kepastian. Satu hari satu tempat di serang, namun di hari lain tempat tersebut aman."
"Lawan beradaptasi dengan taktik kita."
"Namun, kita tidak dapat beradaptasi dengan apa yang dilakukan oleh lawan kita."
"..."
"Kita sudah menyerang dia dengan divisi berat, seperti divisi yang dipimpin oleh Yamashiro dan divisi yang dipimpin oleh Yamato. Lalu kita pun sudah mengirim divisi kapal induk. Namun, semua itu hancur."
"Aku tahu mengenai hal tersebut, Laksamana."
"Berdasarkan apa yang kupelajari... Lawan kita mampu memiliki daya tembak yang cukup parah, serangan anti-air yang cukup hebat, torpedo yang sangat cepat, dan mampu menghindar dengan cepat."
"Bagaimana dengan divisi kapal selam kita ?"
"Mereka masih melakukan patroli... Semoga saja mereka tidak berakhir seperti dirinya..."
Shinano dan Musashi langsung menutup mata mendengar hal tersebut. Shinji kemudian berkata,
"Aku cukup khawatir dengan unit yang dikirim kemari oleh markas pusat."
"Apa maksud anda ?"
"Mereka mengirimkan Houshou, Shouho, Zuiho, Chitose, Chiyoda, Junyou, dan Hiyou kemari."
"Kapal Induk Ringan ?! Kapal Induk Biasa dapat dihancurkan oleh lawan kita dengan cepat..."
"Mereka beralasan kapal induk ringan dapat bergerak lebih cepat."
"Para atasan tersebut..."
"Jika mereka masih ada di sini... Atasan tersebut akan dimarahi oleh mereka..."
"Mereka ?"
"Sudahlah..."
Shinji langsung berdiri dan kemudian berjalan ke arah luar ruangan. Sebelum keluar, Shinano bertanya kepada Shinji,
"Unit bantuan yang dikirim kemari... Kapan mereka akan tiba..."
"Hari ini... Beberapa jam lagi mereka akan tiba..."
"Eh ?"
"Aku keluar sebentar."
Ia langsung menutup pintu ruang kerjanya, meninggalkan Musashi dan Shinano yang terkejut dengan kabar tersebut. Shinji berjalan ke arah salah satu taman yang selesai dibuat beberapa saat yang lalu. Ia bersandar di pagar, dan melihat ke arah laut yang luas.
Ia mengingat semua saat ia bersama dengan Zuikaku, kekasihnya. Dan pada saat ia menerima kabar mengenai tenggelamnya divisi Zuikaku. Shinji mengepalkan tangannya, dan kemudian berkata,
"Hakai... Jika aku bertemu dengan dirimu... Aku akan menghabisinya... Aku akan menghancurkan wajahnya..."
Ia langsung memukul pagar tersebut. Tidak berapa lama, ia mendengar suara seorang wanita yang sangat dikenalnya. Suaranya sangat lembut. Shinji langsung terdiam dan tidak mau melihat ke belakang. Wanita tersebut langsung berkata,
"Shinji..."
"Halo, Houshou..."
"Kau baik-baik saja ?"
"..."
"Ada apa ? Mengapa kau terlihat sangat tertekan seperti itu ?"
"..."
"Jika kau bertanya darimana aku mengetahuinya... punggungmu... bahumu... Semua terlihat dengan jelas..."
"..."
"Di mana Zuikaku ?"
"Dia..."
"Iya ?"
"Kau sudah mengetahuinya... Mengapa kau masih menanyakan hal tersebut, Houshou ?"
Shinji langsung melihat ke belakangnya, dan melihat ke arah Houshou. Wajah Shinji seperti orang yang mengeluarkan semua yang ia tahan sebelumnya. Shinji langsung berkata,
"Houshou... Kau sudah mengetahui semuanya... Mengapa kau menanyakan hal tersebut ?"
"Shinji..."
"Kau tahu... Aku telah membunuh Zuikaku dengan membawanya kemari... Kau tahu kenyataan bahwa... Aku gagal membawa Zuikaku kembali dalam keadaan utuh..."
"Shinji... Hei... Shinji..."
"Dan sekarang... kau datang kemari... kau datang kemari... atas perintah atasan dengan dalil untuk membantuku... ini semua agar lebih banyak lagi yang tewas..."
"Shinji..."
"Aku tidak mungkin membiarkan dirimu ke depan sana... setelah kematian dari Zuikaku... Tidak mungkin..."
"Hei..."
"Jika kau tewas... Bagaimana aku dapat memberitahu mereka semua..."
"SHINJI !"
Houshou langsung menampar wajah Shinji. Setelah itu, Houshou berkata,
"Apakah kau sudah cukup tenang, Shinji ?"
"..."
"Maafkan aku... Kau memang pantas mendapatkan hal tersebut..."
"Maaf..."
"Tidak apa-apa..."
Houshou langsung memeluk Shinji dan kemudian berkata,
"Aku hanya ingin berbicara dengan dirimu, dan membuatmu tenang. Aku dirimu sangat tertekan dengan kondisi sekarang ini..."
"..."
"Mari kita berbicara dahulu... Sebelum kita mulai pembicaraan mengenai misi. Aku sudah meminta semuanya untuk menunggu dahulu."
"Baiklah..."
Houshou langsung melepas pelukannya dan menepuk kepala Shinji dengan pelan. Setelah itu, Houshou langung mengajak Shinji untuk mencari tempat duduk untuk berbicara. Shinji langsung mengajak Houshou ke salah satu kedai di markas tersebut.
Pada saat mereka sampai di kedai, mereka melihat Taigei yang sedang duduk termenung. Houshou yang melihat hal tersebut langsung berkata,
"Ada apa dengan Taigei-san ? Ia terlihat sangat..."
"Semua kapal selam yang dikirimkan untuk pengintaian belum kembali dari misi mereka. Ia sangat khawatir dengan kondisi mereka semua di lini depan..."
Houshou tersenyum, dan kemudian menunjuk ke arah Shinji dan berkata,
"Lihat... Tidak hanya dirimu saja yang khawatir. Semua gadis kapal juga khawatir dengan kondisi di lini depan."
"Aku tahu hal tersebut."
"Ahahahaha... Sudah mari kita duduk dahulu."
Shinji langsung berjalan ke arah salah satu kursi yang kosong, melewati Taigei yang masih termenung. Houshou duduk dan langsung memesan makanan ringan, sementara Shinji hanya sebuah minuman. Terdapat keheningan setelah itu. Tidak berapa lama, Houshou langsung berkata,
"Shinji... Jika kau diam saja, bagaimana caranya aku dapat memberi nasihat pada dirimu ?"
"..."
"Atau kau bingung dengan apa yang ingin dibicarakan ?"
"Dapat dikatakan demikian..."
"Bagaimana jika kita mulai dengan apa yang telah kau lakukan setelah kau naik pangkat ?"
"Mungkin lebih baik demikian..."
Shinji mulai bercerita mengenai semua hal setelah ia naik pangkat, dan meminang Zuikaku. Setelah itu, ia bercerita selama di Tawi-Tawi, apa yang telah ia lakukan. Hingga kejadian tersebut dan juga menceritakan kembali saat ia kehilangan Ichirou. Houshou yang mendengarnya langsung merasakan aura gelap dari Shinji. Setelah itu, Houshou langsung berkata,
"Kau tahu... Semua hal di dunia ini ada awal dan akhirnya..."
"Aku tahu hal tersebut... Guru sudah membicarakan itu berulang-ulang."
"Terutama jika membahas seseorang benar ?"
"Iya."
Shinji meminum minuman yang telah ia pesan sebelumnya. Shinji kemudian berkata,
"Houshou... Kau tahu... Dirimu..."
"Aku tahu... Kau tidak perlu memberitahukannya kepada diriku. Aku tahu mengenai hal tersebut."
"Maka dari itu... Aku tidak ingin mengirimmu..."
Houshou langsung menaruh jari telunjuknya ke arah Shinji dan berkata,
"Aku adalah gadis kapal. Aku ada untuk melindungi manusia. Mungkin masa terbaikku sudah lewat. Namun, aku sudah melewati sebuah pertempuran yang sangat besar dan berat di masa lalu."
"Aku tahu."
"Aku sudah harusnya 'diistirahatkan'. Namun, mereka masih membutuhkan diriku. Semua pengalamanku dalam menghadapi Abyssal. Semuanya."
"..."
"Kau tahu... Aku percaya dengan dirimu. Kau mampu melakukannya. Aku percaya dengan hal tersebut."
"..."
Houshou kemudian berdiri dan menepuk kepala Shinji. Ia langsung berkata,
"Kau mampu melakukannya. Kau pasti mampu."
"Jika kau berkata demikian... Houshou..."
"Ehehehehe..."
Houshou kemudian tersenyum ke arah Shinji. Shinji langsung berkata,
"Kau tahu... Guruku mengatakan kau memiliki jiwa seorang ibu..."
"Begitukah ?"
"Dan aku percaya dengan hal tersebut... Setelah berbicara dengan dirimu... Aku merasa cukup tenang..."
"Baguslah jika demikian..."
"Namun, aku masih khawatir dengan dirimu..."
"Aku tahu."
Shinji langsung berdiri, dan kemudian berkata,
"Baiklah... mari kita kembali ke kantorku..."
"Siap, Laksamana."
"Aku yakin semuanya menunggu... Mari..."
Shinji dan Houshou langsung berdiri dan berjalan ke arah kantor. Pada saat itu, ia melihat Taigei sudah pergi dari kedai tersebut. Dari situ, mereka berdua merasakan sesuatu dan langsung lari ke arah kantor.
Di dalam kantor, Shinji melihat ke arah semua orang di dalam kantornya. Shouhou, Ryuujou, Hiyou, Junyou, Zuihou, Chitose, Chiyoda, Shinano dan Musashi. Shinji langsung berkata kepada Shinano,
"Shinano... Apakah Taigei tadi meminta ijin untuk pergi ?"
"Eh... Tidak..."
"Apakah kau dapat mengecek kapan Taigei menggunakan perlengkapannya ?"
"Ah... Baik... Musashi, ayo"
Shinano langsung mengajak Musashi dan keluar dari ruangannya. Setelah itu, Shinji menarik nafas panjang, dan melihat ke arah semua orang di dalam ruangan tersebut. Ia melihat ke arah Houshou dan kemudian berkata,
"Baiklah... Apakah kalian tahu tujuan kalian semua dikirimkan kemari ?"
"Tentu. Untuk membantu melakukan pengintaian dari sekitar sini."
"Terima kasih Houshou. Sekarang aku akan menunjukkan kepada kalian daerah yang harus kalian jaga."
Semuanya langsung fokus mendengarkan semua area yang harus mereka jaga. Shinji mengambil peta dan kemudian menunjuk ke beberapa titik. Setelah itu, ia berkata,
"Semua daerah ini dalam beberapa minggu terakhir ini cukup tenang dan tidak ada serangan."
"Beberapa minggu ?"
"Iya. Dalam beberapa minggu terakhir ini, daerah ini dapat dikatakan daerah yang 'aman' untuk mengirim tim ekspedisi."
"Bukankah daerah aman yang diberikan oleh petinggi di daerah ini ?"
Houshou menunjuk ke beberapa titik. Shinji menarik nafas panjang dan berkata,
"Tim transport dari markas pusat diserang di dua titik ini. Tidak ada yang selamat dari serangan tersebut."
"Apa..."
"Justru daerah yang dikatakan sangat 'berbahaya' menjadi daerah yang 'aman' untuk dilewati."
Houshou melihat ke arah peta dan kemudian berkata,
"Tunggu sebentar. Lawan kita..."
"Lawan kita benar-benar menyerang tanpa pola yang jelas. Dan ini membingungkan sekali. Kita harus mengamankan satu wilayah untuk mengirimkan transport kemari."
"Dan kau meminta daerah ini ?"
"Iya."
"Daerah itu sangat berbahaya. Ada potensi lawan menurunkan kapal selam."
Shinji langsung menggelengkan kepalanya. Houshou sangat terkejut mendengar hal tersebut. Ia langsung berkata,
"Yang menyerang mereka semua ada dua type. Yang satu adalah Laksamana Abyssal yang bernama Hakai. Dan yang satu lagi ada type hime baru. Hime tersebut mampu menyelam dan menyerang dengan menggunakan meriam. Selain itu, ia memiliki anti air yang cukup mumpuni."
"Eh..."
"Itu hasil laporan dari pengecekan di daerah tenggelamnya Zuikaku. Mayoritas pesawat yang diluncurkan tidak ada yang kembali."
"Itu sangat menyulitkan sekali. Berarti selain hime yang kita sebut Battleship Water Oni, Submarine Hime, Destroyer Hime, Destroyer Water Oni, dan Light Cruiser Princess... Mereka masih memiliki yang lain."
"Daftar mereka cukup panjang, dan sangat berbahaya."
"..."
"Dan dari semuanya dua yang baru inilah yang paling berbahaya. Mereka mampu menjadi apapun yang mereka inginkan hasil dari investigasi di beberapa pertempuran sebelumnya."
Houshou langsung berpikir sebentar, dan kemudian bergumam,
"Seperti dirinya..."
"Ada apa, Houshou ?"
"Ah tidak... Tidak apa-apa..."
"Baiklah jika demikian. Kalian semua akan berkeliling di daerah ini selama satu minggu ini hingga markas pusat mengirimkan unit mereka kemari."
"Siap !"
Semua gadis kapal di dalam ruangan tersebut langsung keluar, kecuali Houshou. Shinji menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Semua ini akan sangat berat. Aku yakin itu."
"Memang berat. Sama seperti saat aku masih prima."
"Eh ?"
"Tidak apa-apa."
Tidak berapa lama Musashi masuk ke dalam kantor dengan nafas terengah-engah. Shinji langsung mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Musashi. Sebelum sempat Musashi melapor, Shinji langsung berkata,
"Taigei pergi tanpa ijin ?"
"Iya..."
"Beritahukan pada diriku... Di mana lokasi dia sekarang ini..."
"..."
"Musashi ?"
"Tenggelam."
"Eh ?"
"Dia sudah tenggelam dengan semua kapal selam yang kita kirim."
Shinji langsung menutup matanya sebentar, dan kemudian berkata,
"Dari radar, siapa yang menyerang mereka ?"
"Eh... Ummm... Hime baru yang menghancurkan unit Zuikaku."
"Di lokasi mana mereka tenggelam ?"
"Eh ?"
"Jawab pertanyaanku. Di mana ?"
Musashi berjalan masuk ke dalam kantor, dan menunjuk ke arah satu titik di peta. Shinji langsung berkata,
"Lokasi tersebut cukup dekat dari sini. Dan juga merupakan wilayah yang dapat kukatakan 'aman' dalam dua minggu ini."
"Iya..."
Shinji melihat ke arah Houshou dan kemudian berkata,
"Houshou..."
"Siap, Laksamana..."
"Pada saat kau pergi... Hati-hati. Dapat dikatakan daerah yang akan kau jaga merupakan target berikutnya. Walaupun ada titik lain yang 'aman'."
"Siap, Laksamana."
Houshou langsung menunduk dan pamit dari kantor tersebut. Sementara itu, Shinji langsung duduk dan memikirkan langkah selanjutnya untuk tidak menjatuhkan lebih banyak korban lagi.
Satu minggu berlalu semenjak tenggelamnya Taigei. Selama satu minggu tersebut, misi yang dipimpin oleh Houshou sama sekali tidak mendapat masalah sedikit pun. Mereka selalu kembali dengan selamat.
Namun, terkadang pesawat mereka hancur di beberapa lokasi yang sangat acak. Houshou merasa sedikit khawatir dengan semua hal tersebut. Dan malam itu, ia mengetuk pintu kantor Shinji. Setelah mendapat ijin untuk masuk, Houshou langsung masuk ke dalam kantor. Shinji yang melihat Houshou yang hadir cukup terkejut. Ia langsung berkata,
"Jika dirimu yang hadir, berarti ada sesuatu yang tidak ingin disebutkan di dalam laporan resmi. Namun, hal tersebut tetap membutuhkan pengawasan dan keputusan yang penting. Apakah itu benar ?"
"Tepat sekali."
"Apa yang menarik perhatian darimu, Houshou ? Tidak... Aku salah... Apa yang membuatmu khawatir ?"
"Selama satu minggu ini, kami sama sekali tidak membaca satu pun lawan di sekitar kami. Namun, terkadang beberapa pesawat sama sekali tidak kembali..."
"Begitukah ?"
"Yang lain tidak terlalu memperhatikan. Mereka semua merupakan gadis kapal baru untuk menggantikan mereka yang lama. Dapat dikatakan mereka benar-benar baru pertama kali di misi penting seperti ini."
"Greenhorn... Apakah hal yang paling menarik perhatian dari pesawat yang hilang ?"
"Di lokasi terakhir kali pesawat mengirimkan transmisi terdapat sebuah badai..."
"Badai ?"
"Iya. Dari yang seharusnya cerah, mendadak menjadi sangat gelap dan angin berhembus kencang."
"Hakai..."
"Eh ?"
"Itu yang biasanya terjadi jika Hakai datang ke suatu area..."
"..."
"Di area mana saja... Mungkin aku dapat..."
Houshou langsung berjalan ke arah peta dan menunjuk ke beberapa titik. Beberapa titik sangat dekat, namun beberapa sangat jauh. Sangat mengacak. Shinji melipat tangannya dan kemudian berkata,
"Seperti biasa... Lawanku ini sama saja seperti cara berpikir Ichirou... Sangat sulit ditebak..."
"Sama seperti dia..."
"Dia ?"
"Ah... Tidak..."
"Selama ini, kau selalu menyebut 'Dia'... Guru juga menyebut seseorang dengan dia... Siapakah orang yang dimaksud dengan 'Dia' ini ?"
"Bukan orang yang penting..."
Shinji melihat Houshou yang terlihat segan membicarakan hal tersebut. Ia langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Sudahlah... Aku tidak akan mengejar lebih jauh lagi."
"Maaf..."
"Tidak apa-apa... Lagipula, besok kalian semua akan melakukan penjagaan kembali di daerah tersebut. Unit Kapal Induk baru sudah dikirimkan kemari. Mereka diharapkan tiba sekitar dua hari dari sekarang, terlambat dua hari dari yang dipikirkan."
"Berarti misi kami..."
"Bertambah menjadi dua hari... Maafkan aku..."
"Tidak apa-apa... Kami akan bersiap-siap untuk keesokan harinya... Saya undur diri."
"Silakan... Selamat malam, Houshou..."
"Selamat malam, Shinji."
Houshou langsung meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Houshou kembali memimpin unit tersebut. Langit sangat cerah, dan semua terlihat sangat bahagia. Mereka semua terlihat sangat bersemangat satu sama lain. Houshou melihat ke arah semuanya, dan kemudian berkata,
"Kalian kemarin malam mabuk-mabukan benar ?"
"Ahahahaha..."
"Aku tahu... Aku juga mengira kemarin merupakan misi terakhir kita. Sayangnya tidak. Namun, dengan apa yang kalian telah lakukan sebelumnya, aku yakin kalian semua mampu."
"Tentu saja."
Houshou tersenyum dan kemudian melihat ke depan. Pada saat itu, Junyou berkata,
"Haaahhh ?"
"Ada apa, Junyou ?"
"Radarku membaca badai akan datang kemari..."
"Eh ?"
"Bukankah laporan cuaca menyebutkan akan sangat cerah sepanjang hari..."
Houshou sangat terkejut mendengar hal tersebut. Ia langsung meluncurkan pesawatnya dan mencari di mana lokasi tersebut.
Sementara itu, Hakai sedang bersiap-siap untuk melakukan penyergapan. Ia melihat ke udara dan merasakan air yang menetes ke wajahnya. Ia berkata,
"Dingin... Sangat dingin..."
Ia kemudian tertawa keras, dan kemudian menutup wajahnya. Ia berkata kepada dirinya sendiri,
"Jangan... Jangan sekarang... Jangan menunjukkan wajah itu... Ahahahahahaha"
Ia kemudian memegang penutup matanya, dan kemudian melepasnya. Ia membuang penutup mata tersebut, dan kemudian berkata,
"Begini jauh lebih nyaman... Sekarang di mana mereka ? Huh ?"
Pada saat Hakai melihat ke udara, ia melihat satu pesawat. Pesawat tersebut merupakan type pesawat pengintai. Hakai langsung memicingkan matanya, dan kemudian berkata,
"Haaah... Mereka dekat sini... Lumayan. Tidak perlu mencari terlalu jauh. Lagipula, siapa yang memimpin unit lawanku... Aku penasaran. Selama ini, aku hanya melihat pesawat yang melewati atasku saja, namun aku belum tahu siapa..."
Hakai kemudian mulai bergerak ke arah lokasi datangnya pesawat pengintai tersebut.
Unit Houshou sudah masuk ke dalam badai yang mendekati unitnya. Houshou memerintahkan semuanya untuk masuk ke dalam formasi berlian, dan bergerak dengan pelan. Selain itu, ia meminta semuanya untuk meningkatkan sensitifitas radar mereka. Ia cukup khawatir dengan kondisi tersebut. Hiyou bertanya kepada Houshou,
"Houshou... Kondisi seperti ini..."
"Sama seperti saat itu..."
"Eh ?"
"Sama seperti saat aku bertempur menghadapi dirinya..."
"Dirinya ?"
"Mustahil... Mustahil... Ada orang lain..."
"Houshou..."
Hiyou langsung mengetahui kondisi yang saat ini. Kondisi yang sama sekali tidak ingin dilihat oleh Houshou. Mendadak radarnya membaca sebuah torpedo yang mendekat. Ia langsung berkata,
"Torpedo mendekat ! Di utara kita !"
"Semua menghindar... Sekarang !"
Semua langsung menghindari torpedo tersebut. Tidak berapa lama, mereka mendapat serangan yang bertubi-tubi dari meriam lawan. Mereka semua mampu melewati semua itu, hingga Junyou terkena serangan langsung. Houshou langsung menghentikan langkahnya, dan melindungi Junyou.
Sementara itu, Hakai yang melihat dari arah berlawanan, langsung terkejut melihat kapal induk ringan di hadapannya. Fakta mengenai mereka dapat dengan mudah terkena pelurunya membuatnya berpikir,
"Sepertinya mereka semua baru... Eh... Tunggu sebentar... Pakaian itu... Houshou ?!"
Ia sangat terkejut melihat Houshou. Ia terdiam sebentar, dan melihat sekali lagi ke arah depan. Dan ia sekarang benar-benar yakin, wanita di hadapannya adalah Houshou. Ia langsung berkata,
"Jadi... Houshou itu... Gadis Kapal... Atau dia..."
Ia diam sebentar, dan kemudian langsung bergerak pelan. Sementara itu, Houshou merasakan serangan lawan benar-benar berhenti. Pada saat ia melihat ke belakang ia melihat Hakai berdiri di sana. Dan ia merasakan sesuatu, seperti Hakai ingin berbicara dengan dirinya.
Houshou menarik nafas panjang, dan kemudian berkata kepada unitnya,
"Kalian semua diam dan bersiap-siap di sini... Aku akan ke tempat dia..."
"Eh ? Apa yang ingin kau lakukan Houshou ?! Itu berbahaya..."
"Tenang saja... Aku akan berbicara dengannya... Dia... Terlihat tidak akan menyerang kita..."
"Apakah kau..."
"Aku benar-benar yakin. Kalian tinggal saja di sini..."
Houshou langsung meninggalkan seluruh unitnya sebelum satu pun sempat menahannya.
Hakai berdiri melihat Houshou yang mendekati dirinya. Pada saat Houshou sudah sampai di hadapannya, Hakai menunduk. Sementara itu, Houshou sangat terkejut dengan pria yang berdiri di hadapannya.
Hakai langsung berkata,
"Lama tidak berjumpa, Bibi Houshou..."
"Lama tidak jumpa, Ichirou..."
"Ahahahaha... Itu nama yang sudah lama sekali tidak kudengar... Semenjak kematiannya..."
"Ichirou... Apa yang terjadi pada dirimu ?"
"Seharusnya aku yang bertanya... Apa yang terjadi pada dirimu, Houshou..."
"..."
Hakai langsung menatap tajam ke arah Houshou dan kemudian berkata,
"Houshou... apa yang telah dilakukan oleh Ichinomiya dan militer kepada dirimu ?"
"Aku..."
"Atau kau sebenarnya adalah gadis kapal semenjak lama ?"
"Iya..."
Hakai terdiam sebentar melihat ke arah gadis kapal di hadapannya. Ia kemudian tertawa, dan kemudian berkata,
"Aku berbohong jika mengatakan aku tidak mengetahuinya sama sekali..."
"Kau... Sejak kapan..."
"Semenjak aku disekap oleh Ichinomiya dan menjadi Laksamana Abyssal..."
"Ichirou... Mengapa..."
"Eit... Houshou... Aku bukan Ichirou... Aku Hakai..."
"..."
"Ok, aku tahu dirimu adalah Houshou, Kapal Induk Ringan dari kelas Houshou. Kau berada langsung di bawah kepemimpinan Laksmana Amami Yuuya yang terkenal di perang besar bertahun-tahun yang lalu pada saat menghadapi Abyssal, Battleship Water Oni saat itu. Kau bersama ayahku."
"..."
"Kau juga satu-satunya Gadis Kapal yang dibiarkan setelah perang tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada mereka semua yang berjuang saat itu. Sangat disayangkan hanya kau sendirian... Sangat sepi..."
"Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Ini semua sudah menjadi kewajiban dari gadis kapal untuk menerima hal seperti itu..."
"Begitukah ? Aku dengar kalian memiliki perasaan juga... Sama seperti Zuikaku kepada Shinji..."
"..."
"Zuikaku aman... Aku beritahu dirimu sekarang..."
"Kau..."
"Selain itu, proyek gadis kapal Ichinomiya merupakan proyek untuk membuat ulang gadis kapal sama seperti yang dibuat oleh nenekku... Yang menjadi Battleship Water Oni... Sungguh sebuah ironi, Ichinomiya juga menjadi hal seperti itu... Ahahahahahaha... Karma kah ?"
"..."
"Lagipula, Abyssal juga merupakan hasil buatan dari kakekku... Ahahahahhaa"
"Aku tidak dapat menepis fakta tersebut..."
"Dan juga... Kawano Aoi... Dia bukanlah ibuku... Ibu kandungku..."
"..."
"Shinji sama sekali tidak mengetahuinya... Dasar anak idiot..."
Houshou langsung terdiam. Ia kemudian melihat ke arah Hakai, dan kemudian berkata
"Ichirou... Mengapa kau tidak kembali saja kemari... Shinji berada di sana..."
"Shinji ? Dia masih menjadi laksamana ?"
"Tentu saja... Dia sudah seperti ayahmu..."
"Hooh..."
"Jadi... Kembalilah kemari..."
Hakai terdiam dan melihat ke arah Houshou. Ia langsung tersenyum sinis, dan kemudian berkata,
"Kau berharap aku berkata 'Aku akan kembali ke dunia manusia dan membantu manusia'..."
"..."
"Ahahahahahahaha... Kau sangat naif, Houshou... Aku bukan ayahku yang dengan senang hati membantu temannya dan kembali ke sisi manusia... Aku bukan dirinya !"
"Mengapa ?"
"Manusia itu sudah busuk... Sangat busuk... Mereka harus dimusnahkan... Namun, jika langsung kumusnahkan sama saja tidak menarik..."
"Apa tujuanmu..."
"Aku melakukan semua ini untuk membuka mata semua orang... Dengan membuat seseorang terdesak, orang tersebut akan terlihat sisi buruknya... Mereka akan mulai menyikut satu sama lain... Aliansi yang terjadi satu sama lain akan hilang... Ahahahahha... Dan kau tahu apa yang menarik lagi ?"
"..."
"Wajah mereka... Wajah mereka semua... Sangat menarik... Wajah yang mereka buat benar-benar berbeda satu sama lain... Wajah marah... Wajah pasrah... Semua itu merupakan hal yang sangat menarik..."
"Kau monster..."
"Kau orang kedua... Eh tidak, sudah cukup banyak yang mengatakan demikian... Namun, dirimu sama saja seperti Katori... Ahahahahaha..."
Houshou langsung mundur sebentar, dan melihat ke arah Hakai. Ia menelan ludahnya sebentar. Ia benar-benar terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Hakai. Ia langsung berkata,
"Ichi..."
"Houshou... Aku sudah mengatakan kepada dirimu... 'Ichirou' sudah mati... yang ada di hadapanmu adalah 'Hakai', Laksamana Abyssal..."
"..."
"Ada apa, Houshou ? Kau bertanya-tanya mengapa diriku menjadi seperti ini ? Tanyakan saja pada Ichinomiya... Ahahahahaha..."
"Tidak hanya itu... Apa tujuanmu datang kemari..."
"Tujuanku..."
"Iya..."
"Mudah saja... Sangat mudah... Aku membutuhkan semua orang di belakangmu..."
Houshou langsung menatap tajam ke arah Hakai. Ia melihat dengan wajah geram. Hakai langsung berkata,
"Kau satu-satunya yang selamat dikarenakan kau sempat mengasuh diriku dan Shinji pada saat kami masih muda... Setelah kematian dari Ibu dan sebelum diangkat oleh keluarga Kawano."
Mendadak sebuah pesawat meluncur dan menyerempet wajah Hakai. Hakai melihat ke arah Houshou, dan tersenyum sinis. Houshou langsung berkata,
"Kau tidak akan kuijinkan lewat dari sini..."
"Houshou... Kau seharusnya sadar, kau tidak akan mampu menghadapi diriku..."
"Aku tahu itu... Bahkan Yamato pun tidak mampu menghadapi dirimu..."
"Lalu mengapa kau bersikeras menyerang diriku ?"
"..."
"Hah... Kau diam saja di sana..."
"Hancurkan saja diriku..."
"Huh ?"
"Buat aku tenggelam saja... Namun, jangan anak-anak di belakangku..."
Hakai terdiam sebentar mendengar apa yang dikatakan oleh Houshou. Pada saat Hakai melihat ke wajah Houshou, ia melihat wajah Houshou yang sudah siap akan segalanya demi melindungi semua anak-anak tersebut. Wajah yang sama pada saat ia melindungi Shinji dan dirinya dahulu. Hakai langsung menutup matanya, dan kemudian berkata,
"Jika kau berkata demikian... Aku akan melakukannya..."
"Terima kasih banyak, Ichirou..."
"Ini merupakan bentuk rasa terima kasih karena telah mengasuhku dahulu..."
"Ahahahaha... Terima kasih banyak... Ichirou..."
"Apa yang akan dilakukan oleh anak-anak tersebut setelah kau tenggelam ?"
"Kau akan mengetahuinya... Yang pasti... Biarkan mereka mundur..."
Hakai tersenyum sebentar dan kemudian langsung membuat sebuah pedang. Ia langsung melihat ke arah Houshou, dan menusuk Houshou. Setelah itu, ia berkata,
"Selamat tinggal... Houshou..."
"Terima..."
"Kau sangat naif..."
"Eh..."
"Apakah kata-kata dari setan dapat dipercaya ?"
"Ichi..."
Hakai langsung membuat sebuah meriam di tangan kirinya, dan menembak kepala Houshou. Wajah Houshou hancur lebur karena ledakan dari meriam Hakai. Hakai berkata,
"Ahahahaha... Sangat disayangkan bunga indah harus hancur di tengah pertempuran... Kau sangat indah Houshou... Namun, takdir sepertinya tidak di tanganmu... Ahahahahaha..."
Ia kemudian melihat ke depan, ke arah semua kapal induk ringan yang lain yang sangat ketakutan dengan keberadaan Hakai. Ia tersenyum, dan berkata,
"Sekarang... Mari kita hancurkan yang lain... Ahahahahaha..."
Hakai langsung meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah semua kapal induk tersebut.
Tiga jam berlalu, Hakai akhirnya tiba di markasnya. Ia menyeret semua kapal induk tersebut ke markasnya seorang diri. Di sana, ia melihat Anemone yang sudah menunggu bersama Katori dan Shoukaku.
Anemone langsung berkata,
"Ah... Kau sudah kembali, Hakai-san..."
"Iya..."
"Zuikaku..."
"Dia kuminta berpatroli... Lebih mudah pada saat aku bergerak sendiri... Ia setidaknya mampu menghadapi lawan yang menghadang dirinya..."
"Begitukah..."
"Iya..."
Hakai merasakan sebuah pesawat yang meluncur ke arah dirinya. Ia langsung menghindar, dan menangkap pesawat tersebut. Di sana, ia melihat Zuikaku dan Katsuragi. Hakai tersenyum dan berkata,
"Akhirnya kalian kembali..."
"Tentu saja... Menghadapi Kapal Induk itu melelahkan... Lihat saja, Teruzuki. Ia sangat lelah..."
"Aku tahu... Lalu mengapa kau menyerangku, Zuikaku ?"
"Karena kau tidak memberikan perintah yang jelas."
"Ahahahahaha... Maaf... Maaf... Aku terlalu terburu-buru..."
"Sudahlah... Yang penting semuanya selamat. Bagaimana hasil buruanmu ?"
Zuikaku melihat ke arah sekelompok mayat dari kapal induk ringan yang dibawa oleh Hakai. Dan di sana ia melihat Houshou. Zuikaku melihat ke arah Hakai, yang langsung dibalas dengan tatapan ringan. Anemone melihat ke arah mereka berdua, dan kemudian berkata,
"Uhuk... Hakai-san... Aku sudah membawa apa yang kau minta... Dengan tambahan wanita ini..."
"Taigei ? Sudahlah, ia mungkin dapat membantu kita untuk mengurus kapal selam tersebut."
"Tentu saja..."
"Namun, jumlah ini masih sangat sedikit..."
Anemone melihat ke arah Katori yang mengangguk. Ia menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Bagaimana jika kau meminta bantuan dari Abyssal ?"
"Aku sudah bilang mereka..."
"Yang kumaksud adalah menguasai Abyssal..."
"Menguasai huh..."
"Dengan begitu, kita akan memiliki bantuan lebih banyak benar ?"
"Aku setuju dengan dirimu... Namun..."
"Jika kau berkata mereka tersebar, mereka akan..."
"Aku tahu... Hanya saja, aku kurang senang menyebut menguasai... lebih tepatnya membuat aliansi..."
Anemone melihat ke arah Hakai dengan wajah bingung. Hakai langsung berjalan tanpa memikirkan apa yang dipikirkan oleh Anemone. Pada saat ia melewati Anemone, ia langsung menepuk kepalanya, dan berkata,
"Kerja bagus, Anemone..."
"Terima kasih banyak, Hakai-san..."
Hakai langsung meninggalkan Anemone. Ia melihat ke belakang, dan menemukan Anemone yang kegirangan. Ia memberi tanda kepada Katori untuk mengurus itu semua, dan langsung berjalan ke arah kantornya. Setelah sampai, ia langsung berkata,
"Apa yang dikatakan oleh Anemone ada benarnya... Membuat aliansi dengan Abyssal... Ehehehe... Ahahahahahaaha... Semua itu akan jauh lebih mudah... Sangat mudah... Sekaligus menghancurkan Ichinomiya... Ahahahahhahahahaha"
HakunoKazuki di sini !
Maafkan saya atas keterlambatan chapter ini... Maaf... Maaf... *menunduk
Ini semua karena ada beberapa perubahan di sana sini dan mendapat ide untuk one-shot lain... *Ok kebanyakan One-shot itu tidak baik
Step A Side...
Entah mengapa cerita ini yang awalnya tidak ada hubungannya dengan beberapa cerita mendadak ada... I don't know why my mind think like that...
Errr...
Whatever
Jadi, Silakan menikmati chapter terbaru ini. Chapter selanjutnya akan dibuat setelah one-shot tersebut selesai. Silakan ditunggu
