Minaaa-saaaaan….*teriak pake toa*
Mumpung masih suasana lebaran, sebelum mulai saia mau ngucapin Minal Aidzin Wal Faidzin… mohon maaf lahir batin buat semua kesalahan yang pernah saia perbuat selama ngerusuh di fandom ini, nyehehehehe… gomen ne, updatenya masih belum bisa secepet dulu. Selama puasa bener-bener ga bisa dapet ide-_- Dan terima kasih banyak buat buat semuanya yang masih mau mereview fic ini…*bungkuk-bungkuk*
Buat Icha Yukina clyne, AeonFlux15, Quizzie D'merlin audiest, aajni537, miyu69'Zzz, Hyou Hyouichiffer, riidinaffa, Undine-yaha, iin cka you-nii, dan Hikari Kou Minami udah dibales lewat PM, terus buat yang gak login,
TheMostMisteriousGirl: haaaaii jugaaa XD iya siaap, ini saia lanjutin;D
DEVIL'D: Endingnya harus hirumamo?fufufufufu… iyaa tuuh, hiru takut sama teman-teman sebangsanya..#jduar ini udaah update.. tapi gak secepet larinya Sena-_-
Fanasya killua de phantomhive: aaah…. Iya makasih banyaak, ini sudah datang, selamat menikmati XD
D'ekha Adhena Mamo: hohohohoho… ini dia reaksinya Mamo..fufufufu selamat menikmati
Y0uNii D3ViLL: gomeeeenn neee… updatenya lama sangat*ngesot ke pojokan* kita simak bersama pengakuannya si setan itu, nyahahaha
Dia tak pernah nampak.
Tidak ada yang pernah tahu siapa yang ada dibalik topeng itu.
Otak dari segala tindak keadilan demi memusnahkan
Kelompok mafia paling berbahaya yang disebut Dark Dragon
Dia menyutradarai segala misi untuk menggagalkan aksi Dark Dragon menguasai dunia.
Pria misterius yang diburu seluruh anggota Dark Dragon dengan
Bayaran melimpah.
Sekarang, dia akan menanggalkan topengnya demi melindungi
Sang malaikat.
Semua menyebutnya, "Agen No.1"
AGEN NO.1
Disclaimer: Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Story: Mayuo Fietry
Pair: Hiruma & Mamori
Genre: romance, crime
Rated: T (agak berat dengan tembak-tembakan)
Warning: OC,OOC akut, typo(buat jaga-jaga), cerita beda jauh sama Eyeshield 21 yang asli,
Crime kurang greget, romance gak kerasa, abal, jelek, gaje,
Sebaiknya siapin mental sebelum baca.
Chapter 12
PILIHAN
"Tunangan?" Mamori mengulang kata yang baru saja diucapkan Chizue. Gadis itu menatap lurus mata lawan bicaranya. Sementara Chizue sekuat tenaga menghindar dari pandangan Mamori.
"Ya." Ia bergumam tak jelas. "Tapi aku tahu kalau Youichi-kun menyukaimu." Chizue melanjutkan. "Dia tidak pernah bisa mencintaiku. Aku tahu itu."
Mamori diam. Membiarkan angin sore menerpanya. Ia masih memandangi Chizue.
"Sebaiknya kau kembali sekarang, Youichi-kun pasti sudah menunggumu." kata Chizue.
Untuk beberapa detik Mamori belum bergerak dari tempatya. Ia masih tetap menatap Chizue. "Baiklah, aku pulang dulu ya." Mamori akhirnya berusaha menunjukan senyumnya. Yeah, dia tersenyum. Senyum kecil yang terasa pahit.
Gadis itu melangkahkan kakinya menjauhi Chizue, menjauh dari komplek pemakaman. "Baka." Ia berdesis pelan. "Youichi-kun baka." Tanpa terasa air mata yang ia bendung sejak tadi keluar. Mamori menghentikan langkah untuk sekedar menghapus air matanya. "Pembohong." Ia kembali berujar sendiri.
Menarik nafas pelan, Mamori kembali melanjutkan langkahnya. Kepalanya agak pusing. Entah apa yang akan ia katakan nanti pada Hiruma. Ia bingung memulai dari mana. Biarlah, pikir Mamori. Ia masih terus melangkah meninggalkan komplek pemakaman itu. Berkali-kali ia menghela nafas hanya untuk menyiapkan dirinya.
Rasanya sakit sekali. Hiruma yang ia percaya selama ini. Hiruma yang tampak tidak mungkin menyakitinya malah mempermainkan perasaannya. Ia kesal. Langkahnya sudah sampai di depan gerbang pemakaman. Tapi Mamori tidak berhenti untuk menemui Hiruma. Ia terus berjalan melewati pria itu.
"Hoy..!" Panggil Hiruma yang merasa tidak diacuhkan. Tapi Mamori tak menanggapi. Ia terus saja melangkah menjauhi Hiruma. "Manajer sialan!" Panggilnya lebih keras.
Mamori tetap tak merespon.
"Tch," Hiruma berdecak kesal kemudian beranjak dari tempatnya. Ia menyusul langkah Mamori. "Kau ini kenapa, manajer sialan? Bertemu hantu sialan di dalam sana?"
"Hiruma-kun." Mamori menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Hiruma. "Kita putus." Lanjutnya pelan namun pasti.
Hiruma menaikan sebelah alisnya. "Apa maksudmu manajer sialan? Apa yang kau temui tadi sampai kau seperti ini?" Tanya Hiruma serius.
"Tunanganmu."
Hiruma terdiam. Otak jeniusnya berputar dengan cepat, Mamori tidak mungkin mengetahui itu kalau Chizue tidak bicara apapun padanya. Yeah, cuma nama Chizue yang terlintas di benaknya, cuma anak itu yang berani mengatakannya dan hanya dia yang mungkin berada di pemakaman sore-sore begini.
"Apa yang dikatakan asisten sialan padamu?" Tanya Hiruma dengan suara yang amat tenang. Seolah ia tidak terkejut dengan pernyataan Mamori.
"Tunanganmu, Youichi!" Mamori hampir saja menjerit. "Dia tunanganmu.. Bukan asistenmu." Mamori melanjutkan dengan suara yang pelan.
Hiruma menatap gadis itu. Ia bisa melihat Mamori tengah menahan air matanya agar tidak keluar.
"Jangan dengarkan apa pun yang dia katakan tentangku, manajer sialan." Ungkap Hiruma masih dengan nada bicara yang tenang.
Mamori diam dan menatap Hiruma lekat-lekat. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan mulai kembali berjalan meninggalkan Hiruma.
"Tch." Setan itu berdecak kesal. "Awas kau, asisten baka sialan. Kubunuh kau besok!" Gerutunya seraya menyusul langkah Mamori. Ia diam saja mengawasi langkah malaikatnya itu. Hiruma tahu, ini bukan saatnya untuk bicara dengan Mamori. Karena itu hanya akan membuat Mamori bertambah emosi.
Sementara Mamori masih membiarkan Hiruma. Sebenarnya ia tidak ingin pria itu mengikutinya. Tapi tidak mungkin. Hiruma sudah pasti mengikuti langkahnya. Mamori terus saja berjalan. Ia sendiri tidak tahu akan kemana. Biar saja kakinya yang membimbing. Ia membiarkan air matanya menetes. Sakit. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan dikhianati seseorang yang amat ia percaya. Seseorang yang sangat ia sayang.
"Manajer sialan, kau mau pergi kemana?" Tanya Hiruma yang mulai kesal mengikuti langkah Mamori.
"Terserah aku mau pergi kemana!" Jawab Mamori tanpa menoleh. "Aku tidak menyuruhmu mengikutiku!" Ia melanjutkan.
"Tch." Hiruma berdecak kesal. "Baka mane! Kalau sampai organisasi sialan itu menangkapmu kau pikir siapa yang bertanggung jawab?"
Oh, bahkan yang dipikirkan Hiruma bukanlah perasaannya. Jadi Hiruma mengikutinya cuma karena tugas dan tanggung jawabnya sebagai Agen Rahasia yang harus melindunginya. Mamori menghentikan langkahnya membuat Hiruma juga ikut berhenti.
"Kau bahkan tidak memikirkan perasaanku." Ucap Mamori pelan namun cukup untuk didengar Hiruma.
"Sekang menurutmu apa yang lebih penting, nyawamu atau hubunganku dengan asisten sialan itu?" Kalau saja ia tak ingat lokasinya sekarang, ingin sekali rasanya Hiruma berteriak.
Mamori membeku mendengar ucapan Hiruma. Tapi sedetik kemudian ia kembali melangkah pergi.
Hiruma kembali berdecak kesal melihat tingkah manajernya. Ia melampiaskannya dengan menendang kerikil di depannya. Meskipun itu sama sekali tidak membantu.
"Mamori Anezaki!" Ia setengah berteriak menyusul langkah Mamori.
Deg
Tiba-tiba saja Hiruma merasakan firasat yang tidak enak. Ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Mata hijaunya menyipit melihat sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat. Lampu mobil itu sedikit mengaburkan pandangannya. Ia berbalik menghadap Mamori yang berada agak jauh darinya.
"Mamori!" Ia berteriak dan segera berlari menyusul langkah Mamori. Telinganya masih siaga mendengarkan mobil di belakangnya-yang nampaknya tak berniat mengurangi kecepatan meskipun jelas-jelas Mamori berada di depannya.
"Manajer sialan!" Hiruma kembali berteriak. "Minggir, manajer baka!" Lanjutnya. Ia tetap berlari mengejar Mamori dan begitu menyamai langkahnya, Hiruma langsung mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh di trotoar tepat sesaat sebelum mobil itu menyentuh tubuh mungilnya.
Hiruma sendiri berhasil menghindari mobil itu. Dengan cepat matanya menatap mobil yang kini berlalu di depannya itu. Otak jeniusnya merekam plat nomor sedan putih itu. Ia kemudian menghampiri Mamori yang masih terdiam di tempatnya.
Jujur saja, Mamori terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup amat cepat. Mamori mengatur nafasnya sebentar. Pandangannya tampak kosong.
"Kau baik-baik saja, manajer sialan?" Tanya Hiruma seraya menghampiri malaikatnya.
Mamori tak merespon. Ia masih merasa kacau. Mamori akhirnya berusaha berdiri tanpa mengabaikan Hiruma.
Hiruma sendiri bisa melihat tubuh Mamori yang gemetar dengan wajah yang agak pucat. "Ma-"
"Aku tidak apa-apa." Suara Mamori terdengar pelan dan lemas, sama sekali tidak menandakan kalau dia baik-baik saja. Pandangan matanya juga masih tampak kosong. Ia menepis pelan tangan Hiruma di bahunya dan melangkah menjauh.
"Apanya tidak apa-apa, manajer sialan?" Tanya Hiruma tegas saat melihat kondisi Mamori. Tapi gadis itu tetap tidak mengacuhkannya. Mamori terus pergi dengan langkah yang gemetar menjauh dari Hiruma. Gadis itu perlahan merasakan kalau ia mulai menangis.
Hiruma hanya memandangi langkah Mamori untuk beberapa saat. Mata hijau itu tampak meredup menatap Mamori.
"Baka mane." Ia menggerutu pelan lalu menyusul langkah manajernya itu. "Jangan bertindak bodoh manajer sialan. Selesaikan masalah ini baik-baik." Dengan cepat Hiruma meraih tangan Mamori. Pria itu menggenggamnya lembut. Ia menatap Mamori. Menatap mata biru milik malaikat kesayangannya yang berair. "Kau tidak perlu menangis." Ucapnya pelan.
Mamori bisa merasakan kehangatan hanya dengan berada di dekat kaptennya itu. Ia menundukan wajahnya. Rasanya sakit sekali begitu menyadari posisinya sekarang.
"Aku benci kau." ia mendesis pelan disela tangisnya. "Pembohong."
"Terserah kau mau menganggapku apa, manajer sialan. Yang penting sekarang kita pulang!" Kata Hiruma tegas, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia merangkul bahu Mamori dengan lembut, menuntun gadis itu menuju stasiun.
Mamori mau tak mau akhirnya menurut, ia membiarkan Hiruma terus memeluknya. Nyaman, ia ingin terus berada dalam dekapan Hiruma rasanya. Namun keduanya hanya saling diam. Mamori bahkan tidak berani melirik Hiruma. Entahlah, ia merasa pandangan Hiruma lebih mengerikan dari biasanya.
"Memangnya kita mau pulang kemana?" Tanya Mamori saat mereka tiba di stasiun.
Hiruma hanya meliriknya sekilas namun tak menjawab apa pun. Ia malah menyeret Mamori masuk ke sebuah gerbong kereta yang berhenti di depan mereka.
Tak ada yang bicara lagi sampai mereka berdua tiba di rumah Mamori. Hiruma bahkan tampak sama sekali tidak memperdulikan perasaan gadis itu. Begitu mereka masuk rumah, Hiruma malah sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang ia kerjakan. Tapi, ia terlihat begitu serius.
Mamori menghela nafas kesal. Apakah setan itu benar-benar tidak memikirkan perasaanya. Lagi-lagi yang dia urusi hanya laptop. Sebenarnya dia pacaran dengan Mamori atau dengan laptop. Dari pada ia terus berharap Hiruma memberikan penjelasan, ia lebih memilih melangkah masuk ke kamarnya.
Setelah mengganti seragamnya, Mamori memilih tiduran di atas ranjangnya. Ia memejamkan matanya sebentar. Ingatannya membawa gadis bermata biru itu pada kejadian saat ia pulang tadi. Sebuah mobil hendak menabraknya. Kalau Hiruma tidak menyelamatkannya, ia pasti tidak akan ada di sini sekarang. Kelopak mata itu perlahan terbuka.
"Harusnya tadi aku mengucapkan terima kasih pada Youichi." Ia bergumam pelan sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
"Benar detektif sialan. Selidiki dan tangkap pelaku sialan itu."
Telinga Mamori berkedut sedikit mendengar suara yang amat ia kenal itu. Tapi ia kemudian merasakan kesal dihatinya mengingat apa yang ia dengar di pemakaman tadi.
"Manajer sialan jelek!"
Mamori menoleh mendengar panggilan itu. Ia menatap sosok Hiruma yang entah sejak kapan ada di depannya. Ia bahkan tidak mendengar suara pintu dibuka tadi.
Oh, benar-benar agen rahasia. Pikir Mamori. Tapi kemudian ia cepat mengalihkan lagi pandangannya.
"Kau masih marah, heh?" Tanya Hiruma.
"Tidak. Sudahlah, aku mau istirahat dulu Hiruma-kun!" Mamori menjawab seraya menarik selimutnya. Tapi kegiatannya terhenti karana tangan Hiruma menahannya.
"Panggil aku seperti biasanya, manajer sialan!" Perintah Hiruma tegas.
Gadis itu meliriknya sekilas. Tapi kemudian mengabaikannyanya.
"Manajer sialan, berhenti bertingkah seperti ini!" Hiruma hampir berteriak karena kesabarannya mulai habis.
"Jangan berteriak padaku, Hiruma!" Balas Mamori tak kalah tegas. Tapi sedetik kemudian air matanya mulai menetes.
Hiruma diam menatap gadis itu. Ingin sekali rasanya ia memeluk malaikatnya, dan setan itu melakukannya. Tanpa menunggu lama Hiruma merengkuh tubuh Mamori. Membawa gadis itu dalam sebuah pelukan yang hangat. Hiruma tahu, meskipun Mamori tampak cengeng karena menangisi hal seperti ini. Tapi ia mengerti perasaan manajer kesayangannya itu, hanya dia yang dimiliki Mamori sekarang. Dan Mamori pasti merasa kecewa padanya sekarang.
"Kau seharusnya tahu manajer sialan. Bagaimana perasaanku padamu dan kau juga harusnya tahu, bahwa aku tidak sedang bermain-main dengan ini."
"Tapi kau sudah punya tunangan. Kau sama saja mempermainkan kami kalau kau bersikap begini." Ungkap Mamori sambil berusaha lepas dari pelukan Hiruma.
Setan itu membiarkan malaikatnya melepaskan pelukan itu. "Kau lebih percaya padaku atau asisten sialan itu?" tanyanya.
Mamori tak menjawab. Ia hanya diam dan terus menatap Hiruma. "Aku tidak tahu." Katanya kemudian. Mamori berbalik dan menjauh dari setan itu.
"Hiruma." Panggilnya tanpa menoleh. "Chizue-chan itu benar tunanganmu?" Tanya Mamori. Entah kenapa ia merasa bodoh menanyakan ini.
"Ya." Jawab Hiruma pelan. "Tapi itu hanya menurutnya." Ia melanjutkan.
Mamori langsung menoleh saat mendengar jawaban pria itu. Ia menatap Hiruma lekat-lekat. "Apa maksudmu?" ia mendelik.
"Karena bagiku dia cuma seorang asisten."
Malaikat itu terdiam beberapa detik hanya untuk mencerna kata-kata pria di hadapannya. Ia merasa sakit. Ia mencoba memposisikan dirinya sebagai Chizue. Bagaimana jika seorang yang amat ia cintai hanya mengaggapnya asisten. Seorang yang ia miliki malah memberikan cintanya pada gadis lain. Mamori menunduk membayangkan jika semua itu terjadi padanya.
"Tidakkah… Kau memikirkan perasaan Chizue-chan, Hiruma?" Tanya Mamori sambil kembali menatap Hiruma. "Dia pasti sangat sedih saat dia tahu kalau kau adalah pacarku, rasanya pasti sakit sekali saat melihat kita bersama. Aku-"
"Kalau begitu bagaimana dengan perasaanku?" Tanya Hiruma memotong kata-kata Mamori. Ia menatap gadis itu dengan pandangan tegas. "Apa ada yang peduli dengan perasaanku?" Lanjutnya masih tetap menatap Mamori. "Bahkan orang tua sialan itu juga tidak mau tahu apa yang aku rasakan."
Mamori menyadari perubahan pada Hiruma saat mengatakan kalimat terakhirnya. Cahaya hijau yang biasanya cerah itu tampak meredup. Mamori bisa melihat kesedihan dalam mata itu. Rasa sedih bercampur amarah yang kuat.
"Apa… Bagaimana bisa kau bicara begitu?" Tanya Mamori.
Hiruma menatap Mamori sebentar. Ia kemudian duduk di tepi tempat tidur Mamori dan mengeluarkan permen karet bebas gula kesukaannya dari saku celana. Setan itu membukanya dan segera melumat permen karet mint itu.
"Semuanya gara-gara orang tua sialan itu." Kata Hiruma pelan tanpa menatap Mamori. Gadis bermata biru itu kemudian memilih duduk di samping Hiruma. Siap mendengarkan cerita kaptennya.
"Asisten sialan itu anak dari teman orang tua sialanku." Hiruma mulai bercerita. "Bocah sialan dan keluarganya tinggal di samping rumahku sejak kami kecil. Yeah, aku dulu sering bermain dengan asisten sialan itu. Dia seperti adikku sendiri." Hiruma memelankan suaranya diakhir kalimat.
"Tapi, aku mulai membenci mereka waktu ibuku bilang kalau bocah sialan itu akan menjadi istri sialanku." Hiruma menghentikan ceritanya sebentar. Ia melirik Mamori yang tengah serius menatapnya. "Itu salah satu alasan kenapa aku meninggalkan rumah dan tinggal di apartement." Ia melanjutkan.
"Entah bagaimana ceritanya, waktu itu aku mendapat kabar kalau orang tua sialan bocah itu mati diserang Dark Dragon saat berusaha melindungi ibuku. Asisten sialan itu jadi yatim piatu dalam waktu yang singkat. Dan karena itu ibuku makin memanjakan asisten sialan itu. Dia merawatnya dan selalu bilang bahwa asisten sialan itu akan menikah denganku. Cih, menjengkelkan. Mereka sama saja mempermainkanku dan asisten sialan itu seperti boneka. Padahal dari awal aku sudah menolaknya."
"Lalu, bagaimana? Chizue-chan benar-benar menyukaimu kan?" Tanya Mamori yang mulai penasaran.
"Tapi aku tidak menyukainya, manajer sialan. Sudah kubilang dia seperti adikku sendiri, dan aku tidak mungkin menikahi seseorang yang kuanggap adik." Jawab Hiruma serius. "Aku sudah sering mengatakan padanya kalau aku tidak mungkin menikah dengannya. Itu cuma permainan konyol orang tua sialan kami dan aku sampai kapan pun tidak akan memenuhi keinginan sialan mereka."
Hiruma kemudian menoleh kearah Mamori. Menatap mata biru yang begitu menenangkan. Mamori sendiri juga menatap pria di sebelahnya. Pikirannya masih agak kacau.
"Aku memilihmu, manajer sialan. Bukan orang lain. Kalau ada gadis yang akan menjadi istriku, itu adalah kau."
Blush
Wajah Mamori sukses berubah warna menjadi semerah tomat mendengar kata-kata Hiruma. Ia langsung mengalihkan pandangan dan menundukan wajahnya. Entah kenapa, kata-kata itu membuatnya merasa gugup.
"Eh.. Uhm, itu… Youichi. Aku mau mandi dulu." Seperti kehabisan kata-kata Mamori langsung berdiri dan keluar dari kamarnya. Meninggalkan setan yang kini tengah berseringai.
Hiruma membiarkan saja Mamori pergi. Ia beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju jendela. Dipandanginya hamparan kota Tokyo yang tampak begitu indah. Setan itu menggelembungkan permen karet dalam mulutnya.
"Aku tidak mungkin melakukannya, aku sudah menentukan pilihanku dan kau tidak bisa mengaturku." Ia bergumam pelan. Dalam bayangan matanya, Hiruma bisa melihat sosok sang ibu tengah menatapnya dengan pandangan yang begitu teduh. Tatapan penuh cinta yang sangat ia rindukan.
#####
Mamori masih bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Wajah cantiknya sampai sekarang pun masih terasa panas dengan warna merah yang imut. Ia makin memebenamkan tubuhnya ke dalam bathub yang penuh dengan air hangat.
Apakah Hiruma tadi melamarnya? Memikirkan itu terus-terusan membuat wajahnya makin memerah. Ia mengingat lagi tatapan mata yang tajam dan serius dari Hiruma waktu pria itu mengatakannya. Hatinya terasa berdebar.
Tapi ia lalu mengingat Chizue. Ingat tentang perasaan gadis itu yang juga mencintai Hiruma. Bagaimana mungkin ia bisa terus-terusan berada dalam pelukan Hiruma sementara ada gadis lain yang juga berharap pada kekasihnya. Wajah Mamori jadi berubah sedih memikirkan itu. Tapi ia berharap, Hiruma bisa bersikap tegas dan mengambil keputusan yang bijaksana.
#####
"Tidak ada sidik jari, tidak ada barang bukti!" Daichi melemparkan beberapa lembar kertas ke atas meja. Ia kemudian menyandarkan kepala di punggung sofa. Wajah detektif itu tampak frustasi dan lelah. "Detektif memang butuh kasus, tapi kalau seperti ini, merepotkan juga."
Tiga detik dalam posisi itu tidak membuatnya nyaman. Daichi mengangkat wajahnya dan bangun dari tempatnya. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur, hanya untuk melihat isi lemari yang nyaris kosong. Pria itu mendengus sebal. Ia lupa kalau bulan ini ia hampir tidak pernah belanja karena lebih sering menginap di rumah Hiruma. Tapi malam ini, saat ia sendirian di apartement dan perutnya terasa lapar, tidak ada makanan yang bisa ia konsumsi.
"Kami-sama… Kirimkan aku seorang malaikat yang membawakan makanan untukku." Oceh Daichi sambil kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia memandangi lembar-lembar kertas dan foto yang berserakan di meja.
Tok Tok Tok
"Daichi-kun!"
Detektif muda itu hampir saja melompat dari kursinya saat mendengar suara wanita yang amat familiar itu.
"Kami-sama… Terima kasih banyak." Ia bergumam kemudian melangkah menuju pintu dan segera membukanya. Mata coklat hazelnut miliknya membulat menatap gadis manis yang berrdiri di sana dengan senyum manis.
"Konbanwa." Gadis itu menyapanya.
"Konbanwa, nona Chizue." Jawab Daichi. Ia menggestur tubuhnya, mempersilahkan gadis itu melangkah masuk. "Tumben sekali kau kemari, ada apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin memberikanmu ini." Chizue memamerkan sebuah kotak bento di depan Daichi.
Pria itu menyeringai girang. "Kami-sama benar-benar mendengar doaku." Ungkapnya. "Kau tau nona, aku sedang sangat lapar." Lanjutnya. Dengan cepat ia mengambil kotak bento itu. Daichi membukanya dan langsung menyantap makanan yang tersaji di dalamnya.
Masakan nona Chizue selalu enak seperti biasa, hati kecilnya memuji dengan tulus.
Sementara pria itu menghabiskan makanannya, Chizue membereskan beberapa dokumen dan foto yang tersebar di meja. Ia lalu duduk di samping Daichi.
"Tetap enak seperti biasanya, nona!" Ungkap Daichi sebelum Chizue sempat bertanya. Gadis di sampingnya itu tersenyum memandangi Daichi.
"Aku tadi bertemu dengan Mamori-san di pemakaman." Kata Chizue membuka obrolan.
Daichi hanya menaikan sebelah alisnya sebagai respon. Ia tetap menyantap makanannya.
"Dan dia menanyakan soal hubunganku dengan Youichi."
"Dan kau menjawabnya?"
"Ya." Chizue memutar matanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Dia terlihat shock." Suaranya berubah jadi pelan.
Daichi menghentikan aktifitasnya sebentar hanya untuk menatap Chizue. Satu alisnya kembali terangkat. "Lalu?"
Chizue hanya menggeleng. "Mamori-san kemudian pulang, kami tidak bicara banyak."
"Apa kau tahu kalau Hiruma dan Anezaki-chan itu…?" Daichi tidak meneruskan kata-katanya. Ia hanya menatap lebih dalam sosok di sebelahnya.
"Aku tahu." Chizue mengangguk. "Tapi aku tidak bisa berbohong padanya."
"Hiruma pasti membunuhmu." Celetuk Daichi kemudian melanjutkan makan.
Chizue cuma tersenyum. "Aku buatkan kopi." Ia mengalihkan pembicaraan.
Segera saja gadis itu berlalu meninggalkan Daichi. Ia menyibukan diri di dapur yang tidak begitu rapih itu. Sementara Daichi mengawasi gerak-geriknya tanpa ia sadari.
Kadang aku berfikir, kau juga berhak buat bahagia. Berhenti memikirkan perjanjian konyol orang tua kalian dan berjalanlah untuk masa depan. Aku tahu, kau juga ingin bahagia. Yeah, kau memang berhak bahagia. Daichi bergumam dalam hati.
"Ini kopinya Daichi-kun." Kata Chizue yang sukses menyeret Daichi ke alam nyata.
Pria itu melirik Chizue yang berdiri tak jauh darinya. Ia menerima kopi yang diulurkan Chizue dan meminumnya sedikit. Sementara Chizue kembali duduk didekatnya.
"Nona." Panggil daichi pelan. "Apa yang membuatmu kemari malam-malam begini?" Tanyanya.
"Entahlah." Chizue mengangkat bahu. "Hanya untuk memberikanmu makanan." Ia tersenyum.
Daichi membalas senyum gadis disebelahnya itu. Entah kenapa, ia merasa jadi agak kikuk. Ia menatap lekat mata orange milik Chizue tanpa ia sendiri sadari.
"Oh.. ya, Hiruma baru saja menelponku dan dia bilang tadai ada mobil yang sepertinya sengaja ingin menabrak Anezaki-chan." Kata Daichi, ia berusaha mencairkan suasana.
Kali ini giliran Chizue yang menaikan sebelah alisnya. "Maksudmu…?" Chizue tidak meneruskan kata-katanya. Ia hanya memutar bola matanya perlahan.
"Ya… Mungkin ada yang ingin mencelakai Anezaki-chan dan membuatnya seolah-olah sebuah kecelakaan."
"Kau pikir itu ada untungnya kalau pengendara mobil itu anggota Dark Dragon?"
Daichi mengangkat bahu. "Aku baru akan menyelidikinya tadi, tapi berhubung perutku lapar aku tidak bisa berfikir."
"Jangan bercanda disaat seperti ini Daichi-kun!" Tegur Chizue tegas namun tetap tersenyum. "Selidiki segera kejadian tadi, dan laporkan secepat yang kau bisa." Lanjutnya serius, Chizue melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Sepertinya aku harus pulang." Katanya kemudian.
"Biar kuantar." Daichi reflek menanggapi. Ia segera meraih mantelnya saat Chizue bersiap-siap.
Gadis itu memutar bola matanya memperhatikan tingkah Daichi. Ia tersenyum kecil. Tanpa berbicara banyak lagi, dua orang itu akhirnya melangkah keluar. Menyusuri jalanan malam kota Tokyo.
#####
"Kekekekeke…." Suara tawa itu terdengar lebih mengerikan dibanding biasanya. Seringai kejam milik Youichi Hiruma masih bisa terlihat dalam kamar yang sudah gelap itu. Laptop putih di depan sang setan masih menyala, menemani belahan jiwanya menyusuri apa saja yang bisa ia cari dan selidiki dari kamera-kamera pengintai miliknya.
"Bocah itu, sudah kuduga." Seringai itu makin melebar saat layar VAIO putih tercintanya menampilkan sebuah gambar yang tampaknya sangat menarik bagi si pemilik.
Sebuah gelembung permen karet yang tercipta dari mulut pria itu menggantikan seringai mengerikannya. "Aku mendapatkan kartu AS-mu, kau tidak bisa lari lagi bocah sialan!" Ungkapnya sesaat setelah meletuskan gelembung permen karetnya. "Tidak akan kubiarkan kau menyentuh manajer sialan itu." Ia kembali berseringai. Sesaat kemudian ia mematikan laptop tercintanya sebelum beranjak untuk tidur.
Chapter 12 end
Huwaaaa…. Apa pula ini…-_-" udah updatenya lama, hasilnya cuma segini:( *pundung* maafkan saia minna kalau hasilnya belum memuaskan dan terkasan maksa… Mungkin chap depan crime-nya akan mulai muncul lagi
Fic ini special buat Hyou Hyouichiffer yang hari ini merayakan sweet seventeen… XD Happy Birthday honey… Maaf kadonya jelek, hehehe dan juga buat teman kita Himeka Uchiha yang telah dipanggil Tuhan... Semoga kamu bahagia di sana Hime-chan... kami semua selalu mendoakanmu:'(
Terakhir, mohon reviewnya minna-san…. Kritik, saran, semuanya boleh
Sampai jumpa secepatnyaaaa~~~
