PROTOTYPE OF THE EMPEROR

Original character : Akashi Seijuurou and Kise Ryouta by Fujimaki Tadatoshi

Akihiko Takao, Kado Masaru, Yuuki, Kimiko Miyuki, Suuhai, and Tomoe by Kohikaru (Evilyoung)

Original story by Kohikaru (Evilyoung)

Dua hari telah berlalu. Rombongan Seijuurou telah tiba di Kerajaan Meiyo kemarin subuh. Mereka sudah berbicara dengan pihak Kerajaan Meiyo tentang keadaan saat ini. Atas izin Raja Meiyo, mereka melancarkan operasi mereka dan menyamar menjadi prajurit. Dengan hati-hati, mereka mengawasi gerak-gerik setiap pendatang yang melewati gerbang yang mereka awasi.

Sedangkan di dalam istana, para dayang serta prajurit lainnya sedang mempersiapkan acara Misogi. Tomoe yang sebelumnya adu mulut dengan Kado pun akhirnya ikut membantu dalam persiapan tersebut. Seijuurou menyuruhnya untuk berlaku seperti biasa, namun tetap awasi orang-orang yang ada di dalam kuil.

"Hime-sama, apa kita tidak pergi? Sore ini Misogi akan dimulai." Tanya Akihiko sambil melangkah memasuki rumah tua yang menjadi tempat persembunyiannya dan gadis bangsawan yang sedang duduk sembari bersandar pada dinding.

"Akihiko, kemarilah." Ucap gadis itu sambil menepuk-tepuk lantai kayu di sebelahnya.

Dengan wajah polos, pemuda bersurai biru dongker itu duduk di samping gadis bersurai biru keunguan itu. Lalu, dia bertanya, "Ada apa, Kimiko Miyuki-Hime-sama?"

"Aku ingin bicara dengan dewa langit." Jawab Miyuki dengan senyum tipisnya.

Seijuurou bersama dua orang prajurit Kerajaan Meiyo menghentikan sebuah kereta barang. Seorang prajurit menanyai apa yang di bawa oleh pedagang tersebut. Seorang lagi memeriksa gerobak yang ditarik oleh kuda. Sedangkan Seijuurou memerhatikan si pedagang tersebut.

"Chotto matte, jangan dibuka gerobak itu." Perintah Seijuurou pada prajurit yang baru saja ingin mengintip ke dalam gerobak yang ditutupi kain.

Seijuurou menarik katananya dari sarung pedang yang diikat di pinggangnya. Diacungkan katana tersebut di hadapan wajah si pedagang. Hal itu membuat kedua prajurit Kerajaan Meiyo terkejut.

"Apa kau bisa membohongiku dengan berpakaian seperti itu, wahai Ousama." Kata Seijuurou dengan tatapan tajamnya.

Si pedagang yang memakai topi rotan itu pun menyunggingkan senyumnya, "Yare yare, matamu itu memang tajam ne, Ken Seijuurou-kun."

Dikeluarkannya sebuah katana dari sarungnya dan mengarahkan bagian tajamnya pada Seijuurou. Dengan respon yang cepat, pemuda bersurai crimson itu menahan serangan pria yang masih duduk di atas bangku gerobak. Mereka berdua beradu kekuatan. Mata mereka saling menatap benci. Tak ada di antara mereka yang mau mengalah.

Kedua penjaga gerbang lainnya langsung berlari mencari bantuan ketika melihat segerombolan pria bersenjata yang sedang berlari menuju g

erbang dari kejauhan. Lalu, ada sesuatu yang membuat kedua pemuda itu saling melihat ke langit. Seijuurou melangkah mundur sebelum sesuatu itu mendarat dengan kasar di atas gerobak yang dibawa oleh pria bertopi rotan.

BRUGH!

Seijuurou dan pria itu tercengang melihat dua orang yang sedang berdiri dengan tegak. Seorang pemuda bersurai biru donker memisahkan katananya dari sarung katana berwarna hitam dengan motif bunga sakura berwarna emas. Tatapan matanya begitu tajam dan tidak terlihat ketakutan ataupun keraguan. Kebisuannya mengisyaratkan agar dua orang dihadapannya harus berhati-hati padanya.

"Utusan dewa…. Akihiko… Takao.." ucap pria yang dipanggil Ousama oleh Seijuurou dengan masih terkejut.

"Yo, senang bertemu denganmu, Yamato-Ousama, Gozumaru, Mezumaru." Sapa pemuda itu dengan dingin, "Sepertinya rencana kalian berhenti sampai di sini." Akihiko mengangkat dagunya lalu tersenyum licik sambil memelototi pria di hadapannya bersama dua orang youkai di samping pria itu.

"Kita lihat saja nanti." Sahut Yamato.

Seijuurou terpaku pada seseorang yang berdiri sambil menunduk di belakang pelayannya, Akihiko. Orang itu menegakkan tulang lehernya.

"Mi–" belum menyelesaikan perkataannya, Seijuurou dikejutkan kembali dengan munculnya puluhan utusan dewa mengelilingi mereka.

"Bagi yang diberi tugas untuk berada di sini, tetap di sini. Yang lainnya silahkan berpencar." Ujar gadis bersurai biru keunguan itu dengan sedikit nada perintah.

"Hai!" jawab para utusan dewa serempak. Setelah itu, mereka pun berpencar sesuai kelompok mereka.

"Akihiko, awasi pertarungan mereka berdua. Jangan sampai calonnya salah." Perintah gadis itu dengan tegas.

"Wakarimashita." Akihiko mengangguk.

"Chotto, Miyuki!" seru Seijuurou yang membuat si gadis menoleh padanya dan menatap manik crimson itu datar.

Seijuurou memautkan kedua alisnya. Dia memandang mata gadis itu dalam. Tak lama, Seijuurou menajamkan tatapannya walaupun terlihat dia kebingungan.

"Siapa kau?" tanya Seijuurou tiba-tiba. Gadis itu tidak menjawab. Ekspresinya begitu datar.

"Ku tanya sekali lagi, siapa kau?" tanya Seijuurou lagi dengan penuh penekanan disetiap katanya.

"Kimiko Miyuki desu." Jawab gadis itu.

"Apa kau ingin membodohiku? Mata Miyuki berwarna sama dengan rambutnya. Sedangkan warna matamu biru langit." Ketus Seijuurou.

"Akihiko, kau boleh membantu tuanmu itu. Aku akan memimpin langsung di depan. Pastikan kau melakukan hall yang berguna." Ucap gadis itu meninggalkan pemuda bersurai biru donker dan tak menghiraukan perkataan Seijuurou.

"Sesuai perkataan Anda." Kata Akihiko bersemangat.

"Oi, mau kemana kau–" perkataan Seijuurou kembali dihentikan. Akihiko yang telah berteportasi ke hadapan tuannya cukup menghalangi Seijuurou.

"Sumomasen desuta, Seijuurou-sama. Tolong jangan ganggu Beliau untuk sementara waktu. Waktunya di sini hanya terbatas. Jadi, kita lanjutkan saja pertarungan ini." Akihiko membungkuk di hadapan Seijuurou. Setelah menegakkan kembali tubuhnya, Akihiko langsung diserang dengan tatapan mengintimidasi dari tuannya itu.

Akihiko terkekeh, "Jangan menatapku seperti itu. Aku akan memberitahumu, Seijuurou-sama."

"Tomoya, seranglah orang-orang itu dengan elemen angin. Tatsuya, gunakan elemen tanah untuk mengguncangkan jalan mereka. Kamiya, siapkan pasukanmu untuk melawan mereka secara langsung." Perintah gadis itu dengan tenang sambil berjalan di depan 10 orang utusan dewa.

"Hai!" kesepuluh utusan dewa itu pun langsung melaksanakan apa yang diperintahkan pada mereka, terutama ketiga utusan dewa yang namanya disebut oleh gadis itu. Sedangkan itu, Akihiko menggunakan kesempatan untuk menyerang musuh yang takk jauh darinya itu karena tiga sosok ditambah tuannya masih membatu. Akihiko mengayunkan pedangnya pada kereta kayu dan membelahkan bagian kursi masinis. Setelahnya, Akihiko memukul kuda yang membuatnya berteriak serta berlari.

"Yamato-sama!" seru Gezomaru dan Mezumaru membantu tuannya melompat dari kereta yang terbelah menjadi dua.

"Ne, lebih baik kita menyelesaikan masalah kalian berdua dulu, aku memberitahumu tentangnya, Seijuurou-sama." Ucap Akihiko yang mulai membuat kuda-kuda.

Seijuurou tertegun. Lalu, ujung bibirnya tertarik ke arah telinga seraya berkata, "Aku menerima usulanmu, Akihiko. Aku tidak boleh melemah karena seorang gadis, bukankah begitu?"

Tangan kanan Seijuurou menggenggam pegangan katananya dengan erat. Kedua matanya kembali menajam. Tak ada senyum lagi di bibirnya. Tingkat kefokusannya sangat tinggi. Akihiko melirik pada tuannya yang terlihat sudah siap dengan semua yang akan terjadi. Dan dia sudah yakin bahwa tuannya tidak berniat untuk kalah.

"Apa kau sudah siap, Seijuurou-sama?" tanya Akihiko memastikan.

"Aa.." jawab Seijuurou singkat. Tanpa aba-aba, mereka berdua menyerang ketiga sosok yang cukup jauh dari mereka akibat Akihiko membelah kereta kayu tadi.

"Yamato-sama.." panggil Mezumaru.

"Kalian serang Akihiko. Biarkan aku membawa Ken-kun masuk ke dalam hutan." Ujar Yamato yang kemudian berlari memasuki hutan.

Gezomaru dan Mezumaru menghadang Seijuurou yang mengejar tuan mereka. Namun, Akihiko bersama bantuan sang adik yang tiba-tiba datang untuk membantu meloloskan Seijuurou. Akihiko memandang pemuda dengan surai putihnya yang tampak lebih pendek dari sebelumnya.

"Aku datang karena tugasku membantu dan menjaga Hime-sama belum selesai." Kata Kado yang menjawab pertanyaan pada tatapan onii-sannya.

"Wakattayo, otouto." Sahut Akihiko sambil tersenyum tipis.

Gezomaru dan Mezumaru membagi tugas. Begitu juga dengan Akihiko dan Kado. Pertarungan antaryoukai pun dimulai.

Gadis bersurai biru keunguan menghentikan langkahnya. Ditolehkan kepalanya pada arah suara katana yang bertubrukan di dalam hutan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, gadis itu langsung berlari menuju hutan. Tapi, langkahnya kembali tertenti karena orang-orang bertubuh kekar mulai mengepungnya.

Dia melirik pada kesepuluh utusan dewa yang sedang sibuk melawan bawahan Yamato itu. Dengan tujuan tidak ingin menambah beban para utusan tersebut, akhirnya dia melawan orang-orang kekar itu dengan tangan kosong.

Di dalam Kerajaan Meiyo, Misogi sudah dimulai. Tomoe yang berdiri di duduk di luar kuil bersama para dayang menghembuskan napas panjang. Dia menyentuh dadanya. Minna… ucapnya dalam hati. Sedangkan di gebang utara, Suuhai memerintahkan semua praurit yang berjaga untuk menutup semua gerbang Kerajaan Meiyo. Dari air mukanya, dia tampak cemas.

Seijuurou dan Yamato saling melompat ke belakang setelah beberapa saat mereka adu kekuatan menahan katana mereka yang bertautan. Mereka berhenti sejenak dan memulai pembicaraan kecil.

"Untuk apa kau ada di Kerajaan Meiyo, Ken-kun? Bukankah kerajaanmu tidak diundang dalam acara Misogi ini?" tanya Yamato.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Yamato." Ujar Seijuurou, "Lagi pula, untuk apa kau menyamar?"

"Ini hanya sebuah pekerjaan. Apa aku harus memberitahumu apa yang sedang ku kerjakan?" sahut Yamato.

"Pekerjaan, huh?" Seijuurou mengernyitkan dahinya, "Membunuh semua bangsawan Kerajaan Meiyo dan memanfaatkan Miyuki adalah sebuah pekerjaan?"

Yamato terdiam. Pemuda itu membiarkan Seijuurou meluapkan apa yang ada di pikirannya.

"Apa sebegitu pentingnya menjadi seorang Kaisar, sampai-sampai kau melakukan segala cara untuk mendapatkan gelar tersebut? Apa kau sudah gila? Lalu, untuk apa kau mendekati bahkan menculik Miyuki? Apa untuk tujuanmu itu juga? Huh, aku tidak menyangka seorang Ousama yang terhormat ternyata begitu busuk." Oceh Seijuurou.

"Ne, Ken Seijuurou-kun, apa kau tahu, gara-gara kakekmu kerajaanku hampir runtuh. Perdagangan di luar maupun di dalam kerajaan semakin menurun. Itu karena kakekmu mengeluarkan peraturan yang sangat tidak penting! Aku berusaha menjadi Kaisar karena aku ingin mengubah segalanya dansesuai dengan yang aku harapkan." Kata Yamato dengan nada kesal.

"Kalau begitu, jangan membawa Miyuki untuk kepentinganmu, Yamato. Ini hanya masalah kerajaanmu dan kerajaanku."

Yamato tertawa, "Kau terlalu baik pada wanita, Ken-kun. Mereka itu licik. Kau jangan begitu percaya pada mereka."

"Apa maksudmu?"

"Wanita selalu menyembunyikan perasaan mereka. Mereka itu ada yang sangat baik namun ada pula yang sangat buruk, bahkan lebih buruk dari orang yang suka menggunjing orang lain. Aku sudah melihat semua karakter wanita, begitu pula dengan dua ouhime-sama dari Kerajaan Meiyo. Dari sana, aku hanya tertarik dengan satu gadis, aku yakin kau juga tertarik dengannya, Ken-kun."

"Miyuki…"

"Hai, hai, kau benar. Aku memang memanfaatkannya dengan tubuh yang hampir ditutupi kutukan itu. Dengan membiarkannya berbuat baik terus-menerus, dia akan lebih mudah disingkirkan. Bukankah kau juga berpikiran seperti itu?"

Tangan kiri Seijuurou mengepal. Dia tampak geram dengan apa yang didengarnya.

"Kekuatan yang dimiliki olehnya juga sangat berguna. Dia adalah gadis yang sangat membantu. Hanya saja, dia tidak begitu percaya dengan orang lain. Jika dia adalah orang yang mudah percaya, dia akan menjadi kartu truf–"

"Miyuki bukanlah sebuah alat. Jadi, jangan pernah kau menganggapnya sebagai alat pembantu kesuksesanmu menjadi Kaisar!" seru Seijuurou yang segera memasang kuda-kuda dan siap untuk menebas pemuda di hadapannya dengan satu tebasan.

"Hoo.. kau sudah mau mulai menyerangku? Baiklah, sesuai permintaanmu, Seijuurou-wakaimasuta." Yamato juga memasang kuda-kuda.

Keduanya pun saling mendekat. Yamato mengayun katananya ke bawah, Seijuurou dengan cepat menghindar. Kedua tangan Yamato kembali mengayunkan katana ke arah samping kanan, dan Seijuurou juga kembali menghindar. Yamato membalikkan sisi katana yang tajam ke sebelah kiri dan mengayunkannya lagi ke Seijuurou. Kali ini, Seijuurou menahan serangan Yamato dengan katananya.

Seijuurou menendang perut yamato dengan keras, membuat pemuda yang lebh tua darinya itu terdorong ke belakang sambil memegang perutnya. Pemuda bersurai crimson itu tanpa jeda menyerang Yamato dengan cepat. Namun, Yamato mengimbangi kecepatan Seijuurou.

Tiba-tiba saja, Seijuurou mendengar ada yang memanggil namanya. Dia pun mencari asal suaa tersebut sambil tetap bertahan dari serangan Yamato. Ketika Seijuurou lengah, Yamato menendang tangan kanan Seijuurou yang memegang katana. Alhasil, katana itu pun terlempar jauh ke belakang.

Seijuurou berdecih. Yamato kembali mengayun dan mencoba menebas Seijuurou yang sudah tak punya senjata. Dengan tangan kosong, Seijuurou mencoba melumpuhkan anggota tubuh Yamato. Saat Yamato mencoba untuk menusuk Seijuurou, tangan kiri Seijuurou menepis pergelangan tangan kanan yamato sembari menghindar dari serangan Yamato. Lalu, Seijuurou menendang pinggang kiri Yamato cukup keras dan meninju pipi kiri Yamato.

Tak mau kalah, Yamato akhirnya mengayunkan katananya pada lengan kiri Seijuurou serta betis kiri Seijuurou. Pemuda bersurai crimson itu akhirnya jatuh terduduk. Belum sempat mencoba berdiri, Yamato menendang kepala Seijuurou dengan ujung sepatunya hingga membuat cairan merah pekat mengalir dari kening Seijuurou. Karena kesal, Seijuurou pun menyelengkat kaki Yamato dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur.

Mereka berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Seijuurou mengusap matanya yang terkena darahnya sendiri. Tapi, darahnya kembali mengalir melewati matanya. Terdengar suara berisik dari arah semak-semak. Seijuurou menoleh. Namun Yamato kembali bangkit dan siap untuk menusuk Seijuurou.

Seijuurou membelalakkan kedua matanya, begitu juga dengan Yamato. Yamato menarik kembali katananya dari tubuh seseorang yang tiba-tiba saja datang dan berdiri memunggunginya. Tangan Yamato melemah, katananya pun jatuh ke tanah.

Gadis bersurai biru keunguan dengan iris mata berwarna senada rambutnya memuntahkan darah dari mulutnya. Bajunya yang tampak kotor sekarang mulai dinodai oleh darah yang keluar dari bekas tusukan katana milik Yamato di bagian perutnya. Tatapan matanya begitu lesu, bahkan tubuhnya mulai terhuyung-huyung.

"Mi…yuki…" panggil Seijuurou dengan suara yang tak bisa dikeluarkan dengan jelas karena lehernya terasa seperti dicekik.

Gadis itu tersenyum lemah sebelum akhirnya dia terjatuh ke depan. Seijuurou dengan cekatan menangkap tubuh Miyuki yang lemah. Dari kedua matanya, Seijuurou dapat melihat jelas tanda kutukan mulai menyebar hingga ke kepala Miyuki.

"Miyuki! Miyuki! Daijoubu ka? Oi, Miyuki!" panggil Seijuurou dengan panik. Dia sedikit mengguncang tubuh Miyuki.

"Ken-kun…. Go..men… aku… tidak bisa… melihatmu…" sahut Miyuki yang suranya sudah hampir menghilang. gadis itu menahan rasa sakit yang sangat menyiksanya. Seijuurou menggigit bibir bawahnya. Segera mungkin dia memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Dapat dirasakannya sesuatu yang basah mulai menyebar pada bajunya.

"Ku mohon, bertahanlah! Aku akan membawamu ke tabib kerajaan. Jadi–"

"Sei…juurou… arigatouna…" perkataan Miyuki membuat Seijuurou mematung. Sekarang, dia merasakan basah di bahu kanannya. Miyuki dengan susah payah membalas pelukan si pemuda yang sedang memeluknya itu.

"Miyuki.."

"Sayonara…" kedua mata Seijuurou membesar, "Aishiteru… Akashi… Seijuurou….-kun" lalu, kedua tangan Miyuki melepas pelukannya. Kedua mata itu pun segera ditutup oleh kedua kelopak matanya.

"Hime-sama meminta bantuan dewa langit untuk terus bertahan beberapa waktu saja. Karena melihat tubuh Hime-sama yang setengahnya sudah lumpuh, akhirnya dewa langitpun memberikan kekuatan pada Hime-sama dalam waktu terbatas, karena dewa langit tahu, Hime-sama tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dan dengan bala bantuan para utusan dewa langit, kami mengamankan Misogi di Kerajaan Meiyo ini." Seijuurou teringat apa yang dikatakan oleh Akihiko.

Yamato yang melihat kejadia tersebut langsung mengambil kembali katananya. Dia mencoba untuk kembali membunuh Seijuurou. Namun, langkahnya dihentikan oleh dua orang utusan dewa yang dipenuhi dengan kebencian padanya. Akihiko dan Kado pun menyelesaikan pertarungan antara Seijuurou dengan Yamato sebagai perwakilan dari Seijuurou.

Tomoe memandang ke langit. Suuhai yang baru saja selesai menugaskan para prajurit untuk berjaga di sekitar kuil juga memandang ke langit yang mulai menggelap. Akihiko dan Kado duduk bersimpuh dan menunduk dalam di hadapan Seijuurou yang masih memeluk erat tubuh Miyuki.

.

.

.

.

~END~

(Teaser new Fanfic)

Saat itu, ada acara pesta ulang tahun sebuah perusahaan besar. Seorang gadis kecil berjalan terlalu jauh ketika ayahnya sedang berbincang dengan rekan kerja di penginapan. Dia pun tersesat di sebuah taman yang cukup jauh dari penginapan. Akhirnya gadis kecil itu hanya duduk di ayunan sambil menangis.

"Doushite nai teru no?" Seorang pemuda bersurai crimson yang menemukannya. Pemuda yang masih berumur 24 tahun ketika itu tersenyum ramah pada gadis kecil tersebut.

"Watashi wa Akashi Seijuurou desu. Anata namae wa?"

"Mitsuki… Hotaru desu." Jawab gadis itu dengan sedikit ragu dicampur dengan rasa sedih dan takut. Akashi terdiam sesaat dan memandang mata gadis kecil itu dalam. Tak lama kemudian, Akashi tersenyum ramah dan berkata, "Daijoubu, aku kenal dengan otou-sanmu. Aku juga sangat mengenal oba-sanmu."

"Eh? Onii-san kenal dengan Miyuki-oba-san?" tanya Mitsuki polos.

Akashi mengangguk, "Wajahnya mirip sekali denganmu."

Mitsuki terdiam. Gadis kecil itu turun dari ayunannya. Dia meraih tangan kanan Akashi yang jauh lebih besar dari kedua tangannya. Akashi yang berjongkok di hadapannya hanya memasang wajah bingungnya.

"Onii-san jangan bersedih. Miyuki-oba-san pasti juga akan bersedih." Ucap Mitsuki.

"Kenapa kamu mengatakan hal itu?" tanya Akashi penasaran.

"Habisnya, Onii-san sepertinya sangat dekat dengan Miyuki-oba-san. Onii-san begitu sedih ketika mengingatnya. Makanya, aku berharap Onii-san bisa terus bahagia walaupun tidak bersama Miyuki-oba-san."

Akashi tertegun dengan apa yang dikatakan gadis kecil yang begitu mirip seperti hasil cetakan yang sama dengan gadis yang selama 8 tahun masih dicintai olehnya. Akashi tersenyum lalu mengusap lembut pipi Mitsuki dengan tangan kanannya.

"Aku harap, kamu juga terus bahagia."

Tiba-tiba saja, gadis kecil tersebut kembali menangis. Akashi yang kebingungan langsung menghapus air mata Mitsuki.

"Do-doushita no?" tanya Akashi panik.

"Huwaaaa! Aaaaaahaaaa! Hiks.. hiks… wakaranai o…!" jawab Mitsuki dalam isaknya.

Setelah mereda, Akashi membawa Mitsuki kembali ke penginapan.

Ayah Mitsuki langsung menghampiri kedua anak yang baru saja memasuki lobby penginapan. Bahkan pengawal pribadi Akashi juga menghampiri mereka. Orang-orang itu begitu cemas dan terus bertanya-tanya pada mereka karena menghilang begitu saja. Akashi hanya menjawab, "Dia tampak kesepian. Aku khawatir dia tidak betah berada di sini. Jadi aku hanya mengajaknya jalan-jalan." sambil mengeratkan genggamannya pada jemari kecil milik Mitsuki.

Onii-san, kamu seharusnya tak perlu berbohong. Ujar Mitsuki dalam hati.

10 tahun kemudian…

"Chotto matte Akashi-san." Kata seorang gadis bersurai ungu kebiruan yang diikat kuda.

"Hem?" sahut Akashi yang menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya.

"Bisakah kamu tidak memandangiku terus? Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk menggambar." Pinta Mitsuki dengan nada rendah.

"Doushita?" tanya Akashi.

Karena malas menjawab pertanyaan dari si pria bersurai crimson, Mitsuki segera bangkit dari duduknya. Dia berencana untuk pindah ke tempat duduk yang lain sambil membawa alat-alat menggambarnya.

"Ne Hotaru." Panggil Akashi dengan tangannya yang menarik tangan kiri Mitsuki yang bebas. Membuat gadis itu tertarik. Tangan Akashi yang lain menyentuh tengkuk Mitsuki.

"Jangan menghindar dariku."

.

.

.

.

(Aku bertemu dengannya di musim dingin 10 tahun yang lalu. Di bawah langit gelap dengan bulan purnama yang begitu indah, rambut merahnya tampak begitu terang. Bagaikan api, kehangatan menyelimuti tubuhku di suhu yang begitu dingin. Dari wajahnya yang tampak begitu berwibawa, aku pun mengaguminya.)

~KOU PATISSERIE~

-^.^-

Wohoooo! Akhirnya selesai juga ini cerita. Gimana? Gimana? Endingnya jelek ya? Huhuhu… maafkan aku ya. Pada dasarnya aku bingung mau buat endingnya seperti apa. Eh yang terjadi malah seperti ini. Maafkan aku, maafkan aku..

Buat kalian yang sudah setia membaca, meriview serta menunggu kelanjutan ff ini TERIMA KASIH BANYAK! Dan juga, mohon maaf karena segala kekurangan, kesalahan, dan kelamaan ngepost ff ini. Maklumilah, karena author juga manusia yang tak luput dari typo dan khilaf -,-

Oh ya, ada ff baru? Ada kok ada. Tenang saja. Teasernya udah author kasih tuh. Kenapa? Kenapa? Apa ini kelanjutan dari Prototype of the Emperor? Yup, that's right! Hanya saja, mungkin ini agak ya.. gimana ya.. begitu lah.. karena tokoh heroine-nya memiliki umur sangat jauh dengan tokoh hero-nya. Kira-kira seperti apa ya ceritanya? Duh, Author jug amasih bingung wkwkwk /ditampar readers/

Ok deh minna-san, sampai jumpa di kesempatan berikutnya? Matta ne!