"Hyung? Hyung? HYUNG?!" panggil Jongin – yang berujung teriakan – dengan kepala yang menyembul di pintu kamar.

Myungsoo yang sedang merebahkan badan dan memainkan game di ponselnya itu tiba-tiba berseru, "YA! Kau mengagetkanku! Kau membuatku kalah! Kim Jongin! AISH!"

"Salah sendiri kau tidak menjawab panggilanku." Ucap Jongin dengan mocking face-nya.

"Tapi… ini final battle, Jongin-ah! Tinggal selangkah lagi aku menjadi peringkat pertama di permainan ini! Usahaku selama dua bulan ini hancur! AH, why?!" rengek Myungsoo yang benar-benar seperti anak kecil yang menginginkan sebuah balon.

"Hyung, kau ini! Jangan merengek! Itu sama sekali tidak pantas dengan wajahmu yang begini!"

"Terserah! Tapi ini… AH!" teriak Myungsoo dengan dolphin voice-nya.

"ASTAGA!" Jongin membulatkan matanya, "Kau selalu seperti anak kecil jika menyangkut games ataupun kamera! Apa kau benar-benar lebih mencintai mereka daripada adikmu ini?"

Dengan mulut yang dikerucutkan beserta aegyo-nya, "Molla." Ucap Myungsoo seraya membenamkan wajahnya di bantal, "Aku marah padamu."

"Hanya karena game ini?! HEOL! Aku tidak mengerti kenapa kau akhir-akhir ini bersikap imut begitu."

Myungsoo kemudian duduk di samping Jongin yang ada di tepian ranjang. Kemudian dia memunculkan wajah tak berdosanya pada sang adik. Matanya pun berkedip seperti anak kecil yang polos. Inilah Kim Myungsoo, seseorang yang punya kepribadian ganda layaknya penderita DID.

"Hei, ada apa?" tanyanya dengan sikap dingin yang biasanya.

"Aku lega alter ego-mu ini kembali." Ucap Jongin dengan bola mata yang diputar, "Hyung, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"

"Kau sudah bertanya."

"AISH! Bukan itu yang ingin ku tanyakan!"

"Kau bertele-tele."

"Hyung! Jangan begini!"

"Aku tak punya waktu."

"Hyung… Please…"

"Ada apa, Jong-ah?"

"Hyung… apa kau benar-benar berkencan?"

Myungsoo mengerutkan alisnya ketika mendengar pertanyaan Jongin, "Memangnya kenapa?"

"Ani, hanya saja… sepertinya aku tahu siapa gadis itu."

Tiba-tiba Myungsoo tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Sejenak Jongin mengamati perubahan mimik wajah kakak lelakinya. Dia sadar jika ada yang tidak beres kali ini.

"Kau tahu dia siapa? Hmm… Jung Soojung?" tanya Myungsoo.

"Hyung, kau…"

"Aku memang mendekatinya, Jong-ah. Memangnya hanya kau saja yang bisa seperti itu?"

Jongin tidak mengerti kenapa Myungsoo memberitahunya. Padahal menurut skenario Jongin, dia yang seharusnya menebak siapa gadis itu.

"Hyung! Bagaimana kalau kita… double date?" usul Jongin.

"Double date? Gadis mana lagi yang akan kau ajak? Hyeri? Suji? Seulgi? Irene? Woah, mantanmu banyak sekali, Jong-ah. Itu pun yang aku tahu saja." Goda Myungsoo.

"Aish! Aku akan mengajak Kyungsoo noona, hyung."

Tiba-tiba Myungsoo tertawa terbahak-bahak, "Aigoo… kau memang calon suami yang baik, Jong-ah!"

Jongin hanya bisa memandang kakaknya dengan tatapan kesal. Entah dia harus bersyukur atau sedih memiliki kakak seperti dia. Akhirnya Jongin berdiri dan akan beranjak meninggalkan Myungsoo yang masih berusaha menggodanya.

Ketika Jongin sudah berada di luar kamar, tiba-tiba Myungsoo berseru, "Jongin-ah! Ajak Chanyeol dan Baekhyun juga. Aku yang akan mentraktir kalian semua! Tapi kau yang atur tempatnya!"

"Arraseo, hyung! Aku akan mengajak mereka!"

'Kau akan tahu yang sebenarnya, hyung. Tenang saja!' batin Jongin bangga.

Di dalam kamar, Myungsoo kembali merebahkan dirinya di ranjang kesayangannya. Tangannya terlipat dan ditindih di bawah kepalanya.

"Aigoo… pasti Chanyeol dan Baekhyun memberitahunya. Karena aku yakin mereka berdua melihatku makan dengan Soojung siang itu." Gumamnya.

Kemudian dia meraih ponsel yang ada di bawah kakinya, dan menelepon seseorang seraya tersenyum kegirangan.

"Halo? Woori Soojung-ie~" ucapnya dengan imut yang dibuat-buat.

"Hei, Soojung-ah! Jongin mengajak kita makan bersama. Sepertinya Chanyeol dan Baekhyun memberitahunya ketika kita makan siang tempo hari. Mereka bodoh sekali, tidak ada yang curiga dengan apa yang kita perbuat." Ujar Myungsoo tergelak.

Setelah Soojung yang berada di seberang menjawab, "Siap-siap saja Baekhyun memberikan death glare-nya padamu karena dia akan ikut. Tenang saja Jung-ah, kita melakukan ini demi kebaikan mereka juga."


Pagi itu Jongin menunggu Kyungsoo di cubicle Kyungsoo. Karena dia tahu Baekhyun tidak bisa menyiapkan sarapan, maka Jongin sudah membawakan makanan untuk calon istrinya itu. Akhir-akhir ini Jongin suka melihat perubahan fisik dari Kyungsoo. Baginya, semakin berisi, makin lucu pula wanita itu.

Orang-orang di kantor juga mulai berspekulasi dengan hubungan mereka. Banyak yang mempertanyakan apakah mereka berkencan atau tidak. Karena bagi orang-orang tersebut, perubahan yang ditunjukkan mereka sangatlah drastis.

"Noona!" seru Jongin sambil melambaikan tangannya ke arah Kyungsoo yang baru saja datang.

"Pagi, noona." Sapa Jongin pada Kyungsoo yang duduk di kursi kerjanya.

"Pagi, Jongin-ah. Whoa, kau menyiapkan sarapan untukku?"

"Hng!" Jongin mengangguk, "karena tadi pagi kau bilang jika Baekhyun noona berangkat lebih pagi, maka aku menyiapkan ini untukmu. Apa kau berangkat dengan Chanyeol hyung?"

Sambil meminum teh hangatnya, Kyungsoo menjawab, "Iya, tapi sepertinya masih berbicara dengan Sehun di bawah. Kenapa?"

"Aniya. Noona, apa besok malam kau tidak ada acara?"

"Tidak ada. Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?"

"Noona, Myungsoo hyung mengundang aku, kau, Baekhyun noona, dan Chanyeol hyung untuk makan malam. Dan kau tahu, dia akan mengajak Soojung."

Kyungsoo terlihat berpikir dengan apa yang dikatakan Jongin, "Jung Soojung? Bukankah kau akan mengatakan apa yang Soojung lakukan padamu?"

"Iya. Aku tidak bermaksud mempermalukan Soojung. Tapi… aku takut jika dia memanfaatan apa yang aku dan Myungsoo hyung punyai. Maksudku, kami berdua nantinya akan memegang perusahaan ini. Ah, Myungsoo hyung lebih tepatnya. Dan penyerahan itu akan dilangsungkan sebentar lagi. Aku takut jika dia hanya menginginkan harta kami."

Wanita yang ada di hadapan Jongin itu terlihat memikirkan sesuatu. Dia sepertinya punya pendapat yang berbeda dari Jongin.

"Jongin-ah, apa kau tidak curiga dengan Myungsoo? Maksudku…" ucapannya terhenti. Dia terlihat ragu-ragu untuk menyelesaikan perkataannya.

"Maksudmu, noona?"

"Aish, lupakan. Mungkin hanya aku saja yang terlalu sensitif."

Meskipun Jongin terlihat kecewa karena Kyungsoo tidak melanjutkan perkataannya, dia tidak bisa memaksa. Dia sadar akhir-akhir ini Kyungsoo tidak bisa dipaksa. Sikapnya lebih sensitif dan rapuh daripada biasanya.

"Kyungsoo-ya!" sapa seseorang yang tiba-tiba menyembul dari depan cubicle Kyungsoo.

"O-oh? Donghae oppa?" ucap Kyungsoo kaget.

Wanita itu tidak menyangka seseorang yang disukainya dulu menyapa dan tersenyum padanya. Selama ini dia tidak pernah mendapati seorang Lee Donghae tersenyum semanis itu.

"Kyungsoo-ya, kau masih punya desain konser akhir tahun untuk tahun lalu? Itu proyek yang kau kerjakan, bukan? Sepertinya departemen keuangan membutuhkannya untuk perkiraan dana konser tahun ini…" kata Donghae seraya menyerahkan flash disk-nya pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang masih berusaha menangkap kejadian itu hanya bisa mengerjapkan mata dan membiarkan otaknya berjalan lambat seperti siput.

"Noona?" tegur Jongin yang masih duduk di sebelahnya.

"A-ah! Iya, oppa! Aku yang mengerjakannya. Sebentar, aku harus mencari desain itu di folder mana…" ucap Kyungsoo gugup seraya menyalakan komputer yang ada di hadapannya.

Jongin menangkap gelagat tidak beres pada wanita itu. Dia pernah melihat sikap seperti itu sebelumnya. Ya, ketika Kyungsoo bertemu Jongin untuk pertama kalinya. Sikap gugup itu memang tidak pernah ditunjukkan Kyungsoo lagi sekarang. Tapi ketika pria itu muncul dihadapan Kyungsoo, sikap tersebut muncul lagi.

'Aneh. Kenapa noona bersikap seperti itu? Siapa pria ini?'

Sejenak Jongin meneliti postur dan figur dari pria itu. Dia mengakui pria tersebut memang tampan layaknya seorang prince charming yang akan mencari Cinderella-nya. Tapi…

'Jadi ini yang namanya Lee Donghae? Pria yang noona sukai sebelumnya? Cih, bahkan aku lebih baik dari dia. Wajah pria itu cenderung seperti orang yang berpikir lambat. Cara bicaranya pun… Aih, bagaimana bisa noona menyukainya?' Batin Jongin.

Tanpa sadar Jongin menunjukkan wajah mengejeknya pada Donghae. Sesekali mulutnya berdecak layaknya melihat sesuatu yang remeh.

"Permisi… ada yang salah dengan penampilanku? Apa aku membuatmu kagum? Sepertinya kau sangat memperhatikanku." Ucap Donghae ketika melihat Jongin yang menatapnya lekat-lekat.

"Tidak. Tidak ada yang salah denganmu, Donghae-ssi." Ujar Jongin dengan nada yang penuh penekanan.

"Ah, kau tahu namaku? Mari kita berkenalan dengan cara yang lebih baik." Donghae mengulurkan tangannya, "Lee Donghae imnida."

Jongin berdiri seraya membalas uluran tangan itu dan sedikit meremasnya, "Jongin. Kim Jongin imnida."

"Kau… masih intern?" tanya Donghae dengan nada yang menyindir dan melepaskan tangannya dari genggaman Jongin.

"Iya, aku intern di departemen ini. Ada masalah, Donghae-ssi?"

Kyungsoo yang masih berkutat dengan file-file di komputernya pun menangkap suasana yang tidak baik disana. Untung saja dia sudah menemukan desain itu dan segera menyerahkannya pada Donghae yang masih berdiri di tempat yang sama.

"Ini, oppa." Ucap Kyungsoo seraya menyerahkan desain tersebut.

"Ah, terima kasih, Kyungsoo-ya. Kau… terlihat berbeda akhir-akhir ini. Entah mengapa ada aura lain dari dirimu. Apa kau sedang berkencan?" tanya Donghae tiba-tiba.

Jongin dan Kyungsoo kaget karena pertanyaan Donghae yang sangat nonsense. Kyungsoo tidak percaya jika seorang Lee Donghae, pria yang – mungkin dulu – disukainya, bertanya seperti itu. Berbeda dengan Jongin, telinganya memerah karena sedang menahan emosinya sendiri.

"Apa… kau berkencan dengan dia? Intern ini?" tanya Donghae lagi dengan wajah yang super menyebalkan.

"Oppa, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"

"Tidak apa, Kyungsoo-ya. Jika kau menginginkan pasangan yang lebih baik, jangan dengannya. Lebih baik kau bersama kepala departemen keuangan saja. Kau tahu maksudku, kan?" Ucap Donghae yang kemudian berlalu pergi.

Kyungsoo memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya. Dia menyimpulkan bahwa Lee Donghae masih sama. Masih seseorang yang kurang ajar dan sombong. Masih ingat dibenaknya bagaimana dia bisa mengandung anak dari Jongin hanya karena Donghae mencampakkannya bahkan memeluk wanita lain dihadapannya. Padahal saat itu jelas-jelas Donghae tahu jika Kyungsoo menyukainya.

"Noona, kepala departemen keuangan itu… siapa?" tanya Jongin penasaran.

"Lee Donghae. Lee fucking Donghae." Umpat Kyungsoo yang membuat Jongin membelalakkan matanya.

Untuk beberapa saat Jongin terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan wanita di sampingnya itu. Dia tidak mengira jika Kyungsoo, wanita yang selama ini dia pikir lemah lembut bisa mengumpat seperti itu.

"YA! Jangan mengumpat seperti itu! Aku tidak mau jika nantinya anakku tahu ibunya suka mengumpat begitu." Tegur Jongin.

"Jongin-ah, kau tidak mengerti apa yang terjadi. Dan kau tidak mengerti apa yang aku rasakan sekarang. Jangan mengaturku!"

Jongin hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Lelaki itu takut jika dia akan memperburuk suasana.

"Noona, apa kau benar-benar masih menyukainya?" tanya Jongin setelah beberapa saat hening.

"Kenapa kau bertanya hal seperti itu?" ujar Kyungsoo ketus.

Lelaki itu berdiri dan bersiap untuk pergi, "Aku pikir pertanyaan tadi adalah hal yang wajar jika aku menanyakannya padamu." Ucapnya dengan wajah yang kecewa.

Kyungsoo sadar jika ada yang tidak benar dengan Jongin. Dia mendengar ada nada dan gurat kecewa dari pria itu. Sebenarnya dia tahu jika dia berbuat salah, tapi Kyungsoo menuruti egonya agar tidak mau mengalah pada Jongin.

'Apa aku terlalu lunak padamu? Apa aku terlalu mengalah? Apa aku harus menjadi Jongin yang dulu?' pikir Jongin.

Berkali-kali pertanyaan itu muncul di benaknya selama dia berjalan menuju meja kerjanya sendiri. Kali ini dia merasa sangat kecewa. Dia masih yakin jika wanita itu masih menyukai Lee Donghae, dan saat ini Jongin menyadari bahwa hatinya sangat sakit melihat Kyungsoo yang bersikap gugup pada Donghae.


Malam itu pun tiba. Dimana Myungsoo mengajak Jongin bersama teman-temannya makan malam. Chanyeol, Baekhyun, Jongin, dan Kyungsoo sudah menunggu disana. Ah, sebenarnya Jongin masih kecewa dengan sikap Kyungsoo. Bahkan mereka tidak berbincang sama sekali. Jongin hanya diam dan tidak menanggapi apa yang dibicarakan ketiga orang lainnya.

"Jongin-ah, kenapa kau diam saja?" tanya Chanyeol yang menangkap sikap aneh dari Jongin.

Jongin yang sedari tadi memainkan ponselnya pun sedikit menghela nafas, "Oh? Benarkah? Kupikir aku bersikap seperti biasa." Jawabnya sedikit menyindir Kyungsoo yang duduk di sampingnya.

"Dari kemarin kau sedikit menjadi pendiam. Padahal biasanya kau selalu heboh dan cerewet." Ujar Baekhyun menimpali.

"Begitukah? Aku rasa aku hanya sedikit tidak enak badan. Akhir-akhir ini aku sering kurang tidur sepertinya." Ucap Jongin dengan senyumnya yang agak terpaksa.

Kyungsoo tidak berani mengangkat kepalanya. Ketika dia mendengar jawaban pertama dari Jongin, dia merasa bahwa itu adalah salahnya. Bahkan cara menjawab Jongin juga tidak seramah biasanya.

Meskipun Chanyeol dan Baekhyun berulang kali mendesak Jongin, jawabannya tetap sama. Dia merasa dia baik-baik saja dan tidak bermasalah sedikitpun.

"Jongin-ah, bisa berbicara sebentar?" tanya Kyungsoo yang akhirnya tidak tahan dengan semua jawaban pria itu.

"Berbicara apa?" jawab Jongin dengan perhatian ke arah anak kecil yang duduk tak jauh dari meja mereka.

"Aku hanya ingin berbicara berdua saja. Hanya sebentar lagipula."

Jongin mengalihkan perhatiannya dan menatap Kyungsoo dengan ekspresi yang agak emosi, "Untuk apa? Aku sedang malas untuk beranjak dari sini." Ucapnya dingin.

Baekhyun dan Chanyeol sekarang mengerti kenapa Jongin bersikap begitu. Tampaknya pasangan itu sadar jika Jongin dan Kyungsoo dalam keadaan bersitegang. Awalnya Baekhyun ingin berbicara pada mereka, tapi Chanyeol menggenggam tangannya dan berbisik bahwa itu tidak perlu.

"Jongin-ah, apa kau benar-benar marah karena sikapku kemarin?" tanya Kyungsoo lirih.

Jongin tidak menjawab, dia hanya diam dan kembali memperhatikan anak kecil yang sedang tertawa bersama ayahnya.

"Jongin-ah, jawab aku…"

Suara Kyungsoo yang tiba-tiba berubah parau membuat Jongin menatapnya sekali lagi. Sekarang perasaan tidak tega muncul di hatinya. Bagaimana tidak, Kyungsoo hannya menunduk dan tidak berani menatap mata Jongin.

"Kau menangis? Hei, lihat aku." Jawab Jongin yang akhirnya menghadap ke arah wanita di sampingnya.

Kyungsoo mengangkat kepalanya dan memunculkan wajah yang sendu. Tampak matanya mulai berair disana.

"Kita bicarakan masalah ini nanti ketika makan malam sudah selesai. Sekarang bukan waktu yang tepat. Aku tidak marah padamu. Aku akan menjelaskan semuanya nanti." Jongin tersenyum dan itu membuat Kyungsoo sedikit lega.

Suasana yang awalnya sedikit dingin sudah kembali menghangat. Memang Jongin tidak secerewet biasanya, tapi paling tidak dia sudah berbicara dan sedikit bercanda.

"Kami datang! Maaf jika terlambat. Dia lama sekali!" seru Myungsoo yang datang dan menggandeng tangan Soojung.

'Well, memang mereka terlihat serasi. Tapi lihat saja, hyung! Aku tidak akan membiarkan gadis itu bersamamu!' batin Jongin.

"YA! Kau menyalahkan aku?" jawab Soojung dengan tatapan mautnya pada Myungsoo.

"Geez, baiklah. Kau memang serba benar, Tuan Putri." Ujar Myungsoo dengan nada sindirannya.

Myungsoo dan Soojung akhirnya duduk. Sesekali mereka saling pandang dan terkikik sendirian. Baekhyun, yang melihat kejadian itu merasa seperti bom atom yang siap meledak. Entah mengapa Baekhyun ingin menampar Soojung yang tampil dengan wajah yang – bagi Baekhyun – merasa tidak berdosa itu.

"Jadi… apa kalian benar-benar berkencan?" tanya Jongin yang to the point.

"Kami?" jawab Myungsoo yang kemudian berakhir dengan tertawa, "Jongin-ah, Soojung ini adik dari sahabatku saat kuliah di Inggris, namanya Sooyeon. Ada beberapa kali kami bertemu ketika Soojung berlibur kesana."

Jongin terkejut mendengar penjelasan kakak lelakinya. Dia tidak menyangka jika Jung Soojung, gadis yang pernah didekatinya itu sudah lebih dulu kenal dengan kakak lelakinya.

"Jadi… kalian sudah mengenal sejak awal?" tanya Chanyeol yang tiba-tiba angkat bicara.

"Bahkan kami sudah berkencan sejak satu tahun yang lalu."

"SATU TAHUN?!" seru Jongin tiba-tiba.

Myungsoo dan Soojung yang saling berpandangan kemudian tertawa terbahak-bahak. Dari tatapan kedua orang itu terlihat mereka kegirangan karena sudah menipu banyak orang.

"Iya, satu tahun Jongin-ah." Jawab Soojung.

"Tapi… ketika Myungsoo pertama kali datang ke kantor, kenapa kau terlihat seperti belum mengenalnya, Jung-ah? Bahkan saat itu kau sedang bersama Jongin." ucap Chanyeol.

Sejenak Soojung mengingat-ingat kapan dan bagaimana kejadian itu. Setelah dia mengingatnya, dia tersenyum sembari merapikan poni Myungsoo yang bertebaran di depan mata lelaki tersebut.

"Saat itu anak ini tidak memberi aku kabar bahwa dia sudah kembali ke Korea. Bahkan aku tidak tahu jika dia sudah masuk ke kantor. Dan hari itu, ketika Jongin sedang bersamaku, Myungsoo berdiri di belakangku. Ketika Jongin membungkukkan badannya, aku terkejut karena Myungsoo sudah kembali. Bahkan sudah di kantor yang sama. Makanya aku terlihat bingung kala itu. Benar begitu kan, Myung-kitty?" goda Soojung.

"YA! Jangan memanggilku seperti itu!" sergah Myungsoo.

"Why? Senyummu itu seperti kucing, oppa. Lagipula bukankah biasanya aku memanggilmu begitu? Apa kau takut jika aku membongkar bagaimana kelakuanmu jika hanya bersamaku?" ancam Soojung dibarengi dengan senyum sadisnya.

Myungsoo hanya melirik kekasihnya itu dengan tatapan layaknya berkata, 'How dare you!'. Tapi Soojung hanya tertawa dan memukul punggung lelaki itu perlahan.

"Tunggu, Soojung-ah. Berarti… kau sudah tahu semuanya?" tanya Baekhyun seperti tidak percaya.

Soojung mengangguk, "Bahkan tentang Jongin dan Kyungsoo unnie, aku sudah tahu semuanya. Anak ini selalu menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Bahkan ketika dia tahu masalah itu pertama kali, dia meneleponku sambil menangis. Katanya dia merasa gagal sebagai seorang kakak."

"YA! Kenapa kau menceritakan semuanya? Astaga! Kau selalu begini di depan orang!" sergah Myungsoo.

"Terkadang aku risih dengan alter ego-mu yang dingin dan judes itu, oppa. Aku lebih suka kau yang biasanya." Goda Soojung sekali lagi.

Kyungsoo yang sedari tadi diam kemudian menyandarkan dirinya seraya menampakkan ekspresi tidak percaya. Sebenarnya dia sudah curiga dengan apa yang dilakukan Myungsoo dan Soojung, tapi perkiraannya tidak sejauh ini.

"Tapi Soojung-ah, bukannya tempo hari kau mengatakan sesuatu padaku?" tanya Jongin.

Mendengar pertanyaan Jongin, Myungsoo dan Soojung tertawa terbahak-bahak untuk yang kesekian kalinya. Bahkan mereka berdua menepukkan kedua tangannya seakan-akan berhasil melakukan sesuatu.

"Ah, masalah itu maafkan aku, Jongin-ah." Myungsoo mengatur nafasnya setelah tertawa, "Sebenarnya Soojung sudah tahu latar belakangmu. Ketika kau mendekatinya, aku memanfaatkan itu. Dan pernyataan tempo hari itu… aku yang menyuruhnya. Jadi selama ini Soojung berpura-pura di depanmu. Tapi hasilnya membuat aku puas, kau tahu."

"HYUNG! Kau mempermalukan aku!" seru Jongin emosi.

"Maafkan aku, Jong-ah. Tapi setidaknya sekarang aku tahu jika kau memang benar-benar menyayangi calon istrimu itu."

Jongin emosi kali ini. Dia merasa benar-benar dipermainkan dan dipermalukan oleh kakak lelakinya di depan orang lain. Kemudian dia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya dengan perasaan yang campur aduk. Disisi lain dia masih kecewa dengan Kyungsoo, sekarang dia malah dibuat emosi oleh kakaknya sendiri.

Melihat Jongin yang bergegas pergi, "Biar aku yang menyusulnya. Mungkin aku agak berlebihan kali ini." pamit Myungsoo yang kemudian menyusul Jongin.

"Jong-ah." Panggil Myungsoo yang menemukan Jongin di depan cermin kamar mandi.

Jongin menatap Myungsoo dengan mata yang memerah. Dia baru saja menangis tampaknya. Wajahnya basah karena baru saja dibasuh dengan air yang bahka krannya masih menyala.

"Maafkan aku, Jongin-ah. Aku benar-benar keterlaluan kali ini. Aku hanya ingin tahu apa kau benar-benar berubah atau tidak. Selama ini aku selalu dihantui dengan perasaan bersalah karena tidak bisa mengawasimu dengan baik. Kau tahu, semenjak Abeoji mengirimku ke Inggris, disitu aku merasa gagal merawatmu. Apalagi ketika tahu apa saja yang kau lakukan disini, aku benar-benar merasa tidak bisa menjalankan tanggung jawabku dengan baik. Maka dari itu aku terburu-buru menyelesaikan studiku dan kembali ke Korea. Dan setelah aku pulang, aku malah menerima kejutan seperti itu. Sekali lagi maafkan aku, Jong-ah. Aku tidak bisa mengawasimu dengan baik. Ini semua salahku." Ucap Myungsoo.

"Hyung, maafkan aku."

Jongin memeluk kakak lelakinya itu dan menangis. Sekarang dia sadar betapa berat beban yang dipikul kakak lelakinya. Myungsoo memang harus menuruti semua kemauan ayahnya, karena Jongin yang selalu menolak. Ditambah lagi lelaki itu harus mengawasi dan merawat Jongin karena orang tuanya yang tidak peduli padanya.

"Selama ini aku tidak tahu jika kau berpikir seperti itu, hyung. Kau selalu menurut pada Abeoji yang mengatur hidupmu hingga seperti ini. Bahkan kau selalu menutupi semua kesalahanku didepannya. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, hyung. Maafkan aku." Ujar Jongin dengan wajah yang memerah.

"Tapi setidaknya aku tahu kau sudah mulai berubah semenjak bertemu dengan Kyungsoo, Jong-ah. Kau sudah mulai dewasa sekarang. Sudah saatnya kau bertanggung jawab. Kau mengerti?"

Jongin menatap kakak lelakinya itu dan mengangguk. Di dalam hatinya dia berjanji agar tidak mengecewakan kakak lelakinya itu lagi.


"Noona, kau pulang ke apartment-ku bagaimana? Sepertinya Myungsoo hyung pergi ke rumah Soojung dan menginap disana." Ujar Jongin setelah makan malam selesai.

"Tapi… tidak ada baju untukku."

"Kau bisa memakai pakaianku."

"Tapi…"

"Kau masih harus berbicara denganku." Ucap Jongin penuh ketegasan.

Kyungsoo bimbang kali ini. Bukan bimbang, tapi takut. Takut jika Jongin benar-benar marah padanya. Karena mungkin Kyungsoo tahu jika dia membuat Jongin kecewa.

"Tapi kau tidak membawa mobil bukan?" tanya Kyungsoo.

"Myungsoo hyung memberikan kuncinya padaku. Rumah Soojung bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari sini. Bagaimana?"

Dengan helaan nafasnya, "Baiklah. Aku pulang ke apartment-mu." Ucap Kyungsoo.

Di perjalanan menuju apartment Jongin, Kyungsoo merasa gugup. Apalagi Jongin sedari tadi diam dan tidak bereaksi sama sekali. Dia ingin mengangkat topik pembicaraan, tapi dia takut jika salah ucap dan membuat Jongin lebih kecewa lagi. Keheningan itu pecah ketika ponsel Kyungsoo yang berada di dashboard mobil berbunyi. Karena mobil sedang berhenti, Jongin meraih ponsel itu.

Jongin menghela nafasnya, dan kemudian menyerahkan ponsel itu pada Kyungsoo. Dengan nada sinisnya, "Ini. Lee Donghae menelepon. Angkatlah." Ucap Jongin.

"EH? Dia meneleponku? Untuk apa?" gumam Kyungsoo.

"Angkat saja! Kau akan tahu kenapa dia menelepon."

Ketika Kyungsoo sedang berbicara melalui telepon, tanpa sadar Jongin meremas setir mobilnya keras-keras. Dia ingin meledak kali ini.

"Dia… bertanya soal desain konser." Ucap Kyungsoo setelah selesai menelepon.

Jongin tidak memberikan jawaban dan hanya keluar dari mobil karena sudah sampai di basement apartment-nya.

"Jongin-ah, kenapa kau bersikap seperti ini lagi?" tanya Kyungsoo yang berjalan di belakang lelaki itu.

Karena Jongin sudah tidak sabar, dia membeberkan semuanya, "Jangan terlalu lunak pada Donghae itu! Kau masih menyukainya? Hah, aku pikir selama ini kau menyukaiku. Dan kau tahu kenapa aku seperti ini? Karena aku cemburu, Do Kyungsoo! Kau harus tahu itu!"

"Jongin-ah, jangan salah mengartikan sikapku padanya…" ucap Kyungsoo lemah.

"Apalagi? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau masih menyukainya?"

"Tidak Jongin-ah, tidak seperti itu…"

"Aku kecewa padamu, noona. Aku terlalu berharap banyak padamu."

.
.

Say hello to your enemy, Kim Jongin.

TBC.