Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Alternate universe, omegaverse.
"Apa yang kau lakukan di sini, bocah tengil?"
"Jangan menggangguku, bodoh."
Arthur menyingkirkan tangan Dylan dari kepalanya sambil menggerutu pelan, mencoba menyamarkan seulas senyum yang memaksa menjajah wajahnya.
Setelah keributan kecil di ruang perawatan dengan seorang alfa yang ternyata berpangkat kapten, Elizabeta datang dan membebaskan Arthur dari tanggung jawab mengurusi alfa menyebalkan tersebut. Dylan sempat minta maaf dan menjelaskan pada kaptennya tentang Arthur, tapi alfa itu tidak mau mendengarkan. Benar-benar orang yang menyebalkan.
Dan sekarang mereka berdua berada di sebuah ruangan kosong, jauh dari keributan di ruang perawatan. Kurang tepat disebut sebagai melepas rindu, tapi Arthur memang agak merindukan Dylan.
"Serius, Arthur, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau ada di Perancis, kan? Mana Francis?"
Mendengar nama itu disebut, Arthur berhenti mencoba menepis tangan Dylan mengacak-acak rambutnya. Sepasang mata emeraldnya mengeras. Seperti menyadari perubahan suasana hati adiknya, Dylan menurunkan kedua tangannya. Mendarat di pundak Arthur dan meremasnya pelan.
"Jangan bilang kalau… Monsieur Bonnefoy— tewas?"
Arthur mengangkat kepalanya.
Well, kalau yang itu, ia tidak tahu pasti. Tapi jujur saja, ia tidak peduli.
"Atau… dia sudah bosan dan mengembalikanmu ke Inggris?"
Kali ini sudut matanya mengejang. Ia meninju lengan Dylan; tidak terlalu kuat, tapi bukan juga pukulan main-main. Alfa itu mengaduh, mengusap-usap lengannya.
"Pelan-pelan. Nona yang tadi baru saja memasang perban pada tanganku, eejit."
Arthur hanya mendengus dan membuang muka. Sebenarnya ia khawatir ingin memeriksa luka Dylan, tapi ia tak mau kakak termudanya jadi besar kepala. Akhirnya ia diam saja. Selama tidak ada darah yang terlihat, tidak masalah. Toh orang itu masih bisa menggerakkan tangannya dengan normal. Bukan sesuatu yang parah. Paling-paling hanya kena gores sedikit.
Selama beberapa saat tidak ada yang bicara. Hanya terdengar Dylan menggerutu pelan, dan Arthur melirik dari ekor matanya, memastikan kakaknya baik-baik saja. Tapi bukan seperti ini reuni yang ia bayangkan dengan kakak-kakaknya. Arthur berharap ada sedikit drama; mungkin asap hitam yang membumbung tinggi, lalu ketiga kakaknya muncul dari balik sana, berjalan tegap sambil menenteng senjata. Tidak terbatuk-batuk, tentu saja. Karena itu konyol dan tidak keren sama sekali. Yang jelas dia tidak berharap akan bertemu kakaknya dalam situasi seperti ini; saat ia sedang bertengkar dengan seorang alfa seperti biasanya. Tidak adakah setting yang sedikit lebih dramatis selain gedung sekolah yang diubah menjadi pengungsian?
"Cukup basa-basinya. Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau kembali ke Inggris? Sudah berapa lama kau ada di sini? Aku perlu tahu bagaimana kau bisa berakhir di sini, karena terakhir kali aku ingat, harusnya kau ada di Perancis dengan Monsieur Bonnefoy. Di tempat yang aman. Bukan di sini dan bertengkar dengan seorang alfa."
Arthur menoleh. Sepasang mata emeraldnya memicing. Dylan melakukan hal yang sama. Dua pasang manik itu bertemu dengan ketegangan yang tidak biasa. Karena seorang Dylan yang ia tahu, belum pernah bersikap seperti ini kepadanya. Seperti seorang alfa.
"Aku tidak peduli seberapa panjang ceritamu. Aku akan mendengarnya meski harus tidak tidur malam ini. Dan kau akan menceritakannya sampai tenggorokanmu kering."
"Kulihat masuk militer sudah mengubahmu." Arthur menghela nafas pendek, memperhatikan Dylan. Tidak disangka, ternyata kakaknya yang satu itu cocok juga memakai seragam militer. Rambut pirangnya dipotong model standar militer yang harusnya tidak cocok untuknya, tapi entah kenapa terlihat bagus. Mungkin Arthur saja yang tidak bisa membayangkan kakak termudanya menjadi sosok seorang alfa yang sebenarnya.
Tiba-tiba saja ekspresi serius yang dikenakan Dylan luntur, berganti cengiran lebar. Tangan kanan alfa itu terangkat untuk mengibas bagian atas rambutnya yang masih bisa dimainkan, tidak seperti pinggiran-pinggirannya yang dipangkas habis kurang dari satu sentimeter. Kedua alisnya digerakkan naik turun dengan jenaka.
"Bagaimana? Aku terlihat tampan, kan? Aaah, kalau tahu gaya ini cocok untukku, sudah sejak dulu aku memangkas rambutku. Kau pasti terkejut, kan? Kau pasti hampir tidak mengenaliku yang begitu tampan ini, kan? Kau pasti merasa bersalah karena diam-diam jatuh cinta padaku padahal aku ini kakakmu, kan?"
Berubah my ass. Ternyata Dylan tetap menyebalkan dan over percaya diri seperti biasanya. Arthur menyesal sudah sempat merasa goyah dengan nada bicaranya tadi yang penuh tuntutan.
"Aku tidak mengenalimu saking tebalnya debu yang menutupi wajah konyolmu itu. Aku berani bertaruh kau belum mandi sejak kemarin."
Kakaknya mendengus, mengibas rambut atasnya.
"Hah! Kau pikir kehidupan militer itu gampang? Bisa mandi dua hari sekali saja sudah beruntung. Kau harus melihat bagaimana rupa Allistor. Terakhir aku bertemu dengannya, rambut merahnya sudah berubah jadi coklat usang. Kau tidak akan mengenalinya lagi, Arthur." Dylan masih mengusap-usap rambutnya. Kalau ia memperhatikan dengan seksama, Arthur bisa melihat debu-debu beterbangan dari sana. Membuatnya mengerutkan hidung.
"Kau bertemu Allistor? Di mana? Bagaimana dia sekarang?"
Dylan melirik dari ekor matanya, sedikit memicing curiga. "Kenapa? Kau sudah akur lagi dengannya? Kau mengkhawatirkannya?"
Tidak suka dipandangi sedemikian rupa, ia meninju lengan Dylan. Lengan yang katanya tadi terluka. Berhasil mematahkan ekspresi curiga kakaknya, membuatnya kembali mengaduh.
"Ow, sudah kubilang tanganku sakit, git! Kau sengaja ingin membuatku menderita, ya?"
Arthur hanya mendengus, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Huh, baiklah, baiklah! Aku bertemu Allistor di pesisir selatan Inggris, dia berjaga di sana. Dan dia baik-baik saja, hanya jauh lebih usang dari biasanya. Tapi itu bukan hal yang aneh. Dia belum mandi dua hari waktu itu."
Arthur mengerutkan hidungnya lagi. Ada apa dengan alfa dan mandi? Sepertinya mereka senang sekali mencium bau badannya sendiri. Tentu Arthur tahu ketersediaan air tidak berlimpah di medan perang, tapi tetap saja. Mereka begitu bangga menguarkan bau khasnya yang tajam dan memuakkan. Atau mungkin mereka memang punya masalah pribadi dengan air.
Kemudian Dylan menoleh ke arahnya dengan pandangan tajam.
"Sekarang giliranmu, aku ingin mendengar alasanmu bisa sampai sini. Cepat beritahu aku, dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan lagi."
Arthur menghela nafas. Sebenarnya ia tidak suka menceritakan pengalamannya berulang-ulang, tapi apa boleh buat? Kakaknya berhak tahu apa yang terjadi padanya. Dan kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah Allistor, Arthur tidak akan ragu-ragu menceritakannya. Karena ia ingin membuktikan bahwa kakak sulungnya tidak selalu benar. Bahwa keputusan yang ia ambil adalah sebuah kesalahan.
Tapi untuk saat ini, rasa-rasanya Dylan saja sudah cukup.
"Aku akan memberitahumu tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh memotong pembicaraanku. Tidak ada pertanyaan sampai aku selesai bicara." Saat ia menoleh ke arah Dylan, kakak termudanya hanya menganggukkan kepala dan menunggu.
Arthur menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau kau tidak tahu, dua minggu yang lalu Jerman berhasil memasuki Perancis." Melihat kedua alis Dylan yang terangkat, Arthur yakin sekali kalau Dylan memang tidak tahu. Entah berita tidak tersebar hingga ke telinga Dylan atau alfa itu saja yang tidak memperhatikan, Arthur tidak tahu. Yang jelas, kalau Dylan tahu kondisi Perancis sekarang, ia tidak akan bertanya kenapa Arthur bisa ada di Inggris.
"Rumah Francis tidak seaman yang si kodok itu katakan. Buktinya dua minggu lalu belasan tentara Jerman berhasil merangsek masuk. Saat itu aku sedang mengunci diri di kamar, jadi mereka tidak langsung menemukanku. Kemudian aku mencoba mencari jalan rahasia untuk kabur, sayang sekali ada seorang Jerman yang memergokiku. Padahal waktu itu aku sudah berhasil menjatuhkannya! Padahal aku hampir―"
"Tunggu sebentar."
Arthur mengerjapkan matanya. Ia ingin marah karena Dylan memotong ceritanya, tapi tidak jadi. Ekspresi yang dikenakan Dylan berhasil membuatnya diam. Kenapa kedua alis kakaknya mengerut begitu dalam? Kenapa Dylan memandanginya dengan tatapan aneh seperti itu?
"Aku tidak― aku… aku tidak tahu harus berkata apa." Alfa itu menelan ludah. "Padahal aku hanya bercanda. Aku tidak pernah… tidak berharap kau ― apa mereka menyakitimu? Apa kau ham―"
Seketika itu Arthur membungkam mulut Dylan, memelototinya.
"Makanya aku menyuruhmu tidak memotong pembicaraanku, bodoh! Aku tidak hamil, maaf sudah membuatmu kecewa! Dan aku berhasil kabur dengan utuh; mereka tidak sempat menyentuhku. Sekali lagi aku minta maaf karena ini tidak berjalan sesuai imajinasi liarmu!"
Sebagai penekanan, ia mendorong Dylan hingga kakaknya hampir jatuh dari pinggiran tempat tidur. Sepasang mata emerald itu mengerjap penuh keheranan. Sudut mata Arthur mengejang karena ia melihat jelas kekecewaan pada raut wajah Dylan. Sebenarnya apa yang kakaknya harapkan?!
"Tapi― tapi kau bilang seorang Jerman memergokimu! Lalu bagaimana mungkin kau bisa kabur?! Setidaknya kau harus menawarkan sesuatu dan membujuknya agar melepaskanmu, kan? Dan apa yang lebih baik daripada―"
"Kenapa kau terlihat begitu kecewa?! Kau benar-benar berharap aku jadi― jadi… argh! Kakak macam apa kau ini?!" Arthur berakhir melancarkan pukulan-pukulan ke arah Dylan, dengan muka merah padam karena marah sekaligus malu. Saking sibuknya menyerang Dylan, ia tidak mempedulikan gerutuan alfa itu saat tangannya mengenai lengan Dylan yang sakit.
"Aduh! Hei, hentikan! Arthur― Art! Bloody― ow!"
"…seperti itu. Kau boleh percaya atau tidak, tapi aku memang sehebat itu."
Arthur mengakhiri ceritanya, memasangkan pin pada ujung perban yang baru ia pasang pada lengan kiri Dylan. Karena kesal dengan kekecewaan yang terpancar jelas pada wajah kakaknya, ia tak berhenti melancarkan pukulan pada Dylan. Akhirnya lukanya terbuka lagi. Tapi Arthur tidak menyesal sama sekali melihat darah merembes di seragamnya. Salah Dylan sendiri bersikap begitu konyol. Dasar ratu drama.
"Uhh… entahlah, Art. Kalau tentang sifat garangmu, aku percaya. Tapi tentara Jerman yang baik itu? Hah! Kau yakin saat itu tidak sedang bermimpi?"
Arthur hanya memutar bola matanya. Tentu saja Dylan lebih percaya tentang kemampuan survival-nya daripada cerita tentang tentara Jerman yang membantunya. Ia sendiri juga tidak akan percaya, kalau hal itu tidak terjadi pada dirinya sendiri. Tapi bagaimana pun juga, kalau tidak bertemu Ludwig, entah apa jadinya ia sekarang. Arthur tidak ingin membayangkan. Kemungkinan buruk hal-hal yang sudah lalu biarlah tertinggal di Perancis. Sekarang ia ada di Inggris, di tempat yang lebih aman; dan itu yang paling penting. Mungkin ia harus mengarang cerita kalau ada orang yang bertanya. Jujur saja, ia bahkan merasa bosan mengingat-ingat hidupnya di Perancis yang hanya beberapa hari saja.
"Ah, kalau begitu kau harus berterimakasih padaku, Art! Aku yang mengajarimu berenang! Kau rasakan sendiri, kan? Jauh lebih berguna daripada merajut! Hah!" Sekarang Arthur ingin memukul lengan kiri kakaknya lagi. Hanya agar ia diam dan bersikap tenang seperti pasien yang seharusnya.
Mereka berdua sedang tidak saling bicara saat terdengar suara derap langkah cepat orang berlari. Semakin mendekat, dan Arthur mulai mendengar dengan jelas nama yang disebut-sebut oleh orang itu. Ia tersenyum dalam hati.
"Arthur! Art―" Kedua Kirkland menoleh ke arah pintu.
Alfred. Tentu saja itu Alfred. Siapa lagi yang punya suara selantang itu?
Pemuda Amerika itu tidak langsung masuk dan melanggar personal space Arthur seperti sebelum-sebelumnya. Ia berdiri di dekat pintu, tangan kanan berpegang pada bingkai pintu.
"Ah… Elizabeta bilang kau bertengkar dengan seorang alfa." Alfred menggaruk bagian belakang kepalanya, sesekali melirik pada Dylan, yang duduk berhadapan dengan Arthur di atas tempat tidur. Begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan. Arthur sendiri baru menyadarinya, tapi tidak berniat melakukan apa-apa. Memangnya kenapa? Dylan kan kakaknya.
Arthur tidak tahu apa yang terjadi, tapi Dylan dan Alfred sempat bertemu pandang, kemudian kakaknya mengubah postur duduknya. Sedikit lebih tegap, dengan kedua tangan disilang di depan dada. Ada ekspresi arogan terbaca di wajah Dylan. Arthur belum pernah melihat kakak termudanya memasang tampang seperti itu. Tidak cocok sama sekali. Ia hanya memutar bola matanya dan beralih pada Alfred.
"Kau memerlukan sesuatu, Alfred?" Karena tidak mungkin alfa itu datang hanya untuk memberitahu kalau makanannya belum habis, kan? Damn, kenapa ia menyia-nyiakan makanan di saat-saat krisis seperti ini?
Lagi-lagi Alfred menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ah, tidak. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau tidak terluka, kan?" Pemuda bermata biru itu melirik kepada Dylan dengan alis berkerut.
Arthur tidak tahu mereka bertukar pesan apa, tapi pasti hanya masalah sepele antara dua alfa. Tapi kalau Dylan saja reaksinya sudah seperti itu, Arthur tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Allistor nanti saat bertemu Alfred. Karena jujur saja, ini pertama kalinya ada alfa yang mencarinya karena khawatir padanya; bukan untuk membalas dendam dan mengajaknya berkelahi. Tentu saja kakaknya tidak siap dengan perubahan situasi seperti ini. Dan bagaimana lagi para alfa bereaksi; kalau tidak dengan menunjukkan sifat posesif? Menyebalkan. Padahal Arthur kan bukan barang. Tapi begitu lah para alfa; selalu merasa memiliki.
"Aku tidak apa-apa. Oh iya, ini kakakku yang paling muda; Dylan. Dylan, ini Alfred. Dia yang membantu mengantarku ke sini."
Masih dengan lengan terlipat di depan dada, Dylan bangkit berdiri. Ia melangkah maju dan berdiri dihadapan Alfred, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebelum ia sempat berkomentar apa-apa, Alfred menegakkan badannya dan melakukan salut.
"Alfred F. Jones dari angkatan laut Amerika siap melayanimu, sir!"
Arthur mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan sapaan militer yang dilontarkan Alfred. Tapi ia lebih terkejut lagi saat mendengar Dylan tertawa. Suasana tegang sedikit mencair, dan sudut bibir Alfred mulai tertarik membentuk senyum. Tapi sebelum lengkungannya sempurna, tawa Dylan berhenti tiba-tiba, sepasang mata emeraldnya memicing tajam.
"Jangan harap kau bisa berpasangan dengan adikku semudah itu, lad. Aku akan mengawasimu."
Arthur mendengus mendengarnya.
AN : orz orz orz orz orz
