Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. MPREG Guys !

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…


.

.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

..


.

Taehyung masih belum mengerti mengenai situasi yang sangat membingungkan untuknya itu. Jungkook dan Daniel, dan ada bayi diantara mereka. Taehyung benar-benar merasa bodoh sendiri saat ini.

"hyung, kau ingin bergabung? " tanya Daniel. Merasa lucu melihat wajah membingungkan Taehyung. Taehyung ikut duduk disebelah Daniel, menatap Jungkook yang juga ikut mendudukkan dirinya di depan Taehyung. Berhadapan dengan orang yang dia cintai dan sudah lama tidak dia cintai.

"Bagaimana kabarmu, hyung? " tanya Daniel. Tangan pemuda tampan itu masih bermain-main mengganggu Jisung dengan pura-pura akan mengambilnya. Membuat Jisung merengek dan menghadapkan tubuh gembulnya ke arah Jungkook. Jungkook yang melihat bayi itu ingin mengarah kepadanya langsung saja merentangkan tangan dan menyambut batita lucu itu.

"daaa...daaa" gumam si bayi yang kini berada di dalam gendongan Jungkook. Tangan kecilnya sibuk bermain-main di udara dan gigi-gigi kecilnya yang sibuk menggigit pundak Jungkook.

"jangan di gigit pundak bunda.. Hei! " Jungkook menegur bayinya itu. Dan kembali mendudukkannya di atas meja.

"lapar, nak ?" tanya Jungkook. Si bayi hanya merespon dengan tawa dan bergumam dengan bahasa bayi-nya saat melihat Jungkook yang mengajaknya bicara. Kemudian Jungkook mengeluarkan biskuit bayi dari tas yang ada di dekatnya dan memberikan ke tangan mungil yang langsung menggenggam makanan itu.

"hyung, jangan memperhatikan Jisung dan Jungkook seperti itu " ucap Daniel. Jungkook kembali memandang Taehyung ketika pemuda tan itu di tegur Daniel.

"Daniel, jujur saja aku sangat ingin membunuhmu sekarang. Tapi aku ingin bertanya, apa bisa seorang anak tidak mirip orang tuanya tapi mirip orang lain? " tanya Taehyung dengan polos. Dia harus memastikan sesuatu. Jungkook benar-benar rindu dengan wajah yang polos di depannya ini.

"Wae? Kau mirip dengan Papa Dae, tidak mirip dengan Daddy Yeol sama sekali. Kau meragukan Jisung anakku? "tanya Daniel.

" Tentu saja, entah mengapa seratus persen aku sangat perrcaya bayi ini adalah anakku. Mungkin saja Jungkook meninggalkanku dulu dan kami lama tidak bertemu, tapi aku cukup tahu dan sadar jika bayi ini sangat mirip denganku, Daniel " jelas Taehyung. saat pertama melihat bayi itu, Taehyung merasa melihat dirinya versi kecil.

" Sepercaya itu, heh ? bukannya saat itu kau membantu Sana, secara tidak langsung kau sudah menolak Jungkook, hyung !" tukas Daniel. Pemuda bersurai abu-abu itu terus menyudutkan Taehyung.

" Sudahlah Daniel-hyung ! jangan menyudutkan Taehyung terus. Kim, ini memang anakmu. Kim Jisung" tanggap Jungkook. Jungkook merasa memang harus jujur, tidak perlu menutupi dan membohongi Taehyung tentang Jisung, dengan senang hati dia akan mengatakan kejujuran yang terjadi.

" Kau sudah tahu jika Jisung anakmu hyung, dan kau harus tahu jika Jungkook itu ist—aah, sakit sayang !" Daniel meringis ketika rambutnya ditarik dari belakang oleh seseorang yang sangat dia tahu.

" Seongwoo !"dan Taehyung merasa sangat bodoh secara total hari ini. Sahabatnya yang tidak ada kabar secara 6 bulan terakhir hadir disini lengkap dengan perut yang sudah membesar.

" Kau ingin mengatakan Jungkook istrimu ? Lagi ? kau anggap aku ini apa, Daniel Kang ? Dan kau tidak melihat apa yang ada diperutku ?" cerca Seongwoo dengan kesal. Kesal dengan Daniel yang tidak peka sama sekali. Dari tadi sebenarnya ia ingin ditemani Daniel untuk mencari jus apel, tapi Daniel menyuruhnya pergi sendiri.

" Tae, kau pindah kesana, aku ingin duduk disini " titah Seongwoo, dan Taehyung langsung bergerak cepat untuk pindah duduk disamping Jungkook. Mereka canggung. Lama tak bertemu dan ketika bertemu dalam keadaan chaos seperti ini. Taehyung memandang bayi yang duduk di atas meja di depannya. Duduk sambil mengemut biskuit yang diberikan oleh ibunya tadi. Sang bayi balas menatap Taehyung. Kemudian tersenyum lebar, seakan mengetahui jika Taehyung adalah ayahnya. Jungkook yang melihat itu ikut tersenyum.

" Anakku.."gumam Taehyung. Taehyung mencoba mendekatkan tangannya dan mengelus pipi bayi itu. Taehyung menitikkan airmatanya. Tak menyangka jika Jisung adalah anaknya.

" Hei kau cengeng sekali. Kalian pasti butuh waktu berdua, eh bertiga. Nanti kau bawa saja Jungkook ke apartemenmu Tae "tukas Seongwoo. Taehyung hanya mengangguk menanggapi.

" Hyung, tapi aku akan menginap dirum—"

" tidak ada tapi-tapian Jungkook. Meskipun kita sudah tidak bersama, kau berhutang penjelasan kepadaku" ucap Taehyung. dan Jungkook hanya diam setelah mendengar ucapan Taehyung tersebut.

" Maksudmu apa hyung ? kau tidak akan kembali kepada Jungkook lagi ? meskipun dia sudah berada disini ?" tanya Daniel membuka suara. Pasalnya dia tahu sekali bahwa Taehyung sempat frustasi kala Jungkook menghilang.

" Daniel-hyung sudah. Aku juga sudah melihat berita pagi ini, tentang pertunangan Taehyung dengan Sana. aku tidak memaksa Taehyung untuk kembali kepadaku" ucap Jungkook.

" Aku hanya tidak menyangka Kook-ah. Jadi Taehyung seperti ini sifas aslinya " lanjut Daniel.

" Sudah Danyeel. Jangan menyudutkan Taehyung terus " kini Seongwoo yang mencoba menenangkan Daniel. Daniel wajar emosi, mengingat dulu sikap Taehyung terhadap Jungkook, dan dia pikir seseorang yang dia anggap sebagai kakak tersebut menjadi seperti ini. Dia kira Taehyung berubah, harusnya dengan Jungkook pergi dia dapat merasakan penyesalan atas perbuatannya.

" Kenapa kau hanya menyalahkanku? Kenapa kalian pergi di saat aku benar-benar terjatuh ? Kalian harusnya mendukungmu, menasehatiku jika aku bersalah, bukan pergi seenak kalian dan kembali juga seenak hati kalian seperti ini" tanya Taehyung ikut membela diri. Dia tidak mau disalahkan seperti itu saja.

" Kenapa Jungkook pergi meninggalkanku? Aku benar-benar merasa bodoh disini. Jika Jungkook jujur aku pasti akan tahu langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya" lanjutnya.

" Bukankah aku sudah menasehatimu ketika kau mengantarkanku ke kampus waktu itu, Tae ? Tak seharusnya kau mera—

"—Jika aku mengatakan aku hamil disaat kau tengah dekat dengan Sana, apa yang akan kau lakukan ? Apa yang akan kau putuskan Kim ? aku saja yang tidak tahu apa-apa saat itu dengan beraninya dia menyakitiku, dan kau dengan senang hati membelanya. Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku jujur aku tengah mengandung anakmu saat itu Taehyung ? Mungkin aku akan mengalami hal yang sama dengan Jimin-hyung. Mungkin saja Jisung tidak akan ada saat ini jika aku tetap bersama denganmu saat itu "cerca Jungkook yang saat ini juga menahan amarahnya.

" Aku tidak masalah jika sekarang kau tidak memilihku, kau berhak atas itu. aku hanya ingin kau mengetahui jika kau memiliki seorang anak dariku. Maaf jika aku terlambat datang dan terlambat untuk memberi penjelasan kepadamu, Kim. Satu setengah tahun belakangan ini sangat berat untukku" lanjut Jungkook. Sementara Taehyung hanya memandang pemuda yang bertambah manis tersebut.

" Sudahlah, apapun itu Tae, kau ingin mendengar penjelasan Daniel dulu? Untuk penjelasan dari Jungkook kau bisa mendapatkannya nanti" ucap Seongwoo. Taehyung mengangguk dan mengarahkan pandangannya menuju Daniel, mengisyaratkan jika dia sudah siap menjadi pendengar yang baik.

..


Flashback On.

Daniel benar-benar tidak mengerti jika ia disuruh Jinki, ayahnya untuk datang ke ruangan Direktur Utama Perusahaan mereka, Park Chanyeol. Dia sudah mendengar gonjang-ganjing mengenai bahwa perusahaan tempat dia bekerja sudah diambil alih oleh dewan direksi.

" Selamat siang, Tuan Chanyeol, Tuan Jinki, dan –" ucapan Daniel terpotong terlebih dahulu karena ada ibunya disana.

"—Tidak usah seformal itu, Niel-ah. Paman Chanyeol ingin membicarakan yang bersifat kekeluargaan sekarang. Kami butuh batuanmu " ucap Ki Bum.

" Duduklah dulu, Daniel" perintah Chanyeol. Sebelum duduk bersama mereka, Chanyeol menelepon Sekretarisnya untuk melakukan sesuatu.

"jemput Ong Seongwoo dan Jeon Jungkook ke kampusnya sekarang" ucap Chanyeol kepada orang diseberang sana. Daniel mengarah kepada ibunya ingin menanyakan ada apa, tetapi ibunya hanya merespon untuk Daniel menunggu.

" Jadi Daniel, paman ingin minta bantuan kepadamu" ujar Chanyeol.

"Apa Paman ? kenapa tidak Tae-hyung saja? Atau Namjoon-hyung Paman ? kalian tidak menyuruhku untuk meninggalkan Ongie-ku kan, Ma?—aww sakit ma !" teriak Daniel tertahan karena tangan dari lelaki cantik yang ada di dekat Daniel sudah mendarat cukup keras di kepalanya.

"Dengar dulu Pamanmu berbicara, kau selalu saja menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahui apa yang sebenarnya. Aku tahu Seongwoo hanya milikmu dan kami juga tidak berniat untuk memisahkan kalian " mendengar ucapan ibunya, Daniel jadi senyum-senyum sendiri.

" Jadi Paman, apa yang bisa aku bantu ?" tanya Daniel lagi.

" Keluar dari Divisi Game, dan buka cabang di Busan. Tanpa sepengetahuan dewan direksi pindahkan pusat kesana. Kau pasti tahu kabar sudah beredar mengenai dewan direksi akan memboikot perusahaan kita" ucap Chanyeol.

" Kenapa tidak Tae-hyung saja Paman ?" tanya Daniel lagi, Daniel tidak keberatan untuk membantu karena dia memang memiliki dasar managemen bisnis dan kepemimpinan yang sudah ia pelajari dari ayahnya.

" Kau tahu Taehyung tidak memiliki dasar bisnis, dan sekarang kepala dewan direksi sedang menyuruh anaknya Sana untuk mendekati Taehyung, aku sudah tahu bahwa mereka bersahabat dan Taehyung tidak akan percaya semudah itu meskipun aku ayahnya" jelas Chanyeol lagi.

" Baiklah, jadi kenapa kalian juga memanggil Ongie dan Jungkook ?" tanya Daniel lagi.

" Kau harus putus dengan Seongwoo dan-" kini ayahnya menjawab.

" Pa !" seru Daniel tidak setuju.

" aku belum selesai bicara anak nakal, hanya pura-pura agar semua berjalan agar tidak seperti rencana" jawab ayahnya.

" Astaga, aku hampir jantungan jika kalian menyuruhku putus dengan Seongwoo" syukur Daniel.

" Selamat siang tu—" belum sempat Seongwoo mengucapkan salam, Ki Bum sudah memeluknya dengan erat.

" Lama sekali kita tidak bertemu menantuku, apa susahnya mengunjungi rumah kami, hm ?" kesalm Ki Bum kepada calon menantunya itu.

" Maafkan aku ma, aku sedikit sibuk dengan jadwal kuliahku" jawab Seongwoo dengan hati-hati, takut menyakiti ibu Daniel tersebut. Jungkook yang dibelakangnya sedikit melirik ke dalam dan melihat apa yang terjadi.

" Oh, astaga ! apa ini calon menantu Baekhyun, how cutee !" Ki Bum beralih mencubiti pipi Jungkook membuat si manis meringis.

" Sudah yeobo, kau menakutinya" ucap Jinki. Setelah di persilahkan duduk oleh Chanyeol, Seongwoo dan Jungkook duduk di sebelah Daniel. Menyimak apa yang akan dikatakan oleh ayah Taehyung tersebut.

" Jadi Jungkook, aku minta maaf jika setelah ini anakku akan menyakitimu " tutur Chanyeol, Jungkook tersenyum mendengar ucapan calon mertuanya itu.

" Tidak apa Daddy, aku tahu ini seperti ujian untuk hubunganku dengan Taehyung. lagipula ini untuk perusahaan, pekerjaan ratusan orang dipertaruhkan disini. Aku mau membantu" tanggap Jungkook. Jungkook sadar sekali dia tidak bole egois.

" Dan Seongwoo, aku ingin kau seolah-olah putus dengan Daniel untuk sementara, apa tidak apa-apa ?" tanya Chanyeol. Chanyeol benar-benar membutuhkan anak sahabatnya itu untuk memindahkan pusat perusahaannya sementara agar saham mereka tidak tersedot penuh dan di ketahui oleh dewan direksi yang merupakan ayah Sana, yang saat ini juga gencar mendekati anaknya. Jujur saja, Chanyeol sendiri sudah jatuh hati untuk menjadikan anak bungsu Sehun itu sebagai menantunya.

" Jika Daniel menyetujuinya aku akan menyetujuinya Dad " jawab Seongwoo. Dia menatap ke arah dominannya, menanti keputusan.

" Demi perusahaan, demi Tae-hyung aku mau" tegas Daniel. Selain karena perusahaan Daniel sangat menyayangi Taehyung seperti dia menyayangi saudaranya kandungnya, seperti Seulgi dan Dongho.

" Baiklah, aku sudah menyusun rencana untuk ke depannya. Semoga saja berhasil. Oh ya, hyung jangan sampai kau memberi Baekhyun rencana ini. Nanti dia akan khawatir dan akan memarahi Taehyung dengan habis-habisan karena dia berpihak dengan sahabatnya dan tidak membela Jungkook" jelas Chanyeol, dan diangguki oleh Ki Bum. Chanyeol jelas mengerti bagaimana istri cantiknya itu jika bertindak. Sana bisa mati dibuatnya nanti.

" Nanti ayahmu akan datang, aku akan berbicara dengan ayahmu Jungkook" Jungkook juga mengangguk mendengar penuturan Chanyeol.

..

Selepas dari ruangan Chanyeol. Mereka bertiga pergi mencari makan siang. Seongwoo sedari tadi mengamati Jungkook yang hanya terdiam dan memegangi perutnya.

" Kau kenapa, Kook ?" tanya Seongwoo.

" Tidak apa-apa hyung" jawab Jungkook sekenanya.

" Kau tidak baik-baik saja Jungkook. Katakan apa yang terjadi, aku tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi ?" tekan Seongwoo.

" Jangan dipaksa Jungkook, sayang " peringat Daniel.

" Aku hamil hyung" jawab Jungkook sambil menunduk, matanya sudah memerah. Sebenarnya dia sedikit bingung. Dia senang dia hamil, tapi melihat situasi dan kondisi seperti ini dia merasakan ketakutan jika dia tidak bisa melindungi janinnya.

" Benih Taehyung ?" tanya Seongwoo dan Jungkook mengangguk.

" Astaga, timingnya kurang tepat sekali. Baiklah, kami akan melindungimu, bagaimana Ongie?" tanya Daniel kepada kekasihnya dan diangguki dengan semangat oleh pemuda Ong itu.

" Kau tenang saja, Daniel bisa melindungimu dengan terus berada didekatmu, aku tidak cemburu, aku bersumpah !" ucap Seongwoo ketika melihat Jungkook mempertanyakan itu.

"Hyu—"

" aku tahu kau akan berbicara apa Jungkook, ini demi bayimu, demi Taehyung bodoh itu. meskipun aku sangat membenci sifatnya sekarang, tapi aku sangat menyayangi sahabatku itu" jelas Seongwoo yang memeluk Jungkook yang mulai terisak.

..

Begitulah mereka yang menjalankan rencananya, Jungkook juga tidak menyangka hari itu dia akan bermasalah langsung dengan Sana, dan insiden tersebut langsung berhubungan dengan Taehyung. maka itu bisa membuatnya untuk pergi dari Taehyung untuk sementara.

.

.

Flashback Off.

.

.


Taehyung benar-benar terkejut setelah mendengar cerita dari Daniel. Dia benar-benar salah sangka selama ini, ternyata Jungkook tidak meninggalkannya dan ayahnya benar-benar menyayanginya serta sahabat-sahabatnya masih memedulikannya.

" Kami tidak meninggalkanmu hyung, aku sangat menyayangimu makanya aku melakukan ini. Dan jika kau tunangan bahkan menikahi Sana, bukankah kau menyakiti banyak orang ? bukan hanya Jungkook yang tersakiti" ucap Daniel. Memandang Taehyung lamat-lamat.

" Sudah Danik.. tugas kita sudah selesai untuk menjaga Jungkook dan Jisung. Disini sudah ada Taehyung. ayo kita pergi, aku sedang ingin makan odeng" ajak Seongwoo. Dia mengerti keresahan Daniel tentang hubungan Taehyung dan Jungkook ke depannya.

" Baiklah, hyung.. jika ada yang masih ingin kau ingin tahu, kau bisa menghubungiku. Besok aku sudah pindah ke Perusahaan utama, kami permisi" ucap Daniel kepada mereka, sebelum pergi Daniel menyempatkan diri untuk mengecup pipi berisi Jisung.

" Bye Jisungiee !"

Selepas Daniel dan Seongwoo pergi, Taehyung dan Jungkook masih terdiam. Sampai Taehyung membuka percakapan terlebih dulu.

" Jadi Jisung memanggilmu Bunda ?" tanya Taehyung, Jungkook mengangguk. Menatap anaknya yang masih memainkan sepatunya sendiri. Sangat penasaran dengan benda yang membungkus kaki mungilnya tersebut.

" boleh dia memanggilku ayah ?" tanya Taehyung lagi. Jungkook kembali mengangguk. Tangan Taehyung mulai membelai pipi anaknya, mengamati batita kecil yang sangat menggemaskan itu.

" Kim, apa boleh kita keluar cepat dari restoran ini? aku ingin membeli susu Jisung, susunya habis. Tanpa susu dia akan rewel nanti " kini giliran Jungkook yang bertanya.

" Ayo kita pergi. Lagipula jika terlalu malam Jisung akan kedinginan. Udara semakin dingin masalahnya" tanggap Taehyung. sebelum Jungkook menggendong Jisung, Taehyung sudah menawarkan diri untuk menggendong anaknya tersebut.

Jungkook membantu Teaehyung untuk menggendong Jisung pertama kalinya, dan Taehyung dengan sangat gugup melakukan itu.

" Rileks, Kim. Jika kau tegang, nanti Jisung tersakiti " peringat Jungkook.

Setelah selesai, mereka berjalan keluar restoran itu beriringan.

" Jungkook, bisa kau selimuti Jisung dengan mantelku yang kau pegang, aku takut anakku kedinginan" pinta Taehyung. Jungkook sedikit terkejut karena Taehyung dengan gamblang mendeklarasikan bahwa Jisung adalah anaknya. Jungkook langsung menyelimuti Jisung yang sedang bermain dengan kancing kemeja Taehyung, pandangan mereka bertemu. Sudah lama rasanya tidak bertemu, mereka rindu satu sama lain.

" Oh ya Kim, nanti kita singgah sebentar ke supermarket di seberang gedung apartemenmu ya" ucap Jungkook menghilangkan kegugupannya dan mendapat anggukan dari Taehyung. Beberapa orang yang berlalu lalang di dekat mereka, sedikit menaruh perhatian kepada keluarga kecil yang terlihat bahagia itu. Spontan pandangan orang-orang membuat Jungkook menunduk malu dan segan.

Sesampainya di depan pintu apartemen Taehyung, Taehyung menekan password apartemennya. Jisung sudah tertidur di dalam gendongannya.

" Hyung, kau su— astaga Jungkookie-hyung !" Guanlin terkejut dan suaranya yang tinggi cukup membuat Jihoon dan Woojin memastikan apa yang terjadi. Si kecil Jisung juga sedikit tersentak di dalam gendongan Taehyung, membuat Taehyung secara refleks menggoyang-goyangkan gendongannya untuk kembali membuat Jisung terlelap, tapi bayi kecil itu sudah bangun sepenuhnya.

" Astaga, Linlin. Kau membangunkan anakku " kesal Taehyung.

" Anak ?" serempak merek bertiga. Merasa tidak mengetahui apa-apa tentang Taehyung, Jungkook dan bayi yang memandang mereka bingung.

" Sudahlah, kalian kembali saja belajar. Nanti aku akan menjelaskan apa yang terjadi. Jungkook kau bisa menaruh tasmu di kamarku dan beristirahat" ujar Taehyung kepada pemuda manis itu, sementara Jungkook hanya mengangguk. Jihoon yang sangat merindukan Jungkook, mengikuti Jungkook ke dalam kamar itu. Merasa ada yang mengikuti Jungkook melihat dan tersenyum melihat Jihoon.

" Kemari ! tidak merindukanku ?" tanya Jungkook. Langsung saja Jihoon menumbruk Jungkook dan hampir terjatuh ke atas kasur.

" Aigoo ! kau sudah besar.. sudah kuliah bukan ? waaah ! kita sama sekarang" ucap Jungkook sambil mengusap kelapa Jihoon.

" Aku sangat merindukanmu hyung ! kau kemana saja? Kau tidak tahu berat sekali Tae-hyung menjalani hidup tanpa mu disampingnya " cerita Jihoon.

" Ani ! dia sudah ada Sana, adik kecil !" tanggap Jungkook, dia benar-benar harus kembali ke kenyataan sebelum larut pada imajinasi yang mengantarnya untuk bersama dengan Taehyung.

" Kenapa kau lemah sekali hyung ? harusnya kau kembali kepada Taehyung apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah merestui wanita itu masuk ke dalam keluarga Tae-hyung. kau ingat dia menyakiti Jiminie-hyung dan Yoonji kalau kau lupa hyung " geram Jihoon. Jihoon bersumpah bahwa dia masih menyimpan dendam kepada wanita yang hampir membuat kakak dan keponakannya hampir saja meregang nyawa.

" hahaha kau ini berlebihan sekali, ayo keluar! Kau harus berkenalan dengan malaikat kecilku yang membuatku terus bertahan Jihoonie" Jungkook merangkul Jihoon keluar dari kamar dan menghampiri para Seme yang sedang bermain dengan Jisung yang sudah terbangun total dari tidurnya. Jungkook hanya menarik nafas, ingat bahwa sehabis ini akan susah mengajak anak kecil itu untuk tidur kembali.

" Waaah.. dia lucu sekali, hyung ! kau bisa sekali membuat cetakan seperti ini" ujar Woojin secara langsung, membuat Taehyung sedikit mengeryit mendengar tuturan pemuda bergingsul itu.

"Ya ! kau jaga omonganmu di depan anakku " ucap Taehyung.

" Hyung, ayo buat minuman" ajak Jihoon ke dapur, Jungkook hanya menuruti Jihoon dari belakang.

" Oh ya hyung, aku rasa Jungkookie-hyung semakin cantik semenjak terakhir aku bertemu dengannya dirumah sakit " ucap Guanlin. Taehyung yang merasa sadar pernyataan itu ditujukan untuk dirinya hanya memandang Guanlin penasaran.

" Iya sewaktu Jimin-hyung sakit. Aku berpapasan dengan Jungkookie-hyung di lantai dasar. Dia juga sempat mengajakku untuk makan di kantin rumah sakit hyung"

" Benarkah?" tanya Taehyung memastikan.

" Uhm, tapi aku tidak sadar jika Kookie-hyung sedang hamil. Dia mengatakan untuk menjaga Jiminie-hyung, Jihoonie dan kau, hyung. setelah itu dia pergi. Dia mengatakan dengan lugas bahwa Jiminie-hyung adalah orang yang kuat. Dia akan berusaha untuk dirinya dan bayinya. Seperti mantra, setelah beberapa hari Jiminie-hyung nyatanya sadar dan baby Yoonji baik-baik saja hyung " cerita Guanlin. Taehyung benar-benar tidak menyangka jika Jungkook sering berada didekat mereka. Hanya dia saja tidak sadar akan kehadiran pemuda yang sangat mencintai dirinya yang sangat brengsek itu.

"Hyung, anakmu menangis !" seru Woojin. Taehyung langsung beranjak dan menggendong anaknya dengan lembut. Jungkook dan Jihoon yang datang langsung bergabung dengan mereka dengan membawa cangkir-cangkir yang berisi kopi panas.

" Kim, kemarikan Jisung. Dia pasti haus" ucap Jungkook. Di tangannya sudah berada sebotol susu formula untuk Jisung. Taehyung langsung memberikan Jisung kepada Jungkook dengan hati-hati.

" Aigoo ! anak bunda haus, hm ?" tanya Jungkook kepada anaknya. Bayi tersebut tertawa dan berusaha menggapai botoh susu yang dia lihat ditangan ibunya.

" Uhkiyowo.. dia manis sekali" Jihoon benar-bener tidak tahan untuk mencubit pipi anak Taehyung tersebut. Sambil menyedot susu di dalam botol yang dia pegang, Jisung juga berusaha untuk menghentikan serangan dari cubitan Jihoon dari pipinya.

" Hm, hyung.. boleh Jisung bermain denganku dulu? Dia sepertinya belum mengantuk. Kau bisa berberes di kamar atau bercerita dengan Tae-hyung. nanti aku kembalikan Jisung jika dia sudah lelah atau mengantuk. Ne ne ne hyung ?" pinta Jihoon dengan puppy eyes-nya. Sementara Guanlin sudah menahan gemas terhadap kekasihnya itu.

" Okay. Permintaan diterima. Aku akan menyelesaikan beberapa tugasku, jika nanti dia menangis atau membutuhkan sesuatu panggil saja aku" ujar Jungkook sambil menyerahkan Jisung kepada Jihoon. Jihoon yang memangku si kecil sangat bersemangat dan Guanlin langsung mengarah kepada kekasihnya itu. Ikut bermain dengan si bocah menggemaskan itu.

..

Jungkook masuk ke dalam kamarnya. Mengemas beberapa barang yang dia perlukan untuk dirinya dan si kecil yang mala mini akan tidur di apartemen Taehyung.

" Hm, Taehyung-sshi, aku izin pakai kamar mandimu ya " ucap Jungkook kepada Taehyung yang sedang duduk di atas ranjang. Ketika Jungkook masuk ke dalam kamar, dia juga memutuskan untuk ikut masuk kesana.

" Silahkan, selepas itu kita berbicara" Jungkook mengangguk mengiyakan permintaan Taehyung.

'sungguh, aku merindukanmu Jungkook' batin Taehyung. pemuda itu hanya memandang Jungkook yang berlalu ke dalam kamar mandi ruangan itu dengan baju ganti ditangannya.

10 menit menunggu, akhirnya Jungkook keluar dari kamar mandi dengan baju santai dan keadaan yang cukup segar. Jungkook duduk di sofa yang berseberangan dengan Taehyung.

" Apa yang kau ingin tahu dariku?" tanya Jungkook langsung.

" Jisung, kapan dia lahir ? kapan kau hamil Jisung ?" tanya Taehyung.

" Jisung lahir pada bulan Februari, hm.. hamil ya ? oh, seingatku, maaf jika aku mengungkit masa lalu, tapi saat masalah dengan Sana aku sudah hamil Jisung. Aku ingin memberitahumu perihal itu. bagiku tidak masalah jika kau tidak bertanggung jawab Kim. Tapi waktu itu keadaannya tidak tepat sehingga aku tidak bisa memberitahumu, maaf" jelas Jungkook. Taehyung hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

" Kemana saja kau selama hamil ? aku tidak pernah mendengar kabar tentangmu ?" tanya Taehyung lagi.

" Aku berada di Busan. Awalnya aku bebarapa bulan disana. Tinggal bersama Daniel-hyung. setelah itu aku ke London. Jisung lahir disana, dan baru sore tadi kami datang " jawab Jungkook.

" Eomma dan Appa-mu tahu kau hamil ? Mommy dan Daddy-ku ?" tanya Taehyung lagi. Jungkook menggeleng.

" Tidak. Mereka tidak tahu sama sekali. Aku tidak mau merepotkan mereka. Aku sadar diri Kim. Ini ulahku, bukan mereka. Jadi ketika aku meminta untuk waktu kepada keluargaku mereka mengerti. Aku juga tidak mungkin memberitahu Mommy atau Daddymu. Aku tahu mereka akan menahanku dan akan menyudutkanmu nantinya" jelas Jungkook lagi. Sungguh dia tidak ingin merepotkan semua orang-orang terdekatnya. Ucapan Jungkook membuat Taehyung menghembuskan nafas dengan kasar. Jungkook benar-benar membuatnya bingung selama ini. Dia pikir Jungkook akan mencari perlindungan untuk dirinya nyatanya Jungkooklah yang melindunginya.

"Oh, hanya Jennie-noona yang tahu. waktu itu aku tidak sengaja bertemu dengan noona yang sedang makan di Café dekat apartemenku di London. Dia terkejut dan menanyakan perihal kehamilanku. Maaf jika selama ini mungkin Jennie-noona sedikit menekanmu Kim" lanjut Jungkook.

Memang selama Jungkook menghilang, adik perempuan Taehyung itu sedikit menjauhinya dan akan sinis jika Taehyung mengajak berbicara atau bercanda. Taehyung semulanya tidak mengetahui sampai Jennie juga menjadi korban Sana. Taehyung tidak mengerti mengapa adiknya sangat membela Jungkook ketika mereka berdebat mengenai kedekatan Taehyung dan Sana.

" Jeon, siapa yang menemanimu melahirkan ?" tanya Taehyung lagi. Jungkook tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari salah satu pewaris perusahaan besar tersebut.

" Sendiri, Kim. Aku melahirkan sendiri, awalnya Ongie-hyung bersikeras meminta Daniel-hyung untuk menemaniku, tapi aku bisa sendiri. Tentu saja aku ingin kau menemaniku, setidaknya ketika bayiku lahir, dia bisa melihat ayahnya dahulu. Tapi apa boleh buat jadi aku yang memaksa dokter dan Ongie-hyung untuk masuk sendiri ke dalam ruang persalinan " jawab Jungkook.

" Oh ya Kim. mungkin menurutmu ini adalah permintaan yang sepele. Tapi bagiku ini adalah segalanya. Jangan ambil Jisung dariku, Kim. Dia adalah segalanya untukku. Aku tidak berharap banyak untukmu yang ingin kembali kepadaku setelah apa yang sudah terjadi, tapi Jisung adalah kebahagiaanku saat ini. Dia adalah nafasku. Aku mohon,hiks.. jangan ambil Jisung dariku,hiks " pertahanan Jungkook akhirnya runtuh, mungkin Jungkook akan mencoba bertahan tegar untuk Taehyung tapi tidak untuk Jisung.

Taehyung mendekat ke arah Jungkook dan memeluk tubuh rapuh itu. semenjak mereka bertemu beberapa jam lalu, inilah kedekatan mereka yang intim. Taehyung mengusap pelan punggung Jungkook yang terus terisak itu.

" Jebal.. ja—jangan ambil Jisungieku.. Tae.. hiks" isak Jungkook.

" Aku tidak akan mengambil Jisung, Jungkook " tanggap Taehyung, tidak tega membuat Jungkook semakin larut dalam tangisnya. Lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga Taehyung dapat mendengar nafas teratur Jungkook.

" Hm, kau tertidur setelah bercerita Kookie-ya"lirih Taehyung sebelum menidurkan Jungkook di dalam kamarnya itu. setelah menyelimuti Jungkook dengan benar dan mengecup kening ibu dari anaknya, Taehyung keluar dari ruangan pribadinya itu.

" Oh hyung ! Jiminie !" Taehyung menagkap pasangan YoonMin yang duduk di sofa ruang tamunya. Sementara Guanlin dan Jihoon sudah bermain dengan dua bayi yang berbeda gender di lantai yang dilapisi karpet berbulu.

" Jungkook kembali ?" tanya Jimin. Taehyung tempat di sofa single di seberang pasangan itu.

" jadi kau tetap melanjutkan rencana tunanganmu dengan Sana dan meninggalkan Jungkook dan anakmu ?" tanya Yoongi dingin. Guanlin dan Jihoon yang turut mendengar pertanyaan Yoongi juga menatap Taehyung guna ingin mendengar jawaban dari pemuda tan tersebut.

" Aku tidak tahu hyung"

.

.

.

To Be Continued.

.

.


.

Maaf sekali sangat ngaret. Sumpah sempat stuck banget..

Alurnya juga semakin aneh. Doakan mood aku baik chingu-deul. Maaf belum bisa balas review kalian. Tinggalkan comment dan review yang membangun sayang.

See ya next chap Okay !

Aku yang menyayangi kalian.

.

.

Guanlin's Noona..