Disclaimer:
J.K Rowling
Pair:
DracoXHarry and Other
Rate:
T
Warning:
SLASH, Shonun-ai, Gaje, TYPO (Maaf Dian ngx sempat cek lagi,mohon dimaklumi), Skip Time, Alur cepat, PLOT YANG MENGIKUTI IMAJINASI AUTHOR, OCC, OC, terkadang ada pengulangan kata
.
Don't Read, If You Don't Like
…artinya…
Jangan baca jika kamu tidak suka
.
Special Thanks for:
.
Dian Present:
.
-c.a.n.d.l.e-
"Heart and Blood"
Chapter 12: Sleeping Lady
-o.c.t-
.
.
.
Chapter 12: Sleeping Lady
Tubuh-tubuh tak bernyawa bertumpuk di atas tanah kuning yang masih basah. Percikan dan genangan darah ada di mana-mana bercampur dengan rintik hujan yang semakin lama semakin deras, membuat desa kecil yang berada jauh di sebelah timur London itu tampak begitu menakutkan. Tak satupun makhluk bernyawa terlihat di sana terkecuali sekumpulan burung pemakan bangkai dan gagak, kecuali juga seorang pemuda dengan balutan jubah hitam panjang dan topeng tengkoraknya.
Dia menatap nanar pemandangan di depannya. Hasil dari perintah makhluk tak berhati yang sialnya kini malah menjadi tuannya. Pemuda itu tersenyum sedih di balik topengnya, ia mengutuk dirinya sendiri. Karena ia tak mampu mencengah hal ini terjadi.
"Hiks... Hiks..." samar-samar dirinya mendengar isak tangis seseorang.
Dia berjalan perlahan mencoba mencari asal suara itu. Tajamnya pendengarannya mengiringnya ke reruntuhan sebuah rumah. Rumah yang atapnya bahkan sudah lenyap.
"Hiks..." sekali lagi isak itu terdengar membuat dirinya semakin yakin kalau memang dari sinilah suara itu berasal.
Ia mengayunkan tongkat sihirnya membuat reruntuhan itu terangkat dengan sendirinya. Ia melihat seorang anak perempuan meringkuk di sana dan memeluk boneka kucingnya dengan erat. Ia terpana memandang anak itu. Kedua iris matanya berwarna seindah Ruby dan entah bagaimana mengingatkannya akan seseorang yang begitu ia cintai. Gadis kecil itu menatapnya dengan dengan pandangan takut, membuat dirinya tersenyum dan melepas topeng tengkorak yang menutupi wajahnya. Ia mendekati gadis yang sangat manis itu lalu mengelus kepalanya dengan sayang.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," serunya sambil memeluk tubuh munggil itu.
Gadis itu membelalakan matanya sejenak sebelum sesaat kemudian ia meraung, meraung mengeluarkan semua isak tangisnya dalam dekapan pemuda berambut pirang nyaris pucat itu.
.
-c.a.n.d.l.e-
.
Rapat dadakan di adakan di maskas rahasia Orde Phoenix di Grimmauld Place. Semua anggota inti hadir termasuk Hermione, Ron dan Harry. Kehadiran mereka dapat diangap wajar karena memang mereka termasuk anggota inti Orde Phoenix dan lagi sekarang sedang libur musim panas.
"Serangan mendadak dari Pelahap Maut sama sekali tidak kita duga, meurutlaopran yang ku terima tidak ada seorangpun yang selamat dari penyerangan itu," seru Arthur Weasley.
Dumbledore mengangguk, wajahnya terlihat serius begitupun orang-orang di dalam ruang rapat itu.
"Kita harus mengantisipasi serangan yang ada, Dumbledore," tambah Arthur.
"Aku tahu, untuk itu aku punya rencana sementara kita akan membagi kelompok untuk berjaga di kawasan Inggris raya ini. Dan kita semua harus bersiap untuk perang yang bisa meletus kapan saja apalagi di tambah dengan bangkitnya pemimpin mereka."
Semua yang ada di dalam ruangan mengangguk mendengar pernyataan Dumbledore. Ya, mereka memang harus bersiap apapun yang terjadi. Tanpa pernyataan lebih lanjut, Dumbledore menutup rapat sambil membagikan jadwal acak penjagaan di setiap wilayah yang memungkinkan untuk di awasi.
Semua meninggalkan ruangan dengan tertib. Semua tak banyak bicara karena fokus dengan pemikiran masing-masing. Bangkitnya Pangeran Kegelapan jelas sekali akan mempeburuk keadaan yang memang sudah kacau ini.
Harry berjalan menuju kamarnya di ikuti kedua sahabatnya. Dia mendudukan dirinya di sofa tunggal berwarna merah marun dan termenung di sana. Sementara Ron dan Hermione ikut mendudukan diri di sofa panjang yang juga berwarna merah marun itu.
"Apa yang terjadi pada pelahap maut itu?" tanya Harry tiba-tiba saja memulai pembicaraan.
Ron dan Hermione saling menatap sebentar, serentak keduanya menghela napas.
"Mereka lolos begitu saja. Tidak ada yang terluka parah selain dirimu," seru Hermione dengan pelan.
"Bagaimana dengan pelahap maut yang menyerangku?"
"Dia menghilang sama dengan pelahap maut lain begitupula dengan Voldemort."
Harry mengangguk saja mendengar jawaban Hermione. Sementara Ron dan Hermione sendiri bersikap was-was. Bagaimanapun mereka berdua sudah di wanti-wanti Sirius untuk menjaga mood Harry tetap stabil. Menurutnya sekarang Harry dalam keadaan tak mampu mengontrol tubuhnya sendiri ketika ia menjadi vampire. Membuat Sirius berusaha tetap mengawasi Harry. Takut jika darah orang itu membuat Harry tak terkontrol lagi.
Harry sendiri tampak tidak perduli dan cenderung lebih pendiam dari seminggu sejak liburan musim panas di mulai dan dirinya belum mendapat kabar dari Mate-nya dan lagi ayahnya juga tidak mengunjunginya, membuat dirinya hanya mampu diam dan mencoba melaksanakan planning mereka dahulu.
"Sudah malam, sebaiknya kalian berdua tidur," seru Harry sambil menatap datar kedua sahabatnya.
Mereka berdua mengangguk dan tanpa bicara apa-apa lagi mereka keluar dari kamar Harry.
Menghela napas sebentar kemudian Harrry mengayunkan tongkatnya dan membuat pintu kamarnya terkunci sekaligus meredam suara.
Pemuda berambut berantakan itu mengarahkan tongkat Holy-nya ke tubuhnya sendiri dan perlahan Emerald-nya menjadi Ruby. Sekejap saja ia sudah berubah ke wujud Vampire-nya. Harry mendekati cermin dan mendapati refleksi dirinya di sana, tampak begitu pucat namun tetap terlihat cantik. Kemudian dirinya berjalan ke arah lemari dan mencari baju yang kira-kira pantas dikenakannya.
Ia mengambil kemeja lengan panjang berwana hijau polos, di padu dengan bolero hitam dan rok selutut berwana hitam. Harry membuka lemari khusus sepatu miliknya dan mengambil sepatu kets dan kaus kaki hitam selutut. Kembali ia melihat pantulan dirinya di cermin, dia memutar-mutar badannya dan puas dengan penampilannya sekarang. Harry merasa sangat berterima kasih pada ayahnya yang membelikannya pakaian perempuan, entah bagaimana caranya ayahnya bisa tahu ukuran badannya ketika menjadi perempuan. Ia mengambil jubah kesayangannya kemudian memakainya lalu berjalan ke jendela kamar dan melompat dari lantai tiga.
Tubuhnya sama sekali tidak terluka ketika kakinya menginjak tanah, dia seorang vampire, ingat? Dengan cepat ia berjalan ke luar halaman Grimmauld Place setelah sebelumnya menutup jendela kamarnya dengan sekali lambaian tongkat.
Harry berjalan santai menyelusuri jalanan yang tampak gelap dan sepi sambil berharap tidak akan ada masalah lagi. Gadis yang sekarang berambut hitam panjang itu melirik arlogi pemberian Regulus yang melingkar manis di tangan kirinya. Pukul 11.00pm masih ada waktu 7 jam sebelum Molly bangun dan membuat sarapan. Gadis itu berhenti di sebuah taman kecil, dia mengulurkan tangannya dengan tongkat yag mengacung, sebuah tanda bagi penyihir yang tersesat dan membutuhkan Knight Bus, paling tidak begitulah yang dibacanya dari buku.
Dalam hitungan detik sebuah Bus bertingkat dua muncul di depan Harry. Membuat gadis itu menyeringai karena informasi dari buku yang di bacanya adalah benar.
"Selamat malam, nona. Selamat datang di Knight Bus," seru kenet yang sepertinya lupa memperkenalkan namanya.
Harry mengangguk dan segera menaiki Bus itu. Saat masuk ke dalam yang ada adalah deretan tempat tidur yang sudah di isi beberapa penyihir. Harry memilih tepat tidur paling belakang dan duduk di sana sambil berpengang erat pada tiang penyangga.
"Tujuan?" tanya sang kenet.
"Spinner's End," seru Harry mantap dan Knight Bus meluncur dengan laju yang mendekati kecepatan cahaya.
Begitu sampai segera saja Harry berlari menuju rumahnya setelah membayar beberapa knut pada kenet. Tanpa mengedor pintu, Harry memutar knop pintu yang sudah disihir hanya dirinya dan Severus yang dapat langsung membukanya.
Ketika pintu terbuka, Harry mengedarkan pandangannya ke dalam rumah sederhana itu. Didapatinya Severus tengah membaca buku di sofa tunggal dekat perapian, segera saja Harry berlari menghampirinya dan memeluknya dengan sayang.
"Dad."
Severus tampak terkejut dengan kedatangan tiba-tiba anaknya, tapi ia tersenyum lembut dan membelai rambut panjang Harry. Dan ia terkekeh kecil saat melihat penampilan Harry yang sangat girly.
"Dad, kenapa tidak menemuiku di Grimmauld Place?" seru Harry setelah melepas pelukannya ke Severus dan duduk di sofa panjang di sebelahnya.
"Maafkan aku, aku harus mengurus beberapa hal."
"Mengikuti rapat Pelahap Maut," seru Harry sambil menatap tajam ayahnya, "Ya kan?"
Severus menghela napas, tidak ada guna berbohong pada anak angkatnya itu.
"Yes, my daughter. Aku mengikuti rapat Pelahap Maut."
Harry tersenyum sendu, ia tahu kalau ayahnya adalah pelahap maut, begitupula dengan Draco. Tapi melihat dan mendengar langsung dari kedua orang yang begitu di cintainya membuat hatinya sakit.
"Apa Dad juga akan membunuhku seperti yang Draco coba lakukan padaku?"
Severus mengelus lembut rambut putri sekaligus putra angkatnya itu, "Aku tidak akan membiarkanmu mati," serunya dengan tatapan sayang.
"Dan percayalah Draco tidak pernah berniat menyakitimu," sambungnya.
Harry hanya mengangguk lalu secara perlahan iris matanya berubah ke warna asalnya, emerald.
"Jadi benar kau sudah membunuh muggle?"
Harry sedikit terkejut namun dengan segera dapat di kontrolnya, ia mendapati dirinya mengangguk lemah, "Aku sama sekali tak bisa mengendalikan diriku untuk menghisap darah mereka, Dad. Walau mereka salah, tetap saja seharusnya tidak ku bunuh. Apalagi aku malah merasa senang berhasil membunuh dan menghisap darah mereka."
"Kau merasa senang membunuh?"
Harry kembali mengangguk, "Aku memang merasa senang bisa 'makan' tapi kesenangan saat membunuh benar-benar berbeda, aku merasa diriku begitu, begitu puas."
Severus terlihat mengerutkan dahinya, "Apa kau masih sering merasakan sakit pada bekas lukamu?"
"Sama sekali tidak, Dad. Sejak aku membunuh muggle. Aku tidak pernah lagi merasakan sakit seperti sebelumnya bahkan mimpi burukpun tak pernah lagi."
Severus mengangguk ia tampak berpikir keras.
"Dad."
Panggilan Harry membuyarkan segala konsentrasi Severus, "Ya?"
"Apa... Hm... Bagaiaman keadaan Draco?" serunya dengan wajah tertunduk berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Severus tersenyum, ah untuk anak kesayangannya ini , entah kenapa mudah sekali tertampak senyum di wajahnya yang kaku ekspresi.
"Dia baik-baik saja."
Harry mengangguk semangat karena bagi Harry keadaan Draco adalah segalanya begitu pula keadaan ayahnya. Dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu mudah melupakan rasa marah walau Draco telah mencoba membunuhnya.
"Nah, sekarang kau harus kembali ke Grimmauld Place, mereka akan mengkhawatirkanmu, Harry."
Harry menggelembungkan kedua pipinya, membuatnya tampak begitu imut, "Aku ingin disini bersamamu, Dad."
Severus menghela napasnya, "Tidak untuk kali ini, Harry. Keadaan saat ini tidak memungkinkan untukmu tetap bersamaku."
Harry hanya dapat mengangguk lemah mendengarnya.
.
-c.a.n.d.l.e-
.
"Harry, ayo sarapan," seru Ron sambil mengedor pintu kamar Harry.
Tak lama Harry membuka pintu kamarnya, rambutnya masih basah dan di lehernya ia kalungkan handuk kecil, "Iya," jawabnya singkat.
Ron mengangguk dan melangkah duluan ke lantai bawah tempat ruang makan berada.
Melihat kepergian Ron, Harry menghela napas. Sebenarnya ia baru saja sampai ke kamar dan buru-buru mandi agar tidak mencurigakan. Ia mengelap rambutnya dengan cepat, melemparkan handuknya ke keranjang cucian dan pergi ke dapur.
Di dapur sudah ada, anggota keluarga Wealey, Sirius, Remus, Hermione, dan beberapa anggota Orde lain. Harry mengangguk kepala singkat sebagai sapaan salam, lalu duduk di bangkunya dan memakan sarapannya dengan tenang.
Selesai sarapan anak-anak lebih memilih ke lantai dua. Dan berkumpul di sebuah ruangan tidak terpakai yang cukup luas dan entah kenapa sekarang menjadi tempat berkumpul khusus milik mereka. Di sana mereka berlatih Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Tak ada yang mengontrol karena mereka berlatih atas inisiatif sendiri. Saat malam tiba pun tidak ada sesuatu hal khusus yang terjadi sampai tiba-tiba saja ketika makan malam tengah berlangsung, Kingsley datang dengan keadaan terluka parah.
Sirius dengan cepat memapahnya lalu membaringkan Kingsley di sofa ruang tengah, dan Molly memeriksa keadaannya serta memberikan pertolongan pertama sebisanya.
"Apa yang terjadi, Kingsley?" tanya Remus begitu Kingsley meminum Ramuan penghilang sakit yang di serahkan Molly padanya.
"Ada penyerangan di Desa Crunch. Pelahap Maut menyerang dalam jumlah besar. Pihak kita terdesak dan tak mampu lagi membendung serangan dari Pelahap Maut. Kalian harus segera kesana," serunya dengan suara merintih menahan rasa sakit.
Sirius mengangguk cepat dan segera saja dia siap dengan Jubah khusus Orde miliknya. Semua laki-laki dewasa yang kebetulan tengah makan malam di sana ikut bersiap.
"Kalian tunggu di sini," seru Sirius menatap Harry dan semua anak-anak di sana.
"Tapi Sirius kami bisa membantumu," seru Fred.
"Tidak, kalian harus tetap di sini bersama Molly, bila sesuatu terjadi segera hubungi kami, paham?"
Si kembar mengangguk pasrah. Sedang Harry hanya diam tak bereaksi. Entah kenapa dirinya merasakan firasat buruk yang akan segera menimpa mereka semua.
"Anak-anak segera habiskan makan malam kalian, biar aku yang mengurus Kingsley di sini," seru Molly di balas anggukan oleh anak-anak.
Di meja makan hanya ada Fred, George, Ron, Ginny, Hermione dan Harry. Mereka semua makan dalam diam. Entah kenapa suasana makan malam itu menjadi begitu mencekam sejak kedatangan Kingsley. Harry sendiri merasakan sesuatu yang aneh.
Tiba-tiba matanya terbelalak.
"Fred, George, siapkan semua 'senjata' kalian dan simpan di tas tak terdeteksi yang sudah di siapkan Hermione di ruangan 'kita'. Ginny ambil 7 sapu terbang di gudang. Ron dan Hermione kita hadapi penyusup yang masuk," semua kanget mendengar nada bicara Harry yang tiba-tiba menjadi pemimpin apalagi dengan komandonya barusan.
DRUAAAARRRRRR
Tiba-tiba ruang tengah tempat Molly dan Kingsley berada meledak.
"Mom!" teriak anak-anak Athur Wealey itu.
"Lakukan yang kukatakan sekarang!" teriak Harry yang berlari menuju ruang tengah di ikuti Ron dan Hermione. Sedangkan kan Fred dan Geoge dengan sigap langsung meloncat ke tangga lalu berlari ke ruang yang di sebut Harry, begitu pula Ginny yang langsung menuju gudang kecil di dekat dapur dan mencari sapu terbang.
Di ruang tengah tampak Kingsley menyeringai lebar dengan mengacungkan tongkatnya ke arah Molly yang terjatuh di lantai dengan luka menganga lebar di kakinya.
"Stufefy," seru Harry.
"Protego," balas Kingsley.
Sedang Ron dan Hermione membentuk perisai kasat mata dengan konsentrasi penuh.
"Mom, apa yang terjadi?," tanya Ron sambil berusaha tetap berkonsentrasi.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menyerangku," seru Molly dengan tatapan tidak percaya pada teman lamanya.
"Dia bukan Kingsey, dia Pelahap Maut," seru Harry.
"Indego."
Kingsley itu meloncat menghindari serangan Harry sambil bibirnya menyunggingkan senyum sadis.
"Wow, tidak ku sangka kau tahu... Harry Potter memang hebat," serunya sambil menjilati bibirnya dan meneteskan liur. Harry memandangnya dengan tatapan jijik ketika melihat Kingsley perlahan berubah wujud, tubuhnya ditumbuhi bulu lebat, telinganya memanjang dan ia punya moncong juga ekor.
"Manusia serigala," seru Hermione menatap Pelahap Maut itu dengan tatapan tidak percaya.
"Tepat gadis manis, ah aku tak sabar menyantap kalian," serunya sambil menatap mereka dengan pandangan lapar.
Harry berusaha keras mengendalikan dirinya. Bagaimanapun dia harus menekan sihirnya agar tidak melonjak atau manusia serigala di depannya akan sadar dirinya bukan manusia.
"Bagaimana mungkin kau bisa menjadi Kingsley?" seru Ron tidak percaya.
Serigala itu menyeringgai, "Mudah saja. Aku tinggal mematahkan kakinya dan membuatnya tidak berkutik lalu mengambil rambutnya dan mencampurannya dalam ramuan Polijus instan yang tersedia. Lalu memakai pothkey yang mengarah ke sini. Ah, kenapa aku harus menjelaskan pada kalian," serunya dengan wajah kesal.
Mau tak mau Harry memutar bola matanya, 'Sekali manusia serigala tetap saja manusia serigala. Makhluk bodoh gila makan, untung Remus tidak seperti mereka,' batinnya.
Manusia serigala itu mengarahkan tongkatnya pada Harry.
"Avada Kedava," serunya lantang.
Harry berlari ke samping menghindari serangan manusia serigala di depannya, ia mengerakkan tongkatnya ke depan dan cahaya kemerahan keluar dari ujung tongkatnya. Cahaya merah itu mengenai manusia serigala, membuatnya terpental mengenai dinding dan langsung menghancurkan dinding itu.
Harry berbalik dan menatap kedua sahabatnya, "Ayo kita segera pergi," serunya.
Ron mengangguk dan di bantu Harry mereka memapah Molly menjauhi ruang tengah. Disana Ginny sudah membawa 7 sapu dan Fred serta George baru turun.
"Ap—"
"Tidak ada waktu menjelaskan. Segera ambil sapu kalian masing-masing kita harus pergi dari sini secepat mungkin," seru Harry memberi Komando.
"Biar aku yang membawa Mom, Ron," seru Fred sambil mendudukan ibunya di sapu bagian depan sambil dirinya di bagian belakang dengan posisi setengah memeluk ibunya.
"Fred, kau duluan di susul Ginny dan George kau di belakang mereka. Ron dan Hermione kalian menyusul George yang menjaga mereka."
"Tidak, Harry, kami bersamamu," seru Ron dan di setujui Hermione dengan anggukan mantap.
Harry tersenyum tipis, "Baiklah, ayo kita pergi."
Semua mengangguk dan Hermione menyerahkan satu tas tak terdeteksi dengan isi yang sudah di copy pada Ginny, "Gunakan dengan baik."
Ginny mengangguk dan menyusul Fred yang sudah tebang lebih dulu. Semua melesat pergi dengan sapunya masing-masing. Seperti komando Harry, Fred bersama Ibunya dan Ginny terbang di sampingnya sementara Geoge melaju di belakang mereka dan bersiaga. Di belakang Ron, Harry dan Hermione bersiaga.
"Kemana kita akan pergi?" teriak Geoge pada Harry yang mendadak menjadi pemimpin.
"Hogwarts."
"Kau gila? Kita butuh dua hari dua malam untuk terbang ke sana hanya menggunakan sapu!" Teriak Fred yang mendengar jawaban Harry.
"Hanya itu satu-satunya tempat aman yang ada di pikiranku. Jika ada yang punya ide lebih baik, silakan," seru Harry tak kalah keras berteriak. Semua hanya terdiam dan melaju secepat yang mereka bisa karena memang tidak ada tempat yang aman untuk saat ini.
Harry membelalakan mata saat tubuhnya merasakan aura sihir makhluk yang menjadi musuh alamiahnya mendekat.
"Semua merunduk! Dan terbang ke arah bawah!" perintah Harry yang dengan sigap di patuhi mereka semua.
Secepat kilat cahaya kehijauan melesat di atas kepala mereka. Harry langsung menoleh kebelakang dan mendapati Pelahap maut yang seorang manusia serigala itu terbang ke arah mereka. Ia langsung menghentikan laju sapunya dan berbalik melawan manusia serigala.
"Stufefy," mantra Harry hanya mengenai lengan musuhnya tapi itu mampu membuat Manusia serigala itu berhenti dan meringgis kesakitan. Tiba-tiba bola warna-warni melesat melesati Harry dan mengenai manusia serigala. Tubuhnya langsung dipenuhi lem lengket dan berwarna-warni.
"Stufefy," mantra itu kini tepat mengenai tubuhnya dan ia langsung jatuh ke bawah.
Ron melayangkan sapunya tepat di sisi Harry, "Sejata yang keren, eh," candanya.
"Sekarang, bagaimana kita menghadapi itu?" tunjuk Hermione pada sekumpulan Dementore yang terbang ke arah mereka.
"Di mana ibu dan saudaramu, Ron?" tanya Harry sambil menoleh pada sahabatnya.
"Tenang saja, mereka sudah duluan."
Harry mengangguk dan sekarang pandangannya tertuju pada kumpulan Dementore yang jumlahnya tak terhitung itu.
"Ada yang punya ide?" tanya Harry.
"Dua pilihan, hadapi atau kabur. Yang setuju kabur angkat tangan," seru Ron sambil mengangkat tangannya dan serentak Hermione serta Harry mengangkat tangan.
Mereka saling menatap,nyengir dan kembali memacu cepat laju sapu terbangnya.
"Kita akan kemana?" teriak Hermione di sela kesibukannya mengendalikan sapu terbang.
"Ikuti aku," seru Harry sambil mengarahkan sapunya ke bawah dimana pohon-pohon lebat bertumbuhan.
Hermione dan Ron ikut mengarahkan sapu mereka ke bawah, namun tiba-tiba tubuh Ron seakan terserang sesuatu ia terjatuh dari sapunya, tubuhnya menghantam dahan pohon yang berada di bawah, dahan-dahan kokoh itu berpatahan karena tak kuat menahan berat tubuh Ron. Tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras dan berakhir dengan luka di sana sini disertai darah yang menetes dari sudut bibirnya.
"Ron! Kau baik-baik saja?" seru Harry yang langsung mendaratkan sapunya ditempat jatuhnya sahabatnya.
Ron hanya nyengir sambil meringgis kesakitan.
"Proteg Laa."
Mendengar suara Hermione yang mengucap mantra ciptaan mereka, ia langsung menengadahkan kepala. Terlihat Hermione sedang memasang pelindung.
"Bagaimana cara kita menghadapi mereka?" tanya Ron.
.
-c.a.n.d.l.e-
.
Draco berjalan dengan langkah yang terbilang cepat. Menyulurusi lorong Malfoy Manor, rumah yang sudah tidak pernah lagi dirinya anggap sebagai rumah sejak ayahnya menjadikan rumah ini sebagai markas pelahap maut.
Ia menaiki setiap tangga yang ada dalam Manor megah itu juga melewati begitu saja Pelahap Maut yang berselewengan di dalam rumahnya. Dirinya sampai di lantai teratas dan matanya menyelusuri lantai yang jarang di gunakan itu. Ia melangkahkan kakiknya menuju ruangan di ujung koridor dan memasukinya. Ruang itu seperti gudang, bertumpuk-tupuk barang-barang diletakkan di sana, dan walau tanpa debu tetap saja kesan kotor ada pada ruangan itu. Draco berjalan mendekati jendela besar yang berada diseberang pintu. Tangannya menyentuh simbol M yang terukir di dinding samping jendela.
Segera saja simbol itu berputar dengan sendirinya, membuat ruangan itu sedikit bergetar. Draco merasakan tekanan sihir di ruangan itu meningkat dan tiba-tiba lantai di tempat Draco berpijak turun, mrenjadi lebih rendah dari posisi lantai yang lain.
Lingkaran sihir itu seakan berfunsi seperti lift dan bergerak turun dengan kecepatan tinggi. Benda itu berhenti saat akhirnya mencapai dasar. Draco melihat sekeliling, kegelapan mendominasi ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari lingkar sihir dan segera saja lingkaran itu kembali ke posisinya semula.
"Lumos."
Diarahkannya tongkat sihirnya kedepan dan di dapatinya sebuah kotak kaca besar di tengah ruangan. Kotak kaca seukuran tubuh manusia yang di baringkan. Kakinya melangkah mendekat kotak.
Di dalam sana terbaring sesosok perempuan cantik. Wajahnya tampak pucat dengan rambut pirang-hitam yang tergerai indah. Tak tampak ekspresi apapun di wajahnya. Ia terbaring diantara bunga daisy yang mekar dengan indah.
"Mom," seru Draco lirih.
Ya, di sana dalam kotak persegi yang sempit itu terbaring tubuh ibunya, Narcissa Malfoy. Ayahnya sendirilah yang membuat ibunya seperti ini agar ia, Draco Malfoy mau menuruti apapun yang diperintahkannya.
Draco mengenggam tongkatnya sangat erat hingga jari-jarinya memutih. Wajahnya memperlihatkan kemarahan yang tidak tertutupi. Tentu saja ia tak pernah berniat menjadi bagian dari Dead Ester namun sihir ayahnya yang mengutuk ibunya hingga tak sadarkan diri seperti ini semakin membuat dirinya terpaksa masuk lebih dalam dari Dead Ester hingga menyakiti belahan jiwanya sendiri. Tanpa sadar dirinya menyunggingkan senyum kecut, senyum yang menggambarkan betapa ia mengasihani dirinya sendiri karena tak mampu berbuat apapun untuk melindungi ibunya dan Harry.
Wajahnya berubah waspada saat indra pendengarannya menangkap suara tepat di belakangnya. Ia tentu saja tahu siapa yang datang dari aura sihir orang tersebut. Orang yang termasuk dalam daftar seseorang yang paling dibencinya.
"Tenang saja, dia akan baik-baik saja di salam sana," seru Lucius sambil mendekati Draco dan berdiri tepat di sisinya sambil menatap Narcissa –istrinya.
Tidak ada tanggapan dari Draco, karena ia tahu percuma berbicara dengan ayahnya.
"Kau akan kutunangkan dengan Astoria."
Draco tak bisa menahan keinginan dirinya untuk membelalakan mata mendengar penuturan tiba-tiba ayahnya itu.
Ia menatayap ayahnya dengan pandangan geram.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan tanpa nada sopan sama sekali.
"Kau akan bertunangan dengan Astoria," ulangnya dan ia melangkah pergi.
"Tepatnya minggu depan," tambahnya sebelum benar-benar menghilang dari ruangan itu.
-tbc-
a/n maaf ya lama update.
Sebenarnya sih sudah selesai tinggal di edit saja.. tapi saya sibuk (Fb-an =P)
Dian sangat berterima kasih karena kalian mau membaca sekaligus mereview fic ini. Maaf tidak sempat membalas semua Review tapi jangan bosan ya review.. hehehehehehehehe...XD
Pokoknya Special Thanks buat semuanya yg mampir disini deh~
Oce.. Sampai jumpa di chap selanjutnya...
