Unforget Memories

by Razux

Sequel of "A Piece of memories" by Yuuto Tamano

.

.

.

DISCLAIMER : GAKUEN ALICE BELONG TO HIGUCHI TACHIBANA


Yoichi POV

Aku hanya bisa menatap mansion megah di depanku tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Terima kasih karena telah mengantarku pulang, Yukihira-san." Ujar gadis bernama Aoi Hyuga yang baru saja ku tolong itu.

Aku sama sekali tidak membalas ucapannya itu, aku hanya menangguk kepalaku sambil menatap gadis di depanku ini.

Aku sebenarnya sama sekali tidak mengerti kenapa aku bersedia mengantar gadis ini pulang. Apakah karena wajahnya mirip sekali dengan Natsume-nii?

Ya. Wajah gadis bernama Aoi Hyuga ini mirip sekali dengan Natsume-nii, rambut berwarna hitam, kulit berwarna putih, hidung yang mancung dan terakhir mata berwarna merah, gadis ini bagaikan Natsume-nii versi cewek. Namun, ada satu hal yang betolak belakang, Natsume-nii sangat kalem, dingin dan berpikir tenang, sedangkan gadis ini, dia sangat ceria, bersemangat dan juga aku tahu, berpikir pendek, terbukti dengan begitu mudahnya dia terpeleset di tangga.

Aku tidak seharusnya berada di sini sekarang, aku harus segera mencari Natsume-nii. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Semalam, saat aku pulang ke rumah, aku melihat Rei-nii yang panik dan bertanya padaku, apakah aku bertemu atau melihat Natsume-nii? Aku sangat terkejut saat Rei-nii mengatakan dia bertengkar lagi dengan Natsume-nii dan ujung-ujungnya Natsume-nii kabur dari rumah.

Rei-nii sama sekali tidak mengatakan dengan jelas apa sebenarnya isi pertengkaran mereka, dia hanya mengatakan Natsme-nii kabur dari rumah karena dia tiba-tiba berubah pikiran dan menolak untuk pergi ke amerika.

Aku sebenarnya tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakan Rei-nii, meski kami semua baru tinggal bersama selama dua tahun, aku tahu Natsume-nii tidak akan mungkin kabur dari rumah karena hal itu. Jika Natsume-nii sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan semudah itu berubah pikiran. Dia telah memutuskan untuk pergi bersama kami ke amerika beberapa hari yang lalu, karena itu dia tidak mungkin tiba-tiba mengubah keputusannya itu tanpa sebab, pasti telah terjadi sesuatu, hanya saja Rei-nii tidak mau memberitahuku dan juga aku sebenarnya sangat heran, kenapa Rei-nii yakin sekali Natsume-nii ada di kota ini? Di kota yang sama sekali tidak pernah kami datangi? Kenapa bukan kota lain?

Aku dan Rei-nii telah mencari Natsume-nii di kota ini sejak tadi pagi. Namun, kami sama sekali tidak berhasil menemukannya.

"Baiklah. Permisi." Ujarku singkat sambil menatap Aoi. Namun, tiba-tiba perutku berbunyi dengan sangat keras.

Aku bisa melihat mata Aoi terbelalak karena terkejut saat mendengar suara perutku dan sesungguhnya aku merasa sangat malu. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang dan memasang wajah tanpa ekspresi.

Apa yang telah ku lakukan? Kenapa perutku bisa berbunyi di saat seperti ini? Aku memang belum makan apa-apa sejak tadi pagi, namun tidak bisa kah perutku memilih waktu yang tepat? Kenapa perutku harus berbunyi di depan gadis ini?

Tiba-tiba Aoi yang berdiri di depanku tertawa.

"Ku rasa itu bukan sesuatu yang lucu." Ujarku kesal.

Aoi menggeleng kepalanya sambil tersenyum "Bukan seperti itu. Aku tertawa karena aku tahu apa yang bisa ku lakukan untuk membalas pertolonganmu tadi."

"Apa maksudmu?"

"Aku ingin mengundangmu makan siang di rumahku sekarang."

"Tidak per…" Balasku, namun perutku kembali berbunyi.

Aoi kembali tertawa "Ku rasa perutmu punya pikirannya sendiri."

Aku sama sekali tidak tahu harus mengatakan apapun lagi, aku hanya tetap berusaha untuk memasang wajah tanpa ekspresi di depannya, aku sama sekali tidak mau kelihatan memalukan di depannya.

Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Selama ini aku sama sekali tidak pernah mempedulikan pandangan seseorang terhadapku, kenapa aku sakarang sama sekali tidak mau gadis di depanku ini melihatku dalam keadaan yang memalukan seperti ini? Apakah karena wajahnya yang mirip dengan Natsume-nii yang membuatku berikir seperti itu? Pasti karena itu, sebab sebenarnya aku sangat mengidolakannya.

"Ayo." Senyum Aoi sambil menarik tanganku memasuki mansion di depan kami. Aku ingin menolak undangannya dan melepaskan tanganku darinya, namun melihat dia yang berjalan susah payah karena kakinya yang keseleo sambil menarikku, aku menghentikan niatku itu, mungkin tidak ada salahnya aku menerima undangannya.

Mansion ini dilihat dari luar sudah sangat megah. Namun, saat aku masuk ke dalamnya, aku sadar dalamnya luar biasa megah dan indah. Aku berani menjamin, mansion ini pasti milik orang yang sangat kaya, gadis yang berada di depanku ini pasti merupakan seorang anak konglomerat yang hidupnya berbeda sekali denganku, dia mengundangku makan di depan rumahnya pasti dikarenakan dia mau berterima kasih padaku, gadis seperti dia tidak mungkin tertarik pada…

Tiba-tiba aku sadar dengan apa yang ku pikirkan. Aku mengangkat tanganku dan memukul kepalaku, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa punya pikiran seperti itu? Sadarlah Yoichi Yukihira, jangan berkhayal.

"Ada apa?" tanya Aoi sambil menatapku.

"Tidak apa-apa." Jawabku dingin dengan wajah tanpa ekspresi.

Bagus sekali Yoichi Yukihira, dia pasti berpikir kau adalah orang aneh sekarang.

o00o

"Terima kasih untuk makanannya." Ujarku sambil menatap Aoi.

"Kau sama sekali tidak perlu berterima kasih padaku, Yukihira-san," senyumnya "Kau sudah menolongku dan bersedia makan siang bersamaku, aku sangat senang karena aku sama sekali tidak perlu makan siang sendirian lagi hari ini."

Aku hanya diam menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Otou-san dan okaa-san sangat sibuk, mereka sama sekali tidak bisa menemaniku makan siang." Lanjutnya pelan sambil menundukkan kepalanya.

"Apakah kau tidak punya saudara?"

Aoi megangkat kepalanya menatapku dan tersenyum pahit "Aku punya seorang onee-chan. Tapi, aku tidak mungkin bisa makan bersamanya."

"Kenapa?" tanyaku lagi, aku tidak tahu mengapa, aku sama sekali tidak menyukai wajahnya yang seperti ini.

"Karena onee-chan selalu mengurung diri di kamar."

"Mengurung diri?"

Aoi menangguk kepalanya "Onee-chan… Dia kehilangan laki-laki yang dicintainya dua tahun yang lalu dalam kecelakaan lalu lintas di depan matanya sendiri karena melindunginya. Aku sama sekali tidak bisa menunjukkan wajahku padanya karena wajahku sangat mirip dengan Natsume-nii yang telah tiada. Onee-chan hanya akan bertambah sedih jika dia melihat wajahku. Dia akan teringat Natsume-nii lagi jika dia melihat wajahku."

Aku sangat terkejut mendengar jawabannya itu. Natsume-nii? Mirip dengannya? Apa maksud ucapannya itu?

"Oh,maaf. Kau pasti binggung. Natsume adalah nama dari laki-laki yang dicintai onee-chan dan juga sepupuku. Ayahku dan ibunya adalah saudara kembar. Aku sangat mirip dengan ayahku dan Natsume-nii sangat mirip dengan ibunya, kerena itu lah wajah kami sangat mirip."

Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya itu. Mirip? Aku sama sekali tidak bisa membayangkan ada lagi orang yang wajahnya mirip dengan Natsume-nii, bahkan namanya juga sama, hanya saja Natsume yang di sebutkan Aoi itu sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu dalam kecelakaan lalu lintas...

Kecelakaan lalu lintas? Tunggu dulu, Natsume-nii juga mengalami kecelakaan lalu lintas dua tahun yang lalu walau tidak sampai meninggal dunia, kebetulan kah ini?

"Ada apa, Yukihira-san?" tanya Aoi sambil menatapku dengan penuh pertanyaan.

"Maaf, tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang." Ujarku sambil bangkit dari kursi tempatku duduk.

"Aku antar." Ujar Aoi sambil bangkit dari kursinya.

"Tidak perlu. Kau sama sekali tidak perlu mengantarku. Kau beristirahat saja."

"Tapi.."

"Sembuhkan kakimu itu dulu." Perintahku sambil menatapnya dengan tajam.

Aoi sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menatapku dengan mata merahnya yang menurutku kelihatan sangat sedih.

"Kita akan bertemu lagi kan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku sangat terkejut mendengar pertanyaannya itu. Bertemu lagi? Apakah aku akan bertemu lagi dengannya? Sepertinya aku masih akan berada di kota ini selama beberapa hari karena kami sama sekali belum menemukan Natsume-nii, kurasa aku masih bisa bertemu denga Aoi.

Aku menangguk kepalaku dan aku bisa melihat sebuah senyum bahagia mengembang di wajahnya yang cantik. Tidak tahu mengapa hatiku terasa sangat hangat saat aku melihat senyumnya itu.

"Bagus sekali, bisa kah kau memberitahuku alamat tempat tinggalmu?"

Natsume POV

Aku berdiri menatap mansion Hyuga yang ada di depanku dengan kedua mata merahku.

"Apakah kau mengingat sesuatu?" tanya Tsubasa dari sampingku.

Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, aku terus menatap mansion itu dan berusaha keras untuk mengingat masa laluku. Namun, itu semua sia-sia, aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun.

"Apakah kau mengingat sesuatu, Natsume?" tanya Tsubasa lagi.

"Tidak ada." Jawabku singkat.

"Tidak ada ya…"

"Sudah ku katakan jangan berharap terlalu banyak, Tsubasa." Ujar Misaki yang berdiri di belakang kami sambil menepuk pundak Tsubasa.

"Ku rasa kau benar, Misaki." Balas Tsubasa sambil menghela napas.

"Ayo kita pergi dari sini sekarang juga."

"Iya. Ayo, kita pergi Natsume, terlalu beresiko kalau kau terus berada di sini." Tambah Tsubasa sambil menatapku.

Aku sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, aku hanya menatap mansion di depanku.

"Natsume, Ada apa?" tanya Tsubasa binggung begitu juga dengan Misaki yang berada di belakang Tsubasa.

"Mikan…," jawabku pelan "Mikan ada di dalam mansion ini, bukan? Menangis, bersedih dan menyalahkan dirinya. Padahal aku berada di depan mansion ini, tapi aku sama sekali tidak bisa melangkah masuk ke dalam mansion ini, aku sama sekali tidak bisa bertemu dengannya… Dia berada sedekat ini denganku dan juga sekaligus begitu jauh dariku…"

Tsubasa dan Misaki sama sekali tidak mengatakan apapun lagi saat mendengar jawabanku itu. Mereka hanya berdiri diam menatapku.

Aku tidak bisa melangkah masuk ke dalam mansion ini meski pun aku tahu Mikan berada di dalam, ingatanku sama sekali belum kembali, aku sama sekali tidak bisa membuktikan aku adalah Natsume Hyuga, aku sama sekali tidak bisa mengambil resiko masuk ke dalam ini sebelum semua memoriku kembali. Jika Ruka Nogi, Hotaru Imai dan juga suami-istri Hyuga melihatku, mereka pasti tidak akan mengijinkan aku melihatnya, mereka pasti akan melakukan apapun untuk mengusirku.

Aku sama sekali tidak berdaya sekarang, aku sangat lemah, aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Aku sangat membenci kaadaanku sekarang, sampai kapan aku harus terjepit di dalam sistuasi seperti ini?

Kaname POV

"Mikan." Panggilku pelan sambil menepuk pundaknya yang kecil. Dia sedang tertidur di dalam kamar ini seperti biasanya, meringkuk badannya seperti bola.

Aku bisa melihat dia membuka kedua matanya yang berwarna coklat madu itu dan matanya itu langsung terbelalak karena terkejut begitu melihatku.

"Kaname-kun? Kenapa kau ada di sini?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya itu "Apakah aku berada di sini adalah sesuatu yang salah, Mikan-chan? Kau juga bertanya begitu padaku pada pertemuan kita sebelumnya."

"Bukan itu maksudku." Balasnya pelan sambil menggeleng kepalanya.

"Baguslah kalau begitu."

"Maaf ya Kaname-kun…. Maaf karena aku pasti telah merepotkanmu kemarin di taman ria…" Ujarnya tiba-tiba sambil menatapku "Pada hal itu adalah hari ulang tahunmu, tapi aku malah merepotkanmu.."

"Ya. Kau benar-benar telah merepotkanku hari itu." Balasku tenang. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa hari itu sebenarnya sama sekali bukan hari ulang tahunku.

"Maaf…" Gumamnya pelan dan aku bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah bersalahnya dengan jelas.

"Aku akan memaafkanmu jika kau mau menerima undangan makan malamku hari ini." Senyumku.

Mata Mikan terbelalak karena terkejut mendengar ucapanku "Itu.. Itu… Aku tidak bisa, Kaname-kun.."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau keluar dari kamar ini lagi, Kaname-kun." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya "Dunia luar sangat menakutkan sekarang, aku takut…."

"Apa maksudmu, Mikan-chan?" tanyaku binggung.

"Aku takut bila aku melihat ilusinya lagi. Bisa melihatnya tapi sekali kedipan mata dia akan menghilang."

Aku hanya bisa mengepalkan tanganku mendengar jawabannya itu "Lupakan lah dia Mikan-chan. Lupakanlah dia.."

"JANGAN PERNAH MENYURUHKU MELUPAKAN DIA!" teriak Mikan tiba-tiba mengejutkanku.

Aku hanya bisa menatap Mikan dengan terkejut, aku sama sekali tidak menyangka dia kan berteriak seperti itu. Aku bisa melihat dia juga sama terkejutnya denganku, dia pasti tidak berpikir panjang lagi saat berteriak tadi.

"Maaf.. Maaf, Kaname-kun, aku tidak seharusnya berteriak seperti itu padamu." Ujarnya pelan sambil menundukkan kepalanya

"Tidak apa-apa." Balasku pelan sambil mengangkat tanganku untuk menyentuhnya. Namun, sebelum tanganku menyentuhnya dia mengangkat wajahnya yang telah penuh air mata menatapku.

"Jangan pernah menyuruhku melupakannya, Kaname-kun. Jangan pernah menyuruhku melupakannya di dalam hidupku. Kau tidak tahu betapa berharganya dia bagiku, kau tidak tahu betapa pentingnya dia dalam hidupku. Sejak kecil, sejak aku bisa mengingat sesuatu, dia telah berada di sampingku, menemaniku, menjagaku dan melindungiku. Dia ada di dalam setiap kenanganku, setiap masa laluku. Melupakannya sama saja dengan melupakan hidupku selama ini."

Aku menurunkan tanganku yang hendak menyentuhnya dan mengepalnya dengan seerat-eratnya. Hatiku terasa sangat sakit dan panas saat mendengar ucapannya itu. Cemburu. Ya, aku sangat cemburu pada dia, aku sangat cemburu pada Natsume Hyuga sekarang, karena meski dia telah tiada, dia tetap memiliki hati Mikan, dia tetap memiliki cintanya.

Aku sama sekali tidak pernah mengenal Natsume Hyuga dengan baik. Aku hanya tahu, dia mencintai Mikan, dia mencintai Mikan melebihi apapun di dunia ini, melebihi dirinya sendiri. Namun, cintaku tidak kalah dengannya, cintaku pada Mikan sama sekali tidak kalah dengannya.

"Tahu kah kau betapa sedihnya Ioran-jiisan, Kaoru-san, Hotaru, Ruka-senpai, Aoi-chan, semua yang mengenalmu dan aku saat melihat kondisimu yang seperti ini?" tanyaku dingin.

Mikan sama sekali tidak mengcapkan sepatah katapun.

"Dia tidak akan berharap melihatmu seperti ini. Natsume-senpai tidak akan pernah berharap melihatmu seperti ini."

Aku melihat dia mengangkat kedua tangannya menutup wajahnya dan menangis. Aku sama sekali tidak tahan melihatnya yang seperti itu, aku mengangkat kedua tanganku dan memeluknya dengan erat.

"Kenapa? Kenapa kalian tidak bisa membiarkan aku sendirian? Kenapa kalian tidak bisa mengijinkanku hidup di dalam mimpi saja?" ujarnya terisak-isak di dalam pelukanku.

"Karena kami menyayangimu, Mikan-chan, karena kami semua mencintaimu."

Mikan sama sekali tidak menbalas ucapanku lagi, dia mengangkat tanggannya dan membalas pelukanku dengan erat.

"Kau pasti bisa melupakannya, Mikan-chan. Ingatlah selalu kau masih memiliki otou-san dan okaa-san, kau masih memiliki Hotaru, Ruka-senpai, Aoi-chan dan aku. Kami semua menyayangimu dan aku masih mencintaimu Mikan-chan."

Mikan segera melepaskan dirinya dari pelukanku begitu mendengar ucapanku barusan. Aku bisa melihat wajah terkejutnya.

"Aku masih mencintaimu Mikan-chan. Meskipun kau telah menolakku dua tahun yang lalu, aku tetap mencintaimu."

"Kaname-kun, maaf….. Aku.. Aku…"

Aku segera mengangkat tanganku menutup mulutnya. Aku tahu apa yang akan dikatakannya, dia akan menolakku lagi, sama seperti dua tahun yang lalu.

"Kau sama sekali tidak perlu mengatakan apapun Mikan-chan, aku mengerti. Namun, aku ingin kau tahu, aku mencintaimu, aku selalu mencintaimu, aku ingin kau menjadi kekasihku, aku ingin kau menjadi pendampingku untuk seumur hidup, Mikan-chan…"

Misaki POV

Aku berjalan sambil membawa bahan-bahan makanan untuk tiga orang yang baru kubeli di minimarket menuju rumah Tsubasa.

Tiba-tiba seorang pemuda berusia sekitar enam belas tahun dengan rambut abu-abu dan mata berwarna hijau berjalan mendekatiku.

"Maaf, apakah kau pernah melihat pemuda ini?" tanyanya sambil memperlihatkan sehelai foto padaku.

Mataku terbelalak karena terkejut saat melihat foto itu. Foto itu adalah foto Natsume Yukihira.

"Apakah kau pernah melihatnya?" tanya pemuda itu lagi begitu melihat wajah terkejutku.

"Eh! Tidak. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya." Jawabku cepat-cepat dan berusaha untuk bersikap wajar.

Pemuda itu menatapku dengan matanya yang berwarna hijau dengan tajam, kurasa wajah terkejutku tadi telah membangkitkan rasa curiganya.

"Kenapa kau kelihatannya sangat terkejut?"

"Ti.. Tidak, aku hanya merasa dia mirip sekali dengan salah satu senpaiku yang telah meninggal dua tahun yang lalu."

"Begitu ya, maaf karena telah menyita waktumu."

"Tidak apa-apa."

"Permisi." Ujar pemuda itu dan berjalan meninggalkanku.

Aku menghela napas begitu melihat pemuda itu menghilang dari pandanganku. Aku yakin, pemuda tadi itu pasti Yoichi Yukihira, adik dari Natsume Yukihira, sebab ciri-ciri adiknya yang pernah disebutkannya mirip sekali dengan pemuda itu. Aku sama sekali tidak tahu mengapa aku berbohong untuk melindungi Natsume Yukihira. Aku seharusnya memberitahu dia di mana Natsume Yukihira berada dan dengan begitu dia pasti tidak akan menyusahkan Tsubasa lagi. Namun, kenapa aku sama sekali tidak bisa melakukan itu? Apakah aku mulai berpihak padanya sekarang? Mungkin kah?

Aku teringat dengan ekspresi wajahnya saat menatap mansion Hyuga dan menyebutkan nama Mikan kemarin. Aku sama sekali tidak bisa mengatakan apapun saat itu, wajahnya saat menatap mansion itu penuh dengan kesedihan, penderitaan, penyesalan, kerinduan dan ketidak berdayaan.

Aku merasa kasihan dengannya, aku merasa kasihan sekali dengannya saat itu. Melihat ekspresi wajahnya itu, aku hanya bisa merasa dia benar-benar adalah Natsume Hyuga. Aku bisa merasakan cintanya pada Mikan Hyuga hanya dengan melihatnya pada saat itu, walau dia tidak pernah mengungkapkannya.

Cintanya pada Mikan Hyuga sama sekali tidak kalah dengan cinta Mikan Hyuga padanya. Tidak. Cinta mereka sama, sama besarnya, sama dalamnya.

Mikan Hyuga menyiksa serta menyalahkan dirinya sendiri saat dia kehilangan Natsume Hyuga, dia bahkan memutuskan untuk hidup di alam mimpinya, hidup di alam mimpinya karena dia tahu di sana lah satu-satunya temat dia bisa melihatnya. Sedangkan Natsume Hyuga yang telah kehilangan semua memorinya itu, tetap mengingatnya, dia tetap mengingat gadis yang dicintainya. Dia bisa melupakan dirinya sendiri, tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sama sekali tidak bisa melupakan Mikan Hyuga.

Ya. Dia adalah Natsume Hyuga. Aku tidak meragukannya lagi.

Aku tiba di apertement Tsubasa, aku mengangkat tanganku mengetuk pintu dan beberapa detik kemudian Tsubasa membuka pintunya dan mempersilakanku masuk.

"Aku akan memasak makanan untuk kalian." Ujarku sambil berjalan menuju dapur.

"Terima kasih, Misaki." Senyum Tsubasa.

Saat aku berjalan memasuki dapur, mataku menatap sosok Natsume Hyuga yang sedang tertidur di atas kursi sofa di ruang tamu.

"Dia sama sekali tidak cukup istirahat. Dia memaksaku untuk membawanya ke berbagai tempat yang memungkinkan dia mengingat masa lalunya semalaman."

"Apakah dia mengingat sesuatu lagi?"

Tsubasa mengeleng kepalanya "Tidak. Dia sama sekali tidak mengingat apapun."

"Mikan…" Gumam Natsume pelan.

Aku dan Tsubasa segera membalikkan wajah kami menatap Natsume yang sedang tertidur begitu mendengar suaranya.

"Mikan…." Gumamnya lagi dengan mata yang masih tertutup

Mimpi. Dia hanya bermimpi, dia hanya memimpikan Mikan Hyuga lagi. Aku hanya bisa menatapnya tanpa mengucapkan apapun.

"Ada apa, Misaki? Kenapa kau menatapnya seperti itu?" tanya Tsubasa tiba-tiba.

"Aku iri padanya. Aku iri pada mereka berdua, Tsubasa."

"Kenapa?"

"Aku iri pada cinta mereka berdua. Mengapa mereka berdua bisa saling mencintai seperti itu? Mengapa aku tidak bisa mencintai seseorang seperti mereka? Dan mengapa tidak ada orang yang mencintaiku seperti itu?"

Aku sama sekali tidak tahu mengapa aku bisa bertanya seperti itu pada Tsubasa. Dia pasti berpikir aku aneh sekarang, sebab pertanyaanku ini benar-benar sama sekali bukan sifatku.

"Kau akan menemukannya, Misaki." Jawabnya tenang.

Aku membalikkan wajahku menatapnya.

"Kau pasti akan menemukannya. Mungkin kau telah bertemu dengannya, hanya saja kau sama sekali belum menyadarinya." Lanjutnya sambil tersenyum padaku.

Aku mengangkat tanganku dan meninju tangannya dengan pelan "Terima kasih, Tsubasa"

Tsubasa hanya tertawa tanpa mengucapkan apapun lagi.

"Oh iya, Tsubasa! Dalam perjalanan menuju kemari tadi, aku bertemu dengan seorang pemuda yang bertanya mengenai Natsume-senpai, kurasa pemuda itu adalah Yoichi Yukihira, sebab ciri-cirinya mirip sekali dengan ciri-ciri yang disebutkan Natsume-senpai kemarin. Kalian harus berhati-hati sekarang, jangan sampai kalian bertemu dengannya."

"Benar kah?" tanya Tsubasa terkejut.

Aku menangguk kepalaku "Benar. Dan Tsubasa, kau harus membawa Natsume-senpai ke stasiun kichijoji di mana dia mengalami kecelakaan itu? ku rasa dia akan bisa mengingat sesuatu di sana."

"Stasiun kichijoji.. Benar juga. Eh! Tunggu dulu, kau memanggilnya Natsume-senpai? Apakah itu artinya kau sudah mengakui dia adalah Natsume Hyuga?" tanya Tsubasa lagi, dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.

"Iya dan tidak hanya itu, aku juga akan membantunya mencari memorinya."

Ya. Aku akan membantunya mencari memorinya. Aku tidak bisa berdiam diri lagi saat aku telah mengetahui siapa pemuda yang sedang tidur di atas kursi sofa itu sebenarnya. Kisah cinta mereka tidak boleh seperti ini, aku tidak akan membiarkan kisah cinta mereka berakhir dengan tragis, kisah cinta mereka harus berakhir dengan happy ending.

Tsubasa POV

Aku berdiri menatap stasiun kichijoji yang penuh dengan orang itu bersama Natsume.

"Apakah kau mengingat sesuatu?" tanyaku sambil menatap Natsume.

"Tidak." Jawabnya singkat.

Aku menggaruk kepalaku, sepertinya ini juga akan sia-sia, dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Aku menarik turun topi yang kain yang kukenakan menutupi wajahku ambil menghela napas.

Aku melihat dia berjalan melihat sekeliling dan tiba-tiba matanya menatap gedung yang ada di seberang jalan.

"Ada apa, Natsume?"

"Itu…. itu…. " Ujarnya pelan sambil menatap gedung itu dengan tajam.

Aku menolehkan wajahku menatap gedung itu. Memangnya ada apa dengan gedung itu?

"Uh!" Seru Natsume tiba-tiba sambil mengangkat tangannya menyusuri rambutnya, wajahnya kelihatan penuh dengan kesakitan dan pucat.

"Ada apa, Natsume?" tanyaku kaget begitu melihatnya.

Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, reaksinya ini? Apakah dia telah mengingat sesuatu?

"NATSUME!" teriak seseorang tiba-tiba.

Aku dan Natsume segera mengangkat wajah kami menatap sumber suara tersebut dan mata kami terbelalak karena terkejut. Aku melihat Rei Yukihira berdiri di seberang jalan itu sambil menatap kami dengan tajam.

"Cepat lari, Natsume." Ujarku sambil menarik tangan Natsume saat aku melihat Rei Yukihira berlari ke arah kami.

Mengapa Rei Yukihira bisa berada di sini? Oh iya, kenapa aku begitu bodoh? Jika Natsume mencari memorinya yang hilang, dia pasti mengunjungi stasiun kichijoji ini sebab di sini adalah tempat di mana dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia kehilangan ingatannya. Rei Yukihira pasti sadar akan hal ini, dia pasti telah menunggu Natsume di tempat ini.

Kami berdua berari dengan secepat yang kami bisa. Banyaknya orang yang berlalu lalang di depan stasiun ini menyebabkan kami tidak bisa berlari dengan cepat, mataku tiba-tiba menangkap beberapa sosok pria berpakaian hitam yang berlari ke arah kami dari depan maupun samping.

Aku tahu siapa mereka. Bodyguard dari keluarga Hyuga. Aku tidak mungkin salah mengenal mereka. Aku segera mengangkat tanganku dan menarik turun topi yang ku gunakan untuk menutup wajahku. Aku tidak boleh ketahuan atau kami akan semakin sulit untuk bersembunyi ke depannya.

"Natsume, sini!" Ujarku sambil menariknya ke jalan-jalan kecil di samping kami. Aku sudah lama hidup di kota ini dan aku tahu seluk beluk jalan yang ada dengan baik, tidak mudah untuk memangkapku di kota ini.

Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang mengikuti kami. Namun, setelah beberapa belokan jalan kecil yang kami lalui untuk membingungkan mereka, aku bisa mendengar suara langkah kaki yang mengejar kami tidak terdengar lagi, mereka pasti telah kehilangan kami sekarang.

Aku berhenti berlari dan berusaha untuk mengatur napasku yang tidak beraturan, begitu juga dengan Natsume.

"Kau tidak apa-apa, Natsume?"

"Siapa pria yang tadi mengejar kita bersama Rei-nii itu?" tanya Natsume sambil menatapku.

"Mereka adalah bodyguard keluarga Hyuga."

Mendengar jawabanku Natsume hanya tersenyum sinis "Sepertinya mereka akhirnya bergerak juga."

Aku sama sekali tidak bisa mengatakan apapun melihat senyumnya, senyumnya itu membuatku merasa betapa marah dan sedihnya dia karena ini semua jelas-jelas telah membuktikan kedua orang tuanya telah membuangnya dan tidak mengijinkannya bertemu dengan nona Mikan.

Kaoru POV

"Terima kasih untuk informasimu, Rei. Kabari aku lagi jika ada perkembangan selanjutnya." Ujarku mengakhiri pembicaraan dengannya melalui ponselnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Ioran yang berada disampingku pelan.

"Rei menemukan Natsume di stasiun kichijoji, namun, dia berhasil melarikan diri dan Rei mengatakan dia tidak sendiri, dia bersama seorang pemuda yang kelihatanya lebih besar beberapa tahun darinya."

"Bersama seseorang? Siapa?"

"Rei tidak tahu, wajahnya sama sekali tidak kelihatan jelas karena dia menggunakan topi untuk menyembunyikan wajahnya."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ioran. Aku yakin, Natsume pasti sedang mencari memorinya sekarang dan jika dia berhasil mengingat semua yang terjadi, dia past akan mencari Mikan, dia pasti akan menemuinya…." Ujarku pelan sambil memeluk Ioran dengan gemetar.

Aku sama sekali tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika ingatan Natsume kembali. Saat dokter mengatakan dia akan kehilangan semua memorinya saat sadar akibat kepalanya yang terbentur dengan keras dalam kecelakaan lalu lintas dua tahun yang lalu, aku merasa itu bagaikan sebuah keajaiban. Aku merasa itu bagaikan sebuah jalan baru yang diberikan tuhan pada kami untuk menyelesaikan benang kusut yang saling terkait tidak karuan itu. Namun sekarang, aku tidak tahu harus apa lagi.

Ioran mengangkat tangannya membalas pelukanku "Tenanglah, Kaoru. Itu tidak akan terjadi."

Aku melepaskan pelukanku dan menatap mata Ioran "Bagaimana jika ingatannya benar-benar kembali? Apa yang harus kita lakukan saat itu? Memberitahunya semuanya? Tidak, Ioran. Aku tidak mau memberitahu mereka, aku tidak berani membayangkan apa jadinya mereka jika mereka mengetahui kenyataan yang sesungguhnya itu."

Aku bisa melihat wajah sedih Ioran yang menatapku, dia kembali mengangkat tangannya dan memelukku. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun, tapi aku bisa merasakan kesedihan dan kebingungan yang kini memenuhi hatinya.

Aku membalas pelukannya dan aku merasakan air mata mengalir dari kedua bola mataku "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ioran? Apa yang harus kita lakukan…."

"Serahkan padaku, Kaoru. Aku tahu apa yang harus kita lakukan sekarang." Ujar Ioran tiba-tiba mengejutkanku.

Aku mengangkat wajahku menatapnya dri dalam pelukannya "Apa maksudmu, Ioran?"

Ioran menatapku dengan lembut dan menghapus air mataku "Meski pun aku tahu ini akan sangat kejam dan tidak adil bagi Mikan. Kurasa inilah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk menghentikan usaha Natsume untuk menemui Mikan."

Ioran POV

Aku duduk di samping ranjang king size itu sambil menatap Mikan yang sedang tertidur. Melihat wajahnya, aku hanya bisa berpikir betapa miripnya dia dengan Yuka. Tidak, Mikan bahkan lebih cantik dari Yuka, putriku ini adalah gadis tercantik yang pernah ada di dunia ini.

Benar. Dia adalah putriku, dia adalah putriku walau kami sama sekali tidak punya hubungan darah sedikitpun.

Aku teringat dengan masa laluku, teringat dengan masa lalu bagaimana Mikan bisa menjadi putriku, teringat bagaimana Mikan bisa menjadi seorang Hyuga.

Itu semua bermula dari lima belas tahun yang lalu. Saat itu aku dan Kaoru sangat terkejut begitu mendengar berita kematian Yuka dan Izumi. Kami sama sekali tidak menyangka akan menerima berita seperti itu setelah kami kehilangan petunjuk akan keberadaan mereka dalam jangka waktu tiga tahun atau lebih tepatnya sejak peristiwa itu.

Mereka hidup di sebuah kota kecil, di sebuah rumah kecil dengan bahagia bersama tiga orang anak. Saat kami menerima berita kematian mereka, kami segera berangkat ke kota itu. Namun, kami terlambat menerima berita kematian mereka. Saat kami tiba di kota itu, mereka telah dikebumikan dan anak mereka kecuali Mikan sudah tidak berada lagi di kota itu lagi.

Anak tertua mereka telah dititipkan di panti asuhan, sedangkan anak bungsu mereka diambil oleh ayah Izumi atau lebih tepatnya kakek mereka, Akira Yukihira. Yang tertinggal saat itu hanyalah Mikan yang juga akan dititipkan di panti asuhan. Alasan kenapa Mikan tidak dititipkan di panti asuhan yang sama dengan Rei adalah karena panti asuhannya saat itu sudah penuh, kerena itu Mikan tidak dititipkan di panti asuhan yang sama.

Aku sebenarnya sama sekali tidak mengerti kenapa Akira Yukihira hanya mengambil Yoichi seorang. Akira Yukihira memang bukan orang yang kaya, dia tidak akan mungkin bisa menghidupi tiga orang anak sekalian, aku bisa memakluminya jika dia tidak mau mengambil Rei sebab Rei sebenarnya sama sekali bukan seorang Yukihira. Di dalam darahnya sama sekali tidak mengalir darah Yukihira, dia sebenarnya adalah anak yang diadopsi oleh Yuka dan Izumi setelah mereka menikah. Namun, Mikan. Dia tidak seharusnya mengabaikan Mikan.

Namun, saat aku melihat Mikan, aku langsung mengerti alasan kenapa dia tidak mau mengambil dan mengabaikan Mikan. Dalam hidupnya, Akira Yukihira sangat membenci Yuka, dia sama sekali tidak pernah merestui pernikahan mereka berdua. Mikan mirip sekali dengan Yuka, melihat Mikan, Akira Yukihira pasti akan teringat dengan Yuka, teringat dengan wanita yang dibencinya, mengingatkannya kepada wanita yang merebut anak laki-lakinya darinya dan juga wanita yang menyebabkan kematian anaknya.

Yuka dan Izumi sebenaranya sama sekali bukan mati karena kecelakaan seperti yang kami katakan pada Mikan dan Natsume. Mereka bukan mati dalam kecelakaan lalu lintas. Pembunuhan, mereka berdua mati karena mereka berdua adalah korban dari pembunuhan yang telah direncanakan.

Aku dan Kaoru sama sekali tidak percaya dengan apa yang kami dengar saat polisi memberitahu siapa pelaku pembunuhan itu, aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan itu, dalam mimpiku yang terdalam pun aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan hal seperti ini. Dan yang mengejutkan lagi adalah saat polisi mengatakan dia bunuh diri dengan menembak kepalanya setelah dia membunuh Yuka dan Izumi.

Kami mengadopsi Mikan menjadi putri kami dan berusaha mencari keberadaan Rei yang dititipkan di panti asuhan. Namun, tidak tahu mengapa, kami sama sekali tidak pernah berhasil menemukannya sampai akhirnya dia muncul di hadapan kami dengan sendirinya saat upacara pemakaman Natsume dua tahun yang lalu.

Mikan masih sangat kecil saat itu, dia baru berumur dua tahun dan dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun akan kejadian yang merengut nyawa kedua orang tuanya. Kami berdua memutuskan untuk mengrahasiakan itu darinya, sebab itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak perlu diketahuinya. Namun, mungkin alasan mengapa kami tidak pernah mau memberitahunya adalah karena kami takut dia kan membenci kami saat mengetahui siapa kami sebenarnya, mengetahui siapa sebenarnya pembunuh orang tuanya.

Mikan sangat cantik, hangat dan ceria, wajahnya adalah wajah Yuka, namun senyumnya adalah senyum Izumi, dia benar-benar perpaduan sempurna dari mereka berdua. Aku menyanyanginya, aku dan Kaoru sangat menyayangi dan mencintainya seperti anak kandung kami sendiri, kami melimpahinya dengan cinta dan melindunginya dengan segenap tenaga kami.

Kami membesarkannya bersama Natsume. Aku bisa melihat betapa akrabnya mereka berdua, mereka sering tidur bersama di kamar Natsume, makan bersama, bermain bersama dan walau kadang bertengkar, mereka akan segera berbaikan. Mereka bagaikan kembar siam yang sama sekali tidak bisa dipisahkan, aku dan Kaoru hanya bisa tersenyum saat melihat keakraban mereka berdua, kami hanya bisa tersenyum saat melihat cinta kakak-adik yang terjalin di antara mereka.

Namun, kami salah. Kami sama sekali tidak pernah menyadari bahwa cinta yang ada diantara mereka itu sama sekali bukan cinta antar kakak-adik dan saat kami sadar, semuanya telah terlambat, mereka berdua telah saling mencintai, mereka berdua telah saling mencintai dengan begitu dalam.

Itu salah. Mereka tidak boleh saling mencintai, mereka tidak boleh bersama, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Cinta mereka itu salah, cinta mereka seharusnya adalah cinta antar kakak-adik bukan cinta antar sepasang kekasih.

Kami melakukan apapun yang bisa kami lakukan untuk memisahkan mereka. Namun, tidak ada gunanya cinta mereka bukan melemah, cinta mereka malah bertambah kuat dan dalam.

Lalu, kejadian itu terjadi, kecelakaan yang membuat Natsume kehilangan semua memorinya.

Kami memanfaatkan keadaan saat itu untuk memisahkan mereka. Dengan bantuan Rei, kami berhasil melakukannya dengan baik, semuanya berjalan dengan baik, kami bisa mengendalikan keadaan yang ada dengan sempurna.

Natsume sama sekali tidak mengingat siapa Mikan sedangkan Mikan…..

Dia benar-benar mengira Natsume sudah mati dan terus menyalahkan dirinya. Aku sebenarnya sama sekali tidak tahan melihat kondisinya yang seperti itu. Namun, aku tetap harus melakukannya, sebab ini adalah yang terbaik dan aku percaya bahwa suatu hari nanti, dia pasti akan melupakan Natsume.

Aku tahu, keadaan kami ini sebenarnya bagaikan berdiri di atas permukaan laut dengan permukaan es yang tipis sebagai pijakan, permukaan yang sewaktu-waktu akan hancur dengan mudah.

Kini permukaan es yang tipis itu sudah mulai retak, Natsume sudah mulai menyadari siapa dirinya dan jika Natsume mendapatkan memorinya kembali, keadaan pasti tidak akan bisa kami kendalikan lagi. Karena itu, aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan retakkan yang ada. Walau aku tahu ini tidak akan adil bagi Mikan. Tapi, aku melakukan ini untuk melindunginya dan Natsume, untuk melindungi kedua anakku yang berharga.

"MIkan… Mikan…." Panggilku sambil menepuk pundaknya dengan pelan.

Aku bisa melihat dia membuka kedua kelopak matanya dengan pelan.

"Otou-san...," panggilnya pelan saat melihatku "Ada apa?"

"Ada yang ingin ku bahas bersamamu, Mikan."

Mikan mengangkat wajahnya menatapku dengan penuh pertanyaan. Aku tahu apa yang akan ku katakan padanya pasti akan sangat mengejutkannya.

"Mikan, ada yang harus ku katakan padamu. Mungkin ini akan sangat mengejutkanmu, karena itu aku mohon kau untuk tetap tenang saat mendengarnya."

Aku bisa melihat wajah kebingungan di wajahnya yang menatapku. Aku menarik napas dan berkata "Aku ingin menunangkanmu dengan Kaname."

Aku bisa melihat mata Mikan terbelalak karena terkejut saat mendengar ucapanku "Ke… Kenapa? Aku tidak mau, Otou-san… Aku tidak mau…"

Aku mengangkat kedua tanganku menyentuh pundaknya "Tenanglah, Mikan. Aku tahu ini sangat mengejutkanmu. Namun, bisakah kau mendengar penjelasanku dulu."

Wajah Mikan terlihat ragu. Namun, akhirnya dia mengangguk kepalanya.

"Sebenarnya sejak kematian Natsume, banyak mitra perusahaan kita yang memutuskan kerja samanya. Mereka berpikir perusahaan kita sama sekali tidak memiliki pewaris di masa depan lagi, mereka semua berpikir kau sama sekali tidak akan mampu mengwarisi perusahaan Hyuga, terlebih lagi, banyak mitra perusahaan kita yang telah mengetahui bahwa kau sebenarnya sama sekali bukan putri kandungku. Mereka sama sekali tidak bisa mempercayai perusahaan kita lagi, karena itu saham perusahaan kita terus turun dalam dua tahun ini."

Mikan sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya diam menatapku.

"Perusahaan kita sekarang sebenarnya berada di dalam ujung tanduk. Aku sama sekali tidak bisa membiarkan perusahaan kita bangkrut, bagaimana nasib para karyawan yang ada jika perusahaan kita bangkrut? Aku sama sekali tidak berani membayangkannya. Karena itu, saat aku melihat Kaname, aku menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan perusahaan kita. Kaname adalah anak dari keluarga Sono yang sangat terhormat. Jika dia menikah denganmu yang meupakan pewaris perusahaan, kepercayaan terhadap perusahaan kita pasti akan kembali, saham perusahaan kita pasti akan naik kembali, perusahaan kita pasti akan selamat. Aku tahu dia mencintaimu, aku yakin dia pasti dapat menjagamu dengan baik, Mikan. "

Aku menutup mataku dan berusaha menghilangkan rasa bersalah yang mulai menyerangku. Aku harus melakukan ini, jika Natsume mendengar Mikan bertunangan dengan Kaname, kepercayaannya pada Mikan pasti akan goyah, dan dengan memanipulasi media yang ada di luar, kami pasti dapat membuatnya mengira Mikan telah melupakannya, dengan begitu dia tidak akan mungkin berusaha untuk menemuinya lagi.

"Karena itu, mau kah kau mempertimbangkan permohonanku ini, Mikan?" tanyaku pelan sambil menatapnya.

Aku tahu, Mikan pasti akan percaya dengan kebohongan yang ku katakan ini. Dia sama sekali tidak mengetahui kondisi dunia sekarang ini, dia terus mengurung dirinya di kamar ini sejak dua tahun yang lalu.

Dengan hatinya yang baik, aku tahu dia pasti akan mempertimbangkan permohonanku ini. Tidak. Dia pasti akan menerima permohonanku ini. Aku telah menekan secara halus padanya akan Natsume, perusahaan, karyawan yang ada dan kenyataan dia yang sesungguhnya bukan anak kandungku. Aku sebenarnya benci melakukan ini. Namun, aku harus melakukannya. Jika dia menolaknya, aku harus melakukan sesuatu lagi, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya menyetujuinya.

Aku bisa melihat wajah kebingungan Mikan. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku itu, pikirannya sekarang pasti sangat kacau sekarang.

"Kau sama sekali tidak perlu menjawabnya sekarang," ujarku tenang sambil bangkit dari tempatku duduk dan mencium keningnya "Pikirkan lah baik-baik…"

Aku mengela napas dan membalikkan badanku berjalan keluar dari kamar ini dengan pelan. Saat aku akan membuka pintu kamar aku mendengar Mikan memanggilku.

"Otou-san…."

Aku membalikkan wajahku menatapnya begitu mendengar panggilannya.

"Aku… Aku… aku bersedia, aku akan bertunangan dengan Kaname-kun…."


Update! akhirnya update! apakah banyak yang membenci Kaname dan Ioran sekarang? jujur saja mungkin yang paling ooc di sini adalah Kaname ya? dan untuk Yoichi dan Aoi tidak tahu mengapa aku suka sekali dengan pasangan ini^^, menurutku mereka pasangan yang manis sekali ( walau dalam manga gakuen alice aku merasa itu tidak mungkin, mengingat usia mereka yang berbeda begitu jauh ) seperti biasa aku minta pendapat kalian untuk chapter ini! review ya!

S2 Hyuuga Clix Clox : ha...ha...ha... maaf, aku salah menpost lagi gara2 aku sering menpost fic pada tengah malam saat mata tinggal 2 watt -_-" . ya Hotaru memihak Kaoru dan Ioran sebab mereka merasa itu adalah ang paling benar, dan mengapa mereka berpikir begitu, tunggu chapter 15 ya^^

Valcross : aku juga suka sekali denganAoi dan Yoichi ^^ untuk jawabannya aku sudah mulai memberkan hint pada chapter ini tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah kau bisa menebaknya? ^^ tenang aku akan segera menjawabnya kok, di chapter 15, aku janji.^^

Kuroichibhineko : tenang saja Tsubasa gak bakal jadi penghiaknat kok ^^, kalau Tsubasa juga jadi penghianat, Natsume bakal sangat kasihan ong (ha..ha..ha..). Sebenarnya aku lebih suka NatsumexTsubasa dari pada NatsumexRuka loh!

Rurippe No Kimi : hebat dong kalau u suka mafia karena bagiku itu benar-benar musuh sejati ku dulu.^^ kayaknya kau bakal lebih membenci Ioran d chapter ini deh ^^ tunggu sedikit lagi, sedikit lagi aku akan menjawab pertanyaan yang menjadi raasia di fic ini ^^